Kamis, 29 Juni 2017

MENJADI MALAIKAT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan bagi anda, sebuah renungan yang saya angkat dari pengalaman kecil. Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan aspirasi di dalamnya.  

Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah....( ayat 36)

Kira-kira 1 bulan lalu, saya diajak oleh beberapa rekan, pergi rekreasi ke Batu – Malang, Jawa Timur.  Dalam perjalanan ke tempat itu, ada rekan yang menceritakan bahwa di sana ada banyak sekali kupu-kupu, dan bagus  sekali. Ada binatang-binatang yang sudah dikeringkan. Pelbagai jenis ikan juga bisa dilihat dari dekat.  Informasi itu membuat saya ingin segera sampai, dan melihat apa yang diceritakan ketika kami masih dalam perjalanan.

Dari tempat parkir, kami sudah langsung melihat gedung besar dan 2 patung gajah raksasa. Gedung besar itu adalah museum satwa.  Kami mengawali rekreasi kami di museum satwa. Di sana, ada 1 ekor kangguru besar yang sudah dikeringkan sedang mengendarai vespa, 1 ekor kangguru belang-belang sedang memetik gitar, rangka raksasa dinosaurus. Di bagian lain ( Batu Secret Zoo), saya melihat burung-burung,  kuda nil, monyet-monyet kecil dari Afrika, dan angsa hitam yang paruhnya merah. Di bagian lain lagi, ada pelbagai jenis ikan dari laut dalam, ikan pari tutul yang belum pernah saya lihat sebelumnya, biota laut dll. Semuanya jauh lebih indah daripada yang diceritakan oleh rekan saya.  Cerita manusiawi betapa pun lengkapnya, tidak bisa menggambarkan keindahan, kemegahan, kemuliaan dari wujud / kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kutipan Injil hari minggu ini, ada pertanyaan orang Farisi tentang wanita yang menikah 7 kali: “Siapakah yang menjadi suami dari wanita itu ?” (Luk 20:33).  Pertanyaan itu muncul berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan realita yang terjadi di masyarakat. Sekaligus pertanyaan itu juga merupakan ungkapan kecemasan, ketidak-mengertian, keingintahuan, harapan untuk mendapatkan kepastian kepada Sang Guru Kehidupan.  Jawaban Yesus, sungguh di luar  dugaan mereka.  Sesudah kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah.....( Luk 20: 36).

Jawaban Yesus itu mau menunjukkan umat manusia bahwa kehidupan sesudah kebangkitan sungguh amat berbeda dengan kehidupan di dunia ini. “Di sana” kehidupan itu jauh lebih mulia, lebih damai, dan membahagiakan.   Sebagaimana museum satwa dan Batu Secret Zoo, jauh lebih indah gedungnya dan lebih lengkap isinya serta lebih menarik panoramanya, daripada yang diceritakan, kiranya demikian pula “surga dan kehidupan bersama Yesus” akan jauh lebih indah, mulia dan membahagiakan daripada yang dialami manusia di dunia ini.  Di dalam Yesus, berlimpah-limpah kerahiman Allah, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang menjadi Perantara kita satu-satunya kepada Allah.

Para beriman kepada Yesus dipanggil untuk menghadirkan suasana “surga” (kasih, persekutuan, kesetiaan, kemurahan hati, kelemahlembutan, persaudaraan, penguasaan diri) itu bukan hanya nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini. Saat ini, di tengah kehidupan berkeluarga, berkomunitas, bermasyarakat dan berbangsa, suasana surga itu dibutuhkan oleh segenap umat manusia.  Ketika orang berbicara tentang keluarga, komunitas, suami, istri, dan anak-anak kita, yang mereka temukan di rumah kita, di lingkungan , di komunitas kita, ternyata jauh lebih luar biasa, lebih membahagiakan dan menyejukkan daripada yang diceritakan oleh siapa pun. Mereka bangga akan pengalaman bahwa “para pengikut Yesus itu seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah..... karena mereka menghadirkan kerahiman Allah.

Orang-orang yang berkeluarga memang terikat oleh perkawinan. Amat wajar bila mereka bicara tentang kawin, mengawinkan dan dikawinkan, urusan rumah tangga, makan minum dll. Namun urusan keluarga kristiani bukan hanya itu. Mereka karena sakramen permandian adalah utusan-utusan Allah untuk menyebarluaskan dan menghadirkan kasih Allah di dunia ini. Kunjungan ke orang sakit, ikut kegiatan lingkungan dengan sukacita, menjadi anggota koor, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak dan suami / istri, mendampingi anak-anak yang sedang belajar, mengatur keuangan keluarga sehingga semuanya sejahtera, hidup sederhana dengan penuh kejujuran, ketulusan dan kesetian dsb, merupakan “jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan” dan menjadi “lilin yang  bernyala bagi manusia dan dunia yang dikungkung oleh kegelapan”.

Melalui kesaksian hidup yang baik dan penuh rahmat Allah itu, orang / sesama manusia dibantu untuk mengalami kebaikan Allah, dan bersama-sama berusaha hidup suci supaya diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan abadi bersama Allah dan para kudus. Di sana mereka akan seperti malaikat-malaikat. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil Tuhan untuk mengalami semuanya itu secara penuh untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di dunia merupakan persiapan untuk mengalaminya secara total di surga bersama Allah yang telah menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia. 

28 TAHUN IMAMAT

PEMBACA YANG BUDIMAN, 

Saya ingin mengenang kembali  satu hari penting dalam hidup saya. Moga-moga cerita ini memberi makna bagi pembaca, dan moga-moga pula ada yang terpanggil untuk menjadi imam. 

Tanggal 1 Februari 1989, jatuh pada hari rabu. Hari itu, fr Hans Susilo, fr. Priyo Susanto, fr. Adi Seputra, fr. Sani saliwardaya, dan fr Heru Jati ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Alexander Djajasiswaja ( Uskup Bandung ). Tahbisan itu dilaksanakan di gereja katedral Purwokerto yang baru saja diberkati. Kelima frater tsb adalah orang-orang pertama (pembuka / yang mengawali) yang ditahbiskan di gereja yang baru itu. Mereka yang hendak ditahbiskan itu adalah frater-frater MSC.

Tahbisan dilaksanakan pada sore hari, jam 4 sore. Karena uskup Purwokerto pada waktu itu sedang berhalangan,  tugas beliau itu digantikan oleh Mgr. Djaja.  Upacara pentahbisan berjalan lancar, meskipun sebenarnya hari-hari itu adalah hari-hari hujan. Uskup pentahbis didampingi oleh Romo Sukmana MSC dan Romo Wignyo Sumarto MSC. Hadir pada kesempatan itu puluhan imam baik dari Tarekat MSC, para imam projo, romo-romo tamu dari banyak tempat. Seingat saya hadir juga 1 orang imam MSC dari Jepang yaitu Romo Makino.

Salah satu dari frater yang ditahbiskan ini adalah penulis. Dia ingin  mengenang peristiwa yang telah terjadi 28 tahun yang silam. Meski peristiwa itu telah berlangsung begitu lama, namun rasanya baru saja terjadi dan merupakan kenangan yang tidak pernah akan bisa dilupakan. Waktu itu, para frater yang hendak ditahbiskan pada umumnya didampingi oleh kedua orangtuanya. Hanya frater Heru, karena ayahnya sudah meninggal, didampingi ibunya dan pamannya.


Upacara tersebut berlangsung dengan khidmat, meriah dan sederhana. Lagu “Di Sanggar Mahasuci” mengiringi prosesi panjang. Para penari memperagakan hormat bakti dan sujud seluruh umat Allah pada penyelenggaraan Ilahi dan kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia. Peristiwa yang mengesankan penulis adalah ketika meminta restu kepada orangtua, tiarap sebagai tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, dan penumpangan tangan, dan pengurapan dengan minyak krisma.

Sesudah pentahbisan, kelima imam baru dengan didampingi oleh orangtua masing-masing, berdiri di pelataran panti imam dan menerima salam dari umat, sahabat dan para undangan. Kemudian, ada resepsi di aula katedral. Mgr P.S.Hardja-Soemarta MSC hadir pada kesempatan itu, seraya memberikan ucapan selamat kepada para imam baru. Tidak ada acara ramah tamah pada malam itu, sehingga para tamu dan undangan yang berasal dari luar kota, bisa langsung pulang.

Syukuran atas pentahbisan, dirayakan di Novisiat MSC – Karanganyar / Kebumen, di paroki St. Petrus Pekalongan, di Gombong, dan di Kalikotak ( rumah Rm. Hans Susilo), di Samigaluh ( rumah Rm. Priyo), dan di Jomblang ( rumah Rm. Adi Seputra ).  Misa syukur juga diadakan di SMP Pius Tegal karena penulis dulu bersekolah di TK, SD, dan lulus dari SMP Pius Tegal. Satu bulan setelah menerima tahbisan, dua Romo diutus ke Jepang ( Romo Priyo dan Romo Sanny), Romo Heru diutus ke keuskupan Amboina, dan Romo Susilo dan Romo Adi diutus ke Irian Jaya.  

Tgl 4 Maret 1989, Romo Yos Suwatan MSC (provinsial) dalam misa sederhana di kapel provinsialat MSC di Jakarta mengutus 3 imam muda ke tempat tugas masing-masing. Tanggal 5 Maret 1989, Rm Hans Susilo dan Rm Adi Seputra terbang menuju Jayapura, dan bermalam selama beberapa hari di biara St. Antonius Sentani. Tgl. 10 Maret 1989, kedua imam ini tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Merpati. Di Bandara, mereka dijemput oleh Pater Anton de Grow MSC, Sr. Chatrine Tati PBHK, P Alo Batmyanik MSC dan P Sugun MSC.

28 tahun adalah kurun waktu yang cukup panjang. Sakramen Imamat yang saya terima telah menjadi berkat besar bagi diri saya sendiri dan umat Allah dan banyak orang dari pelbagai bangsa dan agama. Tidak terhitung lagi berapa kali saya merayakan ekaristi, membaptis orang, meneguhkan nikah, atas nama Tuhan mengampuni dosa, dan mengurapi orang-orang sakit. Tidak terhitung lagi berapa banyak berkat melalui orang-orang yang membantu pelayanan saya, turut serta hadir dalam perjalanan dan pekerjaan sulit di pedalaman-pedalaman.  Tidak terhitung juga betapa banyak orang yang telah mendoakan saya dan meneguhkan panggilan saya.

Maka, pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu saya, yang saat ini sudah berusia 81th namun masih tetap mendoakan saya. Juga kepada kakak adik, ipar dan kemenakan yang menunjukkan persaudaraan dan keakraban setiap kali saya berlibur. Kepada umat, sahabat kenalan yang tersebar di seluruh nusantara, maupun di luar negeri. Juga kepada konfrater MSC, rekan-rekan setahbisan dan rekan-rekan pembaca blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih.

KONTROL

 PEMBACA YANG BUDIMAN 

SAYA HATURKAN TULISAN INI UNTUK ANDA. MOGA-MOGA ANDA DAPAT MEMETIK BEBERAPA ASPIRASI DI DALAMNYA. SELAMAT MEMBACA...

Tanggal 2 Juni 2017, kami tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Batik.  Kami bertiga ( saya, G dan M) memilih naik Batik supaya  bisa melanjutkan perjalanan ke Kepi, pada pagi itu juga. Tiket untuk ke Kepi sudah diusahakan oleh rekan kami, di Merauke. Kami juga telah mohon berkat Tuhan agar semua rencana kami ini berjalan dengan baik. Ketika berada di ruang tunggu di bandara Cengkareng Jakarta, saya sudah membayangkan perjalanan ke Kepi dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dengan menunjukkan peta perjalanan, saya menerangkan kepada 2 rekan saya, tempat-tempat yang menjadi tujuan  perjalanan kami.

Perjalanan dari Jakarta hingga Merauke, dengan transit di Makasar sungguh amat lancar, sehingga kami tiba di tempat di Merauke tepat pada waktunya.  Saya melihat 4 pesawat jenis Grand-Caravan parkir di sebelah kiri pesawat Batik yang baru saja mendarat. Serombongan orang bersama-sama berjalan menuju ke pesawat-pesawat itu. Di antara mereka ada 2 orang pilot.  Itulah pesawat-pesawat yang melayani daerah pedalaman.

Sesudah mengambil beberapa foto kenangan di Bandara Merauke, saya segera mencari rekan yang membawa tiket kami untuk ke Kepi. Rekan kami itu sudah menunggu kami di pintu kedatangan. Ketika saya mendapatkan dia, tiket segera saya minta. Dan kami bertiga bergegas menuju ke tempat cek in. Ternyata di sana hanya ada 1 orang petugas, karena para petugas lain telah pergi menuju ke dekat pesawat. Loket sudah ditutup. 

Saya berusaha untuk mencari petugas, supaya masih bisa dapat ikut penerbangan ke Kepi pada menit-menit terakhir itu. Saya mendapatkan petugas di kantor, namun mereka kebingungan. Saya kemudian ke ruang tunggu lagi, dan mengajak kedua rekan untuk menuju ke pesawat. Namun sayang, dua pesawat sudah bergerak dan siap terbang, dan pesawat yang ketiga pintunya sudah ditutup.  Kami bertiga ketinggalan pesawat. Dengan amat menyesal dan kecewa, saya kembali ke ruang kedatangan dan pulang ke rumah. Memang kesalahan dan kekurangan ada pihak kami (penumpang). Rekan yang  mengurus tiket kami untuk ke pedalaman, tidak cek in lebih dulu.  Tiket dititipkan ke orang lain tanpa pesan apa pun. Maka, meskipun dia sudah berada di bandara, dengan tenang dia menunggu kedatangan kami.

Kurang komunikasi dan kurang penjelasan yang memadai membuat rencana dan aktivitas yang sudah didepan mata batal total. Tiket yang sudah kami beli juga hangus. Yang tersisa adalah penyesalan. Peristiwa itu makin memberikan keyakinan kepada saya, bahwa komunikasi dan penjelasan yang baik itu penting. Hal ini akan memungkinkan orang lain yang akan membantu kelancaran pekerjaan / rencana dapat melaksanakan tugas dengan baik. Selain itu, cek dan ricek itu juga penting.  Kadang kala terjadi bahwa komunikasi itu hanya satu arah, dan orang juga mengandaikan bahwa apa yang sudah disampaikan itu pasti akan terlaksana dengan aman dan lancar. Komunikasi dua arah, cek dan ricek dianggap tidak penting. Padahal, sebagaimana yang terjadi, karena tidak ada pengecekan kembali, terjadilah kegagalan itu.

Saya sering mengalami bahwa orang tidak berani membuat cek dan ricek karena “takut mengganggu” kegiatan / waktu dari orang yang memberikan mandat. Maka “orang-orang itu lebih baik menunggu dan menunggu”  dan lebih memilih diusik oleh “keraguan” daripada mencari sebuah kepastian yang muncul dari “keberaniannya untuk menggangu kenyamanan dan aktivitas” pemberi mandat.  Ketakutan dan keraguan yang banyak kali terjadi ini, sering menjadi faktor penghambat atas rencana atau keberhasilan, dan mengakibatkan kerugian yang besar: kerugian moril, materiil, waktu, dan target.

Makna lain / hikmah lain yang dapat saya petik dari semuanya itu adalah bahwa kontrol dan tanggung jawab untuk mengongtrol kegiatan tetap berada di tangan bos / pemberi mandat, bila rencana / program itu dikehendaki 100 persen terlaksana, atau paling tidak diperkecil tingkat kegagalannya.  Pada menit-menit terakhir pun hal itu perlu dilakukan. Juga perasaan “takut dan ragu-ragu” dari orang-orang yang membantu pekerjaan itu, harus ditangani dengan baik supaya mereka pun menjadi orang-orang yang percaya diri, dan berani bertanya.  Petunjuk yang jelas harus diberikan kepada mereka, agar mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan.  Bagaimana pun pentingnya semuanya itu, bila relasi dengan orang-orang kepercayaan itu tidak baik / terganggu, hasil yang akan diperoleh  pun tidak / kurang maximal. Maka, relasi yang  baik dengan mereka tetap perlu dijalin dan dijaga dengan baik meskipun mereka adalah bawahan / karyawan.

ANAK-ANAK SEMINARI

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Februari. Misa mulia namun sederhana diadakan di Seminari Pastor Bonus, bersama-sama dengan anak-anak seminari. Yang menjadi pokok renungan adalah “Yesus makin bertambah besar, makin kuat dan makin bijaksana, serta makin dikasihi Allah dan manusia”. 

Pada waktu dipersembahkan di kenisah, Yesus baru berumur 40 hari.  Kedua orangtua-Nya (Yoseph dan Maria) telah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara persembahan. Sebagai keluarga tukang kayu, mungkin sekali mereka membawa sepasang tekukur atau burung merpati, sebagaimana yang dipersyaratkan untuk hari suci itu.  Mereka terheran-heran oleh sambutan Imam Agung Simeon, yang mengucap syukur atas telah terkabulnya permohonannya.

Sesudah hari-hari suci itu, kedua orangtua kembali ke kampung halamannya yaitu ke Nazareth. Pendidikan dan pembinaan diberikan setiap hari kepada Kanak-kanak Yesus, tentang nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, latihan ketrampilan, kunjungan keluarga, doa bersama, membaca kitab suci dll. Apa yang mereka tanamkan setiap hari itulah yang dilaksanakan dan diteruskan oleh Yesus, yang makin hari makin bertambah usianya. Kedua orangtua punya peran penting dalam kehidupan Yesus, sehingga Dia makin bertambah besar, makin kuat, dan bertambah hikmah-Nya, serta makin dikasihi Allah dan manusia.
Seminari adalah tempat pembinaan / persemaian  bibit para calon imam.  Sebagaimana yang terjadi di keluarga-keluarga, di seminari pun anak-anak seminari diberi pembinaan, latihan, dan bekerja agar makin terlibat dan tahu apa yang harus dikerjakan setiap hari. Pelajaran budi pekerti, nilai-nilai kerohanian, dan kejiwaan ditanamkan dan diteladankan oleh para pembina, agar kelak mereka menjadi manusia yang baik, bijaksana, dewasa dan dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab. Apa yang diberikan setiap hari, merupakan bekal penting, agar mereka ketika melakukan semuanya itu bukan lagi karena aturan, terpaksa atau disuruh, tetapi dengan sebuah kesadaran pribadi. Pekerjaan dan kegiatan harian merupakan pelaksanaan dan perwujudan pribadi mereka yang hendak mengabdi, melayani dan menyalurkan minat, bakat, talenta dan kekuatan yang ada padanya.
Demikian pula para orangtua, dari keluarga manapun, menanamkan dan meneruskan apa yang mereka punyai kepada anak-anaknya. Mereka membekali anak-anak agar kelak anak-anak itu mempunyai bekal dan dapat hidup dan berkembang sesuai dengan talenta, minat dan kekuatan serta kepribadian mereka kepada masyarakat.  Ketika sudah dewasa, anak-anak itu tidak lagi tergantung pada orangtuanya, tetapi dapat hidup mandiri bahkan mengembangkan apa yang telah ditanamkan orangtua atau apa pun ditemukan dalam perjalanan hidup mereka.
Bagi para beriman katolik, keluarga kudus Nazareth ( Yusuf, Maria dan Yesus) merupakan teladan bagi keluarga-keluarga sekarang ini. Baik sebagai pribadi-pribadi, maupun sebagai keluarga, mereka dipenuhi kasih karunia Allah.  Kedekatan dengan Allah yang mereka wujudkan dalam hidup dan relasi serta komunikasi satu sama lain, membuahkan rahmat yang begitu banyak. Semoga kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, mendapatkan rahmat yang berlimpah sebagai buah dari kedekatan kita dengan Allah dan meneruskannya kepada sesama.

Selasa, 30 Mei 2017

LARANTUKA

PEMBACA YANG BUDIMAN

SAYA MENGUNJUNGI ANDA PADA KESEMPATAN INI, DENGAN MENYAJIKAN SEBUAH OLEH-OLEH PERJALANAN SAYA KE LARANTUKA – FLORES TIMUR.  TIDAK  BANYAK YANG SAYA CERITAKAN, NAMUN SEMOGA ANDA MENEMUKAN BUTIR-BUTIR INSPIRASI DI DALAMNYA.

Larantuka adalah nama suatu kota di pulau Flores bagian timur.  Kota ini dapat dijangkau dari Kupang dengan naik kapal laut selama 6 – 7 jam atau pesawat terbang selama kurang lebih 35 menit. Bila cuaca cerah selama penerbangan, para penumpang dapat melihat pemandangan yang indah dari jendela pesawat, pulau-pulau kecil yang berbukit-bukit, dan pantai-pantai panjang di sekeliling pulau.  Pulau-pulau itu masih sangat alamiah, bersih dan tidak tampak bangunan-bangunan, atau villa-villa yang didirikan untuk menampung para turis. 

Saya dan ibu Suzanna tiba di Larantuka, dalam rangka memberikan pembekalan dan pelatihan bagi para penggerak gender dan pemberdayaan perempuan. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 29 April sampai dengan 2 Mei  2017,  dibuka dengan misa yang dipimpin oleh Mgr Niko Adi MSC ( Moderator dari kantor Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan KWI), didampingi oleh Mgr. Frans Kopong Kung, dan 6 imam.  Apa saja yang diselenggarakan pada pelatihan itu ?

Para peserta diberi penjelasan tentang “Apa itu Gender dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat”.  Dengan adanya pengertian yang benar, para penggerak gender diyakinkan bahwa gender bukanlah sekedar pengertian, atau kegiatan, atau emansipasi, atau kesetaraan, atau  sekedar sebutan terhadap jenis kelamin tertentu.  Gender adalah suatu pengertian tentang kondisi manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai citra Allah yang bermartabat, sehingga manusia itu dapat hidup dan berperan dalam pembangunan masyarakat. Kondisi adalah syarat-syarat yang dibutuhkan supaya manusia itu dapat hidup, bergerak dan berkembang.

Syarat-syarat yang dibutuhkan itu sangat banyak, dan meliputi unsur-unsur ini: 
      BADAN  :  Sandang, pangan, papan cukup
 JIWA :   damai, tentram, bahagia, dicintai, dihargai, dll sehingga dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik
      ROH :  dapat berkomunikasi dirinya, sesama & Tuhan sehingga mendasari manusia untuk mengarahkan diri pada hal-hal yang bersifat misteri
      PIKIRAN: dilatih dan dikembangkan, dipakai sehingga makin tajam, terarah dan bisa membedakan mana yang pokok dan mana yang sampingan
      MENTAL:  dilatih, dikembangkan dan dipakai sehingga makin kuat dan bisa diandalkan
      KEUTAMAAN: diakui, diterima, dikembangkan sehingga hidup ini menjadi makin indah
      KETERLIBATAN:  dengan dilibatkan, akan terjadi saling memperkaya, memperdalam
      JANGKAUAN: makin banyak dan meluas
      MITRA KERJA: lokal, nasional, internasional
      FASILITAS:  memadai sehingga memungkinkan orang untuk bisa bekerja dengan lebih mantap
      KETERANGAN DIRI:  akte kelahiran, KTP, surat nikah dan keterangan-keterangan yang diperlukan, terpenuhi sehingga dia tidak mengalamni kesulitan untuk mengembangkan diri.


Peserta yang ikut sekitar 50 orang. Mereka adalah wakil-wakil dari paroki-paroki se Regio Nusa Tenggara.  Memang kebanyakan yang datang adalah kaum ibu ( kaum perempuan ), hanya 3 orang bapa-bapa.  Hal ini pada umumnya disebabkan karena pengertian tentang gender belum dipahami dengan baik. Gender disamakan dengan gerakan perempuan, atau bahkan dipersempit menjadi “jenis kelamin”.  Yang berurusan dengan gender adalah kaum perempuan. Karena itu yang diutus untuk datang ke kegiatan sosialisasi dan pembekalan bagi para penggerak gender adalah kaum perempuan.  Diharapkan pada masa-masa mendatang, para penggerak gender makin banyak juga dari kalangan kaum laki-laki.


Para fasilitator kali ini adalah Mgr Niko Adi MSC, ibu Suzanna Suryati dan ibu Agnes Witin. Ketiga fasilitator gender ini adalah pengurus dari Kantor Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan KWI. Mereka datang untuk membekali dan membina para penggerak awal, agar makin banyak orang dan lembaga yang terlibat dalam memasyarakatkan kegiatan pemberdayaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan.  Memang banyak kali kaum perempuan ditinggalkan atau dianggap kelas dua, karena itu kaum perempuan memang diberi perhatian lebih banyak, supaya mereka dapat semakin mandiri.


Tujuan kegiatan ini selain memberikan pengertian yang benar dan tepat tentang gender, mengajak banyak pihak untuk turut serta dalam kegiatan pemberdayaan manusia (laki-laki dan perempuan), juga memberikan bekal ketrampilan menjahit, memasak dan membuat kebun dengan memanfaatkan lahan-lahan sempit. Moga-moga para penggerak gender makin  bertambah besar jumlahnya, dan mereka makin hidup sejahtera.


Kegiatan ini adalah kegiatan kemanusiaan yang didasarkan pada semangat cinta kasih. Laki-laki dan perempuan mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah. Karena itu, mereka wajib saling membantu dan layani agar hidup mereka makin sejahtera, bahagia dan dapat berkembang sesuai dengan martabatnya.  Melalui mereka Allah turut bekerja dan menyempurnakan kehidupan manusia. Manusia dilibatkan dalam karya Tuhan untuk membangun dan mengembangakan sesamanya.  Dalam iman kepada Kristus, kegiatan yang dilakukan ini adalah karya keselamatan Tuhan bagi umat-Nya di wilayah mereka masing-masing. 

Sabtu, 29 April 2017

TUNGKU API

PEMBACA YANG BUDIMAN

Silakan menikmati kisah yang satu ini. Ceritanya sederhana dan ada di sekitar kita, namun di rumah anda mungkin alat itu sudah tidak ada lagi. Anda hanya dapat melihatnya di tempat lain.  Mungkin alat itu hanya ada pada masa lalu, dan anda pernah memiliki dan menggunakannya.  Ada apa dengan kisah itu ?  

GERAKAN TUNGKU API KELUARGA
Di banyak tempat, keluarga-keluarga jaman sekarang di perkotaan dan di pinggiran kota, lebih banyak memilih menggunakan kompor untuk kegiatan masak-memasak. Menggunakan kompor memang lebih praktis, lebih mudah, tidak butuh tempat yang besar, lebih bersih dan mungkin lebih murah. Apalagi, pada masa sekarang ini, mencari kayu bakar juga tidak mudah. Karena itu,  ada banyak anggota keluarga dan generasi muda, yang tidak pernah melihat tungku api (ta).

Apa itu ta ?  Alat yang  terbuat dari tanah liat atau batu, bentuknya persegi panjang, diberi lobang di depan dan di belakangnya untuk memasukkan kayu api, dan ada 2 atau 3 lobang di atasnya untuk menempatkan alat untuk memasak, atau 2 bongkah batu yang bentuknya empat persegi panjang, dan diletakkan sejajar dengan jarak 25 – 30 sentimeter. Pada umumnya ta ini letaknya tetap di suatu tempat, sesuai dengan kesepakatan keluarga masing-masing. 

Mengapa ta itu tidak dipindah-pindah ? Ada beberapa alasan: 1) nyala api itu menimbulkan asap yang mengakibatkan warna hitam atau mengotori dinding atau langit-langit baik di samping maupun di atasnya, 2) memudahkan anggota keluarga untuk menaruh kayu bakar, dan bahan-bahan yang akan dimasak, 3) memudahkan orang lain yang perlu bantuan untuk memasak dengan menggunakan ta yang sama, 4) sisa-sisa pembakaran / sisa-sisa makanan dengan mudah dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pada masa yang lalu, ketika keluarga-keluarga belum mengenal kompor, ta punya peranan yang penting bagi mereka.  Ia adalah alat untuk memanaskan badan, ketika mereka kedinginan, sakit malaria, atau pada musim hujan.  Juga asap kayu api yang dibakar di alat ini dipergunakan untuk mengusir nyamuk. Bila keluarga-keluarga itu tidak mempunyai ta sendiri, mereka berkumpul bersama-sama di sekitar ta dan memanaskan badan atau mengusir nyamuk.  Ta juga dipergunakan bersama-sama untuk memasak, atau membakar hasil kebun / hasil hutan yang mereka bawa pulang.

Sambil menunggu hasil kebun siap untuk dinikmati bersama-sama, ta juga menjadi sarana orang-orang berkumpul.  Mereka  bercerita tentang kegiatan hari itu, apa yang mereka hasilkan, ke mana mereka pergi. Dengan siapa mereka berburu, mencari ikan, menebang kayu atau mencari makan.  Di tempat itu pula mereka bertukar pikiran, membicarakan hal-hal penting dan mengambil keputusan.  Patut kita cermati pula bahwa di  ta itu pula, mereka mendidik anak-anak dan generasi muda agar mengetahui dan mengenal nilai-nilai adat dan budaya, etika pergaulan, harapan-harapan dan langkah-langkah yang akan diambil, serta kapan pelaksanaannya berdasarkan keputusan yang telah mereka tetapkan.

Bagi masyarakat / keluarga jaman sekarang yagn tidak pernah punya ta, “Gerakan Tungku Api” ini apa maknanya ?  Pertama, kita adalah generasi yang lahir dari / keturunan tingkat ke-sekian dari orang-orangtua ( leluhur) yang pernah hidup dan mempunyai ta. Kedua, sesekali waktu kita pun pernah menggunakan / berkumpul di sekitar ta, ketika bermalam di kampung-kampung dan badan kita membutuhkan alat pemanas yang murah dan ada di tempat. Ketiga, ketika membakar ikan / daging dalam jumlah banyak untuk keperluan pesta atau acara keluarga, ta menjadi tempat orang berkumpul, membakar bahan makanan sambil bercerita.

Berdasarkan butir-butir penting atas nilai-nilai yang tersirat di dalam “keberadaan ta” itu, sesungguhnya manusia itu membutuhkan sesama / orang lain untuk berdialog, bercerita, mendengarkan dan didengarkan, melengkapi dan dilengkapi, memperkaya dan diperkaya oleh sesamanya, di seputar ta itu. Meskipun ta tidak ada di rumah keluarga-keluarga pada jaman sekarang ini, kebutuhan akan pertemuan, kehadiran, saling menyapa, saling mengisi, bercerita dan mendengarkan cerita, menghargai dan dihargai dll sungguh-sungguh nyata. Kebutuhan ini apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan “kehausan dan kekeringan jiwa, ke-menurun-an kepemilikan akan nilai-nilai kemanusiaan yang pada gilirannya akan dapat mengikis keluhuran martabat manusia.

Gerakan Tungku Api Keluarga (GTAK) merupakan pengingat, penggugah dan seruan untuk memperdengarkan dan menguatkan lagi adanya kebutuhan serius akan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang menurun tajam bahkan menghilang dari kehidupan manusia sekarang ini.  Orang jaman sekarang lebih membutuhkan dan menomorsatukan alat ( hp, televisi, kendaraan ) dan makanan serta pakaian, daripada manusia (sesama) yang memberikan alat atau menyediakan makanan dan kebutuhan kehidupannya.  Padahal hp, televisi, kendaraan, pakaian dll tidak bisa mengambilkan obat, memasak, atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

GTAK merupakan seruan dan ajakan agar tiap-tiap orang dan keluarga-keluarga menyadari betapa pentingnya menyiapkan dan membekali diri dengan pelbagai nilai-nilai kehidupan. Gerakan ini juga merupakan pemberitahuan akan adanya bahaya yang menghadang kita semua, bahwa bila hal ini dilupakan manusia akan kehilangan nilai-nilai penting dan akan mengalami kekosongan / kekeringan dalam hidup. GTAK merupakan dorongan agar di rumah masing-masing tiap-tiap orang mengusahakan adanya pertemuan dari hati ke hati, menciptakan suasana persaudaraan dan keakraban antar anggota keluarga, sehingga masing-masing mengalami kasih sayang, bisa menyapa dan disapa, dipuji dan dihargai, didukung dan diterima. GTAK merupakan pilihan yang tepat untuk menghadirkan suasana iman, harapan dan kasih seperti yang diteladankan oleh Yesus, Sang Guru dan Gembala Agung umat katolik.

SEKUNDUS

PEMBACA YANG BUDIMAN

Kisah yang saya haturkan kepada anda sekalian sungguh nyata, saya alami sendiri beberapa waktu yang lalu.  Sebagai orang yang sudah cukup lama bekerja di tanah Papua, saya amat bangga atas apa yang telah dicapai oleh orang lokal. Moga-moga anda mendapat inspirasi setelah membaca kisah ini. Selamat menikmatinya.

Siang itu, saya diajak oleh seorang rekan  jalan-jalan mengelilingi kebun sawit milik sebuah perusahaan (PTX). Perkebunan itu luasnya sekitar 20.000 hektor. Sudah 5 tahun perusahaan ini panen.  Ada pun jumlah karyawan tetap sekitar 4.000 orang, dan karyawan lebih sekitar 6.000 orang.  Istri/suami dan anak mereka tidak dihitung sebagai karyawan, karena mereka tidak bekerja di perusahaan. Kalau demikian, jumlah orang yang ada di kompleks perusahaan bisa mencapai 15.000 orang.  Jumlah ini sudah termasuk direktur dan staf perusahaan.

Sekundus, adalah pemilik tanah yang sekian ribu tanahnya disewa oleh PTX.  Usianya sudah di atas 50 tahun. Dia pernah menjadi karyawan lepas ketika PTX baru membuka lahan. Kemudian dia beralih menjadi pengusaha kayu olahan ( papan, balok 5x10, balok 10x10 dll ) untuk beberapa waktu.  Memang mula-mula ketika pemesanan banyak, dia punya penghasilan lumayan. Ketika pihak PTX tidak lagi membangun rumah dengan menggunakan kayu, usahanya ini hasilnya mulai menurun.  

Ketika penghasilannya mulai menurun, datanglah seorang pembuat batu bata (sebut saja: Marjono). Dia menawarkan diri untuk membantu dan mengajarkan ketrampilannya kepada Sekundus.  Tawaran itu diterimanya dengan gembira. Setiap hari, dengan giat Marjono dan Sekundus membuat batu bata dari lempung. Memang lempung (tanah liat) di daerah itu kualitasnya bagus. Semuanya itu  dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana, dan tangan kaki mereka setiap hari harus bergelepotan lumpur.  Marjono melihat bahwa Sekundus memang berbakat dan tekun, serta bertekad untuk hidup sejahtera. Karena itu, ketrampilannya diberikan seutuhnya kepada Sekundus. 

Ia amat berterima kasih kepada Marjono.  Orang yang tidak dia kenal sebelumnya, mau memberikan pengetahuan dan ketrampilannya kepadanya. Maka, dia menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Dia berpikir bahwa semuanya itu untuk dirinya, keluarga dan anak-cucunya. Kalau tidak bejalar sekarang kapan lagi, kalau bukan dirinya siapa lagi.  Itulah sebabnya, selagi Marjono masih ada bersama dia, dia belajar sungguh-sungguh, serta ingin mengembangkan diri dan ketrampilannya.

Dia belajar memilih tanah liat yang baik, mencampur dan mengaduknya sampai rata, membuat cetakan batu bata, mencetak batu bata, membuat tempat jemuran, menata batu bata ketika dijemur, menata batu bata ketika akan dibakar dll. Semuanya itu dikerjakan mereka dengan menggunakan tangan dan alat-alat sederhana. Dalam waktu 2 bulan, Sekundus sudah mahir dan terampil untuk membuat batu bata dengan kualitas bagus.  Ketika melihat hasilnya sudah memuaskan, Marjono pamit pulang ke Jawa.   Sekundus tidak pernah mendapat berita bagaimana dan di mana Marjono, orang yang telah membekali dia menjadi pengusaha batu bata seperti sekarang ini.

Ketika melihat keseriusan dan kegigihan usaha batu bata ini, pihak PTX dengan rela hati membantu Sekundus untuk membelikan mesin pembuat batu bata.  Mesin itu diadakan dan kini  telah menjadi milik pribadi Sekundus. Pihak PTX pun siap membeli batu bata yang dihasilkan oleh Sekundus. Bila rajin kerja dengan dibantu anak-anak dan keluarganya, dia bisa menghasilkan 15.000 keping.  Di tempat pembakaran, bisa ditampung 250.000 keping yang siap untuk dibakar.  Setiap tahun PTX memesan 750.000 keping, dan diambil di tempat dengan harga Rp. 1000 per keping.  Dari jumlah dan harga itu, bisa dikatakan penghasilan Sekundus dan keluarganya dari penjualan batu bata per tahun Rp. 750 juta.  Jumlah ini adalah jumlah angka yang cukup besar. Karena itu, dia bisa menghidupi keluarga dan orang-orang yang bekerja padanya.

Sekundus tidak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh anak-anaknya dan orang-orang muda bahkan kaum perempuan yang mau bekerja di sana. Dia katakan dengan terus terang di hadapan banyak orang tingkat ketrampilan orang-orang yang membantu dia. Anaknya yang bernama Ignasius dikatakan telah mahir semuanya, dan bisa diandalkan. Sedangkan anaknya yang lain baru bisa mencampur / mengaduk tanah.  Anak-anak muda yang sudah bisa memotong adonan yang keluar dari mesin pencampur sehingga menjadi kepingan batu bata mentah adalah Mathias dan Zakeus. Yang lain-lain membantu mengangkut kepingan batu bata mentah ke tempat penjempuran dan mengatur dengan  rapih supaya cepat kering.

Siang itu, kebetulan hari libur, ketika saya berkunjung ke tempat itu. Anak-anak muda, ibu-ibu dan anak-anak yang jumlahnya banyak sekali, ada di tempat pembuatan batu bata. Mereka semua memperlihatkan wajah-wajah yang penuh sukacita. Sekundus, keluarga-keluarga serta anak-anak mereka adalah penduduk asli Papua. Mereka sudah menyadari bahwa tidak mungkin selamanya bergantung pada pihak PTX. Selagi PTX masih ada, mereka berusaha untuk menjadi makin mandiri. Mereka mengalami bahwa pihak PTX mau membantu mereka untuk maju, asalkan mereka sendiri bekerja keras dan jujur.

Mereka bisa menghasilkan 15.000 keping batu bata mentah per hari tidak semuanya menggunakan mesin. Untuk menggali tanah liat, mereka dibantu oleh PTX. untuk mengaduk tanah digunakan pacul dan untuk memasukkan tanah ke dalam mesin, mereka menggunakan tangan dan jumlahnya harus secukupnya ( 1 gumpal) dan teratur sehingga kerja mesin tetap lancar.  Tanah yang telah tercampur dan padat karena diaduk dan “dipress” oleh mesin itu, kemudian dipotong dengan alat. Sekali potong dihasilkan 3 keping.

Dibutuhkan tenaga lain untuk segera mengangkut kepingan-kepingan batu bata mentah itu ke tempat penjemuran. Bila hari itu dihasilkan 15.000 keping, berarti harus dilakukan 15.000 : 3 = 5.000 kali kerja memotong adonan batu bata. Dari kegiatan potong memotong dan angkutan kepingan batu bata mentah sejumlah itu, nyata bahwa dibutuhkan banyak tenaga untuk membuat batu bata yang siap bakar, dari sejak pekerjaan awal hingga batu bata itu siap untuk dipasarkan.

Di tempat lain, saya pernah bertanya kepada pembuat batu bata yang pada saat itu bekerja seorang diri.  Dia katakan bahwa dia mampu membuat 1.000 keping batu bata mentah per hari. Jika harga batu bata mentah per keping Rp 200,-  penghasilan orang itu adalah Rp. 200.000 per hari. Sebuah penghasilan yang lumayan. Demikian juga bagi Sekundus dan keluarganya, bila baru bata mentah yang mereka hasilkan 10.000 – 15.000 per hari, pengasilan mereka rata-rata Rp. 2 juta – 3 juta per hari.   

Mereka ini juga perlu dibantu agar mempunyai niat dan tekad untuk men bung demi masa depan mereka. PTX dan pihak lain tidak akan pernah memberikan jaminan masa depan bagi orang-orang seperti Sekundus dan keluarga serta anak cucu mereka. Mereka sendirilah yang pegang peranan penting untuk mempersiapkan hari depan mereka yang tetap sejahtera. Mendirikan koperasi dan CU, tidak menjamin bahwa mereka akan hidup sejahtera. Mereka butuh contoh dan kehadiran orang-orang sebagaimana telah diteladankan oleh Marjono. Dia menyiapkan Sekundus sampai berhasil dan mandiri. Mereka tidak butuh gedung dan bangunan serta fasilitas, yang banyak kali didengungkan dan diproyekkan dengan dana besar, mereka butuh sesama manusia yang setia dan tekun mendampingi mereka memasuki pintu gerbang keberhasilan, mandiri mengusahakan kebutuhan hidup dan menikmati kemajuan jaman. Dibutuhkan orang-orang yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, dan mengorbankan nyawanya bagi kehidupan banyak orang, sebagaimana diteladankan Yesus, Sang Gembala Agung umat beriman katolik dan banyak bangsa di seluruh dunia.

Sekundus dalam sharingnya mengatakan bahwa manusia itu harus berusaha. Apalagi PTX yang ada sekarang ini siap membantu masyarakat.  “Kita harus bekerja sama, dan tolong menolong, tetapi juga harus tulus, jujur dan tidak boleh lupa berdoa” sambungnya sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas, kemudian membongkokkan badannya.  Pada hari Jumat Agung 2017, halaman rumahnya dipakai sebagai tempat pelaksanaan “Jalan Salib Hidup”, dan dirinya juga hadir pada kesempatan itu. Dia ikuti JSH dengan kaki telanjang, padahal kegiatan itu dimulai jam 11 siang. Udara amat panas dan matahari bersinar sepenuhnya. Apa yang dikatakannya itu pula yang dilakukannya.  Sekundus terima kasih atas kesaksian hidup dan kesejahteraan yang telah bapak teladankan kepada kami semua.