Senin, 04 September 2017

DOA SYUKUR 50 TAHUN STFT FAJAR TIMUR

PEMBACA YANG BUDIMAN 

Pada tahun ini, lembaga pendidikan calon imam dan pelayan untuk wilayah Papua, tepat berusia 50 tahun.  Dari tempat ini, telah dihasilkan imam-imam, petugas gereja dan pelayan umat / masyarakat di pelbagai bidang pengabdian.  Pantaslah dipanjatkan syukur kepada Tuhan, dan disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah andil dalam melanjutkan dan meningkatkan mutu lembaga ini.  Dalam rangka perayaan syukur itu, telah disusun doa khusus sebagai Doa Syukur bagi seluruh keuskupan dan umat di Tanah Papua.  Doa itu, saya hadirkan dalam blog ini, agar anda pun dalam mendoakannya. Atas partisipasi anda sekalian, saya haturkan banyak terima kasih.

DOA SYUKUR 50 TAHUN SEKOLAH TINGGI FILSAFAT “FAJAR TIMUR” ABEPURA
10 0KTOBER 1967 – 10 OKTOBER 2017

Allah yang maha Pengasih, Tritunggal yang mahasuci. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah membimbing dan menjaga umat-Mu melalui para pelayan umat. Kami bersyukur karena selama 50 tahun Engkau telah menurunkan berkat berlimpah kepada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” di Abepura sehingga dia dapat mendidik dan membina para calon pelayan umat yang sekarang tersebar di seluruh Papua.

Pada tahun berahmat ini, kami  mohon agar Engkau sudi memberkati sekolah kami agar menjadi tempat yang subur dan pantas untuk pembinaan para calon pelayan umat, baik pastor maupun awam. Semoga Engkau menaungi seluruh proses pembinaan dan studi agar dapat menghasilkan calon imam dan pelayan umat yang matang, bijaksana, suci dan memiliki keutamaan iman yang berguna bagi pelayanan dalam Gereja dan masyarakat.
Berkatilah para uskup dan sponsor agar mereka dapat memberikan perlindungan dan pengarahan yang berguna bagi pendidikan  calon imam dan pelayan umat di Papua. Terangilah badan penyelenggara dan bangkitkanlah dalam diri mereka semangat pengabdian agar mereka dapat menyelenggarakan lembaga ini sesuai dengan rencana-Mu.

Semoga Engkau menganugerahkan rahmat berlimpah, budi yang cerah, hati yang penuh bakti dan keutamaan yang perlu kepada para dosen dan pembina, agar mereka tetap setia mengajar dan mendidik para calon pelayan umat dalam suka dan duka. Ciptakanlah suasana damai, persaudaraan dan semangar kerja sama di kampus dan seminari dan jauhkanlah dari mereka,  ancaman dan rintangan yang membahayakan proses pendidikan dan pembinaan.

Berkatilah para mahasiswa, para calon imam dan pelayaan awam agar tetap bertumbuh dalam diri mereka panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan yang suci, bijaksana dan siap melayani. Semoga mereka siap sedia menjadi murid Kristus yang mau belajar dan melatih diri, yang terus bertumbuh dalam kebenaran dan kebaikan. Jauhkanlah dari mereka roh zaman yang membahayakan panggilan mereka. Semoga mereka bersama alumni dapat menjadi pelayan umat dan masyarakat yang pantas diteladani oleh umat.

Gerakkanlah hati umat-Mu agar terus bersatu dengan mereka, baik dengan menyediakan calon imam dan pelayan dalam keluarga, maupun dalam mendukung mereka selama pendidikan dan dalam pelayanan di tengah umat-Mu di seluruh Papua. Demikianlah doa kami demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Sabtu, 26 Agustus 2017

YAYASAN SANTO ANTONIUS - MERAUKE

PEMBACA YANG BUDIMAN 

SYALOOM

Tulisan ini, saya bagikan kepada anda, sebagai oleh-oleh meskipun sudah saya tulis sekian waktu yang lalu.  Moga-moga ada butir-butir kasih yang anda temukan di dalamnya. 

Saya diundang oleh Sekretaris Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke, untuk memberikan “pandangan saya tentang kehidupan dan pelayanan Yasanto” sebagai salah satu “key note speaker” (pembicara yang memberikan gagasan-gagasan penting) dalam suatu lokakarya, dalam rangka ulang tahun 35 berdirinya Yayasan ini. . Ada pun tema yang dipilih oleh Panitia adalah “Peran Gereja dan Yayasan Katolik dalam Pembangunan di Kabupaten Merauke. Lokakarya itu diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 26 November 2015 di Bella Vista – Merauke.  Pembicara lain yang juga diundang pada kesempatan itu adalah Bp. Drs. Romanus Mbaraka MT (Bupati Merauke) dan Bp. Ir Leonardus Mahuze. Msi ( Ketua Yasanto ).  Namun, bupati berhalangan sehingga pembicara pada kesempatan itu hanya 2 orang yaitu Bp. Leo Mahuze dan saya.  Inilah beberapa pemikiran yang saya sampaikan pada kesempatan itu.

Hadirin yang terhormat

Para Tamu Undangan dan saudara-saudari sekalian.

Pada kesempatan lokakarya ini, Panitia telah memilih tema: “PERAN GEREJA DAN YAYASAN KATOLIK DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN MERAUKE”.  Judul / tema yang dipilih menurut terlalu luas, dan peran “Gereja” sebagai umat Allah menyangkut banyak hal. Dan tentu saja, tidak mungkin diuraikan pada kesempatan yang amat terbatas waktunya. Secara singkat, peran Gereja adalah menghadirkan kasih Allah di dunia ini, sehingga semua orang mengalami keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan.  Sedangkan peran “Yayasan Katolik” adalah mewujudkan kasih Allah itu secara lebih nyata melalui pelayanan sesuai dengan bidangnya masing-masing, agar manusia sungguh-sungguh mengalami kasih dan kehadiran Allah.
Mengingat tema / judul itu terlalu luas, saya mengajukan judul sbb:  “YAYASAN SANTO ANTONIUS TURUT AMBIL BAGIAN DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN MERAUKE”.   Yayasan ini didirikan di kompleks persekolahan yang dirintis oleh Bruder-bruder Tarekat & Kedukaan. Salah satu pendirikanya adalah Br. Jan Bouw CSD. Maka, ada banyaknya kita mengenal sejarah Tarekat ini.

Sejarah Singkat Tarekat Bruder 7 Kedukaaan ( Broeders van Onze Lieve van Zeven Smarten, dalam bahasa latin: Congregatio Septem Dolorem, yang disingkat CSD)

Tarekat ini dididrikan tahun 1851 di Amsterdam oleh Pater Petrus Johanes Hess Field (rektor Sekolah St. Aloysius) dan rekannya Pater Arnoldus Fentrop SJ, dengan tujuan: memberikan perhatian dan pembinaan kepada anak-anak yatim dan anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya ( anak-anak terlantar). Mereka dibekali dan dilatih di bidang pertanian melalui kehidupan di asrama. Dasar perutusan mereka adalah memperhatikan anak-anak yatim dan anak-anak terlantar, bukan hanya dengan kasih-kasih makan, tetapi memberkali mereka supaya mereka bertahan dalam hidup, mandiri dan mampu meraih masa depan.

Misi ke Luar Negeri

-         1936 atas undangan uskup di China,  mereka mengutus beberapa bruder ke China. 
-         1949 karena di China ada gerakan komunisme, mereka dilarang bekerja di sana dan dipaksa harus meninggalkan negeri itu
-         1948 mereka diundang oleh Mgr. Jacobus Grent MSC untuk melayani Irian Barat
-         1949 mereka mulai bekerja di Langgur
-         1956 mereka mulai membuka Sekolah Teknik, dan latihan / kursus pertanian di Merauke
-         1956 – memulai kursus pertanian di Kepi. Kegiatan ini ditutup tahun 1980
-         1957 memulai kursus pertanian di Mindiptana
-         1980 memulai pelayanan di Sampit dan Manado
-         1989, di Merauke masih ada Bruder Cayetanus, Br. Liborius, Bro Jan Baow, dan Br. Pangky.
-         1991  - 1992 Br Pangky pindah ke Kelapa Lima
-         1993     Br Pangky kembali ke Belanda. Sejak saat itu, di Merauke tidak ada lagi Bruder 7 Kedukaan.



Tekad Baru

-         1979 Yasanto,  didirikan oleh 4 relawan, yaitu P. Daniel Siga SVD (+), Bp. Markus, J. Fofied, Bpk. Frans Tjia (+) dan Br. Jan Bouw CSD (+) tahun 1979 untuk menjawab kebutuhan kaum muda akan supaya punya bekal dan ketrampilan di bidang teknik. 
-         1980 Yayasan ini memayungi Sekolah Teknik Menengah yang masih ada sampai sekarang.
-         1994 didirikan BPKM ( Badan Pengembangan Kesehatan Masyarakat ) sebagai tanda kepedulian untuk turut ambil bagian dalam pelayanan kepada para korban HIV / AIDS
-         2004 didirikan Politeknik untuk membekali kaum muda agar makin mantap untuk turut berperan dalam pembangunan masyarakat.  Sekolah ini telah menghasilkan kaum muda yang telah bekerja di banyak tempat untuk turut serta membangun wilayah selatan Papua.  

Lembaga ini, sejak awal kehadirannya di Merauke hingga saat ini tetap “setia pada nafas dan tujuan awal yang dirintis oleh para pendirinya” yaitu memperhatikan dan memperhatikan anak-anak / kaum muda agar mandiri dan dapat meraih masa depan yang cerah.

Beberapa catatan penting
1.  Badan Pengurus yang mengawal lembaga ini adalah orang-orang yang berpengalaman lebih dari 25 tahun.  Mereka termasuk orang-orang yang mengenal dari dekat perjuangan, kesulitan dan keberhasilan lembaga ini. Kepada mereka semua patut diucapkan banyak terima kasih.  Di sisi lain, perlu juga tambahan tenaga-tenaga baru dan profesional, usia 35 – 40 an yang duduk di jajaran pengurus, agar misi awal yang dilahirkan oleh lembaga ini dapat selalu menjawab tantangan dan kebutuhan jaman. Di lembaga ini, perlu ada revitalisasi, restrukturisasi, regenerasi dan langkah-langkah inovatif.
2.  Gedung dan Sarana yang dimiliki Yasanto sudah memadai.  Saya berpendapat bahwa melalui bangunan dan sarana yang sudah ada dan sedang dibangun, masih harus tetap membara serta ditumbuhkembangkan “jiwa dan semangat misioner” dari kaum awam dan anak-anak bina lembaga ini.  Tidak adanya kantor-kantor perwakilan Yasanto di Kepi, Kimaam, Mindiptana dan Muting merupakan indikator bahwa jiwa dan semangat misioner perlu dibangkitkan kembali. Saat ini, di wilayah-wilayah itu, sedang terjadi “peralihan kehidupan” secara cepat dan besar-besaran. Di kampung-kapung itu, kehadiran Yasanto dan pelatihan serta pembekalan yang dulu pernah dirintis oleh para Bruder Kedukaan, dan dilanjutkan oleh para voluntir dari Inggris, Australia, Belanda dll perlu dilanjutkan oleh para voluntir dari negeri sendiri.

Dulu, saya kenal Yasanto sebagai lembaga pelayanan dan pengembangan bidang sosial ekonomi dengan secara langsung terlibat dalam kegiatan perkaretan, jambu mete. Di Kimaam, selama beberapa tahun Suzanne banyak kali datang untuk mengadakan pelatihan dan evaluasi tentang kegiatan itu. Dulu, beberapa kali saya membeli parang, pacul dan bibit-bibit tanaman / sayuran. Sekarang kegiatan itu tampaknya tinggal kenangan.

Apakah dengan demikian bidang pelayanan yang dulu pernah dilakukan betul-betul ditinggalkan ?   atau  ada “di lemari es” sehingga sewaktu-waktu bila diperlukan, bidang itu tinggal “dicairkan kembali” ?   Ataukah minat / strategi yang diambil oleh Yasanto sungguh-sungguh telah berubah / berbeda dengan yang diputuskan oleh para pendahulunya

Masyarakat biasa sulit sekali mengikuti perkembangan dan tuntutan masyarakat moderen yang serba cepat, rutin, terjadwal, ekonomis, bertarget dan berskala dunia, sedangkan masyarakat sudah terbiasa berpikir lokal, dan hidup tak berjadwal dan tak bertarget. Ini bukan karena masyarakat lokal yang salah, tetapi karena ada perbedaan besar antara 2 pihak, di pola berpikir, kebutuhan hidup, apa yang menjadi target dan apa yang bisa dipasarkan / diperdagangkan. Masyarakat adalah petani/perambah hutan sedangkan pihak lain adalalah pedagang/pengusaha besar (investor).

3.  Di ruang tertentu di kompleks kantor Yasanto ada alat-alat dan bibit-bibit yang bisa dibeli oleh masyarakat.  Sekarang ini, tampaknya semuanya makin sulit didapat. Kalau memang benar, bahwa alat-alat dan bibit itu tidak ada, itu indikator bahwa:
-         Bibit-bibit dan alat-alat tradisional itu memang sudah tidak ada di Merauke atau di Indonesia, karena diganti oleh bibit-bibir jenis baru, dan alat-alat moderen
-         Tidak ada minat lagi, karena lebih suka kerja komputer atau tidak suka kotor karena pegang-pegang alat sadap karet, kena getah dan tanah /lumpur


4.  Banyaknya voluntir dari luar negeri menunjukkan jaringan kerja dan bidang pelayanan Yasanto dikenal dan diminati oleh mereka untuk dibantu dan diperkaya. Saat ini, para voluntir tidak ada.  Hal ini patut dilihat dan dievaluasi lagi. Apakah tuntutan perijinan tinggal di Indonesia yang menyulitkan mereka untuk datang ke Merauke ?

Kesatuan dengan Keuskupan

1.  Visi dan Misi yang diemban oleh Gereja Katolik ( Gereja Universal ) harus tetap menjiwai semua lembaga dan unit-unit kerja yang membawa nama / bendera katolik yaitu membela kehidupan dan hak-hak azasi manusia, serta mengembangkannya seturut teladan Yesus dan Ajaran resmi Gereja.
2.  Ada komunikasi dan relasi yang baik, lancar dan rutin dengan pihak Keuskupan ( uskup atau wakilnya) sebagai tanda ikatan kasih dan persaudaraan dengan Kepala Gereja Lokal.
3.  Arah dasar Keuskupan yang tertuang dalam Keputusan-keputusan Muspas atau pra sinode atau Sinode Keuskupan, juga menjadi bagian dari lembaga-lembaga katolik yang berkarya di keuskupan ini.
4.  Tentang Harta Benda, berlaku
-         kanon 1265, ayat 1: ..orang perorangan atau badan hukum privat manapun dilarang mengumpulkan uang untuk lembaga atau tujuian saleh maupun gerejawi apa pun, tanpa ijin yang diberikan secara tertulis dari Ordinaris wilayahnya sendiri serta ordinaris wilayah”
-         kanon 1267, ayat 1: “ Jika tidak jelas kebalikannya, sumbangan-sumbangan yang diberikan kepada Pemimpin-pemimpin atau pengelola badan hukum gereja mana pun, juga yang privat, diandaikan diberikan kepada badan hukum itu sendiri.
-         .......ayat 2       ....dibutuhkan ijin ordinaris (uskup) juga untuk menerima sumbangan-sumbangan yang disertai beban untuk dipenuhi atau bersyarat
-         Kanon 1269..... “jika benda-benda itu milik suatu badan hukum gerejawi publik, maka hanya dapat diperoleh menjadi milik oleh badan hukum gerejawi publik lain”...

Dalam hal ini:

Bila pada suatu hari, Yayasan katolik karena alasan tertentu “tidak bisa lagi melanjutkan pelayanannya lagi, seluruh aset Yayasan, diserahkan seluruhnya kepada Keuskupan Agung Merauke, sebagai badan publik gerejawi yang lain (seturut norma-norma dalam hukum gereja tsb)

Penegasan berdasarkan hukum gereja ini, disampaikan agar diketahui bahwa 1) tujuan mulia para pendiri Yayasan patut untuk diperhatikan dan dilanjutkan, 2) segala sesuatu yang berkaitan dengan aset, sudah ada aturan hukumnya, 3) keluarga / saudara / ikatan-ikatan kekeluargaan lainnya, menjadi paham tentang kepemilikan aset dari suatu Yayasan.

BUTIR-BUTIR PEMIKIRAN KE DEPAN:

1.  Adanya Tim Pembina bagi kaum muda di pinggiran dan di pedalaman
2.  Kaderisasi tenaga-tenaga terampil di bidang pertanian dan pertukangan
3.  Menumbuhkan kelompok-kelompok yang mempunyai penghasilan tetap lewat usaha penanaman jahe, karet, pisang, dan buah-buahan baik buah-buah jangka pendek, maupun jangka panjang
4.  Membantu pemasaran hasil panen masyarakat, sehingga harga jual hasil panen tetap baik dan kesejahteraan masyarakat makin meningkat
5.  Yasanto memulai usaha Bank Perkreditan Rakyat

Penutup:

Karya yang dimulai berdasarkan kasih dan untuk mengembangkan manusia agar hidup bahagia, meskipun tampaknya kegiatan manusiawi belaka, sesungguhnya adalah karya Allah.  Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya hendak mengucapkan proficiat, dirgahayu Yayasan Santo Antonius – Merauke. Maju terus dan sukses selalu.


Merauke, 25 November 2015




Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC
Uskup Agung Merauke



ARARE 13 JULI 2017

PEMBACA YANG BUDIMAN

TELAH LAMA SAYA TIDAK MENJUMPAI ANDA. ADA GANGGUAN TEKNIS SEHUBUNGAN DENGAN SALURAN INTERNET, DAN KATA SANDI YANG TIDAK SAYA KENALI LAGI ( JUGA TIDAK DIKENAL OLEH YAHOO ATAU PUN GMAIL).  ITULAH SEBABNYA,  KERINDUAN UNTUK MENULIS MENJADI TERHENTI.

Syukurlah, beberapa waktu yang lalu, ada seorang rekan yang bisa menolong saya. Semua kata sandi diperbaharui. Semuanya beres, dan saya bisa membuka blog ini dengan lebih mudah.  Kepada rekan Andre, saya ucapkan  banyak terima kasih. Karena dia, saya dimungkinkan untuk menjumpai anda melalui tulisan ini.  Selamat menikmati isinya, semoga anda menemukan inspirasi di dalamnya.

Pelayanan di Arare.......

Hari itu,  13 Juli 2017, rombongan kami dijemput oleh 2 orang yang naik perahu ketinting.  Mereka memberitahukan bahwa perahu kami hendaknya bergerak pelan-pelan supaya masyarakat siap untuk menyambut kedatangan kami di pelabuhan.  Mereka kemudian meninggalkan kami, melaju dengan perahu ketinting menuju ke kampun Arare.  Kemudian, setelah melewati beberapa belokan ketika menyusuri sungai, kami bertemu dengan 2 orang yang lain yang juga menantikan kedatangan kami. Mereka kemudian mendahului kami untuk mengabarkan bahwa rombognan kami sudah dekat dengan kampong.  Perahu kami diminta untuk bergerak lebih lambat.

Kami akhirnya tiba di Kampung Arare. Ratusan masyarakat sudah ada di pelabuhan, mereka siap menyambut uskup dan rombongan yang tiba dengan perahu.  Saking gembiranya, puluhan orang mendekati kami dan mengelilingi kami. Lalu, dengan penuh semangat perahu kami yang masih berada di air, didorong terus hingga kami sampai di darat. Syukurlah daratan itu adalah tanah berpasir sehingga amat dimungkinkan untuk merapatkan perahu hingga ke darat. Jarak antara air dan tempat kami turun kira-kira 150 meter.

Dengan pakaian adat, puluhan orang dan sebagian lagi menggosok badan mereka dengan lumpur, beramai-ramai mendorong perahu. Sementara yang lain di pelabuhan bersorak-sorai dan menari-nari dengan iringan pukulan tifa. Ketika kami tiba di pintu gerbang, kami berhenti sejenak, karena ada upacara penjemputan secara adat. Kami semua menerima pengalungan bunga.

Kemudian saya memotong pita (tali yang dianyam dari kulit pohon) yang dipasang membentang di kiri-kanan pintu gerbang. Pemotongan tali merupakan lambang / tanda bahwa tidak ada lagi halangan / hambatan sehingga berkat Allah secara penuh masuk (tercurah) bagi umat Allah dan masyarakat seluruhnya. Dengan tercurahnya berkat Tuhan, moga-moga tidak ada penyakit, kekuatan jahat dan halangan apa pun yang mengganggu masyarakat. Juga semoga seluruh kegiatan masyarakat dalam rangka penerimaan sakramen-sakramen dapat berjalan lancar dan aman.

Arare adalah pusat paroki. Jaraknya kira-kira 30 km dari Kepi – ibukota kabupaten Mappi. Bagaimana kita bisa sampai ke Arare ?  Kepi berjarak 410 km dari Merauke, dan dapat ditempuh dari Merauke dengan pesawat kecil selama 1 jam. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik speedboat dari Kepi selama 1 jam, dan jalan kaki kira-kira 2 jam, dan naik ketinting atau naik speed boat. Bila musim panas, masyarakat bisa jalan naik motor dari Kepi sampai ke kampong Pagai, kemudian dilanjutkan dengan naik ketinting selama 30 menit, naik speedboat sekitar 20 menit.

Manusia lumpur

Di antara sekian ratus orang yang menjemput uskup dan rombongan, ada begitu banyak manusia lumpur. Mereka adalah anak-anak muda yang karena girangnya dengan sukarela melumuri dirinya dengan lumpur basah di sekujur tubuhnya. Caranya, dengan memakai celana pendek, mereka pergi ke pinggir rawa lalu mengambil, mencebur di air, kemudian saling membantu melumuri badan sesamanya dengan lumpur basah. Rambutnya pun penuh lumpur. Hanya matanya saja yang kelihatan.  Dengan keadaan basah-basah seperti itu, mereka menyambut para tamu.

Manusia lumpur menandakan sukacita yang meluap-luap, kepolosan, dan apa adanya.  Mereka menghiasi diri dengan apa yang ada di alam. Itu artinya manusia dan alam adalah satu. Mereka berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Lumpur/ tanah bukanlah sesuatu yang kotor, tetapi bagian dari kegembiraan.  Tanah dan lumpur telah memberikan kehidupan kepada mereka. Mereka tinggal di rawa-rawa dan di tanah yang berlumpur. Di sana ada hutan pohon sagu yang amat luas, ada banyak udang rawa, ikan, rusa, ayam hutan, kangguru, binatang buruan lainnya dan hutan tropis.


Dengan disambut oleh manusia lumpur, para tamu masuk ke dalam suasana sukacita yang berdamai dengan alam, dan dijamin aman.  Suasana yang demikian ini, didambakan oleh setiap orang.  Masyarakat Arare mengungkapkannya dengan cara yang amat sederhana. Semua bahan untuk merias dirinya, tidak dibeli di toko atau di supermarket, tetapi diambil dari alam. Alam menyediakan semua yang mereka butuhkan.  Dalam suasana seperti ini,  hubungan manusia dengan alam sungguh amat terasa, begitu pula hubungan manusia dengan sesamanya. Inilah modal dasar bagi manusia untuk mengucap syukur kepada Allah sang Pencipta, yang telah menganugerahkan alam dan ciptaan-Nya kepada manusia. Suasana seperti ini diungkapkan dalam Kitab Kejadian tentang manusia yang ditempatkan Tuhan di Taman Eden.  Maka, di mana pun suasana itu dihadirkan, di situ suasana surga dialami. 

Kamis, 29 Juni 2017

MENJADI MALAIKAT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan bagi anda, sebuah renungan yang saya angkat dari pengalaman kecil. Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan aspirasi di dalamnya.  

Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah....( ayat 36)

Kira-kira 1 bulan lalu, saya diajak oleh beberapa rekan, pergi rekreasi ke Batu – Malang, Jawa Timur.  Dalam perjalanan ke tempat itu, ada rekan yang menceritakan bahwa di sana ada banyak sekali kupu-kupu, dan bagus  sekali. Ada binatang-binatang yang sudah dikeringkan. Pelbagai jenis ikan juga bisa dilihat dari dekat.  Informasi itu membuat saya ingin segera sampai, dan melihat apa yang diceritakan ketika kami masih dalam perjalanan.

Dari tempat parkir, kami sudah langsung melihat gedung besar dan 2 patung gajah raksasa. Gedung besar itu adalah museum satwa.  Kami mengawali rekreasi kami di museum satwa. Di sana, ada 1 ekor kangguru besar yang sudah dikeringkan sedang mengendarai vespa, 1 ekor kangguru belang-belang sedang memetik gitar, rangka raksasa dinosaurus. Di bagian lain ( Batu Secret Zoo), saya melihat burung-burung,  kuda nil, monyet-monyet kecil dari Afrika, dan angsa hitam yang paruhnya merah. Di bagian lain lagi, ada pelbagai jenis ikan dari laut dalam, ikan pari tutul yang belum pernah saya lihat sebelumnya, biota laut dll. Semuanya jauh lebih indah daripada yang diceritakan oleh rekan saya.  Cerita manusiawi betapa pun lengkapnya, tidak bisa menggambarkan keindahan, kemegahan, kemuliaan dari wujud / kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kutipan Injil hari minggu ini, ada pertanyaan orang Farisi tentang wanita yang menikah 7 kali: “Siapakah yang menjadi suami dari wanita itu ?” (Luk 20:33).  Pertanyaan itu muncul berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan realita yang terjadi di masyarakat. Sekaligus pertanyaan itu juga merupakan ungkapan kecemasan, ketidak-mengertian, keingintahuan, harapan untuk mendapatkan kepastian kepada Sang Guru Kehidupan.  Jawaban Yesus, sungguh di luar  dugaan mereka.  Sesudah kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah.....( Luk 20: 36).

Jawaban Yesus itu mau menunjukkan umat manusia bahwa kehidupan sesudah kebangkitan sungguh amat berbeda dengan kehidupan di dunia ini. “Di sana” kehidupan itu jauh lebih mulia, lebih damai, dan membahagiakan.   Sebagaimana museum satwa dan Batu Secret Zoo, jauh lebih indah gedungnya dan lebih lengkap isinya serta lebih menarik panoramanya, daripada yang diceritakan, kiranya demikian pula “surga dan kehidupan bersama Yesus” akan jauh lebih indah, mulia dan membahagiakan daripada yang dialami manusia di dunia ini.  Di dalam Yesus, berlimpah-limpah kerahiman Allah, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang menjadi Perantara kita satu-satunya kepada Allah.

Para beriman kepada Yesus dipanggil untuk menghadirkan suasana “surga” (kasih, persekutuan, kesetiaan, kemurahan hati, kelemahlembutan, persaudaraan, penguasaan diri) itu bukan hanya nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini. Saat ini, di tengah kehidupan berkeluarga, berkomunitas, bermasyarakat dan berbangsa, suasana surga itu dibutuhkan oleh segenap umat manusia.  Ketika orang berbicara tentang keluarga, komunitas, suami, istri, dan anak-anak kita, yang mereka temukan di rumah kita, di lingkungan , di komunitas kita, ternyata jauh lebih luar biasa, lebih membahagiakan dan menyejukkan daripada yang diceritakan oleh siapa pun. Mereka bangga akan pengalaman bahwa “para pengikut Yesus itu seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah..... karena mereka menghadirkan kerahiman Allah.

Orang-orang yang berkeluarga memang terikat oleh perkawinan. Amat wajar bila mereka bicara tentang kawin, mengawinkan dan dikawinkan, urusan rumah tangga, makan minum dll. Namun urusan keluarga kristiani bukan hanya itu. Mereka karena sakramen permandian adalah utusan-utusan Allah untuk menyebarluaskan dan menghadirkan kasih Allah di dunia ini. Kunjungan ke orang sakit, ikut kegiatan lingkungan dengan sukacita, menjadi anggota koor, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak dan suami / istri, mendampingi anak-anak yang sedang belajar, mengatur keuangan keluarga sehingga semuanya sejahtera, hidup sederhana dengan penuh kejujuran, ketulusan dan kesetian dsb, merupakan “jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan” dan menjadi “lilin yang  bernyala bagi manusia dan dunia yang dikungkung oleh kegelapan”.

Melalui kesaksian hidup yang baik dan penuh rahmat Allah itu, orang / sesama manusia dibantu untuk mengalami kebaikan Allah, dan bersama-sama berusaha hidup suci supaya diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan abadi bersama Allah dan para kudus. Di sana mereka akan seperti malaikat-malaikat. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil Tuhan untuk mengalami semuanya itu secara penuh untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di dunia merupakan persiapan untuk mengalaminya secara total di surga bersama Allah yang telah menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia. 

28 TAHUN IMAMAT

PEMBACA YANG BUDIMAN, 

Saya ingin mengenang kembali  satu hari penting dalam hidup saya. Moga-moga cerita ini memberi makna bagi pembaca, dan moga-moga pula ada yang terpanggil untuk menjadi imam. 

Tanggal 1 Februari 1989, jatuh pada hari rabu. Hari itu, fr Hans Susilo, fr. Priyo Susanto, fr. Adi Seputra, fr. Sani saliwardaya, dan fr Heru Jati ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Alexander Djajasiswaja ( Uskup Bandung ). Tahbisan itu dilaksanakan di gereja katedral Purwokerto yang baru saja diberkati. Kelima frater tsb adalah orang-orang pertama (pembuka / yang mengawali) yang ditahbiskan di gereja yang baru itu. Mereka yang hendak ditahbiskan itu adalah frater-frater MSC.

Tahbisan dilaksanakan pada sore hari, jam 4 sore. Karena uskup Purwokerto pada waktu itu sedang berhalangan,  tugas beliau itu digantikan oleh Mgr. Djaja.  Upacara pentahbisan berjalan lancar, meskipun sebenarnya hari-hari itu adalah hari-hari hujan. Uskup pentahbis didampingi oleh Romo Sukmana MSC dan Romo Wignyo Sumarto MSC. Hadir pada kesempatan itu puluhan imam baik dari Tarekat MSC, para imam projo, romo-romo tamu dari banyak tempat. Seingat saya hadir juga 1 orang imam MSC dari Jepang yaitu Romo Makino.

Salah satu dari frater yang ditahbiskan ini adalah penulis. Dia ingin  mengenang peristiwa yang telah terjadi 28 tahun yang silam. Meski peristiwa itu telah berlangsung begitu lama, namun rasanya baru saja terjadi dan merupakan kenangan yang tidak pernah akan bisa dilupakan. Waktu itu, para frater yang hendak ditahbiskan pada umumnya didampingi oleh kedua orangtuanya. Hanya frater Heru, karena ayahnya sudah meninggal, didampingi ibunya dan pamannya.


Upacara tersebut berlangsung dengan khidmat, meriah dan sederhana. Lagu “Di Sanggar Mahasuci” mengiringi prosesi panjang. Para penari memperagakan hormat bakti dan sujud seluruh umat Allah pada penyelenggaraan Ilahi dan kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia. Peristiwa yang mengesankan penulis adalah ketika meminta restu kepada orangtua, tiarap sebagai tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, dan penumpangan tangan, dan pengurapan dengan minyak krisma.

Sesudah pentahbisan, kelima imam baru dengan didampingi oleh orangtua masing-masing, berdiri di pelataran panti imam dan menerima salam dari umat, sahabat dan para undangan. Kemudian, ada resepsi di aula katedral. Mgr P.S.Hardja-Soemarta MSC hadir pada kesempatan itu, seraya memberikan ucapan selamat kepada para imam baru. Tidak ada acara ramah tamah pada malam itu, sehingga para tamu dan undangan yang berasal dari luar kota, bisa langsung pulang.

Syukuran atas pentahbisan, dirayakan di Novisiat MSC – Karanganyar / Kebumen, di paroki St. Petrus Pekalongan, di Gombong, dan di Kalikotak ( rumah Rm. Hans Susilo), di Samigaluh ( rumah Rm. Priyo), dan di Jomblang ( rumah Rm. Adi Seputra ).  Misa syukur juga diadakan di SMP Pius Tegal karena penulis dulu bersekolah di TK, SD, dan lulus dari SMP Pius Tegal. Satu bulan setelah menerima tahbisan, dua Romo diutus ke Jepang ( Romo Priyo dan Romo Sanny), Romo Heru diutus ke keuskupan Amboina, dan Romo Susilo dan Romo Adi diutus ke Irian Jaya.  

Tgl 4 Maret 1989, Romo Yos Suwatan MSC (provinsial) dalam misa sederhana di kapel provinsialat MSC di Jakarta mengutus 3 imam muda ke tempat tugas masing-masing. Tanggal 5 Maret 1989, Rm Hans Susilo dan Rm Adi Seputra terbang menuju Jayapura, dan bermalam selama beberapa hari di biara St. Antonius Sentani. Tgl. 10 Maret 1989, kedua imam ini tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Merpati. Di Bandara, mereka dijemput oleh Pater Anton de Grow MSC, Sr. Chatrine Tati PBHK, P Alo Batmyanik MSC dan P Sugun MSC.

28 tahun adalah kurun waktu yang cukup panjang. Sakramen Imamat yang saya terima telah menjadi berkat besar bagi diri saya sendiri dan umat Allah dan banyak orang dari pelbagai bangsa dan agama. Tidak terhitung lagi berapa kali saya merayakan ekaristi, membaptis orang, meneguhkan nikah, atas nama Tuhan mengampuni dosa, dan mengurapi orang-orang sakit. Tidak terhitung lagi berapa banyak berkat melalui orang-orang yang membantu pelayanan saya, turut serta hadir dalam perjalanan dan pekerjaan sulit di pedalaman-pedalaman.  Tidak terhitung juga betapa banyak orang yang telah mendoakan saya dan meneguhkan panggilan saya.

Maka, pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu saya, yang saat ini sudah berusia 81th namun masih tetap mendoakan saya. Juga kepada kakak adik, ipar dan kemenakan yang menunjukkan persaudaraan dan keakraban setiap kali saya berlibur. Kepada umat, sahabat kenalan yang tersebar di seluruh nusantara, maupun di luar negeri. Juga kepada konfrater MSC, rekan-rekan setahbisan dan rekan-rekan pembaca blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih.

KONTROL

 PEMBACA YANG BUDIMAN 

SAYA HATURKAN TULISAN INI UNTUK ANDA. MOGA-MOGA ANDA DAPAT MEMETIK BEBERAPA ASPIRASI DI DALAMNYA. SELAMAT MEMBACA...

Tanggal 2 Juni 2017, kami tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Batik.  Kami bertiga ( saya, G dan M) memilih naik Batik supaya  bisa melanjutkan perjalanan ke Kepi, pada pagi itu juga. Tiket untuk ke Kepi sudah diusahakan oleh rekan kami, di Merauke. Kami juga telah mohon berkat Tuhan agar semua rencana kami ini berjalan dengan baik. Ketika berada di ruang tunggu di bandara Cengkareng Jakarta, saya sudah membayangkan perjalanan ke Kepi dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dengan menunjukkan peta perjalanan, saya menerangkan kepada 2 rekan saya, tempat-tempat yang menjadi tujuan  perjalanan kami.

Perjalanan dari Jakarta hingga Merauke, dengan transit di Makasar sungguh amat lancar, sehingga kami tiba di tempat di Merauke tepat pada waktunya.  Saya melihat 4 pesawat jenis Grand-Caravan parkir di sebelah kiri pesawat Batik yang baru saja mendarat. Serombongan orang bersama-sama berjalan menuju ke pesawat-pesawat itu. Di antara mereka ada 2 orang pilot.  Itulah pesawat-pesawat yang melayani daerah pedalaman.

Sesudah mengambil beberapa foto kenangan di Bandara Merauke, saya segera mencari rekan yang membawa tiket kami untuk ke Kepi. Rekan kami itu sudah menunggu kami di pintu kedatangan. Ketika saya mendapatkan dia, tiket segera saya minta. Dan kami bertiga bergegas menuju ke tempat cek in. Ternyata di sana hanya ada 1 orang petugas, karena para petugas lain telah pergi menuju ke dekat pesawat. Loket sudah ditutup. 

Saya berusaha untuk mencari petugas, supaya masih bisa dapat ikut penerbangan ke Kepi pada menit-menit terakhir itu. Saya mendapatkan petugas di kantor, namun mereka kebingungan. Saya kemudian ke ruang tunggu lagi, dan mengajak kedua rekan untuk menuju ke pesawat. Namun sayang, dua pesawat sudah bergerak dan siap terbang, dan pesawat yang ketiga pintunya sudah ditutup.  Kami bertiga ketinggalan pesawat. Dengan amat menyesal dan kecewa, saya kembali ke ruang kedatangan dan pulang ke rumah. Memang kesalahan dan kekurangan ada pihak kami (penumpang). Rekan yang  mengurus tiket kami untuk ke pedalaman, tidak cek in lebih dulu.  Tiket dititipkan ke orang lain tanpa pesan apa pun. Maka, meskipun dia sudah berada di bandara, dengan tenang dia menunggu kedatangan kami.

Kurang komunikasi dan kurang penjelasan yang memadai membuat rencana dan aktivitas yang sudah didepan mata batal total. Tiket yang sudah kami beli juga hangus. Yang tersisa adalah penyesalan. Peristiwa itu makin memberikan keyakinan kepada saya, bahwa komunikasi dan penjelasan yang baik itu penting. Hal ini akan memungkinkan orang lain yang akan membantu kelancaran pekerjaan / rencana dapat melaksanakan tugas dengan baik. Selain itu, cek dan ricek itu juga penting.  Kadang kala terjadi bahwa komunikasi itu hanya satu arah, dan orang juga mengandaikan bahwa apa yang sudah disampaikan itu pasti akan terlaksana dengan aman dan lancar. Komunikasi dua arah, cek dan ricek dianggap tidak penting. Padahal, sebagaimana yang terjadi, karena tidak ada pengecekan kembali, terjadilah kegagalan itu.

Saya sering mengalami bahwa orang tidak berani membuat cek dan ricek karena “takut mengganggu” kegiatan / waktu dari orang yang memberikan mandat. Maka “orang-orang itu lebih baik menunggu dan menunggu”  dan lebih memilih diusik oleh “keraguan” daripada mencari sebuah kepastian yang muncul dari “keberaniannya untuk menggangu kenyamanan dan aktivitas” pemberi mandat.  Ketakutan dan keraguan yang banyak kali terjadi ini, sering menjadi faktor penghambat atas rencana atau keberhasilan, dan mengakibatkan kerugian yang besar: kerugian moril, materiil, waktu, dan target.

Makna lain / hikmah lain yang dapat saya petik dari semuanya itu adalah bahwa kontrol dan tanggung jawab untuk mengongtrol kegiatan tetap berada di tangan bos / pemberi mandat, bila rencana / program itu dikehendaki 100 persen terlaksana, atau paling tidak diperkecil tingkat kegagalannya.  Pada menit-menit terakhir pun hal itu perlu dilakukan. Juga perasaan “takut dan ragu-ragu” dari orang-orang yang membantu pekerjaan itu, harus ditangani dengan baik supaya mereka pun menjadi orang-orang yang percaya diri, dan berani bertanya.  Petunjuk yang jelas harus diberikan kepada mereka, agar mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan.  Bagaimana pun pentingnya semuanya itu, bila relasi dengan orang-orang kepercayaan itu tidak baik / terganggu, hasil yang akan diperoleh  pun tidak / kurang maximal. Maka, relasi yang  baik dengan mereka tetap perlu dijalin dan dijaga dengan baik meskipun mereka adalah bawahan / karyawan.

ANAK-ANAK SEMINARI

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Februari. Misa mulia namun sederhana diadakan di Seminari Pastor Bonus, bersama-sama dengan anak-anak seminari. Yang menjadi pokok renungan adalah “Yesus makin bertambah besar, makin kuat dan makin bijaksana, serta makin dikasihi Allah dan manusia”. 

Pada waktu dipersembahkan di kenisah, Yesus baru berumur 40 hari.  Kedua orangtua-Nya (Yoseph dan Maria) telah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara persembahan. Sebagai keluarga tukang kayu, mungkin sekali mereka membawa sepasang tekukur atau burung merpati, sebagaimana yang dipersyaratkan untuk hari suci itu.  Mereka terheran-heran oleh sambutan Imam Agung Simeon, yang mengucap syukur atas telah terkabulnya permohonannya.

Sesudah hari-hari suci itu, kedua orangtua kembali ke kampung halamannya yaitu ke Nazareth. Pendidikan dan pembinaan diberikan setiap hari kepada Kanak-kanak Yesus, tentang nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, latihan ketrampilan, kunjungan keluarga, doa bersama, membaca kitab suci dll. Apa yang mereka tanamkan setiap hari itulah yang dilaksanakan dan diteruskan oleh Yesus, yang makin hari makin bertambah usianya. Kedua orangtua punya peran penting dalam kehidupan Yesus, sehingga Dia makin bertambah besar, makin kuat, dan bertambah hikmah-Nya, serta makin dikasihi Allah dan manusia.
Seminari adalah tempat pembinaan / persemaian  bibit para calon imam.  Sebagaimana yang terjadi di keluarga-keluarga, di seminari pun anak-anak seminari diberi pembinaan, latihan, dan bekerja agar makin terlibat dan tahu apa yang harus dikerjakan setiap hari. Pelajaran budi pekerti, nilai-nilai kerohanian, dan kejiwaan ditanamkan dan diteladankan oleh para pembina, agar kelak mereka menjadi manusia yang baik, bijaksana, dewasa dan dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab. Apa yang diberikan setiap hari, merupakan bekal penting, agar mereka ketika melakukan semuanya itu bukan lagi karena aturan, terpaksa atau disuruh, tetapi dengan sebuah kesadaran pribadi. Pekerjaan dan kegiatan harian merupakan pelaksanaan dan perwujudan pribadi mereka yang hendak mengabdi, melayani dan menyalurkan minat, bakat, talenta dan kekuatan yang ada padanya.
Demikian pula para orangtua, dari keluarga manapun, menanamkan dan meneruskan apa yang mereka punyai kepada anak-anaknya. Mereka membekali anak-anak agar kelak anak-anak itu mempunyai bekal dan dapat hidup dan berkembang sesuai dengan talenta, minat dan kekuatan serta kepribadian mereka kepada masyarakat.  Ketika sudah dewasa, anak-anak itu tidak lagi tergantung pada orangtuanya, tetapi dapat hidup mandiri bahkan mengembangkan apa yang telah ditanamkan orangtua atau apa pun ditemukan dalam perjalanan hidup mereka.
Bagi para beriman katolik, keluarga kudus Nazareth ( Yusuf, Maria dan Yesus) merupakan teladan bagi keluarga-keluarga sekarang ini. Baik sebagai pribadi-pribadi, maupun sebagai keluarga, mereka dipenuhi kasih karunia Allah.  Kedekatan dengan Allah yang mereka wujudkan dalam hidup dan relasi serta komunikasi satu sama lain, membuahkan rahmat yang begitu banyak. Semoga kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, mendapatkan rahmat yang berlimpah sebagai buah dari kedekatan kita dengan Allah dan meneruskannya kepada sesama.