Kamis, 28 Mei 2015

PENGALAMAN KECIL

PEMBACA YANG BUDIMAN

Kali ini saya menyapa anda melalui pengalaman kecil yang saya dapatkan ketika berada di Thailand. Tampaknya hanya sederhana, namun bisa direnungkan tokh ada makna yang baik, yang dapat dipetik. Silakan anda menikmatinya.

Ketika saya berada di Thailand, saya mengirim sms ke beberapa rekan di Indonesia. Sesudah beberapa waktu, pengiriman sms gagal terus. Lalu saya cek cadangan pulsa saya. Ternyata jumlah pulsa sudah tidak mencukupi. Sesudah saya periksa lebih teliti, saya mendapatkan informasi dari telkomsel sbb:

Biaya kirim 1 sms dari Bangkok tanah air Rp. 17.000 ,- begitu pula kalau terima sms juga membayar dengan biaya yang sama. Padahal biaya pengiriman sms di dalam negeri umumnya Rp. 100,-. Begitu besar perbedaannya, sehingga terasa mahal sekali. Hal ini bisa dimengerti karena ketika warga Indonesia sedang berada di luar negeri dan mengirim sms ke Indonesia, mereka meminjam satelit / jalur komunikasi negara lain. Biaya meminjam alat komunikasi negara lain memang amat mahal, sehingga semua dibebani biaya itu. Sementara itu, bila menggunakan nomor telepon negara tersebut dengan membeli nomor baru di sana, biayanya menjadi lebih ringan, yaitu sekitar Rp. 3000,- per sms.

Mengapa orang asing harus membayar mahal ?  Saya berpendapat bahwa orang ketika berada di negara lain adalah orang asing dan dianggap punya banyak uang. Dia / mereka siap untuk membayar apa saja yang diperlukan. Orang asing juga harus membayar pajak di negara yang dikunjungi. Negara itu memperoleh pendapatan dari kunjungan orang asing. Maka, semakin banyak menerima kunjungan orang asing, negara itu semakin banyak mendapat uang. Itulah sebabnya, banyak negara membuka pintu bagi para turis / wisatawan asing agar makin banyak uang mengalir ke negara itu. Dengan kata lain, turis membawa rejeki, dan memungkinkan pemerintah / pihak swasta negara itu untuk membuka lapangan kerja bagi warga negaranya.

Saat ini di banyak tempat orang dengan mudah mendapatkan apa yang dibutuhkan. Di bandara-bandara internasional, juga dengan mudah orang dari pelbagai negara membeli kebutuhan saat itu, atau oleh-oleh untuk orang-orang terkasih di tanah air. Saat itu, saya butuh air minum dan roti karena belum makan siang. Di sekitar ruang tunggu di kompleks bandara, ada banyak toko yang menyediakan keperluan itu. Meski harus terlebih dahulu menukarkan mata uang, keperluan ini pun dengan mudah dijawab. Tidak jauh dari tempat itu, ada tempat penukaran uang.

Meski di luar negeri, kemudahan itu disediaka, sehingga orang merasa nyaman, sekan-akan ada di negeri sendiri. Orang dari pelbagai negara, mengalami “kesatuan, kenyamanan, dan perlakuan yang layak” agar kehidupan yang amat berharga itu dapat berlangsung terus. Kesan dan pengalaman yang baik ini, akan menjadi buah percakapan, dan akan memberikan nilai tambah / nilai baik kepada negara yang menyiapkan kebutuhan sesamanya.

Keamanan dan rasa diperlakukan sepantasnya, merupakan kebutuhan dasar bagi  setiap orang. Saya mengalami bahwa meski ada perbedaan dalam bahasa, bangsa, budaya, dan juga agama, semua perbedaan itu telah dijembatani oleh “kasih, pengorbanan, dan pelayanan dan kesama-manusiaan”. Di sisi ini, tampak nyata bahwa manusia dari bangsa manapun ada sesama manusia seperti dirinya, yang pantas diperlakukan dengan baik dan cara yang bermartabat.

Meski tidak diungkapkan dengan kata-kata, semua tindakan / perbuatan baik itu adalah tindakan Allah yang hendak dan selalu memelihara dan melindungi anak-anak-Nya. Di mana ada cinta kasih, di situ Allah hadir dan bekerja melalui umat-Nya. 

Senin, 18 Mei 2015

SEWAKTU SAYA KECIL

PEMBACA YANG BUDIMAN 


 Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kiriman bbm. Isinya mengungkapkan kekaguman, hormat dan syukur atas sebagian dari apa yang dialaminya. Tentu ungkapan itu amat sederhana, namun bila direnungkan dan diresapkan, terkandung di dalamnya “butir-butir mutiara yang hidup sepanjang jaman”.  Rasa batin manusia itu, hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata yang serba terbatas, namun mencerminkan suatu kesatuan jiwa dengan pencipta-Nya”.  Saya haturkan kepada anda, untaian kata-kata itu.....yang  mungkin bagi sebagian orang amat  sederhana atau amat sentimental, atau apa pun tanggapan anda.... namun mungkin juga mewakili apa yang anda alami. Mari kita simak isinya:

“Sewaktu saya kecil, Tuhan membiarkan saya imut supaya Dia bahagia melihat kepolosan dan kelucuan saya. Sewaktu aku remaja dia mendandaniku dengan kelangsingan supaya Dia meemandang keindahan / kejelitaan citra-Nya. Sewaktu saya menjelang tua, Dia melimpahkan berkat-Nya menjadikan saya gemuk / tambun agar Dia melihat  anugerah-Nya yang senantiasa  segar di hari-hari yang  Tuhan berikan kepada saya. Tuhan saya bersyukur untuk segala anugerah-Mu”.

Jauh sebelum ungkapan itu lahir, telah ada ungkapan manusia atas kebaikan, kekaguman, dan syukur atas apa yang diberikan Tuhan Sang Pencipta kepadanya.  Pernyataan itu tertulis dalam Mazmur  8: 2-10 yang berbunyi:

“8:2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 8:3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 8:4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 8:5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 8:6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 8:7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: 8:8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; 8:9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. 8:10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”.

Kebesaran, keluhuran, kebijaksanaan Allah dan kekaguman manusia akan lebih kentara dan terasakan oleh manusia yang sering bersentuhan, berkegiatan dan berhadapan langsung dengan alam semesta ( hutan, sungai, laut, pepohonan, gunung dll ) serta ciptaan yang bergerak dan bernyawa  ( sapi, ikan, burung, binatang peliharaan dll ) dan sesama manusia. Mereka yang biasanya hidup dengan alam, tanaman, dan bergaul dengan sesama, akan lebih peka pengalamannya akan keindahan, keaslian, dan “gerakan roh manusia” serta Roh Allah, daripada mereka yang tiap hari bersentuhan dengan mesin dan benda mati.

Mereka yang bergaul dan bekerja di antara benda-benda mati, mesin dan alat-alat bantu yang tidak bisa menjawab pertanyaan, sering “gembira dan terikat serta terpuaskan” akan hasil kerja yang tidak bisa secara langsung tersenyum, berwajah cerah dan mengucapkan terima kasih. Akibatnya, di kedalaman dirinya ada “kehausan” akan keceriaan hidup, kegembiraan batin, serta relasi antar pribadi yang menyejukkan dan dapat memberikan semangat lebih besar untuk “terjun dan berjuang di tengah-tengah dunia ini”. Mereka menjadi asing dengan dirinya sendiri, dan sesama. Bahkan bisa terjadi bahwa dirinya telah menjadi “robot-robot modern” yang dikontrol oleh barang-barang dunia dan alat-alat elektronik. “Sahabat dekatnya” bukan lagi manusia, tetapi alat dan benda mati.

Moga-moga kita bukan salah satu robot jaman moderen ini. Mari kita mohon rahmat dan karunia Roh Kudus, agar kita mendapatkan kekuatan untuk menghadapi tantangan dan tawaran dunia moderen yang amat "menarik mata dan perasaan / kemanusiaan kita". 

Selasa, 05 Mei 2015

27 MARET 2015

PEMBACA YANG BUDIMAN

SAYA HATURKAN CERITA INI UNTUK ANDA. PERISTIWANYA TERJADI LEBIH DARI 1 BULAN YANG LALU........NAMUN PENGALAMAN ITU, TIDAK PERNAH HILANG DARI INGATAN SAYA.  SELAMAT MENEMUKAN BUTIR-BUTIR MUTIARA DI DALAMNYA.

Setelah sekian lama tidak naik sepeda motor (sm),  Jumat tanggal 27 Maret 2015, saya mengendarai sepeda motor Yamaha YT 110, dari Merauke menuju ke Okaba dalam rangka pelayanan paska. Hari itu cuaca cerah, dan jalan-jalan juga kering sehingga kelancaran  perjalanan cukup terjamin.  3 hari sebelumnya, hujan sudah berhenti.  Keadaan tidak hujan selama 3 hari itu, membuat ruas-ruas jalan yang berlobang dan becek, sebagian besar sudah kering, dan memudahkan untuk dilewati.  Hanya bagian-bagian yang cukup dalam itulah yang masih berair. Bagi mereka yang jarang melewati jalan dalam kondisi seperti itu, “terjebak dalam lobang yang berair” adalah hal yang biasa.

Kami berombongan. Saya memboncengkan Sr Joan, sedangkan fr Boys berboncengan dengan rekan lain, dan fr Fery mengendarai sm-nya sendiri. Barang-barang kami diangkut dengan sm yang lain oleh bapak Adri yang sudah biasa mengadakan perjalanan di daerah itu. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam “karung belah” ( karung / tempat penampungan ini terbuat dari terpal tebal, yang pada jaman dulu dipakai oleh tukang pos, dan ditempatkan di belakang sepeda). Setelah 1 jam perjalanan, kami menyeberangi sungai Kumbe dengan bantuan perahu kayu yang cukup besar. Di wilayah kami, perahu itu disebut “be`lang”.  Biaya penyeberangan per  sm dan orangnya Rp 20.000 ,- . Kemudian kami singgah di pastoran Kumbe. Di sana, pastor Albert dan rekan-rekannya sedang mengerjakan urusan administratif.  Kami menikmati apa yang dihidangkan tuan rumah, dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan dari Kumbe menuju ke pinggir sungai Bian ( tempat penyeberangan ) memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit.  Kami melewati jalan yang saat ini sudah cukup bagus, sampai di desa Domande. Dari Domande, kami menyusur pantai karena air laut sedang surut.  Kami melintasi pasir panjang di sepanjang pantai, dan karena tidak ada hambatan, perjalanan menjadi amat lancar. Pada umumnya masyarakat melewati pantai, ketimbang ikut jalan darat yang sering berlobang dan berlumpur pada musim hujan. Ketika sudah hampir sampai di tempat penyeberangan, kami melihat suatu pemandangan baru. 

Jalan yang mulus itu, dibelah oleh got besar. Air hujan yang besar jumlahnya dan tertampung di rawa, turun ke laut dan menggerus jalan dan bibir pantai.  Lebar got itu lebih dari 5 meter dan berlumpur, sehingga kami tidak mungkin melewatinya.  Syukurlah di sebelah got itu ada jembatan kecil yang memungkinkan kami menuju ke seberang. Jembatan itu adalah  jembatan darurat yang dibuat dari kayu oleh 1 keluarga. Maka, setiap sm yang lewat dimintai pembayaran Rp 10.000 ,-.  Kami melewati jembatan itu kemudian hendak menuju ke warung makan. Maklum waktu saat itu sudah menunjukkan jam 12.30. Kami sudah merasa lapar.

Warung makan sudah dekat, dan kami harus melewati got kecil yang tidak terlalu dalam airnya. Ketika sudah dekat bibir got, saya membuat ancang-ancang supaya sm dapat melewatinya dengan aman. Ban depan sepeda motor saya sudah berhasil naik ke bibir got yang di seberang, tetapi ban belakang ternyata terjebak di lumpur yang agak dalam. Di tempat itu tidak ada tanah yang tinggi untuk tumpuan. Akibatnya sm miring di atas air. Maklum sr Joan masih tetap duduk di boncengan sehingga ban belakang sulit terangkat. Syukurlah kami tidak jatuh....hanya miring di atas air, dan tidak ada kerusakan apa-apa, namun celana panjang kami basah  dan kena lumpur sampai sebatas lutut.

Tibalah kami di warung makan. Ternyata makanan sudah habis. Si empunya warung mengatakan kami harus menunggu 1 jam lagi, bila mau makan. Di warung makan yang kedua pun, makanan sudah habis. Maka, kami membeli minuman beberapa botol aqua. Daripada menunggu terlalu lama, akhirnya kami ambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan, meskipun belum makan siang. 

Di dekat warung makan itulah, terletak tempat penyeberangan.  Wilayah ini milik masyarakat Domande. Kami harus menyeberang melewati sungai besar: sungai Bian dengan menggunakan “belang”. Biaya penyeberangan itu per sm Rp. 125.000 ,-. Belang mampu memuat 5 – 7, namun para pemilik belang sudah sepakat, setiap kali menyeberang mereka hanya mengangkut 5 sm, kecuali penumpang itu berombongan atau hari udah malam, belang mau mengangkut hingga 7 sm.  Hal ini demi keselamatan penumpang.  Karena kami ingin segera sampai ke tempat tujuan, kami mencarter belang itu, dan membayar Rp 625.000 sesuai dengan biaya 1 kali penyeberangan. Lama penyeberangan kira-kira 30 – 40 menit, tergantung saat itu arus air sungai kencang atau tidak. Bila arus kencang, perjalanan menjadi lebih lama.

Tibalah kami di seberang sungai Bian. Wilayah ini milik masyarakat Sanggase. Di tempat ini ada bangunan-bangunan dari papan yang dibiayai Pemerintah sebagai tempat berteduh bagi para penumpang yang menunggu datangnya belang. Amat sering para penumpang harus menunggu belang sampai 4 – 5 jam. Belang umumnya milik masyarakat Domande, sehingga penumpang yang dari Sanggase, harus menunggu belang yang datang dari arah Domande. Padahal di tempat ini tidak ada warung makan atau warung kelontong. Maka, mereka yang akan menyeberang bila tidak membawa bekal, harus menahan lapar. Barulah ketika tiba di tepi sungai Bian bagian Domande, mereka bisa membeli makanan dan keperluan lainnya ( rokok, bensin, solar, olie, supermie dll ).

Kami melanjutkan perjalanan dengan santai. Para frater dan suster belum pernah melewati jalan itu, hanya saya sendiri yang sudah beberapa kali melewatinya. Beberapa ruas jalan tampak kering. Rumput di sepanjang jalan juga subur, sehingga di beberapa tempat rumput-rumput yang cukup tinggi menutup jalan.  Kampung pertama yang hendak dituju setelah menyeberang sungai Bian adalah Sanggase. Ada 5 jembatan agak besar yang harus kami lewati,  dan semua berjalan lancar. Ketika kami memasuki daerah yang becek-becek, kami harus extra hati-hati. Maklum saya sudah lama tidak melewati jalan itu, sehingga tidak tahu kondisinya.

Suster terpaksa harus turun dari sm, ketika melewati jalan yang amat jelek. Lebih baik turun dan aman-aman dari terpeleset dan jatuh di lobang berlumpur.  Kendaraan tidak bisa melaju dengan cepat, hanya 5 – 10 km per jam. Di salah satu ruas jalan yang berlobang-lobang, saya melihat lobang-lobang itu sudah ditimbun dengan rumput. Saya pikir lobangnya juga tidak terlalu dalam. Ternyata ketika saya lewati, lobang yang penuh air dan rumput itu cukup dalam. Mesin sm mati, dan tidak ada tumpuan, sehingga sm miring dan kami hampir jatuh. Syukurlah kaki kanan saya cukup panjang dan berhasil menginjak dasar lobang sedalam 20 cm, sehingga amanlah kami dan sm kami.

Motor tidak mengalami gangguan atau kerusakan apa pun, sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar. Sm frater masuk di lobang yang berair. Mereka tidak jatuh, namun sm tiba-tiba mogok. Mereka men-stater sm tetapi mesin tidak mau hidup. Kemudian mereka mendorong-dorong sm, tetapi mesin tetap tidak mau hidup. Mereka sudah capek dan terengah-engah. Ketika melihat situasi itu, saya mengusulkan ban depan dinaikkan dulu supaya air di dalam knalpot keluar. Kami bersama-sama mengangkat ban depan. Ternyata tidak ada air yang mengalir dari lobang knalpot. Kemudian, busi sm dicopot. Saya menyuruh frater untuk mencopotnya. Dia agak bingung mencari letak busi. Busi berhasil dicopot dan kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Dia kemudian memasang kembali busi itu. Telah beberapa menit dia mencoba memasang, namun tidak berhasil.  Apa yang terjadi ?  Dia memasang busi dengan posisi terbalik. Bagian yang ada drat-nya dia pegang, sedangkan bagian lain yang dia masukkan. Ketika menyadari kekeliruannya, kami semua tertawa...... dia mengakui bahwa itulah pengalaman pertama baginya untuk memegang dan mengenal serta memasang busi.

Setelah melewati jalan-jalan yang sulit, akhirnya tibalah kami di desa Sanggase. Perjalanan yang baru saja dilewati meski hanya sekitar 5 kilometer, ternyata memakan waktu 1 jam. Tangan udah mulai capek dan pegal, maklum sudah sekian jam menggenggam pegangan stang stir sm. Panas terik matahari hari itu amat menyengat bagi kami yang biasanya bekerja di dalam ruangan, sehingga membuat rasa haus sungguh amat terasa.  Sementara itu persediaan air minum kami sudah habis. Kami mencari warung / kios, tetapi tidak ada.

Syukurlah jalanan agak bagus, meski aspalnya sudah terkelupas, namun keras dan kering sehingga amat mudah untuk dilewati. Kami memasuki desa Alatep. Beberapa ratus meter kemudian, kami menemukan 1 kios kecil yang menjual air minum. Air minum dalam kemasan merek apa saja di tempat ini dijual dengan harga sama, rp 10.000,-  Kami membeli 2 botol aqua yang masih ada, dan 3 teh botol. Rasa haus sudah terobati, dan kami melanjutkan lagi ke arah Okaba. Jarak desa Okaba dari tempat ini masih kira-kira 7 – 8 km.

Kami melewati perkampungan kecil yang bernama Kolam. Di sini sekian puluh tahun yang silam para bruder MSC melatih penduduk lokal untuk membuat kopra. Rumah penjaga / mandor kopra yang dibangun pada masa itu masih kokoh berdiri, dan bisa dikatakan terawat dan dihuni oleh penduduk setempat. Ketika para bruder berhenti berkarya di sana, pekerjaan itu diserahkan kepada pengusaha besar yang bernama Bpk Vankan. Beliau meninggal tahun 2006 di Belanda dalam kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu kegiatan membuat kopra dalam jumlah besar berhenti. Produksi kopra hanya kecil-kecilan dan dikerjakan oleh masyarakat setempat. Harga per kg kopra yang sudah kering Rp. 2.000,-.

Memang harga per kgnya terlalu murah, sehingga masyarakat enggan untuk membuat kopra. Mereka lebih suka menjual kepala utuh, karena bila dihitung-hitung mereka akan mendapat uang lebih banyak. Per buah harganya Rp. 500,-  sedangkan per kg kopra harganya Rp. 2000,- padahal mereka harus memecah batok kelapa, mencungkilnya, menjemurnya, dan untuk per kg dibutuhkan 5 buah kelapa. Kalau menjual kelapa kering, mereka tinggal memetik dan menjualnya secara langsung kepada penadah serta langsung bisa mendapatkan uang. Kerjanya sedikit dan dapat uang lebih cepat.
Kami menyusur jalan-jalan berpasir kira-kira setengah jam. Di depan kami sudah kelihatan rumah-rumah dan tiang-tiang listrik. Ini menandakan bahwa kami sudah memasuki desa Okaba. Tidak lama kemudian kami melewati jalan-jalan yang sudah beraspal. Akhirnya kami tiba di pastoran dengan selamat. Capek, panas dan haus menjadi satu, namun semua yang fisik itu seakan tidak terasa ketika kami bertemu dengan Fr. Yulius yang bertugas di paroki itu seorang diri, karena pastor parokinya belum kembali dari perjalanan panjang (pulang kampung).

Hari itu adalah hari J umat, pada masa puasa. Kami persembahkan perjalanan dan kelelahan kami, kehausan dan rasa lapar kami bersama “saudara-saudari seiman” yang sedang menjalani  puasa dan pantang dalam rangka menyambut Paska. 

Minggu, 26 April 2015

KUNJUNGAN SUSTER JENDERAL PBHK KE MERAUKE

PEMBACA YANG BUDIMAN 

SAYA HATURKAN CERITA TENTANG KUNJUNGAN SUSTER JENDERAL PBHK UNTUK ANDA. Meski sedikit, saya berharap tulisan ini memberikan sapaan pribadi kepada anda. Selamat menikmati isinya. 


Sr Marife Mendoza PBHK (Suster Jendral PBHK =Putri Bunda Hati Kudus) bersama asistennya ( Sr Elly PBHK) yang  didampingi Sr Imaculae PBHK (Provinsial PBHK Indonesia) dan Sr. Monika Kaha PBHK (anggota dewan) mengadakan kunjungan ke Merauke selama kurang lebih 1 minggu. Beliau mendarat di bandara Moppa Merauke tanggal 18  - 24 April 2015 yang lalu, dengan disambut oleh tari-tarian khas Marind yang dibawakan oleh muda-mudi Merauke. Beliau mendarat sekitar jam 09.30 pagi dengan pesawat Garuda, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam dari Jakarta.

Sehari sebelumnya beliau mendarat di Jakarta, setelah melakukan perjalanan panjang dari Roma. Itulah perjalanan pertama beliau ke Indonesia, sebagai orang nomor 1 di Tarekat PBHK yang berpusat di Roma. Beliau yang berasal dari Philipina, terpilih sebagai pemimpin PBHK seluruh dunia dalam kapitel umum yang dilaksanakan di Roma pada tahun 2014 yang lalu. Karena itu, ketika mendarat di Jakarta, dan kemjudian ke Merauke, beliau mengatakan rasanya kembali ke kampung halaman sendiri. Cuaca, pepohonan, suasananya, makanan yang disajikan, orang-orangnya mirip dengan orang-orang di tanah air beliau. Hal-hal itulah yang membuat dia senang dan cepat merasa kerasan.

Ketika tiba di susteran PBHK kota Merauke, sebelum memasuki rumah, beliau dan sr Elly mendapat pengalungan bunga dari para suster PBHK senior sebagai tanda / ucapan selamat datang. Suasana persaudaraan dan keakraban sungguh-sungguh terjadi, meskipun berbeda bangsa dan bahasa, namun hati yang penuh sukacita telah menjembatani perbedaan itu. Ucapan selamat datang kemudian dilanjutkan dengan minum sederhana di susteran, kemudian mereka dipersilakan untuk beristirahat. Maklum jarak yang begitu panjang, perbedaan waktu antara Roma, Jakarta dan Merauke membuat “kondisi badan” tidak sesegar seperti bila hanya tinggal di tempat. Istirahat adalah obat yang terbaik untuk memulihkan kondisi badan agar cepat segar kembali.

 Pada sorenya beliau berkunjung ke Uskup Merauke ( Mgr Niko ) dengan didampingi sr Imaculae oleh serombongan suster dari komunitas Merauke. Pertemuan tersebut merupakan “perjumpaan kembali 2 orang bersaudara” karena keduanya mempunyai spiritualitas yang sama, pernah berjumpa dan hidup dalam lingkungan MSC – PBHK yang sama di Manila ( 1999 – 2001 ), dan pernah pula berjumpa di Issoudun - Perancis, tempat lahirnya tarekat MSC dan PBHK pada tahun 2009. Pembicaraan tentu saja diungkapkan dalam bahasa Inggris, karena beliau belum / tidak mengenal bahasa Indonesia, begitu pula Mgr Niko tidak paham betul bahasa Tagalog.

Mgr Niko memberikan informasi tentang luas wilayah keuskupan, perkembangan daerah, keadaan umat, serta tantangan yang dihadapi umat dan masyarakat pada masa sekarang ini. Daerah ini makin maju dan menarik banyak minat bagi saudara-saudari dari daerah yang lain untuk bekerja dan menetap di sini. Sementara itu, pendidikan yang terbatas, transportasi yang kurang memadai, infrastruktur yang amat sulit dan terbatas, membuat perkembangan itu hanya terbatas di kota. Sedangkan di pinggiran dan di pedalaman, perkembangan itu seakan-akan tidak terjadi.

Sementara itu, di pedalaman dan di pinggiran justru jumlah umat katolik amat besar. Meraka membutuhkan orang-orang yang mau berjuang dan tinggal bersama mereka untuk kurun waktu yang lama dan memberdayakan mereka. Jumlah tenaga imam, biarawan-wati sungguh amat terbatas. Maka, bukan hanya menambah jumlah tetapi juga meningkatkan ketahanan mental, kemampuan dan ketrampilan individu untuk membangun dan mengembangan masyarakat sungguh amat penting.  Kerja sama dengan Pemerintah dan semua pihak, perlu dijalin dan dipupuk serta dikembangkan terus.
Para suster telah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan suster Jendral, dengan terlebih dulu tiba di Merauke. Mereka datang dari Bupul, Tanah Merah, Bade dan Kepi serta Eci. Maka yang terkumpul di Merauke sekitar 32 orang. Ada yang tiba via jalan darat, ada yang tiba dengan pesawat dari pedalaman. Mereka menunjukkan kesatuan dan kegembiraan atas kunjungan pimpinan tertinggi mereka.

Kunjungan itu memang menggembirakan, dan memberikan pencerahan. Salah seorang suster mengatakan: ”Kami bagaikan tanaman yang sudah mulai layu. Kunjungan suster Jenderal merupakan air yang memberikan kesegaran dan kekuatan kepada kami”. Demikian pula suster Jenderal menyampaikan bahwa  beliau juga mendapatkan kesegaran, informasi dan inspirasi melalui perjumpaan, makan bersama, wawancara, dan kunjungan ke beberapa tempat. Beliau juga mengucapkan banyak terima kasih, atas penerimaan, keramahtamahan, kerja keras, pelayanan (mencucikan dan menyeterikakan pakaian), juga atas makan minum yang disiapkan. Selain menggembirakan, kunjungan juga membuat  fisik terasa lelah.  Kelelahan fisik tentu akan cepat pulih karena pengalaman akan kegembiraan itu jauh lebih indah maknanya.

Dari Roma, beliau datang untuk mengunjungi, mengenal dan memahami situasi para anggotanya. Beliau mau makan minum seadanya, dan mendengarkan satu per satu pengalaman dan harapan mereka. Kehadiran, pengorbanan, sapaan dan pesan-pesan  yang beliau sampaikan pada kesempatan istimewa ini sungguh amat berharga dan menjadi bekal dan gugahan yang baik dan kuat untuk mengembangkan mental dan kepribadian serta iman saudari-saudari se tarekatnya.






Rabu, 15 April 2015

BERKAT TUHAN SELAMA 11 TAHUN

PEMBACA YANG BUDIMAN

Melalui blog ini, saya ingin berbagi cerita tentang berkat dan karunia Tuhan yang diberikan kepada banyak orang dengan perantaraan saya. Saya menyadari bahwa tanpa Dia dan perlindungan yang diberikan-Nya, tidak mungkin semuanya ini terjadi. Ada begitu banyak saudara dan saudari yang telah menjadi tanda nyata kasih Tuhan kepada saya, dan kemudian kepada umat yang dipercayakan kepada saya. Tidak ada kata lain selain syukur yang dapat saya panjatkan kepada-Nya. Inilah cerita saya untuk anda:


Di KAME sudah ada banyak tarekat yang berkarya di bidang pendidikan dan kesehatan. Tarekat-tarekat yang berkarya adalah:
  1. Puteri Bunda Hati Kudus sejak 1928
  2. Puteri Renha Rosari sejak 1993, bekerja di Merauke dan Mindiptana
  3. Tarekat OFM sejak 2001, bekerja di Bade
  4. Sr KSFL (Kongregasi Suster Fransiskanes Santa Lucia) sejak 2005, bekerja di
    Merauke dan Semangga II
  5. sr KYM (Kongregasi Yesus dan Maria) sejak 2006, bekerja di Merauke, Kurik dan
    Tanah Merah.
  6. sr ALMA ( Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) sejak 2005, bekerja di Merauke,
    di Tanah Miring dan Mindiptana
  7. Bruder Maria Tak Bernoda ( MTB ) sejak 2008 di Merauke
  8. Tarekat Maria Mediatrix ( TMM ) di Kampung Baru dan Buti sejak 2009
  9. Tarekat Jesus Maria Joseph ( JMJ ) sejak 2008 di Gudang Arang
  10. Tarekat Penyelenggara Ilahi di Kepi sejak 2009
  11. Kongregasi Suster Santo Yoseph di Kimaam sejak 2010
  12. Tarekat FSE ( Fransiskanes St. Elisabeth ) di Muting sejak 2012
  13. Tarekat SVD sejak 2012 di Nasem ( 15 km di selatan Merauke ) dan di Merauke

Selain itu, saya juga mendirikan Tarekat Bruder Gembala Baik (GB) tahun 2007. Pernah ada calon berjumlah 5 orang. Satu per satu mereka mengundurkan diri. Tahun 2013 ada 1 yang mengikrarkan kaul sementgara. Setelah 2 x pembaharuan kaul, dia mengundurkan diri tanggal 22 Janurai 2015 yang lalu. Setelah berjalan sekian tahun dan membuat meditasi yang serius, saya terdorong juga untuk mendirikan Tarekat Suster Putri Gembala Baik (PGB), tahun 2014. Saat ini, ada 1 aspiran bruder GB, dan 2 aspiran PGB.Untuk pembinaan awal ini, saya dibantu oleh Sr. Maura TMM, dan saat ini dibantu oleh Sr. Petronella PBHK. Moga-moga tarekat ini akan beekembang pesat dan membantu pelayanan bagi putra dan putri Papua. 

Saat ini, KAME mempuyai 30 calon imam projo (frater). Mereka studi di Abepura – Jayapura. Dari jumlah itu, frater projo yang sedang menjalani tahun pastoral sebanyak 10 orang. Sementara itu, yang juga sedang menjalani tahun pastoral adalah 2 Frater MSC dan 2 frater SVD. Inilah jumlah yang amat menggembirakan. Moga-moga mereka tetap setia dan menjadi imam-imam yang baik. Bisa saya informasikan bahwa jumlah frater projo yang sedang studi di Abepura, dari 5 keuskupan di tanah Papua berjumlah 150 orang. Frater OSA berjumlah 30 orang dan Frater OFM kira-kira 25 orang. Jadi total frater yang studi di STFT (sekolah tinggi filsafat teologi) – Abepura kurang lebih 200 orang.


Komunitas PBHK Kepi
  1. Komunitas Kepi sudah punya sumur sendiri. Sumur ini adalah sumur bor yang dibuat akhir tahun 2014, dan telah menghasilkan air yang baik. Sumur ini akan menjamin kebutuhan air minum, sepanjang tahun. Diperkirakan pada musim panas, mereka tidak akan kekurangan air seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
  2. Suster Komunitas Kepi juga sudah tinggal di rumah yang baru. Rumah yang lama dibongkar total. Semua tinggal kenangan..... Dan sekarang di sana ada 6 kamar yang besar-besar dan kapel yang luas. Susteran yang baru itu dibangun dengan biaya Rp 600 juta oleh keuskupan.
  3. Untuk kehidupan komunitas, suster di Kepi punya usaha air minum. Per hari dihasilkan air minum sebanyak 55 galon. Harga air per galon Rp. 14.000. Jadi per hari suster dapat rejeki Rp. 220.000 ,-
  4. Komunitas PBHK Kepi mendapat bantuan dari Pemda Kepi untuk membangun rumah baru. Susteran baru sedang dibangun, letaknya di jalan menuju ke Agham, kira-kira 3 km dari pusat kota Kepi. Di sana sudah banyak pendatang yang membangun rumah di sepanjang jalan. Memang kota Kepi berkembang ke arah selatan. Diperkirakan jumlah penduduk yang ada di sekitar itu, baik yang katolik, protestan maupun non kristen kira-kira 2.000 – 2.500 orang.

Komunitas MSC Kepi

  1. Dalam rangka kunjungan Duta Vatikan tahun 2009, telah dibangun 1 unit ( 2 kamar). Ketika itu direncanakan Duta akan menginap di Kepi, namun ada perubahan sehingga Duta menginap di Tanah Merah.
  2. Juga karena ada frater-frater pastoral, baik frater MSC maupun projo, jumlah kamar di Kepi kurang. Karena itu, dibangun juga 1 unit baru ( 3 kamar) dengan bantuan dana dari pemerintah daerah Kab. Mappi untuk keperluan itu.
  3. Pada musim panas, masyarakat kepi kekurangan air bersih. Sedangkan air di kali Obaa, makin hari makin kotor karena limbah dari kapal, speedboat dll. Air kali Obaa sekarang ini tidak layak untuk diminum, padahal 20 tahun lalu, masyarakat dengan mudah minum air itu. Untuk mengatasi kekurangan air, kevikepan telah membuat sumur bor, di dekat kamar mesin listrik, di belakang gereja paroki. Kedalaman sumur itu kira-kira 40 meter. Sekarang ini, air sudah didapat dan pada musim kering persediaan air bersih akan tetap terjamin. Biaya pembuatan sumur bor ini Rp 45 juta.
  4. Agham telah menjadi kuasi paroki, 3 tahun yang lalu. Pastor paroki di sana adalah pastor Igo Sarkol MSC. Umat di Agham makin maju. Di sana ada juga tempat ziarah yang bagus.

Asrama Kizito Kepi

Asrama ini dikelola oleh para suster Penyelenggara Ilahi ( Semarang ). Ada 2 suster yang bekerja di Kepi. Anak-anak laki-laki di asrama ini berjumlah 19 orang. Mereka duduk di kelas IV – VI SD. Beberapa di antara mereka adalah anak SMP. Memang kami memilih anak-anak yang masih SD supaya kualitas pendidikan mereka menjadi lebih baik. Pada sore hari, suster Jeanne PI memberikan les kepada anak-anak di bidang matematika. 

Asrama ini juga membuat sumur bor, dengan bantuan dana dari PJNS dan dari RD. Titus. Pada tahap pertama, yang dikerjakan secara manual, petugas lapangan gagal mendapatkan air. Akhirnya kontrak dengan pemborong itu dihentikan. Pada tahap kedua, dipanggil pemborong baru dan menggunakan bor mesin. Dengan bantuan mesin bor ini, sekarang sudah diperoleh sumur bor. Maka, mulai saat ini kebutuhan air bersih untuk asrama pada musim kering sudah terjamin.

Katolik Center
Pemda Kab. Merauke telah memberikan tanah seluas 5 hektar. Di atas tanah itu akan dibangun Katolik Center ( gereja, pastoran, dan aula untuk pembinaan umat dll ). Dana yang telah dikeluarkan sebesar Rp. 6 milyard. Pembangunan masih sedang berjalan. Tahun 2016 diperkirakan seluruh bangunan sudah selesai. Kompleks ini letaknya 4 km dari pusat kota Kepi.

Gedung Gereja Baru di wilayah Keuskupan Agung Merauke

Pemerintah Daerah membantu pembangunan gereja baru. Ada gereja-gereja yang dibangun dengan dana pemerintah seluruhnya, tetapi ada banyak yang dibantu dengan dana Rp. 200 juta. Gereja yang dibangun dengan dana pemerintah secara penuh adalah:
  1. Gereja di Tanah Merah, letaknya 6 km di luar kota, ke arah Mindiptana. Dana yang telah dikeluarkan untuk pembangunan itu Rp. 9 milyar
  2. Gereja di Kuda Mati. Gereja dibangun 2 tahun yang lalu dengan biaya Rp. 5 milyard. Direncanakan tahun 2015 selesai.
  3. Gereja di Eci, dibangun dengan dana Rp. 7 milyard
  4. Gereja di Aboge dengan dana Rp. 7 milyard

Rehab Gereja
Ada lebih dari 15 gereja di Kabupaten Merauke yang direnovasi dengan bantuan dana dari Pemerintah sebesar Rp. 200 juta. Sudah ada banyak yang selesai, sedangkan 50 persen belum. Tahun ini akan diberikan bantuan untuk merenovasi 15 gereja, masing-masing dengan dana Rp. 200 juta.

Pendidikan
Selain bangunan fisik, saya menginformasikan bahwa kualitas pendidikan di sekolah-sekolah katolik di kota Merauke sudah meningkat pesat. Dalam evaluasi yang dilakukan oleh accessor, sekolah-sekolah kita mendapat nilai A dan B. Begitu pula di Kimaam, SD dan SMP di sana dipuji oleh Pemda. Di Tanah Merah, suster Vianey KYM telah membawa perubahan dalam mutu pendidikan. Mereka menjadi kebanggaan masyarakat dan umat katolik. 

Saat ini, ada 5 calon dokter yang diberi beasiswa dan sedang studi di Jakarta. Seorang di antara mereka adalah putri muyu. Ada 15 calon perawat, mereka anak-anak asli berasal dari Bade, Mindiptana dan Merauke. Mereka (11 orang) studi di Tomohon Sulawesi Utara dan 2 orang di Makasar. Yang sudah tamat 5 orang tahun 2014, dan saat ini sedang mencari pengalaman kerja di rumah sakit katolik di Sulawesi utara. 6 orang akan tamat tahun 2015 ini.

Saya yakin masih akan ada banyak berkat dan karunia yang diberikan Tuhan kepada saya melalui banyak saudara. Salah satunya dari pembaca blog ini. Semoga anda tetap diberkati dan menjadi saluran kasih Tuhan kepada sesama.

MENYAPA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Beberapa waktu yang lalu, hati ini tergerak untuk menyapa para misionaris yang telah berjasa dan berkorban besar bagi pembangunan dan pengembangan manusia di tanah Papua ( Irian Jaya). Mereka ada yang berusia 75 th sampai 85 th bahkan ada yang mendekati 90 tahun, dan kini tinggal di wisma Lansia Notre Dame – Tilburg - Belanda. Sebagian lain sudah meninggal. Hidup mereka dibaktikan di tanah orang yang kemudian orang-orang menjadi bagian hidup mereka. Maka berita dan cerita dari tanah Papua ini sangat menarik dan mengembalikan memori mereka. Apa yang saya tulis untuk mereka, saya sajikan untuk anda. Selamat menikmati.



Merauke, 17 Maret 2015

Ytk. Para Konfrater MSC ( Pater dan Bruder )
Para Suster PBHK
di Tilburg

Syaloom

Sudah cukup lama saya tidak mengirim berita kepada anda sekalian. Memang akhir-akhir ini, kegiatan saya cukup padat, sehingga sering pergi ke luar Merauke baik untuk rapat maupun untuk kegiatan pelayanan di pedalaman. Saya sehat-sehat dan tetap gembira, semoga anda sekalian juga tetap sehat dan gembira, meski usia bertambah. 

Sepanjang tahun 2014, saya berkeliling ke banyak wilayah di Keuskupan Agung Merauke, untuk menerimakan sakramen krisma. Paroki-paroki yang dilayani adalah Katedral, Kuper ( 15 km dari Merauke), SP-7 Tanah Miring, Tambat, Tanah Merah, Bampel, Buti, Kepi, Aboge, Muting, Bupul, Sang Penebus, dan Makaling – Okaba. Jumlah seluruh peserta adalah 1.163 orang. Sering sebelum penerimaan krisma, ada banyak pasangan yang dinikahkan. Itulah tanda rahmat yang besar bagi kita semua. Mereka yang belum menikah, berbondong-bondong mau menerima berkat secara gerejani sehingga pesta krisma merupakan pesta umat. Layak, kita bersyukur atas anugerah besar itu. 

Luas wilayah Keuskupan Agung Merauke ( KAME) tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Yang berubah adalah keputusan Pemerintah Pusat tentang Pemerintahan Daerah. Sejak tahun 2000, wilayah KAME meliputi 3 kabupaten: Kab.Merauke dengan ibukota Merauuke, Kab Mappi dengan ibukota Kepi, dan Kab. Boven Digoel dengan ibukota Tanah Merah. Dengan demikian, di wilayah KAME, ada 3 orang Bupati. Bupati Merauke beragama katolik, berasal dari Kimaam. Bupati Mappi juga beragama katolik, berasal dari Aboge, dan Bupati Boven Digoel beragama protestan, berasal dari Biak. 

Dengan lahirnya kabupaten-kabupaten baru, Bupati-bupat juga giat untuk mencari tenaga kerja dan mengundang para investor. Itulah sebabnya, di hampir semua wilayah, datanglah banyak orang dari segala penjuru untuk menjadi pegawai pemerintah ( Pegawai Negeri Sipil ), para pedagang dan para pengusaha mebel, pengusaha bengkel dll. Juga di wilayah ini telah masuk lebih dari 12 Investor Perkebunan Sawit. 

Daerah Umap dan Kombut ( Mindiptana) telah ada jalan mobil yang menghubungkan Merauke, Asiki, Kali Muyu, Umap dan Kombut. Pada musim panas, mobil sudah bisa sampai di sana dengan aman. Saya sudah pernah sampai di Umap dengan mobil. Semua berjalan lancar. Saat ini sedang dibuka jalan dari Merauke sampai di Wamal. Pada musim panas, sudah banyak orang yang bergerak melalui jalan darat dari Merauke sampai Okaba, dan kali Buraka. Dalam waktu 6 – 7 jam orang dari Merauke sudah bisa sampai di Buraka. 

Investor yang telah masuk ke wilayah ini, menguasai tanah penduduk puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar. Masyarakat lokal kehilangan hutan, rawa, rawa sagu dan juga binatang buruan. Memang, ketika investor baru saja masuk mereka dapat uang banyak sebagai uang kompensasi atas hutan yang mereka sewa, namun setelah 6 bulan, mereka kehilangan mata pencaharian. Karena mereka tidak disiapkan dengan baik, dan punya gaya hidup sendiri, modernisasi dan tuntutan pihak perusahaan: disiplin waktu, tanggung jawab, kerja sama, ketelitian dll tidak dapat mereka penuhi. Akibatnya mereka hanya bekerja sebagai buruh kasar, gaji mereka kecil, dan pada akhirnya mereka dipecat. Akibat lebih jauh, mereka sering sakit-sakitan karena kekurangan gizi. Mereka menjadi penganggur dan orang-orang yang tersingkirkan di kampung halaman mereka sendiri. 

Sekretariat Justice and Peace telah bekerja keras untuk memberikan penyadaran akan hak-hak azasi manusia, perlindungan hutan, dan penguatan masyarakat dengan lahirnya peraturan kampung. Mereka membatasi gerak investor untuk masuk terlalu jauh ke dusun-dusun mereka. Di tempat-tempat itu, mereka membuat batas-batas dengan menanam pohon-pohon tertentu, sehingga perusahaan dilarang melewati wilayah itu. Sudah banyak kali diadakan pelatihan dan pembekalan bagi masyarakat kampung. 

PT Merpati Nusantara sudah bangkrut. Semua pesawat Merpati sudah tidak pernah terbang lagi melintasi bumi Papua. Twin Otter milik Pemda Merauke, sejak 2 tahun lalu sampai sekarang ini parkir di bandara Moppa. Sebagai gantinya, Pemda menyewa pesawat Susy Air untuk melayani daerah pedalaman. Hampir setiap hari ada penerbangan ke Kimaam, Okaba, Kepi, Tanah Merah dan Bade. Kalau tidak salah, Susy Air melayani Mindiptana 3 x dalam seminggu. 

Para uskup sedang berusaha agar pesawat AMA bisa terbang melayani seluruh tanah Papua. Yayasan AMA yang mendapat ijin sosial untuk terbang ke pedalaman, sekarang sudah menjadi PT AMA. Ijin komersial sedang diurus, sehingga kelak bisa terbang ke semua jurusan dengan lebih bebas. Uskup Jayapura dan Uskup Timika sebagai Ketua Badan Pengurus AMA sudah bertemu dengan Menteri Perhubungan, minggu yang lalu. Pada saat kunjungan ke Jayapura itu, tanggal 7 Maret 2015 Mentri meminta Dirjen Perhubungan Udara untuk melihat secara langsung kantor dan hanggar pesawat AMA. Moga-moga pada bulan Juni 2015 ini, ijin komersial untuk pesawat-pesawat AMA sudah terbit. 

Bila ijin operasional sudah terbit, di Merauke akan ada pesawat AMA yang siap melayani masyarakat dengan tepat waktu, dan tidak pilih-pilih penumpang. Saat ini sering terjadi, penumpang yang punya banyak uang yang bisa naik pesawat. Orang sakit / orang mati sulit sekali untuk mendapatkan bantuan untuk diangkut. Juga untuk mendapatkan tiket ke pedalaman atau pulang dari pedalaman, sering sulit sekali karena pelbagai macam alasan, meskipun pesawat sudah terbang setiap hari. Lebih-lebih pada akhir tahun akademik, ketika banyak orang membutuhkan transportasi udara untuk mempercepat urusan administrasi / sekolah, orang-orang kecil sulit untuk dapat tiket. Mengapa begitu ? 

Misalnya harga tiket Kepi – Merauke Rp. 1 juta. Yang terjadi adalah Penumpang yang sudah punya tiket menjual kembali ke orang lain dengan harga Rp. 1,2 juta. Lalu dia menjual lagi ke orang lain dengan harga Rp. 1,4 juta. Maka, mereka yang punya uang banyak (pedagang dan pejabat) yang lebih sering mendapatkan tiket. Praktek ini amat disesalkan oleh masyarakat, namun sangat sulit diberantas. Kepada kami, mereka tetap memberikan harga tiket yang normal. Itulah sebabnya, mereka amat berharap pesawat AMA segera terbang dan melayani daerah selatan.

Menurut pembaca “Bagaimana rasanya.......??? Apa yang ada di benak para mantan misinaris ketika mengenang kembali masyarakat yang mereka tolong dan merek kembangkan.....dengan susah payah ?”....diperlakukan demikian oleh orang sebangsa dan setanah air dengan mereka sendiri ? Para misionaris datang dari jauh-jauh, mengorbankan diri dan waktu agar mereka yang masih tertinggal itu bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Sebaliknya bangsanya sendiri malah “menyengsarakan saudara-saudarinya yang ingin maju”.

Pengabdian adalah kata yang mudah diucapkan, namun amat sulit untuk mendapatkan orang-orang yang mendahulukan pengabdian. Pada jaman sekarang ini, yang didahulukan adalah uang dan prestasi, meski sering harus mempertaruhkan harga diri.

Jumat, 27 Maret 2015

KEKUATAN PEREMPUAN

PEMBACA YANG BUDIMAN 

SYALOOM 

Pagi ini, 27 Maret 2015, sebelum mengerjakan yang lain-lainnya, saya membuka blog....... Ya ampun, bulan Maret ini, tidak ada 1 tulisanpun..... Lalu, saya duduk, dan membaca tulisan-tulisan yang masuk.  Ada satu yang menarik, dan kiranya baik kalau dilihat maknanya. Ada seseorang yang mengirimkan tulisan itu kepada saya. Dengan polos tulisan itu saya renungkan dan saya cermati. Memang, yang tertulis di sana banyak kali terjadi di mana-mana.  

Dalam hal ini, bukan persoalan anda setuju atau tidak setuju. Saya hendak mengangkat melalui tulisan ini, kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Demikian itulah yang terjadi, dan karena itu sudah terbiasa orang melihat dan mengalami peristiwa itu. Maka, hal itu dianggap biasa, sederhana, bahkan dikatakan sudah menjadi kodrat / naluri perempuan. Akibatnya, tidak ada penghargaan kepada mereka.  


Inilah tulisan yang dikirmkan ke saya dan saya teruskan kepada anda:  


Tahukah anda, bahwa wanita lebih kuat dan perkasa daripada pria ?  Seseorang pernah mengadakan permenungan dan inilah penemuannya:

1.       Balita laki-laki lebih gampang stuip (kejang-kejang karena miningitis) daripada balita perempuan kalau sakit panas tinggi
2.       Pria diciptakan Tuhan dari bahan dasar tanah liat, sedangkan wanita dari bahahan dasar tulang. Tulang lebih kuat daripada tanah liat....
3.       Hawa disebut penolong adam. Yang menolong umumnya lebih kuat daripada yang ditolong
4.       Laki-laki kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Waktu pulang mengeluhnya gak ketulungan. Dia bilang capek. Perempuan kerja di rumah dari matahari belum terbit sampai menjelang tengah malam, tetapi tidak mengeluh.
5.       Suami berjalan dengan istrinya di mall selama 1 jam saja sudah bilang jenuh. Perempuan berjalan dengan suaminya dari Mall buka sampai Mall tutup gak ada jenuhnya
6.       Perempuan ditinggal mati suaminya, mampu tidak menikah lagi sampai mati, sambil kerja dan membesarkan anak. Tetapi laki-laki ditinggal mati istrinya, cenderung kawin lagi.
Perempuan seharian ddi rumah dengan anak-anak yang masih kecil, bisa mengatasi. Laki-laki seharian dengan anak kecil....bisa darah tingginya kambuh

Apa yang terjadi pada diri kita ketika masih kecil ? . Perempuan yang memperlakukan semua itu untuk kita pribadi adalah perempuan yang kita sebut: ibu, mama, mami, simbok, mother atau sebutan lainnya.  Yang pasti perempuan itu telah berjasa, sebelum kita lahir, pada saat di kandungan, ketika baru saja lahir, dan akhirnya mulai mengerti dunia ini .....belajar di dalamnya, dan kita dapat turut ambil bagian untuk mengembangkannya.

Pantaslah kita berterima kasih kepada kaum perempuan, yang telah “tidak pernah jemu menggarap hal-hal yang sulit, kotor, ditelantarkan, bau, dan tidak mengenakkan bahkan menuntut pengorbanan besar”. Mereka mempertaruhkan nyawa / hidup mereka sendiri agar sesamanya, khususnya anak yang dicintainya hidup dan berkembang.  Mereka tidak menuntut imbalan yang setimpal dengan pengorbanan mereka.


Pada masa pra-Paska ini, kekurangan-kekurangan / kekeliruan / tindak kekerasan dll yang telah kita perbuat kepada kaum perempuan, khususnya kepada ibu / mama / simbok kita pantaslah kita sesali. Kita mohon ampun kepada Tuhan atas semuanya itu. Semoga kaum perempuan mendapatkan kasih dan kemuliaan yang besar, karena mereka telah menjadi “anak kandung” dan anak-anak lain menjadi berharga di mata masyarakat, dan tengah-tengah dunia ini, dan tentu saja berharga di mata Tuhan. 

Kekuatan itu bukan kekuatan fisik, tetapi kekuatan mental, spiritual dan sosial yang memungkinkan mereka bertahan dalam kesulitan, dan setia dan derita. Maka, setiap orang yang melatih kekuatan-kekuatan ini, akan menjadi kuat dalam menghadapi aneka peristiwa dalam hidup ini.