Rabu, 01 Juni 2016

TIGA MINGGU DI BALI

Cerita tentang Kursi no. 17 C saya lanjutkan dengan cerita berikut ini. Ceritanya sesungguhnya biasa, sederhana, dan sepertinya tidak ada apa-apanya. Saya juga sekedar menuliskannya untuk anda. Moga-moga anda mendapatkan mutiara kehidupan di dalamnya. 


Ibu Yolanda baru saja menghabiskan masa liburnya di Bali selama 3 minggu. Dia memilih libur di daerah Ubud – daerah wisata yang  dikelilingi persawahan. Rupanya sudah beberapa kali dia berlibur ke sana.  Lingkungan hidup yang alami, bunyi aliran air dari persawahan, pemandangan alam dan kehidupan masyarakat setempat yang dekat dan mengikuti “irama dan keteraturan alam” membuat bu Yolanda kerasan untuk berlama-lama di sana.  Memang sudah banyak tempat lain yang dia kunjungi, ke tempat menonton pertunjukan tari kecak misalnya, atau tempat-tempat kuliner, ke Gianyar, pantai Kuta, Jimbaran, namun Ubud adalah daerah tujuan wisata yang telah memikat hatinya.  

Waktu 3 minggu dihabiskan untuk menikmati “alam, kehidupan masyarakat pedesaan yang sering sulit ditemukan di tempat lain, serangga, flora dan fauna yang juga sering sudah tidak ada di wilayah lain di bumi nusantara ini.  Bagi Yolanda, berlibur setiap tahun ke daerah-daerah yang masih amat alami sungguh menyenangkan dan menyegarkan semangatnya. Di sana dia menemukan “yang alami, yang asli, yang seadanya, dan organik” sedangkan di banyak tempat lain yang disuguhkan lebih banyak yang tiruan,  penuh dengan ramuan dan unsur kimiawi.   Ternyata yang  organik, yang alami dan seadanya, yang sesungguhnya mudah dan murah, menjadi “sesuatu yang langka, jauh dari jangkauan,  tidak dikenal, kalah promosi, dan karena itu untuk menemukannya diperlukan biaya yang besar.

Anak 3  dan cucu 4
Ibu Yolanda mempunyai 3 anak yang sudah dewasa dan menikah.  Ia mempunyai 4 orang cucu. Apa yang mereka taburkan kepada anak-anaknya telah menghasilkan panenan. Ketiga anaknya telah bekerja dan mendapatkan kehidupan yang baik dan turut berperan dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Martin. Dia adalah perancang bangunan. Beberapa hasil karyanya telah diperkenalkan ke beberapa negara.  

Waktu dan perkenalan yang begitu singkat di pesawat dalam perjalanan dari Abu Dhabi ke Roma tidak memungkionkan saya untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang ibu Yolanda. Namun, dari percakapan dan penampilannya, ibu yang sudah berumur 66 tahun itu tetapi  gesit dan energik. Hidangan yang disajikan oleh pramugari disantap semuanya. Artinya, dia tidak memilih-milih makanan. Juga minuman yang dipilih umumnya adalah air putih. Air putih memang lebih sehat daripada minuman kaleng, atau jus yang dikemas dalam botol plastik atau kotak tertentu.

Itulah sebabnya, ketika berumur 60 tahun, dia berjalan kaki bersama rekan-rekannya dari Lousanne (Swiss) ke Compostella ( Portugal ). Mereka menempuh jarak 1.000 km dalam waktu 6 minggu.  Saya terkagum-kagum akan semangatnya yang begitu besar.  Dia bercerita pula bahwa kapan saja, ada banyak orang / kelompok yang berjalan kaki ratusan kilometer untuk menuju ke  Compostella.  Mereka mengorganisir sendiri.  Bagi mereka, berjalan kaki sepanjang 1.000 km menjadi kenangan yang indah, dan banyak orang yang mengulanginya beberapa kali. Ibu Yolanda bertekad, tahun 2017, dia akan berjalan kaki untuk kedua kalinya sejauh 1.000 km namun dengan rute yang berbeda.

Ibu yang gesit ini, melanjutkan ceritanya sambil menunjukkan kepada saya sebuah medali. Medali itu cukup kecil, namun bersih dan terawat dengan baik. Medali kesayangan itu adalah medali Hati Kudus Yesus (HKY) dan telah dibawa ke banyak negara yang dia kunjungi.  Dia juga bercerita bahwa sering berziarah ke beberapa gua Maria. Salah satu di antaranya adalah gua Maria Lourdes.  Dari cara bicaranya dan pengetahuannya tentang tempat-tempat ziarah itu, dan dari medali HKY, saya tidak ragu-ragu bahwa ibu Yolanda beragama katolik, dan ia adalah seorang katolik yang setia.

Dia juga dengan senang dan tenang bersharing tentang banyak hal, karena melalui sharing dia tahu bahwa saya adalah uskup.  Hikmah yang dapat saya petik adalah bahwa devosi, pengetahuan tentang tempat-tempat ziarah, kehidupan yang dialami di masing-masing negara,  meskipun berbeda, terjembatani dan diperkaya oleh iman yang sama dan di dalam kesatuan gereja katolik yang sama. Beda bangsa, beda budaya, beda bahasa dan aneka perbedaan yang lain “bukan halangan untuk  makin percaya kepada Tuhan yang maharahim kepada semua orang” yang mempunyai iman, harapan dan kasih yang sama.


Melalui sharing itu, Tuhan menyapa saya. Orang asing yang tidak saya kenal sebelumnya, telah memperkaya keimanan saya, memperluas cakrawala tentang masih banyaknya orang yang berharap dan menyandarkan imannya kepada Tuhan dengan perantaraan para kudus.  Di negara-negara maju yang saat ini mengalami krisis iman, krisis sosial ekonomi, budaya hedonisme, konsumerisme dll menembus sendi-sendi kehidupan, ternyata iman akan Allah yang hidup, masih tetap hidup. Kaum tua-tua yang ada sekarang adalah saksi hidup. Mereka juga tetap berusaha untuk meneruskan imannya kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka. 

KURSI NO 17 C


Ada apa dengan kursi no. 17 C.  Silakan anda menyimak isinya. Inilah salah satu oleh-oleh perjalanan ziarah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Selamat membaca. 

Sesudah menyapa “hello mom” dan dijawab dengan senyum kecil, saya duduk di sebelahnya. Sesudah itu, tidak ada sapaan-sapaan atau perbincangan yang lain. Sepanjang perjalanan tu, kami masing-masing lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan tidur, karena memang saya masih mengantuk. Kami terbang tengah malam dari Jakarta. Perjalanan dari Jakarta sampai ke Abu Dhabi membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam.  Sedangkan perjalanan dari Abu Dhabi sampai ke Roma membutuhkan waktu 4 jam.

Kami tiba di Abu Dhabi kira-kira jam 6.45 pagi dan transit kira-kira 2,5 jam.  Kami terbang lagi jam 9.15. Dalam perjalanan dari Abu Dhabi ke Roma, saya duduk di kursi no 17 C pesawat ETIHAD – BOEING 737-300.  Kursi no 17 B tidak ada.  Yang ada kursi no 17 A.  Jadi, kursi no 17 A bersebelahan dengan kursi no 17 C.  Di kursi no 17 A itu telah lebih dulu duduk seorang ibu. Dari penampilannya sudah kelihatan bahwa dia bukan orang Asia, berkulit putih, dan saya perkirakan berasal dari Eropa atau Amerika. 

Kira-kira 2 jam menjelang tiba di Roma, mulai ada percakapan kecil.  Ibu itu sedang membaca dan membalik-balik majalah yang disediakan oleh perusahaan penerbangan ETIHAD. Bacaan dan informasi tentang banyak hal di majalah itu ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris.  Saya bertanya tentang kewarganegaraannya.  Dari pembicaraan itu, dia berasal dari Lausanne – Swiss. Ibu itu bernama Yolanda. Kebetulan majalah ETIHAD memuat berita dan cerita tentang negara Swiss, bangunan-bangunan kuno,  beberapa gereja katolik dan daerah-daerah wisata. Tidak ketinggalan toko-toko sovenir dan hotel-hotel serta makanan-makanan bagi para turis yang ingin kuliner juga tersaji di sana.

Di majalah itu, kebetulan sekali dimuat salah satu karya dari ( Martin ?) anak ibu Yolanda. Bu Yolanda menunjukkan karya itu, yang dipasang / ditempatkan di sebuah hotel di Swiss. Saya tidak ingat persis di kota mana. Karya itu terbuat dari kayu. Bagian-bagiannya diukir, dan disambung-sambung sehingga menyerupai bentuk payung atau jamur. Untuk menopang atapnya yang melengkung, Martin membuat jari-jari yang tampak bagaikan 5 jari tangan manusia yang disatukan. 

Saya mengabadikan karya Martin itu, dengan menggunakan kamera yang ada di hp saya, supaya memudahkan pembaca untuk memahami / melihat hasil karya itu.  Foto yang anda lihat itu menunjukkan sebuah kreativitas anak muda, yang hendak memperlihatkan kepada dunia, sesuatu yang khas. Bahwa di tengah hiruk pikuk kemajuan di banyak negara, di kota tertentu di Swiss, ada anak muda yang pantas untuk diperhitungkan. Ada sebuah karya, yang belum ada duanya di belahan bumi mana pun. Mungkin mirip, namun yang khas dari orang yang bernama Martin, adalah karya yang berbentuk jamur / payung, yang terbuat dari kayu yang diukir.

Karya Martin, telah memberikan kegembiraan dan kebanggaan kepada ibunya. Karya yang dimunculkan di majalah itu, diperkenalkan kepada dunia. Banyak orang membacanya, mengaguminya, dan mungkin pula mencari pembuatnya karena ingin membeli produk yang bagus itu.  Hasil karya yang mula-mula hanya biasa-biasa saja, ketika mulai ditampilkan, diberi penghargaan oleh orang lain dan diperkenalkan secara lebih luas, akan memberikan “kegembiraan” yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kegembiraan itu bukan hanya dalam bentuk sapaan, ucapan / salam, tetapi muncul juga sahabat-sahabat baru, jaringan kerja yang baru, dan tentu juga rejeki untuk hidup sehari-hari.  Melalui hal-hal yang seperti ini, kata-kata Yesus menjadi sangat nyata terjadi: “Carilah dulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka yang lain (sahabat, masa depan, rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kesehatan, dan masih banyak lagi) ditambahkan kepadamu”. 

MEWUJUDKAN CITA-CITA

Pembaca yang budimanJudul tulisan ini sebetulnya cukup panjang,seperti yang tertulis di bawah ini.  Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan banyak inspirasi di dalamnya. 


MEWUJUDKAN CITA-CITA 
DALAM KEHIDUPAN DENGAN SUKACITA


Pengantar

Menulis tentang One Heart, One Love and One Mission, ( Satu Hati, Satu Cinta dan Satu Perutusan = SH-SC-SP) bagi saya sungguh tidak mudah. Pertama-tama, karena istilah itu mau menunjukkan nilai-nilai spiritual yang satu dan utuh yang dihayati dan dirumuskan untuk menjawab kerinduan manusia untuk disapa dan menyapa Allah, serta menyapa dan disapa oleh sesamanya.  Maka, dalam tulisan ini, saya mencoba menggalinya secara sederhana, dan moga-moga dapat dipahami maknanya.

Pengertian “hati”
Hati adalah organ penting dari tubuh manusia.  Bila organ ini terganggu, organ-organ lain juga turut  terganggu. Orang itu hidup dalam keadaan tidak sehat, mudah sakit-sakitan, bahkan bisa membawa kepada kematian.  Umumnya hati yang segar berwarna merah, karena penuh dengan darah yang segar. Hal ini mau menunjukkan “betapa pentingnya organ ini baik di bidang kesehatan, maupun di bidang sosial, psikis, emosional, dan spiritual”.  Gambar “hati” sering dipakai untuk melukiskan / menyatakan cinta seseorang kepada yang lain.  Organ hati ternyata punya makna ganda dan sungguh kaya, untuk menggambarkan suasana batin manusia, dan kekayaan batin yang ada di dalamnya.

Hati dan cinta saling berkaitan. Orang yang punya “hati” tentu akan dengan mudah digerakkan oleh cinta untuk berbuat sesuatu. Demikian pula orang yang penuh / memiliki cinta, akan memberikan “hati” (dirinya) dalam bentuk perhatian, tenaga, pemikiran, dan wujud lainnya kepada orang lain.  Orang bisa memberikan sesuatu “tanpa cinta”, namun orang yang mempunyai cinta sesungguhnya tidak bisa hanya diam membisu. Cinta itu mendorong dia untuk bertindak / membuat sesuatu untuk sesamanya, agar orang orang yang dicintai itu hidup bahagia sejahtera.

Organ “hati” tidak pernah bisa bekerja sendirian. Dia bekerja bersama dengan organ-organ lain, dan seirama, seperasaan, secita-cita, dan sepenanggungan dengan yang lain. Gangguan yang dialami oleh organ lain, menjadi gangguan / tanggungan yang mengenai dirinya pula, demikian pula sebaliknya. Kesatuan antar organ itu amat melekat, dekat, dan terjadi setiap saat dalam “suatu ikatan dan dinamika serta kondisi tubuh yang harus diterima dengan keterbukaan total, tanpa syarat apa pun”.  Apa yang  masuk ke dalam tubuh, harus diterima oleh semua organ, dan diproses. Yang bisa diterima kemudian menjadi bagian penting tubuh, dan yang tidak berguna atau mengganggu dikeluarkan. Itulah proses alami yang terjadi  setiap saat di dalam tubuh manusia, dan organ-organ penting itu menunjukkan perannya masing-masing. Semuanya bergerak dalam satu kesatuan dan keseimbangan, serta keteraturan.

Satu Hati, Satu Cinta dan Satu Perutusan ( SH-SC-SP )
Dalam perenungan dan penemuan saya, satu hati dapat dimengerti 1) sebagai “berhati satu” artinya mempunyai hati / kepentingan / peran / perasaan / pilihan / tekad yang sama.  Satu hati juga bisa berarti 2) siap “dijadikan satu atau menjadi satu dengan kesediaan penuh, sebagai organ penting, 3) bersedia dan siap untuk bekerja sama dengan organ-organ penting lain di dalam tubuh yang sama, 4) siap memproses apa yang masuk, dan 4) siap menanggung “susah senang” bersama organ-organ yang lain sampai akhir.  

Satu cinta dapat dipahami sebagai satu kekuatan dan suasana dalam bertindak untuk suatu tujuan yang luhur dan mulia.  Inti yang paling dasar dari cinta adalah memberi / memberikan kepada yang lain baik sesuatu yang biasa, yang lebih baik ataupun yang paling baik tanpa syarat atau embel-embel apa pun.  Kekuatan dan suasana yang satu itu, menjadi kekuatan raksasa yang dapat mengubah manusia dan dunia, dari dalam dan dalam ikatan damai.

SH-SC-SP, yang kemudian diwujudkan dalam satu perutusan, berarti :
1.    Diproses di dapur yang sama, oleh para tukang masak yang sama kualitasnya, dan menjadi “makanan yang lahir dari pabrik yang sama dan dengan kualitas yang sama”
2.   Produk-produk itu disalurkan oleh distributor yang kualitasnya yang sama, karena para distrubutor itu telah dilatih dan diuji serta dinyatakan lulus secara personal, intelektual, sosial, mental, psikis dan spiritual, secara berkelanjutan.
3.   Produk-produk itu disalurkan secara tertib, teratur, dan aman terjaga sehingga tiba di tempat dalam keadaan “utuh”
4.   Para pengguna produk-produk itu puas, bahkan tetap memilih “merek” itu untuk seterusnya.

Momen Ulang Tahun
Dalam momen ulang tahun Tarekat Putri Bunda Hati Kudus ( PBHK ), kiranya baik apa yang saya tuliskan dalam cerita / kiasan tadi, direnungkan dan diambil inspirasinya untuk masing-masing pribadi, komunitas, daerah dan keseluruhan kehidupan Tarekat, baik struktur, personalia, program dan menejemen, komunikasi, jaringan kerja dll.  Pokok-pokok penting yang muncul dalam pemikiran saya adalah:

1.    Bahan baku
Orang-orang yang akan menjadi organ penting (= “bahan baku”-nya) perlu diseleksi dan dibina sejak awal, hingga tahap terakhr secara mantap, sehingga menjadi pribadi-pribadi yang manusiawi dan dewasa. Kalau bahan bakunya bermasalah, proses selanjutnya juga akan makin sulit dan produk yang  dihasilkan juga sulit dijamin kualitasnya.

2.   Dapur
Tempat pembinaan untuk mereka pun perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh: aman, nyaman, bersih, indah dan teratur.

3.   Tukang masak
Para pembina perlu disiapkan dengan baik dan kompak ( hidup, karya dan cita-cita mereka memang hampir seluruhnya ditumpahkan untuk anak-anak binaan mereka ).  Apa yang mereka katakan dan ajarkan, betul-betul mereka lakukan. Ini amat penting supaya dihasilkan produk-produk baru dengan kualitas dan cita rasa yang sama,  kalau bisa bahkan lebih baik.

4.   Proses memasak
Waktu, dinamika, “kadar panasnya api, banyaknya air, keseimbangan bumbu” amat perlu diperhatikan.  Proses memasak ini amat penting, perlu ketajaman, dan “feeling” (kepekaan dan cita rasa tertentu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata).

5.   Bumbu
Produk tertentu yang besar kecilnya berbeda, nama dan rasanya berbeda, perlu diberi bumbu / rasa yang berbeda pula, namun kualitasnya tetap sama.

6.   Program
Pabrik yang baik dan bagus ini mau membuat apa, berapa banyak, dan produk-produk itu mau diapakan, perlu direncanakan dan digodog dengan baik. Untuk itulah diperlukan program dan penata program yang jelas.

7.   Distributor
Distributor bukan hanya sekedar penyalur, dia juga harus punya kualitas untuk menyeleksi, melihat kondisi produk-produk yang masih baru, atau pun setelah beberapa waktu berada di lapangan. 

8.   Servis
Perbaikan (servis) dan perawatan juga merupakan bagian penting yang tidak bisa dilupakan supaya daya tahan produk dan kualitasnya tetap terjamin.

9.   Tukang servis
Bila ada gangguan / hambatan atau persoalan yang terjadi pada “produk-produk” itu, penanganannya bisa segera dilaksanakan, karena ada tukang servis yang tersedia setiap saat di tiap-tiap distributor

10.        Direktur
Direktur bukan sekedar pimpinan tetapi orang yang secara menyeluruh situasi dan kekuatan pada masing-masing bagian, dan apa yang sedang terjadi serta memikirkan apa yang perlu dikerjakan sebagai persiapan kesuksesan sekarang dan pada masa depan. Dia bukan hanya pekerja, tetapi juga orang yang mempunyai komitmen  sebagai pemilik.

11. Pemilik
Pemilik adalah asal usul, penyedia, pengawal, pengarah dan pengembang secara penuh dan menyeluruh, serta penangung jawab atas semuanya.  Tarekat memang perlu mencetak orang-orang yang berkomitmen, berdiri dan bertindak sebagai pemilik, bukan hanya sebagai pekerja yang rajin, jujur dan tulus.

Cita-cita yang diwujudkan
SH-SC-SP itu memang merupakan cita-cita yang mulia dan diinginkan oleh banyak orang.  Cita-cita ini bukan hanya diharapkan / dibutuhkan oleh orang-orang pada masa mendatang, tetapi juga oleh orang-orang yang hidup sekarang ini. Maka cita-cita yang bagus ini, perlu diwujudkan dan dirasakan sekarang.  Generasi sekarang inilah yang secara langsung mengalami, mengevaluasi, memperkaya dan menyempurnakan cita-cita itu sesuai dengan situasi jaman. Mereka inilah yang nantinya akan membawa dan meneruskan cita-cita kepada generasi selanjutnya.

Maka mewujudkan cita-cita SH-SC-SP itu bukan urusan / tugas untuk masa depan saja, tetapi urusan / tugas yang harus dilakukan sejak sekarang, oleh personalia yang ada sekarang ini.  Seminar, diskusi, tulisan, renungan dan aktivitas lainnya telah banyak kali dilakukan, yang masih kurang dan amat kurang adalah kesaksian hidup baik oleh masing-masing person, maupun oleh komunitas-komunitas, dan dalam kebersamaan seluruh person dan seluruh komunitas. Tindakan adalah kesaksian hidup yang amat besar pengaruhnya bagi orang lain, tetapi juga memberikan kekuatan moral dan mental pada diri sendiri untuk meneruskan kesaksian hidup itu, serta meningkatkan keutamaan-keutamaan dalam diri orang itu.

Penutup
Ulang tahun, menurut pendapat saya, selain merupakan saat yang baik untuk bersyukur, untuk menoleh ke belakang untuk melakukan pembenahan diri, tetapi juga saat yang tepat untuk membangun komitmen. Komitmen untuk apa ? Komitmen untuk menyatakan secara tegas bahwa diri ini, adalah pemilik proyek kemanusiaan (SH-SC-SP) yang dipercayakan Allah kepada Tarekat / komunitas, bukan sekedar pegawai atau malah pegawai lepas.  Masing-masing person adalah pemilik yang aktif berperan dan bertanggung jawab atas proyek besar itu, karena masing-masing adalah hati (organ penting) yang memberikan kehidupan sekarang dan mendatang.

Organ penting itu (hati) adalah organ yang mencinta. Dia diutus karena cinta yang satu dan utuh sebagaimana yang dimiliki Allah, dan mengerjakan proyek kemanusiaan yang sama agar sebanyak mungkin manusia mengalami cinta ( kerahiman Allah).  Saat ulang tahun adalah juga saat untuk menjumlahkan berapa banyak “organ-organ penting” yang diproses secara berkualitas selama 1 tahun ke depan. Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar dan berat, sehingga perlu dikerjakan bersama-sama dengan komitmen dan semangat yang sama, dan tentu dikerjakan di dalam dan bersama Allah dengan sukacita.

Tak lupa, pada kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tarekat PBHK,  Suster General PBHK dan para Asistennya,  Pimpinan Tarekat PBHK Provinsi Indonesia, serta para suster PBHK di seluruh nusantara.  Berkat dan rahmat yang anda sekalian terima, juga merupakan berkat bagi umat beriman.

SELAMAT PESTA BUNDA HATI KUDUS
     Ke 142   tanggal  28 Mei 2016   

Kamis, 19 Mei 2016

KEKERINGAN

Pembaca yang budiman

Pada pertengan Mei ini, kembali saya menjumpai anda. Tulisan saya di blog ini, sudah cukup lama tersendat-sendat. Mohon maaf atas ketidaklancaran ini.  Selamat menikmati tulisan saya kali ini. 

Kekeringan yang saya lihat sejak dari Phnom Phen sampai di Battambang, sungguh mencolok mata saya. Pertama, daerah itu dataran yang amat luas dan panjang. Di sepanjang perjalanan itu, saya tidak melihat sebuah gunung pun baik di kiri maupun di kanan jalan. Dengan mudah saya melihat pemandangan yaitu tanah garapan, sungai-sungai, persawahan, perkebunan, lahan kosong, dan perumahan penduduk yang pada umumnya diliputi debu.

Kedua, udara amat panas, hingga mencapai 39 derajat. Tidak tampak orang-orang yang bekerja di sawah-sawah yang memang tidak berair, tidak banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Memang, arus lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Sapi, domba atau kerbau pun sangat jaang kelihatan di persawahan, atau lahan peternakan. Sulit untuk mendapatkan pakan di tempat-tempat kering kerontang itu.

Ketiga, saya mendapat informasi bahwa permulaan musim panas sudah mulai. Ketika musim panas sudah tiba, pada puncak musim itu, suhu udara bisa mencapai 42 derajat pada siang hari. Bagi para lansia, suhu yang amat panas ini amat merepotkan mereka. Maka, banyak di antara mereka yang meninggal karena tidak tahan panas dan mengalami gangguan kesehatan.

Sesungguhnya daerah Battambang adalah daerah pertanian yang amat luas dan bagus. Air diperoleh dari dua sumber yaitu hujan dan danau yang amat besar dan luas untuk wilayah itu. Bila hujan tiba, masyarakat tidak mengalami kesulitan air. Namun, karena mereka tergangung hujan, pada saat kemarau, mereka pun tidak punya sumber air yang lain.

Sebaliknya, masyarakat di daerah yang dekat danau masih tetap bisa bertani, dengan membayar air yang didatangkan dari danau melalui saluran-saluran irigasi. Semakin jauh dari danau, semakin sulit mendapatkan air, dan harga air pun semakin mahal.  Dengan demikian, pada saat musim kemarau, hasil panen menurun. Pada gilirannya, pendapatan petani makin menurun, tingkat kesehatan pun menurun, dan angka kekurangan gizi juga meningkat.
Kekeringan punya dampak yang luas dan besar bagi kehidupan masyarakat.  Masyarakat di pedesaan, di pinggiran kota dan mereka yang tidak punya cadangan pangan, tidak punya dana untuk masa depan, adalah orang-orang yang kehidupannya terganggu. Terlebih kaum perempuan, anak-anak dan lansia, adalah orang-orang yang amat sering menderita / menjadi korban dari keadaan yang tidak menguntungkan itu.  

Kekeringan bukan hanya terjadi di Cambodia. Di banyak negara, termasuk di Indonesia, kekeringan sering terjadi. Masyarakat pedesaan, dan pinggiran kota sering kali mengalami kesulitan air pada musim kemarau, dan mengalami kebanjiran ketika musim hujan tiba. Menurut pengamatan saya, kemarau dan banjir yang terjadi pada 10 tahun terakhir ini makin parah dampaknya. 

Ada pelbagai faktor penyebab, misalnya:
1.    Pembabatan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali
2.   Tidak ada penanaman kembali pohon-pohon di hutan-hutan gundul secara terencana dan seimbang
3.   Pembongkaran bukit-bukit tanpa memperhatikan lingkungan
4.   Pendangkalan sungai-sungai karena macam-macam penyebab
5.   Bangunan-bangunan menutup aliran air
6.   Banyak tanah-tanah resapan telah disemen
7.   Kurang / tidak ada saluran-saluran air yang cukup besar
8.   Rencana Induk kota  dan RTRW tidak berjalan mulus
9.   Alih fungsi persawahan dan perkebunan menjadi perumahan amat mudah
10.                Begitu mudah untuk mendapatkan IMB di tempat-tempat yang sebetulnya mengganggu lingkungan / alam

Manusia diciptakan Tuhan dan ditempatkan di dunia ini untuk mengelola (menggarap) alam dan isinya, memeliharanya dan melestarikannya agar mereka dan anak-cucu mereka dapat hidup  sejahtera. Dengan ditemukannya pengetahuan-pengetahuan baru, teknologi dan fasilitas baru, semestanya bumi dan segala isinya justru makin meningkat hasilnya, makin indah suasananya, makin lancar gerak dan pelayanannya, serta makin bahagia dan sejahtera para penghuninya.  

Kenyataannya, masih ada begitu banyak orang yang menderita pada abad ke 21 ini. Masih ada ratusan juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, sementara itu yang menikmati kelimpahan hasil kemajuan dan fasilitas yang bagus ini, baru sekian juta.  Ada ratusan juta orang yang tidak jelas besok pagi mau makan apa, apalagi tentang masa depannya.  

Kekeringan merupakan simbol bahwa ada kekurangan besar yang harus dijawab. Kekurangan itu bukan ada di luar diri manusia. Kekurangan itu ada di dalam diri manusia, yaitu kekurangan kasih yang terwujud dalam solidaritas, berani berbagi secara terus-menerus, dan kesediaan untuk memajukan sesamanya.   

Minggu, 10 April 2016

OLEH-OLEH DARI CAMBODIA

OLEH-OLEH KECIL DARI CAMBODIA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Beberapa waktu yang lalu, saya diutus KWI untuk menghadiri pertemuan di Cambodia tentang “Women and Ecology” bersama dengan 2 rekan lainnya.  Pengenalan sekilas di negara ini, tentu saja tidak sempurna, tentang apa yang saya dengar dan saya lihat, saya tulis untuk anda. Semoga ada inspirasi yang dapat anda petik.

Negara Cambodia:

Penduduknya: 15 juta. Pada umumnya beragama budha.  Jumlah kaum muda:  22%.  Jumlah anak di bawah umur 15 tahun: 39 %.  Total kaum muda dan anak-anak: 61 %. Jumlah Umat Katolik: 20.000  dan tersebar di Vikariat Apostolik Phnom Phen, Prefektur Apostolik Battambang, dan Prefektur Apostolik Kompong Cham.  Dari jumlah tersebut, orang Cambodia: 5.000  dan orang Vietnam: 15.000.  Dari data ini, menjadi amat jelas bahwa jumlah umat katolik yang sungguh-sungguh asli Cambodia hanya sedikit ( 0,03 persen) dari total penduduk Negara Cambodia.

Mata pencaharian penduduk Cambodia adalah petani dan nelayan. Mereka tinggal di desa-desa dan kampung-kampung dengan penghasilan rata-rata 3 USD ( Rp. 39.000 ) sebagai buruh kasar. Negara ini menduduki peringkat ke 133 dari antara 177 negara miskin di Asia.  Kebanyakan yang bekerja sebagai buruh kasar adalah orang-orang Vietnam. Orang Cambodia sendiri lebih suka bekerja sebagai petani, atau pergi ke Thailand supaya mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Mata uang yang beredar di negara ini:  bath (Thailand), USD ( dollar Amerika ) dan riyel ( Khmer - Cambodia).  USD 1 = 4.000 riyel.

Masa lalu: 

Selama 30 tahun ( 1978 -  2008), negara ini mengalami penderitaan besar. Pembantaian (genocide) di bawah Regim Pol Pot terjadi tahun 1978-an.  Tidak terhitung jumlah orang yang menjadi korban.  Orang-orang yang menderita akibat terkena ranjau dan masih hidup juga tidak terhitung. Di banyak tempat, ranjau-ranjau itu masih ada.  Beberapa tahun sebelumnya ( 2008 – 2013) korban ranjau per tahun sekitar 200 – 300 orang. Pada saat ini ( 2015 - ) diperkirakan setiap tahun masih ada sekitar 100 orang yang menjadi korban ranjau. 

Pada masa itu, masyarakat mengalami perlakuan yang kejam dan penderitaan yang luar biasa karena perlakuan yang sewenang-wenang dari pemerintah mereka sendiri. Mereka kelaparan, mengalami kemiskinan yang menyedihkan dan mudah sekali kena penyakit karena kurang gizi. Bapak, ibu bahkan anak-anak dibantai di hadapan anggota keluarga mereka. Anak-anak dipisahkan dari orangtuanya. Banyak sekali anak-anak yang kehilangan orangtuanya, dan tidak tahu di mana rimbanya. Dan ketika mereka sudah menjadi orangtua pun, ayah-bunda, dan sanak saudara mereka tetap tidak diketahui keberadaannya. Semuanya tinggal kenangan hitam dalam hidup mereka.  Tempat-tempat ibadah, gedung-gedung gereja dan kehidupan komunitas, dihancurkan.  Di banyak tempat, ditemukan kuburan-kuburan massal. Di sana ada ratusan tengkorak manusia yang tidak diketahui namanya.

Di Phnom Phen ada sebuah bekas penjara. Penjara itu sebelumnya adalah gedung sekolah, kemudian dipakai oleh regim Pol Pot sebagai tempat penahanan guru-guru, pegawai pemerintah, masyarakat biasa dan anak-anak. Setelah ditangkap, ditanyai dan dipotret, mereka dipenjarakan. Di tempat itu mereka disiksa, dipukul, diborgol kakinya dan tidak diberi makan dan minum setiap hari. Makan diberikan setiap 2 – 3 hari. Mereka tidak boleh berbicara dengan sesamanya. Bila melawan, mereka dipukul. Mereka hanya pakai celana pendek, dan mandi 1 minggu sekali. Sepanjang hari bila tidak ada kegiatan lain, mereka duduk di lantai, dan kedua kakinya diborgol. Mereka mandi dengan cara disemprot air dari jendela penjara. Maka pada masa itu, ribuan penduduk sipil mati di dalam penjara itu.

Turis-turis yang bertandang ke penjara itu, akan melihat ribuan foto dari orang-orang yang disiksa dan mati pada masa itu, kamar-kamar yang sempit, borgol besi, bangsal yang dipakai sebagai tempat tidur dll. Di simpan di saja, alat-alat yang dipakai untuk menyiksa. Sebagian dari bekas penjara itu masih tetap seperti dulu, namun sebagian yang lain telah direnovasi. Di halaman depan dari bekas penjara itu, ada prasasti yang memuat nama-nama orang yang dibunuh.

Masa Kini: 

Sesudah regim Pol Pot berakhir, secara berangsur-angsur negara ini dibangun kembali.  Kota-kota mulai tumbuh. Phnom Phen dan Siem Reap telah menjadi kota turis. Di dua kota besar itu, ada bandara internasional. Banyak orang dari manca negara berkunjung ke tempat ini. Banyak juga negara-negara lain yang menjadi donor tetap untuk membangun infrastruktur, memulai pertanian dan perkebunan, pendidikan dan kesehatan.  Banyak lembaga, para investor dan pengusaha-pengusaha lokal berupaya untuk membangun bangsa ini. Kebangkitan sudah dimulai dan dirasakan oleh masyarakat. Keamanan juga terjamin. Umat katolik dan Pimpinan Gereja sudah diperbolehkan untuk memulai karya sosial, pendidikan dan kesehatan serta karya-karya kemanusiaan lainnya.

Banyak hotel, restoran, toko-toko besar telah ada di banyak kota. Alat-alat transportasi dan komunikasi, kelancaran perjalanan, dan sungguh bisa dirasakan. Kerja sama antar negara juga makin meningkat. Hal ini tentu amat membanggakan. Memang masih ada banyak proyek besar yang sedang digarap pemerintah dan para kontraktor. 

Kemarau amat panjang sedang melanda negeri ini. Di mana-mana sepanjang perjalanan dari bandara sampai ke tempat pertemuan, lahan-lahan pertanian tampak kering. Air amat sulit, apalagi suhu di sebagian besar wilayah berkisar 39 – 41 derajat.  Kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan pangan amat dirasakan oleh masyarakat kecil. Ada sebuah danau besar yang menjadi sumber air minum, namun letaknya amat jauh dari pemukiman penduduk, sehingga perlu saluran-saluran air untuk mengalirkan pasokan air kepada masyarakat. 

Di relung sanubari saya, muncul rasa sedih, iba, tetapi juga seribu satu gejolak yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.  Yang meyakini bahwa tragedi kemanusiaan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Manusia sebagai ciptaan Allah sesungguhnya dipanggil untuk menolong sesamanya yang menderita, namun amat sering yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan yang lebih menyedihkan, tragedi kemanusiaan itu disebabkan oleh bangsa atau masyarakat kepada orang-orang dari kalangan mereka sendiri.  

Saya hanya bisa berdoa dan berharap, melakukan upaya-upaya serta menyuarakan agar perkembangan ilmu, teknologi dan pengetahuan, komunikasi dan dialog yang diterjadi di bumi ini, tidak menumpulkan dan membungkam hati nurani.  Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi akal budi dan berhati nurani, serta diutus untuk membangun dunia ini menjadi tempat yang indah, nyaman dan manusiawi bagi semua orang.Tidak ad

Sabtu, 09 April 2016

PENGALAMANKU TENTANG LEGIO MARIA

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM DAN SELAMAT PASKA

MELALUI TULISAN INI, SAYA MENJUMPAI ANDA KEMBALI. SAYA SAJIKAN TULISAN SAYA TENTANG LEGIO MARIA....... MOGA-MOGA ANDA MENEMUKAN INSPIRASI DI SANA. SELAMAT MEMBACA.

LEGIO MARIA : KERASULAN KERAHIMAN TANPA IMBALAN

Beberapa teman seangkatan saya,  setiap hari Selasa sore, kumpul di suatu ruangan tertentu dan berdoa bersama. Mereka jumlahnya agak tetap, dan dipandu oleh salah seorang rekan mereka. Saya tidak mengenal “kegiatan mereka itu seperti apa dan dengan ujud apa ?”.  Saya betul-betul tidak mengerti. Yang saya tahu bahwa mereka membawa rosario. Dan ketika melewati gang di dekat ruangan itu, saya mendengar bahwa mereka sedang mendaraskan doa Salam Maria. Beberapa waktu kemudian, barulah saya diberitahu bahwa mereka adalah Kelompok Legio Maria (LM).

Peristiwa itu terjadi tahun 1976. Waktu itu, saya adalah anak remaja, yang sedang studi di Seminari Mertoyudan – Magelang, karena bercita-cita mau menjadi imam. Saya baru mendengar nama LM saja. Sampai saya tamat SMP saya tidak pernah kenal kegiatan LM dan tidak pernah ikut kegiatan itu. Ketika liburan, saya sebagai anak seminari diajak romo ke stasi-stasi. Di stasi Slawi, ada mudika yang kumpul-kumpul. Ternyata mereka adalah anggota LM. Saya hanya kenal nama, dan tidak lebih dari itu. Ketika kembali ke Seminari setelah liburan selesai, saya pun tidak punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok LM.

Tahun 1985 saya diminta untuk menjadi pendamping rohani LM remaja paroki St. Petrus Pekalongan. Saya diberi buku pegangan, dan mulai mempelajari apa dan bagaimana LM itu. Istilah-istilah baru: doa Tesera, alocutio, presidium, kuria, kantong rahasia, dan laporan kegiatan dari masing-masing anggota dll menjadi santapan wajib, ketika mempersiapkan diri untuk membina mereka. Ternyata dengan membina mereka, saya juga membina diri sendiri.  Sekitar  9 bulan, saya dibina dan diperkaya oleh LM remaja ini.  Sesudah itu, bisa dikatakan, saya tidak pernah terlibat lagi pada kegiatan rohani ini.  Meski demikian, rasa simpati pada LM sudah tertanam di hati saya.

Tahun 2001 – 2003, saya diberi kepercayaan untuk menjadi pastor paroki katedral Merauke.  Di paroki ini waktu itu, ada 2 kelompok LM:  presidium Pohon Sukacita dan presidium Ratu Semesta Alam. Mereka memilih hari tertentu untuk doa mingguan. Pelayanan di penjara, di rumah sakit, untuk kaum lansia di rumah-rumah, menghias altar gereja paroki, dan menghitung uang kolekte adalah sebagian dari pelayanan para legioner. Mereka telah bekerja dengan setia bertahun-tahun lamanya, tanpa upah. Di masing-masing kelompok LM, saya masih menemukan orang-orang yang sama.  Mereka bertahan dalam keragaman, keunikan, perbedaan usia, ketrampilan, dan keutamaan, serta terus bertekad untuk tetap utuh dalam kesatuan dan kerukunan. Artinya, di dalam kelompok dan kegiatan LM, para legioner menemukan dan mengalami kasih Allah melalui sesama anggota mereka. Mereka membagikan kerahiman Allah kepada sesama legioner, dan kepada mereka yang sering kurang terlayani.

Sebagai uskup, saya pernah beberapa kali menerima kunjungan dari rekan-rekan Senatus LM dari Malang. Bahkan saya menyempatkan diri untuk hadir dalam pertemuan istimewa dengan para petinggi presidium LM di Merauke. Suasana tenang, akrab, simpatik dan kesederhanaan amat terasa. Waktu itu, pertemuan dilaksanakan di salah satu sudut gedung katedral yang lama. Beberapa kali pula saya menerbitkan surat keputusan atau surat rekomendasi.  Di dalam suasana yang demikian, saya berharap para legioner mendapatkan “makanan rohani” dan tergugah untuk terus menciptakan suasana itu.  Di sisi lain, komunikasi yang makin baik dan lancar, rasa solider, berani memberi dan berani memulai untuk membuat langkah yang baik demi pelayanan perlu disadari dan ditingkatkan.

Pernah pada suatu ketika, sekitar 5 tahun yang lalu, mereka ada konflik internal. Cukup lama mereka tidak saling menyapa.  Sementara itu, batin mereka mendorong masing-masing untuk memahami yang lain dan untuk  saling memaafkan. Dialog pun terjadi, sehingga mereka bisa berjalan dan bergerak bersama-sama lagi. Itulah dinamika kehidupan. Ada kesalahan, kekurangan dan kekeliruan dalam pergaulan dan persekutuan di mana saja.  Namun, keberanian untuk duduk bersama lagi dan saling memahami serta memaafkan adalah karunia besar yang harus tetap ada di antara para legioner.  Hal itu saya lihat dan saya alami di kalangan legioner Merauke.

Mengunjungi saudara-saudari di penjara, di rumah sakit dan melayani para lansia, menghitung uang kolekte, menghias altar tetap mereka laksanakan hingga hari ini. Kunjungan dan pelayanan kepada saudara-saudari yang non katolik pun ( yang beragama islam, hindu, budha dan protestan) mereka jalankan.  Juga mereka memperhatikan legioner yang ada di luar kota dan kini telah menjadi presidium yang baru.  Mereka melakukannya dengan rela, dan juga bukan karena mau mencari pujian. Semua itu merupakan tanda bahwa mereka mau meneruskan dan menghadirkan kasih dan kesetiaan Allah melalui Bunda Maria yang hadir dalam diri mereka. Sekian tahun lamanya mereka melayani tanpa menuntut imbalan. Saya belum pernah mendengar bahwa mereka menyesal telah menjadi legioner.

Maka pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada para pioner LM di Merauke, mereka yang tetap setia menjadi legioner dan mereka yang telah pensiun karena kesehatan mereka tidak memungkinkan mereka aktif seperti dulu. Saya juga mengucapkan proficiat dan salam bahagia kepada Senatus Malang yang turut memperhatikan dan ambil bagian dalam “membina dan meneguhkan persekutuan para legioner Merauke”. Kepada seluruh legioner, para pengurus, romo, dan bruder serta suster pendamping, saya ucapkan selamat berbahagia. Anda sekalian telah menjadi “rasul kerahiman” tanpa gembar-gembor dan tanpa tanda jasa. 


Merauke, 8 April 2016

Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC 

Jumat, 25 Maret 2016

BENAGUL

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN 
SYALOOM 

Pada pertengahan Desember 2015 yang lalu, saya mendapat tamu istimewa. Dia adalah seorang penulis handal. Sudah banyak tulisannya dipublikasikan dan menjadi bahan bacaan bagi banyak orang. Waktu itu, saya membutuhkan seseorang yang sanggup dan siap menulis fakta-fakta sejarah dan para pelaku sejarah yang telah turut berperan dalam membangun “peradaban dan kehidupan di wilayah selatan Papua ini”.

Selama hampir 3 minggu, dia mendedikasikan dirinya untuk mengumpulkan cerita-cerita dari para tua-tua dan pensiunan serta mereka yang ada kaitannya dengan pekerjaan awal / misionaris di wilayah ini. Sebelum kembali ke Jakarta, sang penulis menyebut “benagul”. Tidak pernah saya sangka bahwa ada benagul yang ternyata punya andil besar dalam pembangunan umat dan masyarakat Merauke.  Istilah “benagul” sejak saat itu mengiang-ngiang di telinga saya. Saya terdorong untuk mengenali lebih jauh siapa dan apa yang mereka buat.

Awal Maret 2016, sang penulis ternyata telah berhasil menyusun sebuah buku kenangan sebagai bagian dari sejarah peradaban di Papua Selatan. Saya sudah mendapat beberapa eksemplar tetapi belum sempat membaca isinya. Para benagul juga mendapat kiriman buku-buku itu melalui saya karena saya yang membawanya dari Jakarta.  Judul buku tersebut adalah:  RESTORASI MISI KATOLIK di Kepulauan Maluku  1888 - 1994. Mereka dengan sukacita menerima buku-buku itu, dan meminta saya untuk bertemu dengan para benagul.  Pertemuan dengan mereka pun terjadi pada hari Rabu, 23 Maret  2016 di wisma uskup.

Pada pertemuan itu, mereka mengucapkan terima kasih atas buku-buku yang telah mereka terima, dan kepada bapak Frits Pengemanan yang telah menyusun buku itu.  Selanjutnya mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada 3 Uskup yang telah mengutus orangtua mereka untuk menjadi misionaris di Papua ( pada waktu itu disebut Irian Barat ). Nama ketiga uskup tsb adalah Mgr. Johanes Aerts MSC ( Uskup Amboina wafat 30 Juli 1940 pada masa pendudukan Jepang), Mgr. Jakobus Grent MSC (uskup Amboina 1941 – 1965) dan Mgr. Herman Tillemans MSC ( Uskup Agung Merauke 1950 - 1972).  Rencana syukuran akan dilaksanakan tanggal 30 Juli 2016, sekaligus mengingat hari wafatnya Mgr. Johanes Aerts MSC.  

Mereka juga sudah menyusun suatu cerita ketika mereka tinggal di asrama. Bentuk bangunan asrama pada waktu itu adalah rumah panggung. Karena itu, kumpulan tulisan mereka disebut “Drama Kehidupan di Rumah Panggung”.  Nama asrama itu sesungguhnya Mgr. Henry Verius MSC, uskup di Port Morestby - Papua Nugini pada waktu itu.  Mungkin pula beliau pernah berkunjung ke Merauke. Saya diminta untuk membuat kata pengantar pada buku / kumpulan tulisan itu.  Kata pengantar saya itu, saya tampilkan di blog ini untuk anda.

Kepada bapak Frits Pengemanan yang telah membantu saya menuliskan fakta sejarah dan perkembangan peradaban di Papua Selatan ini, saya ucapkan banyak terima kasih.  Dialah penulis buku yang saya maksudkan pada awal uraian saya ini. Dan kepada anda sekalian, para pembaca budiman, saya ucapkan ........selamat membaca.


KATA PENGANTAR

Drama Kehidupan di Rumah Panggung merupakan  ceritera / ungkapan pengalaman dari para mantan penghuni rumah panggung.  Rumah Panggung adalah sebutan nostalgia  atas asrama putra yang diasuh oleh para bruder dan kaum awam katolik. Wujud bangunan asrama pada waktu itu adalah “rumah panggung” yang letaknya di pendopo / bagian depan pintu utama gereja katedral Merauke sekarang. 

Para penghuni asrama ini adalah anak-anak para guru, katekis, tukang kayu, petugas kesehatan, petugas perkebunan dll yang diutus untuk bekerja di pedalaman, supaya mereka bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang memadai. Pembinaan di asrama yang mereka alami, telah memungkinkan mereka menjadi manusia-manusia berkualitas yang telah ambil bagian dalam pembangunan umat dan masyarakat di banyak wilayah selatan Papua ini. Mereka menyebut diri Komunitas Benagul ( bekas nasi gula ) karena makanan mereka sehari-hari lebih sering adalah nasi yang diberi gula. Makanan yang sederhana itu tidak menyurutkan masa pendidikan mereka, sehingga mencapai taraf yang mencukupi untuk berkarya.  Mereka kini tinggal 20-an orang yang masih aktif dalam kegiatan bermasyarakat, sedangkan yang lain sudah sakit-sakitan, dan yang lain lagi sudah meninggal.

Dengan bantuan buku / tulisan ini, para pembaca dapat menemukan dan belajar tentang:
1.        model / situasi kehidupan  serta fasilitas pembinaan asrama pada waktu itu
2.       jumlah pembina dan visi – misi pembinaan yang berkesinambungan
3.       fakta-fakta kehidupan dan data-data Sejarah Gereja Katolik di Papua Selatan yang dapat melengkapi “sejarah yang sudah ada”
4.       pengorbanan para misionaris baik awam maupun bruder dan petugas lainnya demi perkembangan peradaban manusia di wilayah ini

Melalui tulisan ini, saya hendak mengucapkan terima kasih dan apresiasi saya kepada penulis / penyusun buku kenangan ini, sehingga kehidupan di asrama pada waktu itu yang dahulu kabur, kini telah menjadi lebih terang. Buku / tulisan ini dapat merupakan kenangan tertulis sekaligus ajakan / undangan kepada  pembaca atau penulis lain untuk menelusuri lebih lanjut dan melengkapi apa yang masih harus disempurnakan.

                                                       Merauke, 25 Maret 2016
                                                         Uskup Agung Merauke

                                               Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC