Minggu, 09 Agustus 2015

AFRAIDUS

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya hadir kembali untuk menyapa anda pada hari ini. Apa kabar ?  Semoga anda dalam keadaan sehat sejahtera. Namun, bila ada sedang dirundung duka atau sedang kecewa, sajian saya semoga memberikan inspirasi bagi anda untuk melihat ke depan. Ada banyak kemurahan Tuhan yang diberikan kepada anda dan semua orang, namun karena “kepahitan / kesulitan hidup yang sedang dialami”, semuanya itu tidak dilihat / tidak dialami.  Silakan menikmati isinya. Semoga pembaca mendapatkan pencerahan dan kekuatan dari Sang Pemberi yang menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup.

Konon ada seorang bernama Afraidus.  Dia tinggal bersama 2 orang rekannya. Rumahnya berpagar seng dan halamannya cukup luas. Jarak rumah-rumah tetangga pun cukup dekat. Aliran listrik sudah cukup mantap, 24 jam sehari.   Jalan ke rumah-rumah penduduk pun pada umumnya sudah disemen / diaspal sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Malam itu, kebetulan Afraidus sedang di rumah sendirian. Ketika mendengar ada suara pagar seng yang digaruk-garuk, dia menjadi sangat ketakutan. Dia amat yakin bahwa ada orang jahat / usil yang akan mengganggu dia. Badannya gemetar dan hampir tidak bisa berjalan, karena ia begitu ketakutan.  Apalagi jarak antara seng yang digaruk itu dengan jendela kamarnya amat dekat.  Hp yang ada di tangannya memungkinkan dia untuk mengontak kedua rekannya supaya mereka segera pulang ke rumah. Ternyata yang menggaruk-garuk pagar adalah anjing tetangga yang kelaparan dan mencium bau makanan yang ada di dapur – dekat pagar itu.

Rasa takut / ketakutan membuat dia amat emosional, dan tidak mau tahu pada hal-hal yang lain. Bagi Afriadus, kebutuhan yang amat mendesak dan harus segera dipenuhi adalah perlindungan dan rasa aman.  Via hp dia minta kedua rekannya segera pulang. Meski mereka masih ada kegiatan penting di tempat lain, hal ini tidak ia pertimbangkan lagi. Jelas bahwa Afriadus mengalami “kehilangan / gangguan” pada kesadarannya, daya nalarnya, daya kontrol dan keseimbangan emosinya.

Nabi Elias mengalami ketakutan yang luar biasa karena diancam akan dibunuh ( 1 Raj 19: 4-8). Dia amat emosional sehingga memilih mati daripada mengalami siksaan / kemalangan besar itu.  Namun Tuhan mengutus malaikat-Nya dan memberinya makanan dan minuman sehingga dia mampu berjalan terus dan tiba di gunung Tuhan.

Umat Yahudi yang berbondong mengikuti Yesus, terpikat kepada-Nya karena Dia memberi mereka makan roti ( Yoh 6: 26 ). Mereka yang masih amat terpesona oleh roti, kesembuhan, dan “terpaku” oleh tanda-tanda lahiriah (kodrati / fisik) lainnya diajak Yesus untuk melangkah lebih jauh dan lebih dalam yaitu ke tanda-tanda batiniah ( yang mengatasi kodrat / yang rohani ).  Dengan bertitik tolak pada roti biasa Yesus menghantar mereka pada pengertian “ROTI HIDUP” (ROTI LUAR BIASA / ISTIMEWA)  yaitu Diri-Nya sendiri yang dikorbankan secara total, seperti roti biasa yang dimakan oleh banyak orang. 

Di titik / bagian ini mereka bingung, kecewa, marah, dan cemas (ayat 30), serta bersungut-sungut (ayat 41) . Di sisi lain mereka  diliputi “rasa takut / ketakutan” karena Yesus adalah “Guru yang  berkuasa, berwibawa, jujur dan dengan tulus mengajar jalan Allah, yang disertai dengan tanda-tanda (mukjizat).  Bahkan ada banyak yang menyebut Dia adalah Messias.    
Dalam keadaan emosional itulah mereka seperti Afraidus, terpaku pada kebutuhan mendesak, dan minta kebutuhan itu dipenuhi pada saat itu juga. Kesadarannya, daya nalarnya, daya kontrol dan keseimbangannya “terganggu” sehingga menghalangi mereka untuk melihat dan mengalami Yesus sebagai Utusan Allah yang amat mulia dan jauh melampaui para malaikat . Kehadiran Yesus, kata-kata dan sentuhan tangan-Nya, tanda-tanda yang diberikan-Nya sebagai “Roti Hidup” tidak mereka alami. 

Kepahitan hidup, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah dapat mengganggu emosi seseorang, sehingga kemampuan-kemampuan istimewa yang diberikan Allah kepadanya menjadi tidak seimbang / tidak terkontrol. Yesus yang mengutus  Roh Kudus dan hadir dalam diri sesama yang merelakan dirinya “menjadi roti hidup” dengan memberikan waktunya, tenaganya, sapaannya, pemikirannya, teladan kesetiaan, ketulusan, kejujurannya, dan pengorbanannya, tidak dialami sebagai tanda kehadiran Allah, tetapi dianggap hal biasa saja atau malah disepelekan.

Sesungguhnya orangtua, suami, para guru, petani, pegawai, pastor, biarawan-wati di mana pun yang bekerja dengan tulus, jujur, setia dan penuh kasih telah menjadi  “roti hidup” bagi anak, saudara/i, pasangan dan sesamanya. Juga pembantu rumah tangga, para sopir, tukang ojek, pemulung, TKW dan TKI atas cara dan semangat yang sama, telah menjadi “roti hidup” bagi keluarga yang mereka layani. Mereka yang bekerja di pemerintahan, di pelbagai bidang profesi / pekerjaan, yang menolak: korupsi, narkoba, perjudian, perselingkuhan, kekerasan dan kejahatan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan, martabat dan hak-hak azasi manusia, sesungguhnya telah menjadi roti hidup.  Para dokter, perawat, bidan desa yang bekerja di tempat terpencil dan dengan imbalan yang seadanya adalah “roti hidup atau bahkan orang-orang kudus jaman ini”.  Allah hadir, bekerja dan menyapa umat-Nya serta memberikan mukjizat-Nya melalui mereka.

Mereka telah mengatasi "rasa takut" / ketakutan, kecemasan, ketegangan, kemarahan, ketidakberdayaan yang mengganggu mereka untuk menangkap kemurahan dan kebesaran Allah. Mereka mengalami dan meyakini bahwa Allah lebih besar daripada ketakutan dan kekhawatiran mereka.Bersama dan di dalam Allah, mereka menjadi pemenang-pemenang yang mengagumkan bagi masyarakat, dan menjadi teladan keimanan sepanjang jaman.            

Jumat, 07 Agustus 2015

TANAH MERAH 15 JULI 2015

 PEMBACA YANG BUDIMAN

Bulan Agustus telah kita masuki. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan dengan kerendahan hati saya mohon maaf, karena pada bulan Juli 15, tidak ada 1 tulisan pun yang muncul di hadapan anda.  Hari ini, ada 1 pengalaman kecil untuk anda, meski peristiwanya telah terjadi kurang lebih 1 bulan yang lalu. Selamat membaca.....dan mendapat inspirasi di dalamnya.

Sejak pagi umat berbondong-bondong menuju ke Kilo Enam.  Kilo Enam adalah nama tempat yang jaraknya 6 kilo meter dari pusat kota Tanah Merah.  Ada yang jalan kaki, naik sepeda motor, naik truk atau bis, atau pun naik mobil pribadi.  Di halaman yang amat luas itu ( 3000 M2 ) telah parkir kendaraan-kendaraan bermotor. Juga di jalan utama menuju ke gereja, umat telah banyak sekali yang berkumpul di sana.

Tanah Merah adalah ibukota kabupaten Boven Digoel. Jaraknya kira-kira 400 km dari kota Merauke. Untuk bisa sampai ke sana, ada beberapa pilihan. Bila menggunakan kendaraan bermotor, diperlukan waktu 8 – 10 jam. Biaya mobil penumpang umum Rp. 600.000 per orang. Bila naik pesawat, diperlukan waktu 1 jam 5 menit, dengan biaya Rp. 1.200.000 per orang. Sedangkan bila naik kapal, biayanya Rp. 300.000 ,- penumpang harus lewat laut Arafura, kemudian menyusur sungai Digoel yang panjang itu, dengan lama perjalanan 4 hari.

Pada hari itu, minggu 5 Juli 2015, ada pemberkatan gereja baru.  Gereja baru itu pembangunannya dimulai 6 tahun yang lalu, dan sempat tertunda-tunda selama sekian tahun.  Pembangunan gereja itu diprakarsai oleh Bpk Yuzak Yaluwo, yang ketika itu menjabat Bupati Boven Digul.  Pemda Kabupaten Boven Digul memang memberikan andil besar dalam pembangunan gereja besar di sana. Daya tampungnya besar sekali. 1800 tempat duduk tersedia bagi umat, bahkan bila ditambah dengan kursi-kursi kapasitasnya bisa mencapai 2.000.

P Sukiswadi MSC, pastor paroki Tanah Merah pada waktu itu, dan Dewan Paroki turut berperan besar dalam mengawal dan menyelesaikan pembangunan yang telah tertunda sekian lama. Dalam kerja sama dengan banyak pihak, dan mengusahakan material langsung dari Surabaya, proses pembangunannya menjadi lebih cepat.  Material yang harus didatangkan dari tempat-tempat lain dengan bantuan pihak PT Korindo, dan para pengusaha lainnya menjadi lebih mudah dan cepat. Tukang-tukang juga didatangkan dari jauh, sehingga mereka dapat lebih mencurahkan tenaga dan waktu untuk menyelesaikan bangunan besar itu, karena mereka selalu ada di tempat.

Gereja baru dan megah itu mengambil nama pelindung TRITUNGGAL MAHAKUDUS.  Allah Bapa Sang Pencipta, Allah Putra Penebus Dunia dan Roh Kudus Sang Pembaharu menjadi Sumber hidup, sumber inspirasi dan kekuatan umat, dalam menata kehidupan pribadi bersama keluarga dan masyarakat, agar semuanya bersatu seperti TRITUNGGAL adalah satu.  Dengan perlindungan Allah Tritunggal ini, umat Allah berharap menjadi kudus seperti Dia kudus adanya. Nama Tritunggal diserukan dan diwartakan, sekaligus Sumber dan Pendorong agar mereka menjadi saksi Kristus yang setia, dan menjadi pejuang-pejuang kehidupan yang cinta damai, memelihara kerukunan bagi rakyat banyak, serta melestarikan alam ciptaan.


Dari luar memang tampak sederhana, namun di dalamnya nampak kemegahannya.  Bila anda memandang ke arah salib utama, di sebelah kiri salib itu, ada gambar Yesus Gembala Yang Baik dan di sebelah kanan ada gambar Yesus yang telah bangkit naik ke Surga.  Dua gambar kudus itu hendak menunjukkan kepada sekalian orang bahwa Yesus yang tersalib itu adalah Utusan Allah yang berkenan menjadi Manusia. Sebagai Manusia, Dia bersikap dan bertindak sebagai Gembala yang Baik untuk menghantar umat-Nya kepada kemuliaan surgawi, dengan melalui jalan salib.  Bersama Dia, salib yang menakutkan itu menjadi jalan keselamatan.


Hiasan seputar altar meski tidak hingar bingar, namun tampak indah dan menawan. Di tampakkan di sana, Tubuh Kristus dalam rupa hostia yang berwarna kemerah-merahan, dan Darah Tuhan di dalam piala, yang siap diberikan kepada domba-domba yang haus dan lapar akan “makanan rohani”.  Di altar itu, dihadirkan Tubuh dan Darah Tuhan, yang siap diberikan kepada mereka yang hadir dan datang kepada-Nya.  


Gedung gereja baru memang besar dan megah. Tentu semua umat beriman (baik yang katolik maupun non katolik) yang hadir pada kesempatan itu bahagia dan bersyukur. Namun yang lebih utama bukanlah gedungnya. Yang lebih utama adalah orang-orangnya (umat beriman yang tiap kali menggunakan gedung itu untuk beribadah).  Gedung gereja yang baru dan megah itu merupakan undangan untuk tetap ingat akan Allah pencipta, dan meneruskan “berkat yang  mereka terima kepada orang lain . Kesaksian hidup di tengah-tengah masyarakat yang diberkati dan buah-buah pelayanan dan pengorbanan yang diberikan kepada orang banyak itulah yang akan membawa keagungan dan kemuliaan martabat manusia.

Senin, 29 Juni 2015

GURU DAVID

PEMBACA SETIA BLOG KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG BUDIMAN
DALAM PELAYANAN DI KABE, SAYA BERTEMU DAN TINGGAL DI RUMAH SEORANG GURU YANG BERNAMA DAVID. SAYA MEMPUNYAI KESAN TERSENDIRI TENTANG DIA. KESAN DAN PENGAMATAN ITU, SAYA TUANGKAN DALAM TULISAN INI.

DAVID......GURU SD DI DESA KABE

Uskup dan rombongan dihantar ke rumah Bapak David, seorang guru SD yang telah  cukup mapan. Rumahnya terbuat dari kayu yang dia dirikan sendiri dengan  dibantu oleh beberapa anak muda dan murid-muridnya. Rumah itu mempunyai 1 ruang tamu, 1 ruang makan dan 1 ruang tidur. Sedangkan dapur terletak di bagian belakang rumah dan agak terpisah. Bapak David merelakan rumahnya untuk dijadikan tempat penginapan, sedangkan dia, istri dan anak-anaknya mengungsi ke tempat lain.

Rumahnya rapih dan bersih. Pak David ternyata orang yang gesit, rajin dan tahu mengatur rumah dan kebutuhan rumah tangga. Meskipun istrinya saat itu tidak di rumah, dia mampu menyediakan kebutuhan makan minum, dalam  waktu yang relatif amat singkat. Beberapa kali dia menyapu bagian depan rumahnya yang kotor kembali karena pasir-pasir akibat banyaknya tamu yang datang ke rumahnya.  Dia peka akan kebutuhan tamunya, dan segera menyediakan apa yang diperlukan itu. Jarang sekali saya menemukan seorang pria (bapak) yang begitu rajin, gesit, rapih dan cepat dalam menyiapkan kebutuhan makan minum dengan tangannya sendiri, dan dengan penuh gembiraan.

Dia adalah anak dari kampung itu. Saya amat yakin bahwa dia mempunyai semangat dan ketrampilan yang demikian itu, pasti belajar dalam kurun waktu yang lama dan dibina oleh orang yang tahu mengatur rumah tangga. Ternyata keyakinan saya benar. Dia ketika masih sekolah dididik oleh suatu keluarga yang melatih dia untuk menjadi orang yang terampil. Dia mengambil nilai-nilai yang dia yakini baik dan akan membawa dia pada “suatu tingkat kehidupan yang lebih membahagiakan”. 

David menyelesaikan pendidikan PGSD D2 di Kepi tahun 2001. Begitu tamat, dia mengabdi sebagai guru honor di kampungnya. Honor yang diterimanya rp. 80.000 per bulan. Kemudian dia mendapat tawaran untuk menjadi guru di SD Teriyemu – 5 jam dari Kepi. Dia sendirian mengajar di sana dengan honor Rp. 200.000 per bulan.  Tiga tahun kemudian dia diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di kampung halamannya.

Karena kerajinannya baik di sekolah, maupun di rumah, hidupnya berkecukupan. Di sekeliling rumahnya ada tanaman buah-buahan. Begitu pula sepulang sekolah dia berkebun. Pohon durian yang ditanam tahun 2003 telah mulai berbuah. Istrinya juga termasuk orang yang rajin dan tahu mengatur keuangan, sehingga mereka makin sejahtera. Anak-anaknya semua disekolahkan. Anak sulungnya kini telah duduk di kelas II SMA di Kepi dan  bercita-cita untuk menjadi biarawati. Anak keduanya bercita-cita ingin menjadi pastor. Murid-muridnya juga diajar dengan baik, sehingga tamatan dari SD itu pada umumnya mendapat ranking yang baik di sekolah lanjutan.

David ingin anak-anak di kampungnya maju  dan hidup sejahtera seperti dirinya. Apa yang dibuat sekarang merupakan teladan hidup bagi anak-anak muda dan generasi berikutnya. Dia ingin menanamkan “kerja keras, kejujuran, tetapi juga solidaritas dan pengorbanan” kepada anak-anak asuhannya. Anak-anak kandungnya juga diajari untuk berjuang dan tidak dimanja.

David seorang anak asli Papua, tetapi punya pemikiran panjang ke depan yang patut dicontoh dan dicontohkan kepada anak-anak Papua lainnya. Ternyata anak Papua ada yang sudah sadar dan berhasil mencapai tingkat kesuksesan yang sama dengan saudara-saudarinya yang berasal dari daerah-daerah yang lain.  Dari desa yang  terpencil, ada mutiara yang berharga yang sedang berjuang untuk mengangkat derajat manusia / sesamanya agar mampu mengubah hidup mereka yang dulunya tergantung pada alam, berubah menjadi “hidup yang mengatur dan mengembangkan alam yang begitu kaya dan subur”.

Dari pengalaman ini, menjadi nyata bahwa Tuhan memberikan talenta dan memberkati orang yang berkehendak baik.  David telah memilih berkat itu, dan meneruskannya kepada sesama, yaitu orang-orang di kampungnya. Kita dukung dengan doa dan semangat untuk pak guru David yang berjuang untuk mengantar generasi muda agar dapat turut serta membangun anak bangsa pada masa mendatang.

PERJALANAN KE KABE

PEMBACA YANG BUDIMAN
SAYA HADIRKAN DALAM LEMBARAN BERIKUT INI, OLEH-OLEH PERJALANAN PELAYANAN SAYA KE DESA KABE.  SEMOGA ANDA MENEMUKAN BUTIR-BUTIR INSPIRASI DI DALAMNYA.

Tanggal 26 Juni 2015,  kami mengadakan perjalanan dari Kepi ke Kabe. Sesudah makan siang, kami (Mgr. Niko dan Pater Igo Sarkol MSC) berangkat dari Kepi dengan menumpang mobil pastoran sampai di Agham, pusat Kuasi Paroki. Perjalanan sejauh 15 km itu ditempuh dalam waktu 30 menit. Di pusat paroki telah banyak umat yang mempersiapkan perayaan krisma, namun kami tidak singgah, karena kami harus sampai di stasi Kabe pada hari yang sama.

Dari Agham, kami ( Mgr Niko, Pater Igo dan bpk Paskalis serta Leo – driver) menuju Kabe dengan menumpang speed-boat, sedangkan rombongan misdinar menumpang perahu kayu. Mereka berjumlah 15 orang, dan dikawal oleh Paskalina dan beberapa orang muda. Perjalanan kami ke Kabe membutuhkan waktu 2 jam.  Jam 15.30 kami tiba di Kabe dan dijemput oleh Kepala kampung dan beberapa anggota dewan.

Di pintu gerbang, rombongan uskup berhenti sejak karena ada upacara penyambutan secara sederhana. Mula-mula uskup diminta untuk menginjak 2 tombak. Tombak yang dulu dipergunakan untuk berperang “dipatahkan”, artinya mereka tidak lagi akan berperang / mencelakakan musuh, tetapi telah memilih untuk hidup berdamai. Sesudah itu, uskup menginjak potongan-potongan bambu.  Maknanya adalah “bambu yang dulu dipergunakan untuk menyayat daging manusia” telah mereka buang jauh-jauh. Tidak ada lagi orang yang makan  daging manusia. Mereka memilih hidup baru dengan memandang sesama manusia adalah sahabat yang harus dihormati martabatnya dan didorong untuk hidup sebagai manusia yang beradab.

Mulai dari pintu gerbang sampai ke tempat penginapan, uskup dan rombongan dihantar oleh umat dan para  calon krisma dengan tarian adat. Dengan iringan tifa, mereka menari sepanjang jalan dan bersukacita sebab gembala mereka yang telah lama mereka rindukan telah tiba di kampung mereka. Tua muda, besar kecil turut berpartisipasi  dalam tarian adat itu. Meski berasal dari kampung yang berbeda, ketika menari adat, mereka melakukan gerakan yang sama. Mereka mengenakan baju tari seadanya, bahkan terkesan amat biasa, karena hiasan tarian itu ala kadarnya, dan pada umumnya diambil dari alam  sekitar ( rumput rawa, bulu burung bangau putih, topi bulu kasuari dan janur kuning). Uskup dan rombongan dihantar ke tempat penginapan, rumah milik pak David, seorang guru SD. Kepada umat dan ketua-ketua stasi yang menjemput dan mengantar uskup dan rombongan, uskup memberikan kata-kata sambutan. Kepada mereka semua diucapkan banyak terima kasih atas penyambutan,  dan kegembiraan yang telah mereka tunjukkan.

Sesudah istirahat sejenak, uskup bertemu dengan para calon krisma yang berjumlah 98 orang. Mereka berasal dari stasi Kabe (36 orang) , Sumur Aman ( 55 orang)  dan Ghaumi ( 7 orang). Uskup memberikan persiapan terakhir kepada mereka. Doa-doa umum: Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Doa Tobat dan Aku Percaya didoakan bersama-sama. Salah satu tujuannya adalah doa-doa yang sudah dilupakan / tidak biasa diucapkan secara pribadi, disegarkan kembali. Dan memang “doa tobat dan aku percaya” sering agak dilupakan.

Di antara mereka ternyata ada 5 pasang yang belum menikah.  Mengingat bahwa belum tentu 2 bulan kemudian akan ada kunjungan / pelayanan pastor ke kampung mereka, dan juga supaya tidak membiarkan mereka hidup kumpul kebo, mereka disarankan untuk membereskan relasi mereka. Juga mengingat bahwa mereka sudah membuat persiapan krisma, dan pasangan itu juga setuju untuk dinikahkan, sebelum menerima sakramen krisma pernikahan mereka diteguhkan lebih dahulu. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang tertinggal. Semuanya gembira dan berpesta iman.

Pelayanan krisma ternyata bukan hanya secara sosial mempersatukan umat dari kampung-kampung, dan bertemu dengan sanak-saudara mereka, tetapi juga memberikan kegembiraan dan kekuatan iman. Banyak peserta yang menerima pembinaan iman, menerima sakramen pengakuan dan sakramen ekaristi. Bagi mereka yang perkawinannya belum beres, halangan-halangan yang membuat kehidupan keluarga mereka tidak berahmat diselesaikan. Mereka kemudian dapat menerima keutuhan kehidupan kristiani. Mereka diperkenankan untuk menerima sakramen-sakramen lainnya, dan bahkan boleh ambil bagian secara penuh dalam pelayanan. Pada kesempatan yang akan datang, anak-anak mereka pun boleh menerima baptisan. Bila sudah tiba  waktunya, mereka pun dapat dipilih menjadi pelayan umat, sebagai anggota dewan stasi atau pengurus stasi.

Kehadiran uskup bukan semata-mata dilihat sebagai kunjungan pimpinan umat, tetapi tanda kunjungan Kristus sendiri. Mereka merasa tergugah untuk membereskan hidup mereka, sehingga pada kesempatan yang berbahagia itu, mereka dapat mengambil bagian secara penuh pada pesta iman di kampung mereka. Kunjungan itu merupakan kesempatan yang indah untuk memuaskan dahaga rohani mereka.

Sesudah perayaan krisma selesai, puluhan kaum muda minta didoakan karena mereka sudah menikah sekian lama namun belum dikaruniai anak. Mereka menyerahkan diri kepada keagungan dan kemurahan ilahi melalui tangan dan doa bapa uskup. Ada banyak yang sakit dan 1 orang yang penglihatannya sudah amat kabur, minta didoakan agar mendapatkan kesembuhan. Uskup bukan saja pemimpin, tetapi juga pendoa. Mereka percaya bahwa dengan doa yang dipanjatkan oleh uskup, harapan dan kerinduan mereka dikabulkan oleh Allah yang pemberi karunia.

Mereka pulang dengan sukacita sesudah didoakan. Kepada pasangan-pasangan yang belum punya anak, mereka diberi air berkat. Sebelum minum air berkat itu, mereka terlebih dahulu berdoa 3 x salam Maria. Juga  mereka disarankan untuk banyak makan sayur-sayuran.  Memang telah banyak pasangan setelah didoakan, mendapatkan buah hati yang mereka rindukan.

Setelah makan siang, uskup dan rombongan diantar ke pelabuhan untuk ke Sumur Aman, sebuah kampung yang terletak di muara sungai Kock. Dengan sukacita umat mengantar kami untuk kembali melanjutkan pelayanan / kunjungan pastoral di tempat lain. Jam 2 siang kami meninggalkan Kabe, menuju ke Sumur Aman. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Selamat tinggal umatku di Kabe dan selamat menikmati serta mengisi hidup dalam rahmat Tuhan. 

Selasa, 23 Juni 2015

MERAUKE SEBAGAI LUMBUNG PANGAN NASIONAL

PEMBACA YANG BUDIMAN

Hari Kamis, tanggal 18 Juni 2015, saya diminta untuk menjadi satu narasumber dalam DISKUSI PUBLIK TENTANG KEBIJAKAN MERAUKE MENJADI LUMBUNG PANGAN NASIONAL.  Ada 4 narasumber lainnya: Pemda Merauke, Kepala Dinas Tanaman Pangan Kab. Merauke, Kepala Dinas Kehutanan Kab. Merauke, Kepala WWF ( World Wide Fund ) Kab. Merauke.  
Diskusi ini disponsori oleh Yayasan St. Antonius (Yasanto) Merauke, WWF Merauke, dan Pusaka Jakarta, dalam kerja sama dengan Pemda Merauke, dan dilaksanakan di Hotel Megaria Merauke. Inilah ulasan saya yang saya bawakan pada diskusi tsb.



KEBIJAKAN MERAUKE MENJADI LUMBUNG PANGAN NASIONAL
Tinjauan sosial-antropologis-spiritual
(Nicholaus Adi Seputra MSC)

1.     MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL
Manusia hidup bersama orang lain,
punya kemampuan dan kebutuhan untuk berkomunikasi
membentuk kelompok
bekerja sama untuk menyempurnakan dirinya
       Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. 

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a.  Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b.  Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c.  Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d.  Potensinya akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah sesamanya


2.     MENTALITAS MASYARAKAT
Martabat berarti pangkat, derajat atau konsep moralitas yang menentukan nilai seorang sebagai pribadi.

-      Martabat manusia berkembang dari waktu ke waktu. 
-      Pembentukannya perlu waktu yang panjang  
-      Dipengaruhi oleh relasi dan “dekapan kasih yg hangat” dari orang tuanya terlebih dengan ibunya 
-      Dekapan itu membangun suatu basic trust dan basic fear dalam diri anak-anak.
-      Relasi tersebut menunjukkan adanya keterbukaan dasar antara anak dengan orang lain ( orangtua).
-      Selanjutnya, keterbukaan dasar itu membawa anak-anak untuk memperhatikan dan meniru apa yang ia lihat di sekitarnya.

KEPRIBADIAN:

Kepribadian :  keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang dan menentukan martabat seseorang. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan martabat manusia:

-      daya rohani / imaginasi yang ada pada diri seorang anak
-      kontak anak dengan orang tuanya, keadaan bahasa, pelajaran teknik-teknik baru,
-      penghargaan diri atas suatu tingkat yang tidak bersifat biologis, rasa keheranan, daya melihat perlambangan, cara berpikir analitis dan sintetis, kesadaran dan kemuliaan dan ketidakmampuan manusia.


Martabat manusia Indonesia terwujud dalam berbagai pola budayaan Indonesia.  Nilai-nilai, simbol-simbol, kinerja, pemikiran, kegiatan bersama dll yang terjadi dalam kehidupan masyarakat mencerminkan martabat itu.  Maka, dari pemahaman ini,  dapat dikatakan bahwa mentalitas-mentalitas terbentuk dalam  pola-pola kebudayaan tersebut.


.

                                                                               
         Mari kita dalami ciri-ciri dari mentalita-mentalita berikut ini. Yang dimaksudkan di sini adalah mentalita  kaum peramu, petani ladang, dan petani sawah.                                                       


PERBEDAAN

PERAMU
PETANI LADANG
PETANI SAWAH
PENGATUR
½ MENGATUR
DIATUR
PINDAH-PINDAH
AGAK MENETAP
MENETAP
HASIL LANGSUNG
CUKUP SABAR
SABAR TGU HASIL
TIDAK ULET
KURANG ULET
ULET
TIDAK TELITI
KURANG TELITI
TELITI
KEKERABATAN TINGGI
KEKERABATAN TINGGI
KERUKUNAN
BAGI HABIS
BAGI HABIS
KONTRIBUSI
TJS  BESAR / 95
TJS  60-80
TJS  40


PERSAMAAN


PERAMU
PETANI LADANG
PETANI SAWAH
 HUB DG TANAH-AIR
 HUB DG TANAH-AIR
 HUB DG TANAH-AIR
MEMBAGI
MEMBAGI
MEMBAGI
ALAM PUNYA ROH
ALAM PUNYA ROH
ALAM PUNYA ROH
KORBAN
KORBAN
SESAJI
“TANPA  TARGET”
“TANPA TARGET”
“TANPA TARGET”


3.     Keharmonisan hidup

PERAMU
PETANI LADANG
PETANI SAWAH
SOSIAL: EGALITER
SOSIAL: KEKELUARGAAN
SOSIAL: BILATERAL
RESIPROKSITAS
HAK & KEWAJIBAN
HORMAT - SUNGKAN
DIATUR PENGUASA
“KITA ATUR”
MENYESUAIKAN



MAN: BAG DRI ALAM
MENGATUR ALAM
DIATUR ALAM
KOMUNITAS /KMPG
KELUARGA BESAR
KELG KECIL


4 . LINGKUNGAN HIDUP:

      SEGALA SESUATU YANG ADA DI SEKITAR MAKHLUK HIDUP: MANUSIA, BENDA, DAYA DAN KEADAAN YANG MEMPENGARUHI KELANGSUNGAN MAKHLUK HIDUP BAIK LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG
      MANUSIA DAN MAKHLUK LAINNYA ADALAH BAGIAN DARI LINGKUNGAN HIDUP
      KEDUANYA PUNYA HUBUNGAN YANG SANGAT ERAT :
          LINGKUNGAN HIDUP MENYEDIAKAN KEBUTUHAN MANUSIA
       MANUSIA DAPAT MENENTUKAN & MENGUBAH LINGKUNGANNYA


PERBEDAAN ( pendidikan, sosial, budaya, ketrampilan dsb) adalah HAL YANG BIASA namun MENJADI MENYEDIHKAN KETIKA diciptakan / dimunculkan SECARA TIDAK SADAR / TIDAK, KETIDAK-SETARAAN. 

Maksudnya ialah bahwa  di mana-mana dengan mudah kita jumpai orang yang berasal dari daerah yang berbeda dengan  kita. Mereka  berasal dari  Makasar, Manado, Jakarta, kita berasal dari Merauke. Mereka lulusan SMA Negeri V Bandung, kita lulusan SMA Negeri II Merauke.  Atau yang  satu lulusan dari sebuah sekolah di kota besar, yang lain lulusan dari sekolah di kota kecil, atau bahkan di desa. Mereka juga mempunyai kekayaan budaya, tarian, lagu-lagu dan ragam bahasa yang berbeda dengvan daerah lainnya.  Perbedaan itu adalah sesuatu yang biasa, wajar dan alamiah. Perbedaan ini, dapat menjadi “modal / dasar untuk memperkaya” pihak yang tidak punya.
Namun, perbedaan itu menjadi masalah ketika dibandingkan, dipertentangkan atau diperlawankan jumlahnya, mutunya, atau fungsinya atau kelengkapannya.  Menurut saya, tindakan itu tidak tepat.  
Dalam bidang SDM, kelompok / lembaga yang punya SDM lebih terampil, lebih cekatan, lebih pengalaman, lebih mengerti, lebih mudah mencerna persoalan-persoalan yang sulit, mestinya membantu dan membina yang kurang / belum berpengalaman atau kurang / belum terampil sehingga terjadi perkembangan dan keseimbangan di kemudian hari.  
Sebaliknya, bila dipertentangkan atau dibanding-bandingkan yang muncul adalah konflik dan kekecewaan, yagn pada gilirannya akan menimbulkan masalah yang tidak kunjung selesai dan korban yang makin besar.  

PADA KEGIATAN PEMBANGUNAN / PENGEMBANGAN MASYARAKAT, TIDAK DAPAT DIPUNGKIRI BAHWA YANG SERING TERJADI DI BANYAK TEMPAT ADALAH SEBALIKNYA.

MANUSIA MENCEMARI, MENGGANGGU, ATAU MERUSAK LINGKUNGANNYA BAHKAN MENGUBAH / MENGGANTIKANNYA DENGAN YANG BARU SAMA  SEKALI. YANG LAMA TIDAK KELIHATAN BEKASNYA LAGI.

KARENA...........................

      MANUSIA MENYEBUT DIRI sebagai PENGUASA
      Sumber Daya Alam  dipandang jumlah TAK TERBATAS
      ALAM BISA PULIH SENDIRI DENGAN CEPAT
      MANUSIA : SUBYEK dan  ALAM : OBYEK YG BOLEH DIKURAS HABIS-HABISAN dan DICEMARI serta DIRUSAK  
      TERJADI LOMPATAN pada segi “MENTAL, KETRAMPILAN, LINGKUNGAN, TUNTUTAN KERJA, KINERJA, TARGET, STRUKTUR

  
 BEBERAPA CATATAN PENTING:

MENJADIKAN MERAUKE MENJADI LUMBUNG PANGAN / BERAS

BERARTI:

MENGUBAH HUTAN & LAHAN TIDUR MENJADI LAHAN PRODUKTIF

REALITA YANG SUDAH DAN AKAN TERJADI ADALAH ..................

·        MANUSIA  MENGUBAH PARADIGMA:  dari pandangan 
    MANUSIA BAGIAN DARI ALAM MENJADI PENGUASA ALAM

·        HUTAN SEBAGAI IBU YANG MEMBERI HIDUP SECARA GRATIS BERUBAH MENJADI TANAH YG HARUS DILAYANI supaya MENGHASILKAN MAKANAN

·        BINATANG-BINATANG DAN TANAMAN KHAS  BERKURANG / HILANG
·        PERUBAHAN BEGITU CEPAT DAN  KURANG PELATIHAN / PEMBINAAN BERKELANJUTAN   

Di sini, harus dikatakan bahwa anak-anak bisa ikut perkembangan dengan mudah,  namun kaum muda agak sulit untuk ikut, dan kaum tua tidak bisa ikut.   Mereka yang memang berbeda dalam menanggapi perubahan itu, harus dihargai dan diperlakukan / dilayani dengan cara pandang dan pendekatan manusiawi yang berbeda. 

Semua pihak yang hendak mengadakan kegiatan di tengah-tengah masyarakat yang demikian ini, hendaknya harus lebih bijaksana dan mempertimbangan segi kemanusiaan dan disposisi batin “masyarakat yang sedang mengalami “schok perubahan sosial, perubahan nilai, perubahan cara pandang, cara kerja, cara berelasi, besarnya target, jadwal kerja dll, dan aneka schok lainnya, dari semua pihak yang mengadakan interaksi itu.


·        MANUSIA LEBIH BERSIFAT EGOIS, KONSUMTIF, HEDONIS, MEKANIK, MENGEJAR TARGET, DAN KERJA LEMBUR SERTA MENJADI ASING DENGAN LINGKUNGANNYA

·        KEUTUHAN KELUARGA / SIFAT KEKELUARGAAN-KEKERABATAN LUNTUR

·        SEGI KEJIWAAN DAN SPIRITUAL DILUPAKAN

 Kerja-kerja lembur yang dituntut dunia usaha untuk mengejar target, sering melupakan segi kejiwaan dan kerohanian (spiritual) dari semua pihak.  Baik yang memberi kerja, yang mengatur dan mendapat kerjaan (karyawan) semuanya kena imbasnya.  Kebersamaan, candaria, suasana rileks, relasi pribadi yang membuat orang merasa sehati sejiwa, persaudaraan dan persahabatan makin menjauh. Yang ada  adalah target, prestasi dan penghasilan (uang). Maka, yang lebih menonjol adalah persaingan, egoisme dan individualisme.  Demi target, prestasi dan uang, orang lain bisa saja dikorbankan. Dan pada gilirannya, ketika sesama manusia dikorbankan, Yang Ilahi yang jelas-jelas tidak kelihatan dan tidak bisa dirasakan kehadirannya di dalam “kebisingan dan kemendesakan untuk mengejar target, prestasi dan uang” akan lebih mudah ditinggalkan. Manusia tidak ada bedanya dengan robot (mesin yang hanya diperlukan tenaganya / ketrampilannya).

  

TAWARAN   SOLUSI  :

UNTUK MENCAPAI TARGET SEBAGAI LUMBUNG PANGAN,
          SATU JUTA HEKTAR 


Bila Pemerintah mampu membuka lahan sawah seluas 1.000 ha per tahun,  diperlukan waktu 1.000 tahun yang mencapai target 1 juta hektar itu.   Bila 4.000 ha per tahun, untuk membuka lahan seluas 1 juta hektar, diperlukan waktu lebih dari 250 th.  Pada saat itu,  tidak ada seorang pun dari hadirin yang ada sekarang ini, masih hidup. Kita semua sudah meninggalkan dunia ini.  Bila pemerintah mampu membuka 50.000 hektar per tahun, diperlukan waktu 20 tahun. Mungkin hanya sebagian dari antara kita yang masih hidup.


Selain itu,  diperlukan : 

-      PARADIGMA BARU: MANUSIA ADALAH BAGIAN UTUH, PEMILIK, PENGELOLA,  PELINDUNG DAN PELESTARI ALAM bukan lagi penguasa atau perusak alam.

-      DIALOG DENGAN MASYARAKAT LOKAL (PEMETAAN, LOKASINYA, PEMILIKNYA, DAMPAKNYA, BIAYA SEWA DAN PENGELOLAANNYA).

Mereka adalah pemilik yang sudah hidup tenang dan berkecukupan bahkan berkelimpahan sandang, pangan dan papan di tanah mereka sendiri.  Maka, kedatangan orang lain dan adanya investor, justru sesungguhnya dan sudah semestinya meningkatkan kualitas hidup dan kemakmuran mereka, dan bukan sebaliknya.

-      PENDUDUK DALAM JUMLAH BESAR ( 1 juta ??? ) DISIAPKAN

Baik penduduk lokal maupun para petani yang datang dari daerah lain, para petugas lapangan,  perangkat di Pemerintahan perlu dipersiapkan sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan gejolak sosial yang tidak diharapkan. 

-      BERMENTAL PETANI SAWAH -  WIRASWASTA BERTARGET

Perubahan mental bukanlah persoalan yang mudah. Hal ini membutuhkan pengenalan, pengertian, penerimaan dan penanaman akan nilai-nilai baru, pada diri orang itu yang kemudian menjadi “keyakinan yang kuat” sehingga menjadi “paradigma baru” yang akan mengubah mentalita lama.

-      PUNYA PEMBINA / PENYULUH YANG CUKUP

-      PEMBINAAN DAN PELATIHAN BERKELANJUTAN

-      PROGRAM, STRATEGI, PASAR DAN PEMASARAN YANG JELAS

-      KERJA SAMA YANG TERPADU, TERENCANA DAN TERARAH

-      MODAL, FASILITAS, INFRASTRUKTUR YANG MEMADAI

-      PEMERINTAH YANG BERPIHAK PADA PETANI:  ( HARGA BERAS YANG BAGUS, MISALNYA  Rp. 15.000 – 20.000 / kg)

 Bila harga beras ditekan / diturunkan,  niat dan semangat petani untuk menanam padi, akan menurun juga.  Mereka tidak akan pernah menjadi petani-petani yang makin sejahtera, tidak bisa menyekolah anak-anak mereka sampai ke Perguruan Tinggi, atau pun tidak bisa memenuhi cita-cita besar mereka, karena penghasilan dari pertanian amat rendah. 


Saya berpandapat bahwa : 

PERLU diadakan RAPAT KERJA YANG TERPADU - PERIODIK

Yang harus dipersiapkan untuk menunjang Rapat Kerja tsb : 

-      TIM PEMIKIR DAN PENGARAH
-      MATERI
-      PESERTA
-      SASARAN
-      PROGRAM DAN STRATEGI
-      WAKTU PELAKSANAAN
-      TARGETNYA APA DAN BERAPA ?
  

SEBAGAI  ORANG  BERIMAN:  

1.     kita percaya bahwa manusia dan alam semesta serta segala isinya adalah Ciptaan Tuhan.  Manusia adalah Citra Allah yang mendapat tugas untuk mengelola alam semesta dan segala isinya untuk kebahagiaan hidup bersama dengan sesamanya, bukan untuk merusak atau menghancurkan
2.     kita percaya juga bahwa apa yang dikerjakan dengan baik oleh manusia sesungguhnya adalah karya Allah sendiri
3.     Para investor adalah jembatan-jembatan besar atas karya Allah itu
4.     PEMERINTAH : PEMIMPIN YG DIUTUS ALLAH UNTUK MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN UMAT MANUSIA  

Harapan:

Merauke sebagai lumbung pangan adalah jalan menuju kesejahteraan dan bukan kemalangan; merupakan berkah dan bukan musibah.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH



Sumber:
-      Kepribadian Indonesia Modern ( Suatu Penelitian Antropologi Budaya – Y.Boelaars )
-      Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial. www.academia.edu/.../Makalah_ISBD_Manusia_sebag... ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DANMAKHLUK SOSIAL Nama : Dwi Vita Ratna Purwardini NIM : 1300029004 ...