Kamis, 23 Maret 2017

ALBERT GEREJA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya haturkan tulisan ini untuk anda.  Judul yang saya pakai untuk tulisan ini adalah gabungan dari nama orang dan apa yang dia kerjakan.  Silakan anda membacanya dan semoga anda mendapatkan inspirasi di dalamnya.

Saya tidak ingat kapan saya kenal dengan dia, dan saya juga tidak ingat siapa yang memperkenalkan saya dengan dia.  Yang saya ingat ialah bahwa relasi dan jalinan kerja sama saya dengan dia sudah lebih dari 6 - 7 tahun.  Mungkin saya kenal dia tahun 2007 atau 2008. Ketika itu saya mendengar bahwa ada donatur yang bisa membantu dana untuk pembangunan gereja.  Memang waktu itu saya membutuhkan dana untuk pembangunan gereja di salah satu stasi. Ada beberapa Albert yang saya kenal. Karena dia ini berurusan dengan pembangunan gereja, di hp saya, namanya saya tulis Albert Gereja.

Dana itu dikhususkan untuk pembangunan gereja, bukan untuk membangun pastoran atau renovasi bangunan lainnya, juga bukan untuk membangun susteran.  Sedangkan bagi saya yang ada di lapangan, kebutuhan pembangunan gereja, pastoran, dan susteran, serta petugas gereja adalah sederetan kebutuhan kongkrit dan mendesak.  Pembangunan bangunan gereja yang dibutuhkan paroki-paroki pun cukup banyak. Kalau mau didaftar, setiap tahun lebih dari 10 bangunan gereja yang dibutuhkan untuk dibangun. Pada umumnya, setiap paroki rata-rata mempunyai 15 stasi. Paroki ke Keuskupan Agung Merauke, jumlahnya 32.   Jumlah stasi seluruhnya adalah 32 x 15 = 480. Kalau setiap tahun keuskupan membangun 10 gereja, berarti dibutuhkan waktu 48 tahun untuk menyelesaikan seluruh bangunan gereja di keuskupan ini.  Sedangkan kemampuan riil keuskupan untuk membantu pembangunan gereja hanya 5 bangunan. Jadi, dibutuhkan waktu jauh lebih panjang lagi, yaitu 98 tahun.

Ketika saya memulai pelayanan sebagai uskup, banyak pastoran dan gereja yang umurnya sudah tua. Kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk.  Sementara itu, umat tetap berpandangan: “Bahwa keuskupan itu kaya. Umat tidak punya apa-apa dan perlu dibantu. Uskup wajib membantu pembangunan gereja, pembanguan dan perbaikan pastoran,  dan mencukupi kebutuhan umat”. Menyalahkan umat yang memang membutuhkan dana untuk membangun gereja atau memperbaikinya; mengeluh dan mengeluh, banyak bicara namun tidak ada tindakan yang nyata, merupakan beban tersendiri....dan tidak ada gunanya.  Maka, perlu diambil langkah-langkah untuk membuat terobosan sehingga terjadi sesuatu yang baru.

Ketika dikontak, Albert menunjukkan simpati yang besar untuk membantu pembangunan gereja. Saya pikir dialah yang menjadi donatur untuk pembangunan itu. Ternyata dia adalah “jembatan” dan sekaligus koordinator dari banyak orang yang hendak menyalurkan tanda simpati mereka untuk mendukung pembangunan gereja di banyak tempat di Indonesia.  Albert menyuarakan kebutuhan gereja-gereja lokal, kepada mereka yang hendak menyumbang namun tidak tahu ke mana bantuan itu hendak disalurkan. 

Bukan hanya itu, dia mengajak para dermawan untuk ambil bagian dalam pembangunan gerja di tempat-tempat terpencil, memuat di blog-nya jumlah dana yang dibutuhkan untuk pembangunan gereja, dia juga meminta laporan pertanggung jawaban dari mereka yang telah dibantu, foto-foto pembangunan, dan masih banyak lagi yang dia kerjakan.  Contohnya, beberapa waktu yang lalu, dia berkunjung ke Erom – Merauke dan melihat dari dekat bangunan gereja yang telah mendapat bantuan dari para donatur.  Dia meluangkan waktu untuk melihat, mengalami, dan merasakan siatuasi riil dari masyarakat / umat yang dibantu.

Ketika saya bertemu dengan dia secara langsung, saya amat terheran-heran dan serentak muncul penghargaan yang tinggi untuk dia. Orangnya masih muda. Pekerjaan pelayanan dan mengelola / menyalurkan dana dari banyak pihak adalah pekerjaan yang tidak mengenakkan, dan menuntut pengorbanan yang besar.  Apa yang telah dimulainya sekian tahun lalu, makin hari makin berbuah. Telah lebih dari 50 bangunan gereja yang telah berdiri, karena hasil kerjanya. Saya sendiri tidak tahu para donatur itu siapa dan mereka tinggal di mana. Mereka semua mempercayakan “dana pembangunan itu melalui Albert”.  Melalui tulisan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mengulurkan bantuan untuk pembangunan gereja di wilayah Keuskupan Agung Merauke (KAME).

Atas dasar pekerjaan yang telah dilaksanakan Albert, dan banyaknya donatur yang terlibat, serta sejumlah bangunan gereja yang telah selesai dibangun, dapat dikatakan beberapa hal tentang Albert. Dia adalah orang yang kerja keras, tulus dan mau peduli pada kehidupan rohani. Dia tidak ingin hanya dirinya sendiri yang menjadi saluran kasih Allah, namun mengajak banyak orang untuk ambil bagian dalam pekerjaan kemanusiaan ini. Dia juga seorang menejer yang baik, sopan dan bertanggung jawab, yang telah memberikan laporan pertanggung jawabannya secara periodik, transparan, dan akuntabel. Dia tetap setia dan teguh dalam memegang prinsip bahwa dana untuk pembangunan gereja, harus untuk pembangunan gereja, dan  tidak boleh dipergunakan untuk pembangunan pastoran atau maksud lain. Saya salut atas hal ini.  Saya kira hal ini juga yang membuat orang berani mempercayakan dananya kepada Albert untuk diteruskan ke panitia pembangunan di paroki yang membutuhkan.

Pada bagian akhir tulisan saya ini, saya hendak menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada Albert, dan anda sekalian yang telah turut bersimpati dan peduli pada kehidupan rohani banyak umat di banyak wilayah Indonesia. Secara khusus, atas nama umat di KAME, saya menghaturkan banyak terima kasih. Semoga anda sekalian mendapat karunia Allah yang makin berlimpah. Berkat Tuhan untuk anda semua.


Sintang-Pontianak, 23 Maret 2017

Minggu, 19 Maret 2017

KARYA SILIH

 PEMBACA YANG BUDIMAN

Berbagi adalah satu langkah (tindakan) baik yang merupakan buah dari pemikiran, keyakinan dan keputusan yang akan menggembirakan dan meneguhkan diri pribadi, dan mengembangkan “suasana sukacita bagi banyak orang dan dunia”. Berbagi adalah pengertian yang biasa dan mudah dimengerti, namun sulit untuk dilaksanakan, karena pada jaman sekarang ini mempunyai pemikiran dan keputusan seperti ini, sangat tidak populer dan menentang arus jaman.

Pada dasarnya dan pada umumnya, orang lebih suka diberi dari pada memberi, lebih suka dilayani daripada melayani. Apalagi bila apa yang dilakukannya itu, tidak dibayar, tidak dihargai, sulit dan harus dikerjakan sendiri. Terlalu banyak tantangan yang menghadang. Namun, bila dilakukan terus, dan terus-menerus dengan hati tenang dan rela, buah-buahnya akan dirasakan oleh banyak orang, dan kemudian akan “mengangkat pribadi orang yang melakukannya” meskipun bukan ini yang menjadi tujuannya. Apa yang dibuatnya itu akan diakui dan diagungkan oleh orang lain, setelah jangka waktu yang panjang, atau sesudah orang itu meninggal dunia.

Dalam tulisan ini, saya menyuguhkan kepada pembaca, tulisan seorang rekan yang berbagi pengalaman dan buah permenungannya kepada kita. Buah permenungan itu berkaitan dengan “silih” / ‘karya silih’. Moga-moga pembaca mendapatkan inspirasi atau menemukan mutiara kasih di dalamnya.  Selamat membaca. 

 Rekan saya menulis:  

Terimakasih atas refleksi John mengenai “Hati Yesus yang tertikam” dan “Reparasi” atau “Karya Silih”. Refleksi yang sangat kaya dan bagus!  Apa yang saya tulis di bawah ini,  mohon jangan dibaca sebagai kritikan terhadap pandangan John, tetapi sebagai ‘sharing’ saya mengenai “Karya Silih” atau ‘reparasi’, sebagaimana  menurut pandangan saya dilihat oleh P. Chevalier dan beberapa orang dewasa ini.

Dalam sebuah alinea di bawah judul: “Menuju Peradaban Cinta” dalam buku saya “Karisma Jules Chevalier dan Identitas Keluarga Chevalier”, (Percikan Hati 2013, p. 104-105) saya menulis sebagai berikut:

“Bagi Chevalier “karya silih” itu bukan hanya suatu bentuk doa, tetapi suatu cara hidup. Chevalier menggunakan istilah “menapaki jalan”. Hal itu, ia katakan, mencakup beberapa hal, yakni: memperdalam pengetahuan akan cinta kita kepada Hati Kudus Yesus, sembah bakti, syukur dan permohonan, “bersama dengan pelaksanaan perutusan kita dalam kesatuan dengan Yesus”.  Dennis Murphy MSC menggambarkan “karya silih” sebagai “suatu cara hidup, yakni hidup yang diubah oleh cinta, hidup yang berpartisipasi dalam cinta Yesus yang menebus, hidup untuk melayani ketimbang cinta diri.”  Ia mengutip Paus Johannes Paulus II yang pernah menulis: “peradaban cinta, dimana Hati Kudus meraja, akan mampu dibangun di atas puing-puing yang terakumulasi oleh sebab-sebab kebencian dan kekerasan. Ini … adalah  “karya silih” yang diminta oleh Hati Sang Penyelamat.”    

Visi lama mengenai ‘reparasi’ atau ‘karya silih” bertitik-tolak dari pandangan lama, bahwa kita harus menyenangkan hati Allah dengan melaksanakan karya-karya baik dan, supaya hati Allah tetap ‘senang’, kita harus memperbaiki (reparasi!) kelakuan buruk dari diri sendiri dan orang lain. Tidak ada apa-apa yang salah dengan pandangan tradisional itu!

Namun, pandangan Paus Johannes II, Dennis Murphy dan orang-orang lain dewasa ini bertitik-tolak dari kenyataan bahwa bukan kita yang harus menyenangkan hati Allah, supaya kita dicintai oleh Allah, melainkan bahwa pertama-tama Allah mencintai kita dan setiap manusia seadanya (1 Joh. 4:10) atas cara yang tak bersyarat. “We are loved sinners”. Kita adalah orang-berdosa yang dicintai. Berkat Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati kita (Roma 5:5) – Roh cinta dan belaskasihan –. kita berpartisipasi dalam cinta Allah kepada manusia. Kita melaksanakan “karya silih” dengan ikut dalam karya Roh Kudus yang membuat kita mampu mengampuni dan menyembuhkan keterlukaan orang lain. Dengan demikian di dalam Roh Kudus kita ikut membangun sebuah “peradaban cinta”, khususnya di mana orang menderita akibat kelalaian, sikap acuh-tak-acuh dan perbuatan jahat kita sendiri dan orang lain.   

Demikian saya juga mengerti perkataan P. Chevalier mengenai Hati Yesus yang tertikam: “Dari Hati Sang Sabda yang menjelma dan tertikam di Kalvari, saya melihat sebuah dunia baru lahir…”  Hati Yesus yang tertikam menunjukkan dunia yang terluka berat oleh “sebab-sebab kebencian dan kekerasan” . Allah sendiri di dalam Yesus, bersama dengan kita di dalam Roh Kudus, hendak membangun kembali (reparasi) “puing-puing” ‘dunia yang tertikam ini menjadi sebuah dunia baru.

Terima kasih kepada rekan saya (HK) yang telah menuliskan sharingnya di grup MSC. Semoga kasih Allah dialami oleh banyak orang, dan kita semua menjadi sarana kasih-Nya di dunia yang membutuhkan 'kasih dan pengorbanan' serta karya silih itu.  Marilah kita bersyukur, bahwa kita diperkenankan untuk ambil bagian dalan karya agung Tuhan.  

Kamis, 16 Maret 2017

KUNJUNGAN 5 USKUP DI TANAH MERAH

Para pembaca yang budiman,

Saya hadirkan sebuah cerita untuk anda, tentang kunjungan para gembala umat di Tanah Merah.  Kunjungan ini terjadi tanggal 21 – 23 Februari 2017 yang lalu. Selamat menikmati...dan mendapatkan inspirasi.

Lima uskup dari Tanah Papua: Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura), Mgr. Datus Lega (Uskup Manokwari Sorong), Mgr. Aloysius Murwito OFM (uskup Agats),  Mgr. John Saklil (Uskup Timika), dan Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC (Uskup Agung Merauke) mengadakan rapat tahunan di Tanah Merah.  Tiap-tiap uskup secara bergilir menjadi tuan rumah untuk rapat tahunan itu. Tahun 2016 rapat diselenggarakan di Agats, dan tahun 2017 ini Tanah Merah. Mgr Niko ( demikian uskup Merauke biasanya dipanggil) menjadi tuan rumah.   

Tanah Merah adalah ibukota Kabupaten Boven Digoel. Letaknya 420 km di sebelah utara Merauke. Untuk mencapai tempat ini, masyarakat bisa naik mobil selama 8 – 9 jam, naik pesawat Trigana selama 50 menit, naik pesawat Susy Air selama 1 jam 5 menit, atau naik kapal selama 5 – 6 hari.  Biaya perjalanan dengan mobil Rp. 700 ribu, dengan pesawat Rp. 1,2 juta, dengan kapal Rp. 200 rb.

Mgr. Niko sudah tiba lebih dulu di Tanah Merah, karena beberapa hari sebelumnya telah mengadakan pelayanan krisma di Waropko, dan pemberkatan klinik di Mindiptana. Waropko letaknya 530 km dari Merauke sedangkan Mindiptana letaknya 500 km dari Merauke.  Saat ini kondisi jalan sedang buruk, sehingga jarak tempuh dari Tanah Merah ke Mindiptana harus ditempuh dengan waktu 2 jam atau lebih, bahkan kalau jalanan terlalu buruk (berlumpur dan berair) bisa 1 hari penuh. Padahal bila jalanan bagus dan kering hanya perlu waktu 1 jam.

Tgl 21 Februari 2017, 4 uskup mendarat dengan pesawat AMA di bandara Tanah Merah.  Mereka disambut oleh Mgr. Niko, Bupati dan Wakil bupati Boven Digoel, Kapolres Tanah Merah, Dandin, Dansatgas dan para pejabat teras Kab. Boven Digoel. Tidak ketinggalan, anak-anak sekolah, para guru dan pegawai pemerintah serta masyarakat pada umumnya tumpah ruah di sekitar bandara. Anak-anak sekolah sudah sejak 8 pagi bersiap diri di sepanjang jalan menuju bandara dengan memakai pakaian seragam sekolah. 

Para uskup mendapatkan pengalungan bunga, disambut para pejabat daerah, umat dan masyarakat dengan antusias dan amat meriah. Sesudah berganti jubah, setiap uskup naik di bak mobil terbuka dan konvoi diarak dari Bandara menuju ke pastoran. Sebetulnya jarak itu hanya 1 km, namun karena begitu meriahnya sambutan dari umat dan masyarakat, perjalanan perarakan itu memakan waktu 30 menit.  Mobil dari dinas Informasi dan Komunikasi memperdengarkan lagu-lagu rohani untuk mengiringi perjalanan arak-arakan ini. Umat dan masyarakat yang ada di kiri dan kanan jalan melambaikan tangan / bendera Vatikan dan bendera merah putih, serta tersenyum bahagia dan penuh sukacita.


“Kami rindu para gembala kami. Apalagi belum pernah terjadi bahwa 5 gembala dari Tanah Papua, mengunjungi tanah kami, ini untuk yang pertama kali, dan bagi kami kunjungan ini adalah berkat” demikian ungkapan banyak orang dan wakil umat ketika memberikan sambutannya.  Mereka menyampaikan hal itu ketika ada ramah tamah di gereja stasi Wet, Gereja katolik kilometer 1 dan di gereja katolik kilometer 6.

Kunjungan para uskup bukan saja dilihat sebagai kunjungan pemimpin gereja setempat (keuskupan masing-masing), namun sebagai “gembala” umat katolik di mana pun mereka berada. Umat Allah disatukan oleh para gembala dalam iman, harap dan kasih. Melalui para uskup, umat Allah disatukan oleh Kristus sendiri, sebagai gereja (umat Allah) yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dalam Kristus dan Gereja Katolik, uskup dari  tempat lain adalah uskup / gembala bagi umat setempat juga. Dan melalui para uskup, Gereja Setempat disatukan dengan Gereja Roma. Dengan demikian, gereja setempat adalah bagian dan satu kesatuan utuh dengan Gereja Universal yang dipimpin oleh Paus. Itulah sebabnya, berkat yang diterima oleh umat Allah diyakini makin berlimpah karena kehadiran 5 uskup itu mewakili berkat dari seluruh Gereja Lokal.



Para uskup juga membagikan pengalaman mereka pada saat ada pertemuan umum dengan umat Allah di 6 tempat ( Umat Tanah Merah, Umat Wet, Umat Kilo satu, Umat Kilo Enam, Umat Wakariop, Umat Mindiptana).  Di tiap-tiap tempat, jumlah umat yang hadir sangat luar biasa. Umat mengalami berkat, para uskup pun mengalami berkat Tuhan yang tersalur dari diri umat-Nya. Ketika memberikan sambutan, Mgr Leo mengatakan: “Satu kata yang bisa saya ungkapkan pada saat ini adalah LUAR BIASA”.  Memang para uskup disambut dalam suasana luar biasa. Makan minum tersedia dengan amat baik, bagaikan hidangan yang dibeli di restoran, padahal semuanya disiapkan oleh umat Tanah Merah.


“Barang siapa menyambut seseorang dalam nama-Ku, dia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, dia menyambut Bapa yang mengutus Aku”. 

Selasa, 14 Februari 2017

PESTA 2 FEBRUARI

PEMBACA YANG BUDIMAN

Tulisan kecil ini muncul ketika saya merayakan ekaristi di Seminari Menengah " Pastor Bonus"  Merauke. Di sana ada 25 orang calon pastor.  Inilah sharing saya di sana, pada hari itu. 

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Februari. Misa mulia namun sederhana diadakan di Seminari Pastor Bonus, bersama-sama dengan anak-anak seminari. Yang menjadi pokok renungan adalah “Yesus makin bertambah besar, makin kuat dan makin bijaksana, serta makin dikasihi Allah dan manusia”. 

Pada waktu dipersembahkan di kenisah, Yesus baru berumur 40 hari.  Kedua orangtua-Nya (Yoseph dan Maria) telah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara persembahan. Sebagai keluarga tukang kayu, mungkin sekali mereka membawa sepasang tekukur atau burung merpati, sebagaimana yang dipersyaratkan untuk hari suci itu.  Mereka terheran-heran oleh sambutan Imam Agung Simeon, yang mengucap syukur atas telah terkabulnya permohonannya.

Sesudah hari-hari suci itu, kedua orangtua kembali ke kampung halamannya yaitu ke Nazareth. Pendidikan dan pembinaan diberikan setiap hari kepada Kanak-kanak Yesus, tentang nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, latihan ketrampilan, kunjungan keluarga, doa bersama, membaca kitab suci dll. Apa yang mereka tanamkan setiap hari itulah yang dilaksanakan dan diteruskan oleh Yesus, yang makin hari makin bertambah usianya. Kedua orangtua punya peran penting dalam kehidupan Yesus, sehingga Dia makin bertambah besar, makin kuat, dan bertambah hikmah-Nya, serta makin dikasihi Allah dan manusia.

Seminari adalah tempat pembinaan / persemaian  bibit para calon imam.  Sebagaimana yang terjadi di keluarga-keluarga, di seminari pun anak-anak seminari diberi pembinaan, latihan, dan bekerja agar makin terlibat dan tahu apa yang harus dikerjakan setiap hari. Pelajaran budi pekerti, nilai-nilai kerohanian, dan kejiwaan ditanamkan dan diteladankan oleh para pembina, agar kelak mereka menjadi manusia yang baik, bijaksana, dewasa dan dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab. Apa yang diberikan setiap hari, merupakan bekal penting, agar mereka ketika melakukan semuanya itu bukan lagi karena aturan, terpaksa atau disuruh, tetapi dengan sebuah kesadaran pribadi. Pekerjaan dan kegiatan harian merupakan pelaksanaan dan perwujudan pribadi mereka yang hendak mengabdi, melayani dan menyalurkan minat, bakat, talenta dan kekuatan yang ada padanya.

Demikian pula para orangtua, dari keluarga manapun, menanamkan dan meneruskan apa yang mereka punyai kepada anak-anaknya. Mereka membekali anak-anak agar kelak anak-anak itu mempunyai bekal dan dapat hidup dan berkembang sesuai dengan talenta, minat dan kekuatan serta kepribadian mereka kepada masyarakat.  Ketika sudah dewasa, anak-anak itu tidak lagi tergantung pada orangtuanya, tetapi dapat hidup mandiri bahkan mengembangkan apa yang telah ditanamkan orangtua atau apa pun ditemukan dalam perjalanan hidup mereka.

Bagi para beriman katolik, keluarga kudus Nazareth ( Yusuf, Maria dan Yesus) merupakan teladan bagi keluarga-keluarga sekarang ini. Baik sebagai pribadi-pribadi, maupun sebagai keluarga, mereka dipenuhi kasih karunia Allah.  Kedekatan dengan Allah yang mereka wujudkan dalam hidup dan relasi serta komunikasi satu sama lain, membuahkan rahmat yang begitu banyak. Semoga kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, mendapatkan rahmat yang berlimpah sebagai buah dari kedekatan kita dengan Allah dan meneruskannya kepada sesama.

28 TAHUN IMAMAT

PEMBACA YANG BUDIMAN, 

selamat berjumpa lagi.... Inilah sharing khusus saya. Selamat membaca. 

Tanggal 1 Februari 1989, jatuh pada hari rabu. Hari itu, fr Hans Susilo, fr. Priyo Susanto, fr. Adi Seputra, fr. Sani saliwardaya, dan fr Heru Jati ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Alexander Djajasiswaja ( Uskup Bandung ). Tahbisan itu dilaksanakan di gereja katedral Purwokerto yang baru saja diberkati. Kelima frater tsb adalah orang-orang pertama (pembuka / yang mengawali) yang ditahbiskan di gereja yang baru itu. Mereka yang hendak ditahbiskan itu adalah frater-frater MSC.

Tahbisan dilaksanakan pada sore hari, jam 4 sore. Karena uskup Purwokerto pada waktu itu sedang berhalangan,  tugas beliau itu digantikan oleh Mgr. Djaja.  Upacara pentahbisan berjalan lancar, meskipun sebenarnya hari-hari itu adalah hari-hari hujan. Uskup pentahbis didampingi oleh Romo Sukmana MSC dan Romo Wignyo Sumarto MSC. Hadir pada kesempatan itu puluhan imam baik dari Tarekat MSC, para imam projo, romo-romo tamu dari banyak tempat. Seingat saya hadir juga 1 orang imam MSC dari Jepang yaitu Romo Makino.

Salah satu dari frater yang ditahbiskan ini adalah penulis. Dia ingin  mengenang peristiwa yang telah terjadi 28 tahun yang silam. Meski peristiwa itu telah berlangsung begitu lama, namun rasanya baru saja terjadi dan merupakan kenangan yang tidak pernah akan bisa dilupakan. Waktu itu, para frater yang hendak ditahbiskan pada umumnya didampingi oleh kedua orangtuanya. Hanya frater Heru, karena ayahnya sudah meninggal, didampingi ibunya dan pamannya.

Upacara tersebut berlangsung dengan khidmat, meriah dan sederhana. Lagu “Di Sanggar Mahasuci” mengiringi prosesi panjang. Para penari memperagakan hormat bakti dan sujud seluruh umat Allah pada penyelenggaraan Ilahi dan kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia. Peristiwa yang mengesankan penulis adalah ketika meminta restu kepada orangtua, tiarap sebagai tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, dan penumpangan tangan, dan pengurapan dengan minyak krisma.

Sesudah pentahbisan, kelima imam baru dengan didampingi oleh orangtua masing-masing, berdiri di pelataran panti imam dan menerima salam dari umat, sahabat dan para undangan. Kemudian, ada resepsi di aula katedral. Mgr P.S.Hardja-Soemarta MSC hadir pada kesempatan itu, seraya memberikan ucapan selamat kepada para imam baru. Tidak ada acara ramah tamah pada malam itu, sehingga para tamu dan undangan yang berasal dari luar kota, bisa langsung pulang.

Syukuran atas pentahbisan, dirayakan di Novisiat MSC – Karanganyar / Kebumen, di paroki St. Petrus Pekalongan, di Gombong, dan di Kalikotak ( rumah Rm. Hans Susilo), di Samigaluh ( rumah Rm. Priyo), dan di Jomblang ( rumah Rm. Adi Seputra ).  Misa syukur juga diadakan di SMP Pius Tegal karena penulis dulu bersekolah di TK, SD, dan lulus dari SMP Pius Tegal. Satu bulan setelah menerima tahbisan, dua Romo diutus ke Jepang ( Romo Priyo dan Romo Sanny), Romo Heru diutus ke keuskupan Amboina, dan Romo Susilo dan Romo Adi diutus ke Irian Jaya.  

Tgl 4 Maret 1989, Romo Yos Suwatan MSC (provinsial) dalam misa sederhana di kapel provinsialat MSC di Jakarta mengutus 3 imam muda ke tempat tugas masing-masing. Tanggal 5 Maret 1989, Rm Hans Susilo dan Rm Adi Seputra terbang menuju Jayapura, dan bermalam selama beberapa hari di biara St. Antonius Sentani. Tgl. 10 Maret 1989, kedua imam ini tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Merpati. Di Bandara, mereka dijemput oleh Pater Anton de Grow MSC, Sr. Chatrine Tati PBHK, P Alo Batmyanik MSC dan P Sugun MSC.

28 tahun adalah kurun waktu yang cukup panjang. Sakramen Imamat yang saya terima telah menjadi berkat besar bagi diri saya sendiri dan umat Allah dan banyak orang dari pelbagai bangsa dan agama. Tidak terhitung lagi berapa kali saya merayakan ekaristi, membaptis orang, meneguhkan nikah, atas nama Tuhan mengampuni dosa, dan mengurapi orang-orang sakit. Tidak terhitung lagi berapa banyak berkat melalui orang-orang yang membantu pelayanan saya, turut serta hadir dalam perjalanan dan pekerjaan sulit di pedalaman-pedalaman.  Tidak terhitung juga betapa banyak orang yang telah mendoakan saya dan meneguhkan panggilan saya.

Maka, pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu saya, yang saat ini sudah berusia 80th namun masih tetap mendoakan saya. Juga kepada kakak adik, ipar dan kemenakan yang menunjukkan persaudaraan dan keakraban setiap kali saya berlibur. Kepada umat, sahabat kenalan yang tersebar di seluruh nusantara, maupun di luar negeri. Juga kepada konfrater MSC, rekan-rekan setahbisan dan rekan-rekan pembaca blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih.




Jumat, 27 Januari 2017

KUNJUNGAN PADA HARI NATAL 2017

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya haturkan sebuah pengalaman kecil ini untuk anda. Semoga anda menemukan inspirasi di dalamnya. Selamat menikmati dan menemukannya. 

Hari itu, saya mengadakan perjalanan ke kampung. Ketika melewati rumah suatu keluarga, saya tergerak hati untuk menghentikan mobil saya dan mengunjungi keluarga itu. Kebetulan hari itu adalah hari natal. Sambil mengunjungi, saya berkesempatan untuk mengucapkan selamat natal. Di rumah itu, tinggal suami istri yang sudah lansia. Suami berumur 83 tahun dan istrinya berusia 80 tahun.  Mereka tinggal bersama anak menantu dan 3 orang cucu.
Ibu Katrin, nama sang istri, telah lama sakit. Waktu itu dikatakan beliau kena “strook ringan” namun tidak mampu menggerakkan anggota badannya. Ke mana pun dia pergi, semuanya perlu dibantu orang lain.  Sejak saat itu kondisinya makin menurun dan berat badannya pun turut menurun. Kesegaran dan sukacita yang biasanya secara spontan muncul sama sekali tidak terlihat lagi.  Perempuan yang dulu amat gesit dan selalu ada waktu untuk membantu orang lain, kini tergolek di tempat tidur. Semuanya tidak dapat dinikmati tanpa bantuan orang lain. Hidupnya sehari-harian hanya di kamar, dan di atas tempat tidur.....
Menjadi sangat jelas, bahwa kedudukan, harta, jabatan dan segala macam yang diperoleh tinggal kenangan. Yang dia butuhkan adalah ketenangan jiwa. Segala sesuatu yang ada di dunia dan dipercayakan kepadanya adalah alat bantu. Yang diharapkan setiap hari dari menjadi dambaan setiap orang adalah kebahagiaan hidup abadi. Kebahagiaan Abadi ini tidak bisa diberikan oleh manusia, tetapi hanya oleh yang kita imani: Allah yang mahapengasih dan penyayang.  Maka, pada hari-hari terakhir, sebelum manusia meninggalkan dunia ini, perlulah dia disiapkan agar jiwanya dan rohaninya siap untuk menerima Kebahagiaan Abadi. Di sana, semua orang percaya dikumpulkan dan dibahagiakan secara kekal oleh Allah  sendiri. 

HALO .......2017

PEMBACA YANG BUDIMAN

Sudah sekian lama saya tidak menjumpai anda. Alasannya macam-macam. Namun meskipun terlambat, tetap ada di dalam diri saya, suatu kerinduan untuk menggoreskan sesuatu untuk anda. Kapan dan bagaimana ?    Itulah pertanyaan yang selalu baru dan nyata setiap hari kepada saya.  Saat ini, tanggal 27 Januari 2017......  sudah 27 hari saya menapaki tahun baru, namun belum 1 tulisan pun yang muncul di blog ini. Maka saya menyampaikan pertama-tama permohonan maaf saya.

Ada baiknya juga bahwa untuk membuka tulisan pertama ini, saya menghaturkan kepada anda sekalian “selamat Tahun Baru 2017”. Saya berharap bahwa pada kesempatan yang akan datang, tulisan saya akan lebih banyaka daripada yang sudah termuat di blog ini pada tahun 2016 yang lalu.
Saya juga berharap bahwa pada tahun yang baru ini, ada banyak rahmat dan sukacita yang akan kita alami. Semua itu bukan hanya karena berkat Tuhan yang tercurah, tetapi juga karena kita mau berpartisipasi secara aktif dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, dengan sukacita.

Kita berhak mengalami sukacita sepanjang tahun ini. Maka, motivasi, kehendak dan tindakan kita sudah semestinya didasarkan dan diarahkan untuk menciptakan sukacita. Sukacita itu akan memberikan energi besar dan mengalahkan banyak kekhawatiran dan ketakutan.  Sukacita akan membangkitkan semangat dan memberikan kepuasan dalam mengerjakan tugas-tugas kita meskipun berat dan melelahkan.


Kita masuk dan dimasukkan dalam karya besar Tuhan, menciptakan kebahagiaan di bumi ini. Maka, keluarga, kakak adik, kenalan, teman-teman sekerja dll adalah sahabat-sahabat kita yang turut mendukung dan menyukseskan kehidupan kita dan kehidupan umat manusia. Mari kita ambil bagian dalam melaksanakan karya besar Tuhan  itu dengan penuh sukacita, agar semakin banyak orang mengalami kasih sayang Allah.