Jumat, 27 Maret 2015

KEKUATAN PEREMPUAN

PEMBACA YANG BUDIMAN 

SYALOOM 

Pagi ini, 27 Maret 2015, sebelum mengerjakan yang lain-lainnya, saya membuka blog....... Ya ampun, bulan Maret ini, tidak ada 1 tulisanpun..... Lalu, saya duduk, dan membaca tulisan-tulisan yang masuk.  Ada satu yang menarik, dan kiranya baik kalau dilihat maknanya. Ada seseorang yang mengirimkan tulisan itu kepada saya. Dengan polos tulisan itu saya renungkan dan saya cermati. Memang, yang tertulis di sana banyak kali terjadi di mana-mana.  

Dalam hal ini, bukan persoalan anda setuju atau tidak setuju. Saya hendak mengangkat melalui tulisan ini, kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Demikian itulah yang terjadi, dan karena itu sudah terbiasa orang melihat dan mengalami peristiwa itu. Maka, hal itu dianggap biasa, sederhana, bahkan dikatakan sudah menjadi kodrat / naluri perempuan. Akibatnya, tidak ada penghargaan kepada mereka.  


Inilah tulisan yang dikirmkan ke saya dan saya teruskan kepada anda:  


Tahukah anda, bahwa wanita lebih kuat dan perkasa daripada pria ?  Seseorang pernah mengadakan permenungan dan inilah penemuannya:

1.       Balita laki-laki lebih gampang stuip (kejang-kejang karena miningitis) daripada balita perempuan kalau sakit panas tinggi
2.       Pria diciptakan Tuhan dari bahan dasar tanah liat, sedangkan wanita dari bahahan dasar tulang. Tulang lebih kuat daripada tanah liat....
3.       Hawa disebut penolong adam. Yang menolong umumnya lebih kuat daripada yang ditolong
4.       Laki-laki kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Waktu pulang mengeluhnya gak ketulungan. Dia bilang capek. Perempuan kerja di rumah dari matahari belum terbit sampai menjelang tengah malam, tetapi tidak mengeluh.
5.       Suami berjalan dengan istrinya di mall selama 1 jam saja sudah bilang jenuh. Perempuan berjalan dengan suaminya dari Mall buka sampai Mall tutup gak ada jenuhnya
6.       Perempuan ditinggal mati suaminya, mampu tidak menikah lagi sampai mati, sambil kerja dan membesarkan anak. Tetapi laki-laki ditinggal mati istrinya, cenderung kawin lagi.
Perempuan seharian ddi rumah dengan anak-anak yang masih kecil, bisa mengatasi. Laki-laki seharian dengan anak kecil....bisa darah tingginya kambuh

Apa yang terjadi pada diri kita ketika masih kecil ? . Perempuan yang memperlakukan semua itu untuk kita pribadi adalah perempuan yang kita sebut: ibu, mama, mami, simbok, mother atau sebutan lainnya.  Yang pasti perempuan itu telah berjasa, sebelum kita lahir, pada saat di kandungan, ketika baru saja lahir, dan akhirnya mulai mengerti dunia ini .....belajar di dalamnya, dan kita dapat turut ambil bagian untuk mengembangkannya.

Pantaslah kita berterima kasih kepada kaum perempuan, yang telah “tidak pernah jemu menggarap hal-hal yang sulit, kotor, ditelantarkan, bau, dan tidak mengenakkan bahkan menuntut pengorbanan besar”. Mereka mempertaruhkan nyawa / hidup mereka sendiri agar sesamanya, khususnya anak yang dicintainya hidup dan berkembang.  Mereka tidak menuntut imbalan yang setimpal dengan pengorbanan mereka.


Pada masa pra-Paska ini, kekurangan-kekurangan / kekeliruan / tindak kekerasan dll yang telah kita perbuat kepada kaum perempuan, khususnya kepada ibu / mama / simbok kita pantaslah kita sesali. Kita mohon ampun kepada Tuhan atas semuanya itu. Semoga kaum perempuan mendapatkan kasih dan kemuliaan yang besar, karena mereka telah menjadi “anak kandung” dan anak-anak lain menjadi berharga di mata masyarakat, dan tengah-tengah dunia ini, dan tentu saja berharga di mata Tuhan. 

Kekuatan itu bukan kekuatan fisik, tetapi kekuatan mental, spiritual dan sosial yang memungkinkan mereka bertahan dalam kesulitan, dan setia dan derita. Maka, setiap orang yang melatih kekuatan-kekuatan ini, akan menjadi kuat dalam menghadapi aneka peristiwa dalam hidup ini. 

Rabu, 25 Februari 2015

SPIRUALITAS DAN PEMBERANTASAN MALARIA

Pembaca yang budiman

Tanggal 24 Februari 2015, saya diundang oleh Perdhaki (Persatuan Karya Dharma untuk Pelayanan Kesehatan di Indonesia) untuk melihat segi spiritualitas Gereja, dalam pelayanan pemberantasan Malaria.  Buah permenungan atas spiritualitas itu, saya haturkan untuk anda. Selamat menikmati butir-butir mutiara yang ada di dalamnya.


KEIKUTSERTAAN GEREJA LOKAL (KEUSKUPAN)
PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA
DI KAWASAN TIMUR INDONESIA
                                     Sebuah tinjauan spiritual

Manusia adalah makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan utuh dari badan, jiwa dan roh.  Sebagai orang beriman kami percaya bahwa manusia adalah CIPTAAN TUHAN YANG SECITRA DENGAN DIA ( Kej 1 : 26 – 27 ).

 Allah berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

TUHAN ALLAH MENEMPATKAN MANUSIA DI TEMPAT YANG AMAT BAIK

TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya. Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu ( Bdk. Kej 2: 9 – 15 ).

Kaum muda Papua mengalami berkat Tuhan yang berlimpah di tanah ini. Bagi mereka ( dan bagi kami juga ), pulau ini begitu kaya dan indah. Pengalaman itu diungkapkan dalam lagu berikut ini:  

LAGU TANAH PAPUA:

Di sana pulauku yang membisu slalu
Tanah Papua pulau indah
Hutan dan lautmu yang membiru slalu
Cendrawasih burung emas

Gunung-gunung lembah-lembah
Yang penuh misteri
Kaupuja slalu keindahan alamku yang mempersona
Sungaimu yang deras mengalirkan emas
Syo ya Tuhan trima kasih.

Sebuah pengakuan diri yang lebih mendalam, atas identitas sebagai anak Papua, diungkapkan dalam lagu ini:

AKU PAPUA

Tanah Papua tanah yang kaya - Surga kecil turun ke bumi
Seluas tanah sebanyak batu - Adalah tanah harapan
Tanah papua tanah leluhur - Di sana aku lahir
Bersama angin bersama daun - Aku dibesarkan

Refr:
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua 2x
Biar nanti langit terbelah, aku Papua.

Bagi masyarakat, tanah Papua ini adalah surga kecil yang turun ke bumi. Maka tanah adalah tempat yang sakral. Dari sana banyak kehidupan berasal. Mahluk hidup tidak bisa bertahan hidup tanpa tanah. Semua yang ada di bumi ini, selalu berakaitan dengan tanah, dan atas dasar itu mereka menyebut tanah sebagai ibu.  Tanah adalah ibu yang sangat kaya dan ramah, ibu yang memberikan perlindungan dan makan setiap hari kepada anak cucu mereka sepanjang jaman.  

Kesakralan tanah itu tampak dengan pengakuan dan penghormatan kepada “totem-totem”. Totem adalah sesuatu / benda tertentu yang diakui sebagai wujud / tanda kehadiran moyang. Dalam ungkapan lain: moyang mereka menitis dalam rupa totem.  Totem-totem tsb misalnya: basik-basik (babi hutan), gebse (kelapa), kaize (anjing), ndiken (burung pelikan). Moyang mewujudkan dirinya dalam totem, untuk melindungi anak cucu mereka, sekaligus “merelakan dirinya untuk dimakan”. Namun sebelum mengambil totem untuk dimakan, mereka harus terlebih dahulu “meminta ijin / restu kepada moyang mereka (berdoa dan mengucapkan mantra tertentu)”. Maka, mereka mengambil totem untuk dimakan secukupnya saja. Mereka tidak boleh memperlakukan totem-totem itu semau mereka sendiri.

Mereka juga percaya bahwa di tanah itu nenek moyang itu “lahir” (muncul ke permukaan tanah).  Maka tanah yang amat sakral ini, tidak akan pernah dipindahtangankan atau dijual kepada orang / suku lain.  Bagi mereka, menjual tanah tempat kelahiran nenek moyang sama dengan membunuh mereka sendiri.  Mereka tidak bisa dipisahkan dari “ibu” (tanah leluhur) dan dari kelompok masyarakat (komunitas) mereka. Mereka hidup dari, di dalam dan untuk komunitas di tanah / wilayah tertentu untuk seumur hidup. 

Tanah / wilayah itu diberikan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun kepada komunitas. Tanah di wilayah itu bukan diberikan kepada pribadi-pribadi. Pribadi-pribadi tidak punya hak atas tanah. Tanah dan segala sesuatu yang ada di bawah dan di atas tanah, di rawa dan atau sungai di wilayah tertentu adalah milik komunitas / marga. Dari sinilah muncul yang kita sebut hak ulayat. Itulah sebabnya, mereka tidak mudah untuk pindah dari tanah ulayat mereka.

Dari uraian ini, menjadi jelas bagi kita bahwa anak Papua tidak bisa hidup tanpa tanah, air, komunitas dan komunitas moyang. Ikatan dengan tanah, kampung halaman, orangtua dan sanak saudara, dan komunitas begitu kuat. Semua  itu di satu pihak merupakan kekuatan, dukungan dan sumber inspirasi dalam kehidupan mereka. Di pihak lain, semuanya itu bisa merupakan hambatan / kelemahan, karena pribadi-pribadi menjadi amat tergantung / terikat kepada banyak pihak yang membuat mereka sulit untuk berkembang. Terlebih bila pribadi-pribadi itu mempunyai pandangan yang berbeda dengan keluarga besar / komunitas, mereka bisa “dihukum” secara adat. Meskipun ada di antara komunitas / keluarga besar, orang itu dianggap tidak ada / tidak berpengaruh apa-apa.

Supaya bisa berpengaruh, dan pandangannya memberikan pembaharuan kepada masyarakatnya, dia harus berpendidikan tinggi, punya uang banyak, punya fasilitas pendukung, punya pengalaman hebat, relasi dengan para pejabat tinggi dll.  Sudah banyak orang setempat yang berhasil mempengaruhi komunitas / keluarga besar mereka, setelah mereka berhasil “mendapatkan status dan kekuatan besar” sebagai pejabat di daerah ini. Jabatan publik sebagai Bupati, Ketua DPRD, kepala dinas, camat dll merupakan jabatan bergengsi yang dapat menjadi jalan masuk untuk mencerahkan dan mengembangkan komunitas / keluarga besar mereka.

Mereka adalah pemilik tanah yang amat luar (ribuan hektar), laut dan sungai, dan segala kekayaan yang ada di dalam dan di atasnya. Mereka kebanyakan tinggal di pinggiran, di desa-desa dan di pelosok-pelosok. Sudah semestinya bahwa mereka yang memiliki di "surga kecil" yang amat kaya dan berkelimpahan itu hidup dalam damai, berkecukupan, dan dapat mengembangkan diri sesuai dengan berkat dan budaya yang mereka miliki dan hidupi. Mereka sudah sepantasnya bisa membangun dan turut berperan dalam menata masyarakat, bangsa dan negara sejajar dengan saudara-saudarinya yang datang dari pulau lain. Bahkan mereka juga bisa berperan untuk membangun dan mengembangkan daerah-daerah lain. 

Namun mereka pula yang sering:

1.     Menjadi korban ketidakadilan dan tidak terdengar suaranya ( harga mahal, tanah ulayat diambil alih pihak lain,
2.     Tertinggal dan kurang diperhatikan (pendidikan dan kesehatan)
-         Tidak lancar dalam membaca, menghitung dan menulis
-         Mengalami cacat seumur hidup atau meninggal
-         Kena guna-guna (santet) / dituduh melakukan santet
3.     Kurang informasi / tidak mendapat informasi
4.     Tidak punya /kurang SDM berkualitas dan terampil

Mereka kini miskin, menjadi penganggur / buruh kasar dengan upah kecil, mudah sakit, tidak berdaya dan amat tergantung kepada para pendatang, pemerintah setempat, pengusaha dan para investor. Pembangunan yang ada selama ini, lebih terarah pada bidang fisik. Dana yang berlimpah-limpah habis untuk kegiatan dan urusan yang bersifat teknis dan konsumtif. Bidang mental spiritual dan kejiwaan dibiarkan merana, dan dikatakan tidak ada dana. Bidang pendidikan dan kesehatan mendapatkan suntikan dana yang tidak sebanding dengan kebutuhan untuk penyiapan, pengembangan dan pemberdayaan SDM setempat. 

Atas situasi yang demikian ini, pelayanan kami tidak terbatas pada pelayanan rohani saja, tetapi juga menyangkut pelayanan di bidang kejiwaan dan jasmani. Selain pelayanan sakramen-sakramen, katekese (pengajaran agama), kunjungan rumah, penyadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, kami juga membawa barang-barang kebutuhan mereka.  Namun membawa barang-barang bukanlah tujuan / kegiatan utama kami, karena kami bukan pedagang. 

Kami membawa semen, pasir, bahan-bahan bangunan lainnya. Kami terlibat juga dalam bidang pendidikan formal, dengan adanya TK, SD, SMP. Melalui pembinaan di asrama dan keluarga secara teratur dan berkelanjutan, kami memperhatikan segi kemanusiaan dan kejiwaan mereka. Melalui klinik dan balai pengobatan, bakti sosial, pengobatan keliling dalam kerja sama dengan dokter, bidan perawat dan petugas teknis lainnya kami melayani orang-orang yang sakit di daerah-daerah terpencil.

DASAR PELAYANAN KAMI:

PENGAKUAN DAN PENGHARGAAN KEPADA MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK YANG BERMARTABAT
DAN DICIPTAKAN SECITRA DENGAN ALLAH

SPIRITUALITAS PELAYANAN KAMI:

DIUTUS YESUS UNTUK MEWUJUDKAN KASIH ALLAH
KEPADA SESAMA MANUSIA TANPA MEMBEDA-BEDAKAN

CARANYA:
1.     Membawa dan menghadirkan Yesus dalam pelayanan. Kalau bukan Yesus yang kami bawa, kami adalah petugas-petugas sosial, atau pegawai / orang-orang upahan. Kami bekerja bukan karena digaji, tetapi karena diutus untuk membawa sukacita dan berkat Allah kepada semua orang terlebih yang terpencil, yang miskin dan terlantar. Gereja katolik ada untuk mereka.
2.     Hadir dan terlibat secara aktif dalam kehidupan sesama manusia sesuai dengan hukum cinta kasih.  Hidup berdampingan secara damai sebagai anak-anak Allah yang rukun dan penuh persaudaraan merupakan cita-cita bersama. Mereka yang tertinggal dan terpencil dibantu agar semakin mandiri dan berdaya besar serta termotivasi untuk mengembangkan masyarakat dan daerah mereka sendiri.
3.     Bertahan di tempat-tempat yang sulit / yang tidak dilayani. Ketika tidak ada pihak-pihak lain yang mau pergi untuk melayani mereka, Gereja katolik terpanggil dan terutus untuk ke sana.  
4.     Bekerja sama dengan semua pihak yang berjuang untuk membela kehidupan manusia, makhluk hidup dan lingkungannya

Kesimpulan:
1.     kehadiran dan keterlibatan keuskupan (kami) dalam pemberantasan malaria, dan pelayanan kepada sesama terlebih yang sakit, terlantar dan terpencil adalah karena panggilan dan perutusan yang diterima dari Yesus.
2.     Kami melihat wajah Kristus dalam diri sesama yang menderita, yang sakit, yang kecil dan tidak berdaya, sehingga ketika melayani mereka, kami mengimani bahwa kami melayani Yesus sendiri.
3.     Kami membawa Yesus kepada mereka. Itulah sebabnya mereka melihat wajah Yesus yang hadir dan menyapa mereka melalui diri kami.
4.     Yesus memilih kami menjadi orang-orang kepercayaan-Nya untuk meneruskan berkat, kasih, perlindungan, penyembuhan, sapaan dan sukacita yang hendak Dia berikan kepada umat manusia di seluruh dunia, khususnya di tempat kami diutus.
5.     Melalui kami Allah hendak menguduskan dan mengantar umat-Nya kepada kehidupan bersama Allah di dunia ini, dan kelak di surga. Allah bekerja dan menguduskan umat-Nya melalui pelbagai cara, secara khusus melalui diri kita.


Berbahagialah kita yang dipilih Allah untuk meneruskan kasih-Nya. 

Rabu, 18 Februari 2015

PERJALANAN SEHARI DI PORTSITE

PEMBACA YANG BUDIMAN....

Setelah lama absen, saya hadir untuk menjumpai anda dengan cerita berikut ini. Selamat menikmati isinya: 

Sabtu, 14 Februari 2015 saya di Timika. Banyak orang merayakannya sebagai hari Valentin dengan pelbagai cara. Perayaan ini belum lama dikenal di Indonesia, khususnya oleh orang-orang biasa. Namun sudah banyak orang yang kirim sms atau bbm untuk menyatakan rasa simpati, persaudaraan, persahabatan.....pada “hari kasih sayang itu”.  Bagi saya, yang paling penting adalah suasana damai. Dan yang lebih penting lagi dalam suasana itu, ada sesuatu yang bisa dinikmati....misalnya, pisang goreng, jagung manis bakar, kolak, dan ada minuman kelapa muda, atau jus jambu dll.
Saya tidak merayakan Valentin, karena memang sedang berada di tempat lain, dan suasananya biasa-biasa saja sebagai suatu perayaan. Tidak ada lampu hias, atau lagu-lagu gembira atau romantis, atau apa saja yang lain. Saya sedang jalan-jalan di pelabuhan Portsite, pelabuhan milik PT Freeport Indonesia. Letak pelabuhan ini di Timika – Papua. Untuk memasuki area ini, harus ada ijin khusus, memakai kendaraan khusus, dan ada tanda pengenal khusus.

Ijin sudah diurus lebih dahulu, karena itu kami diperbolehkan memasuki area itu. Kami dijemput oleh staf perusahaan, menumpang mobil milik perusahaan, dan ketika hendak memasuki pintu gerbang, “KTP khusus yang bergaris-garis kode” di-scan / dikontrol dan dimonitor. Dengan demikian, selama memasuki arena itu, kami semua ada dalam monitor. Gerak-gerik kami tentu dikontrol oleh kamera atau alat apa saja yang tidak kelihatan oleh mata kami, untuk menjamin keamaan semua milik / aset perusahaan.  Laju kendaraan pun dikontrol, maximum hanya 60 km per jam. Betapa ketatnya sistem “pengamanan” yang diterapkan.

Perjalanan ke pelabuhan Portsite memakan waktu 45 menit, dengan jarak tempuh kira-kira 25 km. Jalanan rata dan bagus, meski tidak diaspal. Jalan utama itu adalah timbunan pasir dan batu yang telah diratakan, sampai sungguh padat, sehingga menyerupai jalan yang beraspal. Untuk mengurangi debu pada musim panas, ada mobil-mobil tangki yang menyemprotkan air secara berkala. Di sepanjang jalan, ada 1 pipa baru berukuran 4 inchi. Pipa itu dipergunakan untuk menyalurkan “pasir tambang” dari Tembaga Pura ke pelabuhan. Pipa-pipa yang lain telah dikubur di dalam tanah, sehingga tidak kelihatan dari permukaan tanah. Melalui pipa-pipa itulah ribuan kubik pasir tambang disalurkan ke gudang-gudang besar di pelabuhan Portsite.

Di pelabuhan Portsite, saya melihat puluhan mobil merek Ford, truk dan kendaraan lainnya milik perusahaan. Ada begitu banyak kapal, tongkang, alat berat, speed-boat, gudang cadangan minyak, dan pembangkit listrik tenaga batu-bara yang berkekuatan ribuan mega watt. Listrik yang besar sekali kekuatannya itu dialirkan ke pusat penambangan PT Freeport di Tembaga pura yang jaraknya puluhan km dari Port-site. Ada banyak juga karyawan perusahaan di sana. Kapal angkutan para karyawan setiap 30 menit, pergi pulang untuk mengantar karyawan atau mengangkut barang.

Dengan melihat apa yang ada di hadapan saya, yaitu sebuah karya / pekerjaan sungguh besar, secara sederhana saya dapat mengatakan bahwa biaya operasional per hari pasti lebih dari Rp 5 M.  Biaya per bulan lebih dari Rp 150 M. Biaya per tahun lebih dari Rp 1 Trilyun. Ini baru yang ada di pelabuhan. Bila melihat lebih jauh kegiatan penambangan di Tembagapura, tentu bisa dibayangkan, berapa trilyun biaya operasional yang dibutuhkan setiap tahunnya. Biayanya kalau dihitung sungguh-sungguh tentu angkanya luar biasa besar. Saya sebut saja angka, misalnya Rp. 20 trilyun.

Tidak ada perusahaan di belahan dunia manapun yang dengan sengaja mau rugi. Bila mereka mengeluarkan biaya operasional Rp. 20 T per tahun, berapa kira-kira pendapatan mereka ? Mereka bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan yang besar pula. Mereka telah berinvestasi dengan angka yang amat besar pula. Maka, mereka tentu sudah memperhitungkan biaya investasi yang amat besar itu, dalam jangka waktu sekian tahun harus kembali. Tidak ada orang yang tahu, berapa besar modal yang telah mereka tanamkan di sana. Saya juga tidak bisa menyebut angka, karena saya tidak punya data. Namun, saya berpendapat uang yang diinvestakan di sana lebih dari Rp 300 T.

Apa yang hendak saya katakan di sini?  Melalui penyebutan angka-angka yang sederhana itu pun – meski bukan angka yang sesungguhnya - telah terpampang bahwa dana yang dibutuhkan untuk investasi dan operasional sungguh luar biasa besar ( Rp. 300 T ????). Kalau biaya yang dibutuhkan demikian besar, itu berarti Sumber Daya Alam di Tembagapura sungguh amat besar. Sudah lebih dari 25 tahun, tambang di sana diambil, namun hingga saat ini belum habis. Sungguh luar biasa kekayaan alam yang ada di sana.

Tidak ada orang yang bisa menciptakan / membuat tambang yang begitu besar di mana pun. Dari data sejarah, belum pernah saya mendengar bahwa ada orang yang membuat tambang. Yang ada adalah manusia menemukan tambang: emas, perak, loga mulia lainnya, batu bara, uranium dan minyak. Manusia hanya bisa mengambil / mengelola, dan menghabiskan tetapi tidak bisa menciptakan atau memulihkan seperti aslinya. Untuk memulihkan kembali alam dan kondisinya yang sudah rusak, diperlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Kekayaan alam yang demikian besar itu, (tambang emas yang terbesar di dunia ???) ternyata belum / tidak membawa kemakmuran bagi para pemilik tanah, masyarakat yang ada di sekitarnya, apalagi bagi penduduk yang mendiami pulau Papua yang kaya akan tambang ini. Kekayaan itu mengalir keluar dalam bentuk “jutaan kubik pasir tambang” dan bentuk-bentuk lain yang sulit diukur dengan angka. Seandainya, semuanya bisa dihitung dengan angka......dan seandainya kekayaan itu dibagi secara adil, dan dipergunakan untuk membangun manusia di tanah ini, betapa banyak orang-orang hebat yang muncul di wilayah ini.

Saya  teringat kutipan kitab suci dalam buku Kejadian 1: 27 – 31 yang berbunyi:
1:27 Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 1:29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. 1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”.

Tuhan memberikan bumi ini dan seluruh isinya kepada manusia untuk “ditaklukkan” dalam arti diatur, dikelola, dipelihara dan dilestarikan, sehingga anak cucu dapat hidup dalam damai sejahtera untuk selama-lamanya. Perintah “ditaklukkan” tidak sama dengan perintah untuk menghancurkan, menghilangkan atau merusak. Namun, tindakan pengerusakan atau penghilangan nyawa manusia, hewan, tumbuhan atau makhluk hidup lainnya sering dilakukan manusia karena “superioritas, kesombongan, ketamakan, dan aneka sikap / watak / perilaku yang tidak sesuai dengan “nilai-nilai kehidupan yang ditanam Allah dalam hati nurani manusia”.

Terlebih ketika manusia mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi oleh hukum dan kepentingan ekonomis, sikap hedonis dan konsumeristis, apatis dan egoistis, yang terjadi adalah “pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia”.  Manusia (terlebih manusia yang hidup di kampung-kampung, di pedalaman, dan mereka yang tidak mampu mengikuti perubahan besar-besar yang terjadi ) sungguh-sungguh tidak berarti. Mereka menjadi korban kemajuan ilmu, teknologi dan hasil industru. Padahal, bila ditelusur dengan tenang dan bijaksana, dan dengan bersandar pada hati nurani, semua hasil industri, kemajuan ilmu dan  teknologi dirancang oleh para ahli untuk memajukan manusia dan kehidupannya.

Ketika kembali dari Portsite, batin ini bertanya-tanya: kapan kekayaan yang begitu dahsyat itu, memakmurkan manusia yang mendiami tanah ini ?  Tidak ada orang yang bisa memberikan jawabannya. Namun, kalau semua pihak mau, dan mau membagi kekayaan bumi ini secara adil, kemakmuran itu bukan hal yang mustahil.

Senin, 02 Februari 2015

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2015

PEMBACA YANG BUDIMAN

Pada hari minggu menjelang Rabu Abu, dibacakan Surat Gembala Prapaska, dari uskup yang hendak menyapa umatnya, dalam rangka memasuki masa pantang dan puasa. Hari Rabu Abu, jatuh pada tanggal 18 Februari. Karena itu, surat ini akan dibacakan secara serentak di paroki-paroki pada tanggal 15 Februari 2015.  Inilah sapaan itu, yang saya hadirkan di sini untuk anda. Silakan menikmati butir-butir rohani yang ada di dalamnya. 




SURAT  GEMBALA PRAPASKA
TAHUN 2015

Umat sekalian
Para pastor, suster, bruder
Kaum muda dan anak-anak terkasih

Setiap tahun, kita semua  menjalani pantang dan puasa. Mungkin ada yang berpikir kita berpantang dan berpuasa karena sudah biasa begitu, sudah dijadwalkan dan kita tinggal ikut. Yang lain lagi berpendapat, masa pantang dan puasa adalah masa untuk kumpul-kumpul uang APP (aksi puasa pembangunan). Maka, baik bila kita memahami kembali makna pantang dan puasa.

Pertama-tama bagi kita orang katolik, pantang dan puasa merupakan tanda pertobatan, tanpa penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib, sebagai silih atas dosa kita dan sebagai doa demi keselamatan dunia. Jadi pantang dan puasa bagi kita tidak pernah terlepas dari doa. Hasil pantang dan puasa yang disertai doa itu, diwujudkan dalam tindakan amal kasih kepada saudara-saudari yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian, pantang dan puasa merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk maksud-maksud lain, misalnya diet supaya lebih kurus, bisa menghemat, atau kumpul-kumpul uang supaya bisa beli hp baru, sepatu baru, motor dll.

Kedua, dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, kita dapat menjadi lebih peka pada kehendak dan rencana Allah bagi keselamatan kita dan umat manusia. Melalui pantang dan puasa, kita ambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan, bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar secara lahiriah,  atau menghindarkan diri dari rokok, alhokol, manisan, makanan dan minuman kegemaran kita. Korban kita punya nilai dan makna rohani yang tinggi, karena kita menyatukannya dengan korban Kristus di kayu salib. Masa pantang dan puasa menyadarkan kita semua dan menolong kita untuk melihat bahwa Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk mengubah hidup kita, dan lingkungan kita. Pertobatan tidak dapat “diturunkan derajatnya” sehingga hanya sampai pada tataran lahiriah saja, atau hanya dengan kata-kata / slogan-slogan, tetapi meliputi dan mengubah keseluruhan pribadi orang itu, dimulai dari pusat pribadinya yaitu hati nuraninya.

Kita semua mengalami bahwa pengaruh dan peranan keluarga, komunitas atau lingkungan atau kelompok-kelompok doa amat besar untuk terjadinya pertobatan / perubahan.  Kesadaran akan pentingnya peranan keluarga bagi kehidupan manusia, mendorong Muspas Kame 2014 memutuskan bahwa kita sekalian pada tahun 2015 memberi perhatian yang besar kepada keluarga-keluarga. Diharapkan melalui pembinaan dan kegiatan bersama, akan muncul keluarga-keluarga yang mantap dalam kesatuan dan keutuhannya, dalam pendidikan, kesehatan dan ekonominya, dalam bidang keterlibatannya dan pengembangan dirinya. Keluarga-keluaerga yang demikian ini, akan menjadi kekuatan bagi Gereja,  masyarakat dan bangsa kita.

Tema Natal tahun 2014 yang lalu adalah “Berjumpa dengan Allah di dalam Keluarga”.  Melalui tema ini hendak dinyatakan bahwa keluarga-keluarga itu adalah persekutuan suami istri yang diberkati, dikuatkan dan dilindungi oleh Allah. Ada ungkapan yang mengesankan saya, tentang pekerjaan kecil-kecil yang dilakukan kaum ibu. “Di dalam pekerjaan memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyeterika, kaum ibu menyatakan dengan cara yang amat sederhana kerinduan terdalam pribadi manusia untuk membawa keteraturan, keselarasan dan keutuhan kepada dunia yang dikuasai kekacauan (khaos) dan ketidakteraturan. Mereka merawat dan memperindah rumah, dan membuatnya baik dan kudus. Mereka adalah pencipta tempat kudus”. 

Dengan kegiatan sehari-hari untuk mencari nafkah, pengorbanan dan teladan hidupnya, kaum bapa memimpin, mengajar dan menguduskan istri, anak-anak dan seluruh isi rumahnya. Melalui keteladanan suami istri itu,  cinta dan pengenalan akan Allah ditanamkan kepada anak-anak mereka. Dengan disemangati oleh keluarga kudus Nazareth, mereka berjuang untuk menjadikan keluarga-keluarga mereka berkenan di hadapan Allah dan manusia, sehingga melalui mereka umat berjumpa dengan Allah. Paus Fransiskus mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti. Beliau mengajak umat katolik untuk mengucap syukur atas anugerah panggilan sebagai biarawan-biarawati dan sebagai pelayanan umat. Beliau juga mendorong umat untuk berdoa kepada Tuan yang empunya panenan agar Dia memanggil banyak kaum muda untuk mengikuti panggilan-Nya.

Sementara itu, tantangan yang dihadapi oleh keluarga juga amat banyak: egoisme, sikap tidak peduli kepada sesama, melemahnya kerinduan pada hal-hal rohani, melunturnya semangat menggereja, mencari gampang, gaya hidup enak, juga kecanduan alkohol, obat bius, narkoba dll. Sikap mendewakan uang, tidak jujur, korupsi, berfoya-foya, dan kemabukan yang pada gilirannya akan menimbulkan kekecewaan, kekerasan, dan permusuhan, ada di sekitar kita. Sikap masa bodoh kepada Tuhan dan atas nasib dan kehidupan sesama yang menderita, sudah menyerang seluruh dunia. Bahkan banyak orang masa bodoh terhadap dirinya sendiri.

Maka melalui pantang dan puasa ini, marilah kita mohon rahmat Allah dan berjuang agar
1.     pertobatan kita membawa kedamaian dan perubahan hati nurani yang terwujud dalam pola pikir dan tindakan kita sehari-hari. Kita menjadi orang-orang yang makin berkenan kepada Tuhan dan sesama,
2.     keluarga-keluarga katolik tetap setia dalam pernikahan mereka, sanggup menanamkan nilai-nilai keutamaan dan kerohanian kepada anak-anak mereka. Bahkan mereka menjadi tanda kehadiran Allah yang nyata. Semoga dari antara mereka, ada banyak yang dipanggil untuk menjadi imam dan biarawan-wati.
3.     keluarga-keluarga yang ada dalam kesulitan dan dirundung malang, dan pasangan-pasangan yang belum menikah secara gerejani, segera mendapat pertolongan yang mereka butuhkan. Semoga kita juga siap menolong keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan kita dengan tulus dan gembira.
4.     Kaum muda dengan bekal yang mereka terima dari orangtua, para guru dan pembinaan-pembinaan yang ada, mereka dapat mengatasi kebingungan, kecemasan dan kekecewaan  serta tawaran-tawaran dunia masa kini.


Semoga masa pantang dan puasa, sungguh-sungguh mempersiapkan kita semua untuk menerima anugerah besar pada pesta Paska mendatang.   



                                                                                       
Merauke, 1 Februari 2015
Berkat dari Uskupmu

Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC 

Selasa, 20 Januari 2015

TAHUN HIDUP BAKTI

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN


SYALOOM


Tahun hidup  bakti yang dicanangkan oleh Sri Paus pada bulan November 2014, bergema di seluruh dunia. Keuskupan Agung Merauke pun turut ambil bagian dalam mengajak umat untuk berdoa bagi para biarawan-biarawati, dan mereka yang membaktikan hidupnya untuk pelayanan kepada umat Allah. Juga secara bersama-sama, keuskupan mengajak keluarga-keluarga untuk berdoa dan mengusahakan agar ada banyak panggilan di wilayah ini. Dalam rangka memulai tahun hidup bakti tersebut, saya menulis Surat Gembala yang saya sajikan secara lengkap untuk anda. Silakan menikmati isinya. Saya pun berharap para pembaca turut mendoakan tumbuhnya panggilan di keuskupan kita ini. 




SURAT GEMBALA USKUP AGUNG MERAUKE
DALAM RANGKA PENCANANGAN TAHUN HIDUP BAKTI
MERAUKE 9 DESEMBER 2014


Umat sekalian, para imam, bruder dan suster
Kaum muda dan anak-anak yang terkasih,
Kardinal Joao Braz de Aviz ( Prefek Kongregasi Institut Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik) , menggelar konferensi pers pada hari Jumat tanggal 19 November 2014 untuk mengumumkan bahwa Paus Fransiskus telah menetapkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti (Year of Consecrated Life). Hidup yang dibaktikan bagi kemuliaan nama Tuhan dan keselamatan manusia bukan hanya hidup sebagai biarawan/wati, tetapi ada juga hidup berkaul pribadi meskipun tidak tinggal di biara. Tahun Hidup Bakti telah secara resmi dibuka pada tanggal 21 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 21 November 2015. Paus Fransiskus telah mengumumkan Tahun Hidup Bakti ini dalam pertemuan dengan Perhimpunan Superior Jendral di Roma bulan November 2014 yang lalu.
Sebagai informasi penting bagi kita:
  • Tanggal 21 November adalah hari "Pesta Maria dipersembahkan di Bait Allah".
  • Tanggal ini pula dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI sebagai hari "Pro Orantibus" (= untuk mereka yang berdoa), maksud dari penegasan ini adalah pada tanggal itu, umat beriman diajak untuk mengingat dan mendoakan kaum religius.

Tahun Hidup Bakti 2015 ditetapkan dalam rangka mensyukuri 25 tahun Dokumen Konsili Vatikan II, Perfectae Caritatis yaitu Dekrit tentang Hidup Bakti, dan “Lumen Gentium” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja) serta Ad Gentes yang berbicara tentang peran khusus Komunitas Hidup Bakti dalam perutusan Gereja. Kardinal João Braz de Aviz, menyatakan pula bahwa Konsili Vatikan II merupakan hembusan Roh Kudus bagi seluruh Gereja, terlebih lagi bagi hidup bakti.

Sepanjang Tahun itu seluruh umat diajak untuk berdoa dan merenungkan makna hidup bakti bagi hidup dan tugas perutusan umat beriman. Hidup Bakti dipahami sebagai hidup yang dipersembahkan kepada Allah dengan kesetiaan mengikuti dan melaksanakan nasehat-nasehat Injil dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan. Hidup Bakti merupakan tanda nyata dari cita-cita kesempurnaan hidup kristiani yang ditawarkan Allah kepada seluruh umat beriman.
TUJUAN TAHUN HIDUP BAKTI 2015


Paus Fransiskus, dalam surat edarannya menekankan 3 hal penting:
  • melihat masa lalu dengan rasa syukur. Semua lembaga kita adalah pewaris yang kaya akan kharisma-kharisma. Pada asal usul mereka, kita melihat tangan Tuhan yang memanggil pribadi-pribadi tertentu untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat, untuk menterjemahkan Injil kepada suatu cara hidup tertentu, untuk membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman, dan menanggapi secara kreatif kebutuhan-kebutuhan gereja.
  • memanggil kita untuk menjalani masa ini dengan penuh semangat. Kenangan akan masa lalu mendorong kita untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan lebih lengkap aspek-aspek penting dalam hidup bakti kita. Pertanyaan yang diajukan kepada kita:
    Apakah dan bagaimanakah kita terbuka juga untuk ditantang oleh Injil ? Apakah Injil benar-benar merupakan "panduan" untuk hidup sehari-hari kita, dan keputusan-keputusan di mana kita dipanggil untuk membuatnya ? Ia menuntut dihayati secara radikal, bukan hanya dibaca saja.
  • merangkul masa depan dengan penuh harapan. Kita memahami kesulitan yang kita hadapi saat ini: menurunnya jumlah panggilan, maslah-masalah ekonomi, akibat dari krisis keuangan, globalisasi, internasionalisasi, primordialismie dll. Namun, justru di dalam situasi yang demikian ini, kita dipanggil untuk menerapkan keutamaan harapan, buah iman kita dalam Tuhan sejarah, yang terus memberitahu kita: " Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau ( Yer 1: 8). Harapan ini tidak didasarkan pada statistik atau pencapaian, tetapi pada Dia. Di dalam Dia, kita telah menaruh kepercayaan ( 2 Tim 1: 2 ) sebab bagi Dia tidak ada yang mustahil ( Luk 1: 37).

Harapan untuk umat dan para religius
Konferensi Pimpinan Tinggi Antar Religius Indonesia ( Koptari ) sebagai lembaga yang menaungi tarekat-tarekat religius Indonesia telah mencanangkan sejumlah hal untuk mengisi Tahun Hidup Bakti. Tema yang dipilih adalah " Mensyukuri dan Memberi Kesaksian tentang Keindahan Mengikuti Kristus sebagai Religius". Ucapan syukur dan kesaksian itu diungkapkan dalam pelbagai kegiatan.
Seluruh umat beriman, bukan hanya kaum religius saya undang untuk turut ambil bagian dalam mengisi Tahun Hidup Bakti ini, lewat pelbagai kegiatan yang memungkinkan "tumbuhnya rasa kagum, rasa cinta, dan ketertarikan pada hidup religius". Kekaguman itu diungkapkan dalam kata-kata: "Betapa indah panggilan-Mu, Tuhan".
Paroki-paroki dan sekolah-sekolah juga patut memberikan perhatian bagi tumbuhnya panggilan-panggilan sebagai religius. Dalam rangka meningkatkan perhatian kepada keluarga-keluarga sebagaimana ditetapkan dalam Muspas 2014, mari kita berusaha agar keluarga-keluarga katolik menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya panggilan tersebut. Doa, tapa, korban dan persembahan diri menjadi kekuatan kita untuk meminta kepada Tuhan yang empunya panenan.

Selamat mengalami kasih Allah, pada Tahun Hidup Bakti 2015. Syaloom.

Merauke, 1 Desember 2014


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

Kamis, 08 Januari 2015

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM.....

Lagu yang saya hadirkan di blog ini, sudah amat sering kita dengar.....terlebih pada 15 atau 10 tahun yang lalu. Akhir-akhir ini, lagu ini agak jarang dilantunkan kembali, karena sudah ada banyak lagu lain yang digemari. Maka, saya tulis syairnya agar anda / pembaca dapat dengan lebih mudah mengingatnya, dan kalau anda ingin bernyanyi tentu saja boleh.

Selamat hari natal dan tahun baru
Padamu sluruh teman-temanku
Bahagia engkau di hari ini
karena dapat kumpul kembali

Walau kita tak jumpa
Trimalah salamku
Tanda ucapan selamat natal tahun baru


Liriknya sederhana dan mudah diingat...dan saya tampilkan di sini untuk menyapa anda sekalian, para pembaca setia yang telah menikmati beberapa mutiara yang ada di tulisan saya. Pada kesemptan yang berbahagia ini, saya mengucapkan kepada anda sekalian:

                                              Selamat pesta Natal 25 Desember 2014
                                                                 dan
                                               Selamat Tahun Baru   1 Januari 2015.

Perayaan Natal dan Tahun Baru, di belahan mana pun selalu memberikan "suasana kegembiraan kepada banyak orang". Tampaknya "natal" hanyalah milik orang kristen, namun sejatinya dianugerahkan Allah kepada semua umat manusia. Begitu pula, hari-hari peringatan / perayaan keagamaan umat non kristen, sesungguhnya juga merupakan tanda kasih dan karunia Allah kepada umat manusia yang mendiami dunia ini.

Kita mengalami bahwa perayaan 1 Januari  diterima oleh bangsa manusia sejagat sebagai awal "tahun baru" dan disyukuri pula sebagai berkat Tuhan.  "Bukankah akan lebih membahagiakan, bila perayaan keagamaan saudara-saudari kita yang tidak seiman dengan kita juga dimaknai dan dialami sebagai tanda berkat dan kasih Allah bagi bangsa manusia sejagat ?

Minggu, 28 Desember 2014

MEMPERDAGANGKAN MANUSIA ADALAH TINDAKAN KEJAHATAN

Pembaca Blog yang Budiman

Tanggal 3 Oktober 2014 yang lalu, saya menulis berita tentang 22 orang nelayan yang berasal dari Kambodia, dan terlantar di Merauke. Inilah cuplikan tulisan saya yang tertuang di blog www.kamerauke.blogspot.com tersebut :

Jumlah mereka ternyata hanya 22 orang. Dari jumlah itu, 2 orang kemudian berhasil dibujuk oleh bos kapal KUMANA I sehingga kembali ke kapal, sedangkan 20 orang tetap bertahan untuk tidak kembali karena mereka takut akan nasib mereka, ketika dalam perjalanan pulang ke negara mereka bila tetap ikut bos kapal itu. Mereka telah trauma akan perlakuan tidak manusiawi yang telah mereka alami. Mereka memutuskan untuk ikut petunjuk pihak kedubes, bahwa mereka akan dipulangkan oleh pihak kedubes, setelah urusan dengan pihak imigrasi dan kepolisian Merauke sudah selesai.

Para nelayan itu adalah korban dari tindakan “perdagangan manusia”. Mereka benar-benar tidak berdaya ketika berada di kapal asing, dan berada di laut atau di tempat yang tidak mereka kenal. Syukurlah ada alat komunikasi yang memungkinkan mereka untuk mengontak keluarga mereka. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang menyimpan nomor-nomor telepon penting, sehingga mereka masih bisa ditolong. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang tahu bahasa Indonesia sepotong-sepotong.

Yang lebih membanggakan bahwa di negara mana pun, tetap ada orang baik dan ada lembaga kemanusiaan yang rela menolong para korban dengan rela hati. Syukurlah bahwa secara internasional telah ada lembaga yang melindungi dan memperjuangkan kebebasan para korban “kejahatan kemanusiaan yang terselubung ini”. Kejahatan kemanusiaan dapat mengancam siapa saja dan kapan saja. Lebih-lebih orang-orang yang sederhana dan belum kenal “mulut manis tetapi sesungguhnya srigala berbulu domba”, atau orang-orang yang tergiur oleh iming-iming gaji yang besar, akan dengan mudah menjadi korban tindakan kejahatan ini.

Menolong para korban memang penting, namun memberikan informasi akan bahaya yang mengancam kemanusiaan kepada masyarakat amatlah penting, agar korban-korban yang baru akan dapat dikurangi atau dihindarkan. Sekarang ini mereka yang menjadi korban, moga-moga bukan anda atau keluarga anda yang akan menjadi korban selanjutnya. Menjual manusia memang menggiurkan karena mendapatkan uang banyak....namun itu melawan hati nurani. Menurut bahasa orang beriman, tindakan itu adalah dosa.”

Terhadap tulisan itu, saya mendapatkan komentar dari seorang pejuang perlindungan manusia atas tindakan kejahatan perdagangan manusia sbb:

Terima kasih Bapak Uskup dan SKP, yang telah mencari dan melindungi mereka di gereja. Setuju dengan pendapat Bapak Uskup bahwa pencegahan merupakan upaya penting untuk dilakukan, tidak hanya melalui sosialisasi tetapi juga pengupayaan pengentasan kemiskinan. Kemiskinan di Cambodia yang menyebabkan mereka terjerumus pada iming iming para calo. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemuda pemuda seusia mereka di Indonesia. Ribuan laki-laki muda direkrut dan dipekerjakan di kapal-kapal pencari ikan Taiwan. Bertahun-tahun di tengah lautan lepas bekerja siang dan malam tanpa menerima gaji sesuai dengan yang dijanjikan pada saat mereka di rekrut. Perbudakan modern ini memang harus dihentikan, dimana saja.

Terima kasih tak terkira kepada Bapak Uskup, Romo Amo dan teman-teman di SKP, karena berkatmulah maka korban tersebut dapat tertolong. Semoga kita bisa dapat bersama-sama berjuang untuk menghentikan Tindak Pidana Perdagangan orang atau trafficking ini di semua bumi, termasuk di Indonesia. Korban orang Indonesia dengan kondisi dan situasi yang sama seperti korban asal Cambodia ini juga marak terjadi. Pemuda-pemuda kota dan desa dibujuk rayu untuk berangkat bekerja di kapal, tanpa memahami ancaman dan bahaya yang akan mereka hadapi karena pengangguran dan sempitnya kesempatan untuk menerukan pendidikan tinggi. Kalau orang asal Cambodia, Thailand dan Myanmar dieksploitasi di kapal-kapal asing milik Thailand. Pemuda-pemuda Indonesia dipekerjakan di kapal-kapal pencari ikan milik Taiwan untuk mencari ikan di lautan Afrika selatan dan Karibia. Ribuan jumlahnya dan banyak dari mereka yang tertipu dan terpedaya. Setelah bertahun tahun bekerja di tengah lautan lepas (tambahan red: mereka tidak mendapatkan apa-apa, dan tidak berdaya. Mereka tidak punya siapa-siapa dan tidak tahu mau minta pertolongan kepada siapa. Nasib mereka sungguh amat memprihatinkan). ( komentar on 22 WARGA KAMBODIA KORBAN PERDAGANGAN MANUSIA - Qoiriah Nurul 5-10-2014 )

Mengorbankan manusia (hidup orang lain, kesehatannya, masa depannya, orangtuanya, istri dan anaknya, demi keuntungan uang / harta benda bagi pemakainya, merupakan tindakan pelanggaran berat terhadap hak-hak azasi manusia. Sesama manusia dikuras habis demi “kerakusan akan harta / nafsu duniawi” dan bentuk-bentuk perlakuan tidak manusiawi lainnya, sesungguhnya merendahkan “martabat sang pelaku sendiri”. Efek langsung dari pelecehan martabatnya sendiri itulah yang menimbulkan kesengsaraan dan penindasan kepada sesamanya.
 
Komentar yang ditujukan kepada saya, merupakan indikator bahwa ada banyak orang lain di belahan bumi ini yang tidak setuju atas perbudakan / perdagangan manusia. Mereka tidak bersuara, namun menyesalkan tindakan itu, atau mendoakan agar tindakan itu segera dihentikan. Menurut hukum positif yang berlaku di seluruh dunia, tindakan itu adalah pelenggaran berat terhadap hak azasi, dan pelakunya patut mendapatkan sangsi hukum (hukuman yang berat). Menurut moral, tindakan itu adalah kejahatan. Manusia diciptakan Tuhan untuk meneruskan kebaikan Tuhan, dan membawa sukacita kepada sesamanya, dan bukan sebaliknya mencelakakan mereka.