Sabtu, 29 April 2017

TUNGKU API

PEMBACA YANG BUDIMAN

Silakan menikmati kisah yang satu ini. Ceritanya sederhana dan ada di sekitar kita, namun di rumah anda mungkin alat itu sudah tidak ada lagi. Anda hanya dapat melihatnya di tempat lain.  Mungkin alat itu hanya ada pada masa lalu, dan anda pernah memiliki dan menggunakannya.  Ada apa dengan kisah itu ?  

GERAKAN TUNGKU API KELUARGA
Di banyak tempat, keluarga-keluarga jaman sekarang di perkotaan dan di pinggiran kota, lebih banyak memilih menggunakan kompor untuk kegiatan masak-memasak. Menggunakan kompor memang lebih praktis, lebih mudah, tidak butuh tempat yang besar, lebih bersih dan mungkin lebih murah. Apalagi, pada masa sekarang ini, mencari kayu bakar juga tidak mudah. Karena itu,  ada banyak anggota keluarga dan generasi muda, yang tidak pernah melihat tungku api (ta).

Apa itu ta ?  Alat yang  terbuat dari tanah liat atau batu, bentuknya persegi panjang, diberi lobang di depan dan di belakangnya untuk memasukkan kayu api, dan ada 2 atau 3 lobang di atasnya untuk menempatkan alat untuk memasak, atau 2 bongkah batu yang bentuknya empat persegi panjang, dan diletakkan sejajar dengan jarak 25 – 30 sentimeter. Pada umumnya ta ini letaknya tetap di suatu tempat, sesuai dengan kesepakatan keluarga masing-masing. 

Mengapa ta itu tidak dipindah-pindah ? Ada beberapa alasan: 1) nyala api itu menimbulkan asap yang mengakibatkan warna hitam atau mengotori dinding atau langit-langit baik di samping maupun di atasnya, 2) memudahkan anggota keluarga untuk menaruh kayu bakar, dan bahan-bahan yang akan dimasak, 3) memudahkan orang lain yang perlu bantuan untuk memasak dengan menggunakan ta yang sama, 4) sisa-sisa pembakaran / sisa-sisa makanan dengan mudah dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pada masa yang lalu, ketika keluarga-keluarga belum mengenal kompor, ta punya peranan yang penting bagi mereka.  Ia adalah alat untuk memanaskan badan, ketika mereka kedinginan, sakit malaria, atau pada musim hujan.  Juga asap kayu api yang dibakar di alat ini dipergunakan untuk mengusir nyamuk. Bila keluarga-keluarga itu tidak mempunyai ta sendiri, mereka berkumpul bersama-sama di sekitar ta dan memanaskan badan atau mengusir nyamuk.  Ta juga dipergunakan bersama-sama untuk memasak, atau membakar hasil kebun / hasil hutan yang mereka bawa pulang.

Sambil menunggu hasil kebun siap untuk dinikmati bersama-sama, ta juga menjadi sarana orang-orang berkumpul.  Mereka  bercerita tentang kegiatan hari itu, apa yang mereka hasilkan, ke mana mereka pergi. Dengan siapa mereka berburu, mencari ikan, menebang kayu atau mencari makan.  Di tempat itu pula mereka bertukar pikiran, membicarakan hal-hal penting dan mengambil keputusan.  Patut kita cermati pula bahwa di  ta itu pula, mereka mendidik anak-anak dan generasi muda agar mengetahui dan mengenal nilai-nilai adat dan budaya, etika pergaulan, harapan-harapan dan langkah-langkah yang akan diambil, serta kapan pelaksanaannya berdasarkan keputusan yang telah mereka tetapkan.

Bagi masyarakat / keluarga jaman sekarang yagn tidak pernah punya ta, “Gerakan Tungku Api” ini apa maknanya ?  Pertama, kita adalah generasi yang lahir dari / keturunan tingkat ke-sekian dari orang-orangtua ( leluhur) yang pernah hidup dan mempunyai ta. Kedua, sesekali waktu kita pun pernah menggunakan / berkumpul di sekitar ta, ketika bermalam di kampung-kampung dan badan kita membutuhkan alat pemanas yang murah dan ada di tempat. Ketiga, ketika membakar ikan / daging dalam jumlah banyak untuk keperluan pesta atau acara keluarga, ta menjadi tempat orang berkumpul, membakar bahan makanan sambil bercerita.

Berdasarkan butir-butir penting atas nilai-nilai yang tersirat di dalam “keberadaan ta” itu, sesungguhnya manusia itu membutuhkan sesama / orang lain untuk berdialog, bercerita, mendengarkan dan didengarkan, melengkapi dan dilengkapi, memperkaya dan diperkaya oleh sesamanya, di seputar ta itu. Meskipun ta tidak ada di rumah keluarga-keluarga pada jaman sekarang ini, kebutuhan akan pertemuan, kehadiran, saling menyapa, saling mengisi, bercerita dan mendengarkan cerita, menghargai dan dihargai dll sungguh-sungguh nyata. Kebutuhan ini apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan “kehausan dan kekeringan jiwa, ke-menurun-an kepemilikan akan nilai-nilai kemanusiaan yang pada gilirannya akan dapat mengikis keluhuran martabat manusia.

Gerakan Tungku Api Keluarga (GTAK) merupakan pengingat, penggugah dan seruan untuk memperdengarkan dan menguatkan lagi adanya kebutuhan serius akan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang menurun tajam bahkan menghilang dari kehidupan manusia sekarang ini.  Orang jaman sekarang lebih membutuhkan dan menomorsatukan alat ( hp, televisi, kendaraan ) dan makanan serta pakaian, daripada manusia (sesama) yang memberikan alat atau menyediakan makanan dan kebutuhan kehidupannya.  Padahal hp, televisi, kendaraan, pakaian dll tidak bisa mengambilkan obat, memasak, atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

GTAK merupakan seruan dan ajakan agar tiap-tiap orang dan keluarga-keluarga menyadari betapa pentingnya menyiapkan dan membekali diri dengan pelbagai nilai-nilai kehidupan. Gerakan ini juga merupakan pemberitahuan akan adanya bahaya yang menghadang kita semua, bahwa bila hal ini dilupakan manusia akan kehilangan nilai-nilai penting dan akan mengalami kekosongan / kekeringan dalam hidup. GTAK merupakan dorongan agar di rumah masing-masing tiap-tiap orang mengusahakan adanya pertemuan dari hati ke hati, menciptakan suasana persaudaraan dan keakraban antar anggota keluarga, sehingga masing-masing mengalami kasih sayang, bisa menyapa dan disapa, dipuji dan dihargai, didukung dan diterima. GTAK merupakan pilihan yang tepat untuk menghadirkan suasana iman, harapan dan kasih seperti yang diteladankan oleh Yesus, Sang Guru dan Gembala Agung umat katolik.

SEKUNDUS

PEMBACA YANG BUDIMAN

Kisah yang saya haturkan kepada anda sekalian sungguh nyata, saya alami sendiri beberapa waktu yang lalu.  Sebagai orang yang sudah cukup lama bekerja di tanah Papua, saya amat bangga atas apa yang telah dicapai oleh orang lokal. Moga-moga anda mendapat inspirasi setelah membaca kisah ini. Selamat menikmatinya.

Siang itu, saya diajak oleh seorang rekan  jalan-jalan mengelilingi kebun sawit milik sebuah perusahaan (PTX). Perkebunan itu luasnya sekitar 20.000 hektor. Sudah 5 tahun perusahaan ini panen.  Ada pun jumlah karyawan tetap sekitar 4.000 orang, dan karyawan lebih sekitar 6.000 orang.  Istri/suami dan anak mereka tidak dihitung sebagai karyawan, karena mereka tidak bekerja di perusahaan. Kalau demikian, jumlah orang yang ada di kompleks perusahaan bisa mencapai 15.000 orang.  Jumlah ini sudah termasuk direktur dan staf perusahaan.

Sekundus, adalah pemilik tanah yang sekian ribu tanahnya disewa oleh PTX.  Usianya sudah di atas 50 tahun. Dia pernah menjadi karyawan lepas ketika PTX baru membuka lahan. Kemudian dia beralih menjadi pengusaha kayu olahan ( papan, balok 5x10, balok 10x10 dll ) untuk beberapa waktu.  Memang mula-mula ketika pemesanan banyak, dia punya penghasilan lumayan. Ketika pihak PTX tidak lagi membangun rumah dengan menggunakan kayu, usahanya ini hasilnya mulai menurun.  

Ketika penghasilannya mulai menurun, datanglah seorang pembuat batu bata (sebut saja: Marjono). Dia menawarkan diri untuk membantu dan mengajarkan ketrampilannya kepada Sekundus.  Tawaran itu diterimanya dengan gembira. Setiap hari, dengan giat Marjono dan Sekundus membuat batu bata dari lempung. Memang lempung (tanah liat) di daerah itu kualitasnya bagus. Semuanya itu  dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana, dan tangan kaki mereka setiap hari harus bergelepotan lumpur.  Marjono melihat bahwa Sekundus memang berbakat dan tekun, serta bertekad untuk hidup sejahtera. Karena itu, ketrampilannya diberikan seutuhnya kepada Sekundus. 

Ia amat berterima kasih kepada Marjono.  Orang yang tidak dia kenal sebelumnya, mau memberikan pengetahuan dan ketrampilannya kepadanya. Maka, dia menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Dia berpikir bahwa semuanya itu untuk dirinya, keluarga dan anak-cucunya. Kalau tidak bejalar sekarang kapan lagi, kalau bukan dirinya siapa lagi.  Itulah sebabnya, selagi Marjono masih ada bersama dia, dia belajar sungguh-sungguh, serta ingin mengembangkan diri dan ketrampilannya.

Dia belajar memilih tanah liat yang baik, mencampur dan mengaduknya sampai rata, membuat cetakan batu bata, mencetak batu bata, membuat tempat jemuran, menata batu bata ketika dijemur, menata batu bata ketika akan dibakar dll. Semuanya itu dikerjakan mereka dengan menggunakan tangan dan alat-alat sederhana. Dalam waktu 2 bulan, Sekundus sudah mahir dan terampil untuk membuat batu bata dengan kualitas bagus.  Ketika melihat hasilnya sudah memuaskan, Marjono pamit pulang ke Jawa.   Sekundus tidak pernah mendapat berita bagaimana dan di mana Marjono, orang yang telah membekali dia menjadi pengusaha batu bata seperti sekarang ini.

Ketika melihat keseriusan dan kegigihan usaha batu bata ini, pihak PTX dengan rela hati membantu Sekundus untuk membelikan mesin pembuat batu bata.  Mesin itu diadakan dan kini  telah menjadi milik pribadi Sekundus. Pihak PTX pun siap membeli batu bata yang dihasilkan oleh Sekundus. Bila rajin kerja dengan dibantu anak-anak dan keluarganya, dia bisa menghasilkan 15.000 keping.  Di tempat pembakaran, bisa ditampung 250.000 keping yang siap untuk dibakar.  Setiap tahun PTX memesan 750.000 keping, dan diambil di tempat dengan harga Rp. 1000 per keping.  Dari jumlah dan harga itu, bisa dikatakan penghasilan Sekundus dan keluarganya dari penjualan batu bata per tahun Rp. 750 juta.  Jumlah ini adalah jumlah angka yang cukup besar. Karena itu, dia bisa menghidupi keluarga dan orang-orang yang bekerja padanya.

Sekundus tidak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh anak-anaknya dan orang-orang muda bahkan kaum perempuan yang mau bekerja di sana. Dia katakan dengan terus terang di hadapan banyak orang tingkat ketrampilan orang-orang yang membantu dia. Anaknya yang bernama Ignasius dikatakan telah mahir semuanya, dan bisa diandalkan. Sedangkan anaknya yang lain baru bisa mencampur / mengaduk tanah.  Anak-anak muda yang sudah bisa memotong adonan yang keluar dari mesin pencampur sehingga menjadi kepingan batu bata mentah adalah Mathias dan Zakeus. Yang lain-lain membantu mengangkut kepingan batu bata mentah ke tempat penjempuran dan mengatur dengan  rapih supaya cepat kering.

Siang itu, kebetulan hari libur, ketika saya berkunjung ke tempat itu. Anak-anak muda, ibu-ibu dan anak-anak yang jumlahnya banyak sekali, ada di tempat pembuatan batu bata. Mereka semua memperlihatkan wajah-wajah yang penuh sukacita. Sekundus, keluarga-keluarga serta anak-anak mereka adalah penduduk asli Papua. Mereka sudah menyadari bahwa tidak mungkin selamanya bergantung pada pihak PTX. Selagi PTX masih ada, mereka berusaha untuk menjadi makin mandiri. Mereka mengalami bahwa pihak PTX mau membantu mereka untuk maju, asalkan mereka sendiri bekerja keras dan jujur.

Mereka bisa menghasilkan 15.000 keping batu bata mentah per hari tidak semuanya menggunakan mesin. Untuk menggali tanah liat, mereka dibantu oleh PTX. untuk mengaduk tanah digunakan pacul dan untuk memasukkan tanah ke dalam mesin, mereka menggunakan tangan dan jumlahnya harus secukupnya ( 1 gumpal) dan teratur sehingga kerja mesin tetap lancar.  Tanah yang telah tercampur dan padat karena diaduk dan “dipress” oleh mesin itu, kemudian dipotong dengan alat. Sekali potong dihasilkan 3 keping.

Dibutuhkan tenaga lain untuk segera mengangkut kepingan-kepingan batu bata mentah itu ke tempat penjemuran. Bila hari itu dihasilkan 15.000 keping, berarti harus dilakukan 15.000 : 3 = 5.000 kali kerja memotong adonan batu bata. Dari kegiatan potong memotong dan angkutan kepingan batu bata mentah sejumlah itu, nyata bahwa dibutuhkan banyak tenaga untuk membuat batu bata yang siap bakar, dari sejak pekerjaan awal hingga batu bata itu siap untuk dipasarkan.

Di tempat lain, saya pernah bertanya kepada pembuat batu bata yang pada saat itu bekerja seorang diri.  Dia katakan bahwa dia mampu membuat 1.000 keping batu bata mentah per hari. Jika harga batu bata mentah per keping Rp 200,-  penghasilan orang itu adalah Rp. 200.000 per hari. Sebuah penghasilan yang lumayan. Demikian juga bagi Sekundus dan keluarganya, bila baru bata mentah yang mereka hasilkan 10.000 – 15.000 per hari, pengasilan mereka rata-rata Rp. 2 juta – 3 juta per hari.   

Mereka ini juga perlu dibantu agar mempunyai niat dan tekad untuk men bung demi masa depan mereka. PTX dan pihak lain tidak akan pernah memberikan jaminan masa depan bagi orang-orang seperti Sekundus dan keluarga serta anak cucu mereka. Mereka sendirilah yang pegang peranan penting untuk mempersiapkan hari depan mereka yang tetap sejahtera. Mendirikan koperasi dan CU, tidak menjamin bahwa mereka akan hidup sejahtera. Mereka butuh contoh dan kehadiran orang-orang sebagaimana telah diteladankan oleh Marjono. Dia menyiapkan Sekundus sampai berhasil dan mandiri. Mereka tidak butuh gedung dan bangunan serta fasilitas, yang banyak kali didengungkan dan diproyekkan dengan dana besar, mereka butuh sesama manusia yang setia dan tekun mendampingi mereka memasuki pintu gerbang keberhasilan, mandiri mengusahakan kebutuhan hidup dan menikmati kemajuan jaman. Dibutuhkan orang-orang yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, dan mengorbankan nyawanya bagi kehidupan banyak orang, sebagaimana diteladankan Yesus, Sang Gembala Agung umat beriman katolik dan banyak bangsa di seluruh dunia.

Sekundus dalam sharingnya mengatakan bahwa manusia itu harus berusaha. Apalagi PTX yang ada sekarang ini siap membantu masyarakat.  “Kita harus bekerja sama, dan tolong menolong, tetapi juga harus tulus, jujur dan tidak boleh lupa berdoa” sambungnya sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas, kemudian membongkokkan badannya.  Pada hari Jumat Agung 2017, halaman rumahnya dipakai sebagai tempat pelaksanaan “Jalan Salib Hidup”, dan dirinya juga hadir pada kesempatan itu. Dia ikuti JSH dengan kaki telanjang, padahal kegiatan itu dimulai jam 11 siang. Udara amat panas dan matahari bersinar sepenuhnya. Apa yang dikatakannya itu pula yang dilakukannya.  Sekundus terima kasih atas kesaksian hidup dan kesejahteraan yang telah bapak teladankan kepada kami semua. 

Rabu, 19 April 2017

KELUARGA "LOCUS" DAN FOKUS PASTORAL

 Pembaca yang budiman

Saya muncul pada bulan ini, dengan menyapa anda melalui tulisan kecil tentang keluarga.  Tulisan ini sebetulnya merupakan usaha untuk menggali dan menemukan betapa banyak nilai-nilai yang dimiliki keluarga dan pentingnya peranan  keluarga untuk kehidupan umat manusia. Silakan anda menyimaknya.

KELUARGA SEBAGAI LOCUS DAN FOKUS PASTORAL

Kata “LOCUS” berasal dari Bahasa Latin. Arti dari kata “locus” adalah tempat.  Dari kata ini lahir kata lokasi ( tempat ), relokasi ( penempatan kembali ), budaya lokal ( budaya setempat) dll. Kata “focus” juga berasal dari kata Bahasa Latin “facere”, artinya jatuh. Jadi, fokus menunjuk pada titik / tempat dari sesuatu itu jatuh, atau bisa dikatakan titik pusat.  Dalam pengertian umum, fokus berarti “perhatian, atau mengarahkan pandangan pada titik pusat, sehingga pikiran, perasaan dan kehendak seseorang tidak terbagi-bagi.  Pastoral juga berasal dari Bahasa Latin, pastor yang berarti gembala. Pastoral berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan dan kegiatan yang bertujuan untuk menggembalakan umat, agar mereka menemukan keselamatan (kebahagiaan hidup).

Kalau keluarga disebut lokus dan fokus pastoral, berarti keluarga itu punya peranan penting bagi kehidupan manusia, agar hidup bagi. Kebahagiaan hidup tidak perlu dicari di tempat-tempat yang jauh, tidak perlu pergi ke kota-kota besar, dan tidak perlu juga membayar dengan biaya yang mahal. Kebahagiaan itu “lokus” ada di rumah, ada di dalam keluarga. Di keluarga dan di dalam rumah tangga itulah tempatnya. Keluarga yang menyadari bahwa rumah dan diri mereka adalah tempat hadirnya kebahagiaan, adalah keluarga-keluarga yang telah berusaha mendekatkan diri dengan Allah.

Juga agar kebahagiaan itu hadir, ayah, ibu dan anak-anak perlu memberikan perhatian besar pada bagian / segi ini. Kebahagiaan itu tidak hadir / tidak muncul begitu saja, tetapi perlu diusahakan oleh seluruh anggota keluarga. Masing-masing harus andil, dan fokus (memberi perhatian, berkorban, dan mengusahakan terus-menerus.

Dalam mengusahakan semuanya ini, ada berkat dan penyertaan Tuhan. Marilah kita mendorong diri kita, anak-anak kita, dan keluarga kita untuk menjadi tempat dan jalan munculnya dan berkembangnya kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan hidup bagi banyak orang.

Kamis, 23 Maret 2017

ALBERT GEREJA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya haturkan tulisan ini untuk anda.  Judul yang saya pakai untuk tulisan ini adalah gabungan dari nama orang dan apa yang dia kerjakan.  Silakan anda membacanya dan semoga anda mendapatkan inspirasi di dalamnya.

Saya tidak ingat kapan saya kenal dengan dia, dan saya juga tidak ingat siapa yang memperkenalkan saya dengan dia.  Yang saya ingat ialah bahwa relasi dan jalinan kerja sama saya dengan dia sudah lebih dari 6 - 7 tahun.  Mungkin saya kenal dia tahun 2007 atau 2008. Ketika itu saya mendengar bahwa ada donatur yang bisa membantu dana untuk pembangunan gereja.  Memang waktu itu saya membutuhkan dana untuk pembangunan gereja di salah satu stasi. Ada beberapa Albert yang saya kenal. Karena dia ini berurusan dengan pembangunan gereja, di hp saya, namanya saya tulis Albert Gereja.

Dana itu dikhususkan untuk pembangunan gereja, bukan untuk membangun pastoran atau renovasi bangunan lainnya, juga bukan untuk membangun susteran.  Sedangkan bagi saya yang ada di lapangan, kebutuhan pembangunan gereja, pastoran, dan susteran, serta petugas gereja adalah sederetan kebutuhan kongkrit dan mendesak.  Pembangunan bangunan gereja yang dibutuhkan paroki-paroki pun cukup banyak. Kalau mau didaftar, setiap tahun lebih dari 10 bangunan gereja yang dibutuhkan untuk dibangun. Pada umumnya, setiap paroki rata-rata mempunyai 15 stasi. Paroki ke Keuskupan Agung Merauke, jumlahnya 32.   Jumlah stasi seluruhnya adalah 32 x 15 = 480. Kalau setiap tahun keuskupan membangun 10 gereja, berarti dibutuhkan waktu 48 tahun untuk menyelesaikan seluruh bangunan gereja di keuskupan ini.  Sedangkan kemampuan riil keuskupan untuk membantu pembangunan gereja hanya 5 bangunan. Jadi, dibutuhkan waktu jauh lebih panjang lagi, yaitu 98 tahun.

Ketika saya memulai pelayanan sebagai uskup, banyak pastoran dan gereja yang umurnya sudah tua. Kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk.  Sementara itu, umat tetap berpandangan: “Bahwa keuskupan itu kaya. Umat tidak punya apa-apa dan perlu dibantu. Uskup wajib membantu pembangunan gereja, pembanguan dan perbaikan pastoran,  dan mencukupi kebutuhan umat”. Menyalahkan umat yang memang membutuhkan dana untuk membangun gereja atau memperbaikinya; mengeluh dan mengeluh, banyak bicara namun tidak ada tindakan yang nyata, merupakan beban tersendiri....dan tidak ada gunanya.  Maka, perlu diambil langkah-langkah untuk membuat terobosan sehingga terjadi sesuatu yang baru.

Ketika dikontak, Albert menunjukkan simpati yang besar untuk membantu pembangunan gereja. Saya pikir dialah yang menjadi donatur untuk pembangunan itu. Ternyata dia adalah “jembatan” dan sekaligus koordinator dari banyak orang yang hendak menyalurkan tanda simpati mereka untuk mendukung pembangunan gereja di banyak tempat di Indonesia.  Albert menyuarakan kebutuhan gereja-gereja lokal, kepada mereka yang hendak menyumbang namun tidak tahu ke mana bantuan itu hendak disalurkan. 

Bukan hanya itu, dia mengajak para dermawan untuk ambil bagian dalam pembangunan gerja di tempat-tempat terpencil, memuat di blog-nya jumlah dana yang dibutuhkan untuk pembangunan gereja, dia juga meminta laporan pertanggung jawaban dari mereka yang telah dibantu, foto-foto pembangunan, dan masih banyak lagi yang dia kerjakan.  Contohnya, beberapa waktu yang lalu, dia berkunjung ke Erom – Merauke dan melihat dari dekat bangunan gereja yang telah mendapat bantuan dari para donatur.  Dia meluangkan waktu untuk melihat, mengalami, dan merasakan siatuasi riil dari masyarakat / umat yang dibantu.

Ketika saya bertemu dengan dia secara langsung, saya amat terheran-heran dan serentak muncul penghargaan yang tinggi untuk dia. Orangnya masih muda. Pekerjaan pelayanan dan mengelola / menyalurkan dana dari banyak pihak adalah pekerjaan yang tidak mengenakkan, dan menuntut pengorbanan yang besar.  Apa yang telah dimulainya sekian tahun lalu, makin hari makin berbuah. Telah lebih dari 50 bangunan gereja yang telah berdiri, karena hasil kerjanya. Saya sendiri tidak tahu para donatur itu siapa dan mereka tinggal di mana. Mereka semua mempercayakan “dana pembangunan itu melalui Albert”.  Melalui tulisan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mengulurkan bantuan untuk pembangunan gereja di wilayah Keuskupan Agung Merauke (KAME).

Atas dasar pekerjaan yang telah dilaksanakan Albert, dan banyaknya donatur yang terlibat, serta sejumlah bangunan gereja yang telah selesai dibangun, dapat dikatakan beberapa hal tentang Albert. Dia adalah orang yang kerja keras, tulus dan mau peduli pada kehidupan rohani. Dia tidak ingin hanya dirinya sendiri yang menjadi saluran kasih Allah, namun mengajak banyak orang untuk ambil bagian dalam pekerjaan kemanusiaan ini. Dia juga seorang menejer yang baik, sopan dan bertanggung jawab, yang telah memberikan laporan pertanggung jawabannya secara periodik, transparan, dan akuntabel. Dia tetap setia dan teguh dalam memegang prinsip bahwa dana untuk pembangunan gereja, harus untuk pembangunan gereja, dan  tidak boleh dipergunakan untuk pembangunan pastoran atau maksud lain. Saya salut atas hal ini.  Saya kira hal ini juga yang membuat orang berani mempercayakan dananya kepada Albert untuk diteruskan ke panitia pembangunan di paroki yang membutuhkan.

Pada bagian akhir tulisan saya ini, saya hendak menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada Albert, dan anda sekalian yang telah turut bersimpati dan peduli pada kehidupan rohani banyak umat di banyak wilayah Indonesia. Secara khusus, atas nama umat di KAME, saya menghaturkan banyak terima kasih. Semoga anda sekalian mendapat karunia Allah yang makin berlimpah. Berkat Tuhan untuk anda semua.


Sintang-Pontianak, 23 Maret 2017

Minggu, 19 Maret 2017

KARYA SILIH

 PEMBACA YANG BUDIMAN

Berbagi adalah satu langkah (tindakan) baik yang merupakan buah dari pemikiran, keyakinan dan keputusan yang akan menggembirakan dan meneguhkan diri pribadi, dan mengembangkan “suasana sukacita bagi banyak orang dan dunia”. Berbagi adalah pengertian yang biasa dan mudah dimengerti, namun sulit untuk dilaksanakan, karena pada jaman sekarang ini mempunyai pemikiran dan keputusan seperti ini, sangat tidak populer dan menentang arus jaman.

Pada dasarnya dan pada umumnya, orang lebih suka diberi dari pada memberi, lebih suka dilayani daripada melayani. Apalagi bila apa yang dilakukannya itu, tidak dibayar, tidak dihargai, sulit dan harus dikerjakan sendiri. Terlalu banyak tantangan yang menghadang. Namun, bila dilakukan terus, dan terus-menerus dengan hati tenang dan rela, buah-buahnya akan dirasakan oleh banyak orang, dan kemudian akan “mengangkat pribadi orang yang melakukannya” meskipun bukan ini yang menjadi tujuannya. Apa yang dibuatnya itu akan diakui dan diagungkan oleh orang lain, setelah jangka waktu yang panjang, atau sesudah orang itu meninggal dunia.

Dalam tulisan ini, saya menyuguhkan kepada pembaca, tulisan seorang rekan yang berbagi pengalaman dan buah permenungannya kepada kita. Buah permenungan itu berkaitan dengan “silih” / ‘karya silih’. Moga-moga pembaca mendapatkan inspirasi atau menemukan mutiara kasih di dalamnya.  Selamat membaca. 

 Rekan saya menulis:  

Terimakasih atas refleksi John mengenai “Hati Yesus yang tertikam” dan “Reparasi” atau “Karya Silih”. Refleksi yang sangat kaya dan bagus!  Apa yang saya tulis di bawah ini,  mohon jangan dibaca sebagai kritikan terhadap pandangan John, tetapi sebagai ‘sharing’ saya mengenai “Karya Silih” atau ‘reparasi’, sebagaimana  menurut pandangan saya dilihat oleh P. Chevalier dan beberapa orang dewasa ini.

Dalam sebuah alinea di bawah judul: “Menuju Peradaban Cinta” dalam buku saya “Karisma Jules Chevalier dan Identitas Keluarga Chevalier”, (Percikan Hati 2013, p. 104-105) saya menulis sebagai berikut:

“Bagi Chevalier “karya silih” itu bukan hanya suatu bentuk doa, tetapi suatu cara hidup. Chevalier menggunakan istilah “menapaki jalan”. Hal itu, ia katakan, mencakup beberapa hal, yakni: memperdalam pengetahuan akan cinta kita kepada Hati Kudus Yesus, sembah bakti, syukur dan permohonan, “bersama dengan pelaksanaan perutusan kita dalam kesatuan dengan Yesus”.  Dennis Murphy MSC menggambarkan “karya silih” sebagai “suatu cara hidup, yakni hidup yang diubah oleh cinta, hidup yang berpartisipasi dalam cinta Yesus yang menebus, hidup untuk melayani ketimbang cinta diri.”  Ia mengutip Paus Johannes Paulus II yang pernah menulis: “peradaban cinta, dimana Hati Kudus meraja, akan mampu dibangun di atas puing-puing yang terakumulasi oleh sebab-sebab kebencian dan kekerasan. Ini … adalah  “karya silih” yang diminta oleh Hati Sang Penyelamat.”    

Visi lama mengenai ‘reparasi’ atau ‘karya silih” bertitik-tolak dari pandangan lama, bahwa kita harus menyenangkan hati Allah dengan melaksanakan karya-karya baik dan, supaya hati Allah tetap ‘senang’, kita harus memperbaiki (reparasi!) kelakuan buruk dari diri sendiri dan orang lain. Tidak ada apa-apa yang salah dengan pandangan tradisional itu!

Namun, pandangan Paus Johannes II, Dennis Murphy dan orang-orang lain dewasa ini bertitik-tolak dari kenyataan bahwa bukan kita yang harus menyenangkan hati Allah, supaya kita dicintai oleh Allah, melainkan bahwa pertama-tama Allah mencintai kita dan setiap manusia seadanya (1 Joh. 4:10) atas cara yang tak bersyarat. “We are loved sinners”. Kita adalah orang-berdosa yang dicintai. Berkat Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati kita (Roma 5:5) – Roh cinta dan belaskasihan –. kita berpartisipasi dalam cinta Allah kepada manusia. Kita melaksanakan “karya silih” dengan ikut dalam karya Roh Kudus yang membuat kita mampu mengampuni dan menyembuhkan keterlukaan orang lain. Dengan demikian di dalam Roh Kudus kita ikut membangun sebuah “peradaban cinta”, khususnya di mana orang menderita akibat kelalaian, sikap acuh-tak-acuh dan perbuatan jahat kita sendiri dan orang lain.   

Demikian saya juga mengerti perkataan P. Chevalier mengenai Hati Yesus yang tertikam: “Dari Hati Sang Sabda yang menjelma dan tertikam di Kalvari, saya melihat sebuah dunia baru lahir…”  Hati Yesus yang tertikam menunjukkan dunia yang terluka berat oleh “sebab-sebab kebencian dan kekerasan” . Allah sendiri di dalam Yesus, bersama dengan kita di dalam Roh Kudus, hendak membangun kembali (reparasi) “puing-puing” ‘dunia yang tertikam ini menjadi sebuah dunia baru.

Terima kasih kepada rekan saya (HK) yang telah menuliskan sharingnya di grup MSC. Semoga kasih Allah dialami oleh banyak orang, dan kita semua menjadi sarana kasih-Nya di dunia yang membutuhkan 'kasih dan pengorbanan' serta karya silih itu.  Marilah kita bersyukur, bahwa kita diperkenankan untuk ambil bagian dalan karya agung Tuhan.  

Kamis, 16 Maret 2017

KUNJUNGAN 5 USKUP DI TANAH MERAH

Para pembaca yang budiman,

Saya hadirkan sebuah cerita untuk anda, tentang kunjungan para gembala umat di Tanah Merah.  Kunjungan ini terjadi tanggal 21 – 23 Februari 2017 yang lalu. Selamat menikmati...dan mendapatkan inspirasi.

Lima uskup dari Tanah Papua: Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura), Mgr. Datus Lega (Uskup Manokwari Sorong), Mgr. Aloysius Murwito OFM (uskup Agats),  Mgr. John Saklil (Uskup Timika), dan Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC (Uskup Agung Merauke) mengadakan rapat tahunan di Tanah Merah.  Tiap-tiap uskup secara bergilir menjadi tuan rumah untuk rapat tahunan itu. Tahun 2016 rapat diselenggarakan di Agats, dan tahun 2017 ini Tanah Merah. Mgr Niko ( demikian uskup Merauke biasanya dipanggil) menjadi tuan rumah.   

Tanah Merah adalah ibukota Kabupaten Boven Digoel. Letaknya 420 km di sebelah utara Merauke. Untuk mencapai tempat ini, masyarakat bisa naik mobil selama 8 – 9 jam, naik pesawat Trigana selama 50 menit, naik pesawat Susy Air selama 1 jam 5 menit, atau naik kapal selama 5 – 6 hari.  Biaya perjalanan dengan mobil Rp. 700 ribu, dengan pesawat Rp. 1,2 juta, dengan kapal Rp. 200 rb.

Mgr. Niko sudah tiba lebih dulu di Tanah Merah, karena beberapa hari sebelumnya telah mengadakan pelayanan krisma di Waropko, dan pemberkatan klinik di Mindiptana. Waropko letaknya 530 km dari Merauke sedangkan Mindiptana letaknya 500 km dari Merauke.  Saat ini kondisi jalan sedang buruk, sehingga jarak tempuh dari Tanah Merah ke Mindiptana harus ditempuh dengan waktu 2 jam atau lebih, bahkan kalau jalanan terlalu buruk (berlumpur dan berair) bisa 1 hari penuh. Padahal bila jalanan bagus dan kering hanya perlu waktu 1 jam.

Tgl 21 Februari 2017, 4 uskup mendarat dengan pesawat AMA di bandara Tanah Merah.  Mereka disambut oleh Mgr. Niko, Bupati dan Wakil bupati Boven Digoel, Kapolres Tanah Merah, Dandin, Dansatgas dan para pejabat teras Kab. Boven Digoel. Tidak ketinggalan, anak-anak sekolah, para guru dan pegawai pemerintah serta masyarakat pada umumnya tumpah ruah di sekitar bandara. Anak-anak sekolah sudah sejak 8 pagi bersiap diri di sepanjang jalan menuju bandara dengan memakai pakaian seragam sekolah. 

Para uskup mendapatkan pengalungan bunga, disambut para pejabat daerah, umat dan masyarakat dengan antusias dan amat meriah. Sesudah berganti jubah, setiap uskup naik di bak mobil terbuka dan konvoi diarak dari Bandara menuju ke pastoran. Sebetulnya jarak itu hanya 1 km, namun karena begitu meriahnya sambutan dari umat dan masyarakat, perjalanan perarakan itu memakan waktu 30 menit.  Mobil dari dinas Informasi dan Komunikasi memperdengarkan lagu-lagu rohani untuk mengiringi perjalanan arak-arakan ini. Umat dan masyarakat yang ada di kiri dan kanan jalan melambaikan tangan / bendera Vatikan dan bendera merah putih, serta tersenyum bahagia dan penuh sukacita.


“Kami rindu para gembala kami. Apalagi belum pernah terjadi bahwa 5 gembala dari Tanah Papua, mengunjungi tanah kami, ini untuk yang pertama kali, dan bagi kami kunjungan ini adalah berkat” demikian ungkapan banyak orang dan wakil umat ketika memberikan sambutannya.  Mereka menyampaikan hal itu ketika ada ramah tamah di gereja stasi Wet, Gereja katolik kilometer 1 dan di gereja katolik kilometer 6.

Kunjungan para uskup bukan saja dilihat sebagai kunjungan pemimpin gereja setempat (keuskupan masing-masing), namun sebagai “gembala” umat katolik di mana pun mereka berada. Umat Allah disatukan oleh para gembala dalam iman, harap dan kasih. Melalui para uskup, umat Allah disatukan oleh Kristus sendiri, sebagai gereja (umat Allah) yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dalam Kristus dan Gereja Katolik, uskup dari  tempat lain adalah uskup / gembala bagi umat setempat juga. Dan melalui para uskup, Gereja Setempat disatukan dengan Gereja Roma. Dengan demikian, gereja setempat adalah bagian dan satu kesatuan utuh dengan Gereja Universal yang dipimpin oleh Paus. Itulah sebabnya, berkat yang diterima oleh umat Allah diyakini makin berlimpah karena kehadiran 5 uskup itu mewakili berkat dari seluruh Gereja Lokal.



Para uskup juga membagikan pengalaman mereka pada saat ada pertemuan umum dengan umat Allah di 6 tempat ( Umat Tanah Merah, Umat Wet, Umat Kilo satu, Umat Kilo Enam, Umat Wakariop, Umat Mindiptana).  Di tiap-tiap tempat, jumlah umat yang hadir sangat luar biasa. Umat mengalami berkat, para uskup pun mengalami berkat Tuhan yang tersalur dari diri umat-Nya. Ketika memberikan sambutan, Mgr Leo mengatakan: “Satu kata yang bisa saya ungkapkan pada saat ini adalah LUAR BIASA”.  Memang para uskup disambut dalam suasana luar biasa. Makan minum tersedia dengan amat baik, bagaikan hidangan yang dibeli di restoran, padahal semuanya disiapkan oleh umat Tanah Merah.


“Barang siapa menyambut seseorang dalam nama-Ku, dia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, dia menyambut Bapa yang mengutus Aku”. 

Selasa, 14 Februari 2017

PESTA 2 FEBRUARI

PEMBACA YANG BUDIMAN

Tulisan kecil ini muncul ketika saya merayakan ekaristi di Seminari Menengah " Pastor Bonus"  Merauke. Di sana ada 25 orang calon pastor.  Inilah sharing saya di sana, pada hari itu. 

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Februari. Misa mulia namun sederhana diadakan di Seminari Pastor Bonus, bersama-sama dengan anak-anak seminari. Yang menjadi pokok renungan adalah “Yesus makin bertambah besar, makin kuat dan makin bijaksana, serta makin dikasihi Allah dan manusia”. 

Pada waktu dipersembahkan di kenisah, Yesus baru berumur 40 hari.  Kedua orangtua-Nya (Yoseph dan Maria) telah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara persembahan. Sebagai keluarga tukang kayu, mungkin sekali mereka membawa sepasang tekukur atau burung merpati, sebagaimana yang dipersyaratkan untuk hari suci itu.  Mereka terheran-heran oleh sambutan Imam Agung Simeon, yang mengucap syukur atas telah terkabulnya permohonannya.

Sesudah hari-hari suci itu, kedua orangtua kembali ke kampung halamannya yaitu ke Nazareth. Pendidikan dan pembinaan diberikan setiap hari kepada Kanak-kanak Yesus, tentang nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, latihan ketrampilan, kunjungan keluarga, doa bersama, membaca kitab suci dll. Apa yang mereka tanamkan setiap hari itulah yang dilaksanakan dan diteruskan oleh Yesus, yang makin hari makin bertambah usianya. Kedua orangtua punya peran penting dalam kehidupan Yesus, sehingga Dia makin bertambah besar, makin kuat, dan bertambah hikmah-Nya, serta makin dikasihi Allah dan manusia.

Seminari adalah tempat pembinaan / persemaian  bibit para calon imam.  Sebagaimana yang terjadi di keluarga-keluarga, di seminari pun anak-anak seminari diberi pembinaan, latihan, dan bekerja agar makin terlibat dan tahu apa yang harus dikerjakan setiap hari. Pelajaran budi pekerti, nilai-nilai kerohanian, dan kejiwaan ditanamkan dan diteladankan oleh para pembina, agar kelak mereka menjadi manusia yang baik, bijaksana, dewasa dan dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab. Apa yang diberikan setiap hari, merupakan bekal penting, agar mereka ketika melakukan semuanya itu bukan lagi karena aturan, terpaksa atau disuruh, tetapi dengan sebuah kesadaran pribadi. Pekerjaan dan kegiatan harian merupakan pelaksanaan dan perwujudan pribadi mereka yang hendak mengabdi, melayani dan menyalurkan minat, bakat, talenta dan kekuatan yang ada padanya.

Demikian pula para orangtua, dari keluarga manapun, menanamkan dan meneruskan apa yang mereka punyai kepada anak-anaknya. Mereka membekali anak-anak agar kelak anak-anak itu mempunyai bekal dan dapat hidup dan berkembang sesuai dengan talenta, minat dan kekuatan serta kepribadian mereka kepada masyarakat.  Ketika sudah dewasa, anak-anak itu tidak lagi tergantung pada orangtuanya, tetapi dapat hidup mandiri bahkan mengembangkan apa yang telah ditanamkan orangtua atau apa pun ditemukan dalam perjalanan hidup mereka.

Bagi para beriman katolik, keluarga kudus Nazareth ( Yusuf, Maria dan Yesus) merupakan teladan bagi keluarga-keluarga sekarang ini. Baik sebagai pribadi-pribadi, maupun sebagai keluarga, mereka dipenuhi kasih karunia Allah.  Kedekatan dengan Allah yang mereka wujudkan dalam hidup dan relasi serta komunikasi satu sama lain, membuahkan rahmat yang begitu banyak. Semoga kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, mendapatkan rahmat yang berlimpah sebagai buah dari kedekatan kita dengan Allah dan meneruskannya kepada sesama.