MERAUKE SASARAN SENTRA PANGAN DAN ENERGI

Para Pembaca yang budiman,
Beberapa kali saya menuturkan kembali apa yang dimuat di Koran Lokal Merauke, Arafura News, sehubungan dengan perkembangan, keadaan nyata kota ini dan pelbagai informasi penting, agar anda sekalian makin mengenal bahwa di kota kecil yang terletak di ujung Indonesia ini, ada banyak berkat Tuhan.

Sering kalau mendengar tentang Merauke, Timika atau Papua, orang yang belum pernah menginjakkan kaki di bumi Cendrawasih ini, langsung membayangkan koteka, perang suku, kekerasan, dan ketakutan tentang manusia dan tanah Papua. Sebenarnya tidak demikian. Ada banyak keindahan dan kebaikan yang belum pernah anda kenal. Ada begitu banyak kemurahan Tuhan yang terjadi di tempat ini. Patut saya sampaikan bahwa yang terjadi di beberapa tempat itu, merupakan riak-riak kecil yang lumrah terjadi, lebih-lebih bila terjadi ketidakadilan. Siapa pun orangnya, rasa keadilan dan penegakan / penegasan akan kebenaran itu dia butuhkan.

Kali ini, saya memaparkan lagi sebuah pokok / peristiwa yang sedang terjadi di Merauke. Wartawan Arafura News memberi judul dalam tulisannya: " Merauke Sasaran Sentra Pangan Dan Energi" (10 N0vember 2010). Apa gerangan maknanya ?

MERAUKE, ARAFURA,- Peringatan hari pangan sedunia ke-30 Tahun 2010 di Kabupaten Merauke, dilaksanakan Selasa (9/11) di pemukiman masyarakat lokal Kampung Bokem, Kelurahan Rimba Jaya, Distrik Merauke. Peringatan tahun ini, sejalan dengan program besar yang tengah dikembangkan di Merauke yakni Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Melalui program MIFEE, Merauke akan dijadikan sebagai sentra pangan dan energi, untuk mendukung ketahanan pangan nasional bahkan dunia.

Peringatan hari pangan sedunia tahun ini, diawali dengan penampilan Masyarakat Mandobo (Wambon, red). Tarian dengan nama Etop ini, mengisahkan proses penanaman hingga pemanenan dan pemasaran hasil pertanian masyarakat, serta sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian yang diperoleh dan diharapkan kesuburan dapat kembali pulih.

Adapun tema peringatan hari pangan sedunia ke-30 Tahun 2010 adalah ‘Kemandirian Pangan Untuk Memerangi Kelaparan’ dan sub tema ‘Dengan Semangat Hari Pangan Sedunia (HPS) Kita Tingkatkan Penganekaragaman Sumber Pangan Agar Terbebas Dari Kelaparan dan Kekurangan Gizi.’

Penjabat Bupati Kabupaten Merauke, Drs. Alex Rumaseb, MM dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekda Kabupaten Merauke, drg. Josef Rinta Rachdiatmaka, M.Kes mengatakan, tujuan dari peringatan hari pangan sedunia tahun ini adalah memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan berbasis pangan lokal dengan mutu produk yang bergizi. Dikatakan, Tuhan telah memberikan anugerah bagi daerah ini berupa tanah datar yang subur, sehingga menjadi potensi untuk dikembangkan berbagai jenis tanaman, ternak, maupun perikanan. Apalagi pangan adalah kebutuhan utama bagi manusia, serta memegang peranan penting dalam upaya peningkatan kualitan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Secara nasional Merauke sudah ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Oleh karena itu, kita harus segera mewujudkannya, sehingga kita bisa swasembada pangan, baik secara lokal dan juga menyuplai daerah Papua lainnya bahkan wilayah Timur Indonesia,” ujarnya. Dari luas Kabupaten Merauke, 4,5 juta ha lahan, potensi lahan yang akan digarap seluas 1,9 juta ha dan yang telah mendapat persetujuan untuk pengembangan MIFEE adalah seluas 1.283 Ha. Pengembangan MIFEE akan dilakukan secara bertahap, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, serta untuk tahap awal akan dimulai dengan optimalisasi lahan seluas 123.000 Ha.

Untuk mendukung program tersebut, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, diantaranya SDM masih perlu untuk ditingkatkan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Penerapan teknologi masih perlu ditingkatkan, supaya bisa diserap oleh para petani, serta sarana dan prasarana pendukung pengembangan pertanian juga perlu ditambah.

Sedangkan terkait dengan permodalan bagi para petani, diharapkan adanya perhatian dari pimpinan perbankan yang ada di daerah ini untuk terus memberikan dukungan bagi para petani maupun investor yang akan melakukan investasi di daerah ini. Ditambahkan, dalam rangka menyikapi program ketahanan pangan, pemerintah daerah saat ini juga telah berupaya melakukan program pemberdayaan masyarakat, seperti melalui program PUAP. Sehingga masyarakat dapat mengelola bantuan pemerintah, supaya tercipta kemandirian pangan di kampung-kampung.

Catatan Awal:

1. Belum semua orang memahami apa itu MIFEE, berapa lama program itu akan dilaksanakan dan langkah-langkah apa yang harus diambil oleh masing-masing pihak.

2. MIFEE adalah suatu proyek besar yang tentunya akan melibatkan banyak tenaga ahli,orang-0rang terampil, perlu riset, dan membutuhkan fasilitas pendukung yang canggih dan mutakhir.

3. Masyarakat asli Papua bisa digolongkan dalam 3 kelompok. Pertama adalah kaum peladang, pencari ikan, perambah hutan yang belum terbiasa berhadapan dengan usaha besar dan berteknologi tinggi. Kaum inilah yang jumlahnya amat besar (85 %). Kedua, kaum petani kecil, masyarakat pinggiran yang tidak punya penghasilan tetap, kaum buruh dan nelayan (10 %). Ketiga, kaum terpelajar dan pegawai (5%). Mereka inilah yang sudah lebih siap untuk menerima perkembangan dunia modern ini.

4. Para Investor dan program MIFEE ketika di lapangan justru akan berhadapan dengan masyarakat golongan pertama. Maka dapat dipahami bahwa di lapangan akan terjadi 2 kubu yang saling berbeda pemahamannya, ketrampilannya, kebutuhannya, cara berpikirnya dan gaya hidupnya. Bisa dikatakan, pihak investor adalah pihak yang telah mengenal modernisasi dan bekerja dalam dan dengan sistem modern, dan pihak masyarakat lokal adalah kaum yang baru akan mengenal modernisasi.

5. Kalau demikian, harus ada orang-orang yang memikirkan perlunya "jembatan penghubung antara keduanya, dan usaha terus-menerus untuk menghubungkan dan membaharui hubungan itu, secara jelas, teratur, terencana dan manusiawi. Ini perlu ditekankan, karena tujuan utama pembangunan adalah mensejahterakan manusia.

Catatan kritis:

1. Pengembangan wilayah Papua menuntut 1 komandan, adanya kerja keras, perencanaan yang matang dan berkesinambungan, program kerja yang jelas visinya, tujuannya, jangka waktunya, siapa penanggung jawabnya, dan berapa dananya.

2. Program itu perlu dirembug / didiskusikan bersama dengan para pakar, pengamat dan investor serta orang-orang yang telah berpengalamanan di lapangan sehingga program itu kontekstual dan dapat dikerjakan.

3. Perlu adanya evaluasi secara berkala, per 6 bulan sehingga perkembangan / pencapaian hasil itu dapat dipantau dan dapat diukur serta dievaluasi.

4. Komitmen dan kerjasama antar instansi benar-benar harus ada dalam rangka mendukung dan meningkatkan hasil yang akan dicapai.

5. Siapa pun yang bekerja dan menangani pembangunan, kesejahteraan manusia dan terjaminnya hak-hak azasi manusia dan kesejahteraan hidup manusia harus menjadi tujuan dan perhatian semua pihak.

Catatan moral spiritual:

Bila yang bekerja adalah orang yang takut akan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan menggunakan dia sebagai alat penyalur kasih-Nya, masyarakat dan dunia ini akan mengalami kerukunan, damai sejahtera, kasih sayang dan sukacita. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan, artinya Tuhan adalah Pribadi Ilahi yang diimani dan diimani sungguh hidup dan hadir di dunia ini. Maka, bangsa ini amat rindu, bahwa adanya Tuhan itu bukan hanya nyata di pikiran (ide) tetapi nyata dalam perbuatan / tindakan. Pendek kata, dengan melihat dan mengalami perbuatan kita yang baik, orang akan sampai pada pengakuan bahwa Tuhan itu sungguh baik.

Perbuatan kita yang baik dan kelihatan, akan menghantar orang lain pada pengakuan akan Pribadi Yang Tidak Kelihatan (Allah).

Komentar

Postingan Populer