Sabtu, 18 Oktober 2014

MUSYAWARAH PASTORAL TAHUN 2014

PEMBACA YANG BUDIMAN

Musyawarah Pastoral (muspas) Keuskupan tahun 2014, berlangsung tanggal 12 sore hingga tanggal 17 November 2014.  Semua berjalan dengan baik dan lancar, karena kasih Tuhan, kerja keras Panitia dan tentu saja partisipasi seluruh peserta.  Inilah sambutan saya, ketika membuka muspas itu.



SAMBUTAN USKUP PADA MUSPAS 2014


Bapak Bupati
Para Kepala Dinas
Para Undangan / utusan dari Instansi Mitra kerje Keuskupan
Para pastor, Bruder, Suster, Petugas Gereja

Syaloom

Selamat Datang pada Pembukaan Musyawarah Pastoral (muspas) Keuskupan Agung Merauke, yang dilaksanakan tanggal 13 – 18 Oktober 2014. Musyawarah Pastoral Keuskupan adalah Rapat Tahunan para petugas pastoral paroki, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam pelayanan pastoral di Paroki. Pada tahun-tahun sebelumnya, para peserta muspas adalah uskup dan perangkatnya (vikjen sekretaris dan ketua-ketua komisi), para pastor, petugas gereja, perwakilan paroki-paroki, dan ketua-ketua komisi keuskupan, serta perwakilan tarekat-tarekat yang berkerja di keuskupan. Mulai tahun 2014, para peserta muspas adalah uskup dan perangkatnya, para pastor dan para petugas gereja yang diangkat sebagai administrator paroki serta petugas gereja yg melaksanakan tugas pastoral paroki.

Fokus perhatian dan sekaligus menjadi tema dari muspas tahun ini adalah “KELUARGA SEBAGAI INTI KOMUNITAS BASIS GEREJANI”. Melalui tema ini, keuskupan hendak menggali kekayaan dasar dari keluarga-keluarga kristiani, yang merupakan persekutuan hati, pikiran, jiwa dan raga antara bapak, ibu dan anak-anak seumur hidup dalam iman akan Kristus untuk mencapai kebahagiaan hidup. Kekayaan dasar yang ditemukan itu, hendak disadari, diakui, dihidupi dan dikembangkan dalam komunitas-komunitas basis, agar kebahagiaan yang dicita-citakan oleh masing-masing anggota keluarga diteguhkan dan dengan demikian dapat tercapai dengan lebih sempurna.

SITUASI MASA KINI
Di dalam dunia dan masyarakat yang sudah sedemikian maju dan berkembang di belahan dunia yang satu, masih ada banyak negara dan masyarakat yang dengan susah payah mengikuti perkembangan itu. Namun, negara dan masyarakat ini seakan-akan dituntut untuk mengikuti semua perkembangan itu, segera. Maka, terjadilah gejolak dan kepincangan serta penyelewengan yang dirasakan di mana-mana.
Dalam suratnya, yang diterjemahkan ke dalam 8 bahasa termasuk Arab, Jerman dan Polandia, Paus Fransiskus memperingatkan bahwa “Gereja dipanggil untuk mewartakan Injil dengan menghadapi kebutuhan pastoral yang baru dan mendesak yang dihadapi keluarga.”
Beliau menjelaskan sinode tentang keluarga tahun 2014 ini merupakan “pertemuan penting” yang “akan melibatkan semua Umat Allah – uskup, imam, religius pria dan wanita, serta umat awam dari Gereja-gereja partikular di seluruh dunia – yang semuanya aktif berpartisipasi dalam persiapan untuk pertemuan melalui saran-saran praktis dan dukungan doa.” Paus meminta keluarga-keluarga berdoa untuk pertemuan di Vatikan tersebut, yang menekankan panggilan dan misi Gereja dalam masyarakat Anda, tantangan pernikahan, kehidupan keluarga, pendidikan anak-anak, dan peran keluarga dalam kehidupan Gereja.”
TANGGUNG JAWAB SEJARAH:
Seratus sepuluh tahun yang lalu, Gereja hadir untuk membantu sesama manusia yang mau berkembang sebagai manusia yang bermartabat. Misi ini tetap diemban hingga saat ini oleh kita semua orang melalui pembinaan keluarga, pembinaan kaum muda dan anak-anak. Tanggung jawab ini melekat pada kita sekalian, dan menjadi pertimbangan penting bagi pelayanan dan pengembangan umat Allah pada masa kini dan masa mendatang. Itulah sebabnya, kita sekalian berkumpul agar dapat terbantu dalam membaca tanda-tanda jaman, kebutuhan-kebutuhan umat pada sekarang, dan menentukan tindakan kongkrit yang sesuai dengan harapan mereka.
HAL-HAL YANG PERLU DICERMATI:
Pada dawasa ini, realita realita perkembangan ilmu dan teknologi, pertemuan banyak budaya, pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, masuknya alat-alat transportasi dan alat-alat berat, banjirnya barang-barang kebutuhan hidup, dialami oleh masyarakat di seluruh dunia. Kita patut bersyukur bahwa kita bisa juga menikmati kemajuan-kemajuan itu. Banyak hal dan pekerjaan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan. Kita patut juga berterima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan semuanya ini ada di kota Merauke dan di pedalaman-pedalaman.
Di sisi lain, lain kita mengalami pula hal-hal ini:
  1. Keberagaman budaya yang bisa mengakibatkan orang kehilangan budayanya sendiri
  2. Lemahnya SDM dalam bidang pendidikan, keahlian, dan menejemen
  3. Cepatnya perubahan / pembangunan sedangkan masyarakat lokal tidak / belum siap
  4. Infrastruktur tidak ada / terbatas sehingga banyak hal menjadi terhambat dan terlambat
  5. Kurang / tidak ada pembina umat dan masyarakat yang purna waktu atau paruh waktu
  6. penyalah gunaan narkoba
  7. Penyakit-penyakit baru: AIDS, Ebola, Virus Arab Saudi
  8. Rusak / hilangnya lingkungan hidup
  9. Perkawinan campur
  10. Jumlah kaum penganggur yang begitu besar
  11. Banyak sekali anak-anak jalanan korban aibon, dan obat-obat perangsang lainnya


PESAN PAUS FRANSISKUS PADA SINODE TENTANG KELUARGA
Paus Fransiskus membuka Sinode para uskup dari seluruh dunia pada Minggu (5/10) di Vatikan - dengan mengingatkan tentang “gembala yang buruk” yang terlalu membebani umat beriman. Paus Fransiskus berbicara dalam homili pada Misa pembukaan Sinode di Basilika Santo Petrus yang berfokus pada perjuangan kehidupan keluarga modern. Mengacu pada bacaan Misa untuk hari itu dan peringatan Nabi Yehezkiel tentang gembala yang memikirkan diri mereka sendiri, bukan domba mereka, Paus mengatakan sejumlah gembala juga tergoda oleh “keserakahan demi uang dan kekuasaan.”
Untuk memenuhi keserakahan ini “gembala yang buruk” meletakan beban yang berat di pundak orang lain, yang mereka sendiri menolak,” kata Paus Fransiskus. Paus juga menjelaskan tentang tujuan Sinode itu diadakan. “Sinode ini tidak dimaksudkan untuk membahas ide-ide yang indah dan cerdas, atau melihat siapa yang lebih cerdas,” kata Paus Fransiskus. Menurutnya, “Sinode ini dimaksudkan untuk memelihara kebun anggur Tuhan dengan lebih baik, membantu mewujudkan mimpi-Nya, rencana-Nya, mencintai umat-Nya.”
ARTI KELUARGA
Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")[1]adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.[1]
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.[1]
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.[2]
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.[3]
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
Keluarga-keluarga katolik dibentuk atau lahir melalui perkawinan katolik. Sudah berabad-abad lamanya diajarkan dan diterima dengan hati damai bahwa perkawinan katolik itu bersifat monogam, tidak dapat diceraikan dan sakramental. Saudara-saudara kita yang non katolik pun telah memahami dan menerima serta memperjuangkan supaya perkawinan itu monogam dan tidak diceraikan. Mengapa perkawinan itu dikehendaki dan diperjuangkan tetap monogam dan tak terceraikan ?

Ada 5 nilai yang sekaligus merupakan tujuan yang dikehendaki, diperjuangkan dan dihidupi oleh pasangan suami istri, dan keluarga-keluarga:
  -   Kebahagiaan dan kesejahteraan hidup pasangan suami istri  
  -  Kebahagiaan dan kesejahteraan bapak, ibu dan anak-anak
  -  Persekutuan dan kerukunan hidup keluarga bersama dengan para tetangga dan masyarakat sekitarnya 
  -  Kedamaian hidup sebagai orang beriman dalam melaksanakan perutusannya
  -  Damai dan sejahtera dalam hidup di alam dan lingkungan hidup yang terpelihara, bersih dari limbah, indah dan penuh dengan pelbagai makhluk hayati.

 
Marilah kita hadir dan aktif berpartisipasi dalam muspas ini. Kita berdoa agar semua yang kita bahas mengenai keluarga dan permasalahannya, dan langkah-langkah yang akan kita ambil merupakan tanda rahmat yang besar bagi umat di seluruh keuskupan.
Merauke, 12 Oktober 2014


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

Jumat, 03 Oktober 2014

22 WARGA KAMBODIA KORBAN PERDAGANGAN MANUSIA


“Selamat malam, bapa uskup. Maaf saya mengganggu. Saya mau melaporkan bahwa saya sedang menangani orang-orang Kambodia yang melarikan diri dari kapal ikan. Mereka masih di pelabuhan”. Demikian informasi pada malam itu, Selasa 30 September 2014 kepada saya. Waktu sudah menunjukkan jam 22.30. Sesudah mendapat informasi itu, saya segera menuju ke kantor Sekretariat Keadilan dan Perdamaian untuk mengetahui secara langsung keadaan orang-orang Kambodia itu. Menurut laporan malam itu, mereka adalah para nelayan yang bekerja di kapal Thailand. Akibat perlakuan yang tidak manusiawi, dan mereka sudah berbulan-bulan lamanya tidak digaji, akhirnya ketika di Merauke, mereka nekad lari dan mencari perlindungan.

Sekretariat kami pada siang itu mendapatkan telepon dari Lembaga IOM ( International Organization for Migration), kemudian segera melakukan pencarian atas para nelayan yang lari tersebut. Menurut informasi, salah seorang dari mereka menelpon keluarganya di Kambodia. Lalu keluarganya melaporkan hal itu kepada IOM di negara mereka. Laporan itu ditindaklanjuti oleh IOM Kambodia untuk meminta bantuan IOM Indonesia di Jakarta. Demikianlah, mereka yang terlantar itu dapat segera mendapatkan pertolongan.

Malam itu, saya mengontak Bp. Van Vithyea (sekretaris kedua) Kedubes Kambodia di Jakarta. Saya mengabarkan bahwa di Merauke ada para nelayan Kambodia yang terlantar. Mereka melarikan diri dari kapal Thailand, karena perlakuan tidak manusiawi selama mereka bekerja di kapal itu. Jumlah mereka 25 orang, dan kini kami tolong. Mereka menginap di tempat kami. Pihak kedubes yang dihubungi menegaskan bahwa dalam waktu dekat mereka akan mengirim utusan ke Merauke. Atas nama pemerintah Kambodia, beliau mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada warga negara mereka.

Hari ini, kamis 3 September 2014 bapak Vithyea telah tiba di Merauke, didampingi oleh bapak Hendra. Beliau telah bertemu dengan para nelayan itu, dan memberikan kesaksian bahwa mereka benar-benar warga negara Kambodia. Ada di antara mereka yang telah bekerja 1,5 tahun di kapal itu namun tidak mendapatkan gaji yang sesungguhnya. Pada awalnya mereka dijanjikan akan mendapatkan gaji yang tinggi. Namun, ketika sudah mulai bekerja, surat-surat dan passport mereka ditahan. Di buku perjalanan kapal, mereka disebutkan sebagai warga negara Thailand. Identitas mereka disembunyikan. Gaji tidak pernah diberikan, dan mereka hanya mendapatkan makan serta uang seadanya.

Jumlah mereka ternyata hanya 22 orang. Dari jumlah itu, 2 orang kemudian berhasil dibujuk oleh bos kapal KUMANA I sehingga kembali ke kapal, sedangkan 20 orang tetap bertahan untuk tidak kembali karena mereka takut akan nasib mereka, ketika dalam perjalanan pulang ke negara mereka bila tetap ikut bos kapal itu. Mereka telah trauma akan perlakuan tidak manusiawi yang telah mereka alami. Mereka memutuskan untuk ikut petunjuk pihak kedubes, bahwa mereka akan dipulangkan oleh pihak kedubes, setelah urusan dengan pihak imigrasi dan kepolisian Merauke sudah selesai.

Saya telah menyampaikan informasi via telepon kepada bapak Sekretaris Daerah Kab. Merauke atas situasi dan penanganan kepada para nelayan itu. Pihak Sekretariat Keadilan dan Perdamaian juga telah memberikan informasi kepada pihak kepolisian. Sedangkan informasi lebih lanjut secara tertulis akan disampaikan pada hari Senin.  Bapak Vithyea juga mewawancari mereka satu per satu, agar menjadi jelas siapa dan bagaimana pengalaman mereka selama bekerja di kapal, dan tentu hal-hal penting lain sehubungan dengan kepulangan mereka. 

Para nelayan itu adalah korban dari tindakan “perdagangan manusia”. Mereka benar-benar tidak berdaya ketika berada di kapal asing, dan berada di laut atau di tempat yang tidak mereka kenal. Syukurlah ada alat komunikasi yang memungkinkan mereka untuk mengontak keluarga mereka. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang menyimpan nomor-nomor telepon penting, sehingga mereka masih bisa ditolong. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang tahu bahasa Indonesia sepotong-sepotong.

Yang lebih membanggakan bahwa di negara mana pun, tetap ada orang baik dan ada lembaga kemanusiaan yang rela menolong para korban dengan rela hati. Syukurlah bahwa secara internasional telah ada lembaga yang melindungi dan memperjuangkan kebebasan para korban “kejahatan kemanusiaan yang terselubung ini”. Kejahatan kemanusiaan dapat mengancam siapa saja dan kapan saja. Lebih-lebih orang-orang yang sederhana dan belum kenal “mulut manis tetapi sesungguhnya srigala berbulu domba”, atau orang-orang yang tergiur oleh iming-iming gaji yang besar, akan dengan mudah menjadi korban tindakan kejahatan ini.

Menolong para korban memang penting, namun memberikan informasi akan bahaya yang mengancam kemanusiaan kepada masyarakat amatlah penting, agar korban-korban yang baru akan dapat dikurangi atau dihindarkan. Sekarang ini mereka yang menjadi korban, moga-moga bukan anda atau keluarga anda yang akan menjadi korban selanjutnya. Menjual manusia memang menggiurkan karena mendapatkan uang banyak....namun itu melawan hati nurani. Menurut bahasa orang beriman, tindakan itu adalah dosa.

KUNJUNGAN KE MINDIPTANA


Hari Jumat, tanggal 1 Agustus 2014, sesudah misa dan sarapan, kami bertolak dari Asiki ke Mindiptana. Yang bersama saya adalah Tino, Fr. Diakon Ave, dan sopir (bapak Adri). Kami melalui perkebunan sawit milik PT Korindo, dengan rute yang baru sehingga lebih cepat di jalan poros Merauke – Tanah Merah. Perjalanan ke Tanah Merah ditempuh dalam waktu 1, 5 jam karena ada beberapa ruas jalan yang agak rusak.

Pastor Jhems Kumolontang MSC (pastor paroki Tanah Merah) menyembut kedatangan kami dengan sukacita. Kami bersama-sama minum teh dengan hidangan yang sudah disiapkan, yaitu pisang goreng dan ubi. Suasana persaudaraan yang baik itu kami rasakan, sehingga pisang dan ubi goreng yang sebenarnya makanan biasa, rasanya tambah enak. Tino yang baru pertama kali merasakan suasana keakraban yang demikian itu, merasakan “kesejukan” setelah sekian lama “tidak mengalami suasana relasi personal itu”. Dia mengaku cepat kerasan di tempat tugas yang baru, meski baru 3 hari berada di tempat itu.

Sesudah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Mindiptana. Jarak antara Tanah Merah – Mindiptana adalah 70 km. Perjalanan cukup lama, karena banyak ruas jalan yang rusak akibat curah hujan yang telah mengguyur daerah itu selama beberapa minggu terakhir. Kebetulan, ketika sudah mendekati Mindiptana ada truk yang sarat dengan muatan, terjebak di lumpur dan pas berada di jembatan darurat sehingga kami harus menunggu kira-kira 30 menit. Syukurlah truk itu dengan ditarik oleh truk besar bisa keluar dari kubangan itu, sehingga kami dapat dengan leluasa melalui tempat itu. Hampir jam 5 sore kami tiba di Mindipatana dan disambut oleh Pater Jan Sareta dan para suster PRR.

Hari minggu sesudah misa, kami beranjang sana ke Waropko. Jaraknya kira-kira 35 km. Ternyata cuaca amat mendukung. Kami bisa mencapai tempat itu, meski dengan agak susah payah karena jalan agak becek, ketika sudah mendekati pusat paroki Waropko. Syukurlah ada beberapa umat yang rela mendorong mobil kami yang terjebak di lumpur sehingga perjalanan pergi pulang cukup lancar. Di mana-mana selalu saya temukan orang-orang baik dan murah hati.

Selama beberapa hari kami berada di Mindiptana, ternyata cuaca cukup cerah. Hujan tidak turun, bahkan matahari bersinar sehingga kami bisa berkunjung ke paroki Mokbiran ( 25 km dari Mindiptana ). Di sana umat dengan sukacita menyambut uskup dan rombongan. Mereka menyambut uskup dengan tarian adat, dan mengantar ke balai pertemuan. Di sana sudah ada suguhan / hidangan yang mengagumkan: nagasari, kue / roti panggang, pisang rebus dll. Wah, ternyata masyarakat kita meski hidup di pedalaman sudah mengenal hidangan yang sehat. Mereka juga menyediakan air minum kemasan: aqua botol. Luar biasa sambutan mereka.

Sudah beberapa kali dalam kunjungan kerja ke Mindiptana ( 500 km dari Merauke) dan kampung-kampung sekitarnya, meski pun saat itu adalah musim hujan, tokh hujan tidak turun selama beberapa hari. Kalau pun turun hujan, itu terjadi pada malam hari sehingga tidak menghalangi perjalanan. Pernah beberapa kali turun gerimis, namun saya katakan itu hujan berkat. Pelayanan krisma dan kunjungan selalu berjalan lancar dan semua terlayani sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. Ketika semua kegiatan sudah berlangsung dan saya meninggalkan Mindiptana, hujan kembali turun dan mengguyur wilayah itu. Itulah sebabnya, mereka memberikan kesaksian “setiap kali bapa uskup hadir di Minditapa, kami mengalami berkat Tuhan yang begitu melimpah”. Semua bisa terlaksana dan tidak ada halangan apa-apa.

Saya datang ke Mindiptana memang bukan untuk jalan-jalan tetapi untuk pelayanan kepada umat Allah. Itulah sebabnya Dia yang mengutus saya memberikan perlindungan dan bukti kasih-Nya kepada mereka yang akan dilayani-Nya. Saya hanyalah alat di tangan-Nya. Dia yang memberkati dan menyapa umat-Nya. 

Rabu, 01 Oktober 2014

EKARISTI DI PAROKI ASIKI


PEMBACA YANG BUDIMAN.....

Saya sajikan oleh-oleh perjalanan saya, beberapa waktu yang lalu. Selamat menikmati. 


Tanggal 31 Juli 2014, sesudah makan sekitar jam 9 pagi, kami berempat dengan menumpang mobil Toyota Hilux berangkat menuju ke Asiki. Kami singgah di Erambu. Di sana kami bergtemu dengan pastor John Kota Sando dan frater Maxi, serta beberapa ibu dan anak muda. Mereka sedang asik membuat ikan asin. Ikan jenis gabuslah yang amat banyak di daerah itu, dan kini menjadi favorit untuk dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya. Kami membeli 30 kg ikan asin gabus yang sudah kering untuk oleh-oleh bagi rekan-rekan di Tanah Merah dan di Mindiptana.

Perjalanan amat lancar dan cuaca amat cerah. Kami singgah di Muting III untuk makan siang. Di wilayah itu, ada banyak warung makan. Kami mengambil makanan sendiri-sendiri sesuai dengan selera kami masing-masing. Apa yang kami makan itulah yang kami bayar. Nasi putih berapa pun banyaknya tetap dihitung 1 porsi. Kami tambah nasi pun tidak dipungut biaya lagi. Rata-rata untuk 1 kali makan, kami membayar Rp 20.000 – Rp. 25.000 per orang. Kebanyakan yang punya warung makan adalah orang-orang dari Jawa Tengah yang dulu ikut program transmigrasi.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Jarak dari Merauke ke Muting III sekitar 250 km, dari dari Muting III ke Asiki sekitar 100 km. Total perjalanan kami hari itu 350 km. Kami tiba di Asiki jam 3 sore. Itu berarti perjalanan kami membutuhkan waktu 6 jam. Apabila musim hujan dan jalan berlumpur perjalanan yang sama, membutuhkan waktu 10 – 14 jam. Ketika kami tiba di Asikin, kami diterima oleh Bruder Purwanto MSC dan pastor Jay Luly MSC, dan beberapa anggota dewan paroki. Mereka sudah mendapat informasi tentang kedatangan kami.

Para suster PRR dan komunitas MSC Asiki merencanakan sore itu ada ekaristi yang dipimpin Uskup khusus untuk komunitas dan dewan paroki. Namun, ketika mereka mendengar bahwa ada ekaristi pada sore itu, mereka pun dengan sukacita menggabungkan diri. Maka, perayaan ekaristi yang sedianya diadakan di kapel susteran, berubah total. Altar dipindahkan keluar kapel, dan letaknya di samping pintu utama sedangkan umat Allah duduk di kursi yang diatur secara mendadak di halaman susteran. Lebih dari 100 umat yang turut merayakan ekaristi pada sore itu. Mereka ternyata rindu misa bersama bapa uskup.

Sesudah misa ada makan bersama. Semua yang hadir dalam perayaan ekaristi juga diundang dalam perjamuan bersama. Makanan yang disiapkan ternyata lebih dari cukup. Kami semua menikmatinya dengan penuh sukacita. Santapan rohani dan jasmani menambah keakraban dan kegembiraan kami semua. Perjalanan panjang yang sesungguhnya melelahkan berubah menjadi kesegaran bagi saya. Kehadiran dan antusiasme umat menjadi “obat penyegar” dan pemulih kelelahan fisik. Saya yakin mereka pun mengalami hal yang sama. Meski harus datang dari tempat-tempat yang agak jauh, ekaristi dan kebersamaan telah memberikan “vitamin” yang menguatkan mereka dalam karya dan hidup sehari-hari.

Perjumpaan dengan sesama umat Allah, kebersamaan dalam semangat dan keimanan, yang diikat oleh Sabda Allah dan sakramen, telah memberikan kepuasan dan penyegaran atas dahaga akan rahmat dan kasih Allah. Pertemuan itu bukan hanya pribadi dan pribadi pada tataran manusiawi saja, tetapi juga pertemuan pribadi dengan Pribadi Allah sendiri. Allah dan manusia bertemu, dalam perjamuan yang diselenggarakan oleh manusia, namun yang “diangkat oleh Allah” menjadi perjamuan surgawi. Manusia menjadi jembatan / saluran bagi Allah untuk menjumpai umat-Nya. 

Sabtu, 13 September 2014

OLEH-OLEH ROHANI DARI CUBA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Ketika saya membaca sharing yang panjang ini, saya tergerak hati untuk meneruskannya kepada anda. Siapa tahu anda dapat mendapatkan inspirasi atau butir-butir mutiara di dalamnya. Mengapa saya tampilkan ?  Harapan saya, anda mendapatkan "getaran perjuangan" dan semangat bertahan dalam kesulitan ketika menghadapi pelbagai rintangan dan ketidakmungkinan.   Yang mencengangkan adalah adanya keberanian untuk "melihat apa-apa yang baik di tengah keadaan yang dirasakan tidak baik atau tidak nyaman.  Selamat manikmati.

Dear all, sharing P. Hengky Ponamon msc ini cukup panjang. Beberapa orang di facebook sudah membacanya dan memberikan komentar dengan memberikan peneguhan supaya P. Hengky kuat dan sabar menghadapi penderitaan itu. Rupanya P. Viktor lebih stress lagi karena kesulitan komunikasi baik bahasa Inggris maupun Spanyol.
Tulisan Hengky ini di kemudian hari bisa menjadi catatan sejarah masuknya MSC Indonesia di Kuba. Isinya bermacam-macam tergantung tema apa yang muncul di kepala Hengky, namun pengamatannya terhadap sistem komunis dan masyarakat Kuba membuat kita sadar betapa penting Ensiklik Rerum Novarum dari Leo XIII yang mengutuk komunisme dan kapitalisme; dan menekankan pentingnya milik pribadi karena hal itu menjadi jaminan kebebasan setiap orang. Milik pribadi yang bersifat sosial, bukan kapitalisme murni: elu mati, gue hidup. Sepertinya tidak ada jalan lain bagi masyarakat Kuba kecuali menggulingkan Fidel Castro dan Raul Castro dan anak-anak mereka dan antek-antek mereka. Tetapi siapa bisa? Apakah para uskup tidak bisa intervensi supaya secara sosial ada terobosan? Biarpun politik masih komunis, tapi ekonomi dibuka untuk usaha pribadi rakyat, seperti sudah terjadi di Russia; dan juga yang berlaku di Cina dengan sangat baik.

Kita doakan semoga Br. Marcelino Lilo MSC, yang sedang mempersiapkan diri untuk berangkan ke Kuba, mempunyai kesiapan mental dan fisik yang baik. Semoga umat dan Konfrater di Jakarta yang membaca sharing Hengky ini berusaha untuk membantu mereka supaya tidak lapar dan tidak sakit. Kalau mereka jatuh sakit bagaimana ya? Syukurlah mereka masih muda sehingga fisik masih kuat. Semoga mereka tetap sehat, biarpun serba susah. (sujoko)
Hengki Ponamon

Andai vampir saya sudah terbang mencari mangsa di sekitar kota Guantanamo ini, biar mungkin darah orang Kuba tidak begitu enak karena kurang gizi dan banyak stres hingga hampir putus asa karena terlalu lama menanti perubahan dan perbaikan hidup yang tak kunjung datang lalu jadi masa bodoh. Kurang makan, kenyataan umum harian khas Kuba, juga saya dan Vik alami setiap hari. Hidangan sederhana di refter - secangkir susu kopi, kalau tuang dari teko dan termos kecil harus sangat hati-hati karena harus ingat berbagi dengan penghuni Curato lain, serta sedikit roti kering atau biskuit asin waktu sarapan hingga gas keluar baru sesudah makan siang yang cukup sering lumayan menyenangkan, dan makan malam seadanya yang menyisakan malam penuh tanda tanya - , membuatku menggambarkan hari-hari awal di Kuba ini seperti sebuah puasa tanpa pura-pura lapar pada sebuah retret di tengah luasnya ladang tebu yang kendati tidak begitu subur berjuang memberi manis bagi hidup penuh air mata bangsa ini, dan lagi membuatku ingat betapa mewah makan pagi di Rumah Induk Jakarta; bisa minum kopi secangkir besar, di sini kopi cuma beberapa sendok makan, syukur di sini biar sedikit kopi sangat enak karena dimasak langsung di api. 
 
Barang-barang kebutuhan hidup terutama bahan makanan susah didapat dan mahal. Semua tanah milik negara dan ditanami tebu, rakyat praktis tidak bebas mengolah tanah. Sayur dan buah dijual penduduk dalam skala kecil dan mahal sehingga masakan kurang bumbu. Bumbu utama makanan Kuba hanya dua, gula dan garam. Jangankan buah kiwi dan naga, apel, pir dan jeruk saja, bahkan semangka adalah kemewahan impian; di toko-toko tidak dijual, alias tidak adaaaaaa... Sengaja saya ketik dengan a panjang untuk memberi tekanan istimewa. Roberto Dosen Inggris Universitas Guantanamo cerita dengan bangga bahwa suatu kali dari suatu pertemuan internasional di Meksiko ia pernah lolos membawa hadiah untuk keluarganya beberapa apel di kopernya. 
 
Di pastoran Jamaika selesai misa hari minggu kemarin, ketika saya tanya 2 ibu apakah ada umat yang tanam wortel di sini, muka dan mata mereka menatap diam penuh arti; kalau orang Manado mungkin mereka akan berkata, “pastor ini, so tau-tau nda ada kwa, so tau-tau ini negara komunis, nda ada kebebasan, mo tanya-tanya lei; cuma beking saki hati jo.” Seperti baru hari itu lagi mereka dengar kata itu; seperti baru sadar ada kata itu kote’ dalam bahasa Spanyol. Rafael Konfrater Dominika langsung mengisi kekosongan itu: sejak diakon dan sekarang beberapa bulan sebagai neomis baru sekali dia bisa beli wortel di Copi, kata khas Kuba yang dapat diduga berasal dari kata Inggris shop, yaitu toko yang melayani transaksi dalam Cabito, lagi-lagi kata Kuba yang tidak ada di kamus Spanyol standar, yaitu Cuc atau Dollar Kuba, karena kebetulan dia cukup rajin keliling toko-toko yang semuanya adalah milik negara. Peso Kuba disebut sebagai Moneda Nacional dan diucap menurut ejaan Spanyol eme ene (MN), dilambangkan dengan huruf S dengan satu garis seperti simbol umum dollar $, sedangkan Cuc yang bernilai lebih tinggi, sehari-hari disebut Cabito ditulis dua garis pada huruf S. Itu berarti wortel adalah barang impor yang terlalu mahal untuk warga biasa. Bayangkan berapa lama tunggu tebu dipanen, dan berapa harga jualnya untuk beli bahan makanan orang Kuba. Di Curato, lewat pasar gelap, kami bisa makan daging beku ayam Brazil, ham dan hotdog Kanada, beras Brazil. Minyak untuk PLN Kuba berasal dari Venezuela. Sudah hasil alam terbatas, rakyat tidak diberi kebebasan berusaha sendiri. 
 
Selama beberapa hari di Makabis saya cuma lihat sebuah sampan nelayan yang memancing ikan di tengah malam tanpa lampu, sebuah perahu fiber-glass dengan mesin ketinting dan sebuah kapal barang kecil, lebih kecil dari kapal-kapal perintis di Maluku. Komunisme sosialisme menciptakan negara yang totaliter. Semua perusahaan begitu juga tanah, adalah milik negara, dirampas dari warga Kuba dan warga, perusahaan serta lembaga-lembaga asing - termasuk tarekat-tarekat religius Gereja Katolik, misalnya para Bruder De La Salle yang di Guantanamo ini dulu ternyata mempunyai sekolah hebat selama hampir seratus tahun sampai tiba masa kelam ini - , menjadi milik negara, beberapa dibentuk kemudian oleh negara sehingga yang punya mobil lumayan bagus dan baru di sini pasti hanya (perusahaan) negara. Tidak ada yang namanya hak milik pribadi, di Cina bahkan kandungan perempuan adalah milik pemerintah, Korea Utara jauh lebih buruk lagi. 
 
Orang dipaksa hidup sama rata, tidak boleh ada yang kaya, tidak boleh ada yang lebih kaya dari yang lain. Kapitalisme sudah cukup gila, komunisme jauh lebih gila lagi. Kuba mungkin lumayan bagus karena fundamen bangsa ini adalah iman Katolik murni khas Kerajaan Spanyol - bayangkan kesetiaan iman orang Spanyol kepada Gereja tempo dulu sampai melahirkan Inkuisisi dan Ordo Yesuit - , dan kunjungan dua Paus telah semakin membuka pintu-pintu tertutup hati dan pikiran pemimpin negara ini walaupun kini efek nyatanya masih berupa tanda tanya besar. Vietnam sudah membuka diri sehingga Amerika yang dulu bermusuhan pun sekarang jadi sahabat, lebih pasti karena motif ekonomi. 
 
Kemapanan dalam kuasa memang sungguh berbahaya. Uni Sovyet, Jerman Timur, Cina dan Vietnam bisa berubah dan maju karena betapa pun kuat ideologi komunisme tertancap namun karena pemimpin negara selalu berubah, maka angin segar perubahan juga masuk dan memberi dinamisme; untuk apa mati-matian memegang ideologi kalau nyatanya negara miskin dan rakyat kelaparan. Kuba dan Korea Utara masih akan lama mengalami penderitaan karena masih dikuasai dinasti Kim dan Castro. Power tends to corrupt. Hari-hari awal September ini orang Kuba semakin kuat menjerit lagi dengan air mata yang jenuh dan lelah kalau bukan percuma, hingga hati sebagian besar orang bagai membeku dan mengeras. Anak-anak Kuba berusaha keras supaya bisa tembus perguruan tinggi, terutama supaya bisa jadi dokter. Dengan jadi dokter mereka bisa keluar negeri. 
 
 
Untuk rakyat kebanyakan, selain akademisi, tentara dan atlit, bisa jalan-jalan luar negeri sungguh tidak pernah terpikirkan. Punya majalah, bisa makan apel saja sudah susah, apalagi keluar negeri. Dengan jadi dokter ada kemungkinan bekerja di berbagai negara; seperti negara menjual tenaga dan keahlian warganya. Di Brazil dokter-dokter Kuba dibayar per tahun 15 ribu USD; namun pemerintah ambil 13 ribu sekian, sisanya untuk si dokter, dengan catatan setengah untuk biaya hidup mereka saat bertugas, setengah dikasih pemerintah untuk keluarga si dokter di tanah air. Bayangkan dengan uang seadanya itu, setiap tahun saat libur mereka bawa barang dari Brazil, juga dari negara-negara lain, untuk dijual lagi di sini supaya ada untung sedikit. Orang lebih suka belanja di tempat ini daripada di toko-toko yang semuanya milik pemerintah. 
 
 
Kata Eugenio suami Sandra juru masak Curato, pemerintah tidak punya kasih, pasang harga terlalu tinggi supaya orang tidak bisa beli, dan sudah begitu pegawai-pegawai toko yang adalah pegawai negeri bermain harga lagi apalagi kalau ada orang asing; makanya orang lebih suka berbelanja kalau bisa dikata barang selundupan di rumah-rumah penduduk karena dengan itu mereka bisa bercakap-cakap ramah khas Kuba, malah bisa tawar sedikit. 
 
Ternyata hal ini membuat pemerintah gila ini semakin iri hati saja. Bulan ini diberlakukan sebuah hukum baru lagi; pulang libur tahun pertama ok diizinkan bisa bawa barang yang masuk akal untuk kebutuhan keluarga, agen-agen pemerintah mencatat semuanya, tahun kedua tidak bisa lagi, tahun ketiga saat kontrak selesai dan harus kembali ke negeri ini mereka tidak bisa lagi bawa barang untuk keluarga. Jika kedapatan di bandara - praktis orang cuma bisa masuk dan keluar dari negeri ini dengan pesawat, pegawai bandara akan membongkar koper warganya, dokter-dokter yang membanggakan negeri ini dan mendatangkan banyak devisa bagi negara ini, dan mengendusi satu per satu barang bawaan mereka dan jika ada yang kelihatan, terasa di kulit tangan atau tercium berbau baru - , maka semuanya akan disita negara; bisa tebus dengan harga dua kali lipat dalam Cabito. Inikah buah-buah pendidikan gratis yang amat dibanggakan pemerintah negeri ini? 
 
Saat dengar cerita ini saya begitu terharu, sedih sekali rasanya, apalagi saat ketik cerita ini… Saya ingat pahlawan nasional dari daerahku Minahasa, orang Indonesia pertama yang lulus doktor di luar negeri, dari siapa kata Indonesia berasal dan karena itu begitu dihormati Soekarno dan yang di tengah politik penjajahan “Pecah Belah dan Kuasailah” memberikan terang baru dengan kata-kata hikmat, “manusia hidup untuk memanusiakan/menghidupkan orang lain,” mengapa ada pemerintah sejahat ini, mengapa ada orang yang berpikiran serendah ini? Filsafat gila macam apa yang ada di balik semua aturan ini? 
 
 
Tahun lalu waktu ziarah di Tanah Suci, saya lihat orang-orang Palestina pulang dari Mekah dan membawa air zam-zam dalam galon-galon. Mungkin orang Palestina meski sering dibom Israel malah lebih bebas berjuang dan berusaha daripada orang Kuba yang justru dibelenggu dan makin dicekik oleh pemerintahnya sendiri. Sering menggelikan bagiku satu hal sepele ini. Orang Kuba suka minum air es karena itu di freezer mereka simpan air matang dalam galon-galon sedang, di kulkas mereka taruh air di ceret kristal. Air mineral kemasan dijual hanya di Copi, sebuah lambang kemewahan karena yang diharapkan beli dengan Cuc adalah orang asing. Kalau diperhatikan seksama kristal es yang terbentuk tidak bening benar karena air mengandung endapan kapur. 
 
 
Beberapa kali saya alami di Curato dan pastoran Konfrater Dominika, saat sedang haus-hausnya atau saat sedang makan dan air minum di ceret habis, tukang masak mencampur air yang masih agak panas, baru dikeluarkan dari panci, dengan air simpanan di freezer. Jelas sekali banyak endapan menari-nari di dalam gelas. Mau minum rasa di leher dan di hati gimana gitu, mau buang rasanya lain lagi. Orang-orang di sini tidak merasa bahwa air begitu tidak enak diminum atau mereka tidak peduli yang penting bisa hidangkan air dingin yang bagi mereka adalah yang paling pas diminum. Tidak heran selama hampir dua bulan ini leherku selalu tidak nyaman, sering batuk. 
 
 
Syukur tidak sakit parah, mungkin karena kekuatan pikiranku atau terutama pasti karena Perlindungan Ilahi, dan doa serta kasih banyak orang di Tanah Air. Karena itu daripada dilayani saya lebih suka minum sendiri saat pastoran sepi supaya bisa minum air di kulkas yang sudah lumayan baik karena sudah cukup lama mengendap. Mungkin karena itu juga orang di sini minum air es, yaitu karena karang dan kapur sudah mengendap, sekalian supaya kulkas penuh. Di Indonesia di mana-mana ada dealer dan jaringan servis Honda, Toyota dan berbagai macam produk kendaraan; di sini di seluruh provinsi Guantanamo ini sudah sebulan ini mekanik keuskupan bilang ke saya tidak bisa menemukan aki mobil dan spare-parts Toyota Hilux untuk pastoran Jamaika. 
 
Untuk melengkapi barang-barang pastoran Jamaika, sudah dua bulan ini tidak tuntas; yang ada barang-barang bekas, yang lain entah kapan ada. Padahal kami didesak-desak berangkat secepatnya ke sini karena katanya semua sudah siap. Beberapa umat yang datang berkunjung ke Jamaika, biasanya diajak uskup, tidak bersama kami, kemudian mengatakan kepadaku, betapa bagus rumah pastoran Jamaika sekarang. Perlengkapan dan isi pastoran sangat jempolan kata mereka: baru dan bagus, wangi lagi, double-thumbs-up a la Kuba. Antonio administrator Curato mengatakan kepadaku bahwa sekarang perusahaan telkom Kuba Etecsa cabang Provinsi Guantanamo kehabisan kartu sim telepon seluler, kemungkinan juga di provinsi-provinsi lain. 
 
Sampai kurang lebih sepekan sesudah tiba di sini saya masih mempertahankan kebiasaan di Indonesia, yakni setiap selesai mandi keringkan telinga dengan 2 cotton buds, satu untuk kiri satu untuk kanan, sambil cari-cari tahu dengan bertanya, pergi sendiri ke toko-toko atau titip orang beli. Hasil perjalanan pertama cb tidak ada, sebagian yang saya tanya bilang belum pernah lihat barang itu, ada yang belum pernah pakai, ada yang tidak tahu kata Spanyolnya. Terpaksa saya menyesuaikan diri, setiap selesai mandi pakai satu cb, berarti sehari habis 2. Hasil ekspedisi kedua cb tidak ada; saya makin hemat, sehari hanya satu cb maka telinga pun gatal karena lembab. Hasil eksplorasi ketiga cb tidak ada; saya makin hemat lagi, cukup sepekan dua, wajib sebelum misa minggu dan satu di tengah pekan. Telinga tidak nyaman tapi mau teriak siapa supaya cb secepatnya ada? Persediaan cb dll terutama dollar dari Tanah Air makin habis. Dari umat nihil, dari Keuskupan masih nihil, dari Jakarta juga nihil. Umat hanya kasih kolekte beberapa peso MN, di Katedral juga saya lihat begitu, hanya berapa yang beri derma satu atau dua lembar peso, kapan bisa kumpul 1 dollar? 
 
Untuk bayar listrik, air dan telepon Gereja dan Pastoran saja tidak cukup; apalagi bayar gaji karyawan pastoran, bensin dan perawatan mobil, lalu yang utama makan minum kami, belum yang lain-lain seperti pulsa hp. Orang Kuba biar susah sebulan di musim panas berlibur. Gereja Kuba selain belum bisa hidup dari sumbangan umat, masih harus menghidupi umat yang susah sebagai bagian utuh dari pelayanan, selain memberi pelayanan rohani. Kami dua pernah susun rencana bagaimana memecahkan kesulitan sementara atau bisa jadi selamanya ini. Saya pernah berpikir buka les Inggris tapi kemudian batal, karena nanti dituduh anti-revolusi, subversif anti-pemerintah, nanti merepotkan Keuskupan dan Tarekat, dan lagi mana bisa mengharapkan peserta les bayar sementara orang Kuba sekolah gratis. Pilihan kedua adalah buka usaha salon. 
 
 
Viktor pernah jalan-jalan belanja dan saat pulang bilang saya bahwa dia lihat cukup banyak perempuan di salon kecantikan. Perempuan Kuba suka cat rambut pirang dan cat kuku tangan dan kaki, laki-laki suka tato dan tindik. “Nanti Br Marcel datang minta dia bawa cat rambut, kuteks dll perlengkapan salon. Bagus kalau Br Marcel les gunting dan creambath rambut, tato dan tindik di Jakarta supaya datang di Jamaika bisa buka salon kecantikan. Saya bilang Vik, “ngana jo; ngana pe tangan kan lemah gemulai.” Victor pe tangan totofore terus do’e, apalagi tambah kesulitan belajar bahasa membuat dia makin emosional, makin totofore. Saya perhatikan selama dua bulan ini wajah Vik menampakkan dua hal: derita dan tidak suka dengan hal-hal yang dijumpainya di sini. Sangat susah dia senyum. Mati jurus katanya sendiri, di Tanah Air dia sangat top, di sini mati kutu. Nanti kita tidak berdoa tapi sibuk cari duit nih. Tapi lalu pikiran lain muncul. Orang Kuba saja dilarang punya usaha, apalagi kami orang asing. Syukur saya pastor, bukan vampir. Bayangkan kalau jadi vampir benar, begitu terbang eh ternyata di luar sana ada lebih banyak vampir Kuba kelaparan. 
 
Kami yang baru dua bulan di sini saja sudah cukup sering lapar, apalagi orang Kuba sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah bangsa kurang makanan dan dilarang beragama? Bagaimana hidup manusia yang lapar dan tidak peduli Tuhan? Entahlah; iman sederhanaku bertanya kalau di dunia ini sudah menderita ternyata sesudah mati menderita lagi, apa artinya hidup? Para Pastor dan Religius bisa lebih lucu mengenaskan lagi, sudah tidak kawin di dunia eh ternyata sesudah mati tidak masuk surga lagi. Sungguh malang. Untung Tuhan bukan seperti manusia, tidak seperti pikiran manusia, dan bukan ciptaan tangan dan pikiran manusia. Dia jauh melampaui semua ciptaan-Nya, apalagi ciptaan manusia. Sovyet sudah lama runtuh, semoga Kuba cepat sembuh. Tunggu kakak beradik gila (harta sehingga merampok milik warganya) itu mati dulu. Kalau anak Fidel mau, atau kalau Raul kasih takhta ke anaknya, entah nanti bagaimana lagi nasib negeri ini. Yang pasti hal kedua yang kualami begitu nyata saat-saat ini adalah kesendirian dan kesunyian luar biasa. Di tanah air kalau pikiran dan hati tidak enak bisa jalan ke umat, umat juga sering ajak makan, juga kalau kantong kering misa satu dua kali bisa cukup untuk sepekan bahkan sebulan; di sini tidak ada orang lain yang mengusir semua perasaan dan pikiran itu, sangat sulit tapi harus bisa. Kalau derita ini tidak dapat diusir, ya tidak ada jalan kupeluk dan kucerna saja, seperti setiap obat yang pasti pahit dan tidak enak. Kalau belum saatnya pasti tidak mati. Syukur pernah latihan Sadhana Anthony de Melo SJ, kontemplasi kematian diri sendiri. 
 
Yesus sungguh luar biasa dapat turun ke dunia dan menderita segala macam luka manusia. Coba ada majalah Time, atau ada internet supaya bisa akses Kompas dan The Jakarta Post, atau ada receiver digital supaya bisa nonton BBC, CNN, Discovery saluran-saluran favoritku begitu juga Metrotv dan TvOne. Yang ada di pastoran ini adalah sebuah tv kecil buncit dengan layar sekecil netbook Fujitsuku, dengan 4 saluran nasional dan satu saluran tv Amerika Latin, Telesur, tapi sering hilang di layar tanpa pemberitahuan. Untuk apa pemerintah menyediakan sekolah gratis kalau tidak ada kebebasan berbicara dan berpendapat; semua media dikontrol dan dibatasi pemerintah. 
 
Namun di sini di Kuba di tengah hidup yang serba sulit ini, saya mengerti apa dimensi arti kata percaya - bahasa Spanyol membantu memperkaya imanku; ungkapan Spanyol saya kira ya = creo que si = saya percaya bahwa ya - , yaitu pikiran: percaya berarti berpikir. Kalau lidah leher perut tidak puas, maka saya berpikir bahwa pikiran saya harus kenyang, saya harus puas berpikir. Persoalannya ialah di sini hidup benar-benar dalam isolasi. Pemerintah ini sadis menindas rakyatnya sekaligus masokis karena suka disiksa, diembargo Amerika terus dan mengasingkan diri dari pergaulan dunia hanya karena gengsi dan kesombongan ideologis, seakan-akan mau bilang “kami mampu lho bertahan hidup miskin.” Saya bayangkan negeri yang compang-camping ini seperti berjalan gaya cat-walk di depan digdaya Amerika, dan atau tetapi menonton dengan sakit hati bahwa tetangga dan saudara-saudara mereka keturunan Spanyol hidup lumayan senang karena ada kebebasan berusaha, berpikir dan berbicara. Bagaimana bisa berpikir hal-hal yang luar biasa kalau setiap hari hanya khawatir soal makan minum. Bagaimana orang mau pesta merayakan sesuatu kalau tidak ada uang, rumah kecil dan sempit, semua serba tercekik dan dibatasi pemerintah. 
 
Kenyataan hidup seorang misionaris di Kuba adalah berada sangat jauh dan terasing di tempat yang sangat sepi dan sunyi, otak pun kering, apalagi kalau kantong juga kering saya khawatir hati bisa kering. Tidak begitu mudah mengalami rahmat selalu membahagiakan. Manusia adalah makhluk yang cepat lelah dan gampang mengeluh, ia tidak bisa berjalan lagi kalau Allah tak mengulurkan tangan, dalam pengalaman paling nyata kalau tidak disapa sesama, kalau teman seperjalanan tidak menunjukkan semangat dan antusiasme. Syukur banyak selalu ada kekuatan yang membuatku tidak terlalu menderita meski saya tahu tantangan nyata di depan akan lebih sulit. Suatu pagi Vik datang ke kamarku, “Hengki, resepsionis bilang dia mau cuci pakaian kamu. Tapi kamu bantu saya jawab pertanyaan perempuan ini dulu karena saya tidak mengerti.” Saya bilang biasanya saya cuci pakaian sendiri. Edilia yang bertugas membersihkan pastoran sudah tahu kebiasaanku ini. Kalau ada waktu dia sendiri datang menawarkan bantuan mencuci pakaianku. Langsung saya tahu ada sesuatu. 
 
Litania resepsionis Curato/Pastoran Katedral baru pulang libur di Spanyol, pagi pertama kerja langsung datang stor pipi kanan, hari itu hari kedua kerja, kenapa dia yang menawarkan bantuan untuk mencuci pakaianku? Yang datang ke Viktor adalah Janiuska yang bertugas melayani makan orang-orang miskin; dia sangat akrab denganku. Dia berkata ke Viktor bahwa Litania si resepsionis lagi sakit kepala dan bertanya apakah Viktor punya obat gosok untuk meringankan sakitnya. Sampai tiga kali Viktor minta Jani ulang pertanyaannya dan atau tetapi yang Vik tangkap adalah apakah kami punya pakaian kotor untuk dicuci Litania dst yang dia tidak mengerti. Saat itu saya tahu Edilia lagi mencuci di lantai 3 pastoran, dan Sandra lagi memasak menggantikan Dalila yang lagi sakit. 
 
 
Semua nama ini sulit Vik ingat, jadi dia masih suka sapa mereka SeƱora setelah mendengarkan saranku supaya tidak lagi panggil mereka Madre yang berarti Ibu/Mama (kandung). Saat Jani bertanya langsung kepadaku, saya mengerti dan berkata saya tidak punya krim gosok tapi saya punya obat dari Indonesia, Panadol yang mengandung paracetamol dll yang mungkin bisa membantu menyembuhkan sakit kepala. Dia senang sekali menerima obat itu karena di sini tidak ada obat dijual bebas seperti di Indonesia. Kalau sakit orang harus periksa dokter dulu, biaya dokter dibayar negara, tetapi obat beli sendiri di Farmacia/apotik. Kemudian Vik datang kepadaku dan mengungkapkan kebingungannya, bagaimana bisa yang dia tangkap cuci baju padahal yang ditanya obat sakit kepala. Mungkin karena dia tidak mendengar dengan baik. Banyak orang hanya mau mengerti pikiran dan rasa hatinya sendiri dan tidak bisa mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh, kurang mampu masuk ke hati dan pikiran orang dan mengerti orang dari sudut pandang dan rasa orang itu, bukan dari sudut pandang dan rasa diri sendiri. Atau memang orang mendengarkan dengan baik sekali, hanya sayang belum tersedia jaring yang baik untuk memaknai bunyi ujaran yang masuk di telinga. 
 
Memahami orang lain saja begitu sulit, memahami diri sendiri mungkin lebih sulit, apalagi memahami Allah yang tak kelihatan. Saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi karena saya tahu orang Kuba, orang berbahasa Spanyol, juga setahu saya orang Italia, tidak cukup berbicara dengan mulut. Seluruh badan seperti turut berbicara, kalau perlu rambut dan pantat juga ikut bergerak. Ekspresi wajah hidup, apalagi tangan, bahu dst. Vik bilang kalau lihat orang Kuba bicara dia ingat orang Muyu Mandobo, Konfrater Tarong yang berbicara dengan gerak badan seperti senam. Mungkin karena mereka biasa buru rusa dan tangkap cendrawasih. Jelang 8 September ini, Hari Raya Kelahiran Bunda Maria yang di Kuba dirayakan sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Belaskasihan / Kerahiman, Pelindung Kuba Knap, sejak Sabtu 30 Agustus 2014 lalu secara nasional. Di Gereja-Gereja Katedral dan paroki tentu sejauh ada imam yang melayani, diadakan Novena yang dimulai dengan Rosario pada jam 19.00 malam jam 7 pagi di Manado/wit hari berikutnya, atau 12 jam di muka) kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi jam 19.30 yang selama 9 hari ini dari berbagai sudut pandang dengan paduan ayat-ayat berbeda hanya mengupas teks Injil 2 murid Emaus yang pulang kampung setelah “apa yang terjadi di Yerusalem” dan dijumpai, disapa serta dirangkul kembali oleh Tuhan yang bangkit, berpuncak pada pengenalan mereka kembali siapakah Dia sesungguhnya sesudah Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya, seperti yang terjadi dalam setiap Ekaristi, untuk mengingatkan kembali sisa-sisa setia orang beriman di negeri ini bahwa Tuhan yang bangkit mulia dan mengatasi kodrat manusia sepintas tidak atau sulit dikenali kecuali di dalam Ekaristi, tidak meninggalkan umat-Nya melainkan selalu hendak mencari dan mengumpulkan lagi murid-murid yang sedih, kecewa dan frustrasi karena melihat kegagalan dan kekalahan Sang Guru dalam kematian salib-Nya dan tamatnya karier masa depan mereka saat Ia dimakamkan dalam lubang batu, dengan mengajak mereka bercakap-cakap agar pengetahuan iman mereka tentang Kitab Suci yang akan digenapi dalam diri Yesus serta pengenalan mereka akan pribadi-Nya digali dan disegarkan, sebuah retret hidup sambil berjalan kaki di jalan desa di sore hari, sehingga hati mereka berkobar-kobar, sebuah pengalaman rohani yang otentik, berjumpa Tuhan pasti ada wawasan dan sudut pandang baru yang menggugah keramahan mereka saat Ia seolah hendak berlalu, tingallah bersama kami karena hari sudah gelap, saat kapan skenario paling istimewa dan menyentuh itu terjadi, dan wus …, Yesus hilang dari pandangan mereka, mereka berdua yang kini penuh inspirasi dan kekuatan hingga saat itu juga kembali ke Yerusalem dan mewartakan bahwa Yesus bangkit dan hidup, sebuah peristiwa terang budi dan hati yang digabung dengan inspirasi rasul serta murid lain yang mengalami kejadian serupa menjadi fajar baru bagi sebuah kaum pilihan baru yaitu yang dibentuk berdasarkan iman dari perjumpaan dan pengalaman historis kebangkitan Tuhan, sungguh benar janji keselamatan dipenuhi dalam Yesus, sungguh benar Dia Penebus yang dijanjikan dan dinantikan berabad-abad oleh Israel dan kini oleh bangsa Kuba. 
 
 
Kurang lebih 50 bangku dalam Katedral Guantanamo selalu terisi penuh; kurang lebih 250 umat yang hadir, saya dan Vik ikut sebagai umat. Saat ini di Kuba jam 19.30 masih terang dan sampai selesai misa kurang lebih jam 20.15 orang masih berkipas karena hawa panas. Dua kipas kotak yang dipasang di balkon belakang ke arah depan dengan bunyi menderu seakan hanya membuat hawa panas yang terkumpul di bubungan bangunan Katedral berputar di dalam dan sulit keluar lewat jendela-jendela berterali, membuatku lebih suka duduk di pinggir dekat jendela walau ribut nyanyian sahut menyahut serta bau ee’ burung yang begitu banyak bersarang di Taman Kota ini juga menyerangku dari luar. 
 
Sementara bar, restoran di jalan-jalan samping Plaza Mayor/Alun-alun dengan taman yang luas dan bangku-bangku beton panjang di tengah mana berdiri bangunan Katedral ini memutar lagu-lagu Latin yang menghentak, tidak peduli berapa kali lonceng Gereja sudah dibunyikan, tidak peduli misa dalam Katedral sudah dimulai dengan pengeras suara dalam ruangan. Bagaikan sebuah perang memperebutkan ruang dengar, bagaikan pertandingan memenangkan hati siapa yang mau mendengarkan Sabda Allah yang hidup. Betapa untuk berdoa saja sulit di negeri ini. Di stasi-stasi juga sering kualami begitu saat ikut misa dengan pastor-pastor lain. Sebelum, selama dan sesudah misa musik dari rumah penduduk terkesan seperti bantahan dan penolakan, “maaf, rumah kami sudah penuh,” dan sekitar 30 tahun kemudian, “bukan Dia, melainkan Barabas.” 
 
Sebuah tantangan untuk hanya mengarahkan perhatian kepada Dia yang bangkit dan hidup sementara dari bangku belakang saya makin terbiasa melihat golongan-golongan wanita yang datang misa. Pertama ibu-ibu yang pakai blus berkerah dan berlengan. Rupanya mereka sudah lebih tahan panas. Kedua ibu-ibu atau wanita muda yang biasanya pakai blus atau shirt/kaos tanpa kerah dan lengan. Dan yang ketiga yakni yang pakai gaun yang setengah atau lebih punggungnya terbuka dengan rok sejengkal dan stoking hitam bermotif jala-jala yang ngetop di negeri ini di kalangan pegawai wanita. Seumumnya orang di sini berpakaian sederhana, tidak seperti di Manado orang pergi ke Gereja selalu tampil elegan. Jarang saya lihat orang di sini pakai perhiasan asli, orang Manado bilang “mas tuta’ tuta.’ Sering waktu misa pagi saya lihat ibu berkulit agak putih, anak lebih hitam, ayah tidak datang ikut misa. Pernah di bangku depanku duduk 3 generasi: oma dan ibu hitam benar, cucu berkulit lebih terang dari saya dan bermata biru, mengingatkanku akan lagu Engelbert H, Blue Spanish Eyes. Tempat favoritku di Katedral Guantanamo, bangku belakang sayap kiri, menempatkanku berhadapan dengan arca Maria Bunda Belaskasih yang selama hari-hari ini dihiasi dengan layar 3 warna bendera Kuba: putih di tengah, merah di kanan dan biru di kiri. 
 
Warna putih dan merah adalah lambang manusia, biru warna langit yang luas tak bertepi dan samudra yang dalam adalah lambang Surga dan Tahta Allah. Bersama ketiga warna itu melambangkan Maria, manusia biasa yang disiapkan khusus dan dipilih Allah Bapa untuk melahirkan Sang Putra dan dipenuhi kuasa Roh Kudus, sehingga ketiga Pribadi Allah yang berhakikat satu sungguh hadir dalam dirinya, dan sekaligus Yesus Sang Putera yang menjadi manusia. Sayang warna-warna itu dengan tanda bintang kini menjadi bendera Kuba yang komunis ateis, kini diperhalus sebagai sosialis. Syukur bahwa kendati pemerintah sosialis negeri ini, bangsa ini tetap mengaku sebagai milik Allah, paling tidak di Gereja secara liturgis selama masa Novena keyakinan ini dikumandangkan secara simbolis, Maria yang perantaraan doanya senantiasa diminta seperti saat ia hadir di Kana dan berperan dalam mukjizat pertama puteranya ditakhtakan dengan warna-warna bendera negara ini, tanpa suara namun senantiasa menguatkan iman tradisional Gereja, Maria yang mengandung menggendong dan membesarkan Yesus selalu menginjak dan mengalahkan ular, kejahatan dan kegelapan di bawah kakinya, mengingatkanku akan kisah buatan manusia berikut. … beberapa kapal perompak liar berebutan menuju sebuah pulau rahasia, di antara berbagai kesulitan yang mereka hadapi ialah godaan dan tipuan peri-peri laut yang mematikan, untuk mendapatkan air kehidupan abadi (Hindu: amerta, Latin: ambrosia, nektar, air kehidupan, sumber keabadian para dewata) di sebuah kuil terpencil yang dikelilingi pelbagai jebakan sekaligus timbunan harta karun. 
 
Suguhan klimaks sungguh tak terduga; mereka didahului dan dikalahkan oleh pasukan angkatan laut Kerajaan Spanyol – cerita tsb berlatar era penjelajahan samudera dan penaklukan Dunia Baru -, ketika komandan tentara Spanyol itu berkata, “Hancurkan kuil berhala ini. Kehidupan abadi adalah milik dan rahasia Allah. Hanya Dia yang boleh disembah.” Kekuatan akting Johny Deep, Kapten Jack Sparrow, bajak laut Inggris yang menjadi bintang sekuel tsb seperti kalah oleh wibawa religius sang komandan yang hanya muncul sekilas tsb. Begitulah cuplikan film “On Stranger’s Tides” yang begitu berkesan dan mengingatkanku akan kekuatan pribadi dan kata-kata Yesus saat berhadapan dengan kehebatan si penggoda. Guru les Spanyol kami Pepito bercerita bagaimana dulu Kerajaan Spanyol sangat “murni” Katolik, dan betapa orang-orang di koloni di seluruh Dunia Baru Amerika dengan bangga memeluk iman ini selama berabad-abad; pun budak-budak dipermandikan Katolik dan praktek agama-agama suku Afrika serta Indian, bahasa dosenku di Pineleng, Dr. Richard Renwarin, dilarang sama sekali. Sesudah penampakan istimewa Maria kepada seorang Indian Juan Diego di bukit Tepeyac, Guadalupe, Mexico 1531, semakin bertambah besar jumlah orang beriman Katolik di benua ini, semakin dalam iman Katolik ditanamkan di tanah ini. 
 
Kisah Maria Guadalupe begitu istimewa menggugah hati setiap orang beriman Katolik. Sungguh benar Yesus Jalan Kebenaran dan Hidup, sungguh benar Dialah Kebangkitan dan Kehidupan, Bunda-Nya pun mengalami keabadian dan kemuliaan kekal dan surgawi. Seluruh Amerika dipersembahkan kepada Maria di Guadalupe. Maria Pelindung Kuba pun tidak kalah istimewa. Jika di Guadalupe Bunda Surgawi memberikan kenangan gambar dirinya yang begitu riil: sudut mata tepat persis menatap Juan Diego seperti dikisahkannya, gambaran bintang-bintang di atas kepalanya sesuai dengan perhitungan astronomi saat penampakannya, terutama Maria tampil di depan matahari dan di atas bulan sambil menginjaknya, sebuah gambaran yang sungguh menyentuh bagi bangsa Indian pemuja dewa matahari bahwa Maria jauh lebih tinggi melampaui semua dewa pujaan Indian, dan semua itu tercetak alami di atas sebuah selimut Indian berbahan kasar yang menurut perhitungan biasa hancur dalam beberapa tahun namun kini terpelihara baik dan awet melewati 5 abad, di Kuba citra Maria ditemukan secara misterius dari laut: ia menamakan dirinya sebagai La Virgen de la Caridad/Perawan Belaskasih, Bunda Kerahiman, dan bahan pembentuknya berupa campuran tepung jagung asli Amerika dan entah bahan apalagi namun bertahan selama 4 abad ini, mengingatkan orang Kuba akan Kisah Injil bahwa Maria dipilih Bapa, mengandung dari Roh Kudus, dan melahirkan Putera Allah sehingga kendati citranya terbuat dari bahan biasa, mungkin merupakan buatan manusia, namun karena “kandungan ilahinya”, maka citra itu lestari dan tetap dihormati. 
 
Di tempat lain di benua lain Maria menampakkan diri secara lebih istimewa, di Fatima, Guadalupe, Akita Jepang, Garabandal, Walsingham, Laus, Kibeho, Paris, Cina, Vietnam, Beauraing, Banneux, dan terutama tentu saja Lourdes. Siapa bertelinga semoga mendengar, bermata melihat, berbudi dan berhati percaya dan berbahagia memiliki Kasih Sejati yakni Allah sendiri. Menjelang pesta pelindung Kuba hari ini, Minggu sore kemarin dilangsungkan perarakan Bunda Maria Perawan Kerahiman dari Cobre, Bunda Pelindung Kuba, dari Gereja Milagrosa di kompleks Kantor Keuskupan mengelilingi sebagian kota Guantanamo sampai ke Gereja Katedral di tengah Taman Kota Jose Marti. Semakin banyak masyarakat terlibat, walau kelihatan yang lain acuh tak acuh, wajah bangsa yang dipaksa memandang agama sebagai candu, bangsa yang rezeki rohani dan jasmaninya dirampok para pemimpinnya. Di depan pintu Katedral, saat perarakan selesai dan Bunda hendak diarak ke dalam Katedral, sekali lagi untuk kesekian kali kami berdua diperkenalkan Uskup di depan seluruh umat yang hadir. Sabtu sore lalu saya berkotbah untuk pertama kali di Katedral Guantanamo dalam bahasa Spanyol yang baik; selesai kotbah pastor paroki dan umat memberi aplaus cukup lama. 
 
Selesai misa banyak umat memberi selamat dan ucapan terima kasih karena bisa dengar kesaksian iman dari bangsa lain tentang Yesus dan Bunda yang sama. Inilah kekuatan dan kehebatan Gereja Katolik yang kukasihi, di mana pun satu dan sama, dijiwai Roh yang sama, satu dalam Liturgi yang sama. Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar, kata para Yesuit, atau Semoga Dikasihilah Hati Kudus Yesus di Seluruh Dunia, kata kami msc. Biar lapar, stres karena sepi dan sendiri, otak dan kantong kering, kami berjuang supaya bisa berbicara demi nama Allah dan menguduskan umat-Nya. Paling tidak di Gereja umat menikmati santapan rohani yang bermutu dalam bentuk sastra yang bagus, tidak berapi-api seperti kampanye revolusi, semakin tenang justru semakin baik dan semakin mendalam tertanam. Seperti ketaatan, iman lahir dan tumbuh karena mendengarkan. Biar yang lain belum jelas, paling tidak pikiran ini harus jelas.


__._,_.___

Jumat, 12 September 2014

KRISMA DI KEPI

Pembaca yang budiman......
Lama nian saya absen. Dalam 1 bulan terakhir, saya mengunjungi beberapa wilayah keuskupan untuk menerimakan sakramen krisma. Itulah sebabnya, banyak waktu tersita, termasuk untuk menulis pun tidak sempat. Inilah oleh-oleh pertama untuk anda, setelah saya sekian minggu tidak menjumpai anda. Selamat menikmati.

Hari itu, minggu 24 Agustus 2014 gereja paroki Kristus Raja Kepi tampak semarak dan meriah. Ratusan orang berkumpul di gedung soska, hendak menghantar 138 orang muda menuju ke gereja. Ada apa gerangan sehingga mereka itu dihantar dengan tariat adat ?

Mereka yang berpakaian rapih dan berjumlah besar itu adalah para calon krisma. Mereka  telah dipersiapkan / menerima pembekalan selama 3 bulan oleh para katekis, frater pembina dan pastor paroki, agar mantap menjadi orang dewasa dalam iman, harap dan kasih.  Para calon yang berjumlah 138 orang itu berasal dari pusat paroki Kepi, dari stasi Wairu, Muin, Toba dan Dagimon. Maka yang datang untuk turut bergembira dalam pesta iman itu, bukan hanya orangtua tetapi juga umat dari stasi-stasi itu pun tidak mau ketinggalan. Itulah sebabnya pada hari itu, gereja penuh sesak, bahkan ada banyak yang menduduki kursi-kursi dan bangku-bangku di luar gedung gereja.

Misa dimulai dengan perarakan panjang dari gedung soska ke gereja yang berjarak kira-kira 400 meter. Di sepanjang perjalanan, para penari adat menyanyi dan menari dengan diiringi pukulan tifa (= kendang) sampai di depan pintu gereja. Kemudian, ketika rombongan misdinar memasuki pintu utama gereja, koor menyambut mereka dengan lagu pembukaan “Saudara mari semua, hadaplah altarTuhan kita, sambut Tubuh dan Darah.....”.

Homili 
Umat dari para calon krisma diingatkan kembali tentang 7 sakramen. Sakramen adalah tanda kasih Tuhan kepada umat-Nya. Karena begitu besar kasih Allah kepada manusia, Ia memberikan sakramen yang berjumlah 7 supaya manusia tetap ingat bahwa ke mana pun dan di dalam situasi apa pun Tuhan Allah tidak pernah melupakan / meninggalkan mereka.  Sakramen krisma disebut sakramen kepenuhan inisiasi, karena merupakan satu dari 4 sakramen awal yang diterima oleh setiap orang katolik. 4 sakramen awal tersebut adalah sakramen permandian, sakramen  tobat, sakramen ekaristi dan sakramen krisma. Dengan menerima sakramen ke 4, genaplah / lengkaplah sudah tahap awal orang itu, sehingga dia sudah dianggap dewasa.

Itulah sebabnya, sakramen krisma juga disebut sakramen kedewasaan. Mereka yang menerima krisma diakui sebagai orang-orang yang sudah dewasa imannya, dan dengan demikian dapat diutus untuk menjadi saksi Tuhan / Yesus Kristus dan kasih-Nya kepada semua orang. Mereka dapat ambil bagian dalam karya-karya pelayanan kepada umat Allah, baik di keluarga, di lingkungan, di masyarakat luas.  Sakramen krisma disebut juga sakramen penguatan, karena semua bakat, talenta, kemampuan dan karunia-karunia yang telah diberikan Allah kepada orang itu diteguhkan / dikuatkan supaya makin berkembang dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Sebelum menerima krisma, para calon telah menerima 3 sakramen ( permandian, pertobatan dan ekaristi). Mereka dapat diibaratkan sudah duduk di tingkat 3. Dengan menerima krisma, mereka naik 1 tingkat, sehingga secara resmi duduik di tingkat 4.  Kenaikan ini lambang kenaikan tingkat dalam kebaikan dan aneka keutamaan lainnya, agar makin hari makin serupa dengan Kristus, atau makin sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya.  Kenaikan tingkat ini, selain hasil usaha manusia, serentak juga merupakan karunia Allah. Allah berperan dan mengundang manusia untuk menjadi semakin sempurna, dan dengan demikian semakin “mantap sebagai saksi kebaikannya di tengah masyarakat”.

Bapa dan Kunci
Menurut nabi Yehezkiel, Allah memberikan jabatan-jabatan kepada raja-raja untuk melayani umat-Nya. Dia menentukan orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan berwenang pula mencabut jabatan itu setiap saat dari orang-orang yang menyalahgunakan jabatan / kekuasaannya, dan menyerahkannya kepada orang lain. Ditegaskan bahwa jabatan itu tidaklah kekal, dan bukanlah milik pribadi orang itu, tetapi sungguh-sungguh anugerah Allah. Maka, mereka yang diangkat menjadi raja harus bekerja dan melaksanakan amanat yang diberikan Allah kepadanya. Raja-raja itu tidak boleh bertindak semaunya sendiri, dan melupakan / menyingkirkan Allah. Dia harus bekerja atas nama Allah dan demi kesejahteraan / kebahagiaan  masyarakat / para warga yang dipercayakan kepadanya.

Karena kedekatannya dengan Allah, para raja menjadi “bapa” bagi masyarakatnya. Peran raja adalah melindungi rakyatnya dari bahaya atau serangan musuh, dan mengusahakan keamanan dan ketenteraman mereka.  Raja harus tahu apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakatnya. Itulah sebabnya amat baik dan bijaksana bila mereka turun ke desa-desa, ke wilayah-wilayah terpencil untuk bertemu dengan mereka, melihat situasi dan kehidupan mereka, mendengarkan secara langsung suara dan harapan mereka.

Dengan tinggal di wilayahnya dan turun ke tengah-tengah masyarakatnya, raja menjadi lebih peka dan mengerti kekuatan, kelemahan, harapan dan hambatan masyarakat di masing-masing wilayah. Ia dapat memikirkan, merundingkan atau memutuskan jalan keluar yang tepat dan cepat bagi mereka yang membutuhkannya.  Sebaliknya dengan sering pergi ke tempat lain, dalam waktu yang lama, dan tidak jelas apa yang dikerjakannya, rakyat bisa makin menderita. Raja malah menjadi orang asing bagi masyarakatnya sendiri. Persoalan-persoalan yang ada bisa menjadi lebih besar, karena tidak dipecahkan dan makin bertumpuk sehingga menjadi “bumerang bagi semua pihak”.

Raja yang dekat dengan Allah menjadi “kunci yang amat penting”, karena Allah mempercayakan banyak karunia kepadanya untuk dibagikan kepada rakyatnya. Di tangannya ada berkat. Dia menjadi penyalur berkat itu bagi rakyat yang dia pimpin. Lewat dia, Allah menyapa, melindungi, menghibur, menyembuhkan, memberikan harapan, menguatkan dan membimbing mereka ke tempat yang aman.  Rakyat dipimpin untuk mengenal dan membalas kasih-Nya serta bersatu dengan Nya di dalam kebahagiaan yang sempurna.

Maka raja / pemimpin yang menutup pintu rahmat Allah, bertindak sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyatnya sesungguhnya telah melawan amanat yang diberikan Allah. Ketika mereka pergi ke wilayah lain, kunci-kunci sudah seharusnya ditinggalkan / dipercayakan kepada orang-orang yang telah disiapkan untuk membagikan rahmat Allah, sehingga ketenteraman tetap terjamin. Kepergiannya justru akan membuat  kasih karunia makin berlimpah, karena banyak pihak dari daerah lain yang dilibatkan untuk menjadi saluran kasih karunia bagi rakyatnya.

Misa krisma dipimpin oleh Mgr Niko Adi MSC dan didampingi oleh P. Gerry Ohoduan MSC dan P Paulus Fanghoy MSC. Umat yang hadir diperkirakan 1500 orang. Mereka memenuhi semua tempat duduk baik di dalam maupun di luar gereja, bahkan ada banyak yang berdiri di luar. Bapak Ricky dan ibu Wineke Bolang menjadi wali krisma bagi ke 138 orang krismawan-krismawati. Mereka berdua berdiri di sebelah kiri dan di sebelah kanan para calon ketika menerima pengurapan minyak krisma dari tangan uskup. Namun tugas mereka sebagai wali, tidak berakhir pada saat penerimaan sakramen itu. Mereka justru mulai berperan lebih besar ketika anak-anak asuhnya menjalani tugas perutusan sebagai saksi-saksi Kristus di tengah-tengah masyarakat.  Atas kerelaan dan kesediaan mereka berdua untuk menjadi wali krisma, pantaslah diucapkan banyak terima kasih.

Menjadi saksi Kristus pada jaman sekarang ini tidak mudah. Ada banyak tawaran yang menyenangkan dan amat mudah didapat, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Dengan masuknya listrik, alat-alat elektronik makin merambah mempercepat perkembangan masyarakat. Mereka dapat mengikuti berita, melihat perkembangan dan perubahan di banyak belahan dunia ini.  Mereka yang mempunyai bekal pendidikan yang lumayan, amat terbantu untuk membuat pilihan dengan mengikuti dan mendapatkan informasi via siaran tv.

Di sisi lain, alat-alat hiburan elektronik, hp, miras, narkoba dan gambar-gambar porno telah masuk ke kampung-kampung terpencil dan sering sulit dilacak. Anak-anak jalanan yang tidak sekolah pun tahu “aibon” yang dihidup-hirup dan membuat pikiran melayang-layang jauh....untuk melepaskan  kepenatan / frustrasi dalam hidup.  Mereka ini pun perlu dibantu agar mendapatkan “ketenangan dalam hidup, dan mempunyai pilihan yang baik dan berguna bagi kehidupan sekarang ini dan ke depan.  Berdasarkan pengalaman, membimbing mereka dengan kata-kata dan teladan tokh tidak cukup. Mereka perlu dibantu untuk mempunyai pengalaman dicintai, dilindungi, dibimbing dan dibekali agar menjadi manusia yang hidup sesuai martabatnya.

Dibutuhkan para pembina dalam jumlah banyak yaitu orang-orang yang komit untuk menjadi saudara mereka lahir batin dalam jangka waktu yang amat panjang. Dibutuhkan pula tempat pembinaan dan fasilitas yang sungguh menarik dan sekaligus menyiapkan mereka untuk meraih masa depan yang  baik dan jelas.  Dibutuhkan peran banyak pihak, termasuk pemerintah untuk menyediakan dana dan perhatian yang cukup, sehingga pembinaan ini sungguh-sungguh berkelanjutan dan akan menghasilkan anak-anak yang dewasa, cerdas dan berkualitas.

Peran membina generasi muda bangsa (krismawan-krismawati), ternyata bukan hanya tugas uskup/ pastor, atau wali krisma, tetapi tugas banyak pihak. Masing-masing andil menurut talenta yang dimilikinya melalui bidang pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Maka pantas pula kita mengucap terima kasih kepada banyak orang yang telah turut andil “menjadikan diri kita” manusia yang siap ambil bagian dalam pembangunan dan pengembangan generasi berikutnya.  Mereka telah menjadi saluran rahmat dan kasih Allah bagi kita.