Rabu, 10 Februari 2016

104 POHON PISANG

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM

Saya haturkan untuk anda, cerita ringan ini yang saya dapatkan hari ini (Rabu, 10 Februari 2016). Selamat membaca. 

Sebelum meninggalkan Muting ( pusat kecamatan Muting, jaraknya kira-kira 240 km di sebelah timur laut Merauke ), saya diberi 8 pohon pisang oleh NR. Delapan pohon itu dipisahkan dari induknya pagi-pagi menjelang keberangkatan saya. Seorang penjaga kebun dengan sigap membersihkan batang-batang pohon itu dari lembaran dedaunan, sehingga yang saya bawa melulu batang dan bonggolnya.

Dari Muting, dalam perjalanan pulang saya singgah ke Bupul. Jaraknya kira-kira 200 km dari Merauke. Di Bupul saya mengadakan misa kudus, sehubungan dengan perayaan Rabu Abu. Banyak umat yang hadir, juga anak-anak begitu banyak. Supaya tempat duduk untuk orang-orang dewasa cukup, anak-anak saya minta duduk di lantai di panti imam. Jumlah mereka kurang lebih 100 orang. Anak-anak itu umumnya tertib, sesekali mereka bercerita dengan teman-teman mereka, namun tidak begitu mengganggu jalannya ibadah.

Meskipun Rabu Abu adalah hari pantang dan puasa, homili saya pada kesempatan itu berbicara tentang perlunya persiapan makan dan minum untuk keluarga. Pada umumanya masyarakat amat tergantung pada alam. Semuanya didapat dengan mudah di alam, sehingga mereka kurang berani berpikir dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka dalam jangka waktu yang panjang. Memang apa yang didapat dari alam pada umumnya segar, baru dan alami (tidak pakai pupuk atau campuran lainnya), sehingga rasanya enak. Apalagi mereka tidak mempunyak kulkas, sehingga tidak mungkin untuk menyimpan / mengawetkan daging buruan atau sayuran hasil kebun mereka.

Akibatnya mereka hidup dari hari ke hari. Bila merasa lapar, barulah mereka mencari makan. Kalau haus, barulah mereka mencari minum. Hidup mereka seakan-akan mengalir bagaikan air, dan ikut suasana batin yang sedang mereka alami. Maka, tidak heran bahwa mereka bisa tahan lapar selama beberapa hari....karena suasana batin mereka tidak mendukung ( bahasa populernya : lagi tidak mood ). Ikan, binatang buruan, sagu dan kebutuhnan hidup sudah sejak dulu kala disediakan oleh alam dalam jumlah yang amat besar. Mereka tidak pernah kekurangan.

Dengan masuknya orang-orang dari daerah lain, hidup mereka dan cara kerja dan cara bergaul mereka pun turut berubah. Persediaan pangan, sandang dan dana untuk hari tua yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan, sekarang menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Akibat dari semua perubahan itu, mereka harus bekerja keras untuk menyesuaikan diri. Ada yang berhasil, ada yang sedang bergelut, dan ada juga yang kecewa dan gagal. Dalam situasi seperti yang dialami oleh orang-orang yang bergelut, kecewa dan gagal, tidak banyak orang / lembaga pada mereka. Dunia dan jaman sekarang adalah dunia dan jaman yang berubah cepat, menuntut pengetahuan, ketrampilan dan tanggung jawab yang besar. Akibat lebih jauh, masyarakat setempat makin tertinggal di belakang.

Tidak ada orang / lembaga mana pun yang bisa menolong terus-menerus. Yang paling bisa menolong adalah diri sendiri / masyarakat itu sendiri. Maka, pada kesempatan itu, saya menekankan kepada orangtua dan kaum muda untuk menyadari hal itu, dan mulai bergerak untuk menyediakan makan dan minum yang mereka perlukan. Bahan pangan diusahakan agar dekat dengan rumah masyarkat. Di pekarangan mereka bisa menanam pisang, keladi, ubi, singkong dan sayuran. Ini akan mempermudah mereka mendapatkan kebutuhan makan setiap hari. Tanam dalam jumlah yang besar, sehingga bila ada yang diambil orang, masih ada banyak yang bisa dipanen oleh keluarga.

Sebelum misa selesai, saya meminta umat untuk memberi 1 bibit pohon pisang. Ketika saya menghitung, ada 40 orang yang bersedia memberi bibit itu. Tua muda, besar kecil, termasuk anak-anak ada banyak yang mengangkat tangan. Satu jam kemudian, mereka kembali mendatangai saya dengan membawa bibit pohon pisang. Ada macam-macam jenis pohon yang mereka bawa. Setelah tiba di Merauke, seluruhnya berjumlah 104 bibit pohon.

Pohon pisang sangat muda dipisahkan dari induknya. Tidak menuntut banyak persiapan untuk menanam, dan bibit itu mudah ditanam di mana saja. Meskipun gundul tanpa daun, atau hanya setengah batang, bahkan hanya bonggolnya saja, bibit itu akan tumbuh. Juga meskipun didiamkan saja di salah satu sudut, karena belum ada waktu untuk menanam, bibit itu tetap hidup dan rela menunggu “saatnya untuk ditanam”.

Begitu sabar dan pengertian, begitu pasrah dan rela untuk diperlakukan apa saja bibit pisang itu. Entah batangnya besar, atau masih tunas, “watak yang luhur itu” tetap melekan pada “bibit pisang”. Bila manusia punya “watak yang luhur seperti yang dimiliki pisang” betapa aman dan damainya hidup manusia di dunia ini.

SURAT GEMBALA PRAPASKA 16

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2016



Saudara-saudari
Umat sekalian
para pastor, bruder, suster dan anak-anak yang terkasih

Tidak lama lagi, kita akan memasuki masa pra-Paska atau masa persiapan batin untuk menyambut pesta Paska, yang dimulai pada hari Rabu Abu. Kiranya baik, bahwa kita mengawali masa pertobatan ini dengan mengambil hikmah dari bacaan-bacaan kitab suci hari ini. 
 
Yesaya, ketika mendengar suara pujian para malaikat: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”, langsung mengakui kedosaannya. Ia yang tinggal di tengah-tengah masyarakat yang penuh mulutnya sering mengucapkan kata-kata kasar, bersaksi dusta, suka memfitnah, menyumpahi sesamanya, merasa amat tidak pantas melihat kemuliaan Allah. Kekudusan Allah itu, menurut keyakinannya, akan menghanguskan / membakar habis semua orang berdoa. Namun, apa yang ia pikirkan dan ia yakini, sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan Allah. Dengan bara api, Allah mengutus malaikatnya untuk menguduskan mulut Yesaya dan mengampuni dosa-dosanya. 
 
Demikian pula Petrus, yang telah terlanjur kesal dan mengeluarkan kata-kata yang keras kepada Yesus, yang tidak mau taat kepada dirinya. Bisa jadi dia mengatakan Yesus itu sok tahu, merasa lebih pintar dan berpengalaman padahal Dia itu berasal dari kampung yang jauh dari pantai. Ternyata, apa yang dikatakan Yesus itu benar, dan mereka menangkap ikan dalam jumlah yang besar. Petrus, betul-betul menyesal dan merasa tidak pantas berada di hadapan Utusan Allah yang begitu agung dan kudus. Dia sungguh mengakui kedosaannya, dan memohon kepada Yesus untuk meninggalkan dia. 
 
Di dalam kedua bacaan Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan itu, kita menemukan kerahiman Allah yang luar biasa. Kerahiman-Nya mengatasi kerapuhan, kekecewaan, kekesalan, ketidakmengertian, dan kedosaan manusia. Kalau di perjanjian lama, kerahiman Allah itu disampaikan oleh para malaikat, pada jaman perjanjian baru, dihadirkan Yesus. Pada jaman kita, dihadirkan oleh kita sekalian sebagai utusan-utusan-Nya. 
 
Paus Fransiskus, dalam Bulla Indiksi Yubileum Luar Biasa tentang Kerahiman, meminta kepada umat beriman agar "masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini dihayati secara lebih mendalam sebagai saat istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 17). Melalui ajakan untuk mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan mendorong umat untuk menyediakan waktu " 24 jam bagi Tuhan” , beliau berusaha menekankan keutamaan mendengarkan sabda Allah, terutama sabda kenabian-Nya dengan hati yang dipenuhi doa dan ucapan syukur. Kerahiman Allah adalah sebuah warta keselamatan bagi dunia, sebuah kabar yang menekankan bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk mengalaminya secara langsung. Karena alasan ini, selama masa Prapaskah beliau akan mengutus para Misionaris Kerahiman sebagai sebuah tanda nyata bagi semua orang tentang kedekatan dan pengampunan Allah. 
 
Kerahiman mengungkapkan cara Allah menjangkau orang berdosa, menawarkan kepadanya sebuah kesempatan baru untuk memandang diri Allah, bertobat dan percaya” (MV 21), dan dengan demikian, memulihkan hubungan manusia dengan Dia. Dalam Yesus yang disalibkan, Allah menunjukkan keinginan-Nya untuk mendekati orang-orang berdosa, meskipun mereka mungkin jauh telah menyimpang dari hadapan-Nya. 
 
Kerahiman Allah mengubah hati manusia; ia memungkinkan kita, melalui pengalaman akan kasih dan kesetiaan Allah, menjadi orang yang penuh kerahiman. Kerahiman ilahi bersinar dalam kehidupan kita, mengilhami kita masing-masing untuk mengasihi sesama dan untuk mengabdikan diri kita melalui karya-karya kerahiman rohani dan jasmani. Misalnya, memberi makan, mengunjungi, menghibur dan memberi petunjuk serta menolong mereka yang membutuhkan bantuan kita. 
 
Oleh perbuatan-perbuatan seperti itulah kita akan dihakimi. Karena alasan ini, Paus meminta agar "umat Kristiani sudi merenungkan karya-karya kerahiman jasmani dan rohani. Hal ini akan menjadi suatu cara untuk membangunkan kembali hati nurani kita, dan masuk lebih dalam ke jantung Injil di mana orang miskin, tertindas, dan orang-orang yang tidak berdaya, memiliki pengalaman khusus akan kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 15). “Daging / tubuh jasmani Kristus” menjadi kelihatan dalam daging dari orang-orang yang disiksa, ditindas, kurang gizi, dan orang-orang yang diasingkan .... Mereka ini butuh untuk diakui, dijamah, dan dirawat oleh kita" (MV 15). 
 
Kristus adalah misteri kasih yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan pertanyaan besar: mengapa Anak Domba yang tak berdosa, harus menderita ? Di hadapan kasih ini, kita bisa, seperti Musa, melepas kasut (kemapanan, kenyamanan, dan kedudukan) kita (bdk. Kel 3:5), terutama ketika orang-orang miskin adalah saudara atau saudari kita di dalam Kristus yang sedang menderita karena iman mereka. 
 
Saudara sekalian, selain berpantang dan berpuasa, pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai tanda pertobatan kita, bersama dengan Yesus yang mengundang kita untuk menunjukkan pribadi Allah dan kerahiman-Nya, marilah kita berusaha untuk :
  1. tidak bergosip
  2. makan secukupnya dan tidak membuang makanan,
  3. membeli barang-barang yang sederhana (tidak mewah)
  4. mengunjungi orang-orang sakit, orang yg susah, atau lansia
  5. berhenti menghakimi sesama
  6. tetap bersahabat dengan mereka yang tidak sepaham dg kita
  7. menjadikan berdoa setiap hari sebagai kebiasaan
  8. setia janji dengan orang lain seperti yg dilakukan pasutri
  9. Tetap percaya bahwa Tuhan menyertai kita
  10. menjaga kebersihan rumah, halaman dan saluran-saluran air
  11. menjaga hutan, sungai, rawa dan laut demi anak cucu kita
  12. membangun daerah kita dalam suasana aman dan damai

Marilah kita mengisi kehidupan kita, melalui pertobatan kita, agar semakin banyak orang mengalami kerahiman Tuhan. Kita doakan juga Bupati dan wakil bupati terpilih, agar pelantikan mereka dapat berjalan dengan baik dan aman, dan mereka dapat melaksanakan tanggung jawab yang akan dipercayakan kepada mereka dengan bijaksana. Akhirnya, saya ucapkan “Selamat menjalani masa pra-Paska” dengan sukacita.

Merauke, 2 Februari 2016

Berkat dari Uskupmu


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

20 MENIT DI UGD

PEMBACA YANG BUDIMAN

Syaloom

Inilah sharing saya untuk anda, setelah sekian waktu tidak menjumpai anda. Moga-moga anda menemukan inspirasi di dalamnya. Selamat membaca.

SORE ITU, saya ditelpon oleh kenalan saya. Dia mengabarkan bahwa di UGD – sebuah rumah sakit - ada seorang rekan ( sebut saja A) yang telah lama berada di sana. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan dokter X, ahli penyakit dalam, karena dirujuk oleh dokter. Namun, karena dokter yang dimaksud sedang bertugas di luar daerah, dia menjalani pemeriksaan lagi seperti seorang pasien yang baru. Diinformasikan bahwa sudah beberapa jam lamanya dia menunggu, sedangkan kepastian tentang tindak lanjut yang akan diambil, tidak ada kejelasan.

Ketika saya tiba di sana, saya meminta ijin untuk bertemu dengan A. Tidak terlalu sulit untuk menemukan dia, karena ruang UGD tidak luas dan hanya ada 2 pintu saja. Ternyata di dekat ruangan itu ada orang yang kenal saya, sehingga dia mengantar saya ke tempat A. Dia duduk di sebuah tempat tidur, di sebelahnya ada orang yang sesak napas, yang lain lagi kena diare, dan yang lain lagi lagi tidak enak badan karena darah tinggi. Dan di depan saya, ada seorang pemuda yang sedang koma, karena infeksi otak. Di ruangan yang sempit itu, ada 6 pasien yang menderita gangguan yang berbeda-beda.

Bila pasien tinggal di UGD untuk sementara waktu, tentu bisa dipahami. Namun, banyak yang terpaksa tinggal di sana, karena semua ruangan penuh dengan pasien. Tidak ada lagi ruang kosong. Akibatnya, ruang yang kosong dipakai untuk menolong pasien yang datang. Meskipun pasien itu seharusnya mendapatkan pertolongan mendesak dan darurat, serta perlu istirahat yang cukup, hal itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ruangan dan fasilitas yang diperlukan pasien. Maka, mereka yang menderita / mengalami gangguan berat, harus pasrah dan mau menerima pelayanan yang amat minim, di UGD. Tidak heran bahwa pasien-pasien akhirnya harus mengalami penderitaan berkepanjangan karena tidak segera mendapatkan pertologan yang memadai.

Sambil menunggu obat untuk A, saya mengamati dokter-dokter yang melayani pasien UGD. Kebanyakan mereka adalah dokter-dokter muda yang baru selesai studi. Mereka bekerja extra keras untuk melayani pasien-pasien dengan pelbagai keluhan. Saya mencoba mengerti dan sekaligus mengolah ketidakmengertian saya atas situasi “bahwa di UGD ditempatkan dokter-dokter muda”. Bukankah para pasien itu ingin mendapatkan kepastian, “gangguan apakah yang menyebabkan mereka sakit ?”. Diagnosa yang cermat dan teliti, akan memungkinkan pasien mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Bila diagnosanya keliru, pasienlah yang akan mendapatkan resikonya. Batin saya terusik, dan ingin mengatakan bahwa semestinya yang ditugaskan di UGD adalah dokter-dokter yang sudah berpengalaman. Sedangkan dokter-dokter muda adalah pendampingnya, karena mereka masih perlu banyak belajar.

Pengalaman malam itu, mengajak saya untuk berani lebih pasrah. Orang-orang yang tinggal di daerah, di tempat yang kekurangan fasilitas, SDM yang handal, kurang sarana transportasi dan komunikasi, rupanya bukan hanya ditantang, tetapi sudah kenyang dengan “tuntutan untuk pasrah selain kepada keadaan, tetapi juga kepada keputusan yang sering kurang berpihak pada orang yang sedang membutuhkan bantuan”.

Nyatanya, di tempat-tempat yang serba terbatas, masih banyak ditemukan kehidupan. Ada banyak hal yang sebetulnya tidak mungkin, dan tidak bisa dilanjutkan, ternyata hal itu mungkin dan bisa dilanjutkan. Ada banyak orang yang sesungguhnya tinggal di daerah-daerah yang tidak layak huni, makan makanan yang kurang gizinya, namun mereka bisa hidup dan bertahan hidup di tempat itu. Bahkan mereka lebih tahan bantingan daripada mereka yang tinggal dan hidup di wilayah yang serba kecukupan.

Di sinilah saya melihat dan mengalami, bahwa ada yang disebut penyelenggaraan ilahi. Dia yang mempunyai hidup, memberikan diri-Nya dan hidup-Nya kepada makluk ciptaan-Nya.

Selasa, 19 Januari 2016

SELAMAT TAHUN BARU



 PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM

Perkenankan saya, pada hari ke 19 tahun 2016 ini mengucapkan “SELAMAT TAHUN BARU” kepada para pembaca di mana pun anda berada.  Terlambat memang ucapakan saya....namun beberapa hal yang ingin saya haturkan kepada anda, semoga “nilainya tidak terlambat” dan dapat memberikan inspirasi dalam kehidupan kita.

Pertama-tama, kata “selamat” mengandung arti: bebas dari bahaya / malapetaka / bencana, tetapi juga berarti “tidak kurang sesuatu apa pun, tidak mendapat gangguan / kecelakaan. Selanjutnya, selamat juga berarti “sehat, tercapai maksudnya, tidak gagal. Ketika menyampaikan ucapan “selamat”, istilah itu berarti harapan / dukungan agar yang bersangkutan sehat, sejahtera, berbahagia.

Maka ucapan saya: “SELAMAT TAHUN BARU” kepada anda, mempunyai arti yang amat kaya. Saya yakin bahwa anda bebas dari bahaya, sehat sejahtera, dan tidak kekurangan apa pun. Saya juga berharap dan berkeyakinan bahwa anda akan hidup dalam damai dan bahagia, serta mendapat dukungan dari banyak pihak dalam menapaki tahun baru 2016.

Keyakinan ini saya dasarkan pada pengalaman bahwa pada tahun 2015 yang baru saja kita tinggalkan, kita telah mendapatkan banyak kasih karunia. Karena itu, pada tahun baru ( 2016 ) pun hal yang sama, dapat dan amat wajar kita harapkan akan terjadi pada kehidupan kita.  Kalau demikian harapan dan keyakinan kita / saya, siapa yang memberikan jaminan ?
Tentu saja, diri sendiri turut berperan dalam menghadirkan “harapan” itu. Diri sendiri dengan kekuatan dan kayakinan yang ada, berani melangkah terus, apalagi dibarengi dengan dorongan dan dukungan dari sahabat, kenalan, dan mereka yang punya tekad untuk hidup damai sejahtera dengan tulus, jujur dan adil.  Dan sebagai orang beriman, kita percaya bahwa segala usaha yang baik dan mulai itu berkenan pada Tuhan dan direstui oleh-Nya. Dia yang merupakan sumber kebaikan dan kebahagiaan akan mengantar umat-Nya kepada kehidupan yang membahagiakan.

Maka, SELAMAT TAHUN BARU, secara singkat mempunyai 2 makna, yaitu pertama: berjalan dengan penuh keyakinan dan penuh syukur bahwa telah mendapatkan keselamatan pada tahun sebelumnya, dan kedua: dengan penuh keyakinan menatap dan menata masa depan yang lebih cerah dan membahagiakan, bukan hanya untuk diri pribadi, tetapi bersama dengan sesama.

Keselamatan ( ketenteraman ) pada tahun yang baru adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Siapa yang mengusahakan keselamatan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkannya secara berlimpah. Siapa yang mengusahakan sedikit dan ragu-ragu, juga akan menerima karunia dengan penuh keraguan.  Semuanya adalah pilihan. Maka, marilah memilih dan mengambil berkat (keselamatan) yang berlimpah itu, agar kita pun terdorong untuk membagikannya secara berlimpah pula kepada mereka yang ada di sekitar kita. Ada banyak berkat, namun ada begitu banyak orang yang ragu-ragu atau bahkan tidak mau mengambil dan memanfaatkannya.

Senin, 28 Desember 2015

KENANGAN SAGKI 2015

PEMBACA YANG BUDIMAN

SAGKI 2015 telah berlangsung beberapa waktu yang lalu dan sudah selesai. Kenangan akan peristiwa agung itu, amat bagus untuk disimak. Maka, meski sudah sekian waktu lamanya, saya rasa ada hikmat yang tetap bisa dipetik.  Kenangan itu, saya hadirkan untuk anda.  Selamat menikmati. 

SAGKI

SAGKI adalah kependekan dari SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA.  Mengapa disebut SAGKI ? Disebut demikian karena SAGI merupakan pertemuan (rapat) yang amat penting dari wakil-wakil umat katolik seluruh Indonesia, bersama para imam, wakil-wakil kelompok kategorial, dalam persekutuan dengan para uskup seluruh Indonesia, untuk membahas hal-hal penting yang dialami umat katolik Indonesia pada umumya, dan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan negara kita.  SAGKI diadakan setiap 5 tahun sekali.

SAGKI TAHUN 2015

SAGKI tahun ini dilaksanakan di Villa Renata – Puncak, Bogor tanggal  2 – 6 NOVEMBER 2015 dengan tema: KELUARGA KATOLIK SUKACITA INJIL. Agar para peserta menjadi lebih siap untuk mengikuti SAGKI, dan panitia memperoleh gambaran yang lebih riil tentang keluarga di banyak keuskupan, panitia telah membagikan kuestioner beberapa waktu sebelumnya. Jumlah peserta dari masing-masing keuskupan adalah 10 orang. Karena di Indonesia ada 37 keuskupan, jumlah peserta dari seluruh keuskupan adalah 370 orang. Ditambah kelompok-kelompok kategorial, dan panitia. Total peserta adalah 564 orang.

SAGKI dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo dan didampingi oleh Bapak kardinal Darmaatmadja dan semua uskup yang hadir.

Apa itu sukacita ?

Sukacita adalah pengalaman suasana hati dan perasaan positif yang dapat didalami dalam berbagai macam cara dan sudut pandang.
Beberapa pokok penting yang dapat dipetik dari SAGKI:
1.     Kabar sukacita yang paling mendasar adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut citra-Nya. Manusia adalah pribadi yang menyarakan dan menghadirkan kebaikan dan kasih Allah.
2.     Perkawinan dan keluarga adalah tempat bagi suami isgri dan anak-anak menghdariakan dan membagikan kebaikan-kebaikan itu. Berbagi kebaikan dan kasih itu membuahkan sukacita.
3.     Kegembiraan dan sukacita yang dinikmati di dalam keluarga juga menjadi kekuatan dan penyemangat mereka untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Keyakinan ini diteruskan kepada anak-anak melalui pendiidikan dan nilai-nilai kemanusiaan agaar mereka mencintai Tuhan dan sesama.  
4.     Pengalaman dalam keluarga ini meneguhkan iman kita bahwa Allah mengaugerahkan sukacita itu dalam hidup sehari-hari. Untuk itu diperlukan keterbukaan hati agar keluarga dapat melihat dan mengalami serta mensyukurinya. Selanjutnya, keluarga harus mempunyai kesediaan untuk bekerja sama dengan Allahy secara terus-menerus mengembangkan sukacita itu.
5.     Buah-buah sukacita itu tampak dalam: iman yang mendalam dan tangguh, relasi yang semakin erat dalam keluarga, peran aktif dalam hidup Gereja dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.
6.     Bercermin dari hidup Keluarga Kudus, keluarga adalah ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemaikan dan mengembangkan sukacita injil. 

YANG MEMBERI INSPIRASI MENDALAM BAGI SAYA

1.     Kaum awam yang hadir dan terlibat dalam SAGKI sungguh mengagumkan. Mereka berasal dari pelbagai lapiran umur dan status sosial, dan berperan dalam pelbagai tugas di tengah-tengah masyarakat ( ibu rumah tangga, bidan, dokter, perawat, karyawan, dosen, pilot, pengusaha dll).  
2.     Panitia dan seluruh perangkat yang bekerja sebelum, saat pelaksanaan, dan sesudah SAGKI memang bekerja luar biasa.  Banyak hal telah dipersiapkan dengan baik, sehingga kegiatan berjalan lancar, penuh persaudaraan, dan memberikan semangat dalam mengikuti sidang. Tim animator berperan penting untuk menjaga agar kebugaran tubuh, dan daya ingat yang mulai menurun karena mendengarkan dibangkitkan kembali dengan gerak dan lagu.
3.     Sharing dari keluarga A ( suami pengusaha dan istri adalah dokter ),  ketika mengalami bangkrut / kegagalan dalam berbisnis. Dia dililit utang, dan sekian lama mengganggur padahal sebelumnya adalah pengusaha yang sukses. Dia mengatakan : “Dalam masa terpuruk, satu-satunya harta berharga yang saya rasakan  waktu itu adalah keluarga. Saya tetap merasakan sukacita, karena punya keluarga”. Dukungan moril dan finansial dari istrinya, telah membangkitkan kembali kepercayaan dirinya, dan kini mereka hidup berkecukupan, dapat menyekolahkan anak satu-satunya, dan pergi berziarah ke beberapa tempat di luar negeri.  
4.     Keluarga B ( suami dokter di pedalaman dan istri  ibu rumah tangga ). Mereka meninggalkan keramaian kota dan masuk ke pedalaman. Naik motor, menjemput pasien dan melayani mereka meski mereka tidak mampu membayar. Tidak jarang bahwa mereka harus mengeluarkan uang pribadi untuk membayar obat supaya pasien menjadi sehat kembali. Bertahun-tahun lamanya mereka tinggal di daerah minoritas Islam, namun diterima oleh mereka karena pelayanan kemanusiaan yang mereka berikan. Dokter tersebut bercerita bahwa “sudah menjadi komitmen kami sejak meninggalkan surabaya, dan kemudian menetap di Banjarmasin, hidup di pedalaman Kalimantan Selatan, untuk selalu siap sedia dan menolong orang kecil”.
5.     Keluarga C ( suaminya merantau ke luar negeri, sedangkan istri ibu rumah tangga ). Sang istri merelakan suaminya untuk bekerja di negeri orang tanpa surat-surat legal. Suami pergi untuk jangka waktu 2 – 3 tahun dan baru kembali. Mereka tetap setia sebagai suami istri atas dasar kepercayaan (saling percaya). Sedangkan sang istri menghidupi 4 anak dengan hidup seadanya di kampung, bahkan masih memberikan waktu untuk mengajar agama bagi anak-anak di lingkungannya.
6.     Sebuah pengakuan dari keluarga D. Ia bercerai dengan suaminya karena ditinggalkan begitu saja tanpa berita untuk bertahun-tahun lamanya. Atas ketidakjelasan “sampai kapan dia diperlakukan begitu”, akhirnya dia memutuskan untuk cerai secara sipil. Statusnya yang baru ternyata tidak mudah untuk dihadapi, makan energi, sulit untuk mencari pekerjaan, dan yang lebih menyakitkan adalah “menjadi buah bibir” banyak orang.  Namun, dengan ketabahan yang dia buat demi buah hatinya, dia berjalan terus dan kini bisa mandiri. Kekuatan yang dia miliki adalah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk dan kegagalan”.

Dengan situasi yang mereka hadapi, dan sering kali tidak mudah, banyak keluarga katolik telah menjadi lilin yang menerangi banyak keluarga lain. Mereka tersebar di mana-mana. Mereka adalah anak-anak Allah yang telah menterjemahkan amanat Injil: mencintai Tuhan dan sesama secara nyata. Dari sekian banyak pasangan, baik keluarga yang seiman, beda gereja dan beda agama, hanya sedikit pasangan yang bercerai. Suka dan duka betul-betul telah mereka jalani. Mereka telah menjadi “saksi-saksi sukacita Injil” di tengah-tengah masyarakat.  Mereka telah dikuduskan oleh Allah dan oleh komitmen mereka sendiri sejak menikah yaitu saling mencintai pasangannya dan menghargai kesatuan itu sampai ajal menjemput mereka. 

Selasa, 22 Desember 2015

DITINGGALKAN

PEMBACA YANG BUDIMAN
SYALOOM

Menjelang pesta Natal ini, saya haturkan kepada anda, sharing saya yang amat khusus. Saya ulas apa yang saya rasakan dan saya perkirakan akan terjadi pada setiap orang, dalam hal ini, apa yang akan terjadi pada saya. Selamat membaca dan menemukan “inspirasi” dan kekuatan di dalamnya.

Siang itu, di hadapan saya terbujur kaku, jenasah seorang bapak. Usianya 69 tahun. Dia memakai pakaian dengan jas yang rapih, seperti orang yang hendak menghadiri pesta nikah atau pesta kenegaraan.  Kedua tangannya telah dikatupkan di depan dada, memakai kaos tangan putih, dan memegang rosasio. Pandangan mata saya dengan sengaja saya tujukan ke sana.... ke arah jenasah yang terbaring itu. Dia pasrah kepada siapa pun yang datang, yang memberi hormat / salam, atau yang memegang dia. Reaksi yang bisa dia tunjukkan adalah reaksi yang sama yaitu “diam” ( tidak menjawab, tidak membantah, dan tetap dalam posisi yang sama ).

Bapak ini biasanya aktif bekerja, bisa naik sepeda motor ke tempat kerja, terlibat dalam pelbagai kegiatan baik di lingkungan, di organisasi, di paguyuban.  Ketika sudah tiba saatnya, semuanya itu dia lepaskan, termasuk badannya yang sering dia perhatikan pun “ditinggalkan”.  Anak, istri, saudara-saudari sekandung, dan sahabat kenalan, semuanya dia tinggalkan.  Kepergiannya kali ini, sungguh sangat luar biasa. Dia tidak membutuhkan harta benda duniawi.

Saya hanya diam dan memandang. Namun, pikiran dan perasaan saya menembus jauh ke dalam sana...mencari makna dari kepergiannya. Dia datang sendirian ke tengah-tengah keluarganya, dan saat itu dari tengah-tengah keluarganya, dia pergi. Saya dan hadirin hanya bisa diam, memandang, badan yang ditinggalkan, dan sebentar lagi di antar ke makam. Tempat untuk badan yang sudah tidak bernyawa lagi, meskipun dulu badan itu disayang, diperhatikan, diberi makan, diberi pakaian yang indah, yang bisa bergerak, adalah makam.

Badan itu mendapatkan tempat yang baru, bersama-sama dengan mereka yang telah mendahului dia.  Tempat badan-badan yang telah tidak bernyawa lagi itu adalah makam / kuburan.  Di kompleks yang baru itu, mereka semua tenang, berjajar, “taat penuh” dan tidak akan pindah lagi menurut rencana mereka sendiri. Mereka menerima apa yang diberikan kepada mereka tanpa membantah, tanpa kata. Namun, saya yakin bahwa mereka mengucapkan “terima kasih” meski telinga ini tidak bisa mendengar ucapan itu.

Di masing-masing tempat (“kediaman”) mereka yang baru itu, ditancapkan / dipasang salib besar, sedangkan dulu ketika masih hidup, hanya salib kecil yang dipasang di rumah-rumah mereka. Itu artinya mereka dibela oleh salib dan lebih dari itu, mereka dibela dan dilindungi oleh Dia yang disalibkan, yaitu Yesus.  Kepercayaan itu sungguh mendasar, sehingga di kayu salib itu, ditulis nama mereka masing-masing. Di Salib itu, diserahkan segalanya, termasuk permohonan pengampunan dosa, sehingga semuanya yang ada padanya disucikan oleh salib dan oleh Dia yang pernah memberikan pengampunan kepada pendosa yang digantung pada kayu salib dan bertobat, sehingga bersama-sama Dia masuk ke dalam kerajaan surga.

Dalam suasana diam itu, pikiran dan perasaan saya mengajak saya untuk mengakui dan menyadari bahwa sesudah bapak itu, akan tiba giliran orang lain lagi yang pergi. Saat itu yang pergi adalah ayah (orangtua) dari rekan saya. Pada waktu yang akan datang, akan tiba giliran kepergian orangtua saya, dalam hal ini ibu saya.  Ibu saya hampir berusia 80 tahun. Artinya 80 tahun yang lalu, dia datang ke tengah-tengah keluarganya, salah satu di antaranya adalah saya. Pada suatu hari, saya dan kakak-adik saya, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, siap atau tidak siap, harus menerima kenyataan ditinggalkan oleh ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kami.

Syukurlah kepada kami semua telah diwariskan ilmu, budi pekerti, ketrampilan, etiket dan etika dalam pergaulan yang semuanya itu merupakan bekal yang amat berharga. Juga kepada kami semua telah diwariskan iman dan Tuhan yang telah kami percayai sebagai Tuhan yang hadir, setia dan sungguh mencintai kami.  Kepada kami telah ditanamkan iman bahwa Tuhan yang hadir dan setia itu telah menyatakan diri-Nya dalam diri Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Peristiwa itu menyadarkan saya untuk menyiapkan diri secara mental, kejiwaan, fisik dan rohani supaya dengan lebih rela menerima kenyataan ditinggalkan oleh orang yang amat berjasa dalam hidup saya.  Selain itu, peristiwa itu juga mendorong saya untuk rela “melepaskan” siapa saja yang tiba-tiba pergi, karena semua orang akan pergi untuk selamanya, dan “tidak ada seorang pun yang mampu mencegah kepergiannya. Para dokter, mantri kesehatan, perawat dan ahli pengobatan alternatif hanya bisa “menunda” tetapi tidak mampu melawan atau menghalangi kepergian seseorang dalam peristiwa kematian.

Maka benar, bahwa manusia betapa pun hebatnya, betapa pun kayanya,  dan berapa pun jumlah pembela dan kekuasaannya, dalam peristiwa yang satu ini tidak dapat diandalkan. Dalam iman yang saya miliki, yang telah ditanamkan oleh kedua orangtua saya, dan disuburkan oleh banyak saudara-saudari seiman, para imam dan para guru/dosen saya, saya Tuhan yang saya kenal melalui Yesus adalah Tuhan yang bisa diandalkan. Santa Faustina yang memperkenalkan devosi kerahiman ilahi, memberikan kata-kata yang bagus: “ Jesus, I trus in You”. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan itu berarti: “ Jesus, aku percaya pada-Mu”, dan lebih dikenal dengan ungkapan: “Jesus, Engkaulah andalanku”. 

Selasa, 08 Desember 2015

SURAT GEMBALA TENTANG KERAHIMAN ILAHI

SURAT GEMBALA USKUP AGUNG MERAUKE
                                        TENTANG DEVOSI KEHARIMAN ILAHI               

Saudara sekalian, umat yang terkasih
dan anak-anak serta para pastor, biarawan-biarawati di mana pun anda berada.

Syaloom

Paus Fransiskus, mencanangkan Tahun 2016 yang dimulai tanggal 8 Desember 2015 dan berakhir pada pesta Kristus Raja tahun mendatang sebagai Tahun Kerahiman Ilahi.  Beliau berdoa dan berharap agar semakin banyak orang mengalami belas kasih dan kerahiman Allah yang berlimpah-limpah itu, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rangka meneruskan doa dan harapan Bapa Suci itu, agar belas kasih Allah dan kerahiman Ilahi itu, sungguh ada, nyata dan juga dialami oleh umat di keuskupan kita, saya menulis surat gembala ini.

DEVOSI KERAHIMAN ILAHI ITU APA ?

Devosi adalah jawaban iman manusia atas kebaikan Allah yang dialaminya, yang diwujukan dalam bentuk doa, sembah sujud, memperkayanya dengan lagu-lagu dan sarana bantu lainnya ( misalnya: sakramen mahakudus, jalan salib, gambar kudus dll) sebagai ucapan syukur. Mula-mula devosi ini adalah pengalaman iman dari seseorang, kemudian setelah mendapatkan pengakuan dari pimpinan gereja (uskup atau paus), berkembang dan diikuti oleh umat beriman lainnya.

Devosi Kerahiman Ilahi ini pertama kali dilakukan secara pribadi oleh Faustina Kowalska . Dia adalah seorang biarawati Polandia tak terpelajar namun cerdas dan tekun serta patuh kepada pembimbing rohaninya. Ia menulis pengalaman-pengalaman imannya  itu di buku hariannya. Dengan penuh kesabaran, ia menulis setiap penampakan dan pesan-pesan Yesus kepadanya mengenai kerahiman Allah. Menjelang kematiannya pun, sekitar tahun 1938, Devosi kepada Kerahiman Ilahi telah dikenal dan meluas ke banyak tempat. Oleh Paus Yohanes Paulus II, tahun 1978 beliau dinyatakan kudus dan diberi gelar Santa. Berdasarkan tulisan-tulisan St. Faustina itulah, kekayaan imannya dan harapan Yesus kepada umat-Nya disebarluaskan oleh paus Yohanes Paulus II ke seluruh dunia.


APA PESAN UTAMA KERAHIMAN ILAHI ?

Pesan utama Kerahiman Ilahi adalah bahwa Allah mengasihi kita, seutuhnya, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita. Syukurlah bila kita sudah dalam keadaan penuh rahmat, mengalami ketenteraman dalam hidup, dan banyak sahabat. Di pihak lain, apakah kita saat ini bersalah, berdosa berat, berbeban berat, tidak pantas untuk menerima berkat, Tuhan tidak memperhitungkan semuanya itu. Tuhan tak peduli betapa berat dosa kita, yang paling penting kita mau datang dan menerima pengampunan dan belas kasih-Nya. Tuhan ingin kita tahu bahwa belas kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala dosa kita; Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan, menerima belas kasih-Nya dan membiarkan Dia mengalir melalui kita kepada sesama. Dengan demikian segenap umat manusia akan ikut ambil bagian dalam sukacita-Nya. Pesan ini dapat dengan mudah kita ingat melalui MBP Kerahiman:

1.    Mohon Belas Kasih Allah
Tuhan menghendaki kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas kasih-Nya atas kita dan atas dunia.

2.     Berbelas Kasih kepada Sesama
Tuhan menghendaki kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita.

3.     Percaya Penuh kepada-Nya

Santo Yohanes Paulus II, yang menyebarluaskan Kerahiman Ilahi ini tanggal 7 Juni 1997 menulis:

“Siapa pun dapat datang kemari, melihat lukisan Yesus yang Maharahim ini, yang dari Hati-Nya memancarkan rahmat; dan mendengar dalam lubuk jiwanya sendiri apa yang didengar St Faustina: `Jangan takut. Aku senantiasa menyertaimu'. Jika ia menanggapi dengan hati yang tulus, `Yesus, Engkaulah andalanku!', ia akan mendapatkan penghiburan dalam segala ketakutan dan kecemasannya. Dalam dialog penyerahan diri ini, terbentuklah antara manusia dan Kristus suatu ikatan istimewa kasih yang membebaskan. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan' (1Yoh 4:18).
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gifSemoga semakin banyak umat katolik, para imam, biarawan-biawawati dan kita semua di Keuskupan ini, mengalami kerahiman dan belas kasih Allah dalam hidup sehari-hari dan menjadi “tanda nyata” dari kerahiman ilahi itu kepada manusia pada jaman sekarang ini.


MERAUKE, 3 Desember 2015

Teriring berkat dari Uskupmu


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC