Senin, 11 November 2019

CERITA DARI MOC BAI DAN BAVET - PERBATASAN VIETNAM - KAMBODIA


Kami berempat ( Ry, Ine, Tina dan Niko ), tanggal 8 November 2019,  rekreasi ke perbatasan Vietnam – Kambodia, berangkat naik bis. Wawan juga akan ke sana, namun karena rumahnya dilalui bis, dia menunggu di dekat rumahnya. Rumah Wawan jaraknya cukup jauh dari rumah kami, dan kira-kira 1 jam perjalanan dengan mobil, di luar kota Saigon. Diharapkan 1 jam kemudian kami ketemu dia, sehingga kami berlima bersama-sama menuju ke perbatasan. Bisnya sudah tua, dan berhenti-berhenti…. Kami sudah tidak sabar menunggu, namun kemudian bis  bergerak dan meninggalkan tempat yang membosankan itu. Mengapa tempat itu membosankan ?  Karena bis ngetem di depan pasar, dan di sekitar itu ada tempat sampah. Bau sampah itulah yang menyebabkan “sesak napas” sehingga saya ingin bis segera meninggalkan tempat itu.

Ketika bis baru saja bergerak, Wawan telpon bahwa dia harus segera ke Saigon, karena ada urusan yang amat penting. Mau tidak mau kami harus berangkat duluan, dan tidak bersama dia, padahal kami tidak tahu bahasa Vietnam.  Kebersamaan yang direncanakan sejak kemarin tiba-tiba berubah. Namun, kepergian ke perbatasan tidak berubah. Bagi kami berempat, tidak ada pilihan lain, kecuali kami jalan terus sehingga tiba lebih dulu di perbatasan. 

Dengan harapan masih bisa sama-sama dengan Wawan yang tahu bahasa Vietnam, kami menunda untuk melapor ke imigrasi. Kami menunggu informasi lebih lanjut. Sambil menunggu dia, kami memutuskan untuk makan siang lebih dulu. Makan seadanya di perbatasan Vietnam ( Moc Bai), dengan bahasa sebisanya. Syukurlah di hp kami ada aplikasi utuk menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Vietnam. Dengan bantuan alat itu, kami bisa  berkomunikasi.

Makan siang sudah selesai, namun Wawan belum juga datang, padahal hari sudah mulai sore.  Kami menunggu beberapa saat lagi. Tidak lama kemudian, diperoleh informasi bahwa dia masih dalam perjalanan dan masih harus menunggu lama. Akhirnya kani memutuskan untuk masuk ke wilayah Kambodia, tanpa dia.  Syukurlah semua proses berjalan lancar, karena tidak ada banyak pelintas batas pada siang itu.

Ada banyak bangunan bagus-bagus di Bavet - di bagian perbatasan Kambodia. Gedung-gedung apa itu ? Ternyata bangunan-bangunan itu adalah hotel-hotel mewah sekaligus  tempat untuk bermain kasino (berjudi). Di perbatasan wilayah Vietnam ( Moc Bai) tidak ada gedung-gedung megah itu, namun di Bavet, puluhan hotel mewah dan tempat kasino berdiri kokoh, bahkan masih ada gedung-gedung yang   sedang dibangun.

Kami kemudian dengan bantuan aplikasi terjemahan yang ada hp, bisa berkomunikasi dengan sopir grab yang berbahasa Khmer. Sewa mobil per jam 20 USD. Kami menyewa mobil selama 1 jam supaya bisa melihat dari dekat realita kehidupan di pinggiran kota Bavet itu. Sebetulnya geliat pembangunan sungguh mengagumkan. Pembangunan  infrastuktur ( jalan raya dan jembatan ) sedang digalakkan. Kota perbatasan (Bavet) menjadi incaran para pemilik modal. Maka tidak heran, di wilayah itu perekonomian berkembang lebih cepat. Sedangkan 3 – 4 km dari Bavet, perkembangannya masih lambat.  Ini kelihatan dari banyak-nya bangunan rumah dari masyarakat petani, yang tidak bisa bersaing dengan para pemilik modal besar.  Cepat atau lambat para petani ini akan tergusur dan meninggalkan tanah dan pekerjaan mereka, karena  wilayah itu akan menjadi daerah perdagangan dengan skala besar.

Pas ketika kami tiba kembali dari jalan-jalan di wilayah Kambodia, kami ketemu Wawan di depan kantor Imigrasi Kambodia di Bavet. Dia baru saja tiba di sana, dan mencari kami. Kami tidak bisa  berkomunikasi dengan dia, karena ketika masuk wilayah Kambodia, di hp kami tidak ada signal. Mengingat keterbatasan waktu, dan kami semua harus kembali ke Saigon, kami kemudian bersama-sama masuk ke wilayah Vietnam, dengan lebih dulu antre di depan loket Imigrasi Vietnam. 

Umumnya makanan dan buah-buahan di sana, sama dengan buah-buahan dan makanan yang ada di Indonesia. Tentu menunya berbeda.  Sayur-sayuran dan buah-buahan tertentu, memang khas Kambodia / Vietnam dan sulit ditemukan di Indonesia. Nama-namanya juga sulit untuk diucapkan sehingga tidak dimungkinkan ditulis di sini. Anda yang kepengin menikmati hidangan khas Kambodia dan Vietnam, bila pas ada rejeki, silakan berwisata ke sana.


Beda bahasa, beda budaya, beda bangsa dan perbedaan lainnya tidak menghalangi orang untuk menemui sesama manusia dan bekerja ama dengan mereka. Sudah ada banyak alat bantu.  Meski demikian, masih tetap ditemukan di banyak tempat, alat bantu itu sama sekali tidak bisa membantu, tokh manusia tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa symbol ( bahasa tubuh ). Orang-orang yang berbeda bahasa itu bisa saling memahami dan mengerti karena ada bahasa kasih. Bahasa tubuh adalah bahasa kasih…..bahasa kejujuran yang keluar dari hati. Di dalam hati manusia itulah, Allah bekerja secara mengagumkan dan menyatukan umat-Nya.


OLEH-OLEH HARI MINGGU


PEMBACA YANG BUDIMAN...... salam dan jumpa lagi dengan anda. Saya suguhkan cerita kecil untuk anda.  Selamat menikmati. 

Hari itu, minggu, 10 November 2019 bersama Cha dan Lena, jalan-jalan ke pasar dan mall.   Kami tidak punya rencana yang besar-besar. Hanya ingin menikmati hari minggu, kami rileks sebentar dengan berjalan kaki.  Dengan bantuan "google map", kami melangkah.... ternyata, kami salah arah, karena yang kami pasang adalah rute untuk sepeda motor, sehingga harus melewati jalan lingkar.  Setelah kami stel kembali, kami berbalik arah dan dalam waktu 14 menit, kami sudah sampai di tempat tujuan. 

Kedua saudari senang sekali, bisa belanja keperluan mereka dengan harga yang terjangkau.  Memang kalau belanja di pasar ( kayak Pasar Tanah Abang Jakarta ), pembeli harus berani menawar, supaya bisa mendapatkan barang dengan harga yang sesuai.  Para pedagang itu sudah sangat lihat menarik hati dari mereka yang hendak berbelanja. Mereka begitu cekatan, dan pandai membujuk calon pembeli. Ternyata ada banyak juga yang bisa berbahasa melayu. Mereka hidup berdesak-desakan di los-los yang cukup sempit dan padat.  Memang Tuhan memberikan rejaki kepada umat-Nya yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di sekitar itu, ada juga penjahit yang menawarkan jasa “memendekkan celana panjang yang ukurannya terlalu panjang, sehingga pas ketika dipakai oleh pembeli”. Ketika sudah di rumah pembeli tidak lagi repot-repot menjadi penjahit (tukang vermak), semuanya sudah beres. Mereka tinggal di lorong kecil dan tersembunyi, namun di tempat itulah mereka juga ikut ambil bagian terhadap kepuasan selera, dan kebahagiaan hidup para pelanggannya.

Di tempat kecil dan tersembunyi, ada para penjual jasa. Mereka dikenal dan terus dipakai karena ada kepercayaan, kerja sama, saling pengertian, kesetiaan, menyuguhkan dan menjaga kualitas, siap melayani permintaan, dan siap menerima koreksi / masukan.  Juga mereka itu harus berani berkorban dan menyiapkan aneka macam dan warna benang, men-servis dan merawat mesin jahit agar kapan saja siap untuk dipakai. Mereka bukan hanya butuh duit, namun "berjuang tiap hari untuk memupuk relasi dengan para rekan kerja" yang memberi rejeki kepada mereka.  Mungkin sekali, mereka juga siap untuk "mengalah"  (mendapat rejeki sedikit daripada biasanya) agar para pemberi rejeki itu tetap setia bekerja sama dengan mereka. Relasi yang baik itulah yang akan terus-menerus mendatangkan rejeki. 

Maka, kalau kita berdoa kepada Tuhan: " Berilah kami rejeki pada hari ini", tanpa membangun relasi yang baik dan terus menerus dengan Dia, rejeki itu lama-lama akan hilang. Bukan karena Tuhan tidak memberi,  tetapi karena kita tidak meminta. Dia "merasa diri" sudah cukup kuat dan kaya. Syukurlah bahwa Tuhan Allah kita bukan Allah yang pilih kasih dan mudah tersinggung.... sehingga kapan saja kita kembali, Dia dengan penuh sukacita menerima kita. 

Siang itu....... setelah dari pasar, kami jalan-jalan di mall Takashimaya – Saigon. Di sana kami beli 1 cangkir coklat panas, kue dan the hijau, serta es krim.  Bangunannya baru dan bersih. Banyak orang yang berbelanja, namun banyak juga yang ke resto, dan tentu banyak juga yang hanya cuci mata. 

Dari Takashimaya, kami kembali lagi ke sekitar pasar. Di sana ada toko-toko sepatu..... kualitasnya bagus, dan harganya cukup murah, bila dibandingkan dengan harga sepatu di Indonesia. Saya beli 1 pasang sepatu kulit buatan Inggris, harganya 500.000 dong atau ( Rp. 250.000 ).  Kualitasnya bagus. Warnanya juga manis.  Itu untuk kenang-kenangan bahwa saya pernah berlibur di Saigon. 


Jumat, 27 September 2019

BADAN SAJA BOLEH RENTA


Tanggal 25 September 2019, saya ikut misa di Basilika st. Bernadette – Lourdes.  Dirayakan kemartiran  Kosmas dan Damianus. Itulah sebabnya,  para selebran mengenakan kasula dan dalmatic berwarna merah. Misa dirayakan oleh 2 imam dan 1 diakon dan dihadiri oleh banyak umat beriman, dalam bahasa Perancis, ada nyanyian pembukaan,  kyrie dan mazmur tanggapan oleh seorang awam yang bersuara bagus. 

Bacaan Injil dibawakan oleh diakon, sekaligus memberikan homili. Orangnya masih muda…… saya turut bersyukur bahwa panggilan untuk menjadi imam tetap ada di Perancis, meski sudah jauh berkurang jumlahnya daripada 30 – 50 tahun yang silam.   Saya tidak pernah belajar bahasa Perancis sehingga apa yang dibacakan dan isi homilinya, saya juga tidak mengerti.

Namun, sebelum misa saya sudah lebih dulu membaca kutipan kitab suci yang menjadi bacaan misa hari ini, sehingga saya membuat renungan sendiri.  Bacaan Injil diambil dari Lukas 9: 7 – 9  tentang Herodes yang heran akan munculnya “Orang yang Berkuasa mengadakan mukjizat”, karena menurut dia, “orang itu ( Yohanes) telah dia bunuh”. Bagaimana mungkin orang itu bisa hidup kembali ?   Dia tidak tahu bahwa “orang yang berkuasa itu” adalah Jesus.

Apa yang mengesankan saya ?   Apakah bacaan Injil hari itu ? saya jawab tidak.  Apakah homili frater diakon ?  tidak juga. Apalagi saya tidak tahu bahasa Perancis.  Yang menarik perhatian saya adalah ketika saya tinggal beberapa meter lagi sampai ke diakon pembagi komuni kudus.  Saya melihat dan memperhatikan 2 pasang suami istri.  Mereka semua sudah opa dan oma.  Usianya mungkin sekali sudah di atas 75 tahun. 

Satu pasutri sudah selesai menerima komuni. Sang istri dengan susah payah hendak kembali ke bangku tempat duduk. Kaki kanannya susah diangkat, meski hanya beberapa senti saja dari bangku, sedangkan tangan kirinya dipegangi oleh suaminya. Ketika kedua tangannya memegangi bangku, pelan-pelan dia bergerak, sambil tetap diperhatikan oleh suaminya yang tetap berada di sampingnya, sampai sang istri betul-betul duduk dengan sempurna.

Pasangan yang kedua, persis berdiri di depan saya. Mereka siku dengan siku bergandengan, bagaikan pengantin yang hendak menerima pemberkatan nikah.  Ketika menyambutpun tetap mereka tidak melepaskan gandengan itu, karena menyambut langsung tubuh Kristus di lidah mereka.  Mereka tetap bergandengan, sampai tiba di bangku tempat duduk.  Peristiwa dan pemandangan kecil itu sungguh menarik perhatian saya, dan membuat saya gembira dan bersyukur.  Saya bangga atas kedua pasangan itu.  Dan ketika saya sudah tiba di tempat duduk, saya melihat pasangan lain lagi yang juga rukun-rukun sampai usia lanjut.

Saya melihat dengan nyata kesaksian-kesaksian hidup “mereka bukan lagi dua, melainkan satu”.  Mereka menunjukkan keimanan mereka kepada Allah yang telah menyatukan mereka. Dulu mereka bukan siapa-siapa.  Keduanya tidak ada hubungan darah,  mungkin berasal dari daerah / kota yang berbeda, mungkin ketemu ketika masih sekolah, atau ketika ada kegiatan Orang Muda Katolik.  Mereka telah disatukan oleh Allah karena kasih.

Badan telah renta, usia telah senja, kekuatan fisik telah jauh menurun, rambut telah memutih, kulit memang sudah berkerut-kerut.  Kalau begitu, apanya  yang mau dipamerkan ?  Juga kebanggaan akan masa muda, kesuksesan akan hasil panen atau penghasilan bulanan yang besar telah lewat.  Apanya yang mau digembar-gemborkan ?  Semuanya memang sudah lewat. Mereka seakan-akan sudah tidak beraarti lagi. Namun, saya menyaksikan bahwa yang boleh dibanggakan adalah bahwa kasih mereka tetap tidak digerus oleh jaman dan tantangan apa pun. Mereka tetap setia sebagai suami istri. 

Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa cinta mereka telah mengatasi segala rintangan selama hidup mereka.  Mereka tetap sehati sejiwa, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang….. hanya Allahlah yang akan memisahkan mereka.  Itulah yang menggembirakan saya.

Senin, 09 September 2019

REJEKI


Pembaca yang budiman
Cerita ini, kami haturkan untuk anda. Selamat menikmati.

Sore itu, 27 Juli 2019, saya sedang santai-santai di rumah, sambil menunggu kedatangan seorang rekan. Kami sudah sepakat jam 5 sore, pergi jalan-jalan untuk mengisi waktu senggang, sambil mengenal tempat-tempat penting, dan tempat-tempat perhentian bis, serta nomor-nomor bis ke arah yang hendak dituju, sehingga pada suatu saat, kalau ada keperluan saya sudah bias pergi sendiri.

Ketika saya sudah hampir berangkat, ternyata ada 2 suster yang sedang berkunjung. Mereka sedang bersharing dengan rekan yang ada di rumah. Yang satu berasal dari Indonesia, dan yang lain berasal dari Vietnam.  Kami berkenalan…..  memang sedang nasib baik, mereka juga sudah hendak pulang.  Rekan yang saya tunggu pun sudah tiba. Karena itu, kami sama-sama meninggalkan rumah dan menuju ke tempat pemberhentian bis.

Ketika dalam perjalanan, sambil berbincang-bincang, mereka juga masih akan ke suatu tempat dan kemudian menawarkan untuk makan malam bersama….. mereka sudah masak dan di sana ada nasi. Kami pun sepakat untuk berjalan bersama, membeli suatu keperluan dan ke komunitas mereka. Semuanya sudah selesai: jalan-jalan, membeli keperluan dll sudah tergenapi. Maka, kami berempat naik bis yang sama, dan menuju ke tempat mereka.

Mereka tinggal / kos di kompleks biara para suster suatu kongregasi di Roma. Para suster pemilik tempat tinggal itu sudah lansia, dan paling muda umurnya sudah 70 tahun.  Ada sekian kamar yang disewakan untuk para suster dan mahasiswi yang studi di Roma. Mereka yang kos boleh memasak makanan mereka sendiri, meski menggunakan dapur yang sama.

Setelah menunggu beberapa waktu, hidangan sudah siap, dan kami menikmati hidangan khas Asia yang disiapkan oleh kedua suster. Ada ikan besar, ayam goreng, sayur, mie, ikan teri, kerupuk dan cabe.  Kerinduan untuk makan nasi dan hidangan yang bermenu asia terjawab setelah sekian hari menikmati hidangan dengan menu Eropa.  Terima kasih banyak patut disampaikan kepada kedua suster yang telah menyiapkan hidangan istimewa.  Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki kepada kami, melalui kedua suster itu.

Kemudian kami ke Espagna (dibaca: espanya). Espagna adalah salah satu tempat rekreasi yang tiap hari dikunjungi turis. Apalagi pada hari-hari libur, jumlah turis selalu lebih banyak daripada pada hari-hari biasa.  Pasangan-pasangan muda pada malam hari yang cerah itu, banyak sekali.  Kesempatan yang baik itu “dilihat oleh para pedagang bunga mawar” untuk menawarkan bunga-bunga segar kepada pasangan-pasangan itu.  Banyak pembeli juga.  Si cowok memberikan bunga mawar kepada si cewek dengan rasa bangga, si cewek pun menerimanya dengan gembira…. Apalagi disertai dengan “cium manis”.

Dari Espagna, kami berdua jalan kaki melewati pertokoan. Di toko-toko itu dipajang tas-tas kulit, sepatu, pakaian-pakaian yang bermerek dan harganya mencengangkan…. Artis-artis atau bintang-bintang filem banyak yang ke sana untuk membeli tas atau sepatu atau pakaian dll. Kami cukup cuci mata saja…sambil berolah raga.  Ada seniman-seniman jalanan yang bermain music: gitar, biola, sexophon dll, ada juga yang menggambar, atau melukis….  Di depan mereka, diletakkan kotak sumbangan.  Siapa saja boleh memberikan sumbangan…. Ada juga yang hanya menonton saja. Ada banyak juga yang memberikan sumbangan sukarela. Tuhan memberikan rejeki kepada mereka melalui ketrampilan yang mereka tunjukkan ke hadapan umum.

Rabu, 31 Juli 2019

SEORANG SAHABAT


PEMBADA YANG BUDIMAN

Saya hadirkan untuk anda, cerita kecil ini. Selamat menikmati isinya: 

“SANDAL JEPIT” adalah satu satu keperluan harian yang dibutuhkan di rumah.  Bendanya sederhana, harganya murah dan umumnya mudah didapat di kios-kios atau di toko-toko kecil di tanah air. Beda situasinya dengan di Itali. Karena lupa membawa dari tanah air, meski baru tiba di negeri orang, kebutuhan ini segera saya cari. Untung ada rekan yang rela mengantar saya untuk mencari dan mendapatkannya.

Meski sudah jam 4 sore, hari itu 26 Juli 2019, matahari di Roma tetap memancarkan sinarnya secara penuh sehingga udara terasa cukup panas…sekitar 34 derajat. Kami berdua berjalan kaki menelusuri trotoar, dan masuk di antara bangunan-bangunan tua, dengan harapan bahwa di sana ada toko yang menjual sandal jepit.

Sudah lebih dari 30 menit kami berjalan kaki, namun toko yang menjual benda itu belum juga ditemukan. Kami pantang menyerah…. Akhirnya, setelah sekian toko dan lorong dilewati, kami mendapatkan sebuah toko kecil yang menjual sandal itu. Warnanya merah…dan di pemilik toko sedang melayani orang lain, karena itu kami pergi mencari lagi ke tempat lain. Kami mengecek di banyak kios dan toko, namun tidak menemukannya, sehingga kami kembali ke kios itu.

Ketika kami masuk di sana tidak ada pembeli yang lain, sehingga kami langsung dilayani. Sandal itu ukurannya pas. Yang dipajang memang warnanya merah, namun ternyata ada yang berwarna biru dan hitam, yang disimpan di sudut yang lain. Kami membeli barang-barang kecil dan sederhana namun merupakan kebutuhan harian.  Kami pulang dengan sukacita……

Saya bersukacita bukan hanya mendapatkan “sandal jepit” (barang kebutuhan) namun mengalami kehadiran seorang sahabat yang rela menemani dan berjalan kaki……. Dialah Pst. Polce Pitoy MSC

ALLAH PEDULI


PEMBACA YANG BUDIMAN,

Saya sajikan kepada anda sekalian, sebuah sharing (cerita pengalaman iman) tentang kepedulian Allah kepada umat-Nya yang terjadi pada masa kini.  Judulnya “Allah Peduli”. Melalui cerita ini, semoga anda dapat memetik hikmah dan inspirasi yang terdapat di dalamnya. Selamat menikmati…..

“Allah peduli” demikian pokok renungan yang disampaikan kepada umat beriman yang memenuhi tempat duduk di gereja St. Theresia – Buti Merauke.  Hari itu ada upacara penerimaan Sr. Hilaria PGB sebagai anggota tetap Tarekat Putri Gembala Baik.  Kepedulian Allah itu dapat ditemukan dalam Kitab Keluaran 16: 4 “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit, hujan roti bagimu”. Berfirmanlah Allah kepada Musa: “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlahlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti. Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, Allahmu” ( 16:12). Dia tidak membiarkan umat-Nya sengsara dalam perjalanan, atau mati kelaparan.  Melalui Musa, Dia menyapa dan menuntun mereka ke tanah yang telah dijanjikan kepada nenek moyang mereka.

Pada hari ini, 24 Juli 2019, telah dinyatakan kepada kita kepedulian Allah dengan mengirimkan / mengutus 3 orang muda ke Keuskupan Agung Merauke (KAME): Lucky, Maurits, dan Anis. Mereka adalah para seminaris yang baru saja selesai pembinaannya di Seminari Xaverianum Ambon.  Mereka juga menunjukkan kepeduliannya kepada KAME dengan menghadirkan dirinya supaya dapat turut serta melayani umat Allah di sini. Sebelum melayani, mereka belajar untuk mengenal dan mencintai umat yang akan dipercayakan Tuhan kepada mereka. Mereka memang belum masuk tahun rohani atau studi  formal, namun mereka belajar “sosio-antropologi” tentang umat dan masyarakat di tanah ini. Guru-guru mereka adalah umat dan masyarakat yang akan mereka temui dan berdialog dengan mereka. Tuhan sendiri akan membina dan menuntun mereka melalui orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Demikian pula, Sr. Hilaria PGB yang datang dari Sumatra Utara, dengan menyatakan diri sebagai anggota tetap, menunjukkan kepeduliannya, serta mau dan bertekad untuk melayani kaum perempuan dan anak-anak yang menjadi perhatian utama tarekat PGB. Melalui teladan Yesus Sang Gembala yang Baik, Sr mau meneruskan kasih dan kepedulian Allah kepada kaum perempuan dan anak-anak yang tidak sekolah atau yang putus sekolah. Mereka membutuhkan bantuan dan sapaan agar berkembang dan penuh percaya diri membangun kaumnya dan masyarakatnya.

Allah kita adalah Allah yang peduli dan setia pada janji-Nya. Dia menyapa dan mencintai umat-Nya sepanjang jaman melalui keluarga-keluarga, saudara-saudari kita, juga melalui mereka yang diutus untuk melayani umat-Nya sebagai  imam, suster, bruder atau petugas gereja, atau guru-guru agama. Kita doakan agar Tuhan yang peduli itu, menjadi kekuatan bagi kita untuk makin peduli dan berbelarasa kepada sesama kita.

Saya menutup sharing ini, dengan lagu yang berjudul “Allah Peduli”. Inilah liriknya:

Banyak perkara yang tak dapat ku mengerti
Mengapakah harus terjadi
Di dalam kehidupan ini

Satu perkara yang ku simpan dalam hati
Tiada satupun yang terjadi
Tanpa Allah peduli

Allah mengerti
Allah peduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
Ku bergumul sendiri
Sbab Allah mengerti


Selasa, 30 Juli 2019

PUISI ROMO


PEMBACA YANG BUDIMAN.

Saya mendapatkan puisi di bawah ini, beberapa saat setelah Arswendo tutup usia. Orangnya sudah pergi, namun tulisan yang merupakan ungkapan hatinya tetap hidup terus.  Saya merenungkannya, dan menjadi tema yang cocok untuk digali maknanya menjelang saya memperingati dan mensyukuri 15 tahun, rahmat tahbisan saya sebagai uskup.  Bahasanya sederhana, isinya lugas dan mudah dicerna. Itylah sebabnya, paling tidak, supaya tidak hilang, puisi itu saya munculkan di blog ini.  Semoga ketika anda membacanya, mendapatkan inspirasi di sana.

PUISI ROMO

oleh Arswendo Atmowiloto

aku mendamba Romo yang penuh kasih - bukan yang pilih kasih
aku mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean
itu berarti pemberian umat sebagai tanda cinta, tanda hormat

aku mendamba Romo, yang galak tapi sumanak
kaku pada dogma, tapi lucu kala canda
yang lebih sering memegang rosario
dibandingkan bb warna hijau
aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar, dibandingkan berujar

aku mendamba Romo yang menampung air mataku, - tanpa ikut menangisi
yang mengubah putus asa menjadi harapan
yang mengajarkan ritual sekaligus spiritual

duuuuh, damba dan inginku banyak, banyak sekali
tapi aku percaya tetap terpenuhi
karena Romoku mau dan mampu selalu memberi
- inilah damba dan doaku, Romoku

eee, masih ada satu lagi
sekali mengenakan jubah, jangan berubah
jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah
bahkan sampai ada laut terbelah
kenakan terus jubahmu
itulah khotbah yang hidup
agar aku bisa menjamah
seperti perempuan Samaria pada Yesus Allah Tuhanku

aku mendamba Romo yang menatapku kalem
bersuara adem
"Berkah Dalem ..."


*) dibacakan saat dialog interaktif, di kompleks Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet,

Jakarta, 20 Juni 2010.


Saya memahami tulisan itu, sebagai suara umat. Di sana terkandung kekaguman akan martabat imamat yang diterima oleh orang-orang yang ditahbiskan.  Bahwa martabat itu, menghantar orang kepada suatu peran tertentu yaitu perantara Allah dan manusia.  Dia menyalurkan kasih Allah kepada sesamanya. Allah yang pengasih itu, serentak juga Allah yang murah hati, yang mau dekat dengan manusia ciptaan-Nya. Karena itu, para romo pun didambakan bermurah hati dan dekat dengan umatnya, termasuk ketika mendapatkan pakaian yang kegedean dan tetap mau memakainya.

Sebagaimana Allah yang dikenalkan Yesus adalah Allah yang mau disentuh, mau mengunjungi umat-Nya, demikian pula mereka ini diharapkan memahami dogma dengan baik namun tetap manusiawi, rela menyapa dan menampung air mata mereka yang datang kepadanya.