Kamis, 16 Mei 2013

JOHNNY BALAGAIZE

PEMBACA BLOG YANG SETIA

SYALOOM....

Kisah ini saya alami beberapa waktu yang lalu. Saudara yang akan saya ceritakan ini, sudah cukup lama saya kenal. Karena itulah, ada beberapa segi yang menarik pada dirinya yang patut saya angkat pada kesempatan ini. Marilah kita ikuti kisahnya.
 
Johnny di dermaga kali Bian.... melepas kepergian kami menuju ke Merauke.


Dia adalah seorang bapa keluarga. Usianya mendekati 40 tahun. Anaknya 4 orang. Dia pernah bersekolah sampai lulus SMA.  Dengan susah payah, dia dan rekan-rekan sekampungnya menuntut ilmu karena pada waktu itu sekolah setingkat SLTA tidak ada di kampungnya. Yang ada hanya SD dan SMP. Karena itu, demi meraih tingkat pendidikan dan masa depan yang lebih baik, dia harus merantau ke Merauke.  Meski ijazah SMA ada di tangannya, dia tidak serta merta bisa menjadi pegawai. Persaingan dengan sesama pencari kerja yang sering lebih terampil dan punya koneksi di kantor-kantor atau di perusahaan tertentu, memaksa dia untuk pulang kampung dan bekerja seadanya. Dia menjadi petani dan sesekali “menghantar tamu-tamu” yang sedang jalan dinas ke sana. Dari situlah, dia mendapatkan rejeki untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Orangnya selalu gembira dan cenderung “cerewet” kalau sudah kenal dengan orang yang dilayaninya. Tidak ada kata tidak bisa baginya dan tidak pernah dia memperlihatkan wajah murung. Hidupnya terasa ringan dan sepertinya dia tidak pernah punya masalah. Hidupnya mengalir seperti air. Istrinya yang sedang hamil tua pun, dia tinggalkan demi melayani tamu-tamu atau orang yang membutuhkan bantuannya. Istrinya pun tidak mempermasalahkan “gaya hidup Johny”. Keduanya menikmati hidup.....mengalir dari hari ke hari.

Ketika mendengar bahwa uskup ada dalam perjalanan dari Kimaam menuju Okaba, dan minta dijemput di kali (sungai) Buraka, dia dan teman-temannya tanpa banyak pertimbangan merelakan diri untuk menjemput. Dia memang sudah amat menguasai medan. Kendaraan Yamaha RX King yang dirawatnya dengan setia itu, selalu menjadi andalannya. Bersama dengan 2 rekannya dia pergi menjemput uskup dan rombongan di kali Bian. Di bibirnya selalu terselip sebatang rokok gudang garam. Menurut dia, rokok itu sebagai penyemangat dan membuat perjalanan menjadi lebih ringan.

Dia juga membawa ransel yang berisi seluruh peralatan perbengkelan dan onderdil yang diperlukan. Bila sepeda motor yang ditumpanginya / rekannya mengalami kerusakan atau gangguan kecil, mereka dengan gampang berhenti di suatu tempat, dan memperbaiki kerusakan itu. Di daerah terpencil seperti Okaba dan pedalaman lainnya, para pengendara sepeda motor wajib membawa peralatan agar dalam keadaan darurat, mereka tetap bisa “membengkeli” kendaraan mereka sendiri.  Mereka juga membawa bensin dan oli cadangan, sehingga sewaktu-waktu ketika dibutuhkan semuanya sudah tersedia.

Di jok belakang motornya ada “karung bagasi” (seperti tukang pos jaman dulu, yang ke mana-mana membawa karung bagasi yang diisi surat dan paket-paket). Di karung bagasi itulah, tas uskup dan pastor Agus serta barang bawaan lainnya ditempatkan dengan aman. Semua sepeda motor menjadi kendaraan andalan untuk keperluan transportasi darat bagi penduduk pedalaman. Mereka sudah terbiasa dengan situasi itu, dan merasa amat terbantu dengan adanya kendaraan roda dua yang dapat menjelajah daerah-daerah sulit dan terpencil.

Hari itu, dia dengan gembira hati memboncengkan uskup, dari km 5 Buraka menuju Wambi, dan dari Wambi menuju ke Okaba. Perjalanan menyusuri pantai. Air laut sedang pasang, sehingga kami dengan mudah meluncur di atas pasir yang cukup keras dan padat untuk dilewati sepeda motor. Sering kami harus melalui pasir pantai yang masih basah, karena tempat itu cukup rendah bahkan menyeberangi sungai-sungai kecil yang airnya hanya sebatas mata kaki.  Setelah menempuh 1 jam perjalanan, kami tiba di Wambi. Johny dengan gesit mebelokkan kendaraannya menuju Puskesmas Pembantu (Pustu) Wambi. Di sana kami beristirahat sejenak.

Perjalanan dilanjutkan ke Okaba. Di beberapa tempat lumpur merah yang masih basah-basah harus dilewati. Johny memboncengkan uskup melalui jalan yang tidak beraspal dan berlumpur. Rupanya 2 hari sebelumnya ada curah hujan yang cukup banyak, sehingga jalanan menjadi lebih becek. Meski demikian, dia tetap tenang melewati jalan-jalan yang becek itu. Memang  dia sudah amat mengenal daerah itu, sehingga bisa dikatakan menguasai medan. Dalam waktu 1 jam, kami semua sudah tiba di Okaba.

Perjalanan dilanjutkan lagi ke arah Kali Bian, meskipun sudah malam. Johnny tetap bersemangat mengantar uskup dan rombongan. Tibalah kami di pelabuhan kali Bian, sekitar jam 10.30. Semuanya gelap, hanya penerangan dari sepeda motorlah yang bisa menerangi  pelabuhan itu. Di kali ini tidak ada jembatan, sehingga semua orang harus naik perahu bila hendak menyeberang. Itu sebanya, Johny mengarahkan sorot lampu sepeda motor ke arah seberang, untuk memberi tanda bahwa kami perlu perahu untuk menyeberang. Malam itu, meskipun sudah beberapa kali mereka yang di seberang diberi tanda, tidak ada perahu pun yang datang untuk menjemput kami. Maklum sudah malam, mungkin mereka semua sudah tertidur.

Malam itu, dia kembali lagi ke Okaba dengan harapan bisa mendapatkan tikar supaya uskup dan rombongan bisa tidur di temat tunggu yang ada pinggir kali dengan lebih nyaman. Ternyata ketika sampai di Okaba, semua sudah tidur nyenyak. Maklum, saat itu kira- kira sudah jam 24.00. Menurut pangakuannya, dia tidur di  pastoran karena merasa sungkan untuk membangunkan tuan rumah.  Kemudian, dia mempersiapkan aneka kebutuhan dan membawa semuanya ke pelabuhan kali Bian. Jam 11.15  dia tiba di kali Bian dengan membawa kue dan bahan makanan untuk makan siang bapa uskup dan rombongan. Dari kantong bagasinya dikeluarkan bahan-bahan makanan dan alat-alat masak. Di rumah tunggu itu, kami memasak makanan cepat saji, sehingga dalam waktu yang amat singkat kami telah menikmati makan siang.

Pengorbanannya telah memungkinkan kami tiba di tempat dengan selamat, dapat beristirahat di rumah tunggu, dan menikmati makan siang. Kerelaannya untuk mengantar menjemput dan mengantar, membuat kami “tinggal duduk di sepeda motor” dan “menikmati perjalanan di pantai, di lumpur-lumpur, dan di antara semak belukar. Sepeda motornya yang dia rawat itu, telah memungkinkan kami naik tanpa kerewelan mesin di tengah jalan. Kesiapsediannya untuk memberikan yang terbaik, dengan riang gembira, mencerminkan “jiwa dan dirinya” yang siap menolong dan berkorban bagi orang lain.

Ucapan terima kasih yang diwujudkan dengan kata-kata, dan “imbalan yang dia terima pada hari itu” sesungguhnya tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah diberikannya. Namun, lebih baik ada ucapan terima kasih daripada "kosong sama sekali".  Pengalaman-pengalaman seperti ini makin meyakinkan saya bahwa di mana pun saya diutus, di sana ada banyak orang baik. Ada banyak orang yang rela berkorban dan siap melayani. Mengapa demikian ?  Karena saya yakin, sebelum saya ada di tempat itu, Tuhan telah ada dan Dia memberikan yang baik kepada saya, dan semua orang yang berkehendak baik. 

SEMALAM DI KALI BIAN

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM.....

Saya menjumpai anda kembali, melalui cerita / pengalaman perjalanan di daerah Okaba. Waktu itu, saya sedang dalam perjalanan dari Kimaam ke Merauke. Karena tidak ada pesawat, kami nekad kembali ke Merauke melalui laut dengan naik speed-boat, kemudian dilanjutkan dengan naik sepeda motor. Kami sudah sampai di Okaba, setelah mengadakan perjalanan selama 3 jam  dengan speed-boat, dan 4 jam naik sepeda motor. Kami tiba di Okaba jam 20.00. Setelah makan makan di pastoran Okaba, kami melanjutkan perjalanan ke Kali Bian. Di sanalah tempat penyeberangan itu. Inilah cerita  selengkapnya.


Malam itu, kami ( uskup, pastor Agus dan 3 pengantar ) melanjutkan perjalanan dari Okaba ke Kumbe meskipun sudah jam 21.00. Mengapa demikian ? Kami sudah berjanji bahwa kami akan pulang ke Merauke pada hari Selasa tanggal 12 Maret 2013.  Dengan susah payah, akhirnya kami tiba di pelabuhan sungai Bian jam 10.30. Kami harus menyeberangi sungai Bian, namun perahu yang hendak menyeberangkan kami tidak ada. Dengan lampu sepeda motor dan klakson yang kami bunyikan, kami memberikan tanda kepada rekan kami yang ada di seberang sungai, agar mereka tahu bahwa kami sudah ada di pelabuhan, dan minta dijemput.

Sungai itu amat lebar. Dengan perahu bila kami menyeberang diperlukan waktu sekitar 20 menit. Beberapa kali tanda kami berikan / kirimkan, dan kami melihat ada orang yang membalas sorot lampu kami, dengan menyalakan senter ke arah kami. Menginat sudah cukup larut, sekitar jam 23.30 akhirnya kami memutuswkan untuk tidur (bermalam) di sebuah rumah tunggu. Bangunannya masih kuat, namun tidak berdinding. Kami berenam siap-siap untuk tidur, namun Johnny dan rekannya memutuskan untuk kembali ke Okaba dengan alasan mengambil tikar. Tinggallah kami berempat di tempat itu.

Kami tidak membawa tikar. Dengan jaket agak basah-basah, karena sudah amat lelah setelah menempun perjalanan panjang 22 jam, kami merebahkan diri di lantai papan tanpa alas apapun, kecuali jaket yang kami kenakan. Syukurkan bapak Jeremias Ndiken membawa kelambu kecil, sehingga kami masuk ke dalam kelambu, saling berdempetan seperti ikan pindang. Syukur pula bahwa malam itu tidak ada nyamuk, sehingga kami bisa tidur dengan nyenyak. Meski tidur seadanya tetapi kami bisa tidur, melepaskan “hari kemarin dan kelelahan perjalanan” dengan hati damai.


Tidur semalam tanpa alas tikar......tetapi nyenyak juga. Pasrah kepada Penyelenggaraan Ilahi.


“Tidur adalah sebuah kebutuhan alami dan manusiawi” apalagi ketika tubuh butuh beristirahat. Maka tanpa kasur yang empuk, tanpa lampu dan tanpa perlengkapan lainnya sebagaimana di rumah, “tidur di tempat dan dalam situasi apa pun” bisa terjadi. Hujan gerimis, suara air laut yang sedang pasang, dinginnya malas, bukan lagi pengganggu tetapi malah menjadi sahabat yang mengantar kami untuk masuk ke dunia yang lain. Menerima situasi dan pasrah pada para sahabat dan bersyukur bahwa masih bisa beristirahat kepada Sang Kuasa, merupakan “kunci kedamaian hati untuk dapat beristirahat di mana pun”.

Ketika kami bangun, karena sudah menikmati damai, tidak ada seorang pun yang gelisah atau menyesali bahwa kami telah tidur “semalam di kali (sungai) Bian”. Kami malah berterima kasih kepada bapak Jeremias Ndiken yang telah membawa kelambu. Hujan gerimis pagi itu yang mengiringi “kebangunan kami untuk menikmati hari yang baru” menambah pengakuan diri bahwa kami adalah manusia yang terbatas. Kami membutuhkan orang lain. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kehadiran mereka dan apa yang mereka berikan, mendorong kami untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan kami beristirahat, memulihkan kekuatan dan menatap hari baru. Juga kami terdorong untuk mengucap syukur kepada Sang Pemberi Kehidupan.

Kami membutuhkan oksigen. Dengan jumlah besar oksigen disediakan oleh Sang Khalik. Kami membutuhkan penghangat, dan di tempat itu ada begitu banyak kayu yang siap untuk dijadikan kayu api. Kami perlu air bersih untuk cuci tangan. Air hujan yang mengalir dari atap rumah dapat kami gunakan untuk membersihkan tangan. Ketika kami sudah lapar, Johny datang dari Okaba dengan membawa makanan dan minuman yang kami butuhkan. Di tempat itu kami masak super mie dan bisa makan kenyang. Kami tetap makan pada waktunya.

Orang bisa saja berkomentar: “Kasihan bapak uskup tidur di pinggir kali, kedinginan dan tidak sarapan”, karena hal-hal seperti ini adalah hal yang luar biasa. Komentar seperti ini memang dapat diterima dan sungguh amat bisa dipahami. Di sisi lain, tidur seadanya dan mengalami tidur di pinggir kali dengan damai, dan tanpa gangguan apa pun, serta sampai hari ini kami tidak sakit, adalah suatu anugerah yang amat luar biasa. Kebaikan dan penyertaan Tuhan jauh lebih dahsyat dan mengalahkan semua keterbatasan manusia. Dia telah memberikan apa yang kami butuhkan secara melimpah. Dia telah menunjukkan diri-Nya sebagai Gembala Yang Baik, yang tidak melupakan atau tidak meninggalkan utusan-Nya sendirian.
 
Sarapan pagi seadanya..... biskuit, dan supermi. Semuanya dinikmati dengan rasa syukur.
 
 
Meskipun capek, kehujanan dan tidur seadanya, kami semua tidak mendapat / menderita sakit. Kami semua tetap sehat dan dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya, seakan-akan tidak ada sesuatu yang luar biasa yang telah kami alami. Badan kami juga tetap segar.  Inilah rahmat besar yang kami terima dari Allah yang selalu mencintai dan menyertai perjalanan kami. Dia adalah Allah yang mahabesar dan mahakuasa. Dia hadir di mana pun dan memberikan perlindungan kepada orang yang  selalu berlindung pada-Nya. 

Rabu, 15 Mei 2013

AIR KELAPA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Sambil menulis email ini, saya teringat sebuah lagu yang berjudul "Rayuan Pulau Kelapa".  Tidak semua syairnya saya tuliskan di sini, tetapi bagian akhir dari lagu itulah yang saya tuliskan untuk anda:

"Melambai-lambai, nyiur di pantai. Berbisik-bisik raja brana"
Memuja pula yang indah permai. Tanah airku, Indonesia..

Memang pada umumnya di sepanjang pantai, dengan mudah kita temukan pohon nyiur atau pohon kelapa. Pohon yang satu ini memang luar biasa. Batangnya lurus dan tinggi, akarnya adalah akar serabut. Meskipun akarnya kecil-kecil, tetapi begitu kuat untuk menahan beban berat pohon yang cukup tinggi itu. Di sekelilingnya air yang ada asin atau payau rasantya. Namun kehebatan dari pohon ini adalah kemampuannya "mengubah air yang asin atau payau" menjadi air yang jernih dan manis. Air yang disuguhkan oleh pohon kelapa ini ternyata mempunyai khasiat yang luar biasa. Inilah khasiat yang terkandung di dalam air kelapa itu:

Ternyata air kelapa yang kita minum, mempunyai khasiat yang luar biasa :

 Air kelapa ternyata lebih bernutrisi ketimbang susu penuh ( whole milk ) karena tidak mengandung kolesterol & rendah lemak.

 Air kelapa dapat memperbaiki sirkulasi darah dan dikenal mampu membersihkan saluran pencernaan.

 Air kelapa tidak hanya akan membuat sistem kekebalan tubuh Anda lebih baik, tetapi juga membantu tubuh melawan beberapa jenis virus penyebab penyakit.

 Jika Anda mengidap penyakit batu ginjal, biasakanlah minum air kelapa secara rutin. Kebiasaan minum air kelapa akan membantu memecah batu ginjal dan memudahkannya keluar dari tubuh.

 Air kelapa juga dikenal sejak dahulu dapat menyembuhkan gangguan saluran kencing ! Segelas air kelapa akan meredakan rasa sakit akibat susah kencing.

 Jika Anda masih merasa pusing karena mabuk, tak ada yang bisa memulihkannya dengan cepat selain mengonsumsi air kelapa.

 Air kelapa yang rasanya lembut sangat kaya akan elektrolit dan potassium. Potassium dapat membantu tubuh mengatur tekanan darah dan fungsi organ jantung

 Air kelapa dapat mempercepat naiknya trombosite bagi penderita DBD dan menurunkan demam ( trombosit turun karena dipakai untuk mencegah pendarahan, karena demam tinggi mengakibatkan pengentalan darah dan pori pembuluh darah membesar )


Tidak ada perusahaan atau negara maju mana pun yang bisa memproduksi air ( apa pun namanya ) yang kualitas dan khasiatnya dapat melibihi air kelapa. Sampai kapan pun tidak akan pernah ada, ilmuwan yang dapat menghasilkan air sedahsyat / sekualitas dengan air kelapa. Maka, tidak ada kata lain selain berterima kasih kepada alam dan mineral yang terkandung di dalamnya, kepada pohon-pohon kelapa, dan kepada Sang Pencipta yang telah memberikan semuanya itu kepada manusia.

USIA LANJUT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM....

Bulan Mei telah kita masuki. Hari ini adalah hari yang ke lima belas. Sudah setengah perjalanan pada bulan ini yang kita masuki, namun 1 tulisan pun belum muncul untuk menjumpai anda. Malam ini, ketika saya sedang menunggu keberangkatan, saya mendapatkan komputer di lounge Garuda - Merpati sedang kosong. Saya gunakan kesempatan ini untuk menulis dan mengujungi anda. 

Tulisan kali ini diinspirasikan oleh email yang mengulas beberapa hal penting tentang "usia lanjut" dan bagaimana menyikapinya. Tidak ada seorang pun yang berusia 60 tahun ke atad dan panjang umur, dapat menghindari situasi ini. Bagi kita yang belum mencapai usia itu, pokok-pokok penting yang dipaparkan di sini, dapat menjadi "bahan persiapan / pengetahuan / pencerahan yang berguna".

KETIKA USIA LANJUT TIBA

Semua orang akan menjadi tua dan mati. Tak satupun manusia di dunia ini yang akan hidup selamanya. Proses menjadi tua adalah proses yang universal. Artinya semua organisme di dunia ini akan menjadi tua dan mati. Menjadi tua umumnya adalah sebuah proses yang berjalan pelan,yaitu penurunan produksi hormon dan penurunan daya tahan tubuh. Pada diri orang yang sakit, proses menua ini bisa menjadi sangat cepat –sebagai akibat dari kegagalam tubuh untuk memproduksi sel-sel baru yang melapisi kulit.

1.     Rentang Usia Tua

Umumnya orang dikatakan tua jika sudah berusia 65 tahun ke atas. Namun usia harapan hidup manusia dewasa ini terus mengalami peningkatan selaras dengan kemajuan ilmu kedokteran dan gizi yang lebih baik. Konsekwensinya usia tua yang bermula dari usia 65 tahun – wafat, memiliki rentang waktu yang sangat panjang. Karena itu pembabakan waktu untuk usia tua ini mengalami perluasan juga. Nama yang diberikan dalam bahasa Inggris adalah: young-old, old-old, dan oldest-old. Baiklah hal itu saya terjemahkan menjadi  tahap:
·         Masa tua yunior: berlangsung antara 65 sampai dengan 74 tahun.
·         Masa tua medior: berlansung antara 75-85 tahun
·         Masa tua senior: berlangsung antara 86 tahun sampai wafat.
Banyak ahli berpendapat bahwa pembabakan di atas lebih berdasarkan kepada usia biologis-psikologis daripada usia kronologis, mengingat bahwa banyak orang yang berumur 85 tahun secara fisik dan psikis lebih sehat daripada yang berusia 65 tahun. Namun setelah usia 85 umumnya orang akan mengalami penurunan kesehatan.

2.     Penampilan Fisik

Proses penuaan ditandai dengan perubahan bentuk fisik. Jumlah lemak menjadi kurang proposional. Lapisan yang melembabkan kulit menghilang, kulit menjadi berkeriput dan kurang elastis. Jika terjadi luka, proses pemulihan menjadi lambat. Rambut yang tadinya  tebal menipis sedikitnya sampai 20% pada usia 70 tahun. Rambut menjadi beruban sebagai akibat habisnya pigmen pada akar rambut. Penurunan juga dialami oleh tulang di mana menjadi semakin rapuh. Sel-sel pada pergelangan menjadi semakin sedikit sehingga gerakan menjadi lebih lamban. Demikian juga sistem pernafasan berubah. Volume udara yang bisa dihirup memenuhi paru-paru mengalami penurunan sehingga cenderung cepat lelah.

3.     Otak dan Hormon

Keberfungsian tubuh juga mengalami penurunan. Kapasitas untuk mencium, melihat dan mendengar berkurang. Sebagai akibatnya, manusia menjadi bergerak lamban. Tubuhnya tidak lagi bisa melayani kemauan pikirannya. Pada diri orangtua, daya ingat pada masa lalu tetap baik, tetapi daya ingat untuk informasi terkini menjadi lebih cepat terlupakan.

4.     Dua Pilihan Sikap

Krisis pada tahap ini adalah godaan untuk putus asa.  Dia menjadi putus asa karena ada keinginan untuk berbuat sesuatu yang baik dan berguna, namun tenaga dan pikirannya sudah terbatas. Dia menyadari bahwa hidup ada akhirnya dan hal itu sudah semakin mendekat. Apalagi kalau dia menyadari kekeliruan-kekeliruan waktu masih  muda. Untuk memulai usaha yang baru sudah sangat terlambat dan dia tidak memiliki waktu lagi. Maka banyak yang mengalami pengalaman putus asa. Krisis orangtua sering digambarkan bagaikan orang yang menaiki anak tangga-demi anak tangga, dan setelah sampai di pucuk tangga dia baru menyadari bahwa tangga itu menempel pada tembok yang salah. Mau turun tangga dia tidak mampu lagi.
Dalam situasi seperti ini ada dua pilihan: mengingkari  misalnya lewat sikap suka menyuruh, marah atau mencerita-ceritakan kejayaan masa lalu. Kalau sikap ini yang diambil akan tetap berujung kepada sikap putusasa yang lebih besar. Sikap kedua adalah sikap menyelami kegelisahan-kegelisahan batinnya dan mencoba mengakrapi. Dengan mengakrapi pengalaman kegelisahan dia akan semakin bersatu dengan Sang Pencipta, Sang Sangkan Paraning Dumandi (asal muasal segala sesuatu). Dengan menerima diri dan masa lalunya dia akan maju di dalam kebijaksanaan. Kebijaksanaan inilah mahkota dari hidup manusia, dan dari sini justru dia bisa memberikan sumbangsih yang besar kepada generasi berikutnya dan kesiapan untuk berpulang kepada sang Khalik.

5.     Teladan Uskup Avery Dulles

Uskup Avery Dulles dikenal tetap bahagia dan ramah di usia tua. Dia menulis catatan yang sangat indah yang saya temukan di Editorial Majalah Utusan:
“Penderitaan dan menyusutnya kekuatan bukanlah akibat dari kejahatan yang paling besar. Penderitaan dan kelemahan itu adalah bagian yang biasa dan normal dalam kehidupan, lebih-lebih bila kita sudah menjadi tua. Penderitaan dan kelemahan itu harus diterima sebagai unsur-unsur yang biasa dalam kehidupan manusia yang sepenuh-penuhnya. Ketika saya mulai lumpuh dan perlahan-lahan tidak dapat bicara lagi, saya  pun tetap dapat mengidentifikasikan diri saya dengan mereka yang lumpuh dan bisu, pribadi-pribadi yang hidup dan diceritakan di dalam Injil  itu. saya mempunyai harapan akan kehidupan kekal di dalam Kristus. Jika sekarang Tuhan memanggil saya masuk ke dalam periode saya menjadi lemah, saya sadar bahwa kekuatanNya tetap sempurna dalam kelemahan yang saya derita. Terpujilah nama Allah.”

 Salam dari Dapur Pembinaan
     RP. Petrus Suroto MSC

Tidak semua orang akan mencapai usia lanjut, seperti diungkapkan dalam kitab Mazmur "batas umur kami 70 tahun, atau 80 tahun jika kuat...." Memang berusia lanjut merupakan karunia bagi mereka yang mengalaminya. Meraka dapat melihat anak cucu, bahkan buyut mereka. Apalagi bila anak-anak, cucu-cucu dan buyut berkumpul dalam suasana akrab dan penuh kedamaian, suasana itu akan sangat dirindukan untuk diulang kembali. Usia panjang patut disyukuri, namun usia pendek pun tidak perlu disesali.
Bagi orang yang percaya kepada Allah, melalui Kristus, berusia panjang atau pendek bukanlah yang terpenting. Yang lebih penting adalah kepercayaan bahwa Allah adalah mahabaik, dan kebaikan-Nya itu diberikan kepada manusia melalui Yesus - Anak Tunggal-Nya yang hadir di tengah-tengah dunia ini. Dia mengatakan bahwa diri-Nya adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Hanya melalui Aku orang dapat sampai kepada Allah, Sang Sumber Kehidupan".  Dia menunjukkan jalan hidup yang baik dan benar itu dengan mencintai Tuhan dan sesama, seperti dia mencintai dirinya sendiri. Dia telah memberikan teladan itu melalui kehidupan, sengsara dan wafat-Nya di kayu salib.
Sesudah kebangkitan-Nya, Dia pergi ke surga untuk menyediakan tempat bagi para pengikut-Nya. Siapa pun dan di mana pun, orang-orang yang percaya diundang untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Bagi orang-orang yang percaya, surga adalah "tempat untuk menglami kebahagiaan sempurna bersama Allah dan orang-orang yang telah berjuang mengalahkan aneka macam godaan dan dosa".
Mereka yang telah mengimani Dia diundang, diteguhkan dan diberkati agar dalam kehidupannya mewujudkan / melaksanakan apa yang telah diteladankan oleh Kristus - Sang Guru. Kalau begitu, usia panjang ada bonus, sedang hidup bahagia di dunia dan di surga adalah "kerinduan hati semua orang". Bukan usia lanjut yang penting, tetapi hidup yang baik dan berbahagia di hadapan Tuhan dan sesama, itulah yang lebih penting kita usahakan setiap hari dengan bimbingan Tuhan. 

Senin, 29 April 2013

IMAM BARU

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN  

SYALOOM......
 

Sudah cukup lama saya tidak mengunjungi anda. Aneka kegiatan pelayanan di pedalaman, tidak memungkinkan saya untuk muncul di blog ini. Kali ini, dihaturkan kepada pembaca setia blog ini, cerita tentang pentahbisan imam baru di Paroki St. Theresia - Buti - Merauke. Selamat menikmati. 
 



Jakobus Java, adalah nama imam baru yang ditahbiskan itu. Dia berasal dari Keuskupan Agung Enda, dan melamar menjadi calon imam projo sekitar 7 tahun yang lalu. Dia meniti panggilannya di Keuskupan Agung Merauke, dengan menjadi guru terlebih dahulu di pulau Kimaam selama 2 tahun. Rekomendasi yang baik dari pembina di Kimaam, memungkinkan dia melangkah menjadi calon imam projo dan menjalani pastoral selama 1 tahun di paroki St. Kristoforus - Mur.
 

Setelah itu, dia mengikuti pendidikan paska sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi "Fajar Timur" - Jayapura selama 2 tahun. Sebagai persiapan tahbisan diakon, dia mendapat tugas di paroki katedral Merauke. Bulan Juli 2012, dia menerima tahbisan diakon. Masa diakonat dijalaninya di paroki Gembala Baik - Wanggate Kabupaten Mappi. Dan penantian yang lama itu, diakhirinya dengan menerima tahbisan imam, tanggal 28 April 2013 di paroki St. Theresia Buti - Merauke melalui Mgr Niko Adi MSC.
 

Misa diawali dengan perarakan oleh keluarga besar NTT. Keluarga kemudian menyerahkan sang calon kepada keluarga besar masyarakat Mappi (umat katolik yang dilayaninya) sambil berjalan menuju ke gereja,  dan seterusnya diserahkan kepada Keluarga Besar masyarakat Marind yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan tahbisan imam. Di depan gereja, wakil umat Marind menyerahkan sang calon kepada bapa uskup agar ditahbiskan menjadi imam.
 

Paduan suara “Vidi Aquam” memandu perayaan ekaristi dengan lagu pembukaan yang mengajak umat untuk bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu besar bagi sekalian orang. Rombongan misdinar, calon tertahbis, dan para imam serta uskup berarak menuju ke depan altar untuk memulai ekaristi. Jumlah umat yang hadir lebih dari 1.500 orang. Kursi-kursi yang disiapkan panitia, penuh dengan umat Allah, bahkan yang berdiri di belakang pun tidak terhitung jumlahnya.
 

Uskup memulai homilinya dengan mengutip bacaan pertama dari Kisah para rasul pasal 14: 21-27 tentang perjalanan Paulus dan Barnabas ke kota dan desa untuk mewartakan Kristus yang bangkit. Mereka menguatkan hati murid-murid, menetapkan penatua-penatua, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pisidia dan Pamfilia. Melalui mereka, Tuhan membuka pintu rahmat bagi bangsa-bangsa lain (yang belum mengenal Allah).
 

Yakobus Java, sebagai diakon, juga telah mengadakan pelayanan dari kampung ke kampung, dari desa ke desa untuk mewartrakan dan memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit. Sudah banyak hati para murid yang diteguhkan, banyak anak yang dibaptis dan menerima pemberkatan pernikahan. Melalui pelayanan itu, Tuhan membentuk dan mempersiapkan sang calon untuk lebih dekat dengan-Nya dan mengikuti-Nya secara penuh dan total. Pengalaman-pengalaman dalam pelayanan itulah yang memberanikan dia untuk mengambil motto tahbisan imam: “ Dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah”. Uskup juga menegaskan bahwa nanti sebagai imam, apa yang telah dimulai itu tidak dicabut atau dibatalkan, tetapi disempurnakan.
 

Sebelum bergabung di Keuskupan Agung Merauke (Kame), Jakobus telah mempersiapkan diri melalui pembinaan di seminari menengah, seminari tinggi dan tahun pastoral, selama 10 tahun. Persiapan di  Kame dijalaninya selama 7 tahun. Itu berarti seluruh pembinaan dijalaninya selama 17 tahun. Angka tersebut menunjukkan sebuah kurun waktu yang panjang. Dia telah ditempa oleh Allah dan umat-Nya serta para pembina agar makin siap menjadi imam-Nya. 
 

Mengapa harus calon imam dipersiapkan sungguh-sungguh ?  Para calon perlu dipersiapkan sungguh-sungguh karena dia (mereka) adalah:

1.     Asset umat, masyarakat dan pemerintah. Banyak pihak memiliki dia sebagai SDM yang handal dan terampil yang dapat turut serta dalam pembangunan dan pengembangan umat dan masyarakat setempat. Kehadiran dan peran serta para imam dalam pembangunan, terlebih di daerah-daerah terpencil sungguh amat dirasakan.

2.    Tantangan jaman makin berat dan perkembangan dunia makin cepat. Hal itu sering membuat umat dan masyarakat bingung dan tidak berdaya dalam mengikuti perkembangan yang terjadi. Masyarakat membutuh orang-orang yang berpengetahuan luas, dapat memberikan jawaban dan kepastian tentang banyak hal yang mereka alami.

3.    Utusan utama Kristus dan atas nama Dia menggembalakan umat-Nya, dalam kesatuan dengan uskup. Suara yang disampaikan para imam adalah suara Kristus yang mengajak setiap orang untuk  semakin dekat dengan Dia dan memperoleh keselamatan / kehidupan kekal. Dia mengajar umat-Nya, menguduskan mereka dan memimpin mereka menuju kepada Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.

4.    Orang yang telah dilatih untuk mampu membaca tanda-tanda jaman, merenungkannya, menterjemahkan pesan itu sesuai dengan daya nalar (pengertian) umat yang dilayaninya, serta mengambil keputusan penting agar umat makin dewasa dan berkembang dalam iman, dan mampu membangun dirinya sendiri.

5.    Orang yang atas nama umat mendoakan mereka, membawa persembahan kepada Allah, dan memohonkan rahmat bagi umat manusia. “Persembahan umat yang ia terima” disatukan dengan kurban Kristus, Sang Imam Agung, agar merupakan ucapan syukur umat atas anugerah yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Serentak melalui persembahan itu, umat memohon agar diri mereka disucikan dan diperbaharui agar makin pantas untuk menerima hidup bahagia di dunia dan kelak di surga.

6.    Uskup mengakhiri homilinya dengan mengajak umat sekalian agar mendoakan sang calon agar menjadi imam / pelayan umat yang baik. Imam yang baik akan membahagiakan umat-Nya dan menjadi “saluran berkat Allah bagi sekalian orang”.
 


Imam adalah manusia biasa, yang penuh kekurangan dan kelemahan, namun bertekad mempersembahkan dirinya bagi keselamatan banyak orang. Persembahan diri seutuhnya inilah yang telah menjadikannya “milik umat Allah”, milik masyarakat dan mitra Pemerintah. Itulah sebabnya dukungan doa yang tak henti-hentinya, dan pengorbanan dari semua pihak yang memiliki dia, patut dilakukan agar dia dapat melaksanakan apa yang telah dipilihnya itu dengan sukacita dan setia.
 
 
 

Proficiat Pastor Yakobus....... selamat melayani Tuhan sebagai imam, melalui umat yang dipercayakan kepadamu. 

Rabu, 10 April 2013

KEBOHONGAN .....................

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM......



Pada tulisan kali ini, saya sajikan renungan kecil, tentang kebaikan seorang ayah kepada anaknya. Saya yakin anda pun pernah mengalaminya. Mari kita simak isinya, dan kita dalami maknanya>


Lukas dalam Injilnya menuliskan “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?  Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya" (Luk 11: 11 -13).

Tidak sulit untuk mencerna dan memahami “maksud Yesus yang mengajar dan mengenalkan Allah sebagai Bapa yang baik kepada umat manusia”.  Dengan mengambil pengertian dan situasi nyata masyarakat pada waktu itu, cerita tersebut dituangkan, agar pendengarnya mengerti sesuai dengan bahasa, daya nalar dan pemahaman mereka. Contoh-contoh nyata yang demikian itulah yang mempermudah orang lain untuk menangkap “apa yang tidak kelihatan” melalui apa yang kelihatan dan dialami dalam hidup sehari-hari.
Pastor Novi Tuju msc, yang baru saja ditinggalkan oleh ayah tercinta, bersharing tentang “nilai kehidupan” yang dia peroleh melalui “pengalaman dibohongi oleh ayahnya”.  Bagi dia, kebohongan itu bukan “melukai dan memberikan pengaruh negatif dalam kehidupannya, namun malah dilihat sebagai rahmat. Di balik kebohongan itu, ada mutiara kehidupan yang begitu mulia. Kebohongan itu mengajarkan keutamaan-keutamaan yang dihidupi oleh ayahnya. Inilah kisah yang dia tuturkan dalam email kepada para konfrater msc:  

Sebuah kebohongan umumnya memiliki pengertian dan akibat yang negatif. Namun, saya pernah membaca sebuah kisah tentang kebohongan seorang ibu yang sungguh bermakna bagi kehidupan anaknya. Kisah senada juga saya baca saat mengenang papa yang telah mengajarkan banyak hal tentang makna kehidupan, antara lain melalui beberapa kebohongan berikut ini.
Kenangan akan pelajaran kehidupan dari papa bermula ketika saya masih berumur kira-kira 6 tahun. Ketika pulang sekolah, papa dan saya duduk bersama untuk makan siang. Dalam keterbatasan ekonomi keluarga yang pas-pasan, meskipun papa bekerja sebagai guru, saat itu hanya tertinggal sepotong ikan kecil di atas meja. Sambil mengambilkan nasi dan ikan ke piringku, papa berkata:  “makan saja, papa nda lapar..” KEBOHONGAN PAPA YANG PERTAMA, yang mengajarkan kepada saya bagaimana caranya berkorban tanpa banyak kata.
Kenangan berlanjut ketika saya hampir lulus SMP. Pada suatu kesempatan “sharing” berdua, papa menceritakan pengalamannya dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Sekitar tahun 1967, ketika papa ditempatkan di Kawatak, sebuah kampung berjarak + 5 km dari tempat tinggal kami di Noongan, papa setiap hari pulang-pergi Noongan-Kawatak berjalan kaki, tanpa tergantung pada cuaca. Hujan atau panas, papa tetap ke sekolah, walau seringkali hanya menggunakan daun pisang sebagai payung, dan tidak jarang juga papa harus mengajar di kelas dengan baju yang masih basah akibat hujan.  Dengan tingkat “perjuangan” seperti itu papa hanya mendapat  “gaji” seekor ayam dari Kepala Kampung Kawatak. Ketika saya bertanya apakah papa tidak keberatan dengan gaji seperti itu, lagi pula tidak dalam bentuk uang, papa dengan tenangnya berkata: “doi (uang) itu gampang...”. KEBOHONGAN PAPA YANG KEDUA, karena saya yakin bahwa di jaman yang susah seperti itu, papa pasti tidak gampang untuk mendapatkan uang, apalagi pekerjaan papa hanya sebagai guru saja, tidak ada pekerjaan sampingan. Kemudian saya sadar bahwa papa hendak mengajarkan bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ada banyak hal yang tidak bisa dinilai atau digantikan dengan uang, seperti pengorbanan dan kesetiaan.
Selanjutnya, ketika saya bersekolah di Seminari Menengah Kakaskasen, saya sempat bertanya kepada papa, apakah papa akan kecewa seandainya saya keluar dari Seminari. Papa, yang tidak mau membebani anaknya dengan harapan-harapannya, hanya menjawab: “Papa nda kecewa, berarti kamu memang Tuhan nda pilih.” KEBOHONGAN PAPA YANG KETIGA.
Delapan tahun yang lalu, waktu mama meninggal, saya yang bertugas di Merauke pulang ke Noongan. Waktu itu sangat nampak bahwa papa sangat sedih karena kehilangan mama. Setelah bertahun-tahun kemudian pun mata papa tetap berkaca-kaca bila ada percakapan di tengah keluarga yang menyebut-nyebut nama mama. Namun, seminggu sesudah pemakaman mama, papa berkata kepada saya: “bale jo ke Merauke, so boleh, papa kwa so nda sedih..” ( kamu sudah boleh kembali ke Merauke, sudah cukup kamu berada di sini, papa sudah tidak sedih ). KEBOHONGAN PAPA YANG KEEMPAT. Ternyata papa, yang masih sangat suka ditemani anak-anaknya (termasuk saya), di saat mama telah tiada, berusaha meminggirkan perasaan dan keinginannya. Papa seakan tidak membutuhkan kehadiran saya di saat itu, justru karena papa sangat menghargai dan mendukung panggilan yang telah saya pilih, dengan segala konsekuensinya, termasuk ketika saya harus berada di tempat yang jauh dari papa.
Beberapa waktu kemudian, setelah kembali ke Manado, saya berulang-kali sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat itu papa, yang sudah berumur kira-kira 74 tahun, rajin sekali mengunjungi saya, dan papa sangat suka berlama-lama duduk di samping tempat tidur saya.  Ketika saya minta papa untuk pulang saja ke rumah karena papa sudah kelihatan lelah, papa, yang ingin menemani dan menyemangati anaknya, selalu bilang: “tunggu sedikit lagi, papa nda lelah”. KEBOHONGAN PAPA YANG KELIMA.
Seminggu sebelum papa pergi untuk selamanya, pada hari Minggu Palma sore, saya memberikan Komuni Kudus kepada papa. Selesai berdoa, saya katakan pada papa bahwa pada hari minggu Paskah nanti saya akan datang lagi membawa Komuni untuk papa. Dengan sangat bersemangat papa menjawab: “Iya, nanti papa tunggu.” KEBOHONGAN PAPA YANG KEENAM,  karena Papa tidak menunggu saya lagi.
Enam hari setelah mengatakan kebohongan yang keenam itu kemudian papa terkasih akhirnya meninggalkan dunia ini, di saat terindah dalam rangkaian tahun liturgi Gereja: perayan Kebangkitan Tuhan. Papa memang tidak lagi menyambut Tubuh Kristus pada Hari Raya Paskah, tapi saya yakin bahwa papa justru telah merayakan Paskah Abadi bersama Kristus.
Tanpa terasa, ada butiran air yang menetes di pipi ketika saya menuliskan sharing sederhana ini, tapi jauh di lubuk hati mengalir tiada henti rasa syukur dan terima kasih tak berhingga: TUHAN, terima kasih untuk Papa yang Kau anugerahkan untukku..
Papa, terima kasih untuk kasih sayangmu..
Konfrater sekalian yang baik, terima kasih untuk semua perhatian, cinta dan doa untuk papa dan untuk saya bersama keluarga. Semoga kita tetap bergandengan tangan dalam mewartakan kebaikan dan cinta kasih Hati Kudus. Amin.

novi tuju msc

Pastor Novi, terima kasih atas “sharing tentang nilai-nilai kehidupan” yang telah diwariskan kepada mu, dan kepada kami para pembaca sharing itu. Melalui email ini, saya ucapkan selamat jalan kepada papa, dan doa kami menyertai panggilanmu. Syaloom.....

NHC MEMBAGI KEHIDUPAN

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM....

Kata "MEMBAGI" sudah sering kita dengar dan sungguh kita kenal. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, "membagi" berarti memecahkan, memisahkan, membelah sesuatu menjadi beberapa bagian. Dan kita semua mengalami bahwa apa yang telah dibagi, "sudah tidak utuh lagi"..... Pada umumnya apa yang sudah dipecahkan / dipotong-potong itu (misalnya: kue / tumpeng) dibagikan kepada rekan-rekan yang hadir pada pertemuan ( acara bersama ) itu. Kue / tumpeng itu, pindah tangan dan kemudian dinikmati, dan "menghilang" karena telah menyatu dengan tubuh rekan-rekan yang menikmatinya.

Berbeda dengan pengalaman membagi kue / benda tersebut, "membagi" hidup dan membagikan pengalaman malah memperkaya kehidupan, menambah kepekaan spiritual dan mematangkan karunia-karunia yang Tuhan berikan kepada pemiliknya. Makin banyak orang berbagi / membagi, makin banyak orang mengalami kebaikan / keutamaan yang ditimba dari pengalaman itu, namun semakin mendalam dan semakin luar biasa pula aliran sumber air yang timbul dan berkembang dalam diri pribadi yang membagikannya. 

Bila saya mengingat kembali, dan menghadirkan kembali kata-kata sebelum konsekrasi pada saat Ekaristi: Yesus mengambil roti, mengucapkan doa syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid-Nya seraya berakta "Ambillah ini dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu".  Roti yang diberikan memang akan habis, tetapi Pribadi / Sang Pemberi Roti itu, tidak pernah akan habis, namun malah "makin menumbuhkan kekaguman kepada-Nya". Siapakah aku ini, sehingga Dia (Tuhan Yesus) mau memberikan Diri-Nya bagiku ? 


Demikian pula, rekan-rekan yang telah menulis di media apa pun, saya alami sebagai berkat Allah melalui diri mereka yang telah "membagikan bagian hidupnya / miliknya" kepada saya dan banyak orang lain yang membaca tulisan itu. Melalui media, ini Shirley Mohidi, membagikan pengalamannya selama 5 tahun mendampingi dan membina "New Heart Community" . Mari kita simak tulisan itu, dan kita ambil maknanya. 


 New Heart Community

Dasar dari sebuah relasi yang indah adalah “PERSAHABATAN”  itulah misi yang kami bawa dan sebarkan kepada sahabat-sahabat dewasa muda yang masih lajang,  di dalam komunitas New Heart Community. 
                                                           (Shirley: paling kiri sedang mengangkat tangan )

 

Saya (Shirley) dan suami saya (Petrus) sudah mendampingi komunitas New Heart Community (NHC = Komunitas Hati yang Baru) ini selama 5 (lima) tahun lebih. Lahirnya NHC, bermula dari keprihatinan kami berdua terhadap sahabat-sahabat kami yang masih tetap melajang walaupun usianya sudah melebihi kepala “3”. Mereka  tidak mempunyai arah hidup yang jelas dan seringkali mereka bergumul dengan kesendirian dan kesepian mereka, barangkali sambil menyalahkan Tuhan untuk kondisi yang mereka alami. Padahal mereka mempunyai potensi yang luar biasa besarnya dan bisa menjadi berkat bagi banyak orang apabila mereka diarahkan dan disadarkan untuk menerima diri dan kondisi mereka apa adanya.

 

Kemudian weekend NHC angkatan pertama pun digulirkan pada awal bulan Desember 2007 dengan didampingi Pastor Edu Besembun, MSC , Sr. Vivien; dan 3 orang pasutri termasuk kami berdua sebagai team pendamping. Dalam weekend ini para peserta diajak untuk ber”refleksi “ dan bercermin dari sharing-sharing yang dibawakan team.  Kami para team juga berupaya  membangkitkan kesadaran diri mereka untuk menghargai dan mensyukuri  hidup dan dirinya sebagai anugerah Allah yang indah.  Mereka didorong untuk  menyadari bahwa sebagai lajang mereka tidak perlu kuatir dengan masa depan mereka.  Bahwa Tuhan pasti punya rencana indah terhadap mereka sehingga mereka harus dapat menjalani kehidupan ini dengan menjadi diri mereka sendiri  apa adanya serta bersahabat dengan sebanyak mungkin orang.

 

Demikianlah NHC ini memulai keberadaannya dan waktu terus bergulir . Tidak terasa kami telah melayani dan mendampingi mereka hingga lima tahun lebih. Sampai saat ini sudah 12 angkatan. Angkatan yang terakhir ini baru saja selesai menjalani weekend (retret) mereka  tanggal 22 – 24 Maret 2013 di Wisma Puspanita, Ciawi, Bogor. Dalam perjalanan ini telah banyak suka maupun duka yang kami alami bersama, tetapi apabila kami ingat-ingat lebih banyak suka yang kami alami bersama dengan mereka daripada dukanya.   

Yang pasti kami selalu merasa awet muda....^_^.  Kami tidak ingat lagi sudah berapa bakti sosial (baksos), outbound, seminar/rekoleksi  dan gathering yang mereka organisir. Juga ada banyak keikutsertaan kami di acara kerja bareng (kepanitiaan) bersama dengan teman-teman komunitas muda lainnya di Jakarta dengan membawa bendera NHC maupun pribadi. Semuanya itu terasa indah dan persahabatanlah yang menjadi kekuatan mereka untuk terus berkarya. Saat ini komunitas NHC merupakan salah satu komunitas muda awam yang berada di bawah pendampingan Tarekat MSC provinsi Indonesia. 

Rencana Tuhan memang begitu indah. Kami yang bukan siapa-siapa dipakai sebagai alat-Nya untuk mendampingi sahabat-sahabat muda lajang. Semua ini merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi kami untuk bisa menularkan kebahagiaan bagi mereka pula.  Alangkah senangnya melihat mereka menatap kehidupan dengan lebih optimis dan senyum yang makin cerah. Ini terjadi karena mereka selalu tahu bahwa mereka mempunyai sahabat-sahabat yang akan “menerima” mereka sebagaimana diri mereka apa adanya, yang akan “menghargai” mereka apapun adanya serta “mencintai” mereka tanpa syarat. 
 


Terima kasih kepada sahabat kami Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC yang sudah mengijinkan kami untuk menulis dan berbagi dalam blog beliau mengenai apa itu NHC. Kami pun tidak akan pernah lupa saat pertama kali berkenalan dan bertemu dengan beliau di dalam salah satu kegiatan NHC. Waktu itu, kami berangkat sebagai kontingen kaum muda MSC ke pertemuan Kaum Muda Sedunia (World Youth Day) tahun 2008 di Sydney, Australia. Beliau sebagai salah satu anggota kontingen NHC. Persahabatan kami dengan beliau pun terjalin sejak saat itu sampai dengan sekarang walaupun terpisah ribuan kilometer jauhnya...God is so amazing!

Salam Hangat,
Shirley & Petrus Maringka


Proficiat kepada Shirley, Petrus dan Tim NHC yang tetap bersemangat dalam mendam;pingi dan membina para lajang sehingga mereka tetap optimis dalam mengisi hidup dan menatap masa depan mereka.  Selamat membagi kasih Tuhan.