Kamis, 26 Oktober 2017

SAMBUTAN PENUTUP MUSPAS 2017

SAMBUTAN PENUTUP MUSPAS 2017
Bapak ibu para perserta muspas  
Bapak Bupati, para pastor, bruder dan suster
              Para tamu undangan                              

Pertemuan kita Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Merauke, merupakan ungkapan iman dan syukur kita kepada Allah yang telah membimbing kita.  Kita mengungkapkan iman kepada Dia yang telah mempercayakan banyak perutusan kepada kita. Meskipun  banyak yang telah kita lakukan, banyak yang direncanakan dan dievaluai dan diperbaiki atau pun ditambah, namun tetap banyak hal merupakan misteri. Kita menyerahkan sukaduka, keberhasilan dan kegagalan, ketertundaan dengan penuh kerendahan hati kepada Allah. Kita juga bersyukur bahwa dengan segala kemampuan dan keterbatasan, kita mengalami kemurahan Allah yang sering tidak terduga. Kita diampuni, disemangati dan disegarkan kembali agar sanggup menjadi partner Allah yang baik dan setia. Juga Allah tetap memberikan waktu kepada kita untuk berjalan terus.

Setelah Sinode tahun 2016, sepanjang tahun 2017 kita telah melaksanakan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, budaya dan hukum dll, sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup umat setempat.  Secara bersama-sama kita melaporkan tugas perutusan yang dipercayakan kepada kita, bagaikan hamba-hamba yang menerima 10 dan 5 talenta; “ Tuan, 10 talenta yang tuan percayakan kepada saya, lihat saya telah mendapat laba 10 talenta”.  Atau “tuan 5 talenta yang tuan percayakan kepada saya, lihat saya telah mendapat laba 5 talenta”.  Tuan itu akan menjawab: “baik sekali, hai kamu, hamba-hamba yang baik dan setia, kamu telah setia dalam perkara yang kecil, aku akan mempercayakan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kita semua berharap agar Tuhan melihat kita sebagai hamba-hamba-Nya yang patut menerima kebahagiaan itu.

Ketika melaksanakan tugas perutusan selama tahun 2017, kita telah mewujudkan 5 tugas gereja: persekutuan (koinonia), kerygma (pewartaan), leiturgia (perayaan iman), diakonia (pelayanan), martyria (kesaksian) dengan cara, pelaksana, program kegiatan yang beraneka ragam sesuai dengan keadaan dan kekuatan stasi, paroki, dekenat  dan kevikepan masing-masing.  Ibadat sabda dalam rangka ulang tahun, pembukaan kebun, potong babi, buka sasi, pemberkatan rumah, doa bersama dalam keluarga, doa pembukaan sekolah, adalah bentuk-bentuk nyata perayaan iman (koinonia, kerygma dan leiturgia). Kunjungan rumah, menyiapkan makanan untuk peserta sambut baru, pesta kenegaraan, terlibat dalam kegiatan posyandu, menguburkan orang mati merupakan bentuk nyata dari diakonia.  Bertahan untuk tetap setia sampai 5 tahun, 20 tahun, 30 tahun dalam perkawinan dengan pasangan yang sama,  hidup jujur, menolak miras, merupakan teladan yang baik bagi masyarakat dan bagi anak-anak, dan sekaligus kesaksian iman bagi banyak orang (martyria). 

Tanpa kita sadari selama muspas ini pun, kita telah melaksanakan 5 tugas gereja. Contoh:  1. kehadiran kita pada pada setiap sesi, kelompok-kelompok diskusi, kehadiran dalam rapat pleno, merupakan wujud persekutuan (koinonia). 2. Laporan-laporan dari masing-masing kevikepan dan dekanat, sharing-sharing dalam kelompok, merupakan pewartaan (kerygma). 3. Misa pagi, doa sebelum makan, doa Angelus wujud nyata leiturgia.  4. Diakonia diwujudkan dalam kesediaan untuk menjadi sekretaris, untuk membawakan laporan, merangkum, mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan dll. Mengatakan tidak kepada miras, perjudian, narkoba, perceraian, tindak kekerasan dll adalah kesaksian hidup yang telah ditampilkan oleh banyak keluarga katolik.

Selain butir-butir yang saya sebutkan tadi, muspas adalah saat penuh rahmat. Rahmat dalam bentuk apa ? Ada pelbagai bentuk. Contohnya, kita diberi waktu oleh Allah untuk belajar bagi yang pertama kali ikut muspas, untuk penyegaran  bagi mereka yang sebelumnya telah mendapatkan bahan yang sama ataupun untuk mendapatkan pencerahan dari sharing-sharing dan  pengalaman-pengalaman yang terjadi di daerah-daerah lain. Kita berjumpa dengan orang-orang baru, yang kemudian menjadi sahabat-sahabat baru kita.  Muspas juga merupakan latihan kepemimpinan, solidaritas, membangun semangat berbagi, menyegarkan lagi relasi dengan Allah dan menguatkan hidup rohani. Muspas juga merupakan undangan untuk saling mendengarkan, mengingatkan, dan memahami “suara Allah yang terungkap dalam diskusi, sharing, gerak dan nyanyi serta perjumpaan-perjumpaan yang tampaknya biasa-biasa saja”. Muspas juga merupakan panggilan kepada pembaharuan dan pertobatan.

Melalui diskusi dan dialog yang terbuka dan penuh persaudaraan, para peserta menghendaki adanya program bersama untuk paroki, kevikepan dan dekekat di wilayah keuskupan kita, dengan tetap memberikan keleluasaan kepada paroki-paroki, kevikepan dan dekanat untuk menetapkan program yang cocok bagi umat setempat. Program-program itu tidak dilihat sebagai beban, namun sebagai “magnit besar/ daya pikat ” yang akan menarik pelakunya untuk melaksanakannya dengan terarah dan terukur. Ada paroki-paroki / dekenat yang memilih kegiatan pemberdayaan umat melalui usaha CU ( Credit Union ), dan dalam waktu dekat “menetapkan dan meluncurkan” tekad itu.

Muspas adalah sarana untuk mempersatukan arah, gerak dan tujuan antara kita dalam bimbingan Roh Kudus. Maka, pantaslah pada akhir muspas ini kita memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal yang telah memberikan kekuatan, bimbingan, penyertaan dan karunia-karunia yang kita butuhkan. Saya berterima kasih kepada para peserta, para undangan, Bapak Bupati Boven Digoel, Bapak Sekda Merauke yang telah memberikan materi bagi peserta muspas. Secara khusus, saya memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Panitia Penerus Muspas, Panitia Muspas 2017,  staf sekretariat dan bagian perlengkapan yang telah menyiapkan dan mengawal seluruh kegiatan muspas ini.  Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Sr Pemimpin Rumah Bina dan stafnya yang telah memungkinkan kita semua mengadakan sidang-sidang sampai saat ini. Ucapan terima kasih juga saya haturkan kepada instansi-instansi, keluarga-keluarga, suami / istri yang merelakan pasangannya ikut muspas, umat dan komunitas-komunitas religius di seluruh wilayah keuskupan yang mendoakan dan mendukung muspas kita.

Hasil Muspas sudah ada di hati kita, dan secara tertulis dalam bentuk akan diberikan kepada para peserta.  Apa yang ada di hati dan kemudian dibukukan itu perlu diteruskan dengan penuh kerelaan dan sukacita. Kita semua adalah pelaku-pelakunya. Maka pada kesempatan ini, saya menegaskan bahwa kita semua diutus Kristus untuk meneruskan karya keselamatan Tuhan dengan berpedoman pada KS, Ajaran resmi Gereja, dan apa yang telah dituangkan dalam buku hasil muspas itu.  Anda sekaligus diutus untuk menterjemahkan hasil muspas itu agar cocok dengan realita kehidupan umat setempat.

Tidak lupa saya mengucapkan selamat dan proficiat kepada anda sekalian yang telah ambil bagian dalam muspas ini, sekaligus mohon maaf atas kekurangan yang anda alami selama kegiatan muspas ini.  Selamat jalan dan kembali ke tempat masing-masing.  Tuhan menyertai, memperkaya dan meneguhkan anda sekalian.

Sekian terima kasih.

Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC
                                       19 Oktober 2017                                    

SAMBUTAN PEMBUKAAN MUSPAS 2017

SAMBUTAN USKUP AGUNG MERAUKE
PADA MUSPAS TAHUN 2017

TEMA:  KELUARGA KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG BERIMAN

Saudara-saudari sekalian para peserta Muspas
Bapak Bupati, Bpk Sekda, Bapak/Ibu Pejabat
Para Undangan
Para Pastor, Bruder, suster dan Frater
Dan Hadirin sekalian

Syaloom

Pada tahun 2015, kita menyelenggarakan Pra-Sinode Keuskupan Agung Merauke dengan tema: “KELUARGA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE, MEMAHAMI DIRI: REALITAS DAN PERSOALAN”.     Pra-sinode ini menyoroti realitas dan persoalan yang dialami oleh keluarga-keluarga dari beberapa sudut pandang (pendidikan, kesehatan, sosek, budaya, dan iman, dll) agar para pelayanan umat memahami situasi nyata yang sungguh-sungguh terjadi.  Pada tahun 2016  dilaksanakan Sinode Keuskupan Agung Merauke dengan tema: KELUARGA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG TERLIBAT DAN MURAH HATI”.  Kedua Rapat Akbar Keuskupan ini memberikan perhatian besar kepada keluarga, karena sungguh-sungguh disadari bahwa keluarga-keluarga adalah dasar, kekuatan, dan harapan dari bangsa dan gereja, serta punya peranan yang amat penting bagi kehidupan sekarang ini dan ke masa depan.  Itulah sebabnya,  agar menjadi gerak bersama dari seluruh umat, Amanat Sinode tahun 2016  mendorong kita sekalian untuk melihat KELUARGA SEBAGAI LOCUS DAN FOCUS PASTORAL.  

Kata “LOCUS” berasal dari Bahasa Latin.  “Locus” artinya tempat.  Dari kata ini lahir kata lokasi (tempat), relokasi ( penempatan kembali ), budaya lokal ( budaya setempat) dll. Kata “focus” berasal dari Bahasa Latin, dari  kata kerja “facere”, artinya jatuh. Jadi, focus menunjuk pada titik / tempat dari mana sesuatu itu jatuh, atau bisa dikatakan titik awal / titik pusat.  Dalam pengertian umum, fokus berarti “perhatian, atau mengarahkan pandangan ke titik awal/pusat, sehingga pikiran, perasaan dan kehendak seseorang tidak terbagi-bagi.  Pastoral juga berasal dari Bahasa Latin, pastor yang berarti gembala. Pastoral berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan dan kegiatan yang bertujuan untuk menggembalakan umat Kristus, agar mereka menemukan keselamatan (kebahagiaan hidup).

Kalau keluarga menjadi locus dan focus pastoral, berarti keluarga itu merupakan tempat dan pusat pijakan serta mendapat perhatian utama, dalam pelayanan kepada umat Allah karena keluarga benar-benar mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia.  Di sanalah manusia itu dilahirkan, dibesarkan, dibina, dibimbing dan dihantar untuk menjadi manusia yang siap masuk ke dalam lingkungan sosial, dan kemudian turut berperan dalam pembangunan dan kemajuan masyarakatnya. 

Masyarakat dan kita semua mengakui bahwa kebahagiaan hidup tidak perlu dicari di tempat-tempat yang jauh, tidak perlu pergi ke kota-kota besar, dan tidak perlu juga membayar dengan biaya yang mahal, karena kebahagiaan itu “locus” ada di rumah, ada di dalam keluarga. Di keluarga dan di dalam rumah tangga itulah tempatnya. Keluarga yang menyadari bahwa rumah dan diri mereka adalah tempat hadirnya kebahagiaan, adalah keluarga-keluarga yang telah berusaha mendekatkan diri dengan Allah.  Keluarga yang menghadirkan suasana yang demikian ini, bisa disebut  ecclesia domestica ( gereja rumah tangga).

Tema Muspas 2017 ini adalah KELUARGA KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG BERIMAN

Ada beberapa hal yang bisa diungkapkan tentang iman. Iman itu lebih daripada perihal tentang mengetahui dan percaya akan  cerita atau kisah ataupun kesaksian tentang Allah. Iman merupakan suatu pengalaman yang terindah akan kehadiran Allah di dalam kehidupan seseorang.  Karena iman, manusia dapat  sungguh-sungguh mengalami Allah sebagai yang Mahakuasa, Bapa yang maha pengasih, pengampun, penyelamat, pelindung, penolong, penghibur, kekuatan dan bahwa Dia adalah segala-galanya bagi orang yang sungguh-sungguh beriman.

Patut ditekankan juga bahwa iman akan mendorong seseorang untuk menyerahkan diri dan hidupnya kepada Allah ( bdk. Luk 1: 38 ttg Bunda Maria, Filp 3: 8 ttg Paulus).  Bila iman itu sudah hidup dan menjiwai seseorang,  dia tidak pernah akan goyah, meskipun mendapat cobaan seberat apa pun, bahkan harus menyerahkan nyawanya ( Kis 7:59 – 8:8 tentang Stefanus). Dia bagaikan orang yang mendirikan rumahnya di atas batu ( Mat 7: 24 – 27).

Bapa, ibu dan  saudara sekalian,
Berdasarkan apa yang saya  telurusi ini,  saya mencoba merumuskan “ apa itu keluarga yang beriman?”.  Keluarga yang beriman adalah keluarga yang secara aktif mengalami kehadiran Allah dan penuh penyerahan diri kepada-Nya, serta mewujudkan kebahagiaan hidupnya bersama dengan sesama.

Dalam mewujudkan kebahagiaan hidup itu, banyak sekali keluarga yang menghadapi tantangan ini: teman pamer baju / sepatu baru, ada bujukan untuk korupsi, menggunakan narkoba, minum miras, berjudi, melakukan tindak kekerasan, suap-menyuap, menyebarluaskan berita-berita bohong, dll. Selain itu, derasnya tawaran-tawaran yang menarik dari televisi, iklan-iklan di jalan-jalan, diskon yang tinggi, kredit motor, munculnya hp model baru, dan hadiah-hadiah undian yang menggiurkan juga merupakan tantangan yang berat.

Di sisi lain, di tengah-tengah masyarakat yang terus berubah ini, harus diakui bahwa masih jauh lebih banyak orang-orang dan keluarga-keluarga yang baik dan stabil di banyak tempat, bahkan di pedalaman. Ada banyak keluarga, kelompok-kelompok kategorial, banyak umat beriman yang sungguh-sungguh berusaha untuk hidup saleh dan bahagia, dengan banyak berpuasa, berdoa dan berkorban. Tempat-tempat ibadah, penuh dengan jemaat.  Di keuskupan kita, ada paroki-paroki yang melayani umatnya dengan 3 x misa pada hari minggu. Terlebih pada hari-hari raya, tempat-tempat ibadah dibanjiri umat beriman yang hendak bersyukur dan mohon berkat. Banyak orang pergi ziarah,  naik haji, bergabung dengan kelompok-kelompok kategorial, kelompok-kelompok doa. Itu tanda bahwa kehidupan spiritual tetap menjadi perhatian dari keluarga-keluarga.

Iman nyata dalam tindakan
Rasul Yakobus menegaskan: “Iman yang tidak dinyatakan dalam perbuatan, adalah iman yang kosong.  Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbutan, dan oleh perbuatan-perbuatan itu, iman menjadi sempurna.  Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak 2:20.22.26).  Apa yang dihasilkan oleh muspas paroki, muspas Dekenat, muspas Kevikepan dan muspas keuskupan adalah laporan dan evaluasi (keberhasilan, ketertundaan, kegagalan) kita sekaligus kesaksian akan buah-buah iman yang telah dilaksanakan oleh umat beriman bersama dengan para gembalanya, dengan Pemerintah Daerah dan para mitra kita. Apa yang  telah dilaksanakan itu merupakan juga keikutsertakan kita dalam karya keselamatan Tuhan.

Penerimaan sakramen di seluruh keuskupan tahun 2016, menunjukkan keberimanan keluarga:
1.      Baptis     3.694 orang    dari jumlah tsb:  3.555 bayi dan anak-anak di bawah 7 tahun.
2.      Komuni pertama:  1.540  orang
3.      Nikah :  882   katolik dgn katolik, kawin campur: 36 pasang
4.      Krisma :  1.114 orang
5.      Skr pengurapan orang sakit:  853 orang

Jumlah Penerima sakramen-sakramen di beberapa paroki yang sudah masuk tahun 2017:
1.      Baptis : 678   
2.      Komuni pertama:  186
3.      Nikah :  158  katolik dg katolik, 4 pasang nikah campur
4.      Krisma :  800 peserta

Selain bidang iman keagamaan, pelayanan kita juga meliputi bidang pendidikan, kesehatan, hukum, sosial  ekonomi serta budaya.  Setiap tahun ada  ratusan anak yang lulus dari sekolah-sekolah YPPK. Ada 590 anak yang mendapatkan bantuan studi (SD - SMA). Ada 48 anak yang mendapat bantuan studi di Perguruan Tinggi.  Ada 200 an anak yang dibina di asrama-asrama kita (Merauke, Urumb, Kumbe, Kimaam, Kepi, Tanah Merah, dan Mindiptana). Juga penyuluhan dan pelatihan di bidang administratif, bidang hak-hak azasi, bidang penyadaran akan hak ulayat, pemetaan wilayah, dan lingkungan hidup dll tetap diperhatikan, karena pelayanan ini muaranya adalah pengembangan harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah.

Penyadaran dan tindak pembelaan (advokasi) akan gender juga kita lakukan. Gender adalah kondisi (syarat-syarat) yang dibutuhkan agar manusia (laki-laki dan perempuan) dapat hidup sebagai anak-anak Allah dan berperan dalam kehidupan masyarakat. Keluarga-keluarga beriman menjadi kekuatan utama terhadap kegiatan keadilan dan kesetaraan gender, karena di dalam keluarga anak laki-laki dan anak perempuan diperlakukan secara adil dan setara.  Misalnya, anak perempuan dibelikan 1 pasang sepatu, harganya Rp. 300.000, ukurannya no: 35;  dan anak laki-laki ukurannya no 42, harganya Rp. 350.000.  Anak laki-laki dan perempuan bisa dilatih untuk memasak, cuci piring, merawat orang sakit, berkebun dll, tetapi juga mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang sama.  Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa jadi dokter, guru, pegawai bank, kepala kampong, dll dengan hak dan kewajiban yang sama. Saya yakin dan percaya, sudah banyak keluarga katolik yang mendidik anak-anaknya secara adil dan setara, sehingga harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah dikembangkan dan dinyatakan.

Keluarga-keluarga katolik yang beriman, di seluruh wilayah KAME saya gugah untuk memperhatikan lingkungan hidup. Kita disemangati untuk  menanam pohon-pohon pelindung, menanam tanaman pangan: sagu, pisang, ubi-ubian dan palawija, juga pohon-pohon besar karena kita juga perlu kayu untuk rumah dan perabot rumah tangga. Perlu juga setiap warga gereja dan sebagai anggota masyarakat, ambil bagian dalam memelihara dan menjaga kebersihan halaman, got-got dan sungai, dengan membuang limbah, sampah dan bangkai-bangkai di tempat selayaknya. Kiranya baik diusahakan dan dibiasakan memanfaatkan sampah-sampah basah ( daun-daun sisa, buah-buahan sisa dan kulitnya) menjadi pupuk organik.

Saya juga mengajak keluarga-keluarga katolik untuk turut memerangi miras, narkoba dan tindak kekerasan. Narkoba sekarang ini dikemas dalam pelbagai bentuk dan warna yang menarik. Mula-mula harganya murah atau gratis, namun ketika seseorang sudah kecanduan, 1 butir harganya bisa ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Narkoba merusak syaraf dan kesadaran  pemakainya. Ketika sudah kecanduan dan ketagihan, dia menjadi tidak berdaya dan harus diberi terus-menerus. Dia menjadi orang yang sangat tergantung pada narkoba, dan tidak peduli obat itu harus didapat dari mana dan dengan cara apa. Yang penting obat itu harus ada. Maka dia akan menjadi pembohong, pencuri, penipu dan pelaku tindak kekerasan, supaya dia bisa mendapatkan narkoba yang dia butuhkan.

Bila banyak generasi muda kita (anak-anak, remaja dan OMK) menjadi pengedar, pengguna narkoba, dan sudah ketagihan, kita kehilangan penerus-penerus bangsa dan pembangun masyarakat. Betapa besar kerugian (kekuatan, dana dan peluang) yang kita hadapi, hari-hari ini dan pada masa mendatang bila generasi kita dihancurkan oleh narkoba. Maka, patutlah kita waspadai mereka dalam menggunakan uang, perilaku mereka sehari-hari, dan dengan siapa mereka bergaul. Patut juga diperhatikan: “Apakah pada mereka ada perubahan dalam bertutur kata, dalam berkegiatan, dan dalam penampilan sehari-hari ?.  Bila ya, itu adalah indicator bahwa pada diri mereka, ada sesuatu yang tidak beres, dan perlu ada tindakan.

Pada hadirin, dan para peserta muspas yang saya hormati
Di dalam dunia dan masyarakat yang terus berkembang dan mengikuti perubahan jaman, namun dengan iman dan semangat yang sama, dan telah diperkaya dan diperbaharui oleh Roh Kudus dalam muspas ini, kita siap untuk menanggapi kehidupan dan kebutuhan masa kini, demi mempersiapkan kehidupan mendatang yang lebih baik, adil dan sejahtera. Kita akan terus melaksanakan hasil muspas tahun 2017 ini, sebagai tanda syukur atas kepercayaan Allah yang telah mengikutsertakan kita pada karya keselamatan-Nya, dan tanda kesediaan kita untuk meneruskan karya besar Allah itu kepada umat manusia pada jaman ini dan pada masa mendatang.  Semoga melalui muspas kita ini, melalui kita sekalian dan para mitra kita, rahmat dan kasih Allah mengalir kepada umat manusia yang berkehendak baik di Papua dan di mana-mana.

Pada kesempatan yang berbahagia dan penuh rahmat ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para Bupati dan narasumber yang berkenan membagikan pengalamannya sehubungan dengan kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Gereja”. Akhirnya, saya mengucapkan selamat mengikuti Muspas 2017 kepada semua peserta, dan para undangan sekalian yang telah berkenan hadir pada upacara pembukaan Muspas ini.

Merauke, 15 Oktober  2017


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

Kamis, 12 Oktober 2017

KOMUNIKASI YANG SEHAT

MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG SEHAT 
DALAM GEREJA RUMAH TANGGA

Pembaca yang budiman, 
Saya hadirkan lagi sebuah tulisan pendek, tentang komunikasi.  Moga-moga tulisan ini dapat memberikan pencerahan kepada anda sekalian. 


Keluarga-keluarga katolik, agar menjadi sarana / pembawa kabar sukacita dan penerus kasih Allah kepada umat manusia perlu menyadari bahwa mereka adalah orang-orang istimewa. Tuhan memanggil dan memilih mereka untuk menjadi tanda kehadiran kasih-Nya kepada mereka secara pribadi dan secara bersama-sama.  Dengan keyakinan iman itu, mereka bisa disebut Gereja Kecil, atau Gereja Rumah Tangga. Di tengah-tengah mereka, Kristus sebagai Kepala Gereja, hadir dan memimpin mereka. Agar kasih dan rencana keselamatan Allah tidak berhenti pada mereka saja, tetapi diteruskan kepada anak cucu dan berlangsung terus, perlulah dibangun komunikasi yang baik dan sehat di antara mereka.

Komunikasi itu apa ?

Menurut beberapa sumber, komunikasi adalah 1) suatu proses untuk menyampaikan informasi ( pesan, pemikiran, gagasan ) dari satu pihak ke pihak yang lain,   2) pengiriman dan penerimaan pesan atau berita atau dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami ( Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Tujuan komunikasi
1.      Apa yang dimaksudkan yang bersangkutan dapat dimengerti oleh pihak lain
2.      Menyusun rencana, mengorganisir SDM dan SDA supaya efektif dan efisien
3.      Menyeleksi, mengembangkan dan menilai organisasi
4.      Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan iklim yang menimbulkan niat untuk turut berpartisipasi
5.      Mengubah pendapat, perilaku, atau keputusan
6.      Menanam ban menumbuhkan iman, harapan dan kasih kepada Tuhan dan sesama.

Komunikasi itu, bisa dilakukan secara langsung (lisan) tetapi juga bisa dilakukan dengan bantuan alat: telepon, radio, televisi dll. Melalui komunikasi timbal balik itu, orang memperoleh gambaran tentang siapa teman bicara, bicara tentang apa, melalui media apa, terhadap siapa, dan apa dampaknya serta hal-hal lain yang dibutuhkan. Juga kedua belah pihak dapat menyaring, memilih, memahami dan mengirim informasi yang jelas secara lengkap sehingga membantu  penerima untuk menanggapinya dengan respon yang sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengirimnya.  


Dari uraian tadi, menjadi jelas bahwa komunikasi itu amat penting, dan perlu diusahakan terus-menerus dengan tulus dan iklas, sehingga kedua pihak akan mendapatkan informasi yang memadai dan lengkap dan memenuhi apa yang dibutuhkan. Gereja Rumah Tangga bukan hanya sekedar kumpulan bapa, mama dan anak-anak, tetapi merupakan tanda kehadiran Allah yang hendak menyapa umat-Nya. Bapa, mama dan anak-anak adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi penyalur rahmat dan kasih-Nya. Melalui mereka Tuhan bekerja dan mengumpulkan umat-Nya. Karena itu, orangtua wajib untuk menanam dan menumbuhkan komunikasi yang baik dan sehat di antara anggora keluarganya sebagai langkah awal yang perlu diteruskan kepada sesamanya. Komunikasi yang baik dan sehat adalah modal dan jalan untuk hidup bahagia di tengah-tengah umat dan masyarakat. 

50 TAHUN SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI FAJAR TIMUR - ABEPURA

Pembaca yang budiman,
Sehubungan dengan Dies natalis ke 50 Lembaga Pendidikan yang menyiapkan tenaga para pelayan umat di Abepura – Jayapura,  saya menulis sebuah renungan saya untuk anda. Selamat menyimak dan menemukan inspirasi di dalamnya.

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI “FAJAR TIMUR”
SEBUAH LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI KATOLIK  DI PAPUA
YANG MELAHIRKAN PARA AHLI WARIS MISI YESUS KRISTUS

Arti kata pendidikan
Kata pendidikan, dalam bahasa Inggris adalah education, dan dijadikan bahasa Indonesia menjadi edukasi. Kata education berasal dari kata latin ex, yang berarti keluar  dan ducere, yang berarti memimpin. Maka arti dasar kata pendidikan adalah proses memimpin seseorang untuk keluar dari keterkurungan / keterkungkungan diri sehingga mampu memasuki dunia baru, tantangan baru, dan kehidupan yang baru. Melalui pendidikan orang dibekali keutamaan, nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan ketrampilan agar dapat hidup bahagia dan sejahtera. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membina  kepribadian manusia sejak kecil hingga dewasa, mengasah dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya agar tahu norma-norma atau aturan di dalam masyarakat, tahu jalan masuk ke dalamnya dan berperan untuk pembangunan dan pengembangan masyarakat.

Pendidikan adalah kegiatan kemanusiaan atau disebut sebagai kegiatan “memanusiakan manusia”. Kesuma, dalam Oszaer, dkk. 2011, menyebutkan bahwa sebagai kegiatan manusiawi, pendidikan membuat manusia membuka diri terhadap dunia.  Lebih dari itu Khan dalam Oszaer, dkk. 2011, menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses humanisasi yang artinya dengan pendidikan manusia akan lebih bermartabat, berkarakter, terampil, yang memiliki tanggung jawab terhadap sistem sosial sehingga akan lebih baik, aman dan nyaman (http://pengertian-definisi.blogspot.co.il/2012/04/definisi-dan-pengertian-pendidikan.html ).

Pelaku pendidikan dasar
Ketika dilahirkan, seorang bayi tidak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa-siapa. Tangisannya adalah ungkapan minta tolong, agar dirinya dibantu dan disiapkan / dibekali sehingga dapat masuk ke dalam dunia baru. Orang lain  amat penting arti dan perannya untuk menghantar bayi itu dalam memasuki dunia yang baru, yang penuh tantangan baginya secara aman dan tenteram. Bayi yang masih lemah itu butuh makan dan minum, rasa aman, ketenteraman, kehangatan dan perhatian, agar dia bisa hidup dan menjadi besar.  Orang lain, dalam hal ini orangtua kandung, mempunyai peran yang amat penting bagi kehidupan bayi kecil itu.

Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan anak. Mereka berperan sebagai pelaku pendidikan dasar bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak ada di dalam keluarga.  Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, (http://acepwahyuhermawan79.blog.com/peran-keluarga-dalam-mendidik-anak-dari-usia-dini-hingga-dewasa) menyebut  bahwa keluarga memiliki fungsi penting dalam perkembangan kepribadian anak  dan  dalam mendidik anak di rumah. Saya menyebut beberapa di antaranya: 1) penjamin pertama dan utama masa kanak-kanak, 2) penjamin kehidupan emosional anak, 3) penanamkan dasar pendidikan moral anak, 4) pemberi dasar pendidikan sosial, 5) peletak dasar-dasar pendidikan agama, 6) pemotivasi dan pendorong keberhasilan anak, 7) pemberi kesempatan belajar sehingga anak mampu menjadi manusia dewasa dan mandiri, 8) penjaga kesehatan anak. Dengan kata lain, keluarga menyiapkan kehidupan masa kini dan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya.  Orangtua adalah pembina awal bagi mereka.

Pentingnya pendidikan di dalam keluarga

Anak-anak yang dilahirkan di dalam keluarga sesungguhnya mempunyai nilai-nilai penting bagi keluarga itu juga. Pertama, anak sebagai pemenuhan harapan. Anak yang dilahirkan itu adalah buah pengharapan kedua orangtuanya. Bahkan sebelum menikah, mereka telah memikirkan berapa jumlah anak, nama anak, dan akan disiapkan menjadi orang hebat. Sebelum dilahirkan, kedua orangtua sudah menyiapkan keperluan-keperluan bayi, termasuk menjaga kesehatan calon ibu, agar pada saat melahirkan semuanya dapat berjalan lancar. Kedua, anak adalah ahli waris. Pada umumnya orangtua dengan rela hati mewariskan apa yang dimilikinya kepada (anak) anaknya. Karena itu, dia menyiapkan (mereka) dia agar siap menerima warisan itu. Warisan itu adalah sesuatu yang berharga / bernilai tinggi sehingga sebelum diserahkan ada ‘wejangan / wasiat’ yang diberikan terlebih dahulu. Warisan adalah lambang hidup / kehidupan / nyawa dari orangtua atau leluhur yang diteruskan kepada anak, agar anak-anak dapat hidup bahagia. Ketiga, anak adalah penerus dinasti / kehidupan / nyawa / nilai-nilai dari orangtua (leluhur). Manusia sebenarnya ingin hidup terus (Khairil Anwar menyebut dalam puisinya yang berjudul “AKU” : aku mau hidup seribu tahun lagi), namun hal itu tidak mungkin. Maka, dia meneruskan kehidupan / nyawa dan dinastinya kepada anak / cucu mereka. Keempat, anak adalah pengembang dinasti / kehidupan orangtua / leluhurnya. Dengan dikembangkan nilai-nilai yang diwariskan itu tidak punah, tetapi juga dimungkinkan untuk dimunculkan / dikemas dalam bentuk baru.

Pendidikan dapat membekali manusia agar dapat keluar dari jerat kemiskinan dan kemelaratan, dari cengkeraman keterbelakangan dan ketertinggalan, menuju ke era baru dan keberhasilan. Telah disadari banyak orang bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk menuju masa depan yang diidamkan oleh setiap orang. Sebelum orangtua / keluarga menyadari hal ini, pihak-pihak lain (pemerintah, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, dan lembaga-lembaga keagamaan) yang sudah sadar akan pentingnya pendidikan, digugah untuk ambil bagian dalam proses penyadaran dan menolong orangtua agar menyadari peran penting mereka di dalam bidang pendidikan bagi anak-anak mereka. Semakin awal pembekalan diberikan, semakin hebat dan mantap persiapan bagi anak itu untuk meniti dan mencapai kehidupan yang cerah dan mencengangkan dunia.


Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” adalah Keluarga
Sejak berdirinya STFT dalam bentuknya yang masih sangat awal hingga hari ini, lembaga ini adalah lembaga pendidikan. Hingga usianya yang ke 50, maksud dan tujuan yang sama yaitu mendidik generasi muda untuk menjadi pemimpin umat / masyarakat di wilayah Papua, dan belahan dunia yang lain.  Meskipun lembaga ini adalah lembaga pendidikan formal, hakekat keluarga dan sifat kekeluargaan juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari seluruh kegiatan pendidikan itu. Maka, STFT Fajar Timur bisa disebut juga sebagai keluarga.  Seluruh civitas academica-nya adalah para  anggota dari keluarga besar STFT.

Saya berpendapat bahwa 4 nilai yang saya tuturkan tadi, juga merupakan bagian utama dari misi yang diemban oleh lembaga pendidikan ini. Hadirnya mahasiswa baru, adalah bukti bahwa harapan untuk masa depan lembaga dan pemimpin umat akan tetap terpenuhi. Mereka dibina selama sekian tahun untuk memahami nilai-nilai utama dan ajaran-ajaran penting yang harus mereka pahami dengan baik dan bijaksana, sebab semuanya itulah yang akan mereka warisi. Mereka akan menjadi pewaris yang bertanggung jawab untuk meneruskan “warisan yang amat berharga itu” kepada generasi berikutnya, agar keselamatan Tuhan sampai ke ujung bumi dan  dialami manusia sepanjang jaman.  Dan sebagai para ahli waris, mereka juga diberi wewenang untuk mengembangkan / memperkaya maknanya, dan menjawab tantangan-tangan jaman serta menghantar orang-orang yang hidup pada masa itu kepada “Sumber Air Kehidupan”.  Dengan demikian, kabar keselamatan tetap dikemas dan disampaikan “sesuai dengan” situasi dan kebutuhan orang pada setiap jaman.

Tentu pada ulang tahun ke 50, patutlah diucapkan syukur kepada Tuhan yang telah melindungi dan memperkaya lembaga ini dengan kasih karunia-Nya, dengan hadirnya para dosen, para pembina, para pemerhati, dan Pemerintah Daerah dan lembaga-lembaga lainnya. Sekaligus, perayaan yubileum ini merupakan panggilan dan dorongan untuk mawas diri, dan membuat pembaharuan di banyak aspek supaya keluarga besar SFTF tetap kokoh, maju dan berkembang, dan tetap siap untuk menghantar calon-calon pemimpin umat dan masyarakat yang beriman, cerdas, bijaksana, dan cinta kepada keluarga-keluarga di mana pun mereka diutus.
Proficiat para pembina dan para dosen, panitia penyelenggara, dan anda sekalian para alumni.  Maju terus SFTF sebagai lembaga yang mengambil bagian untuk turut mencetak manusia-manusia pembangun di negeri ini.

Senin, 04 September 2017

DOA SYUKUR 50 TAHUN STFT FAJAR TIMUR

PEMBACA YANG BUDIMAN 

Pada tahun ini, lembaga pendidikan calon imam dan pelayan untuk wilayah Papua, tepat berusia 50 tahun.  Dari tempat ini, telah dihasilkan imam-imam, petugas gereja dan pelayan umat / masyarakat di pelbagai bidang pengabdian.  Pantaslah dipanjatkan syukur kepada Tuhan, dan disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah andil dalam melanjutkan dan meningkatkan mutu lembaga ini.  Dalam rangka perayaan syukur itu, telah disusun doa khusus sebagai Doa Syukur bagi seluruh keuskupan dan umat di Tanah Papua.  Doa itu, saya hadirkan dalam blog ini, agar anda pun dalam mendoakannya. Atas partisipasi anda sekalian, saya haturkan banyak terima kasih.

DOA SYUKUR 50 TAHUN SEKOLAH TINGGI FILSAFAT “FAJAR TIMUR” ABEPURA
10 0KTOBER 1967 – 10 OKTOBER 2017

Allah yang maha Pengasih, Tritunggal yang mahasuci. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah membimbing dan menjaga umat-Mu melalui para pelayan umat. Kami bersyukur karena selama 50 tahun Engkau telah menurunkan berkat berlimpah kepada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” di Abepura sehingga dia dapat mendidik dan membina para calon pelayan umat yang sekarang tersebar di seluruh Papua.

Pada tahun berahmat ini, kami  mohon agar Engkau sudi memberkati sekolah kami agar menjadi tempat yang subur dan pantas untuk pembinaan para calon pelayan umat, baik pastor maupun awam. Semoga Engkau menaungi seluruh proses pembinaan dan studi agar dapat menghasilkan calon imam dan pelayan umat yang matang, bijaksana, suci dan memiliki keutamaan iman yang berguna bagi pelayanan dalam Gereja dan masyarakat.
Berkatilah para uskup dan sponsor agar mereka dapat memberikan perlindungan dan pengarahan yang berguna bagi pendidikan  calon imam dan pelayan umat di Papua. Terangilah badan penyelenggara dan bangkitkanlah dalam diri mereka semangat pengabdian agar mereka dapat menyelenggarakan lembaga ini sesuai dengan rencana-Mu.

Semoga Engkau menganugerahkan rahmat berlimpah, budi yang cerah, hati yang penuh bakti dan keutamaan yang perlu kepada para dosen dan pembina, agar mereka tetap setia mengajar dan mendidik para calon pelayan umat dalam suka dan duka. Ciptakanlah suasana damai, persaudaraan dan semangar kerja sama di kampus dan seminari dan jauhkanlah dari mereka,  ancaman dan rintangan yang membahayakan proses pendidikan dan pembinaan.

Berkatilah para mahasiswa, para calon imam dan pelayaan awam agar tetap bertumbuh dalam diri mereka panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan yang suci, bijaksana dan siap melayani. Semoga mereka siap sedia menjadi murid Kristus yang mau belajar dan melatih diri, yang terus bertumbuh dalam kebenaran dan kebaikan. Jauhkanlah dari mereka roh zaman yang membahayakan panggilan mereka. Semoga mereka bersama alumni dapat menjadi pelayan umat dan masyarakat yang pantas diteladani oleh umat.

Gerakkanlah hati umat-Mu agar terus bersatu dengan mereka, baik dengan menyediakan calon imam dan pelayan dalam keluarga, maupun dalam mendukung mereka selama pendidikan dan dalam pelayanan di tengah umat-Mu di seluruh Papua. Demikianlah doa kami demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Sabtu, 26 Agustus 2017

YAYASAN SANTO ANTONIUS - MERAUKE

PEMBACA YANG BUDIMAN 

SYALOOM

Tulisan ini, saya bagikan kepada anda, sebagai oleh-oleh meskipun sudah saya tulis sekian waktu yang lalu.  Moga-moga ada butir-butir kasih yang anda temukan di dalamnya. 

Saya diundang oleh Sekretaris Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke, untuk memberikan “pandangan saya tentang kehidupan dan pelayanan Yasanto” sebagai salah satu “key note speaker” (pembicara yang memberikan gagasan-gagasan penting) dalam suatu lokakarya, dalam rangka ulang tahun 35 berdirinya Yayasan ini. . Ada pun tema yang dipilih oleh Panitia adalah “Peran Gereja dan Yayasan Katolik dalam Pembangunan di Kabupaten Merauke. Lokakarya itu diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 26 November 2015 di Bella Vista – Merauke.  Pembicara lain yang juga diundang pada kesempatan itu adalah Bp. Drs. Romanus Mbaraka MT (Bupati Merauke) dan Bp. Ir Leonardus Mahuze. Msi ( Ketua Yasanto ).  Namun, bupati berhalangan sehingga pembicara pada kesempatan itu hanya 2 orang yaitu Bp. Leo Mahuze dan saya.  Inilah beberapa pemikiran yang saya sampaikan pada kesempatan itu.

Hadirin yang terhormat

Para Tamu Undangan dan saudara-saudari sekalian.

Pada kesempatan lokakarya ini, Panitia telah memilih tema: “PERAN GEREJA DAN YAYASAN KATOLIK DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN MERAUKE”.  Judul / tema yang dipilih menurut terlalu luas, dan peran “Gereja” sebagai umat Allah menyangkut banyak hal. Dan tentu saja, tidak mungkin diuraikan pada kesempatan yang amat terbatas waktunya. Secara singkat, peran Gereja adalah menghadirkan kasih Allah di dunia ini, sehingga semua orang mengalami keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan.  Sedangkan peran “Yayasan Katolik” adalah mewujudkan kasih Allah itu secara lebih nyata melalui pelayanan sesuai dengan bidangnya masing-masing, agar manusia sungguh-sungguh mengalami kasih dan kehadiran Allah.
Mengingat tema / judul itu terlalu luas, saya mengajukan judul sbb:  “YAYASAN SANTO ANTONIUS TURUT AMBIL BAGIAN DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN MERAUKE”.   Yayasan ini didirikan di kompleks persekolahan yang dirintis oleh Bruder-bruder Tarekat & Kedukaan. Salah satu pendirikanya adalah Br. Jan Bouw CSD. Maka, ada banyaknya kita mengenal sejarah Tarekat ini.

Sejarah Singkat Tarekat Bruder 7 Kedukaaan ( Broeders van Onze Lieve van Zeven Smarten, dalam bahasa latin: Congregatio Septem Dolorem, yang disingkat CSD)

Tarekat ini dididrikan tahun 1851 di Amsterdam oleh Pater Petrus Johanes Hess Field (rektor Sekolah St. Aloysius) dan rekannya Pater Arnoldus Fentrop SJ, dengan tujuan: memberikan perhatian dan pembinaan kepada anak-anak yatim dan anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya ( anak-anak terlantar). Mereka dibekali dan dilatih di bidang pertanian melalui kehidupan di asrama. Dasar perutusan mereka adalah memperhatikan anak-anak yatim dan anak-anak terlantar, bukan hanya dengan kasih-kasih makan, tetapi memberkali mereka supaya mereka bertahan dalam hidup, mandiri dan mampu meraih masa depan.

Misi ke Luar Negeri

-         1936 atas undangan uskup di China,  mereka mengutus beberapa bruder ke China. 
-         1949 karena di China ada gerakan komunisme, mereka dilarang bekerja di sana dan dipaksa harus meninggalkan negeri itu
-         1948 mereka diundang oleh Mgr. Jacobus Grent MSC untuk melayani Irian Barat
-         1949 mereka mulai bekerja di Langgur
-         1956 mereka mulai membuka Sekolah Teknik, dan latihan / kursus pertanian di Merauke
-         1956 – memulai kursus pertanian di Kepi. Kegiatan ini ditutup tahun 1980
-         1957 memulai kursus pertanian di Mindiptana
-         1980 memulai pelayanan di Sampit dan Manado
-         1989, di Merauke masih ada Bruder Cayetanus, Br. Liborius, Bro Jan Baow, dan Br. Pangky.
-         1991  - 1992 Br Pangky pindah ke Kelapa Lima
-         1993     Br Pangky kembali ke Belanda. Sejak saat itu, di Merauke tidak ada lagi Bruder 7 Kedukaan.



Tekad Baru

-         1979 Yasanto,  didirikan oleh 4 relawan, yaitu P. Daniel Siga SVD (+), Bp. Markus, J. Fofied, Bpk. Frans Tjia (+) dan Br. Jan Bouw CSD (+) tahun 1979 untuk menjawab kebutuhan kaum muda akan supaya punya bekal dan ketrampilan di bidang teknik. 
-         1980 Yayasan ini memayungi Sekolah Teknik Menengah yang masih ada sampai sekarang.
-         1994 didirikan BPKM ( Badan Pengembangan Kesehatan Masyarakat ) sebagai tanda kepedulian untuk turut ambil bagian dalam pelayanan kepada para korban HIV / AIDS
-         2004 didirikan Politeknik untuk membekali kaum muda agar makin mantap untuk turut berperan dalam pembangunan masyarakat.  Sekolah ini telah menghasilkan kaum muda yang telah bekerja di banyak tempat untuk turut serta membangun wilayah selatan Papua.  

Lembaga ini, sejak awal kehadirannya di Merauke hingga saat ini tetap “setia pada nafas dan tujuan awal yang dirintis oleh para pendirinya” yaitu memperhatikan dan memperhatikan anak-anak / kaum muda agar mandiri dan dapat meraih masa depan yang cerah.

Beberapa catatan penting
1.  Badan Pengurus yang mengawal lembaga ini adalah orang-orang yang berpengalaman lebih dari 25 tahun.  Mereka termasuk orang-orang yang mengenal dari dekat perjuangan, kesulitan dan keberhasilan lembaga ini. Kepada mereka semua patut diucapkan banyak terima kasih.  Di sisi lain, perlu juga tambahan tenaga-tenaga baru dan profesional, usia 35 – 40 an yang duduk di jajaran pengurus, agar misi awal yang dilahirkan oleh lembaga ini dapat selalu menjawab tantangan dan kebutuhan jaman. Di lembaga ini, perlu ada revitalisasi, restrukturisasi, regenerasi dan langkah-langkah inovatif.
2.  Gedung dan Sarana yang dimiliki Yasanto sudah memadai.  Saya berpendapat bahwa melalui bangunan dan sarana yang sudah ada dan sedang dibangun, masih harus tetap membara serta ditumbuhkembangkan “jiwa dan semangat misioner” dari kaum awam dan anak-anak bina lembaga ini.  Tidak adanya kantor-kantor perwakilan Yasanto di Kepi, Kimaam, Mindiptana dan Muting merupakan indikator bahwa jiwa dan semangat misioner perlu dibangkitkan kembali. Saat ini, di wilayah-wilayah itu, sedang terjadi “peralihan kehidupan” secara cepat dan besar-besaran. Di kampung-kapung itu, kehadiran Yasanto dan pelatihan serta pembekalan yang dulu pernah dirintis oleh para Bruder Kedukaan, dan dilanjutkan oleh para voluntir dari Inggris, Australia, Belanda dll perlu dilanjutkan oleh para voluntir dari negeri sendiri.

Dulu, saya kenal Yasanto sebagai lembaga pelayanan dan pengembangan bidang sosial ekonomi dengan secara langsung terlibat dalam kegiatan perkaretan, jambu mete. Di Kimaam, selama beberapa tahun Suzanne banyak kali datang untuk mengadakan pelatihan dan evaluasi tentang kegiatan itu. Dulu, beberapa kali saya membeli parang, pacul dan bibit-bibit tanaman / sayuran. Sekarang kegiatan itu tampaknya tinggal kenangan.

Apakah dengan demikian bidang pelayanan yang dulu pernah dilakukan betul-betul ditinggalkan ?   atau  ada “di lemari es” sehingga sewaktu-waktu bila diperlukan, bidang itu tinggal “dicairkan kembali” ?   Ataukah minat / strategi yang diambil oleh Yasanto sungguh-sungguh telah berubah / berbeda dengan yang diputuskan oleh para pendahulunya

Masyarakat biasa sulit sekali mengikuti perkembangan dan tuntutan masyarakat moderen yang serba cepat, rutin, terjadwal, ekonomis, bertarget dan berskala dunia, sedangkan masyarakat sudah terbiasa berpikir lokal, dan hidup tak berjadwal dan tak bertarget. Ini bukan karena masyarakat lokal yang salah, tetapi karena ada perbedaan besar antara 2 pihak, di pola berpikir, kebutuhan hidup, apa yang menjadi target dan apa yang bisa dipasarkan / diperdagangkan. Masyarakat adalah petani/perambah hutan sedangkan pihak lain adalalah pedagang/pengusaha besar (investor).

3.  Di ruang tertentu di kompleks kantor Yasanto ada alat-alat dan bibit-bibit yang bisa dibeli oleh masyarakat.  Sekarang ini, tampaknya semuanya makin sulit didapat. Kalau memang benar, bahwa alat-alat dan bibit itu tidak ada, itu indikator bahwa:
-         Bibit-bibit dan alat-alat tradisional itu memang sudah tidak ada di Merauke atau di Indonesia, karena diganti oleh bibit-bibir jenis baru, dan alat-alat moderen
-         Tidak ada minat lagi, karena lebih suka kerja komputer atau tidak suka kotor karena pegang-pegang alat sadap karet, kena getah dan tanah /lumpur


4.  Banyaknya voluntir dari luar negeri menunjukkan jaringan kerja dan bidang pelayanan Yasanto dikenal dan diminati oleh mereka untuk dibantu dan diperkaya. Saat ini, para voluntir tidak ada.  Hal ini patut dilihat dan dievaluasi lagi. Apakah tuntutan perijinan tinggal di Indonesia yang menyulitkan mereka untuk datang ke Merauke ?

Kesatuan dengan Keuskupan

1.  Visi dan Misi yang diemban oleh Gereja Katolik ( Gereja Universal ) harus tetap menjiwai semua lembaga dan unit-unit kerja yang membawa nama / bendera katolik yaitu membela kehidupan dan hak-hak azasi manusia, serta mengembangkannya seturut teladan Yesus dan Ajaran resmi Gereja.
2.  Ada komunikasi dan relasi yang baik, lancar dan rutin dengan pihak Keuskupan ( uskup atau wakilnya) sebagai tanda ikatan kasih dan persaudaraan dengan Kepala Gereja Lokal.
3.  Arah dasar Keuskupan yang tertuang dalam Keputusan-keputusan Muspas atau pra sinode atau Sinode Keuskupan, juga menjadi bagian dari lembaga-lembaga katolik yang berkarya di keuskupan ini.
4.  Tentang Harta Benda, berlaku
-         kanon 1265, ayat 1: ..orang perorangan atau badan hukum privat manapun dilarang mengumpulkan uang untuk lembaga atau tujuian saleh maupun gerejawi apa pun, tanpa ijin yang diberikan secara tertulis dari Ordinaris wilayahnya sendiri serta ordinaris wilayah”
-         kanon 1267, ayat 1: “ Jika tidak jelas kebalikannya, sumbangan-sumbangan yang diberikan kepada Pemimpin-pemimpin atau pengelola badan hukum gereja mana pun, juga yang privat, diandaikan diberikan kepada badan hukum itu sendiri.
-         .......ayat 2       ....dibutuhkan ijin ordinaris (uskup) juga untuk menerima sumbangan-sumbangan yang disertai beban untuk dipenuhi atau bersyarat
-         Kanon 1269..... “jika benda-benda itu milik suatu badan hukum gerejawi publik, maka hanya dapat diperoleh menjadi milik oleh badan hukum gerejawi publik lain”...

Dalam hal ini:

Bila pada suatu hari, Yayasan katolik karena alasan tertentu “tidak bisa lagi melanjutkan pelayanannya lagi, seluruh aset Yayasan, diserahkan seluruhnya kepada Keuskupan Agung Merauke, sebagai badan publik gerejawi yang lain (seturut norma-norma dalam hukum gereja tsb)

Penegasan berdasarkan hukum gereja ini, disampaikan agar diketahui bahwa 1) tujuan mulia para pendiri Yayasan patut untuk diperhatikan dan dilanjutkan, 2) segala sesuatu yang berkaitan dengan aset, sudah ada aturan hukumnya, 3) keluarga / saudara / ikatan-ikatan kekeluargaan lainnya, menjadi paham tentang kepemilikan aset dari suatu Yayasan.

BUTIR-BUTIR PEMIKIRAN KE DEPAN:

1.  Adanya Tim Pembina bagi kaum muda di pinggiran dan di pedalaman
2.  Kaderisasi tenaga-tenaga terampil di bidang pertanian dan pertukangan
3.  Menumbuhkan kelompok-kelompok yang mempunyai penghasilan tetap lewat usaha penanaman jahe, karet, pisang, dan buah-buahan baik buah-buah jangka pendek, maupun jangka panjang
4.  Membantu pemasaran hasil panen masyarakat, sehingga harga jual hasil panen tetap baik dan kesejahteraan masyarakat makin meningkat
5.  Yasanto memulai usaha Bank Perkreditan Rakyat

Penutup:

Karya yang dimulai berdasarkan kasih dan untuk mengembangkan manusia agar hidup bahagia, meskipun tampaknya kegiatan manusiawi belaka, sesungguhnya adalah karya Allah.  Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya hendak mengucapkan proficiat, dirgahayu Yayasan Santo Antonius – Merauke. Maju terus dan sukses selalu.


Merauke, 25 November 2015




Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC
Uskup Agung Merauke