Selasa, 19 Agustus 2014

MUKJIZAT DI UPYETETKO

Upyetetko adalah sebuah kampung. jaraknya kira-kira 25 km dari Mindiptana. Itulah kampung yang kami lewati sebelum kami tiba di Waropko. Apa yang saya alami di kampung itu, saya sajikan untuk anda.  Selamat membaca dan menemukan mutiara iman di dalamnya. Inilah ceritanya: 



“Bapa Uskup, mari kita jalan-jalan (kunjungan) ke Waropko” demikian ajakan beberapa rekan pastor dan suster, hari Sabtu sore tanggal 2 Agustus 2014, ketika saya mengadakan kunjungan ke Mindiptana beberapa waktu yang lalu. “Boleh, yang penting kalian siapkan bekal” begitu jawaban saya. “Kami siap bapa uskup” sahut mereka dengan wajah cerah. Keputusan itu mendorong mereka segera bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatu sebagai bekal perjalanan dan makan siang di sana. Jarak Mindiptana ke Waropko kira-kira 35 km, dan dalam keadaan normal ditempuh dalam waktu 1 jam.

Cuaca dalam beberapa hari terakhir agak bersahabat. Hujan tidak turun, hanya gerimis-gerimis kecil. Mereka memberikan kesaksian, setiap kali ada kunjungan uskup ke wilayah Mindiptana, cuaca selalu bagus. Perjalanan lancar dan semua kegiatan dapat terlaksana pada waktunya. Demikian pula pada hari itu, tidak ada hujan, meskipun pada hari-hari sebelumnya ada curah hujan yang cukup banyak.

Kami ber-14 berangkat dari Mindiptana jam 12 siang. 4 orang dari antara kami naik 3 sepeda motor, karena pastor Vikep memilih membonceng seorang anak muda yang sudah biasa melalui jalan itu. Cuaca bagus dan matahari bersinar. Kami belum makan siang, dengan harapan bahwa kami bisa tiba di tempat tujuan jam 13 atau jam 13.30 sehingga bisa makan siang di Waropko, sebuah paroki di luar pusat kecamatan Mindiptana. Jalan menuju ke sana, pada 10 km yang pertama baru saja diperbaiki sehingga amat mulus. Beberapa stasi dengan mudah dilewati, karena kami bisa melaju dengan mobil dengan kecepatan 60-70 km per jam.

Pada bagian berikutnya, jalan sedang  dikeraskan kembali dengan menimbun tanah liat dan kemudian diratakan dengan alat berat. Jalan tanah liat itu yang telah rata itu rusak lagi karena hujan dan dilalui oleh truk-truk dan mobil-mobil yang bermuatan berat. Di jalan yang agak basah dan berlumpur, sepeda motor agak berjuang untuk melintas, mereka memilih jalan yang dilalui truk karena lebih padat dan keras. Sedangkan mobil kami (dobel gardan) dengan mudah mengatasi jalan basah dan agak berlumpur.

Di kilometer 25, ada sebuah jembatan yang sedang dibangun dan semua kendaraan harus melalui jalan darurat. Letak jalan darurat itu lebih rendah dari ketinggian tanah pada umumnya, sehingga tempat itu basah dan berlumpur. Sopir setiap kendaraan roda 4 harus berjuang keras, agar bisa lolos di jebakan lumpur ini. Truk-truk besar sering melewati jalan ini, sehingga jeblokan itu makin dalam dan makin berlumpur. Ada banyak mobil yang terpaksa harus ditarik dengan bantuan alat berat. Begitu pula sopir kami, berjuang keras, beberapa kali mencoba melintas namun akhirnya gagal juga, karena jeblokannya terlalu dalam. Letak jembatan / jalan berlumpur tebal itu dekat kampung Upyetetko.

Beberapa rekan kami sudah biasa melayani umat di kampung ini. Mereka saya minta untuk menghubungi beberapa orang di sana untuk membantu agar mobil kami bisa keluar dari jebakan lumpur. Mereka telah berusaha namun yang dihubungi sedang sakit, sehingga tidak dimungkinkan untuk pergi mencari bantuan tenaga. Waktu sudah menunjukkan jam 14.30, tetapi mobil masih terjebak di lumpur.  Kayu-kayu kecil dan  rerumputan dikumpulkan untuk memuluskan tempat pijakan ban mobil, saya mengambil alih tugas sebagai sopir namun tetap mobil tidak bergerak. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari bantuan. Saya keluar dari mobil, dan mencari bantuan.

Saya menbonceng sepeda motor untuk mencari tenaga. Ketika mendekati pintu rumah seorang warga kampung, saya memberi salam terlebih dahulu: “selamat siang”. Dari dalam rumah itu, ada jawaban: “Selamat siang”. Lalu saya naik tangga rumah panggung itu. “Aduh, bapa uskup.....selamat siang. Saya berlibur di kampung ini, sudah 3 hari...untuk ketemu saudara-saudara yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bapa uskup mau ke mana ?”.  “Saya mau ke Waropko, tetapi mobil saya terjebak di lumpur dekat jembatan. Saya mau minta bantuan  tenaga, supaya mendorong mobil sehingga bisa keluar dari lumpur”. “Baik bapa uskup” sahutnya. Kemudian orang itu (Yustus) keluar, dan mulai memanggil orang-orang muda dalam bahasa daerah di kampung itu.

Dalam waktu singkat, muncullah mereka, dan segera bergegas menuju ke tempat mobil. Ada 8 orang muda yang siap untuk membantu. Dengan tenaga yang cukup banyak itu, mereka segera mendorong mobil. Hanya dalam hitungan detik, setgelah didorong beramai-ramai, mobil keluar dari jebakan lumpur, dan dapat melanjutkan perjalanan.
Perjalanan melalui jalan yang berlumpur namun sudah mulai mengering karena panas matahari, memungkinkan mobil dan sepeda motor berjalan lebih cepat. Sekitar 10 – 15 km yang terakhir jalan memang cukup parah karena hujan pada hari-hari sebelumnya, dan karena sering dilalui oleh truk-truk pengangkut bahan bangunan dan logistik. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 jam, hari itu ditempuh dalam waktu 4 jam dengan susah payah. Jam 4 sore kami semua baru makan siang. Untuk melepaskan lelah, namun gembira karena sudah  tiba di tempat tujuan, beberapa di antara kami berjoget dan memutar lagu-lagu gembira.

Tidak disangka-sangka, saya bertemu dengan seseorang (Yustus) yang saya kenal di Merauke. Dia sedang berlibur di kampung itu. Bagaimana dan mengapa bantuan itu muncul begitu cepat, bagaimana orang itu ada di sana sebelumnya dan dengan sigap mengerahkan kekuatan kaum muda untuk membantu, merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Seandainya dia tidak di sana, masih agak lama bantuan itu datang. Dan kalau bantuan terlambat datang, berarti kami terlambat pula untuk sampai di Waropko.


Dalam iman, saya mengatakan Tuhan telah menyiapkan orang-orangnya untuk menolong saya yang diutus untuk melayani umat-Nya. Peristiwa itu (ketidakberdayaan – keterbatasan diri – kebutuhan untuk mendapatkan pertolongan) merupakan cermin bahwa manusia itu adalah makhluk yang terbatas, dan membutuhkan orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya.  Banyak kali Tuhan telah menunjukkan kebesaran dan kasih-Nya kepada saya, ketika saya melayani umat Allah di pedalaman, misalnya: “tidak hujan selama masa pelayanan, padahal saat itu musim hujan”, “tiba dengan selamat melalui lumput-lumpur meski menggunakan mobil kijang Innova”. Karena itu, pantas dan layak kepada Allah yang penuh kasih itu, dipanjatkan syukur dan hormat dengan hati gembira. 

MUKJIZAT TERJADI

Pembaca yang Budiman
Saya hadir kembali di hadapan anda, untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya, ketika mengunjungi daerah pedalaman. Cerita ini terjadi belum lama ini. Maka, ketika saya tulis, saya beri tanggal sesuai dengan terjadinya peristiwa itu. Itulah sebabnya, ketika anda membaca cerita ini, saya mengajak anda untuk kembali dan menikmati kejadian pada hari itu. Selamat menikmati.


                 MUKJIZAT KETERBUKAAN DAN KEMURAHAN HATI

Hari ini, tanggal 2 Agustus 2014 di Mindiptana – Kab. Boven Digul telah terjadi suatu mukjizat besar ? Mukjizat apa ?  Mukjizat kemurahan hati. 
Hari ini, berkumpul di ruang tamu kevikepan Mindiptana, wakil-wakil umat katolik, para pemilik tanah adat, para imam, biarawan-biarawati, petugas pastoral, pastor vikep Mindiptana dan uskup. Pertemuan itu membahas “tanah adat yang telah diserahkan oleh para leluhur mereka untuk pelayanan pastoral kevikepan (keuskupan), namun dipertanyakan kembali oleh anak cucu. Mereka meminta ganti rugi atas tanah itu”.  Tanah seluas 16 hektar yang telah bersertifikat

Pemilik Tanah dan Penyerahan Tanah

Tanah yang dimiliki keuskupan pada awalnya adalah tanah milik Jurum (seorang perempuan) yang menikah dengan Jomop. Jomop adalah kepala kampung pada saat itu. Sebagai balas jasa kepada Pater Petrus Hoeboer MSC yang telah  membuat mereka “turun dari rumah-rumah yang dibangun di pohon-pohon, dan berhenti dari kegiatan pengayauan”, sepetak tanah diserahkan oleh Jurum dan Jomop untuk pelayanan keagamaan dan pendidikan anak cucu mereka. Pada waktu itu tidak ada surat penyerahan, tidak ada gambar / denah tanah yang diserahkan, dan tidak ada saksi yang masih hidup. Yang adalah adalah surat yang dibuat oleh Bp Marius Kelanit tentang sejarah pemberian tanah dan ditandatangani oleh beberapa orang saksi.

Surat yang amat berharga itu, ditulis tahun 1966 dan tersimpan dengan baik di Keuskupan dan di  pusat Kevikepan. Isi surat itu dengan amat jelas memberikan keterangan tentang siapa pemilik, dan siapa-siapa yang menyerahkan tanah itu, serta siapa yang menerima penyerahan itu, dan terjadi tahun berapa. Sayang bahwa batas tanah yang diserahkan tidak ada di sana.

Diminta kembali / harus ada pembayaran

Pada tahun 1991, ada proyek pemerintah dalam rangka per-sertifikatan tanah yang sering disebut “prona” (proyek nasional). Supaya tanah yang telah diserahkan itu ada sertifikatnya, keuskupan mengajukan permohonan juga ketika ada prona itu. Maka, diadakanlah pengukuran kembali, dan salah seorang ahli waris ( sebuat saja A) juga ada dalam kegiatan pengukuran tanah itu. Luas tanah yang dipakai keuskupan untuk bangunan gereja, pastoran, pusat kevikepan, susteran, TK, SD, SMP, SMA, kompleks asrama putra, dan asrama putri seluruhnya 16 hektar.

Sekitar tahun 2007, A menyatakan bahwa tanah yang diserahkan oleh leluhurnya adalah tanah yang dipakai untuk TK, bangunan  gereja, pastoran dan pusat kevikepan. Tanah yang lain, pada waktu penyerahan awal masih berupa hutan, sehingga tidak termasuk dalam penyerahan itu. Demikian pula, pada tahun 2009, 2011, dan 2013 ketika ada kegiatan renovasi asrama putra, beberapa orang yang masih 1 marga dengan pemilik tanah menyatakan menuntut kembali tanah itu, atau pihak pemakai (keuskupan) membayar semua tanah yang dipakai untuk mendirikan SD,SMP, SMA, Asrama Putra, Asrama Putri dan susteran. Tanah yang diminta ganti rugi luasnya 14hektar.

Memiliki untuk melayani

Dalam pertemuan itu terjadi dialog. Pembacaan surat dari Bpk Marius Kelanit menjadi dasar dari dialog itu. Para sesepuh dan keturunan dari marga pemilik tanah pun kemudian mengenang kembali “sejarah peradaban yang diterima oleh leluhur mereka” tahun 1927. Beberapa peserta yang pernah mengenyam pendidikan pada jaman misionaris itu memberikan kesaksian di hadapan para peserta rapat. Peradaban baru itu telah mengubah pola pikir dan pola hidup mereka. Leluhur mereka dulu tinggal di rumah-rumah yang ada di pohon dan  mengayau. Ketika itu di salah satu rumah mereka, ditemukan paha manusia. Masyarakat pada waktu itu masih kanibal. Salah seorang dari mereka menyatakan: “Karena jasa para misionaris itulah, dan karena pendidikan di LOZO dan MOZO, kami menjadi manusia seperti sekarang ini. Jasa besar mereka tidak pernah boleh dilupakan”.

Keterbukaan pikiran

Kesaksian-kesaksian dari para bekas murid yang dididik di lembaga pendidikan yang dikelola oleh para misionaris itu, telah memberikan pencerahan, dan mengubah pikiran mereka tentang tanah yang diberikan kepada para misionaris dan para penggantinya. Apalagi tanah itu dipakai untuk keperluan mereka dan anak cucu mereka sendiri. Bangunan gereja, pastoran dan kevikepan serta bangunan sekolah dan asrama dipakai oleh mereka baik untuk peribadatan maupun untuk pendidikan dan pembinaan di asrama.

Para pastor, suster dan bruder yang saat ini bekerja di wilayah itu pun memberikan diri dan seluruh tenaganya untuk pelayanan dan pengembangan umat dan masyarakat di daerah itu. Ketika mereka pindah ke tempat lain, bangunan dan seluruh aset yang dipercayakan kepadanya, tidak dijual ke pihak lain melainkan diserahkan kepada penggantinya.  Tanah yang diserahkan kepada para misionaris itu merupakan tanda terima kasih para leluhur, dan tidak boleh ditarik kembali. Semua itu merupakan tanda kebanggaan dan kebesaran kami serta anak cucu kami sepanjang sejarah.

Atas penegasan-penegasan itu, mereka sampai pada kesimpulan bahwa tanah seluas 16 hektar yang sudah sejak awal dipergunakan untuk peribadatan, kemudian diperluas untuk pendidikan dan susteran serta asrama, diserahkan sepenuhnya kepada kevikepan (keuskupan). Namun demikian, kepada ahli waris dari marga yang telah menyerahkan tanah itu kepada kevikepan akan diberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih. Pihak ahli waris pun setuju bahwa kepada mereka akan diberikan uang ucapan terima kasih, bukan uang jual beli tanah.

Kerelaan untuk mengambil tanggung jawab

Dalam rapat itu, setelah mendengarkan usulan dan pendapat dari mereka yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga itu, pendapat dari kepala kampung (kepala desa) serta beberapa peserta rapat lainnya, diputuskan bahwa yang bertanggung jawab dan akan memberikan uang ucapan terima kasih adalah umat / masyarakat sendiri. Para kepala kampung siap untuk mengkoordinir masyarakatnya dan mengumpulkan dana tersebut. Bpk Barnabas dengan senang hati menerima tugas sebagai koordinator tim pengumpul dana. Para pastor, vikep, uskup dan para suster tidak perlu lagi berpikir tentang uang ganti rugi atau uang ucapakan terima kasih. Mereka silakan bekerja seperti biasa dengan tenang dan mengadakan kegiatan persekolahan dan asrama, dengan dukungan penuh dari masyarakat dan umat katolik.

Mukjizat terjadi

Permintaan pembayaran tanah yang sebelumnya ditujukan kepada kevikepan / keuskupan, kini mereka ambil alih. Umat sendiri yang akan menyelesaikannya. Semua sepakat bahwa uang yang akan diterima oleh ahli waris bukan lagi sebagai uang pembayaran jual beli tanah, tetapi sebagai uang ucapan terima kasih. Mereka dengan senang hati siap mengkoordinir dan bertanggungjawab atas  penyelesaian kewajiban itu secara kekeluargaan. Pihak ahli waris pun menerima keputusan itu dengan hati lega.
Mukjizat keterbukaan hati dan siap sedia untuk bersama-sama menanggung “kepentingan umat”, bukan lagi berada di pundak para misonaris dan pengganti-pengganti mereka, tetapi di pundak mereka sendiri. Roh Kudus telah memimpin rapat itu, dan membuka hati umat-Nya agar dengan sukacita berpartisipati dalam pembangunan umat Allah di wilayah mereka. Pintu hati yang telah terbuka ini, akan turut mempengaruhi partisipasi umat dan jalannya pelayanan pada masa-masa mendatang.

Kita semua patut bersyukur atas mukjizat kemurahan hati ini. Tuhan telah mengabulkan doa dari sebagian besar umat yang telah lama merindukan ketenteraman dalam melaksanakan pelayanan dan kegiatan pembangunan di kevikepan ini. Untuk itu, selama bulan Agustus akan dipersembahkan misa untuk para leluhur mereka, untuk para ahli waris dan keturunannya agar berkat Tuhan turun dan berlimpah bagi mereka.

Pertemuan hari itu ditutup dengan makan siang bersama. Suasana kekeluargaan dan kesatuan hati begitu terasa. Kami semua pulang dengan hati damai. Sepanjang hari dan hari-hari berikutnya rasa syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada para  juru damai yang muncul dari tengah-tengah umat, mewarnai hati kami. Mukjizat telah terjadi dan kami telah mengalaminya.

Kamis, 31 Juli 2014

DUBAI LISBON



PEMBACA YANG BUDIMAN

Inilah oleh-oleh untuk anda yang saya sajikan untuk menyambung tulisan saya. Semoga anda dapat menikmati butir-butir mutiara yang ada di dalamnya. Selamat membaca.

Tanggal 21 Juni 2014, kami terbang dari Dubai ke Lisbon. Penerbangan memakan waktu 8 jam. Hari masih masih pagi, kira-kira jam 07.15 waktu Dubai. Kami yang baru saja mengadakan perjalanan panjang Jakarta Dubai, selama 8 jam pada umumnya “menerima saja perjalanan itu” sambil sesekali membaca buku / majalah atau menikmati filem yang disediakan dengan cara memencet tombol-tombol remote. Saya memilih duduk manis, sambil memejamkan mata. Kebetulan saya duduk di kursi no 32, dan di depan saya ada ruang kosong. Para penumpang yang sudah capek duduk, bisa berdiri di sana atau meluruskan kaki atau antre untuk ke toilet.

Ketika saya membuka mata, pandangan saya tertarik seorang bocah kecil (A) berambut pirang yang sedang berjalan-jalan di depan saya, di ruang kosong itu. Umurnya kira-kira 2 tahun. Ia tampak seperti sebuah boneka, bermata biru. Muncul pula dari belakang tempat duduk saya, seorang bocah lain (B) yang lebih besar. Kira-kira umurnya 3 tahun. Mereka berdua tertawa, tangannya saling didekatkan.... lalu larilah B ke belakang. A tetap di tempat. B datang lagi, tangan kanannya disentuhkan ke tangan B, lalu lari ke belakang, kali ini diikuti A. Mereka tidak berbicara, tetapi bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Kedua bocah kecil itu tahu dan bisa berkomunikasi. Mereka tahu bahwa mereka sebaya dan teman seumurnya itu “dapat memahami apa yang dirasakan oleh sesamanya”. Meski tubuh masih kecil, mereka sudah punya potensi untuk berkomunikasi. Tanpa kata pun “kebersamaan, seperasaan, rasa saling membutuhkan, dan aneka rasa lainnya” bisa diwujudkan. Mereka saling berkenalan tanpa menyebut nama. Mengenal nama bukanlah yang terpenting, karena yang terpenting bagi mereka adalah “kehadiran seorang teman yang memahami aneka rasa dan bisa diajak berkomunikasi”.

Pada jaman kita sekarang ini, sudah tersedia di mana-mana alat-alat komunikasi, yang sering disebut hp (hand-phone) dengan aneka merek. Menara-menara penghubung sambungan komunikasi elektronik / selular (milik indosat atau telkomsel) telah berdiri di banyak wilayah, dan menara-menara lainnya di luar negeri, telah memungkinkan orang untuk berkomunikasi jarak jauh. Memang sudah banyak kebutuhan atas barang dan jasa, telah terpenuhi dengan cepat karena bantuan alat-alat komunikasi itu. Mereka yang dalam keadaan sekarat dan kritis pun dapat segera ditolong karena lancar dan canggihnya alat komunikasi itu.

Di sisi lain, adegan bocah-bocah kecil itu telah menyerukan sesuatu kepada saya. Meski tidak kenal satu sama lain, mereka berusaha untuk berkomunikasi. Sementara itu, sepanjang perjalanan Dubai Lisbon, saya tidak berkomunikasi dengan sesama penumpang yang ada sebelah tempat duduk saya. Di deretan saya, ada 3 tempat duduk. Saya duduk di kursi dekat gang. Saya lebih memilih tidur. Kedua penumpang yang di sebelah saya pun memilih tidur. Mereka meski teman seperjalanan telah memilih tidur, terlebih penumpang yang duduk di tengah. Hampir sepanjang perjalanan, seluruh waktunya dihabiskan untuk tidur. Hidangan yang disediakan oleh pramugari hanya satu yang dimakan, yang lain dibiarkan saja, dan akhirnya diambil kembali oleh pramugari yang lain.

Komunikasi yang sebenarnya mudah dan murah, ternyata pada jaman sekarang ini orang makin sulit mendapatkannya. Mereka lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh di sana, sedangkan yang di sebelahnya atau serumah dengannya dilupakan, atau paling sedikit mendapat waktu. Karena itu, banyak orang kehausan akan komunikasi pribadi. Mereka kehilangan saat-saat dan pertemuan dua pribadi yang sangat mendasar yaitu saat dia bertemu, disapa, dimengerti, dihargai, didengarkan, didukung atau diberi pencerahan dan kekuatan. Sering alat komunikasi hanya sebagai hiburan, untuk mengisi kekosongan sesaat. Namun alat itu, tidak mampu dan tidak akan pernah bisa memberikan penghargaan dan pengertian, terlebih dukungan mental spiritual. Alat komunikasi adalah benda mati. Manusia membutuhkan komunikasi antar pribadi yang didasarkan pada nilai-nilai yang keluar dari hati nurani. 


DUBAI

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM 

Saya mengunjungi anda kembali, setelah hampir satu bulan absen. Ternyata menulis itu tidak mudah, dan membutuhkan "kemauan, ketetapan hati, dan fisik yang segar" serta keputusan untuk memulai menulis. Yang lain-lainnya memang diperlukan, namun menurut saya, keempat hal itulah yang utama. Banyak cerita akhirnya terlewatkan, karena tidak ditulis.  Cerita berikut ini adalah sambungan dari cerita yang saya tulis tanggal 1 Juli yang lalu. Selamat membaca.

Kami transit di Dubai selama 1 jam 30 menit. Masa transit ini dipergunakan untuk menuju ke tempat pemberangkatandi bagian lain, karena kami harus ganti pesawat. Sebelum masuk ke ruang tunggu, barang-barang bawaan kami dicek lagi. Semua yang mengandung metal (logam) harus dikeluarkan (misalnya: arloji, ikat pinggang, dompet, koin dll). Ada seorang rekan kami, meskipun semuanya telah diserahkan untuk dicek, ketika melewati “pintu detektor”, tokh alarm berbunyi. Dia diminta untuk ke kamar khusus, supaya bisa bisa diperiksa “ada benda apa yang mengakibatkan alarm berbunyi. Pihak petugas meminta rekan itu membongkar sanggulnya..... ternyata yang membuat bunyi itu adalah “jepet sanggul”. Dalam dialog itu, akhirnya rekan itu “bebas tanpa syarat” bahkan tersenum karena tahu benda berlogam itu adalah “jepet” yang ada di sanggul.

Setelah semuanya beres, masih ada waktu 1 jam untuk bersantai sejenak, sebelum panggilan untuk naik pesawat tiba. Kami sempat jalann-jalan di sekitar ruang tunggu. Ada macam-macam pilihan untuk mengisi waktu itu. Ada yang minum kopi, ada yang menikmati roti hambergur, ada yang sekedar jalan-jalan (cuti mata ), ada yang duduk-duduk santai.

Bandara Dubai memang buka 24 jam. Penumpang dapat dengan mudah membeli apa yang mereka butuhkan, termasuk makanan setiap saat. Bandara itu tidak pernah sepi. Manusia dari pelbagai negara dapat menikmati apa yang disediakan di banyak kantin, toko sovenir, duty free dll baik untuk memenuhi kebutuhan saat itu maupun untuk oleh-oleh. Bandaranya amat besar sehingga dapat menampung ribuan orang setiap harinya, dan amat lengkap serta nyaman. Bandara ini menjadi penghubung banyak orang yang hendak pergi dari negara ke negara lain. Pemerintah Emirates memang mempunyai banyak pesawat yang terpercaya, dan telah terbukti pelayanannya memeunuhi standart internasional untuk melayani penumpang dari dan ke banyak negara.

Pelayanan, bukan hanya sekedar menyediakan barang dan jasa, tetapi “mental, sikap, tindakan dan cara pelayanan” itulah yang lebih utama. Barang dan jasa merupakan wujud “kesiapsediaan dan pengorbanan seseorang” untuk memenuhi apa yang dibutuhkan orang yaitu “adanya dan terjaminnya rasa aman dan nyaman di tempat itu”. Hal inilah yang membuat orang merasa kerasan dan terkenang akan “kebaikan dan keramahtamahan dari pihak tuan rumah atau penyelenggara” yang telah menyediakan dan menyajikan kebutuhan manusiawi itu.

Apa yang dialami secara lahiriah, dapat mengantar orang kepada sesuatu dan Pribadi yang tidak kelihatan yaitu rahmat / anugerah dan sekaligus Sang Pemberi Rahmat dan Anugerah, yaitu Allah sendiri. Dengan demikian menjadi amat jelas, bahwa manusia adalah saluran dan penghadir rahmat Allah. Melalui mereka, Allah memelihara dan memberkati umat-Nya.



Sabtu, 05 Juli 2014

JAKARTA DUBAI

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan untuk anda, oleh-oleh perjalanan ziarah ke Eropa beberapa hari terakhir ini. Oleh-oleh itu akan saya tulis secara bersambung. Moga-moga saya sanggup menyelesaikannya dalam beberapa waktu ke depan. Semoga ada butir-butir mutiara yang anda temukan di dalamnya. Inilah sajian pertama, yang saya tulis di Jakarta,  2 hari setelah tiba di tanah air. Selamat membaca.

Pengurus tur ziarah ini memberikan lembaran pedoman kegiatan dan rute yang akan kami ikuti selama perjalanan itu. Di lembaran itu, pada hari pertama tertulis: “Perjalanan ziarah merupakan salah satu kesempatan dalam hidup dan berkat bagi kita sebagai umat yang dikasihi Tuhan. Melalui kesempatan kali ini, kita akan berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-hatta 3 jam sebelum keberangkatan, untuk penerbangan menuju Lisbon.

Tanggal 19 Juni 2014, di wisma KWI Jalan Kemiri no 15 Menteng – jakarta, para peserta ziarah berkumpul untuk saling berkenalan, merayakan misa kudus untuk mohon berkat perjalanan, dan mendapatkan pengarahan. Hal ini penting agar kami semua sebelum berangkat sudah saling kenal, dapat mempersiapkan hal-hal yang perlu di perjalanan, dan dengan hati damai berangkat karena telah dikuatkan oleh berkat Tuhan. Dalam pengarahan itu, kami semua diminta untuk berkumpul di Bandara sebelum jam 22.00 sehingga bisa bersama-sama cek in, pada jam 22.00.

Sekitar jam 21.00 sudah ada beberapa peserta yang datang di Pintu D-1 Terminal II. Menjelang jam 20.30 semua peserta sudah ada, dan kami semua mendapatkan pengarahan, menempelkan stiker / tanda pengenal di koper masing-masing peserta, baik yang akan dimasukkan ke bagasi maupun yang akan dibawa dalam kabin pesawat. Bu Janny yang dibantu oleh suaminya telah menyiapkan stiker, papan nama, dan pita berwarna hijau, dan mengikatkannya di masing-masing koper peserta. Setelah semuanya beres, kami mendapatkan pengarahan singkat, dan kemudian berdoa bersama.


Ternyata pengurus telah membantu kami cek in lebih dahulu, sehingga kami segera mendapatkan “boarding pass” dan bisa terus menuju ke bagian imigrasi. Koper-koper kami diurus oleh mereka dan dengan lebih leluasa kami tinggal menenteng koper kecil dan tentengan yang boleh dibawa ke dalam kabin pesawat. Kepada mereka yang telah mengurus kelancaran cek in, dan mengantar koper-koper besar ke loket cek in, kami ucapkan banyak terima kasih.

Di bagian imigrasi malam itu tidak ada begitu banyak penumpang yang akan berangkat, sehingga kami tidak perlu antre berlama-lama. Dalam beberapa menit, urusan imigrasi selesai. Kami masih punya waktu kira-kira 2 jam sebelum keberangakatan. Karena itu, kami memanfaatkan waktu itu dengan masuk di “lounge” dan menikmati makanan yang ada di sana. Mereka yang belum makan masih ada waktu cukup untuk bersantap malam, sedangkan yang sudah makan di rumah, juga masih bisa menikmati hidangan penghangat badan, atau menikmati kue-kue ringan.

Jakarta - Dubai

Itulah rute perjalanan hari pertama kami, dalam rangka ziarah 14 hari bersama rombongan MKPP (Misi Kemanusiaan Peduli Papua) tanggal 20 Juni – 3 Juli 2014. Kami ber-17, menumpang pesawat Eminarates EK 359, dari Jakarta ke Dubai, menempuh jarak lebih dari 7.600 km selama 8 jam. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, dengan pesawat boing 737, yang terbang dengan kecepatan lebih dari 900 km per jam. Kami berangkat adari Jakarta jam 00.40 wib dan mendarat di Dubai jam 05.30.

 Beda waktu antara Jakarta dan Dubai adalah 3 jam. Waktu di sana lebih pagi daripada waktu di Jakarta, sehingga jarum jam di arloji kami harus dimundurkan 3 jam. Bila wakatu di sana menunjukkan jam 05.30 itu berarti waktu di Jakarta jam 08.30. Matahari di sana baru mulai terbit, sedangkan di Jakarta sudah mulai tinggi, karena sudah terbit lebih dahulu. Sebagian penumpang bisa tertidur, bahkan terlelap dalam perjalanan malam itu, sementara yang lain tidak bisa tidur. Mereka yang tidak bisa tidur, ada yang memejamkan mata, tetapi ada juga yang mengisi waktunya dengan membaca, atau mendengarkan musik atau menonton film yang disediakan. Mereka tinggal memencet tombol-tombol remote yang ada di bangku masing-masing, atau memencet tombol-tombol di layar di depan tempat duduk masing-masing.  

Saya tidak tahu berapa lama mata ini terpejam, namun yang pasti sudah dini hari baru saja bisa tertidur. Lumayan juga bisa tertidur di pesawat, sehingga ketika tiba di Dubai, badan ini sudah agak segar. Kami transit di Dubai selama kurang lebih 1 jam 45 menit. Kami harus ganti pesawat untuk menuju Lisbon, melalui jalan yang cukup panjang. Karena belum saatnya untuk boarding, pintu keberangkatan masih tutup. Kami masih punya waktu untuk jalan-jalan, minum kopi panas, dan melihat-lihat “suasana bandara” yang tampak lebih besar, lebih teratur, bersih dan mewah daripada bandara Cengkareng. Ada juga rekan kami yang belanja sesuatu yang masih diperlukan, yang lain duduk-duduk sambil bercerita, dan yang lain lagi “berfoto” supaya ada kenangan dalam perjalanan hari itu.


Kami tiba dengan selamat di negeri orang setelah terbang 8 jam. Negeri itu sesungguhnya gurun pasir dan panas, namun kaya dengan minyak. Hasil penjualan minyak itu dipergunakan untuk membangun negara dan mensejahterakan masyarakatnya. Di negeri yang panas dan tandus itu, ternyata ada banyak rejeki, baik rejeki duniawi mapun rejeki dalam rupa kehadiran banyak bangsa dari negara lain yang datang ke negeri itu. Pemerintah Negeri Emirate telah menjadikan masyarakatnya makmur dan menjadi idaman banyak orang untuk bekerja dan mengalami hidup sejahtera. Meskipun penduduknya beragama islam, namun kerukunan hidup beragama amat menjamin bangsa-bangsa lain yang berbeda agama, hidup dengan aman dan damai di sana. Mereka tidak menganut falsafat Pancasila, namun kebebasan beragama dari penduduk pribumi maupun orang asing dijamin oleh pemerintah.  


Ajaran agama yang benar adalah ajaran yang menjadikan setiap orang adalah duta-duta Allah yang maharahim, yang setiap saat siap untuk membawa damai bagi semua orang tanpa membedakan asal-usulnya, negaranya, agamanya, dan tingkatan sosialnya. Di Dubai, saya mengalami itu. Kaum muslim yang berjilbab atau tidak, yang dari Asia atau pun yang dari Eropa atau Amerika atau benua yang lain, bisa bekerja sama, duduk makan, mengusahakan kelancaran penerbangan, meningkatkan pelayanan kemanusiaan, dan menjaga ketenteraman dan kedamaian. Belum pernah saya mendengar di negeri itu ada teror, atau ledakan bom bunuh diri, atau pembajakan pesawat. Bahkan negeri ini mempunyai reputasi yang sungguh baik dalam dunia penerbangan.  Saya rindu bahwa di negeri yang berdasarkan Pancasila ini, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua warga negaranya sungguh-sungguh terjamin. Saya amat yakin bahwa hati nurani bangsa Emirate Arab sama dengan hati nurani manusia Indonesia, karena diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama. 

Senin, 30 Juni 2014

MENARA PISA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Syaloom

Saat ini saya sedang berada di Italy - tepatnya di kota Pisa. Menurut jadwal, sesudah sarapan kami akan berkunjung ke sana. Cerita tentang menara ini, sudah lama saya dengar. Melihat gambar atau fotonya pun sudah banyak kali. Namun melihat secara langsung dari jauh ( dari bis ) baru terjadi kemarin, tanggal 29 Juni 2014. Melihat menara itu dari dekat, akan terjadi hari ini tanggal 30 Juni 2014.

Ketika saya menulis di blog ini, saya teringat syair dalam Mazmur 8 yang berbunyi:

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.  Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:   apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?  Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.  Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;   burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.  Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

Menara Piza dapat dilihat sebagai ungkapan diri manusia untuk menyapa dan mengagumi Allah  penciptanya. Kekuatan imaginasi, daya cipta, ungkapan kekaguman dan kemampuannya untuk menyatakan kebesaran Allah,  diwujudkan dalam bentuk bangunan. Kekokohan bangunan itu, ketinggian, kerapihan, dan kesatuan benda-benda / material yang diambil dari mana-mana dan disatukan dalam 1 bangunan, merupakan "lambang bahwa Allah hendak menyatukan seluruh umat Allah yang tersebar di seluruh bumi".

Beberapa keterangan yang saya dapatkan dari google tentang menara Pisa adalah demikian:

Menara Miring Pisa (Bahasa Italia: Torre pendente di Pisa atau disingkat Torre di Pisa) adalah sebuah campanile atau menara lonceng katedral di kota Pisa, Italia.
Menara Pisa sebenarnya dibuat agar berdiri secara vertikal seperti menara lonceng pada umumnya, namun mulai miring tak lama setelah pembangunannya dimulai pada Agustus 1173. Ia terletak di belakang katedral dan merupakan bangunan ketiga Campo dei Miracoli (lapangan pelangi) kota Pisa.

Ketinggian menara ini adalah 55,86 m dari permukaan tanah terendah dan 56,70 m dari permukaan tanah tertinggi. Kelebaran dinding di bawahnya mencapai 4,09 m dan di puncak 2,48 m. Bobotnya diperkirakan mencapai 14.500 ton. Menara Pisa memiliki 294 anak tangga. Dengan adanya menara ini, sektor pendapatan ekonomi jadi bertambah karena adanya objek wisata.  Menara Pisa juga diterima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sejarah

Pembangunan Menara Pisa dilakukan dalam tiga tahap dalam jangka waktu 200 tahun. Pembangunan lantai pertama dari campanile yang berbatu marmer putih dimulai pada 9 Agustus 1173, yang merupakan era kesejahteraan dan kejayaan militer. Lantai pertama ini dikelilingi oleh pilar dengan huruf klasik, yang mengarah miring terhadap lengkungan kerai. Sebenarnya, Menara Miring tersebut seharusnya berdiri tegak setinggi 55 meter, namun dikarenakan Menara Miring Pisa dibangun di atas tanah yang tidak stabil, Menara tersebut akhirnya miring dari garis lurus sepanjang 5 meter.


Ada kontroversi mengenai identitas dari arsitek Menara Miring Pisa. Selama beberapa tahun lamanya desainer dipredikatkan kepada Ahmad rezio Pahlevio dan ronaldo Jeremiaso, seorang seniman lokal terkemuka abad ke-12 di Pisa, yang populer oleh cetakan perunggunya, khususnya di dalam Pisa Duomo. Bonanno Pisano meninggalkan Pisa pada 1185 menuju ke Monreale, Sisilia, hanya untuk pulang kampung dan meninggal di kampung halamannya. Sarkofagus nya ditemukan di dasar menara pada tahun 1820.

Siapapun yang membangun......banyak orang tidak begitu mempersoalkan. Yang lebih mereka pentingkan adalah "bukti sebuah kebesaran manusia" pada saat itu yang telah mampu membangun sebuah bangunan raksasa, yang kokoh, dan telah berabad-abad lamanya berdiri, namun tidak roboh meskipun miring 5 meter dari garis tengah bagian dasarnya.

Kalau manusia sudah dapat dikatakan "besar dan mengagumkan", apalagi Sang Pencipta. Dia mahabesar dan maha mengagumkan. Kepada Dia kita menyembah, berbakti dan melaksanakan amanat yang diberikan kepada kita, agar kita berbahagia berada dalam pelukan kasih-Nya setiap hari.



Minggu, 22 Juni 2014

DOA SEBELUM PERJALANAN

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM

TANGGAL 20 JUNI 2014, kami memulai ziarah kami dengan doa bersama di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, sebelum kami memasuki pintu masuk untuk lapor diri tentang kepastian keberangkatan ( cek in ). Di dekat pintu masuk itu, ada suatu tempat yang diberi kode sebagai petunjuk:  TEMPAT KEBERANGKATAN 2D  PINTU SATU. Di sanalah kami telah bersekapakat untuk berkumpul.

Menjelang jam 22.00 para peserta sudah mulai berdatangan. Karena pada hari sebelumnya kami sudah mengadakan pertemuan di wisma KWI di jalan Kemiri, kami menjadi lebih mudah mengenali rekan-rekan yang akan menjadi sahabat seperjalanan dalam ziarah kali ini. Ketika berkumpul di wisma KWI ada beberapa rekan yang berhalangan. Mereka adalah bu Bambang, bu Tri, dan bu Iin. Kali ini lengkaplah, bahkan mereka yang menjadi "pengurus perjalanan ini" ( pihak Bayu Buana Tur ) juga hadir.

Mereka membantu kami untuk mengecek koper-koper para perserta. Kemudian koper-koper itu diberi label, agar nantinya ketika dimasukkan ke bagian bagasi pesawat, para pemiliknya dengan mudah mengenali koper-koper itu ketika sudah tiba di tempat tujuan. Mereka pula yang membantu kami untuk cek in barang-barang. Kepada kami dibagikan "bording pass" sehingga kami tidak perlu antre untuk cek in.



Sebelum masuk ke pintu keberangkatan, kami semua berdoa. Doa yang telah disusun sebelumnya, sudah dicetak di buku panduan. Karena buku-buku itu sudah ada di koper, DOA MOHON BERKAT TUHAN UNTUK PERJALANAN DIBAWAKAN OLEH MGR Niko, dan diambil dari buku itu.  Inilah doa yang kami panjatkan pada malam itu:


DOA MOHON BERKAT
DALAM PERJALANAN

Allah Bapa yang agung dan mulia. Engkaulah pencipta dan penyelenggara kehidupan, dan pemilik segala yang ada. Engkau menciptakan manusia, dan menempatkannya di dunia, agar kemuliaan-Mu menjadi sungguh nyata di antara semua makhluk ciptaan-Mu. Engkau melengkapi mereka dengan keindahan, kemuliaan dan semarak seperti yang ada padaMu sejak awal mula.

Bersama para pemazmur kami memuji Dikau: Tuhan Allah, kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu luhur mengatasi langit. Siapakah manusia sehingga Engkau perhatikan ? Siapakah dia, sehingga Engkau pelihara ?

Perhatian dan kasih sayang-Mu, Engkau tunjukkan dengan memberikan kepada kami rupa-rupa tanda, dan karunia sehingga melalui tanda-tanda itu kami dapat lebih mengenal dan mengalami kehadiran-Mu. Di mana ada manusia, di sana kami melihat dan menemukan kemuliaan-Mu.

Pada hari ini, kami bersama-sama hendak mengadakan perjalanan – ziarah ke Eropa, untuk mengalami kebaikan dan kesih setia-Mu yang Engkau hadirkan bagi umat manusia. Bimbinglah dan berkatilah perjalanan kami, sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan dan penyertaan-Mu kepada para rasul, para pewarta Injil-Mu dan kepada utusan-Mu sampai ke ujung bumi.

Semoga kami tiba dengan selamat di tempat tujuan, dan dapat mengadakan ziarah dengan aman dan damai. Berkati pula, para pendamping kami, dan penyelenggara perjalanan, mereka yang telah menyiapkan kedatangan kami, agar mereka pun mengalami kebaikan-Mu. Berkati anggota keluarga, para sahabat dan saudara-saudari kami yang mendukung perjalanan ziarah kami ini. Semoga Engkau telah menyertai kami, sampai kami tiba kembali di tanah air kami.

Semoga selama perjalanan ini, kami mengalami kegembiraan, dan hati kami dipenuhi dengan rasa syukur atas apa saja yang kami lihat, kami dengar dan kami rasakan. Semoga selama perjalanan ini, kami menjadi sahabat yang baik, yang rela berkorban, dan mau memahami situasi dan pergumulan rekan-rekan seperjalanan kami, sehingga “kehadiran kami dialami sebagai kehadiran-Mu sendiri”, kata-kata kami dialami sebagai sapaan-Mu, dan penghiburan yang kami alami adalah penghiburan yang Engkau berikan kepada kami”. Doa, hormat, syukur dan permohonan kami ini, kami haturkan kepada-Mu, dengan perantaran Kristus Tuhan dan Pelindung kami. Amin. 

Kami tiba di Dubai dengan selamat, setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam. Pesawat mendarat dengan mulus pada jam 05.20 waktu Dubai. Setelah keluar dari perut pesawat, kami naik bis menuju ke terminal - untuk transit. Kami memulai proses panjang: cek in dengan memasukkan semua barang bawaan ke mesin X Ray, termasuk ikat pinggang, arloji, jaket dll harus dicek. Syukurlah semuanya berjalan lancar..... Kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat Emirates yang berbeda. Kami terbang dari Dubai menuju ke Lisbon selama kira-kira 7,5 jam. Kami mendarat dengan selamat di Lisbon, meski roda pesawat ketika menyentuh landasan tidak semulus seperti ketika mendarat di Dubai. 



Setelah keluar dari perut pesawat, kami berdoa untuk mengucap syukur atas anugerah perjalanan yang begitu lancar bagi kami semua.  Memang kami telah menerima anugerah-Nya sepanjang malam, hingga hari berikutnya, melalui mereka yang telah melayani kami.