Sabtu, 10 Desember 2016

SEPERTI MALAIKAT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan bagi anda, sebuah renungan yang saya angkat dari pengalaman kecil. Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan aspirasi di dalamnya.  

Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah....( ayat 36)
Kira-kira 1 bulan lalu, saya diajak oleh beberapa rekan, pergi rekreasi ke  .....  Batu – Malang, Jawa Timur.  Dalam perjalanan ke tempat itu, ada rekan yang menceritakan bahwa di sana ada banyak sekali kupu-kupu, dan bagus  sekali. Ada binatang-binatang yang sudah dikeringkan. Pelbagai jenis ikan juga bisa dilihat dari dekat.  Informasi itu membuat saya ingin segera sampai, dan melihat apa yang diceritakan ketika kami masih dalam perjalanan.

Dari tempat parkir, kami sudah langsung melihat gedung besar dan 2 patung gajah raksasa. Gedung besar itu adalah museum satwa.  Kami mengawali rekreasi kami di museum satwa. Di sana, ada 1 ekor kangguru besar yang sudah dikeringkan sedang mengendarai vespa, 1 ekor kangguru belang-belang sedang memetik gitar, rangka raksasa dinosaurus. Di bagian lain ( Batu Secret Zoo), saya melihat burung-burung,  kuda nil, monyet-monyet kecil dari Afrika, dan angsa hitam yang paruhnya merah. Di bagian lain lagi, ada pelbagai jenis ikan dari laut dalam, ikan pari tutul yang belum pernah saya lihat sebelumnya, biota laut dll. Semuanya jauh lebih indah daripada yang diceritakan oleh rekan saya.  Cerita manusiawi betapa pun lengkapnya, tidak bisa menggambarkan keindahan, kemegahan, kemuliaan dari wujud / kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kutipan Injil hari minggu ini, ada pertanyaan orang Farisi tentang wanita yang menikah 7 kali: “Siapakah yang menjadi suami dari wanita itu ?” (Luk 20:33).  Pertanyaan itu muncul berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan realita yang terjadi di masyarakat. Sekaligus pertanyaan itu juga merupakan ungkapan kecemasan, ketidak-mengertian, keingintahuan, harapan untuk mendapatkan kepastian kepada Sang Guru Kehidupan.  Jawaban Yesus, sungguh di luar  dugaan mereka.  Sesudah kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah.....( Luk 20: 36).

Jawaban Yesus itu mau menunjukkan umat manusia bahwa kehidupan sesudah kebangkitan sungguh amat berbeda dengan kehidupan di dunia ini. “Di sana” kehidupan itu jauh lebih mulia, lebih damai, dan membahagiakan.   Sebagaimana museum satwa dan Batu Secret Zoo, jauh lebih indah gedungnya dan lebih lengkap isinya serta lebih menarik panoramanya, daripada yang diceritakan, kiranya demikian pula “surga dan kehidupan bersama Yesus” akan jauh lebih indah, mulia dan membahagiakan daripada yang dialami manusia di dunia ini.  Di dalam Yesus, berlimpah-limpah kerahiman Allah, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang menjadi Perantara kita satu-satunya kepada Allah.

Para beriman kepada Yesus dipanggil untuk menghadirkan suasana “surga” (kasih, persekutuan, kesetiaan, kemurahan hati, kelemahlembutan, persaudaraan, penguasaan diri) itu bukan hanya nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini. Saat ini, di tengah kehidupan berkeluarga, berkomunitas, bermasyarakat dan berbangsa, suasana surga itu dibutuhkan oleh segenap umat manusia.  Ketika orang berbicara tentang keluarga, komunitas, suami, istri, dan anak-anak kita, yang mereka temukan di rumah kita, di lingkungan , di komunitas kita, ternyata jauh lebih luar biasa, lebih membahagiakan dan menyejukkan daripada yang diceritakan oleh siapa pun. Mereka bangga akan pengalaman bahwa “para pengikut Yesus itu seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah..... karena mereka menghadirkan kerahiman Allah.

Orang-orang yang berkeluarga memang terikat oleh perkawinan. Amat wajar bila mereka bicara tentang kawin, mengawinkan dan dikawinkan, urusan rumah tangga, makan minum dll. Namun urusan keluarga kristiani bukan hanya itu. Mereka karena sakramen permandian adalah utusan-utusan Allah untuk menyebarluaskan dan menghadirkan kasih Allah di dunia ini. Kunjungan ke orang sakit, ikut kegiatan lingkungan dengan sukacita, menjadi anggota koor, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak dan suami / istri, mendampingi anak-anak yang sedang belajar, mengatur keuangan keluarga sehingga semuanya sejahtera, hidup sederhana dengan penuh kejujuran, ketulusan dan kesetian dsb, merupakan “jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan” dan menjadi “lilin yang  bernyala bagi manusia dan dunia yang dikungkung oleh kegelapan”.

Melalui kesaksian hidup yang baik dan penuh rahmat Allah itu, orang / sesama manusia dibantu untuk mengalami kebaikan Allah, dan bersama-sama berusaha hidup suci supaya diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan abadi bersama Allah dan para kudus. Di sana mereka akan seperti malaikat-malaikat. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil Tuhan untuk mengalami semuanya itu secara penuh untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di dunia merupakan persiapan untuk mengalaminya secara total di surga bersama Allah yang telah menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia.

BEBERAPA PEMIKIRAN UNTUK PEMERHATI KEHIDUPAN DI MERAUKE

PEMBACA YANG BUDIMAN DAN SETIA ...

Syaloom dan selamat bertemu lagi

Wilayah Timur Indonesia, khususnya Merauke, kurang dikenal oleh banyak putra-putri bangsa Indonesia.  Ada banyak yang baik dan sudah berkembang di sana. Namun, tidak mungkin semuanya dituangkan di dalam tulisan ini.  Beberapa pemikiran yang bisa saya haturkan, saya munculkan di blog ini. Selamat menikmatinya.

1  1. MIFEE

  MIFEE adalah kependekan dari Merauke Integrated Food and Energy Estate  (Merauke Lumbung Terpadu atas Pangan  dan Energi). Istilah ini sudah didengar oleh masyarakat Merauke.  Kedatangan para investor, dan banyaknya utusan / perwakilan dari pihak investor serta instansi-instansi yang terkait dengan rencana / program besar ini sudah lama juga dilihat dan diamati oleh masyarakat. Mereka sudah mengadakan pertemuan dengan masyarakat, ketua Lembaga Masyarakat Adat, atau Kepala Kampung, Ketua Marga dll untuk  “mensosialisasikan” proyek itu.  Istilah yang agak umum dimengerti oleh masyarakat dan saya adalah  Merauke akan dijadikan lumbung pangan dan energi secara terpadu dan berskala nasional. 

2.   PENGERTIAN MASYARAKAT AKAN MIFEE

MIFEE sebagai sebuah istilah baru memang mulai dikenal luas oleh masyarakat Merauke, sejak 7-8 tahun terakhir ini. Pengertian / informasi bahwa akan ada poyek besar untuk mengembangkan Merauke, meningkatkan pendapatan, kesejahteraan masyarakat dan mempercepat kemajuan daerah, memang dengan mudah dipahami. Bahwa investor akan kerja keras, membuka daerah terpencil, dan membuka lapangan kerja merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari usaha pembangunan daerah. Bahwa Pemerintah Daerah mengundang investor untuk memasukan wilayahnya, adalah sebuah terobosan / langkah positif yang patut didukung.

Namun, isi dan skala proyek, proses panjang yang harus dilalui oleh investor, hal-hal yang harus diperhitungkan dalam berinvestasi dan menejemen dari investasi yang begitu besar dan moderen ini, adalah bidang yang sama sekali baru. Hal ini tidak mudah untuk dimengerti oleh orang-orang yang tidak terlibat di dalamnya.  Apalagi, bagi masyarakat biasa ( guru-guru, PNS, nelayan, petani, tukang, pegawai toko, penduduk lokal dan para transmigran dll) yang setiap harinya berurusan dengan kehidupan yang sangat alamiah dan seadanya, MIFEE adalah proyek yang di luar jangkauan mereka.

3.   LUAS TANAH YANG DIBUTUHKAN

Masyarakat biasa terlebih yang tinggal di kampung-kampung dan di pedalaman pada umumnya amat terbatas kemampuannya dalam membaca, menghitung dan menulis. Hal ini saya ungkapkan, karena banyak hal dalam kehidupan masyarakat tidak bisa berjalan dengan lancar, akibat dari hambatan yang amat mendasar ini. Hal itu pada gilirannya akan menghambat pembangunan dan perkembangan masyarakat secara signifikan. Di satu sisi, mereka yang sudah lulus perguruan tinggi, pada umumnya lancar dalam membaca dan menulis, namun di sisi lain, kemampuan untuk menghitung yang paling sederhana: + (tambah), - (kurang), : (bagi) dan x (kali), pada banyak anggota masyarakat amat lemah.

Merauke telah dicanangkan sebagai Lumbung Pangan Nasional. Untuk itu, tanah 1 juta hektar disiapkan.  Masyarakat tahu angka 1.000.000 ( satu juta ), namun tanah seluas satu juta, saya amat yakin mereka tidak paham. 

Angka Rp 1 milyar / 3 milyar / 6 milyar, saya yakin mereka tahu atau banyak kali mendengar. Namun, berapa harga sewa tanah per hektar, dan berapa luas lahan yang disewa oleh pihak investor selama 35 tahun, mereka sungguh tidak paham.  Bukan hanya menghitung angka-angka ( +, -, :, x), menulis dengan huruf, angka-angka di atas seratus / seribu (misalnya: seratus lima puluh tujuh / seribu dua ratus tiga puluh empat) mereka bingung. Pernah saya menjumpai banyak anak yang menulis “seratus dua puluh tiga” sebagai berikut: 100203, dan “dua ribu empat ratus dua puluh satu” sebagai berikut : 2000400201.

Banyak kali saya menjumpai orang-orang yang mengalami kesulitan dalam pembagian / membagi, meskipun angka itu bagi saya masih angka kecil ( di bawah angka 100 ). Misalnya: 28 : 4 = ???    30: 6 =  ?? Mereka sulit menghitung hasilnya bila tidak menggunakan kalkulator. Maka, bisa dimengerti, bahwa mereka sungguh sangat kesulitan untuk menghitung, berapa luas lahan ( .... ?? x .....??) yang dipergunakan untuk perkebunan sawit, untuk lahan pangan dll.


4.   KEHIDUPAN MASYARAKAT BERUBAH DRASTIS

Masuknya investor dan perkembangan wilayah, membuat kehidupan penduduk berubah secara drastis. Dulu mereka tidak pernah melihat mobil, traktor, excavator, dum-truck, dan alat-alat berat lainnya. Juga mereka tidak pernah melihat proses pembersihan lahan dengan menggunakan alat-alat berat, banyaknya peralatan dan orang-orang trampil yang mengendalikan seluruh proses pembukaan lahan. Tanki-tanki bbm, kapal-kapal angkutan yang masuk sampai daerah terpencil, bangunan-bangunan baru yang bermunculan, mesin-mesin pabrik yang dalam waktu 1 -2 tahun sudah mulai beroperasi, listrik yang menyala 24 jam, adalah tanda-tanda perubahan yang begitu cepat terjadi di kampung mereka.

Seiring dengan masuknya investor, masuk juga para pedagang, para pencari kerja dan para penyedia jasa lainnya: bank, angkutan umum, pemberi kredit dan tengkulak.  Dengan demikian, kampung kecil yang dulunya tidak pernah diperhitungkan, kini telah menjadi “pusat-pusat orang berkumpul” untuk berdagang, mencari nafkah, dan aneka kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya karena di sana ada investor, angkutan umum dan pasar serta para pedagang yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok.

Masyarakat yang dulunya makan sagu dan ubi-ubian, kini sudah terbiasa makan nasi, telur, ikan asin, dan makan-makanan pabrik.  Mereka sudah mengenal dan terbiasa menikmati angkutan umum, sepeda motor, truk perusahaan, sehingga jarang sekali yang jalan kaki. Begitu pula, pakaian, sepatu, tas, sabun mandi, sampo dan model rambut mereka sudah sama dengan orang-orang yang tinggal di kota.  Mereka menjadi semakin tergangung pada barang-barang dari luar, daripada menghasilkan kebutuhan hidup dari kebun / tanah sendiri. Penampilan mereka dan gaya hidup mereka sama dengan orang dari daerah-daerah yang sudah maju, sedangkan mental dan daya juang mereka masih tetap sama (mental masyarakat agraris / kekeluargaan dan bukan masyarakat bisnis/ekonomis dan kompetitif )




5.   ALTERNATIF KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT

Masyarakat lokal adalah masyarakat agraris / tergantung pada alam. Untuk mengubah mental mereka menjadi mental wiraswasta / mandiri dan terprogram dan kompetitif, dibutuhkan kerja keras, pembinaan secara efektif dan berkelanjutan, serta perlu waktu panjang dan biaya besar.  Alternatif / pilihan yang bisa dipikirkan adalah:

·        Umur 45 – ke atas
Disediakan lahan dan hutan yang cukup luas ( 500 hektar ) untuk mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan / industri moderen. Biarlah mereka hidup dalam ketenangan, karena usia mereka sudah 45 tahun ke atas.

·        31 – 44 tahun 
Disiapkan lahan perkebunan. Mereka dibekali ketrampilan dan pelatihan terus-menerus di bidang perkebunan karet, rambutan, durian, menanam pohon dalam jumlah banyak. Untuk keperluan hidup sehari-hari, selama 5 tahun pemerintah memberikan bantuan / jaminan hidup.

·        21 – 30 tahun
Disiapkan lahan perkebunan. Masing-masing menyiapkan lahan 1 hektar. Mereka dibekali ketrampilan pertukangan, perbengkelan, dan dan didorong untuk mempunyai tanaman jangka panjang: pohon jati, sengon, dan tanaman keas lainnya sehingga masa depan mereka makin baik.

·        15 – 20 tahun
Diberi lahan untuk perkebunan masing-masing 1 hektar. Kegiatan mereka pada pagi hari adalah sekolah, dan sesudah pulang sekolah mereka dilatih untuk kerja kebun. Uang hasil kerja kebun, bisa dimanfaatkan untuk membayar uang sekolah.

·        10 – 14 tahun
Mereka dilatih untuk membantu orangtuanya kerja kebun, sesudah pulang sekolah.

·        5-9 tahun
Mereka dibina untuk setia masuk sekolah, agar mampu membaca, menulis dan menghitung dengan baik.


6.   PASAR DAN PEMASARAN

Tidak di semua tempat ada pasar, dan amat kurang orang yang berminat atau mengusahakan agar pemasaran hasil produksi masyarakat bisa dijual dengan harga yang baik. Sering ketika panen, harga dari hasil kebun masyarakat: ubi, pisang, rambutan, beras / gabah amat rendah. Hal ini membuat para petani enggan untuk meneruskan usaha pertanian / perkebunan, karena mereka takut rugi besar. 



7. MENYEDIAKAN PANGAN DAN KEBUN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

Agar masyarakat bisa hidup dan makin mandiri, mereka perlu dilatih untuk menyediakan kebun karet 1 – 2 hektar per keluarga, pangan ( ubi-ubian, pisang, dan sayuran), dan ternak bagi mereka sendiri. Dengan memiliki kebun karet, masyarakat bisa kerja di kebun sendiri dan menyadap karet setiap hari.  Mereka tetap menjadi tuan atas kebun mereka sendiri. Begitu pula pangan dan ternak yang mereka usahakan, membuat mereka akan selalu punya persediaan pangan dan daging yang mereka perlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Agar mereka bisa memiliki kebun, pangan dan ternak secara mandiri, memang perlu diprogramkan, dibina dan dipandu secara berkelanjutan dan untuk waktu yang cukup lama. Sebelum karet dan tanaman pangan mereka menghasilkan, Pemerintah dan pihak investor perlu menbantu mereka agar makin lama, mereka makin mandiri.


Demikian beberapa catatan saya tentang kehidupan dan pemikiran tentang langkah-langkah yang harus dibuat agar masyarakat pemilik tanah bisa mandiri dan tidak terus-menerus tergantung pada pihak lain. Kemandirian mereka akan membuat mereka hidup tenang, dan pihak lain pun akan dapat bekerja dengan tenang.  Untuk itu, perlu semua pihak duduk bersama, berunding untuk memikirkan kehidupan masyarakat dan pembangunan yang dicanangkan pemerintah, dengan melibatkan semua pihak yang ada di wilayah ini.                                                                                     

1 DESEMBER 2016

PEMBACA YANG BUDIMAN 
Salam dan syaloom 
Saya menjumpai anda kembali pada kesempatan ini, meskipun tidak serutin dulu. Moga-moga tulisan kecil ini memberi inspirasi kepada anda. Selamat membaca. 
Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran indivdu terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itulah, hari AIDS sedunia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.
Tanggal 1 Desember adalah hari libur untuk seluruh tanah Papua.
Pemerintah Provinsi Papua menetapkan 1 Desember 2016 sebagai libur fakultatif untuk Papua, dalam rangka memasuki masa raya Advent memasuki perayaan Natal.  Keputusan hari libur ini sesuai dengan Keputusan Gubernur No. 188.4/419/tahun 2015 tentang hari hari libur resmi dan cuti bersama di wilayah Provinsi Papua 2016.
Pada hari itu, semua karyawan libur. Saya libur pekerjaan kantor, kegiatan rutin harian, dan menerima tamu. Hari libur itu, saya gunakan untuk kegiatan penyegaran. Saya melihat-lihat kebun di Buti – di kompleks bruder Gembala Baik dan Susteran Putri Gembala Baik.  Tanahnya sudah kering, karena sudah lebih dari tiga minggu, hujan tidak turun.  Sementara itu, air sumur sudah mulai turun debitnya. Biasanya, air sumur disedot 2 jam baru habis, sekarang ini, baru disedot 20 menit airnya sudah habis.
Musim kering, membuat kami lebih hemat dalam menggunakan air.  Air cucian beras yang biasanya kami buang begitu saja, pada saat ini sangat berharga dan kami tampung untuk menyiram sayur.  Biasanya kami menanam sayur di bedeng-bedeng, supaya hasilnya banyak. Pada saat ini, kami menanam sayur di polibek-polibek supaya kami tetap dapat menanam sayur meskipun dengan jumlah air yang sedikit.
Biasanya, kami pada musim kering, menggunakan botol-botol aqua yang sudah kosong yang telah kami lubangi, dan kami isi air hingga penuh. Botol-botol itu kami gantung pada sebatang kayu, lalu tetesan-tetesannya tepat jatuh pada batang sayuran yang kami tanam, sehingga untuk 2 hari kami tidak perlu menyirami tanaman / sayur-sayuran itu.  Hasilnya menggembirakan. Tanah tetap basah secukupnya, dan tanaman bisa tetap hidup, dan pada waktunya, kami juga panen sayuran.
Pada masa kering kali ini, Kris, orang muda yang kreatif, memberikan cara lain untuk menyiram. Dia memanfaatkan ember cat ( 5kg dan 25 kg). Ember itu dilobangi sesuai dengan ukuran kran, lalu di lobang itu dipasang kran. Di mulut kran itu, dipasang slang plastik panjang. Slang itu ditempatkan di atas bedeng-bedeng / polibek-polibek dengan bantuan kayu-kayu penyangga. Kemudian slang-slang itu dilobangi  sesuai dengan letak tanaman / sayuran yang kami tanam. Air dari ember mengalir melalui slang dan jatuh tepat pada tanaman / sauuran itu. Dengan cara ini, air akan lebih hemat, kami tidak perlu jalan-jalan di setiap bedeng / polibek untuk menyiram. Hasilnya tanam di sekitar tanaman / sayur itu tetap basah, tanamam tumbuh dengan baik. Air bisa dihemat dan kami dapat panen pada waktunya.
Keterbatasan air ternyata bisa membuat orang menjadi lebih kreatif.  Libur kantor bisa menjadi berkat di bagian lain. Hidup tidak lagi monoton, tetapi dapat memberikan gairah bagi orang-orang yang mau membuat sesuatu.
Selain puas atas penemuan baru, kami juga bersyukur, bahwa kami dapat membuat sesuatu untuk mengisi hidup ini. Meskipun kecil, kami dapat mengambil bagian dalam menciptakan kegembiraan. Hati kami dipenuhi rasa syukur, bukan karena banyaknya uang yang kami dapatkan, tetapi karena kami telah menemukan cara baru, dan dapat bagian dalam karya penciptaan Tuhan. Kami yang menanam, namun Tuhan yang menumbuhkan.

Kamis, 10 November 2016

MEREKA SEPERTI MALAIKAT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan bagi anda, sebuah renungan yang saya angkat dari pengalaman kecil. Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan aspirasi di dalamnya.  

Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah....( ayat 36)

Kira-kira 1 bulan lalu, saya diajak oleh beberapa rekan, pergi rekreasi ke Batu – Malang, Jawa Timur.  Dalam perjalanan ke tempat itu, ada rekan yang menceritakan bahwa di sana ada banyak sekali kupu-kupu, dan bagus  sekali. Ada binatang-binatang yang sudah dikeringkan. Pelbagai jenis ikan juga bisa dilihat dari dekat.  Informasi itu membuat saya ingin segera sampai, dan melihat apa yang diceritakan ketika kami masih dalam perjalanan.

Dari tempat parkir, kami sudah langsung melihat gedung besar dan 2 patung gajah raksasa. Gedung besar itu adalah museum satwa.  Kami mengawali rekreasi kami di museum satwa. Di sana, ada 1 ekor kangguru besar yang sudah dikeringkan sedang mengendarai vespa, 1 ekor kangguru belang-belang sedang memetik gitar, rangka raksasa dinosaurus. Di bagian lain ( Batu Secret Zoo), saya melihat burung-burung,  kuda nil, monyet-monyet kecil dari Afrika, dan angsa hitam yang paruhnya merah. Di bagian lain lagi, ada pelbagai jenis ikan dari laut dalam, ikan pari tutul yang belum pernah saya lihat sebelumnya, biota laut dll. Semuanya jauh lebih indah daripada yang diceritakan oleh rekan saya.  Cerita manusiawi betapa pun lengkapnya, tidak bisa menggambarkan keindahan, kemegahan, kemuliaan dari wujud / kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kutipan Injil hari minggu ini, ada pertanyaan orang Farisi tentang wanita yang menikah 7 kali: “Siapakah yang menjadi suami dari wanita itu ?” (Luk 20:33).  Pertanyaan itu muncul berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan realita yang terjadi di masyarakat. Sekaligus pertanyaan itu juga merupakan ungkapan kecemasan, ketidak-mengertian, keingintahuan, harapan untuk mendapatkan kepastian kepada Sang Guru Kehidupan.  Jawaban Yesus, sungguh di luar  dugaan mereka.  Sesudah kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah.....( Luk 20: 36).

Jawaban Yesus itu mau menunjukkan umat manusia bahwa kehidupan sesudah kebangkitan sungguh amat berbeda dengan kehidupan di dunia ini. “Di sana” kehidupan itu jauh lebih mulia, lebih damai, dan membahagiakan.   Sebagaimana museum satwa dan Batu Secret Zoo, jauh lebih indah gedungnya dan lebih lengkap isinya serta lebih menarik panoramanya, daripada yang diceritakan, kiranya demikian pula “surga dan kehidupan bersama Yesus” akan jauh lebih indah, mulia dan membahagiakan daripada yang dialami manusia di dunia ini.  Di dalam Yesus, berlimpah-limpah kerahiman Allah, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang menjadi Perantara kita satu-satunya kepada Allah.

Para beriman kepada Yesus dipanggil untuk menghadirkan suasana “surga” (kasih, persekutuan, kesetiaan, kemurahan hati, kelemahlembutan, persaudaraan, penguasaan diri) itu bukan hanya nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini. Saat ini, di tengah kehidupan berkeluarga, berkomunitas, bermasyarakat dan berbangsa, suasana surga itu dibutuhkan oleh segenap umat manusia.  Ketika orang berbicara tentang keluarga, komunitas, suami, istri, dan anak-anak kita, yang mereka temukan di rumah kita, di lingkungan , di komunitas kita, ternyata jauh lebih luar biasa, lebih membahagiakan dan menyejukkan daripada yang diceritakan oleh siapa pun. Mereka bangga akan pengalaman bahwa “para pengikut Yesus itu seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah..... karena mereka menghadirkan kerahiman Allah.

Orang-orang yang berkeluarga memang terikat oleh perkawinan. Amat wajar bila mereka bicara tentang kawin, mengawinkan dan dikawinkan, urusan rumah tangga, makan minum dll. Namun urusan keluarga kristiani bukan hanya itu. Mereka karena sakramen permandian adalah utusan-utusan Allah untuk menyebarluaskan dan menghadirkan kasih Allah di dunia ini. Kunjungan ke orang sakit, ikut kegiatan lingkungan dengan sukacita, menjadi anggota koor, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak dan suami / istri, mendampingi anak-anak yang sedang belajar, mengatur keuangan keluarga sehingga semuanya sejahtera, hidup sederhana dengan penuh kejujuran, ketulusan dan kesetian dsb, merupakan “jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan” dan menjadi “lilin yang  bernyala bagi manusia dan dunia yang dikungkung oleh kegelapan”.

Melalui kesaksian hidup yang baik dan penuh rahmat Allah itu, orang / sesama manusia dibantu untuk mengalami kebaikan Allah, dan bersama-sama berusaha hidup suci supaya diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan abadi bersama Allah dan para kudus. Di sana mereka akan seperti malaikat-malaikat. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil Tuhan untuk mengalami semuanya itu secara penuh untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di dunia merupakan persiapan untuk mengalaminya secara total di surga bersama Allah yang telah menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia. 

BUKU KEHIDUPAN

PEMBACA YANG BUDIMAN

SELAMAT BERTEMU KEMBALI. Lama nian saya tidak mengunjungi anda. Melalui sapaan kecil ini, saya menyapa anda dengan sebuah tulisan kecil tentang : BUKU KEHIDUPAN. Semoga anda menemukan butir-butir mutiara di dalamnya.  Inilah sharing itu:

Saya tiga belas bersaudara.  Dari sekian bersaudara, ada 2 saudara yang melayani di luar negeri, yang lain di luar Jawa dan yang lain lagi di Jawa. Kami disebar di banyak wilayah di nusantara ini, untuk meneruskan sukacita Injil.  Apa yang dilakukan oleh orangtua kepada kami – anak-anaknya- sehingga  berani pergi ke mana-mana ?  Saya adalah sebuah buku kehidupan, yang telah diisi dan diperkaya oleh banyak orang, sehingga menjadi seperti saya sekarang ini.

Ketika masih di rumah, orangtua setiap malam mengumpulkan kami semua, 13 orang. Kami duduk mengelilingi meja makan, bersama dengan orang tua. Jumlah anggota keluarga yang berkumpul bersama adalah 15 orang ( 13 anak, dan kedua orangtua ).  Dalam suasana penuh persaudaraan dan kasih, saling pengertian dan saling mendengarkan, kami bersharing, mendengarkan 1 – 2 hal yang hendak ditanamkan oleh orangtua. Kami melihat kembali apa yang kami lakukan sepanjang hari itu, dan mengevaluasinya.  Kegiatan ini menanamkan dalam diri kami, kepekaan akan bisikan roh, kehalusan hati nurani, ketulusan dan kejujuran dalam kehidupan. Kami mengakui kekurangan kami, dan menerima dan menghargai keberhasilan kami. Kemudian, kami semua berdoa bersama.

Buku kehidupan saya, telah dibuka dan dimulai di dalam keluarga. Allah sendiri yang membuka dan memulainya melalui orangtua. Apa yang saya lakukan adalah kelanjutan dari semuanya itu. Buah-buah roh yang telah ditanamkan orangtua, sanak keluarga, para guru dan banyak orang lain, telah memungkinkan saya menjadi seperti sekarang ini. Sekarang giliran saya untuk menulis dan melengkapi apa yang telah ada, agar buah-buah roh itu semakin berkembang dan menghasilkan banyak buah.

Buku kehidupan itu ditempatkan Allah di wilayah-wilayah baik di kota, di desa atau pun di pedalaman, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sesuai dengan rencana-Nya. Semua itu dimaksudkan agar kasih-Nya dialami dan dikembangkan oleh orang-orang yang telah mendengar dan mengalami sapaan dan kasih-Nya. 

Tiap-tiap orang adalah buku kehidupan yang unik dan mulia.  Setiap orang adalah penulisnya. Tentu apa yang ditulis / dikerjakan merupakan “pernyataan syukur atas anugerah dan kepercayaan yang  telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari”. Kemudian ia menyerahkan kembali kepada Sang Pemilik, ketika saatnya tiba. Pada waktu itu, setiap orang akan mendapatkan ganjaran / anugerah sesuai dengan buah-buah roh yang telah dihasilkannya.

Dia hadapan Sang Pemilik buku kehidupan, tidak ada yang bisa disembunyikan..... semuanya terbuka, dan apa yang dihasilkan itu merupakan bukti atas apa yang dia kerjakan.

Rabu, 02 November 2016

SAMBUTAN USKUP PADA PEMBUKAAN SINODE 2016

PEMBACA YANG BUDIMAN 

Keuskupan Agung Merauke, menyelanggarakan Sinode tanggal 9 – 16 Oktober dengan Tema: “Keluarga Katolik Keuskupan Agung Merauke yang Terlibat dan Murah Hati”. Peserta yang hadir 222 orang, yang disiapkan oleh Panitia dan dipandu oleh Tim Pengarah dengan kekuatan 40 0rang. Mereka adalah wakil-wakil umat yang datang dari seluruh penjuru keuskupan, wakil-wakil lembaga, dan mitra kerja serta pemerintah. Pada saat pembukaan, hadir 2 orang Bupati: Bpk Freddy Gebze (Bupati Merauke) dan Bpk Benny Tambonop ( Bupati Boven Digul ).

Sinode keuskupabn telah dipersiapkan selama 1 tahun, dengan diselenggarakannya Pra-Sinode Keuskupan tanggal 4 – 10 Oktober 2015 dengan tema: Keluarga Katolik Keuskupan Agung Merauke: realitas dan persoalan. Pada kesempatan itu, dicari dan didalami realitas, dan persoalan yang dialami oleh keluarga-keluarga, sehingga ada kekuatan yang ditemukan dari tengah-tengah keluarga sendiri, untuk dipergunakan dalam rangka mengatasi persoalan yang mereka hadapi.

Kata pembukaan sinode ini, saya awali dengan doa persiapan sinode yang didaraskan sesudah komuni di setiap paroki, setelah umat menyambut komuni.  Inilah sebagian dari doa itu:

Allah Bapa kami, Engkau telah mengutus Yesus Putera-Mu terkasih untuk mewartakan sukacita Injil kepada kami, dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu serta menyatukan kami dalam satu keluarga ilahi-Mu.
Putera-Mu hadir di tengah keluarga Nazareth untuk menguduskan keluarga manusiawi itu. Ia tinggal di dalam keluarga itu untuk mendengarkan kehendak ilahi-Mu, mengajarkan kasih, sikap saling menghormati, dan bekerja sama, serta menyalakan lilin pengharapan dalam kegelapan dunia ini. Ia menetapkan keluarga kami menjadi Gereja rumah tangga, dan menjadi Injil yang hidup bagi dunia dalam semangat cinta dan sukacita.

Curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk membimbing sinode Keuskupan kami, agar melalui sidang Agung ini, keluarga-keluarga katolik semakin terdorong untuk menghayati panggilan dan perutusan dalam hidup perkawinan yang telah mereka ikrarkan dan semakin mengalami keindahan hidup berkeluarga. Ajarlah keluarga-keluarga kami untuk hidup bijak dalam menghadapi setiap tantangan dan situati zaman ini. Buatlah keluarga kami semakin mampu menjadi saksi hidup injil-Mu sekaligus tempat penghiburan dan penyembuhan bagi mereka yang menderita kesulitan hidup.

Di dalam keluarga,  semua anggota keluarga mengalami: 1) pendidikan karakter, 2) teladan kehidupan yang diberikan kedua orangtua, 3) anak-anak dilatih untuk menjadi sabar, setia, tabah, kejujuran, dan kerendahan  4) arti “kasih” dan “pengorbanan”, 5) pengenalan bidang sosial, ekonomi, budaya, kesehatan, keamanan dll, 6) Tuhan, kehadiran, anugerah-anugerah-Nya dan mengucap syukur kepada-Nya.  Masing-masing mengajar dan belajar untuk mencapai kehidupan yang semakin membahagiakan. Betapa pentingnya arti dan peran keluarga dalam kehidupan setiap manusia. Itulah sebabnya, keluarga adalah sekolah pertama dan utama, dan tetap juga bahwa keluarga disebut sel masyarakat

Di tengah perkembangan jaman dan tuntutan kehidupan moderen, serta aturan pemerintah yang harus diikuti ada banyak hal yang amat mempengaruhi kehidupan keluarga. Di mana-mana kita dengan mudah menemukan keluarga yang menghadapi situasi sbb:
-         Punya 2 orang anak karena alasan uang mereka tidak cukup untuk membeli sandang, pangan dan papan. Biaya hidup mahal, harga rumah makin tidak terjangkau, dan biaya pendidikan juga mahal. Tambah anak berarti tambah beban  karena biaya hidup makin mahal dan mereka makin tidak sanggup untuk membayar kebutuhan hidup dan keperluan sekolah

-         Anak dilatih dan disiapkan supaya bisa kerja / memenuhi tuntutan atau permintaan pasar (sebagai pekerja = pengikut ) bukan motivator
-         Anggota keluarga ( di rumah sebagai bapa, ibu, kakak, adik, om atau tanta, anak ) masuk dalam irama di tempat kerja: di kantor,  perusahaan, dll dengan tuntutan 7 - 8 jam sehari, yang sering tidak disapa / dibiarkan seharian di tempat kerjanya

-         Lebih lama waktunya, tenaganya, kesegaran fisik, kekuatan spiritnya diberikan kepada orang lain di tempat kerja daripada kepada istri dan anak-anaknya. Waktu ada di rumah, mereka sudah capek.
-         Mereka lebih sering dipandang sebagai “tenaga kerja” bukan sebagai manusia yang sedang mengembangkan diri melalui bidang yang dipercayakan kepadanya.

-         Iklim kerja yang sering dialami adalah persaingan, kurang mendapat informasi, kurang dilibatkan dalam tim kerja, individual, disuruh mengerjakan sesuatu tanpa tahu hasilnya untuk apa. Pengalaman-pengalaman ini diterapkan ketika mereka berhadapan dengan suami / istri dan anak-anak di rumah.

Di banyak tempat bisa dengan mudah ditemukan bahwa ada banyak keluarga yang hidupnya pas-pasan, atau malah kekurangan untuk membiayai keperluan keluarga. Mereka juga dibanjiri oleh pelbagai tawaran dan kemudahan lewat pelbagai cara. Tidak jarang kita dengar bahwa anggota keluarga dituntut untuk memenuhi banyak persyaratan yang diberlakukan secara merata kepada semua pihak yang mau masuk sekolah, mendapatkan pelayanan kesehatan, melamar kerja dll. Mereka tinggal di daerah terpencil, kurang / tidak ada sarana dan prasarana, sehingga tertinggal dan sulit untuk keluar dari situasi ketidakberdayaan. Juga mereka kurang pembinaan, pelatihan dan bantuan untuk pengembangan diri dan pengembangan masyarakat.

Meskipun demikian, kita temukan juga bahwa masih jauh lebih banyak keluarga yang setia sampai mati daripada keluarga yang bercerai. Dengan segala keterbatasannya, orangtua tetap menanamkan nilai-nilai dan memberikan teladan kepada anak-anak mereka. Ada banyak anak muda yang tetap hidup saleh, dan tahu bekerja keras serta melindungi keluarga mereka. Masih jauh lebih banyak kaum muda yang bebas dari jeratan narkoba, tidak ikut berjudi, tidak terlibat miras dan tindak kekerasan.

Tujuan hidup berkeluarga: 1) Kebahagiaan hidup suami istri. Suami / istri adalah pasangan hidup yang bertekad untuk saling membahagiakan, menguduskan dan menyempurnakan. 2) Kebahagiaan hidup bapa, ibu dan anak-anak. Kebahagiaan mereka dilengkapi dengan kehadiran anak-anak yang merupakan buah kasih mereka. Kelahiran anak-anak mereka rencanakan dan mereka kehendaki. Mereka menjadi penerus-penerus yang menghadirkan anak-anak Allah. 3) Kebahagiaan hidup bersama dengan lingkungan dan masyarakat. Peran mereka sebagai garam dan terang dunia bagi masyarakat sungguh-sungguh dibutuhkan. 4) Kebahagiaan hidup sebagai umat beragama. Keluarga-keluarga adalah kekuatan besar untuk mewujudkan persekutuan umat Allah, dan ambil bagian dalam kerukunan antar umat beragama. 5) Mereka hadir di dunia ini, juga turut mencetak sejarah kehidupan, dan 6) sesuai dengan talenta yang mereka miliki, mereka juga membangun kerajaan Allah.  

Patut disadari pula bahwa peran suami istri itu penting dan setara. Masing-masing dengan talentanya membagikan harta surgawi bagi keluarga dan masyarakat  dalam suasana dialog dengan pasangannya.  Perkawinan yang ideal adalah perkawinan monogam. Hati, pikiran, jiwa dan semangat mereka utuh dan bulat bagi pasangan dan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Perkawinan itu bukan kontrak, bagaikan kontrak kerja antara pegawai dan majikan, antara pemberi kerja dan kontraktor, dengan batasan waktu tertentu. Perkawinan adalah perjanjian 2 pribadi untuk saling mencintai untuk seumur hidup, dengan menanggung bersama segala resiko yang dihadapi baik dalam suka maupun duka. Perkawinan orang-orang yang dibaptis itu sakramental. Perkawinan mereka disatukan, dikuduskan oleh Allah dan menjadi tanda nyata kasih dan anugerah Allah kepada manusia. Allah mengutus dan memilih mereka untuk mewujudkan kebaikan, kesetiaan, dan kemurahan hati-Nya kepada sesamanya. Karena itu, perkawinan yang telah disiapkan dengan  baik, tanpa halangan apa pun, diteguhkan secara katolik oleh pejabat yang sah, dan telah dimahkotai hubungan intim, tidak dapat diceraikan.

Moga-moga melalui sinode ini, nilai-nilai yang ditemukan kembali menjadi sumber kegembiraan bagi keluarga-keluarga untuk tetap setia kepada pasangannya.  Keluarga-keluarga juga makin yakin bahwa mereka adalah utusan-utusan Allah untuk meluaskan kerajaan Allah melalui kelahiran anak-anak, pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. Sinode ini juga memberikan harapan kepada pasangan-pasangan yang mengalami kesulitan / persoalan di dalam keluarga bahwa mereka tetap dicintai Allah dan tetap ada dalam persekutuan umat Allah.  Kepada mereka diberitahukan dan ditawarkan jalan keluar supaya kebahagiaan hidup juga bisa mereka alami.

Semangat dan jiwa dari sinode Kame ini adalah semangat dialog, persaudaraan, kerukunan dan perdamaian, serta semangat untuk saling menghormati dan menghargai. Kekurangan,  keterbatasan dan kelemahan yang ada justru dapat menjadi alasan untuk meningkatkan kualitas dan komunikasi baik secara pribadi, unit atau lembaga, komunitas, lingkungan dan tempat kerja kita.


Semoga seperti yang diharapkan melalui doa menjelang sinode, setelah menemukan nilai-nilai penting dalam kehidupan keluarga, keluarga-keluarga katolik terdorong untuk menghayati panggilan dan perutusan dalam hidup perkawinan yang telah mereka ikrarkan dan semakin mengalami keindahan hidup berkeluarga. Semoga mereka hidup bijak dalam menghadapi setiap tantangan dan situati zaman ini. Semoga banyak keluarga semakin mampu menjadi saksi hidup injil Kristus sekaligus tempat penghiburan dan penyembuhan bagi mereka yang menderita kesulitan hidup, dan menjadi lilin yang bercahaya di tengah kegelapan.  

Sabtu, 22 Oktober 2016

TERI

TERI

Teri adalah nama sebuah kampung di pulau Kimaam- Kabupaten Merauke. Pada umumnya di  wilayah Papua, karena belum memenuhi persyaratan administratif, desa disebut kampung, namun secara yuridis, tugas dan kewenangan antara kepala kampung dan kepala desa itu sama.  Baju dan lambang-lambang jabatan yang dikenakan kepada kepala kampung dan kepala desa, sama.  Secara gerejawi, kampung Teri disebut stasi.  Jadi, di Teri ada kepala kampung dan ketua stasi. Beberapa kali terjadi, ketua stasi diangkat oleh pemerintah menjadi kepala kampung.  Di stasi ini, mantan kepala kampung ( Bpk Adrianus Dewi ) saat ini menjabat sebagai ketua seksi liturgi.

Stasi Teri jaraknya sebetulnya tidak jauh dari pusat kecamatan ( di Papua disebut Distrik ) Kimaam. Jarak itu bisa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor kira-kira 1 jam pada saat musim panas, karena jalan tanah yang menuju ke sana dalam keadaan kering. Bila pada musim hujan perjalanan bisa lebih lama sekitar 3 – 4 jam, atau bahkan tidak bisa dilalui karena begitu becek.  Tempat ini, bisa juga dicapai dengan naik perahu (speedboat 40 PK) juga kira-kira 1 jam.  Dari pelabuhan ke kampung jaraknya kira-kira 50 menit jalan kaki. Umumnya, orang baru berangkat menuju atau keluar dari Teri bila air pasang, sehingga perahu mereka meluncur dengan aman di sungai. Bila air sudah surut, orang tidak berani lagi berperahu karena di sungai itu, ada banyak akar-akar kayu. Bila tidak hati-hati dan nekad saja, bisa-bisa akar-akar kayu itu ditabrak dan merobek / melubangi dinding perahu di bagian bawah. Akibatnya perahu menjadi bocor, air sungai masuk ke dalam perahu dan perjalanan tidak bisa dilanjutkan.

Penduduknya kira-kira 400 jiwa. Suatu jumlah yang cukup besar.  Mereka sudah pindah dari lokasi lama ke lokasi yang baru yang dipandang lebih subur. Mereka sudah menanam ubi-ubian, pisang, dan juga padi. Ada banyak penduduk yang mem;punyai sawah lebih dari 5 ha. Hasil panen tahun 2015 masih ada di lumbung-lumbung mereka, karena belum digiling. Mesin giling yang hanya 1 telah rusak dan sudah lama tidak berfungsi. Untuk mendapatkan beras, mereka menumbuk padi dengan menggunakan lesung.

Di sana ada gedung SD yang cukup bagus, ada 3 ruang belajar. Bangunan itu adalah bangunan semi permanen. Juga ada 4 rumah guru. Semuanya terbuat dari bahan kayu. Kondisinya cukup bagus. Namun, amat disayangkan, sejak  dibangun sampai saat ini tidak ada guru yang menempati rumah itu. Tidak ada guru PNS seorang pun yang ada di kampung itu.  Anak-anak tiap hari masuk sekolah dan diajar oleh 2 orang relawan. Keduanya bukan guru dan tidak punya ijazah keguruan. Situasi semacam ini sudah berjalan bertahun-tahun.

Dana-dana besar yang dikucurkan oleh pemerintah ke kampung-kampung umumnya habis untuk membangun infrastruktur, dan bangunan fisik lainnya. Kepala kampung dan masyarakat yang tahu bahwa mereka sungguh-sungguh butuh guru bagi anak-anak mereka, tidak mengalokasikan dana untuk membayar gaji guru. Pencerahan dan dialog bersama mereka sudah banyak kali dilakukan, namun keberanian untuk “menyisihkan uang untuk pembangunan SDM” demi masa depan mereka sendiri, belum menjadi keputusan bersama. 

Saya mengunjungi stasi Teri dalam rangka pelayanan krisma, tanggal 16-17 September 2016. Di sana ada 84 orang yang menerima sakramen krisma. Suatu jumlah yang amat besar. Tanggal 16 September mereka menjemput uskup dan rombongan di pelabuhan. Uskup dan rombongan disambut dengan meriah dan dihias dengan pakaian adat. Sebagai bagian dari acara penjempuatan dan penerimaan secara adat, dari pelabuhan ke tempat pemasangan hiasan, uskup tidak boleh menginjak tanah. Serombongan laki-laki muda yang telah disiapkan beramai-ramai menggotong uskup dan 2 pastor. Jaraknya kira-kira 20 meter. Uskup diturunkan di tikar besar yang telah mereka siapkan juga. Kemudian, uskup dan 2 pastor dihias dan diberi mahkota. Sesudah itu, uskup diminta untuk duduk di kursi yang telah mereka hias. Apa yang terjadi, kemudian ?   Uskup ditandu diiringi tarian dan nyanyian adat yang penuh dengan sukacita dari pelabuhan sampai di kampung. Arak-arakan itu bagaikan perjalanan kelompok besar orang yang mengalami kemenangan.

Meskipun hujan gerimis turun selama perjalanan itu, mereka tetap berjalan terus. Jalan tanah setapak demi setapak kami lewati. Saya ingat kembali perjalanan pelayanan saya tahun 1991 – 1997 di Kimaam dan sekitarnya. Waktu itu saya dijemput di pelabuhan. Namun, kali ini lain, saya dijemput dengan cara istimewa. Tidak sembangan orang boleh mengenakan mahkota. Mahkota adalah sebuah kehormatan. Mengapa mereka lakukan kepada saya ? karena saya adalah uskup, wakil Kristus yang membawa sukacita dan berkat bagi umat. Itulah keyakinan mereka yang tidak akan pernah pudar. Pastor-pastor juga diterima sebagai wakil Kristus, pembawa sukacita dan keselamatan bagi domba-domba yang haus dan rindu kepada gembalanya.