Sabtu, 13 September 2014

OLEH-OLEH ROHANI DARI CUBA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Ketika saya membaca sharing yang panjang ini, saya tergerak hati untuk meneruskannya kepada anda. Siapa tahu anda dapat mendapatkan inspirasi atau butir-butir mutiara di dalamnya. Mengapa saya tampilkan ?  Harapan saya, anda mendapatkan "getaran perjuangan" dan semangat bertahan dalam kesulitan ketika menghadapi pelbagai rintangan dan ketidakmungkinan.   Yang mencengangkan adalah adanya keberanian untuk "melihat apa-apa yang baik di tengah keadaan yang dirasakan tidak baik atau tidak nyaman.  Selamat manikmati.

Dear all, sharing P. Hengky Ponamon msc ini cukup panjang. Beberapa orang di facebook sudah membacanya dan memberikan komentar dengan memberikan peneguhan supaya P. Hengky kuat dan sabar menghadapi penderitaan itu. Rupanya P. Viktor lebih stress lagi karena kesulitan komunikasi baik bahasa Inggris maupun Spanyol.
Tulisan Hengky ini di kemudian hari bisa menjadi catatan sejarah masuknya MSC Indonesia di Kuba. Isinya bermacam-macam tergantung tema apa yang muncul di kepala Hengky, namun pengamatannya terhadap sistem komunis dan masyarakat Kuba membuat kita sadar betapa penting Ensiklik Rerum Novarum dari Leo XIII yang mengutuk komunisme dan kapitalisme; dan menekankan pentingnya milik pribadi karena hal itu menjadi jaminan kebebasan setiap orang. Milik pribadi yang bersifat sosial, bukan kapitalisme murni: elu mati, gue hidup. Sepertinya tidak ada jalan lain bagi masyarakat Kuba kecuali menggulingkan Fidel Castro dan Raul Castro dan anak-anak mereka dan antek-antek mereka. Tetapi siapa bisa? Apakah para uskup tidak bisa intervensi supaya secara sosial ada terobosan? Biarpun politik masih komunis, tapi ekonomi dibuka untuk usaha pribadi rakyat, seperti sudah terjadi di Russia; dan juga yang berlaku di Cina dengan sangat baik.

Kita doakan semoga Br. Marcelino Lilo MSC, yang sedang mempersiapkan diri untuk berangkan ke Kuba, mempunyai kesiapan mental dan fisik yang baik. Semoga umat dan Konfrater di Jakarta yang membaca sharing Hengky ini berusaha untuk membantu mereka supaya tidak lapar dan tidak sakit. Kalau mereka jatuh sakit bagaimana ya? Syukurlah mereka masih muda sehingga fisik masih kuat. Semoga mereka tetap sehat, biarpun serba susah. (sujoko)
Hengki Ponamon

Andai vampir saya sudah terbang mencari mangsa di sekitar kota Guantanamo ini, biar mungkin darah orang Kuba tidak begitu enak karena kurang gizi dan banyak stres hingga hampir putus asa karena terlalu lama menanti perubahan dan perbaikan hidup yang tak kunjung datang lalu jadi masa bodoh. Kurang makan, kenyataan umum harian khas Kuba, juga saya dan Vik alami setiap hari. Hidangan sederhana di refter - secangkir susu kopi, kalau tuang dari teko dan termos kecil harus sangat hati-hati karena harus ingat berbagi dengan penghuni Curato lain, serta sedikit roti kering atau biskuit asin waktu sarapan hingga gas keluar baru sesudah makan siang yang cukup sering lumayan menyenangkan, dan makan malam seadanya yang menyisakan malam penuh tanda tanya - , membuatku menggambarkan hari-hari awal di Kuba ini seperti sebuah puasa tanpa pura-pura lapar pada sebuah retret di tengah luasnya ladang tebu yang kendati tidak begitu subur berjuang memberi manis bagi hidup penuh air mata bangsa ini, dan lagi membuatku ingat betapa mewah makan pagi di Rumah Induk Jakarta; bisa minum kopi secangkir besar, di sini kopi cuma beberapa sendok makan, syukur di sini biar sedikit kopi sangat enak karena dimasak langsung di api. 
 
Barang-barang kebutuhan hidup terutama bahan makanan susah didapat dan mahal. Semua tanah milik negara dan ditanami tebu, rakyat praktis tidak bebas mengolah tanah. Sayur dan buah dijual penduduk dalam skala kecil dan mahal sehingga masakan kurang bumbu. Bumbu utama makanan Kuba hanya dua, gula dan garam. Jangankan buah kiwi dan naga, apel, pir dan jeruk saja, bahkan semangka adalah kemewahan impian; di toko-toko tidak dijual, alias tidak adaaaaaa... Sengaja saya ketik dengan a panjang untuk memberi tekanan istimewa. Roberto Dosen Inggris Universitas Guantanamo cerita dengan bangga bahwa suatu kali dari suatu pertemuan internasional di Meksiko ia pernah lolos membawa hadiah untuk keluarganya beberapa apel di kopernya. 
 
Di pastoran Jamaika selesai misa hari minggu kemarin, ketika saya tanya 2 ibu apakah ada umat yang tanam wortel di sini, muka dan mata mereka menatap diam penuh arti; kalau orang Manado mungkin mereka akan berkata, “pastor ini, so tau-tau nda ada kwa, so tau-tau ini negara komunis, nda ada kebebasan, mo tanya-tanya lei; cuma beking saki hati jo.” Seperti baru hari itu lagi mereka dengar kata itu; seperti baru sadar ada kata itu kote’ dalam bahasa Spanyol. Rafael Konfrater Dominika langsung mengisi kekosongan itu: sejak diakon dan sekarang beberapa bulan sebagai neomis baru sekali dia bisa beli wortel di Copi, kata khas Kuba yang dapat diduga berasal dari kata Inggris shop, yaitu toko yang melayani transaksi dalam Cabito, lagi-lagi kata Kuba yang tidak ada di kamus Spanyol standar, yaitu Cuc atau Dollar Kuba, karena kebetulan dia cukup rajin keliling toko-toko yang semuanya adalah milik negara. Peso Kuba disebut sebagai Moneda Nacional dan diucap menurut ejaan Spanyol eme ene (MN), dilambangkan dengan huruf S dengan satu garis seperti simbol umum dollar $, sedangkan Cuc yang bernilai lebih tinggi, sehari-hari disebut Cabito ditulis dua garis pada huruf S. Itu berarti wortel adalah barang impor yang terlalu mahal untuk warga biasa. Bayangkan berapa lama tunggu tebu dipanen, dan berapa harga jualnya untuk beli bahan makanan orang Kuba. Di Curato, lewat pasar gelap, kami bisa makan daging beku ayam Brazil, ham dan hotdog Kanada, beras Brazil. Minyak untuk PLN Kuba berasal dari Venezuela. Sudah hasil alam terbatas, rakyat tidak diberi kebebasan berusaha sendiri. 
 
Selama beberapa hari di Makabis saya cuma lihat sebuah sampan nelayan yang memancing ikan di tengah malam tanpa lampu, sebuah perahu fiber-glass dengan mesin ketinting dan sebuah kapal barang kecil, lebih kecil dari kapal-kapal perintis di Maluku. Komunisme sosialisme menciptakan negara yang totaliter. Semua perusahaan begitu juga tanah, adalah milik negara, dirampas dari warga Kuba dan warga, perusahaan serta lembaga-lembaga asing - termasuk tarekat-tarekat religius Gereja Katolik, misalnya para Bruder De La Salle yang di Guantanamo ini dulu ternyata mempunyai sekolah hebat selama hampir seratus tahun sampai tiba masa kelam ini - , menjadi milik negara, beberapa dibentuk kemudian oleh negara sehingga yang punya mobil lumayan bagus dan baru di sini pasti hanya (perusahaan) negara. Tidak ada yang namanya hak milik pribadi, di Cina bahkan kandungan perempuan adalah milik pemerintah, Korea Utara jauh lebih buruk lagi. 
 
Orang dipaksa hidup sama rata, tidak boleh ada yang kaya, tidak boleh ada yang lebih kaya dari yang lain. Kapitalisme sudah cukup gila, komunisme jauh lebih gila lagi. Kuba mungkin lumayan bagus karena fundamen bangsa ini adalah iman Katolik murni khas Kerajaan Spanyol - bayangkan kesetiaan iman orang Spanyol kepada Gereja tempo dulu sampai melahirkan Inkuisisi dan Ordo Yesuit - , dan kunjungan dua Paus telah semakin membuka pintu-pintu tertutup hati dan pikiran pemimpin negara ini walaupun kini efek nyatanya masih berupa tanda tanya besar. Vietnam sudah membuka diri sehingga Amerika yang dulu bermusuhan pun sekarang jadi sahabat, lebih pasti karena motif ekonomi. 
 
Kemapanan dalam kuasa memang sungguh berbahaya. Uni Sovyet, Jerman Timur, Cina dan Vietnam bisa berubah dan maju karena betapa pun kuat ideologi komunisme tertancap namun karena pemimpin negara selalu berubah, maka angin segar perubahan juga masuk dan memberi dinamisme; untuk apa mati-matian memegang ideologi kalau nyatanya negara miskin dan rakyat kelaparan. Kuba dan Korea Utara masih akan lama mengalami penderitaan karena masih dikuasai dinasti Kim dan Castro. Power tends to corrupt. Hari-hari awal September ini orang Kuba semakin kuat menjerit lagi dengan air mata yang jenuh dan lelah kalau bukan percuma, hingga hati sebagian besar orang bagai membeku dan mengeras. Anak-anak Kuba berusaha keras supaya bisa tembus perguruan tinggi, terutama supaya bisa jadi dokter. Dengan jadi dokter mereka bisa keluar negeri. 
 
 
Untuk rakyat kebanyakan, selain akademisi, tentara dan atlit, bisa jalan-jalan luar negeri sungguh tidak pernah terpikirkan. Punya majalah, bisa makan apel saja sudah susah, apalagi keluar negeri. Dengan jadi dokter ada kemungkinan bekerja di berbagai negara; seperti negara menjual tenaga dan keahlian warganya. Di Brazil dokter-dokter Kuba dibayar per tahun 15 ribu USD; namun pemerintah ambil 13 ribu sekian, sisanya untuk si dokter, dengan catatan setengah untuk biaya hidup mereka saat bertugas, setengah dikasih pemerintah untuk keluarga si dokter di tanah air. Bayangkan dengan uang seadanya itu, setiap tahun saat libur mereka bawa barang dari Brazil, juga dari negara-negara lain, untuk dijual lagi di sini supaya ada untung sedikit. Orang lebih suka belanja di tempat ini daripada di toko-toko yang semuanya milik pemerintah. 
 
 
Kata Eugenio suami Sandra juru masak Curato, pemerintah tidak punya kasih, pasang harga terlalu tinggi supaya orang tidak bisa beli, dan sudah begitu pegawai-pegawai toko yang adalah pegawai negeri bermain harga lagi apalagi kalau ada orang asing; makanya orang lebih suka berbelanja kalau bisa dikata barang selundupan di rumah-rumah penduduk karena dengan itu mereka bisa bercakap-cakap ramah khas Kuba, malah bisa tawar sedikit. 
 
Ternyata hal ini membuat pemerintah gila ini semakin iri hati saja. Bulan ini diberlakukan sebuah hukum baru lagi; pulang libur tahun pertama ok diizinkan bisa bawa barang yang masuk akal untuk kebutuhan keluarga, agen-agen pemerintah mencatat semuanya, tahun kedua tidak bisa lagi, tahun ketiga saat kontrak selesai dan harus kembali ke negeri ini mereka tidak bisa lagi bawa barang untuk keluarga. Jika kedapatan di bandara - praktis orang cuma bisa masuk dan keluar dari negeri ini dengan pesawat, pegawai bandara akan membongkar koper warganya, dokter-dokter yang membanggakan negeri ini dan mendatangkan banyak devisa bagi negara ini, dan mengendusi satu per satu barang bawaan mereka dan jika ada yang kelihatan, terasa di kulit tangan atau tercium berbau baru - , maka semuanya akan disita negara; bisa tebus dengan harga dua kali lipat dalam Cabito. Inikah buah-buah pendidikan gratis yang amat dibanggakan pemerintah negeri ini? 
 
Saat dengar cerita ini saya begitu terharu, sedih sekali rasanya, apalagi saat ketik cerita ini… Saya ingat pahlawan nasional dari daerahku Minahasa, orang Indonesia pertama yang lulus doktor di luar negeri, dari siapa kata Indonesia berasal dan karena itu begitu dihormati Soekarno dan yang di tengah politik penjajahan “Pecah Belah dan Kuasailah” memberikan terang baru dengan kata-kata hikmat, “manusia hidup untuk memanusiakan/menghidupkan orang lain,” mengapa ada pemerintah sejahat ini, mengapa ada orang yang berpikiran serendah ini? Filsafat gila macam apa yang ada di balik semua aturan ini? 
 
 
Tahun lalu waktu ziarah di Tanah Suci, saya lihat orang-orang Palestina pulang dari Mekah dan membawa air zam-zam dalam galon-galon. Mungkin orang Palestina meski sering dibom Israel malah lebih bebas berjuang dan berusaha daripada orang Kuba yang justru dibelenggu dan makin dicekik oleh pemerintahnya sendiri. Sering menggelikan bagiku satu hal sepele ini. Orang Kuba suka minum air es karena itu di freezer mereka simpan air matang dalam galon-galon sedang, di kulkas mereka taruh air di ceret kristal. Air mineral kemasan dijual hanya di Copi, sebuah lambang kemewahan karena yang diharapkan beli dengan Cuc adalah orang asing. Kalau diperhatikan seksama kristal es yang terbentuk tidak bening benar karena air mengandung endapan kapur. 
 
 
Beberapa kali saya alami di Curato dan pastoran Konfrater Dominika, saat sedang haus-hausnya atau saat sedang makan dan air minum di ceret habis, tukang masak mencampur air yang masih agak panas, baru dikeluarkan dari panci, dengan air simpanan di freezer. Jelas sekali banyak endapan menari-nari di dalam gelas. Mau minum rasa di leher dan di hati gimana gitu, mau buang rasanya lain lagi. Orang-orang di sini tidak merasa bahwa air begitu tidak enak diminum atau mereka tidak peduli yang penting bisa hidangkan air dingin yang bagi mereka adalah yang paling pas diminum. Tidak heran selama hampir dua bulan ini leherku selalu tidak nyaman, sering batuk. 
 
 
Syukur tidak sakit parah, mungkin karena kekuatan pikiranku atau terutama pasti karena Perlindungan Ilahi, dan doa serta kasih banyak orang di Tanah Air. Karena itu daripada dilayani saya lebih suka minum sendiri saat pastoran sepi supaya bisa minum air di kulkas yang sudah lumayan baik karena sudah cukup lama mengendap. Mungkin karena itu juga orang di sini minum air es, yaitu karena karang dan kapur sudah mengendap, sekalian supaya kulkas penuh. Di Indonesia di mana-mana ada dealer dan jaringan servis Honda, Toyota dan berbagai macam produk kendaraan; di sini di seluruh provinsi Guantanamo ini sudah sebulan ini mekanik keuskupan bilang ke saya tidak bisa menemukan aki mobil dan spare-parts Toyota Hilux untuk pastoran Jamaika. 
 
Untuk melengkapi barang-barang pastoran Jamaika, sudah dua bulan ini tidak tuntas; yang ada barang-barang bekas, yang lain entah kapan ada. Padahal kami didesak-desak berangkat secepatnya ke sini karena katanya semua sudah siap. Beberapa umat yang datang berkunjung ke Jamaika, biasanya diajak uskup, tidak bersama kami, kemudian mengatakan kepadaku, betapa bagus rumah pastoran Jamaika sekarang. Perlengkapan dan isi pastoran sangat jempolan kata mereka: baru dan bagus, wangi lagi, double-thumbs-up a la Kuba. Antonio administrator Curato mengatakan kepadaku bahwa sekarang perusahaan telkom Kuba Etecsa cabang Provinsi Guantanamo kehabisan kartu sim telepon seluler, kemungkinan juga di provinsi-provinsi lain. 
 
Sampai kurang lebih sepekan sesudah tiba di sini saya masih mempertahankan kebiasaan di Indonesia, yakni setiap selesai mandi keringkan telinga dengan 2 cotton buds, satu untuk kiri satu untuk kanan, sambil cari-cari tahu dengan bertanya, pergi sendiri ke toko-toko atau titip orang beli. Hasil perjalanan pertama cb tidak ada, sebagian yang saya tanya bilang belum pernah lihat barang itu, ada yang belum pernah pakai, ada yang tidak tahu kata Spanyolnya. Terpaksa saya menyesuaikan diri, setiap selesai mandi pakai satu cb, berarti sehari habis 2. Hasil ekspedisi kedua cb tidak ada; saya makin hemat, sehari hanya satu cb maka telinga pun gatal karena lembab. Hasil eksplorasi ketiga cb tidak ada; saya makin hemat lagi, cukup sepekan dua, wajib sebelum misa minggu dan satu di tengah pekan. Telinga tidak nyaman tapi mau teriak siapa supaya cb secepatnya ada? Persediaan cb dll terutama dollar dari Tanah Air makin habis. Dari umat nihil, dari Keuskupan masih nihil, dari Jakarta juga nihil. Umat hanya kasih kolekte beberapa peso MN, di Katedral juga saya lihat begitu, hanya berapa yang beri derma satu atau dua lembar peso, kapan bisa kumpul 1 dollar? 
 
Untuk bayar listrik, air dan telepon Gereja dan Pastoran saja tidak cukup; apalagi bayar gaji karyawan pastoran, bensin dan perawatan mobil, lalu yang utama makan minum kami, belum yang lain-lain seperti pulsa hp. Orang Kuba biar susah sebulan di musim panas berlibur. Gereja Kuba selain belum bisa hidup dari sumbangan umat, masih harus menghidupi umat yang susah sebagai bagian utuh dari pelayanan, selain memberi pelayanan rohani. Kami dua pernah susun rencana bagaimana memecahkan kesulitan sementara atau bisa jadi selamanya ini. Saya pernah berpikir buka les Inggris tapi kemudian batal, karena nanti dituduh anti-revolusi, subversif anti-pemerintah, nanti merepotkan Keuskupan dan Tarekat, dan lagi mana bisa mengharapkan peserta les bayar sementara orang Kuba sekolah gratis. Pilihan kedua adalah buka usaha salon. 
 
 
Viktor pernah jalan-jalan belanja dan saat pulang bilang saya bahwa dia lihat cukup banyak perempuan di salon kecantikan. Perempuan Kuba suka cat rambut pirang dan cat kuku tangan dan kaki, laki-laki suka tato dan tindik. “Nanti Br Marcel datang minta dia bawa cat rambut, kuteks dll perlengkapan salon. Bagus kalau Br Marcel les gunting dan creambath rambut, tato dan tindik di Jakarta supaya datang di Jamaika bisa buka salon kecantikan. Saya bilang Vik, “ngana jo; ngana pe tangan kan lemah gemulai.” Victor pe tangan totofore terus do’e, apalagi tambah kesulitan belajar bahasa membuat dia makin emosional, makin totofore. Saya perhatikan selama dua bulan ini wajah Vik menampakkan dua hal: derita dan tidak suka dengan hal-hal yang dijumpainya di sini. Sangat susah dia senyum. Mati jurus katanya sendiri, di Tanah Air dia sangat top, di sini mati kutu. Nanti kita tidak berdoa tapi sibuk cari duit nih. Tapi lalu pikiran lain muncul. Orang Kuba saja dilarang punya usaha, apalagi kami orang asing. Syukur saya pastor, bukan vampir. Bayangkan kalau jadi vampir benar, begitu terbang eh ternyata di luar sana ada lebih banyak vampir Kuba kelaparan. 
 
Kami yang baru dua bulan di sini saja sudah cukup sering lapar, apalagi orang Kuba sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah bangsa kurang makanan dan dilarang beragama? Bagaimana hidup manusia yang lapar dan tidak peduli Tuhan? Entahlah; iman sederhanaku bertanya kalau di dunia ini sudah menderita ternyata sesudah mati menderita lagi, apa artinya hidup? Para Pastor dan Religius bisa lebih lucu mengenaskan lagi, sudah tidak kawin di dunia eh ternyata sesudah mati tidak masuk surga lagi. Sungguh malang. Untung Tuhan bukan seperti manusia, tidak seperti pikiran manusia, dan bukan ciptaan tangan dan pikiran manusia. Dia jauh melampaui semua ciptaan-Nya, apalagi ciptaan manusia. Sovyet sudah lama runtuh, semoga Kuba cepat sembuh. Tunggu kakak beradik gila (harta sehingga merampok milik warganya) itu mati dulu. Kalau anak Fidel mau, atau kalau Raul kasih takhta ke anaknya, entah nanti bagaimana lagi nasib negeri ini. Yang pasti hal kedua yang kualami begitu nyata saat-saat ini adalah kesendirian dan kesunyian luar biasa. Di tanah air kalau pikiran dan hati tidak enak bisa jalan ke umat, umat juga sering ajak makan, juga kalau kantong kering misa satu dua kali bisa cukup untuk sepekan bahkan sebulan; di sini tidak ada orang lain yang mengusir semua perasaan dan pikiran itu, sangat sulit tapi harus bisa. Kalau derita ini tidak dapat diusir, ya tidak ada jalan kupeluk dan kucerna saja, seperti setiap obat yang pasti pahit dan tidak enak. Kalau belum saatnya pasti tidak mati. Syukur pernah latihan Sadhana Anthony de Melo SJ, kontemplasi kematian diri sendiri. 
 
Yesus sungguh luar biasa dapat turun ke dunia dan menderita segala macam luka manusia. Coba ada majalah Time, atau ada internet supaya bisa akses Kompas dan The Jakarta Post, atau ada receiver digital supaya bisa nonton BBC, CNN, Discovery saluran-saluran favoritku begitu juga Metrotv dan TvOne. Yang ada di pastoran ini adalah sebuah tv kecil buncit dengan layar sekecil netbook Fujitsuku, dengan 4 saluran nasional dan satu saluran tv Amerika Latin, Telesur, tapi sering hilang di layar tanpa pemberitahuan. Untuk apa pemerintah menyediakan sekolah gratis kalau tidak ada kebebasan berbicara dan berpendapat; semua media dikontrol dan dibatasi pemerintah. 
 
Namun di sini di Kuba di tengah hidup yang serba sulit ini, saya mengerti apa dimensi arti kata percaya - bahasa Spanyol membantu memperkaya imanku; ungkapan Spanyol saya kira ya = creo que si = saya percaya bahwa ya - , yaitu pikiran: percaya berarti berpikir. Kalau lidah leher perut tidak puas, maka saya berpikir bahwa pikiran saya harus kenyang, saya harus puas berpikir. Persoalannya ialah di sini hidup benar-benar dalam isolasi. Pemerintah ini sadis menindas rakyatnya sekaligus masokis karena suka disiksa, diembargo Amerika terus dan mengasingkan diri dari pergaulan dunia hanya karena gengsi dan kesombongan ideologis, seakan-akan mau bilang “kami mampu lho bertahan hidup miskin.” Saya bayangkan negeri yang compang-camping ini seperti berjalan gaya cat-walk di depan digdaya Amerika, dan atau tetapi menonton dengan sakit hati bahwa tetangga dan saudara-saudara mereka keturunan Spanyol hidup lumayan senang karena ada kebebasan berusaha, berpikir dan berbicara. Bagaimana bisa berpikir hal-hal yang luar biasa kalau setiap hari hanya khawatir soal makan minum. Bagaimana orang mau pesta merayakan sesuatu kalau tidak ada uang, rumah kecil dan sempit, semua serba tercekik dan dibatasi pemerintah. 
 
Kenyataan hidup seorang misionaris di Kuba adalah berada sangat jauh dan terasing di tempat yang sangat sepi dan sunyi, otak pun kering, apalagi kalau kantong juga kering saya khawatir hati bisa kering. Tidak begitu mudah mengalami rahmat selalu membahagiakan. Manusia adalah makhluk yang cepat lelah dan gampang mengeluh, ia tidak bisa berjalan lagi kalau Allah tak mengulurkan tangan, dalam pengalaman paling nyata kalau tidak disapa sesama, kalau teman seperjalanan tidak menunjukkan semangat dan antusiasme. Syukur banyak selalu ada kekuatan yang membuatku tidak terlalu menderita meski saya tahu tantangan nyata di depan akan lebih sulit. Suatu pagi Vik datang ke kamarku, “Hengki, resepsionis bilang dia mau cuci pakaian kamu. Tapi kamu bantu saya jawab pertanyaan perempuan ini dulu karena saya tidak mengerti.” Saya bilang biasanya saya cuci pakaian sendiri. Edilia yang bertugas membersihkan pastoran sudah tahu kebiasaanku ini. Kalau ada waktu dia sendiri datang menawarkan bantuan mencuci pakaianku. Langsung saya tahu ada sesuatu. 
 
Litania resepsionis Curato/Pastoran Katedral baru pulang libur di Spanyol, pagi pertama kerja langsung datang stor pipi kanan, hari itu hari kedua kerja, kenapa dia yang menawarkan bantuan untuk mencuci pakaianku? Yang datang ke Viktor adalah Janiuska yang bertugas melayani makan orang-orang miskin; dia sangat akrab denganku. Dia berkata ke Viktor bahwa Litania si resepsionis lagi sakit kepala dan bertanya apakah Viktor punya obat gosok untuk meringankan sakitnya. Sampai tiga kali Viktor minta Jani ulang pertanyaannya dan atau tetapi yang Vik tangkap adalah apakah kami punya pakaian kotor untuk dicuci Litania dst yang dia tidak mengerti. Saat itu saya tahu Edilia lagi mencuci di lantai 3 pastoran, dan Sandra lagi memasak menggantikan Dalila yang lagi sakit. 
 
 
Semua nama ini sulit Vik ingat, jadi dia masih suka sapa mereka SeƱora setelah mendengarkan saranku supaya tidak lagi panggil mereka Madre yang berarti Ibu/Mama (kandung). Saat Jani bertanya langsung kepadaku, saya mengerti dan berkata saya tidak punya krim gosok tapi saya punya obat dari Indonesia, Panadol yang mengandung paracetamol dll yang mungkin bisa membantu menyembuhkan sakit kepala. Dia senang sekali menerima obat itu karena di sini tidak ada obat dijual bebas seperti di Indonesia. Kalau sakit orang harus periksa dokter dulu, biaya dokter dibayar negara, tetapi obat beli sendiri di Farmacia/apotik. Kemudian Vik datang kepadaku dan mengungkapkan kebingungannya, bagaimana bisa yang dia tangkap cuci baju padahal yang ditanya obat sakit kepala. Mungkin karena dia tidak mendengar dengan baik. Banyak orang hanya mau mengerti pikiran dan rasa hatinya sendiri dan tidak bisa mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh, kurang mampu masuk ke hati dan pikiran orang dan mengerti orang dari sudut pandang dan rasa orang itu, bukan dari sudut pandang dan rasa diri sendiri. Atau memang orang mendengarkan dengan baik sekali, hanya sayang belum tersedia jaring yang baik untuk memaknai bunyi ujaran yang masuk di telinga. 
 
Memahami orang lain saja begitu sulit, memahami diri sendiri mungkin lebih sulit, apalagi memahami Allah yang tak kelihatan. Saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi karena saya tahu orang Kuba, orang berbahasa Spanyol, juga setahu saya orang Italia, tidak cukup berbicara dengan mulut. Seluruh badan seperti turut berbicara, kalau perlu rambut dan pantat juga ikut bergerak. Ekspresi wajah hidup, apalagi tangan, bahu dst. Vik bilang kalau lihat orang Kuba bicara dia ingat orang Muyu Mandobo, Konfrater Tarong yang berbicara dengan gerak badan seperti senam. Mungkin karena mereka biasa buru rusa dan tangkap cendrawasih. Jelang 8 September ini, Hari Raya Kelahiran Bunda Maria yang di Kuba dirayakan sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Belaskasihan / Kerahiman, Pelindung Kuba Knap, sejak Sabtu 30 Agustus 2014 lalu secara nasional. Di Gereja-Gereja Katedral dan paroki tentu sejauh ada imam yang melayani, diadakan Novena yang dimulai dengan Rosario pada jam 19.00 malam jam 7 pagi di Manado/wit hari berikutnya, atau 12 jam di muka) kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi jam 19.30 yang selama 9 hari ini dari berbagai sudut pandang dengan paduan ayat-ayat berbeda hanya mengupas teks Injil 2 murid Emaus yang pulang kampung setelah “apa yang terjadi di Yerusalem” dan dijumpai, disapa serta dirangkul kembali oleh Tuhan yang bangkit, berpuncak pada pengenalan mereka kembali siapakah Dia sesungguhnya sesudah Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya, seperti yang terjadi dalam setiap Ekaristi, untuk mengingatkan kembali sisa-sisa setia orang beriman di negeri ini bahwa Tuhan yang bangkit mulia dan mengatasi kodrat manusia sepintas tidak atau sulit dikenali kecuali di dalam Ekaristi, tidak meninggalkan umat-Nya melainkan selalu hendak mencari dan mengumpulkan lagi murid-murid yang sedih, kecewa dan frustrasi karena melihat kegagalan dan kekalahan Sang Guru dalam kematian salib-Nya dan tamatnya karier masa depan mereka saat Ia dimakamkan dalam lubang batu, dengan mengajak mereka bercakap-cakap agar pengetahuan iman mereka tentang Kitab Suci yang akan digenapi dalam diri Yesus serta pengenalan mereka akan pribadi-Nya digali dan disegarkan, sebuah retret hidup sambil berjalan kaki di jalan desa di sore hari, sehingga hati mereka berkobar-kobar, sebuah pengalaman rohani yang otentik, berjumpa Tuhan pasti ada wawasan dan sudut pandang baru yang menggugah keramahan mereka saat Ia seolah hendak berlalu, tingallah bersama kami karena hari sudah gelap, saat kapan skenario paling istimewa dan menyentuh itu terjadi, dan wus …, Yesus hilang dari pandangan mereka, mereka berdua yang kini penuh inspirasi dan kekuatan hingga saat itu juga kembali ke Yerusalem dan mewartakan bahwa Yesus bangkit dan hidup, sebuah peristiwa terang budi dan hati yang digabung dengan inspirasi rasul serta murid lain yang mengalami kejadian serupa menjadi fajar baru bagi sebuah kaum pilihan baru yaitu yang dibentuk berdasarkan iman dari perjumpaan dan pengalaman historis kebangkitan Tuhan, sungguh benar janji keselamatan dipenuhi dalam Yesus, sungguh benar Dia Penebus yang dijanjikan dan dinantikan berabad-abad oleh Israel dan kini oleh bangsa Kuba. 
 
 
Kurang lebih 50 bangku dalam Katedral Guantanamo selalu terisi penuh; kurang lebih 250 umat yang hadir, saya dan Vik ikut sebagai umat. Saat ini di Kuba jam 19.30 masih terang dan sampai selesai misa kurang lebih jam 20.15 orang masih berkipas karena hawa panas. Dua kipas kotak yang dipasang di balkon belakang ke arah depan dengan bunyi menderu seakan hanya membuat hawa panas yang terkumpul di bubungan bangunan Katedral berputar di dalam dan sulit keluar lewat jendela-jendela berterali, membuatku lebih suka duduk di pinggir dekat jendela walau ribut nyanyian sahut menyahut serta bau ee’ burung yang begitu banyak bersarang di Taman Kota ini juga menyerangku dari luar. 
 
Sementara bar, restoran di jalan-jalan samping Plaza Mayor/Alun-alun dengan taman yang luas dan bangku-bangku beton panjang di tengah mana berdiri bangunan Katedral ini memutar lagu-lagu Latin yang menghentak, tidak peduli berapa kali lonceng Gereja sudah dibunyikan, tidak peduli misa dalam Katedral sudah dimulai dengan pengeras suara dalam ruangan. Bagaikan sebuah perang memperebutkan ruang dengar, bagaikan pertandingan memenangkan hati siapa yang mau mendengarkan Sabda Allah yang hidup. Betapa untuk berdoa saja sulit di negeri ini. Di stasi-stasi juga sering kualami begitu saat ikut misa dengan pastor-pastor lain. Sebelum, selama dan sesudah misa musik dari rumah penduduk terkesan seperti bantahan dan penolakan, “maaf, rumah kami sudah penuh,” dan sekitar 30 tahun kemudian, “bukan Dia, melainkan Barabas.” 
 
Sebuah tantangan untuk hanya mengarahkan perhatian kepada Dia yang bangkit dan hidup sementara dari bangku belakang saya makin terbiasa melihat golongan-golongan wanita yang datang misa. Pertama ibu-ibu yang pakai blus berkerah dan berlengan. Rupanya mereka sudah lebih tahan panas. Kedua ibu-ibu atau wanita muda yang biasanya pakai blus atau shirt/kaos tanpa kerah dan lengan. Dan yang ketiga yakni yang pakai gaun yang setengah atau lebih punggungnya terbuka dengan rok sejengkal dan stoking hitam bermotif jala-jala yang ngetop di negeri ini di kalangan pegawai wanita. Seumumnya orang di sini berpakaian sederhana, tidak seperti di Manado orang pergi ke Gereja selalu tampil elegan. Jarang saya lihat orang di sini pakai perhiasan asli, orang Manado bilang “mas tuta’ tuta.’ Sering waktu misa pagi saya lihat ibu berkulit agak putih, anak lebih hitam, ayah tidak datang ikut misa. Pernah di bangku depanku duduk 3 generasi: oma dan ibu hitam benar, cucu berkulit lebih terang dari saya dan bermata biru, mengingatkanku akan lagu Engelbert H, Blue Spanish Eyes. Tempat favoritku di Katedral Guantanamo, bangku belakang sayap kiri, menempatkanku berhadapan dengan arca Maria Bunda Belaskasih yang selama hari-hari ini dihiasi dengan layar 3 warna bendera Kuba: putih di tengah, merah di kanan dan biru di kiri. 
 
Warna putih dan merah adalah lambang manusia, biru warna langit yang luas tak bertepi dan samudra yang dalam adalah lambang Surga dan Tahta Allah. Bersama ketiga warna itu melambangkan Maria, manusia biasa yang disiapkan khusus dan dipilih Allah Bapa untuk melahirkan Sang Putra dan dipenuhi kuasa Roh Kudus, sehingga ketiga Pribadi Allah yang berhakikat satu sungguh hadir dalam dirinya, dan sekaligus Yesus Sang Putera yang menjadi manusia. Sayang warna-warna itu dengan tanda bintang kini menjadi bendera Kuba yang komunis ateis, kini diperhalus sebagai sosialis. Syukur bahwa kendati pemerintah sosialis negeri ini, bangsa ini tetap mengaku sebagai milik Allah, paling tidak di Gereja secara liturgis selama masa Novena keyakinan ini dikumandangkan secara simbolis, Maria yang perantaraan doanya senantiasa diminta seperti saat ia hadir di Kana dan berperan dalam mukjizat pertama puteranya ditakhtakan dengan warna-warna bendera negara ini, tanpa suara namun senantiasa menguatkan iman tradisional Gereja, Maria yang mengandung menggendong dan membesarkan Yesus selalu menginjak dan mengalahkan ular, kejahatan dan kegelapan di bawah kakinya, mengingatkanku akan kisah buatan manusia berikut. … beberapa kapal perompak liar berebutan menuju sebuah pulau rahasia, di antara berbagai kesulitan yang mereka hadapi ialah godaan dan tipuan peri-peri laut yang mematikan, untuk mendapatkan air kehidupan abadi (Hindu: amerta, Latin: ambrosia, nektar, air kehidupan, sumber keabadian para dewata) di sebuah kuil terpencil yang dikelilingi pelbagai jebakan sekaligus timbunan harta karun. 
 
Suguhan klimaks sungguh tak terduga; mereka didahului dan dikalahkan oleh pasukan angkatan laut Kerajaan Spanyol – cerita tsb berlatar era penjelajahan samudera dan penaklukan Dunia Baru -, ketika komandan tentara Spanyol itu berkata, “Hancurkan kuil berhala ini. Kehidupan abadi adalah milik dan rahasia Allah. Hanya Dia yang boleh disembah.” Kekuatan akting Johny Deep, Kapten Jack Sparrow, bajak laut Inggris yang menjadi bintang sekuel tsb seperti kalah oleh wibawa religius sang komandan yang hanya muncul sekilas tsb. Begitulah cuplikan film “On Stranger’s Tides” yang begitu berkesan dan mengingatkanku akan kekuatan pribadi dan kata-kata Yesus saat berhadapan dengan kehebatan si penggoda. Guru les Spanyol kami Pepito bercerita bagaimana dulu Kerajaan Spanyol sangat “murni” Katolik, dan betapa orang-orang di koloni di seluruh Dunia Baru Amerika dengan bangga memeluk iman ini selama berabad-abad; pun budak-budak dipermandikan Katolik dan praktek agama-agama suku Afrika serta Indian, bahasa dosenku di Pineleng, Dr. Richard Renwarin, dilarang sama sekali. Sesudah penampakan istimewa Maria kepada seorang Indian Juan Diego di bukit Tepeyac, Guadalupe, Mexico 1531, semakin bertambah besar jumlah orang beriman Katolik di benua ini, semakin dalam iman Katolik ditanamkan di tanah ini. 
 
Kisah Maria Guadalupe begitu istimewa menggugah hati setiap orang beriman Katolik. Sungguh benar Yesus Jalan Kebenaran dan Hidup, sungguh benar Dialah Kebangkitan dan Kehidupan, Bunda-Nya pun mengalami keabadian dan kemuliaan kekal dan surgawi. Seluruh Amerika dipersembahkan kepada Maria di Guadalupe. Maria Pelindung Kuba pun tidak kalah istimewa. Jika di Guadalupe Bunda Surgawi memberikan kenangan gambar dirinya yang begitu riil: sudut mata tepat persis menatap Juan Diego seperti dikisahkannya, gambaran bintang-bintang di atas kepalanya sesuai dengan perhitungan astronomi saat penampakannya, terutama Maria tampil di depan matahari dan di atas bulan sambil menginjaknya, sebuah gambaran yang sungguh menyentuh bagi bangsa Indian pemuja dewa matahari bahwa Maria jauh lebih tinggi melampaui semua dewa pujaan Indian, dan semua itu tercetak alami di atas sebuah selimut Indian berbahan kasar yang menurut perhitungan biasa hancur dalam beberapa tahun namun kini terpelihara baik dan awet melewati 5 abad, di Kuba citra Maria ditemukan secara misterius dari laut: ia menamakan dirinya sebagai La Virgen de la Caridad/Perawan Belaskasih, Bunda Kerahiman, dan bahan pembentuknya berupa campuran tepung jagung asli Amerika dan entah bahan apalagi namun bertahan selama 4 abad ini, mengingatkan orang Kuba akan Kisah Injil bahwa Maria dipilih Bapa, mengandung dari Roh Kudus, dan melahirkan Putera Allah sehingga kendati citranya terbuat dari bahan biasa, mungkin merupakan buatan manusia, namun karena “kandungan ilahinya”, maka citra itu lestari dan tetap dihormati. 
 
Di tempat lain di benua lain Maria menampakkan diri secara lebih istimewa, di Fatima, Guadalupe, Akita Jepang, Garabandal, Walsingham, Laus, Kibeho, Paris, Cina, Vietnam, Beauraing, Banneux, dan terutama tentu saja Lourdes. Siapa bertelinga semoga mendengar, bermata melihat, berbudi dan berhati percaya dan berbahagia memiliki Kasih Sejati yakni Allah sendiri. Menjelang pesta pelindung Kuba hari ini, Minggu sore kemarin dilangsungkan perarakan Bunda Maria Perawan Kerahiman dari Cobre, Bunda Pelindung Kuba, dari Gereja Milagrosa di kompleks Kantor Keuskupan mengelilingi sebagian kota Guantanamo sampai ke Gereja Katedral di tengah Taman Kota Jose Marti. Semakin banyak masyarakat terlibat, walau kelihatan yang lain acuh tak acuh, wajah bangsa yang dipaksa memandang agama sebagai candu, bangsa yang rezeki rohani dan jasmaninya dirampok para pemimpinnya. Di depan pintu Katedral, saat perarakan selesai dan Bunda hendak diarak ke dalam Katedral, sekali lagi untuk kesekian kali kami berdua diperkenalkan Uskup di depan seluruh umat yang hadir. Sabtu sore lalu saya berkotbah untuk pertama kali di Katedral Guantanamo dalam bahasa Spanyol yang baik; selesai kotbah pastor paroki dan umat memberi aplaus cukup lama. 
 
Selesai misa banyak umat memberi selamat dan ucapan terima kasih karena bisa dengar kesaksian iman dari bangsa lain tentang Yesus dan Bunda yang sama. Inilah kekuatan dan kehebatan Gereja Katolik yang kukasihi, di mana pun satu dan sama, dijiwai Roh yang sama, satu dalam Liturgi yang sama. Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar, kata para Yesuit, atau Semoga Dikasihilah Hati Kudus Yesus di Seluruh Dunia, kata kami msc. Biar lapar, stres karena sepi dan sendiri, otak dan kantong kering, kami berjuang supaya bisa berbicara demi nama Allah dan menguduskan umat-Nya. Paling tidak di Gereja umat menikmati santapan rohani yang bermutu dalam bentuk sastra yang bagus, tidak berapi-api seperti kampanye revolusi, semakin tenang justru semakin baik dan semakin mendalam tertanam. Seperti ketaatan, iman lahir dan tumbuh karena mendengarkan. Biar yang lain belum jelas, paling tidak pikiran ini harus jelas.


__._,_.___

Jumat, 12 September 2014

KRISMA DI KEPI

Pembaca yang budiman......
Lama nian saya absen. Dalam 1 bulan terakhir, saya mengunjungi beberapa wilayah keuskupan untuk menerimakan sakramen krisma. Itulah sebabnya, banyak waktu tersita, termasuk untuk menulis pun tidak sempat. Inilah oleh-oleh pertama untuk anda, setelah saya sekian minggu tidak menjumpai anda. Selamat menikmati.

Hari itu, minggu 24 Agustus 2014 gereja paroki Kristus Raja Kepi tampak semarak dan meriah. Ratusan orang berkumpul di gedung soska, hendak menghantar 138 orang muda menuju ke gereja. Ada apa gerangan sehingga mereka itu dihantar dengan tariat adat ?

Mereka yang berpakaian rapih dan berjumlah besar itu adalah para calon krisma. Mereka  telah dipersiapkan / menerima pembekalan selama 3 bulan oleh para katekis, frater pembina dan pastor paroki, agar mantap menjadi orang dewasa dalam iman, harap dan kasih.  Para calon yang berjumlah 138 orang itu berasal dari pusat paroki Kepi, dari stasi Wairu, Muin, Toba dan Dagimon. Maka yang datang untuk turut bergembira dalam pesta iman itu, bukan hanya orangtua tetapi juga umat dari stasi-stasi itu pun tidak mau ketinggalan. Itulah sebabnya pada hari itu, gereja penuh sesak, bahkan ada banyak yang menduduki kursi-kursi dan bangku-bangku di luar gedung gereja.

Misa dimulai dengan perarakan panjang dari gedung soska ke gereja yang berjarak kira-kira 400 meter. Di sepanjang perjalanan, para penari adat menyanyi dan menari dengan diiringi pukulan tifa (= kendang) sampai di depan pintu gereja. Kemudian, ketika rombongan misdinar memasuki pintu utama gereja, koor menyambut mereka dengan lagu pembukaan “Saudara mari semua, hadaplah altarTuhan kita, sambut Tubuh dan Darah.....”.

Homili 
Umat dari para calon krisma diingatkan kembali tentang 7 sakramen. Sakramen adalah tanda kasih Tuhan kepada umat-Nya. Karena begitu besar kasih Allah kepada manusia, Ia memberikan sakramen yang berjumlah 7 supaya manusia tetap ingat bahwa ke mana pun dan di dalam situasi apa pun Tuhan Allah tidak pernah melupakan / meninggalkan mereka.  Sakramen krisma disebut sakramen kepenuhan inisiasi, karena merupakan satu dari 4 sakramen awal yang diterima oleh setiap orang katolik. 4 sakramen awal tersebut adalah sakramen permandian, sakramen  tobat, sakramen ekaristi dan sakramen krisma. Dengan menerima sakramen ke 4, genaplah / lengkaplah sudah tahap awal orang itu, sehingga dia sudah dianggap dewasa.

Itulah sebabnya, sakramen krisma juga disebut sakramen kedewasaan. Mereka yang menerima krisma diakui sebagai orang-orang yang sudah dewasa imannya, dan dengan demikian dapat diutus untuk menjadi saksi Tuhan / Yesus Kristus dan kasih-Nya kepada semua orang. Mereka dapat ambil bagian dalam karya-karya pelayanan kepada umat Allah, baik di keluarga, di lingkungan, di masyarakat luas.  Sakramen krisma disebut juga sakramen penguatan, karena semua bakat, talenta, kemampuan dan karunia-karunia yang telah diberikan Allah kepada orang itu diteguhkan / dikuatkan supaya makin berkembang dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Sebelum menerima krisma, para calon telah menerima 3 sakramen ( permandian, pertobatan dan ekaristi). Mereka dapat diibaratkan sudah duduk di tingkat 3. Dengan menerima krisma, mereka naik 1 tingkat, sehingga secara resmi duduik di tingkat 4.  Kenaikan ini lambang kenaikan tingkat dalam kebaikan dan aneka keutamaan lainnya, agar makin hari makin serupa dengan Kristus, atau makin sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya.  Kenaikan tingkat ini, selain hasil usaha manusia, serentak juga merupakan karunia Allah. Allah berperan dan mengundang manusia untuk menjadi semakin sempurna, dan dengan demikian semakin “mantap sebagai saksi kebaikannya di tengah masyarakat”.

Bapa dan Kunci
Menurut nabi Yehezkiel, Allah memberikan jabatan-jabatan kepada raja-raja untuk melayani umat-Nya. Dia menentukan orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan berwenang pula mencabut jabatan itu setiap saat dari orang-orang yang menyalahgunakan jabatan / kekuasaannya, dan menyerahkannya kepada orang lain. Ditegaskan bahwa jabatan itu tidaklah kekal, dan bukanlah milik pribadi orang itu, tetapi sungguh-sungguh anugerah Allah. Maka, mereka yang diangkat menjadi raja harus bekerja dan melaksanakan amanat yang diberikan Allah kepadanya. Raja-raja itu tidak boleh bertindak semaunya sendiri, dan melupakan / menyingkirkan Allah. Dia harus bekerja atas nama Allah dan demi kesejahteraan / kebahagiaan  masyarakat / para warga yang dipercayakan kepadanya.

Karena kedekatannya dengan Allah, para raja menjadi “bapa” bagi masyarakatnya. Peran raja adalah melindungi rakyatnya dari bahaya atau serangan musuh, dan mengusahakan keamanan dan ketenteraman mereka.  Raja harus tahu apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakatnya. Itulah sebabnya amat baik dan bijaksana bila mereka turun ke desa-desa, ke wilayah-wilayah terpencil untuk bertemu dengan mereka, melihat situasi dan kehidupan mereka, mendengarkan secara langsung suara dan harapan mereka.

Dengan tinggal di wilayahnya dan turun ke tengah-tengah masyarakatnya, raja menjadi lebih peka dan mengerti kekuatan, kelemahan, harapan dan hambatan masyarakat di masing-masing wilayah. Ia dapat memikirkan, merundingkan atau memutuskan jalan keluar yang tepat dan cepat bagi mereka yang membutuhkannya.  Sebaliknya dengan sering pergi ke tempat lain, dalam waktu yang lama, dan tidak jelas apa yang dikerjakannya, rakyat bisa makin menderita. Raja malah menjadi orang asing bagi masyarakatnya sendiri. Persoalan-persoalan yang ada bisa menjadi lebih besar, karena tidak dipecahkan dan makin bertumpuk sehingga menjadi “bumerang bagi semua pihak”.

Raja yang dekat dengan Allah menjadi “kunci yang amat penting”, karena Allah mempercayakan banyak karunia kepadanya untuk dibagikan kepada rakyatnya. Di tangannya ada berkat. Dia menjadi penyalur berkat itu bagi rakyat yang dia pimpin. Lewat dia, Allah menyapa, melindungi, menghibur, menyembuhkan, memberikan harapan, menguatkan dan membimbing mereka ke tempat yang aman.  Rakyat dipimpin untuk mengenal dan membalas kasih-Nya serta bersatu dengan Nya di dalam kebahagiaan yang sempurna.

Maka raja / pemimpin yang menutup pintu rahmat Allah, bertindak sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyatnya sesungguhnya telah melawan amanat yang diberikan Allah. Ketika mereka pergi ke wilayah lain, kunci-kunci sudah seharusnya ditinggalkan / dipercayakan kepada orang-orang yang telah disiapkan untuk membagikan rahmat Allah, sehingga ketenteraman tetap terjamin. Kepergiannya justru akan membuat  kasih karunia makin berlimpah, karena banyak pihak dari daerah lain yang dilibatkan untuk menjadi saluran kasih karunia bagi rakyatnya.

Misa krisma dipimpin oleh Mgr Niko Adi MSC dan didampingi oleh P. Gerry Ohoduan MSC dan P Paulus Fanghoy MSC. Umat yang hadir diperkirakan 1500 orang. Mereka memenuhi semua tempat duduk baik di dalam maupun di luar gereja, bahkan ada banyak yang berdiri di luar. Bapak Ricky dan ibu Wineke Bolang menjadi wali krisma bagi ke 138 orang krismawan-krismawati. Mereka berdua berdiri di sebelah kiri dan di sebelah kanan para calon ketika menerima pengurapan minyak krisma dari tangan uskup. Namun tugas mereka sebagai wali, tidak berakhir pada saat penerimaan sakramen itu. Mereka justru mulai berperan lebih besar ketika anak-anak asuhnya menjalani tugas perutusan sebagai saksi-saksi Kristus di tengah-tengah masyarakat.  Atas kerelaan dan kesediaan mereka berdua untuk menjadi wali krisma, pantaslah diucapkan banyak terima kasih.

Menjadi saksi Kristus pada jaman sekarang ini tidak mudah. Ada banyak tawaran yang menyenangkan dan amat mudah didapat, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Dengan masuknya listrik, alat-alat elektronik makin merambah mempercepat perkembangan masyarakat. Mereka dapat mengikuti berita, melihat perkembangan dan perubahan di banyak belahan dunia ini.  Mereka yang mempunyai bekal pendidikan yang lumayan, amat terbantu untuk membuat pilihan dengan mengikuti dan mendapatkan informasi via siaran tv.

Di sisi lain, alat-alat hiburan elektronik, hp, miras, narkoba dan gambar-gambar porno telah masuk ke kampung-kampung terpencil dan sering sulit dilacak. Anak-anak jalanan yang tidak sekolah pun tahu “aibon” yang dihidup-hirup dan membuat pikiran melayang-layang jauh....untuk melepaskan  kepenatan / frustrasi dalam hidup.  Mereka ini pun perlu dibantu agar mendapatkan “ketenangan dalam hidup, dan mempunyai pilihan yang baik dan berguna bagi kehidupan sekarang ini dan ke depan.  Berdasarkan pengalaman, membimbing mereka dengan kata-kata dan teladan tokh tidak cukup. Mereka perlu dibantu untuk mempunyai pengalaman dicintai, dilindungi, dibimbing dan dibekali agar menjadi manusia yang hidup sesuai martabatnya.

Dibutuhkan para pembina dalam jumlah banyak yaitu orang-orang yang komit untuk menjadi saudara mereka lahir batin dalam jangka waktu yang amat panjang. Dibutuhkan pula tempat pembinaan dan fasilitas yang sungguh menarik dan sekaligus menyiapkan mereka untuk meraih masa depan yang  baik dan jelas.  Dibutuhkan peran banyak pihak, termasuk pemerintah untuk menyediakan dana dan perhatian yang cukup, sehingga pembinaan ini sungguh-sungguh berkelanjutan dan akan menghasilkan anak-anak yang dewasa, cerdas dan berkualitas.

Peran membina generasi muda bangsa (krismawan-krismawati), ternyata bukan hanya tugas uskup/ pastor, atau wali krisma, tetapi tugas banyak pihak. Masing-masing andil menurut talenta yang dimilikinya melalui bidang pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Maka pantas pula kita mengucap terima kasih kepada banyak orang yang telah turut andil “menjadikan diri kita” manusia yang siap ambil bagian dalam pembangunan dan pengembangan generasi berikutnya.  Mereka telah menjadi saluran rahmat dan kasih Allah bagi kita. 

Selasa, 19 Agustus 2014

MUKJIZAT DI UPYETETKO

Upyetetko adalah sebuah kampung. jaraknya kira-kira 25 km dari Mindiptana. Itulah kampung yang kami lewati sebelum kami tiba di Waropko. Apa yang saya alami di kampung itu, saya sajikan untuk anda.  Selamat membaca dan menemukan mutiara iman di dalamnya. Inilah ceritanya: 



“Bapa Uskup, mari kita jalan-jalan (kunjungan) ke Waropko” demikian ajakan beberapa rekan pastor dan suster, hari Sabtu sore tanggal 2 Agustus 2014, ketika saya mengadakan kunjungan ke Mindiptana beberapa waktu yang lalu. “Boleh, yang penting kalian siapkan bekal” begitu jawaban saya. “Kami siap bapa uskup” sahut mereka dengan wajah cerah. Keputusan itu mendorong mereka segera bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatu sebagai bekal perjalanan dan makan siang di sana. Jarak Mindiptana ke Waropko kira-kira 35 km, dan dalam keadaan normal ditempuh dalam waktu 1 jam.

Cuaca dalam beberapa hari terakhir agak bersahabat. Hujan tidak turun, hanya gerimis-gerimis kecil. Mereka memberikan kesaksian, setiap kali ada kunjungan uskup ke wilayah Mindiptana, cuaca selalu bagus. Perjalanan lancar dan semua kegiatan dapat terlaksana pada waktunya. Demikian pula pada hari itu, tidak ada hujan, meskipun pada hari-hari sebelumnya ada curah hujan yang cukup banyak.

Kami ber-14 berangkat dari Mindiptana jam 12 siang. 4 orang dari antara kami naik 3 sepeda motor, karena pastor Vikep memilih membonceng seorang anak muda yang sudah biasa melalui jalan itu. Cuaca bagus dan matahari bersinar. Kami belum makan siang, dengan harapan bahwa kami bisa tiba di tempat tujuan jam 13 atau jam 13.30 sehingga bisa makan siang di Waropko, sebuah paroki di luar pusat kecamatan Mindiptana. Jalan menuju ke sana, pada 10 km yang pertama baru saja diperbaiki sehingga amat mulus. Beberapa stasi dengan mudah dilewati, karena kami bisa melaju dengan mobil dengan kecepatan 60-70 km per jam.

Pada bagian berikutnya, jalan sedang  dikeraskan kembali dengan menimbun tanah liat dan kemudian diratakan dengan alat berat. Jalan tanah liat itu yang telah rata itu rusak lagi karena hujan dan dilalui oleh truk-truk dan mobil-mobil yang bermuatan berat. Di jalan yang agak basah dan berlumpur, sepeda motor agak berjuang untuk melintas, mereka memilih jalan yang dilalui truk karena lebih padat dan keras. Sedangkan mobil kami (dobel gardan) dengan mudah mengatasi jalan basah dan agak berlumpur.

Di kilometer 25, ada sebuah jembatan yang sedang dibangun dan semua kendaraan harus melalui jalan darurat. Letak jalan darurat itu lebih rendah dari ketinggian tanah pada umumnya, sehingga tempat itu basah dan berlumpur. Sopir setiap kendaraan roda 4 harus berjuang keras, agar bisa lolos di jebakan lumpur ini. Truk-truk besar sering melewati jalan ini, sehingga jeblokan itu makin dalam dan makin berlumpur. Ada banyak mobil yang terpaksa harus ditarik dengan bantuan alat berat. Begitu pula sopir kami, berjuang keras, beberapa kali mencoba melintas namun akhirnya gagal juga, karena jeblokannya terlalu dalam. Letak jembatan / jalan berlumpur tebal itu dekat kampung Upyetetko.

Beberapa rekan kami sudah biasa melayani umat di kampung ini. Mereka saya minta untuk menghubungi beberapa orang di sana untuk membantu agar mobil kami bisa keluar dari jebakan lumpur. Mereka telah berusaha namun yang dihubungi sedang sakit, sehingga tidak dimungkinkan untuk pergi mencari bantuan tenaga. Waktu sudah menunjukkan jam 14.30, tetapi mobil masih terjebak di lumpur.  Kayu-kayu kecil dan  rerumputan dikumpulkan untuk memuluskan tempat pijakan ban mobil, saya mengambil alih tugas sebagai sopir namun tetap mobil tidak bergerak. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari bantuan. Saya keluar dari mobil, dan mencari bantuan.

Saya menbonceng sepeda motor untuk mencari tenaga. Ketika mendekati pintu rumah seorang warga kampung, saya memberi salam terlebih dahulu: “selamat siang”. Dari dalam rumah itu, ada jawaban: “Selamat siang”. Lalu saya naik tangga rumah panggung itu. “Aduh, bapa uskup.....selamat siang. Saya berlibur di kampung ini, sudah 3 hari...untuk ketemu saudara-saudara yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bapa uskup mau ke mana ?”.  “Saya mau ke Waropko, tetapi mobil saya terjebak di lumpur dekat jembatan. Saya mau minta bantuan  tenaga, supaya mendorong mobil sehingga bisa keluar dari lumpur”. “Baik bapa uskup” sahutnya. Kemudian orang itu (Yustus) keluar, dan mulai memanggil orang-orang muda dalam bahasa daerah di kampung itu.

Dalam waktu singkat, muncullah mereka, dan segera bergegas menuju ke tempat mobil. Ada 8 orang muda yang siap untuk membantu. Dengan tenaga yang cukup banyak itu, mereka segera mendorong mobil. Hanya dalam hitungan detik, setgelah didorong beramai-ramai, mobil keluar dari jebakan lumpur, dan dapat melanjutkan perjalanan.
Perjalanan melalui jalan yang berlumpur namun sudah mulai mengering karena panas matahari, memungkinkan mobil dan sepeda motor berjalan lebih cepat. Sekitar 10 – 15 km yang terakhir jalan memang cukup parah karena hujan pada hari-hari sebelumnya, dan karena sering dilalui oleh truk-truk pengangkut bahan bangunan dan logistik. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 jam, hari itu ditempuh dalam waktu 4 jam dengan susah payah. Jam 4 sore kami semua baru makan siang. Untuk melepaskan lelah, namun gembira karena sudah  tiba di tempat tujuan, beberapa di antara kami berjoget dan memutar lagu-lagu gembira.

Tidak disangka-sangka, saya bertemu dengan seseorang (Yustus) yang saya kenal di Merauke. Dia sedang berlibur di kampung itu. Bagaimana dan mengapa bantuan itu muncul begitu cepat, bagaimana orang itu ada di sana sebelumnya dan dengan sigap mengerahkan kekuatan kaum muda untuk membantu, merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Seandainya dia tidak di sana, masih agak lama bantuan itu datang. Dan kalau bantuan terlambat datang, berarti kami terlambat pula untuk sampai di Waropko.


Dalam iman, saya mengatakan Tuhan telah menyiapkan orang-orangnya untuk menolong saya yang diutus untuk melayani umat-Nya. Peristiwa itu (ketidakberdayaan – keterbatasan diri – kebutuhan untuk mendapatkan pertolongan) merupakan cermin bahwa manusia itu adalah makhluk yang terbatas, dan membutuhkan orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya.  Banyak kali Tuhan telah menunjukkan kebesaran dan kasih-Nya kepada saya, ketika saya melayani umat Allah di pedalaman, misalnya: “tidak hujan selama masa pelayanan, padahal saat itu musim hujan”, “tiba dengan selamat melalui lumput-lumpur meski menggunakan mobil kijang Innova”. Karena itu, pantas dan layak kepada Allah yang penuh kasih itu, dipanjatkan syukur dan hormat dengan hati gembira. 

MUKJIZAT TERJADI

Pembaca yang Budiman
Saya hadir kembali di hadapan anda, untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya, ketika mengunjungi daerah pedalaman. Cerita ini terjadi belum lama ini. Maka, ketika saya tulis, saya beri tanggal sesuai dengan terjadinya peristiwa itu. Itulah sebabnya, ketika anda membaca cerita ini, saya mengajak anda untuk kembali dan menikmati kejadian pada hari itu. Selamat menikmati.


                 MUKJIZAT KETERBUKAAN DAN KEMURAHAN HATI

Hari ini, tanggal 2 Agustus 2014 di Mindiptana – Kab. Boven Digul telah terjadi suatu mukjizat besar ? Mukjizat apa ?  Mukjizat kemurahan hati. 
Hari ini, berkumpul di ruang tamu kevikepan Mindiptana, wakil-wakil umat katolik, para pemilik tanah adat, para imam, biarawan-biarawati, petugas pastoral, pastor vikep Mindiptana dan uskup. Pertemuan itu membahas “tanah adat yang telah diserahkan oleh para leluhur mereka untuk pelayanan pastoral kevikepan (keuskupan), namun dipertanyakan kembali oleh anak cucu. Mereka meminta ganti rugi atas tanah itu”.  Tanah seluas 16 hektar yang telah bersertifikat

Pemilik Tanah dan Penyerahan Tanah

Tanah yang dimiliki keuskupan pada awalnya adalah tanah milik Jurum (seorang perempuan) yang menikah dengan Jomop. Jomop adalah kepala kampung pada saat itu. Sebagai balas jasa kepada Pater Petrus Hoeboer MSC yang telah  membuat mereka “turun dari rumah-rumah yang dibangun di pohon-pohon, dan berhenti dari kegiatan pengayauan”, sepetak tanah diserahkan oleh Jurum dan Jomop untuk pelayanan keagamaan dan pendidikan anak cucu mereka. Pada waktu itu tidak ada surat penyerahan, tidak ada gambar / denah tanah yang diserahkan, dan tidak ada saksi yang masih hidup. Yang adalah adalah surat yang dibuat oleh Bp Marius Kelanit tentang sejarah pemberian tanah dan ditandatangani oleh beberapa orang saksi.

Surat yang amat berharga itu, ditulis tahun 1966 dan tersimpan dengan baik di Keuskupan dan di  pusat Kevikepan. Isi surat itu dengan amat jelas memberikan keterangan tentang siapa pemilik, dan siapa-siapa yang menyerahkan tanah itu, serta siapa yang menerima penyerahan itu, dan terjadi tahun berapa. Sayang bahwa batas tanah yang diserahkan tidak ada di sana.

Diminta kembali / harus ada pembayaran

Pada tahun 1991, ada proyek pemerintah dalam rangka per-sertifikatan tanah yang sering disebut “prona” (proyek nasional). Supaya tanah yang telah diserahkan itu ada sertifikatnya, keuskupan mengajukan permohonan juga ketika ada prona itu. Maka, diadakanlah pengukuran kembali, dan salah seorang ahli waris ( sebuat saja A) juga ada dalam kegiatan pengukuran tanah itu. Luas tanah yang dipakai keuskupan untuk bangunan gereja, pastoran, pusat kevikepan, susteran, TK, SD, SMP, SMA, kompleks asrama putra, dan asrama putri seluruhnya 16 hektar.

Sekitar tahun 2007, A menyatakan bahwa tanah yang diserahkan oleh leluhurnya adalah tanah yang dipakai untuk TK, bangunan  gereja, pastoran dan pusat kevikepan. Tanah yang lain, pada waktu penyerahan awal masih berupa hutan, sehingga tidak termasuk dalam penyerahan itu. Demikian pula, pada tahun 2009, 2011, dan 2013 ketika ada kegiatan renovasi asrama putra, beberapa orang yang masih 1 marga dengan pemilik tanah menyatakan menuntut kembali tanah itu, atau pihak pemakai (keuskupan) membayar semua tanah yang dipakai untuk mendirikan SD,SMP, SMA, Asrama Putra, Asrama Putri dan susteran. Tanah yang diminta ganti rugi luasnya 14hektar.

Memiliki untuk melayani

Dalam pertemuan itu terjadi dialog. Pembacaan surat dari Bpk Marius Kelanit menjadi dasar dari dialog itu. Para sesepuh dan keturunan dari marga pemilik tanah pun kemudian mengenang kembali “sejarah peradaban yang diterima oleh leluhur mereka” tahun 1927. Beberapa peserta yang pernah mengenyam pendidikan pada jaman misionaris itu memberikan kesaksian di hadapan para peserta rapat. Peradaban baru itu telah mengubah pola pikir dan pola hidup mereka. Leluhur mereka dulu tinggal di rumah-rumah yang ada di pohon dan  mengayau. Ketika itu di salah satu rumah mereka, ditemukan paha manusia. Masyarakat pada waktu itu masih kanibal. Salah seorang dari mereka menyatakan: “Karena jasa para misionaris itulah, dan karena pendidikan di LOZO dan MOZO, kami menjadi manusia seperti sekarang ini. Jasa besar mereka tidak pernah boleh dilupakan”.

Keterbukaan pikiran

Kesaksian-kesaksian dari para bekas murid yang dididik di lembaga pendidikan yang dikelola oleh para misionaris itu, telah memberikan pencerahan, dan mengubah pikiran mereka tentang tanah yang diberikan kepada para misionaris dan para penggantinya. Apalagi tanah itu dipakai untuk keperluan mereka dan anak cucu mereka sendiri. Bangunan gereja, pastoran dan kevikepan serta bangunan sekolah dan asrama dipakai oleh mereka baik untuk peribadatan maupun untuk pendidikan dan pembinaan di asrama.

Para pastor, suster dan bruder yang saat ini bekerja di wilayah itu pun memberikan diri dan seluruh tenaganya untuk pelayanan dan pengembangan umat dan masyarakat di daerah itu. Ketika mereka pindah ke tempat lain, bangunan dan seluruh aset yang dipercayakan kepadanya, tidak dijual ke pihak lain melainkan diserahkan kepada penggantinya.  Tanah yang diserahkan kepada para misionaris itu merupakan tanda terima kasih para leluhur, dan tidak boleh ditarik kembali. Semua itu merupakan tanda kebanggaan dan kebesaran kami serta anak cucu kami sepanjang sejarah.

Atas penegasan-penegasan itu, mereka sampai pada kesimpulan bahwa tanah seluas 16 hektar yang sudah sejak awal dipergunakan untuk peribadatan, kemudian diperluas untuk pendidikan dan susteran serta asrama, diserahkan sepenuhnya kepada kevikepan (keuskupan). Namun demikian, kepada ahli waris dari marga yang telah menyerahkan tanah itu kepada kevikepan akan diberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih. Pihak ahli waris pun setuju bahwa kepada mereka akan diberikan uang ucapan terima kasih, bukan uang jual beli tanah.

Kerelaan untuk mengambil tanggung jawab

Dalam rapat itu, setelah mendengarkan usulan dan pendapat dari mereka yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga itu, pendapat dari kepala kampung (kepala desa) serta beberapa peserta rapat lainnya, diputuskan bahwa yang bertanggung jawab dan akan memberikan uang ucapan terima kasih adalah umat / masyarakat sendiri. Para kepala kampung siap untuk mengkoordinir masyarakatnya dan mengumpulkan dana tersebut. Bpk Barnabas dengan senang hati menerima tugas sebagai koordinator tim pengumpul dana. Para pastor, vikep, uskup dan para suster tidak perlu lagi berpikir tentang uang ganti rugi atau uang ucapakan terima kasih. Mereka silakan bekerja seperti biasa dengan tenang dan mengadakan kegiatan persekolahan dan asrama, dengan dukungan penuh dari masyarakat dan umat katolik.

Mukjizat terjadi

Permintaan pembayaran tanah yang sebelumnya ditujukan kepada kevikepan / keuskupan, kini mereka ambil alih. Umat sendiri yang akan menyelesaikannya. Semua sepakat bahwa uang yang akan diterima oleh ahli waris bukan lagi sebagai uang pembayaran jual beli tanah, tetapi sebagai uang ucapan terima kasih. Mereka dengan senang hati siap mengkoordinir dan bertanggungjawab atas  penyelesaian kewajiban itu secara kekeluargaan. Pihak ahli waris pun menerima keputusan itu dengan hati lega.
Mukjizat keterbukaan hati dan siap sedia untuk bersama-sama menanggung “kepentingan umat”, bukan lagi berada di pundak para misonaris dan pengganti-pengganti mereka, tetapi di pundak mereka sendiri. Roh Kudus telah memimpin rapat itu, dan membuka hati umat-Nya agar dengan sukacita berpartisipati dalam pembangunan umat Allah di wilayah mereka. Pintu hati yang telah terbuka ini, akan turut mempengaruhi partisipasi umat dan jalannya pelayanan pada masa-masa mendatang.

Kita semua patut bersyukur atas mukjizat kemurahan hati ini. Tuhan telah mengabulkan doa dari sebagian besar umat yang telah lama merindukan ketenteraman dalam melaksanakan pelayanan dan kegiatan pembangunan di kevikepan ini. Untuk itu, selama bulan Agustus akan dipersembahkan misa untuk para leluhur mereka, untuk para ahli waris dan keturunannya agar berkat Tuhan turun dan berlimpah bagi mereka.

Pertemuan hari itu ditutup dengan makan siang bersama. Suasana kekeluargaan dan kesatuan hati begitu terasa. Kami semua pulang dengan hati damai. Sepanjang hari dan hari-hari berikutnya rasa syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada para  juru damai yang muncul dari tengah-tengah umat, mewarnai hati kami. Mukjizat telah terjadi dan kami telah mengalaminya.

Kamis, 31 Juli 2014

DUBAI LISBON



PEMBACA YANG BUDIMAN

Inilah oleh-oleh untuk anda yang saya sajikan untuk menyambung tulisan saya. Semoga anda dapat menikmati butir-butir mutiara yang ada di dalamnya. Selamat membaca.

Tanggal 21 Juni 2014, kami terbang dari Dubai ke Lisbon. Penerbangan memakan waktu 8 jam. Hari masih masih pagi, kira-kira jam 07.15 waktu Dubai. Kami yang baru saja mengadakan perjalanan panjang Jakarta Dubai, selama 8 jam pada umumnya “menerima saja perjalanan itu” sambil sesekali membaca buku / majalah atau menikmati filem yang disediakan dengan cara memencet tombol-tombol remote. Saya memilih duduk manis, sambil memejamkan mata. Kebetulan saya duduk di kursi no 32, dan di depan saya ada ruang kosong. Para penumpang yang sudah capek duduk, bisa berdiri di sana atau meluruskan kaki atau antre untuk ke toilet.

Ketika saya membuka mata, pandangan saya tertarik seorang bocah kecil (A) berambut pirang yang sedang berjalan-jalan di depan saya, di ruang kosong itu. Umurnya kira-kira 2 tahun. Ia tampak seperti sebuah boneka, bermata biru. Muncul pula dari belakang tempat duduk saya, seorang bocah lain (B) yang lebih besar. Kira-kira umurnya 3 tahun. Mereka berdua tertawa, tangannya saling didekatkan.... lalu larilah B ke belakang. A tetap di tempat. B datang lagi, tangan kanannya disentuhkan ke tangan B, lalu lari ke belakang, kali ini diikuti A. Mereka tidak berbicara, tetapi bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Kedua bocah kecil itu tahu dan bisa berkomunikasi. Mereka tahu bahwa mereka sebaya dan teman seumurnya itu “dapat memahami apa yang dirasakan oleh sesamanya”. Meski tubuh masih kecil, mereka sudah punya potensi untuk berkomunikasi. Tanpa kata pun “kebersamaan, seperasaan, rasa saling membutuhkan, dan aneka rasa lainnya” bisa diwujudkan. Mereka saling berkenalan tanpa menyebut nama. Mengenal nama bukanlah yang terpenting, karena yang terpenting bagi mereka adalah “kehadiran seorang teman yang memahami aneka rasa dan bisa diajak berkomunikasi”.

Pada jaman kita sekarang ini, sudah tersedia di mana-mana alat-alat komunikasi, yang sering disebut hp (hand-phone) dengan aneka merek. Menara-menara penghubung sambungan komunikasi elektronik / selular (milik indosat atau telkomsel) telah berdiri di banyak wilayah, dan menara-menara lainnya di luar negeri, telah memungkinkan orang untuk berkomunikasi jarak jauh. Memang sudah banyak kebutuhan atas barang dan jasa, telah terpenuhi dengan cepat karena bantuan alat-alat komunikasi itu. Mereka yang dalam keadaan sekarat dan kritis pun dapat segera ditolong karena lancar dan canggihnya alat komunikasi itu.

Di sisi lain, adegan bocah-bocah kecil itu telah menyerukan sesuatu kepada saya. Meski tidak kenal satu sama lain, mereka berusaha untuk berkomunikasi. Sementara itu, sepanjang perjalanan Dubai Lisbon, saya tidak berkomunikasi dengan sesama penumpang yang ada sebelah tempat duduk saya. Di deretan saya, ada 3 tempat duduk. Saya duduk di kursi dekat gang. Saya lebih memilih tidur. Kedua penumpang yang di sebelah saya pun memilih tidur. Mereka meski teman seperjalanan telah memilih tidur, terlebih penumpang yang duduk di tengah. Hampir sepanjang perjalanan, seluruh waktunya dihabiskan untuk tidur. Hidangan yang disediakan oleh pramugari hanya satu yang dimakan, yang lain dibiarkan saja, dan akhirnya diambil kembali oleh pramugari yang lain.

Komunikasi yang sebenarnya mudah dan murah, ternyata pada jaman sekarang ini orang makin sulit mendapatkannya. Mereka lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh di sana, sedangkan yang di sebelahnya atau serumah dengannya dilupakan, atau paling sedikit mendapat waktu. Karena itu, banyak orang kehausan akan komunikasi pribadi. Mereka kehilangan saat-saat dan pertemuan dua pribadi yang sangat mendasar yaitu saat dia bertemu, disapa, dimengerti, dihargai, didengarkan, didukung atau diberi pencerahan dan kekuatan. Sering alat komunikasi hanya sebagai hiburan, untuk mengisi kekosongan sesaat. Namun alat itu, tidak mampu dan tidak akan pernah bisa memberikan penghargaan dan pengertian, terlebih dukungan mental spiritual. Alat komunikasi adalah benda mati. Manusia membutuhkan komunikasi antar pribadi yang didasarkan pada nilai-nilai yang keluar dari hati nurani.