Kamis, 06 November 2014

KATA-KATA SEDERHANA MENJADI BERMAKNA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Hari Senin, tanggal 3 November 2014, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) secara resmi dibuka. Lagu “Datanglah Roh Mahakudus” menggema di ruang sidang itu, sebagai lagu pembuka seluruh kegiatan, agar seluruh kegiatan sidang yang dimulai dengan hariiii-hari studi, bukan hanya kegiatan manusiawi belaka, namun merupakan kegiatan Allah juga. Allah dan manusia bersama-sama bekerja untuk menyelamatkan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Manusia menjadi perantara rahmat dan keselamatan bagi sesamanya.

Bapa Kardinal, para uskup dari seluruh Indonesia, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Bp Agus (wakil Dirjen Bimas Katolik Depag RI), Bp. Gomar Gultom (Wakil PGI), dan 3 uskup  emeritus hadir dalam upacara pembukaan itu. Ibadat pembukaan dipandu oleh Mgr. Alo Murwito OFM, berlangsung dengan khidmat, diiringi koor para staf komisi dan karyawan KWI.

Dalam sambutannya, ketua KWI ( Mgr Suharyo) mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah melindung perjalanan para bapa uskup, dan mengumpulkan semua dalam sidang KWI tahun 2014 ini. Beliau juga mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta sidang, Duta Vatikan, Dirjen Bimas katolik, ketua PGI dan utusan dari Koptari dan Unio Indonesia. Secara khusus ucapan selamat datang ditujukan kepada Uskup Bogor ( Mgr. Paskalis Bruni Syukur OFM ) dan uskup Bandung ( Mgr. Anton Bunyamin OSC ) yang untuk pertama kalinya mengikuti sidang KWI. Diharapkan keduanya menjadi daya pembaharu bagi KWI pada masa mendatang.

Beliau mengingatkan kembali apa yang disampaikan dalam pembukaan Sidang KWI tahun 2013, tentang motto paus Fransiskus: “Miserando atque eligendo” (Yang hina dan tidak terpandang, dipilih oleh Allah). Motto ini adalah motto yang dipilih ketika beliau ditahbiskan sebagai uskup untuk menunjukkan bahwa semuanya yang beliau terima adalah sungguh-sungguh karena kerahiman Allah. Pengalaman akan kerahiman Allah yang tercurah bagi umat-Nya – kaum kecil dan miskin - di Argentina, telah mewarnai pola pikir dan kehidupan beliau.  Banyak tulisan beliau yang menggambarkan pengalaman iman ini.

Itulah sebabnya, sesudah dilantik menjadi Paus, tanggal 8 Juli 2013 kunjungan pertama beliau adalah ke tempat korban kecelakaan kapal di selatan Itali. Para korban adalah para penumpang kapal orang-orang Afrika yang menyeberang dari Afrika utara ke Itali, namun kapalnya pecah dan tenggelam. Beliau merayakan misa untuk mereka dengan menggunakan altar kayu, juga pialanya adalah piala kayu bekas kapal itu. Hal itu menunjukkan kesederhanaan beliau, tetapi sekaligus bela rasa yang mendalam bagi mereka. Beliau juga mengecam pihak-pihak yang tidak mau peduli pada penderitaan dan kemalangan sesamanya. Tindakan dan kegiatan pembelaan kepada kaum kecil ini, membuat beliau dijuluki “the holy reformer”.

Bapak Agus Gempa yang mewakili Dirjen Bimas katolik Depag Ri, dalam sambutannya mengatakan bahwa “Sukacita Injil yang diserukan Paus sungguh menggema di seluruh dunia, karena keteladanan yang beliau tunjukkan, memberikan harapan, peneguhan, dan kedamaian kepada banyak orang. Seruan itu diikuti oleh tindakan nyata. Apa yang beliau wartakan merupakan usaha untuk mempromosikan keadilan dan perdamaian kepada semua orang”. Perjumpaan personal merupakan langkah nyata untuk menghadirkan Kristus di tengah-tengah dunia dewasa ini yang makin individualistis, materialistis, konsumeris dan hedonis.

Bpk Gomar Gultom yang mewakili PGI juga menyambut hangat seruan Sri Paus itu, yang gemanya telah sampai di bumi Indonesia dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah. Beliau secara pribadi mendapatkan banyak pencerahan dari apa yang termuat dalam Evangelii Gaudium.

Kata-kata manusia yang sebenarnya biasa dan sudah sering dibaca, ternyata ketika disampaikan dalam suasana persaudaraan dan perjumpaan, yang dijiwai oleh Roh Allah, buah-buahnya sungguh luar biasa. Kata-kata itu menjadi hidup dan “berwibawa” karena Allah sendiri yang menghidupkan dan menyampaikan sapaannya kepada pribadi manusia. Melalui kata-kata itu, Allah menjumpai umat-Nya untuk menyatakan kasih-Nya yang tidak terbatas. Kata-kata yang biasa di dalam Dia, menjadi kata yang penuh makna.

SAMBUTAN DUTA VATIKAN

 PEMBACA YANG BUDIMAN

Rasanya baik bahwa apa yang saya dapatkan ini saya teruskan kepada anda.  Sebuah pesan, mungkin kali ini tidak punya arti, namun pada suatu hari, ketika dibaca kembali, kalimat-kalimat yang dulunya diam membisu, ternyata berbicara banyak dan memberikan nilai atau peneguhan yang tidak pernah diduga sebelumnya.  Karena itu, saya teruskan sambutan Duta Vatikan (Mgr. Antonio Guido Filipazzi) sampaikan pada pembukaan sidang KWI tanggal 3 November 2014 yang baru lalu, saya haturkan untuk anda.

Para Konfrater dan Rekan kerja Konferensi Waligereja yang terkasih,

Sidang Umum Tahunan Konferensi Waligereja adalah sebuah momen perjumpaan dan musyawarah penting bagi Anda, para Gembala Gereja terkasih di Indonesia, untuk meningkatkan upaya bagi Keuskupan Anda, bagi komunitas Katolik di negeri ini dan juga bagi masyarakat luas. Saya senang bisa menyampaikan salam hangat dan ucapan selamat bekerja di hari-hari mendatang kepada Anda sekalian.

Dalam diri Anda, saya melihat Gereja-Gereja partikular Anda, yang seturut penglihatan dalam Kitab Wahyu, Andalah para malaekat itu. Saya terkenang akan komunitas-komunitas Keuskupan – Bogor, Palembang, Jayapura, Manado, Bandung, Pontianak, Makassar, Ambon dan Weetebula  – yang sempat saya kunjungi sejak November tahun lalu.

Secara khusus, saya bermaksud menyapa Ketua Anda, Mons. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan berterimakasih atas segala jerih payahnya berkomunikasi dengan Nunsiatura. Sesungguhnya, Konferensi Waligereja dan Perwakilan Kepausan, dalam tugas yang berbeda, sama-sama melayani kehidupan dan perutusan Gereja di Indonesia. Saya berharap agar kerjasama diantara mereka dapat terus berkembang baik dan berdaya guna.

Saya ingin menyalami para Uskup yang baru pertama kali menghadiri Sidang ini: Mons. Paskalis Bruno Syukur OFM, Uskup Bogor, dan Mons. Antonius Subianto Bunyamin, OSC, Uskup Bandung. Salam saya juga ditujukan kepada para Uskup Emeritus, baik yang hadir di sini maupun yang absen (mulai dari yang mulia Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, SJ). Salam khusus saya sampaikan kepada dua emeritus baru, Mons. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap., dan Mons. Michael Cosmas Angkur, OFM, dan salam juga bagi Mons. Andreas Peter Cornelius Sol, MSC, Uskup Emeritus Ambon, yang tahun ini baru saja merayakan  10 tahun tahbisan uskup dan genap 99 tahun usianya, saya sungguh senang bertemu beliau dalam keadaan sehat baru-baru ini di Ambon.

Seperti yang tadi saya katakan, telah terjadi perubahan pimpinan di beberapa keuskupan dalam 12 bulan terakhir (Bogor, Bandung, Pontianak), namun perlu kita sadari bahwa masih ada tiga Keuskupan lain yang menantikan Uskup baru, dan masih dibutuhkan tiga calon baru lain berkaitan dengan telah dicapainya usia 75 tahun beberapa Uskup, dan jangan lupa masih ada rencana pendirian sebuah Keuskupan baru di Sumatra.

Anda semua tahu, cara Bapa Suci menunjuk Uskup-Uskup baru di berbagai Keuskupan Indonesia, yang masih menanti-nantikan mereka, sungguh merupakan upaya cukup pelik. Dalam tugas ini sangatlah penting kerjasama diantara para Uskup sendiri, karena pendapat mereka memiliki bobot tinggi bagi Tahta Suci. Selain berterimakasih atas kerjasama yang telah diberikan kepada saya dan para pendahulu saya hingga saat ini, saya bermaksud merekomendasikan agar kerjasama ini tetap berlanjut dan berkembang.

Saya mau meminta secara khusus agar permohonan yang berasal dari Nunsiatura tentang hal ini – juga tentang hal-hal lain – hendaknya selalu ditanggapi secepat mungkin dan dengan penuh ketepatan serta seluas mungkin, selain selalu perlu dijaga kerahasiaannya. Ini merupakan sebuah kewajiban pelayanan keuskupan, yang bukan hanya melibatkan Keuskupannya sendiri, tetapi juga menyangkut sebuah “sollicitudo omnium Ecclesiarum” (himbauan bagi semua Gereja), mulai dari keuskupan terdekat.

Ajakan saya ini hendaknya diletakkan dalam konteks kerjasama yang lebih luas dalam rangka pertukaran informasi dan hasil refleksi yang selalu harus terbangun di antara Nunsiatura dan para Uskup. Tentang hal ini, saya tidak pernah lelah menekankan betapa penting dan bermanfaatnya wawancara pribadi, yang bagi saya selalu merupakan sumber pemahaman lebih baik dan juga sumber peneguhan yang semoga membantu Anda juga. Sebuah semboyan Latin menyatakan: “Ianua patet, cor magis”. Pintu rumah Nunsiatura saja selalu terbuka bagi Anda, apalagi jantung Nunsiatura. Sekali lagi saya mengajak Anda untuk tidak takut mengambil prakarsa dalam pertukaran informasi ini, meskipun tidak ada masalah-masalah yang perlu segera diatasi.

Untuk itu saya berbahagia bahwa tradisi berjumpa per kelompok selama beberapa malam tetap bisa berlangsung, semoga dalam suasana penuh persaudaraan, santai dan gembira. Saya menyimpan harapan bahwa dalam beberapa hari mendatang Anda bersedia memperhatikan Ekshortasi Kepausan “Evangelii Gaudium” Paus Fransiskus, untuk dimanfaatkan petunjuk-petunjuknya demi pembaharuan karya pastoral.

Jelas saya tidak ingin mengomentari “Evangelii Gaudium”, karena dokumen ini begitu luas dan kompleks, namun agaknya dokumen tersebut berisi petunjuk-petunjuk yang konkrit dan bermanfaat (misalnya, bagaimana seharusnya bentuk kotbah-kotbah kita; n.135-144). Saya bermaksud menawarkan kepada Anda beberapa pemikiran yang diambil dari sambutan Bapa Suci baru-baru ini berkaitan dengan teks magisterium beliau (sambutan 19 September 2014), yang mau tidak mau menginterpretasikan secara lugas Ekshortasi Kepausan.

Ada apa dengan dokumen ini? Menurut Bapa Suci, “ada saat-saat….. dimana perutusan pokok Gereja, yaitu mewartakan Injil………. menjadi lebih mendesak dan tanggungjawab kita perlu diperbaharui kembali”. Sesungguhnya, dewasa ini ada banyak “orang letih dan lesu” yang menantikan Gereja, menantikan kita! Mereka adalah “orang yang terluka…… membutuhkan kedekatan kita……. memohon dari kita apa yang mereka mintakan kepada Yesus: kedekatan dan keakraban”. Dalam “Evangelii Gaudium”, misalnya, Bapa Suci menghimbau agar setiap paroki “selalu berkomunikasi dengan keluarga dan menyatu bersama umat serta jangan menjadi sebuah struktur yang berbelit-belit terpisah dari umat atau menjadi sebuah kelompok yang hanya memikirkan diri mereka sendiri” (n. 28).

Bagaimanapun juga, Bapa Suci mengingatkan akan sebuah bahaya yang mungkin: yaitu mereduksi karya pastoral menjadi “sekedar sebuah rangkaian prakarsa, tanpa berhasil menangkap makna pewartaan Injil. Kadangkala kita lebih sibuk memperbanyak kegiatan daripada menjadi peka terhadap umat dan kebutuhan umat bertemu Tuhan. Karya pastoral yang tidak memperhatikan hal ini lama-lama akan menjadi steril”. Celakalah bila kita sampai kehilangan makna hidup menggereja!

Selanjutnya, Paus Fransiskus mengingatkan sebuah prinsip dasar: “Sebuah karya pastoral tanpa doa dan kontemplasi tak akan pernah menyentuh hati manusia. Ia hanya berhenti di permukaan tanpa membiarkan benih Sabda Tuhan melekat, bersemi, tumbuh dan menghasilkan buah”. Dalam “Evangelii Gaudium”, Bapa Suci menulis: “Motivasi awal mewartakan Injil adalah cinta pada Yesus yang telah kita peroleh, mengalami arti diselamatkan oleh Dia yang mendorong kita untuk selalu lebih mencinta…… Oleh karena itu sangat mendesaklah mendapatkan kembali semangat kontemplatif” (n. 154).

Penekanan-penekanan pendek ini membuat kita memahami bagaimana “Evangelii Gaudium” mau mengajak kita mengambil sebuah model pastoral serupa, daripada memperbanyak diskusi dan karya lahiriah. Beliau mengajak kita menjumpai Tuhan dan sesama dan membuat agar melalui pelayanan kita Tuhan dan manusia bisa berjumpa. Akhirnya, semua bersandar dan bergantung pada hal ini!

Selama hari-hari Anda menjalani sidang umum ini, liturgi Gereja mengajak mengenang beberapa Gembala Kudus: S. Carolus Borromeus, yang di Indonesia sosoknya dikenang melalui rumah sakit di berbagai tempat; S. Martinus, Uskup pertama bukan martir yang Gereja rayakan pestanya; S. Josaphat, seorang martir persatuan Gereja di haribaan Pengganti Petrus. Kasih, kekudusan dan persatuan: inilah pesan-pesan para Uskup teladan yang bisa menuntun kita dalam hari-hari ini. Melalui perantaraan mereka, kita percayakan entah dalam refleksi atau musyawarah dalam pertemuan, entah dalam pelaksanaan seluruh pelayanan kita, yang arahnya membawa “Evangelii Gaudium”, kegembiraan Injil, kepada semua orang!

Selamat bekerja! Terima kasih!

Mgr. Antonio Guido Filipazzi

Semoga anda menemukan mutiara-mutiara yang indah di dalamnya. Sering kali melalui kata-kata manusia yang nampaknya tidak berarti, atau tidak menarik, Roh Tuhan dapat menghidupkan semuanya itu menjadi sarana / sapaan cinta kasih Allah kepada anda baik secara pribadi maupun sebagai anggota keluarga atau anggota masyarakat.

Minggu, 02 November 2014

2 NOVEMBER

PEMBACA YANG BUDIMAN

Tanggal 2 November bagi orang-orang katolik diperingati sebagai hari arwah semua orang beriman. Ajaran ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya, paling tidak sejak saya mengenalnya, yaitu ketika duduk di kelas III SD. Dasar ajaran ini adalah jiwa / arwah manusia tetap hidup, meski fisiknya sudah mati. Jiwa / arwah ini akan naik ke surga karena selama hidupnya penuh dengan kesalehan dan kesucian, sedangkan yang masih ada tanggungan dosa perlu disucikan dulu di api penyucian.

Dalam kenyataannya yang meninggal bukan hanya orang-orang yang beriman kepada Allah, tetapi juga orang-orang yang tidak beriman mengalami kematian juga. Ke mana kah atau di mana kah mereka sesudah meninggal ?  dalam renungan tentang kematian, saya tiba pada keyakinan bahwa mereka meski tidak beriman, namun hidupnya baik, saleh dan suci, akan masuk dalam kebahagiaan abadi di surga. Tuhan adalah Allah yang maharahim, maha pengampun dan maha mengetahui hidup dan batin manusia. Dialah yang akan memutuskan jiwa mereka ke mana.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kiriman imil yang berisi renungan meskipun ungkapannya berupa pertanyaan. Renungan itu saya tuturkan untuk anda juga. Mari kita simak isinya:

1: "Apakah yg PALING TAJAM di dunia ini ?"
Umatnya menjawab dengan serentak "Pedang."
Jawab Tuhan : Yg paling tajam adalah "lidah manusia" karena melalui lidah, manusia dengan mudah memfitnah orang, menyakiti hati, melukai perasaan orang, dll.

2: Apa yg PALING JAUH dari diri kita di dunia ini?
Ada yg menjawab: "Antariksa, bulan, matahari."
Jawab Tuhan : Yg paling jauh adalah “masa lalu". Siapa pun kita, bagaimanapun & betapapun kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini & hari2 yg akan datang.

3: Apa yg PALING BESAR di dunia ini? Ada yg menjawab "Gunung, bumi, matahari". Jawab Tuhan : Yg paling besar yg ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu hati2 dengan hawa nafsu..!

4: "Apa yg PALING BERAT di dunia ini?" Ada yg mnjawab : "Baja, besi, gajah." 
Jawab Tuhan : Yg paling berat adalah "berjanji". Hal yg gampang diucapkan tapi sulit dilakukan. 

5: "Apa yg PALING RINGAN di dunia ini?" Ada yg menjawab "Kapas, angin, debu, daun."
Jawab Tuhan :Yg paling ringan di dunia ini adalah "Melupakan KU & meninggalkan KU" . Lihatlah banyak orang yang karna harta, tahta dengan mudahnya meninggalkan Aku

6: Apa yg PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini? Ada yg menjawab: "Orang tua, sahabat, teman, kerabat."
Jawab Tuhan : Yg paling dekat dengan kita adalah "KEMATIAN". Sebab kematian adalah PASTI adanya & tiap detik bisa terjadi.

Dan terakhir pertanyaan bonus dari Tuhan: "Apakah yang paling gampang di dunia ini?" Mereka menjawab "Makan, tidur, nongkrong dll"

Jawab Tuhan : Yang paling gampang adalah " BAGIKAN STATUS INI ", maka akan jadi renungan yang bermanfaat bagi teman2 yg lain. 

Saya berpendapat, orang tua, guru dan siapa pun yang ada di sekitar kita dapat dan bisa membantu kita untuk makin kaya dalam nilai-nilai,  pengetahuan dan kebijaksanaan.  Meskipun demikian, menjadi orang baik atau tidak, merupakan keputusan orang yang bersangkutan.  Apa yang dia usahakan setiap hari, itulah yang akan dia panen, dan dipersembahkan kepada Tuhan  pada saat kematian. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan hari kematiannya. Maka, bersiap diri untuk tetap hidup baik adalah keputusan yang harus diambil setiap hari.

BUPUL 10

Bupul adalah nama sebuah desa. Jaraknya kira-kira 180 km dari kota Merauke. Saat ini jalanan cukup bagus dan kering, sehingga jarak 180 km itu dapat dijangkau dengan mobil atau sepeda motor dalam waktu 3 jam. Sedangkan pada musim hujan, jarak tempuh menjadi lebih lama. Beberapa tahun yang lalu bahkan, para penumpang terpaksa harus bermalam di perjalanan, karena jalananan berlumpur dan banyak truk / kendaraan besar yang terjebak di lumpur dan tidak bisa keluar.

Di Bupul ada sebuah paroki.  Nama paroki di sana adalah St. Petrus dan Paulus. Paroki ini melayani umat yang tersebar di 12 stasi. Jumlah penduduk kira-kira 10.000 orang, dan yang terbanyak adalah para transmigran dari Jawa dan Flores pada tahun 1980-an. Penduduk yang beragama katolik, sekitar 3.900 jiwa. Mereka hidup dalam suasana damai, rukun dan sering bekerja sama dengan saudara-saudara non kristen, untuk menciptakan kehidupan yang makin sejahtera.

30 tahun yang lalu, Bupul menjadi salah satu tujuan dari transmigran yang berasal dari Jawa dan Flores. Jalan raya trans-Papua yang sebagian telah beraspal memang melewati desa  Bupul, namun untuk ke wilayah-wilayah transmigran, jalan-jalan masih berupa jalan tanah yang dipadatkan. Para transmigran perlu waktu 1 minggu untuk sampai di pemukiman mereka yang baru. Di Jalan-jalan yang masih berlumpur, terpaksa mereka bermalam karena kendaraan mereka tidak bisa bergerak lagi akibat terjebak di lumpur yang cukup dalam. Dengan bantuan alat-alat berat, truk-truk mereka bisa ditarik keluar dan meneruskan perjalanan.

Di tempat yang baru itu, setiap kepala keluarga mendapatkan 2 hektar tanah, dengan perincian sbb: ¼ hektar tanah untuk rumah dan pekaranga, ¾ hektar sawah dan 1 hektar lahan perkebunan. Pemerintah pusat dan daerah memberikan kepada mereka jaminan hidup selama 2 tahun. Sesudah kurun waktu itu, mereka dianggap sudah bisa berdikari, dan bantuan dari pemerintah dihentikan. Mereka yang ulet dan tahan bantingan memang hingga kini masih di tempat pemukiman itu, sedangkan mereka yang tidak kerasan, beberapa waktu kemudian pulang ke kampung halaman. Semua harta yang diberikan pemerintah dijual dengan harga murah, yang penting mereka bisa pulang kampung.

Ternyata ada pula yang berubah pikiran dan tidak pulang kampung. Mereka memilih tinggal di Merauke dan kerja serabutan. Ada yang jadi kuli bangunan, atau jadi tukang, ada yang jadi sopir angkot, ada pula yang kerja di pelabuhan.  Sesudah sekian tahun, kehidupan mereka tokh lumayan. Yang tetap tinggal di daerah transmigran banyak yang sudah punya rumah yang bagus, dapat menyekolahkan anak-anak mereka, bahkan mempunyai tabungan. Sedangkan mereka yang bekerja di kota Merauke pun, banyak yang menjadi orang-orang yang berkecukupan.

Jalan-jalan di Bupul 10 sekarang sudah bagus dan diratakan kembali pada musim panas. Ternyata di pemukiman itu, ada juga pemukiman-pemukiman para transmigran yang besar jumlahnya. Di bupul 6, 7, 9, 11, 12 dan 13 terdapat sejumlah besar transmigran dari Jawa dan NTT.  Mereka yang tetap bertahan di sana, kehidupannya sudah jauh lebih baik. Di sana mereka menanam rambutan, durian, jeruk, pete dll, juga tanaman jenis palawija. Saat ini, bisa dikatakan bahwa mereka tidak akan pernah kelaparan lagi.

Tansportasi yang makin baik, listrik yang sudah masuk dan fasilitas pendukung kehidupan (insfrastruktur, puskesmas, sekolah, pos-pos keamanan) telah lebih maju. Juga bantuan-bantuan dana dari pemerintah tetap diberikan kepada mereka. Memang ketika musim hujan, jalan yang masih berupa tanah liat itu berubah menjadi lumpur. Dalam situasi seperti ini, kehidupan memang agak sulit, namun karena mereka telah terbiasa menghadapi situasi tahunan yang demikian ini, tokh mereka tetap bertahan di sana.

Kehidupan bersama, dan kerukunan beragama terjamiin. Mereka mendirikan rumah ibadat yang saling berdekatan. Fakta ini ternyata malah membuat kerja sama, saling menjaga keamanan, saling menunjungi dan bertoleransi sungguh terjadi.  Mereka yang hidup di desa-desa malah “lebih menghayati dan mengembangkan makna kebersamaan bukan hanya dalam tataran makan minum, tetapi juga dalam tataran rohani dan mental.
Ketika di Bupul 10 ada pemberkatan gereja baru, saudara-saudari yang beragama non katolik pun hadir. Kami semua makan bersama dari meja hidangan yang sama.  Ada banyak warga non katolik yang terlibat dalam membangun gereja, membersihkan halaman rumah mereka masing-masing, menjemput uskup, menyiapkan hidangan, hiasan janur, dan menjaga keamanan selama ibadah berlangsung.

Di tempat itu, amat nyata bahwa berkat dan karunia yang diterima oleh umat katolik, ternyata bukan hanya untuk mereka. Semua warga Bupul 10 juga mengalaminya. Tuhan yang Esa, yang dihormati dengan cara yang berbeda menurut ajaran agama masing-masing, adalah Tuhan yang mempersatukan dan mencintai anak-anak-Nya. 

Selasa, 28 Oktober 2014

KRISMA

PEMBACA YANG BUDIMAN


Dalam kurun waktu 2 bulan, telah dilaksanakan beberapa kegiatan penerimaan krisma di paroki Muting, Kepi, Aboge, Kuper, Buti dan Kampung Baru. Jumlah mereka lebih dari 400 orang. Krisma adalah sakramen keempat, yang pada umumnya diterima oleh mereka yang berumur 17 tahun. Sakramen ini disebut sebagai sakramen kepenuhan inisiasi. 
 
Sakramen inisiasi adalah 4 sakramen awal yang diterima oleh setiap orang katolik: sakramen permandian, pertobatan, ekaristi dan krisma. Krisma adalah sakramen “penutup” dari seluruh rangkaian, sehingga disebut sakramen kepenuhan dari tahap inisiasi itu. Terlebih lagi, dengan menerima krisma, sang penerima direstui dan diteguhkan “seluruh karunia yang telah diterimanya” dan dinyatakan telah dewasa dalam iman, oleh pejabat gereja. Dengan demikian, mereka ini secara resmi diutus / diberi tanggung jawab untuk memberikan kesaksian iman akan Kristus dan Gereja-Nya. 
 
Ketika menerima 3 sakramen pertama: permandian, pertobatan dan ekaristi, mereka “dihantar masuk untuk lebih mengenal dan mengalami Kristus, kasih-Nya dan umat-Nya. Di dalam persekutuan itu, mereka diperkaya / dibekali agar makin tumbuh dalam iman, harapan dan cinta kasih, bersama dengan saudara-saudari seiman. Dan dengan menerima krisma, mereka menerima anugerah-anugerah yang mereka butuhkan, agar makin mantap dan setia dalam melaksanakan perutusan sebagai saksi Kristus. 
 
Mereka sebagai kaum awam muda, diutus untuk menjadi orang baik, jujur, setia, rendah hati, rela berkorban, melayani, dan tentu membela / berbicara tentang kebenaran.Adanya penerimaan krisma di beberapa paroki menunjukkan bahwa minat, dan kesadaran kaum muda akan kesatuan dengan Allah, dan kerinduan untuk mengalami kasih setia-Nya ketika berada di tengah-tengah dunia yang makin berubah ini, tetap tumbuh. Kesetiaan mereka untuk mengikuti pembinaan, kesiapan mereka untuk mempelajari kembali kekayaan iman yang tertulis dalam Kitab Suci, dalam buku-buku pelajaran agama, dan praktek hidup sehari-hari tetap mereka perhatikan. 
 
Pembinaan itu merupakan modal dan kekuatan untuk menjadi garam dan terang di tengah-tengah masyarakat, bukan pertama-tama untuk berkata-kata (mengajar) tetapi terlebih dengan berprilaku yang baik, dan membawa damai bagi masyarakat. Banyaknya penerima krisma menjadi tanda bahwa kaum muda tetap memperhatikan hidup rohani. Allah tetap menjadi sumber dan kekuatan hidup, dan perjuangan untuk meraih masa depan yang gemilang.

Sabtu, 18 Oktober 2014

MUSYAWARAH PASTORAL TAHUN 2014

PEMBACA YANG BUDIMAN



Musyawarah Pastoral (muspas) Keuskupan tahun 2014, berlangsung tanggal 12 sore hingga tanggal 17 November 2014.  Semua berjalan dengan baik dan lancar, karena kasih Tuhan, kerja keras Panitia dan tentu saja partisipasi seluruh peserta.  Inilah sambutan saya, ketika membuka muspas itu.



SAMBUTAN USKUP PADA MUSPAS 2014


Bapak Bupati
Para Kepala Dinas
Para Undangan / utusan dari Instansi Mitra kerje Keuskupan
Para pastor, Bruder, Suster, Petugas Gereja

Syaloom

Selamat Datang pada Pembukaan Musyawarah Pastoral (muspas) Keuskupan Agung Merauke, yang dilaksanakan tanggal 13 18 Oktober 2014. Musyawarah Pastoral Keuskupan adalah Rapat Tahunan para petugas pastoral paroki, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam pelayanan pastoral di Paroki. Pada tahun-tahun sebelumnya, para peserta muspas adalah uskup dan perangkatnya (vikjen sekretaris dan ketua-ketua komisi), para pastor, petugas gereja, perwakilan paroki-paroki, dan ketua-ketua komisi keuskupan, serta perwakilan tarekat-tarekat yang berkerja di keuskupan. Mulai tahun 2014, para peserta muspas adalah uskup dan perangkatnya, para pastor dan para petugas gereja yang diangkat sebagai administrator paroki serta petugas gereja yg melaksanakan tugas pastoral paroki.

Fokus perhatian dan sekaligus menjadi tema dari muspas tahun ini adalah “KELUARGA SEBAGAI INTI KOMUNITAS BASIS GEREJANI”. Melalui tema ini, keuskupan hendak menggali kekayaan dasar dari keluarga-keluarga kristiani, yang merupakan persekutuan hati, pikiran, jiwa dan raga antara bapak, ibu dan anak-anak seumur hidup dalam iman akan Kristus untuk mencapai kebahagiaan hidup. Kekayaan dasar yang ditemukan itu, hendak disadari, diakui, dihidupi dan dikembangkan dalam komunitas-komunitas basis, agar kebahagiaan yang dicita-citakan oleh masing-masing anggota keluarga diteguhkan dan dengan demikian dapat tercapai dengan lebih sempurna.

SITUASI MASA KINI
Di dalam dunia dan masyarakat yang sudah sedemikian maju dan berkembang di belahan dunia yang satu, masih ada banyak negara dan masyarakat yang dengan susah payah mengikuti perkembangan itu. Namun, negara dan masyarakat ini seakan-akan dituntut untuk mengikuti semua perkembangan itu, segera. Maka, terjadilah gejolak dan kepincangan serta penyelewengan yang dirasakan di mana-mana.
Dalam suratnya, yang diterjemahkan ke dalam 8 bahasa termasuk Arab, Jerman dan Polandia, Paus Fransiskus memperingatkan bahwa “Gereja dipanggil untuk mewartakan Injil dengan menghadapi kebutuhan pastoral yang baru dan mendesak yang dihadapi keluarga.”
Beliau menjelaskan sinode tentang keluarga tahun 2014 ini merupakan “pertemuan penting” yang “akan melibatkan semua Umat Allah – uskup, imam, religius pria dan wanita, serta umat awam dari Gereja-gereja partikular di seluruh dunia – yang semuanya aktif berpartisipasi dalam persiapan untuk pertemuan melalui saran-saran praktis dan dukungan doa.” Paus meminta keluarga-keluarga berdoa untuk pertemuan di Vatikan tersebut, yang menekankan panggilan dan misi Gereja dalam masyarakat Anda, tantangan pernikahan, kehidupan keluarga, pendidikan anak-anak, dan peran keluarga dalam kehidupan Gereja.”
TANGGUNG JAWAB SEJARAH:
Seratus sepuluh tahun yang lalu, Gereja hadir untuk membantu sesama manusia yang mau berkembang sebagai manusia yang bermartabat. Misi ini tetap diemban hingga saat ini oleh kita semua orang melalui pembinaan keluarga, pembinaan kaum muda dan anak-anak. Tanggung jawab ini melekat pada kita sekalian, dan menjadi pertimbangan penting bagi pelayanan dan pengembangan umat Allah pada masa kini dan masa mendatang. Itulah sebabnya, kita sekalian berkumpul agar dapat terbantu dalam membaca tanda-tanda jaman, kebutuhan-kebutuhan umat pada sekarang, dan menentukan tindakan kongkrit yang sesuai dengan harapan mereka.
HAL-HAL YANG PERLU DICERMATI:
Pada dawasa ini, realita realita perkembangan ilmu dan teknologi, pertemuan banyak budaya, pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, masuknya alat-alat transportasi dan alat-alat berat, banjirnya barang-barang kebutuhan hidup, dialami oleh masyarakat di seluruh dunia. Kita patut bersyukur bahwa kita bisa juga menikmati kemajuan-kemajuan itu. Banyak hal dan pekerjaan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan. Kita patut juga berterima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan semuanya ini ada di kota Merauke dan di pedalaman-pedalaman.
Di sisi lain, lain kita mengalami pula hal-hal ini:
  1. Keberagaman budaya yang bisa mengakibatkan orang kehilangan budayanya sendiri
  2. Lemahnya SDM dalam bidang pendidikan, keahlian, dan menejemen
  3. Cepatnya perubahan / pembangunan sedangkan masyarakat lokal tidak / belum siap
  4. Infrastruktur tidak ada / terbatas sehingga banyak hal menjadi terhambat dan terlambat
  5. Kurang / tidak ada pembina umat dan masyarakat yang purna waktu atau paruh waktu
  6. penyalah gunaan narkoba
  7. Penyakit-penyakit baru: AIDS, Ebola, Virus Arab Saudi
  8. Rusak / hilangnya lingkungan hidup
  9. Perkawinan campur
  10. Jumlah kaum penganggur yang begitu besar
  11. Banyak sekali anak-anak jalanan korban aibon, dan obat-obat perangsang lainnya

PESAN PAUS FRANSISKUS PADA SINODE TENTANG KELUARGA
Paus Fransiskus membuka Sinode para uskup dari seluruh dunia pada Minggu (5/10) di Vatikan - dengan mengingatkan tentang “gembala yang buruk” yang terlalu membebani umat beriman. Paus Fransiskus berbicara dalam homili pada Misa pembukaan Sinode di Basilika Santo Petrus yang berfokus pada perjuangan kehidupan keluarga modern. Mengacu pada bacaan Misa untuk hari itu dan peringatan Nabi Yehezkiel tentang gembala yang memikirkan diri mereka sendiri, bukan domba mereka, Paus mengatakan sejumlah gembala juga tergoda oleh “keserakahan demi uang dan kekuasaan.”
Untuk memenuhi keserakahan ini “gembala yang buruk” meletakan beban yang berat di pundak orang lain, yang mereka sendiri menolak,” kata Paus Fransiskus. Paus juga menjelaskan tentang tujuan Sinode itu diadakan. “Sinode ini tidak dimaksudkan untuk membahas ide-ide yang indah dan cerdas, atau melihat siapa yang lebih cerdas,” kata Paus Fransiskus. Menurutnya, “Sinode ini dimaksudkan untuk memelihara kebun anggur Tuhan dengan lebih baik, membantu mewujudkan mimpi-Nya, rencana-Nya, mencintai umat-Nya.”
ARTI KELUARGA
Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")[1]adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.[1]
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.[1]
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.[2]
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.[3]
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)


Keluarga-keluarga katolik dibentuk atau lahir melalui perkawinan katolik. Sudah berabad-abad lamanya diajarkan dan diterima dengan hati damai bahwa perkawinan katolik itu bersifat monogam, tidak dapat diceraikan dan sakramental. Saudara-saudara kita yang non katolik pun telah memahami dan menerima serta memperjuangkan supaya perkawinan itu monogam dan tidak diceraikan. Mengapa perkawinan itu dikehendaki dan diperjuangkan tetap monogam dan tak terceraikan ?


Ada 5 nilai yang sekaligus merupakan tujuan yang dikehendaki, diperjuangkan dan dihidupi oleh pasangan suami istri, dan keluarga-keluarga:
  -   Kebahagiaan dan kesejahteraan hidup pasangan suami istri  
  -  Kebahagiaan dan kesejahteraan bapak, ibu dan anak-anak
  -  Persekutuan dan kerukunan hidup keluarga bersama dengan para tetangga dan masyarakat sekitarnya 
  -  Kedamaian hidup sebagai orang beriman dalam melaksanakan perutusannya
  -  Damai dan sejahtera dalam hidup di alam dan lingkungan hidup yang terpelihara, bersih dari limbah, indah dan penuh dengan pelbagai makhluk hayati.


 
Marilah kita hadir dan aktif berpartisipasi dalam muspas ini. Kita berdoa agar semua yang kita bahas mengenai keluarga dan permasalahannya, dan langkah-langkah yang akan kita ambil merupakan tanda rahmat yang besar bagi umat di seluruh keuskupan. 
 
Merauke, 12 Oktober 2014



    Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC   

Jumat, 03 Oktober 2014

22 WARGA KAMBODIA KORBAN PERDAGANGAN MANUSIA


“Selamat malam, bapa uskup. Maaf saya mengganggu. Saya mau melaporkan bahwa saya sedang menangani orang-orang Kambodia yang melarikan diri dari kapal ikan. Mereka masih di pelabuhan”. Demikian informasi pada malam itu, Selasa 30 September 2014 kepada saya. Waktu sudah menunjukkan jam 22.30. Sesudah mendapat informasi itu, saya segera menuju ke kantor Sekretariat Keadilan dan Perdamaian untuk mengetahui secara langsung keadaan orang-orang Kambodia itu. Menurut laporan malam itu, mereka adalah para nelayan yang bekerja di kapal Thailand. Akibat perlakuan yang tidak manusiawi, dan mereka sudah berbulan-bulan lamanya tidak digaji, akhirnya ketika di Merauke, mereka nekad lari dan mencari perlindungan.

Sekretariat kami pada siang itu mendapatkan telepon dari Lembaga IOM ( International Organization for Migration), kemudian segera melakukan pencarian atas para nelayan yang lari tersebut. Menurut informasi, salah seorang dari mereka menelpon keluarganya di Kambodia. Lalu keluarganya melaporkan hal itu kepada IOM di negara mereka. Laporan itu ditindaklanjuti oleh IOM Kambodia untuk meminta bantuan IOM Indonesia di Jakarta. Demikianlah, mereka yang terlantar itu dapat segera mendapatkan pertolongan.

Malam itu, saya mengontak Bp. Van Vithyea (sekretaris kedua) Kedubes Kambodia di Jakarta. Saya mengabarkan bahwa di Merauke ada para nelayan Kambodia yang terlantar. Mereka melarikan diri dari kapal Thailand, karena perlakuan tidak manusiawi selama mereka bekerja di kapal itu. Jumlah mereka 25 orang, dan kini kami tolong. Mereka menginap di tempat kami. Pihak kedubes yang dihubungi menegaskan bahwa dalam waktu dekat mereka akan mengirim utusan ke Merauke. Atas nama pemerintah Kambodia, beliau mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada warga negara mereka.

Hari ini, kamis 3 September 2014 bapak Vithyea telah tiba di Merauke, didampingi oleh bapak Hendra. Beliau telah bertemu dengan para nelayan itu, dan memberikan kesaksian bahwa mereka benar-benar warga negara Kambodia. Ada di antara mereka yang telah bekerja 1,5 tahun di kapal itu namun tidak mendapatkan gaji yang sesungguhnya. Pada awalnya mereka dijanjikan akan mendapatkan gaji yang tinggi. Namun, ketika sudah mulai bekerja, surat-surat dan passport mereka ditahan. Di buku perjalanan kapal, mereka disebutkan sebagai warga negara Thailand. Identitas mereka disembunyikan. Gaji tidak pernah diberikan, dan mereka hanya mendapatkan makan serta uang seadanya.

Jumlah mereka ternyata hanya 22 orang. Dari jumlah itu, 2 orang kemudian berhasil dibujuk oleh bos kapal KUMANA I sehingga kembali ke kapal, sedangkan 20 orang tetap bertahan untuk tidak kembali karena mereka takut akan nasib mereka, ketika dalam perjalanan pulang ke negara mereka bila tetap ikut bos kapal itu. Mereka telah trauma akan perlakuan tidak manusiawi yang telah mereka alami. Mereka memutuskan untuk ikut petunjuk pihak kedubes, bahwa mereka akan dipulangkan oleh pihak kedubes, setelah urusan dengan pihak imigrasi dan kepolisian Merauke sudah selesai.

Saya telah menyampaikan informasi via telepon kepada bapak Sekretaris Daerah Kab. Merauke atas situasi dan penanganan kepada para nelayan itu. Pihak Sekretariat Keadilan dan Perdamaian juga telah memberikan informasi kepada pihak kepolisian. Sedangkan informasi lebih lanjut secara tertulis akan disampaikan pada hari Senin.  Bapak Vithyea juga mewawancari mereka satu per satu, agar menjadi jelas siapa dan bagaimana pengalaman mereka selama bekerja di kapal, dan tentu hal-hal penting lain sehubungan dengan kepulangan mereka. 

Para nelayan itu adalah korban dari tindakan “perdagangan manusia”. Mereka benar-benar tidak berdaya ketika berada di kapal asing, dan berada di laut atau di tempat yang tidak mereka kenal. Syukurlah ada alat komunikasi yang memungkinkan mereka untuk mengontak keluarga mereka. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang menyimpan nomor-nomor telepon penting, sehingga mereka masih bisa ditolong. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang tahu bahasa Indonesia sepotong-sepotong.

Yang lebih membanggakan bahwa di negara mana pun, tetap ada orang baik dan ada lembaga kemanusiaan yang rela menolong para korban dengan rela hati. Syukurlah bahwa secara internasional telah ada lembaga yang melindungi dan memperjuangkan kebebasan para korban “kejahatan kemanusiaan yang terselubung ini”. Kejahatan kemanusiaan dapat mengancam siapa saja dan kapan saja. Lebih-lebih orang-orang yang sederhana dan belum kenal “mulut manis tetapi sesungguhnya srigala berbulu domba”, atau orang-orang yang tergiur oleh iming-iming gaji yang besar, akan dengan mudah menjadi korban tindakan kejahatan ini.

Menolong para korban memang penting, namun memberikan informasi akan bahaya yang mengancam kemanusiaan kepada masyarakat amatlah penting, agar korban-korban yang baru akan dapat dikurangi atau dihindarkan. Sekarang ini mereka yang menjadi korban, moga-moga bukan anda atau keluarga anda yang akan menjadi korban selanjutnya. Menjual manusia memang menggiurkan karena mendapatkan uang banyak....namun itu melawan hati nurani. Menurut bahasa orang beriman, tindakan itu adalah dosa.