Selasa, 28 Juni 2016

GUA MARIA CERMIN KEKUDUSAN - AUTRIOP / TANAH MERAH

GUA MARIA CERMIN KEKUDUSAN

Autriop nama kampung itu.  Tempat ini dijadikan pusat pelayanan untuk umat paroki Kristus Bangkit - Wakariop, karena letaknya strategis, di jalan raya Tanah Merah - Mindiptana, mudah dijangkau, dan banyak faktor lain lagi yang membuat kampung ini cepat berkembang. Jaraknya kira-kira 50 km dari Tanah Merah. Sedangkan kampung Wakariop yang dulu menjadi pusat paroki, selain tempatnya terpencil ( 30 km dari Tanah Merah) dan tidak strategis, pelan-pelan ditinggalkan penduduknya yang mencari kerja di Tanah Merah. 

Tanah Merah adalah ibukota kabupaten Boven Digul. Jaraknya kira-kira 420 km dari Merauke. Untuk mencapai tempat ini, orang bisa naik mobil dari Merauke selama kira-kira 8 - 10 jam, ketika musim kering. Ketika musim hujan, karena jalanan becek dan berlumpur di beberapa tempat, perjalanan bisa menjadi lebih lama. Ongkosnya Rp. 600.000,- Orang juga bisa naik pesawat kecil selama 1 jam 10 menit, dengan biaya Rp. 1,500.000 per penumpang.  Bisa juga penumpang naik kapal selama 3 hari dengan biaya Rp. 200.000,- melalui laut dan sungai Digul. 

Uskup dan rombongan Bupati berangkat dari Tanah Merah dengan mobil menuju Autriop. Kira-kira jam 13.00 rombongan tiba di sana. Rombongan disambut oleh pastor Vikep, umat dan aparat kampung dengan penjemputan tarian "danda" ( tari persaudaraan ), di depan gapura dan dihantar menuju ke pastoran.  Setelah kata-kata sambutan dan ucapan terima kasih, umat membubarkan diri supaya bersiap-siap untuk acara sore harinya. 

Hari itu, 11 Juni 2016, umat beriman berkumpul di depan pastoran, sekitar jam 18.30.  Jumlah mereka lebih dari 200 orang. Cuaca bagus dan tidak tampak tanda-tanda akan hujan. Kami semua siap untuk menuju ke gua Maria. Letaknya cukup dekat dari pastoran, sekitar 5 – 6 menit jalan kaki.  Sebelum sampai ke gua, ada acara singkat di depan rumah adat Wambon ( suku Mandobo ).  Di rumah adat ini, disimpan pakaian-pakaian adat dan semua alat yang perlu untuk tarian adat.

Saat itu hari sudah mulai malam. Jalan menuju ke rumah adat pun tidak kelihatan. Dengan bantuan senter seadanya, kami berjalan menuju ke sana. Yang lain berjalan mengikuti rombongan di depan mereka dalam kegelapan. Tibalah kami di depan rumah adat. Bupati memotong tali adat, dengan terlebih dahulu mengucapkan mohon berkat Tuhan dan restu nenek moyang. Setelah tali dipotong, beliau mempersilakan umat Allah berjalan mendahuluinya untuk menuju ke gua. Uskup, para imam dan bupati berjalan di belakang umat dan menuju ke gua juga.

Memotong tali adat

Memotong tali adat dapat diartikan bahwa secara adat, tidak ada halangan apa pun untuk memasuki daerah dan kehidupan masyarakat setempat. Dengan tulus, mereka menerima ajaran iman, mengikutinya dengan setia, karena apa yang diajarkan oleh Yesus sejalan dengan apa yang mereka temukan dan mereka hayati dalam adat mereka. Sebaliknya, bagi pengajar iman katolik, apa yang ada di dalam adat diangkat dan dimurnikan oleh rahmat Allah.  Proses inkulturasi telah terjadi. Iman katolik dihayati sesuai dengan situasi dan kehidupan mereka. Mereka tidak dicabut dari budaya dan adat mereka sendiri.

Misa

Kali ini misa dipimpin oleh Mgr. Niko (uskup agung Merauke). Di tempat yang sama telah dilaksanakan beberapa kali misa yang dipimpin oleh Vikep Mindiptana, pastor paroki dan juga misa konselebrasi dalam rangka rekoleksi para biarawan-wati se kevikepan Mindiptana.  Bagaimana ceritanya sehingga tempat itu dipilih sebagai tempat untuk merayakan ekaristi dan tempat didirikannya gua Maria ?

Satu setengah tahun yang lalu, tepatnya tanggal 14 September 2014, di tempat itu ditemukan mata air. Penemunya adalah P. Widi Hargono MSC. Debit airnya besar dan kualitas airnya sungguh luar biasa. Air itu mengalir sepanjang tahun. Meskipun tidak difilter atau tidak direbus, tingkat kemurniannya tinggi sekali, jauh di atas air minum botolan pada umumnya. Kandungan unsur logam dan unsur-unsur lainnya amat rendah, tidak berbau dan warnanya jernih. Di tempat itu ada 2 mata air. Letaknya saling berhadapan. Dua-duanya punya kualitas yang sama.


Pemberkatan Gua Maria

Sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan air yang baik dan berkualitas itu, dibangunlah di sana gua Maria. Saat ini gua Marianya sudah selesai dibangun. Tingginya kira-kira 4 meter. Warnanya coklat,  sesuai dengan warna tanah yang ada di sekitarnya. Letaknya di lereng bukit, di dekat mata air.

Patung Maria yang sudah disiapkan itu, ditempatkan di stasi Ginggimop. Beberapa waktu yang lalu,  dengan khidmat dan sukacita, umat mengarak patung itu dari stasi Ginggimop sejauh 6 kilo mter, menuju Autriop.  Mereka berjalan dengan kaki telanjang mulai jam 3 sore hingga tiba di gua yang sudah disiapkan. Misa kudus dilangsungkan di depan gua, oleh beberapa imam. Patung itu warnanya putih dan berikatkan kain biru di pinggangnya, seperti patung Maria di gua Lourdes. Patung itu tingginya kira-kira 1 meter.

Tanggal 11 Juni 2016, gua Maria “Cermin Kesucian” diberkati oleh Mgr. Niko MSC dalam misa konselebrasi bersama dengan P. Jan Sareta MSC, P Jhems Kumolontang MSC, dan P. Widi Hargono MSC (pastor paroki). Sekitar 300 umat hadir pada kesempatan itu, mereka datang dari stasi Wakariop, Arimop, Arua, Arimbet, Tinggam, Ogenetan dll.  Bukit di sekitar gua masih sangat alamiah. Dinding-dinding bukit yang masih berupa tanah merah, kelihatan di mana-mana. Jalan setapak yang belum disemen / dikeraskan juga dilalui para peziarah mulai dari jalan raya sampai ke sekitar gua.

Di banyak tempat, ketika ziarah dan gua Maria baru dimulai, keadaan tempat dan wilayah itu pada umumnya amat sederhana, alamiah dan belum teratur. Di sana, pada saat itu, tidak ada warung makan, atau tempat penginapan, atau pun kios-kios yang menjual kebutuhan para peziarah. Beberapa tahun kemudian, suasananya berubah. Toko-toko, restoran, hotel-hotel bermunculan, kehidupan masyarakat di sana pun makin sejahtera.  Itu tanda bahwa kehidupan masyarakat dan keimanan mereka pun berubah. 

Mereka menjadi orang-orang yang percaya dan makin dekat dengan Allah dan sesamanya.  Toko-toko benda-benda rohani, restoran dan hotel-hotel bila hanya “menawarkan jasa dan mengejar keuntungan”,  perlahan-lahan akan bangkrut. Namun bila mereka memberikan pelayanan, dengan mengutamakan ketenteraman, kepastian, kejujuran, pengertian, kesabaran, persaudaraan, kesetiaan dan kemurahan hati, usaha mereka akan berumur panjang. Pelanggan mereka akan datang kembali dan semakin banyak.

Bunda Maria yang telah percaya bahwa “apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan terlaksana” bukan hanya menjadi saluran berkat di tempat-tempat lain. Di Autriop pun, bunda akan melakukan hal yang sama bagi umat di wilayah ini.  Bunda mencintai umat di mana pun, terlebih mereka yang bersama dia mengejar kesucian dalam kehidupan sehari-hari.  Untuk itu, bunda Maria juga mengajak umat Autriop, umat paroki Wakariop dan sekitarnya menjadi penggerak umat Allah dalam mengusahakan kesucian hidup. 

Perlu diusahakan agar umat hidup dalam suasana damai, tahu kerja keras, rumah-rumah dan halaman bersih dan teratur.  Di kampung ini tidak ada perjudian, kemabukan, perkelahian, narkoba, ketegangan dll.  Sebaliknya, penduduk kampung ini ramah tamah, bersahabat, makan minum terjamin, tahu menjaga keamanan dan kebersihan. Dengan demikian, akan banyak orang yang datang ke sini, dan turut serta mengucap syukur atas anugerah yang dianugerahkan Allah kepada umat di sini.

Tempat-tempat ziarah yang sering dikunjungi merupakan bukti nyata bahwa di sana “berkat dan rahmat surgawi ada, nyata dan dialami oleh banyak orang”.  Berkat dan rahmat surgawi ini mengalir bukan hanya bagi orang-orang katolik, tetapi juga kepada orang-orang yang berkehendak baik.  Dan semakin rahmat itu mengalir, semakin banyak orang pula yang pergi ke sana untuk berziarah. Malah mereka yang dulu pernah mengalami kasih Allah itu, mengajak banyak orang untuk turut bersyukur dan memohon rahmat yang baru untuk kehidupan selanjutnya.

Hujan berkat

Seluruh upacara berlangsung dalam suasana yang sejuk, dan alami karena diselenggarakan di sekitar gua yang memang masih sangat alami.  Tamu-tamu duduk di bawah tenda darurat, yang lain duduk di pelataran gua yang masih berupa tanah liat. Yang lain lagi duduk di trap-trapan tanah liat namun kering.  Cahaya lampu pun tidak mampu menerangi semua area, karena memang persediaan semua sambungan listrik juga amat terbatas. Meski demikian, kegembiraan umat dan kekhidmatan ibadah syukur tidak terganggu oleh keterbatasan sarana.

Koor kelompok kerahiman yang sudah berlatih beberapa hari, di bawah pimpinan Sr. Ina ALMA menjadi motor lagu-lagu pada perayaan itu.  Lagu-lagu untuk misa dipilih dan disesuaikan dengan yang dikenal umat, sehingga semuanya bisa turut bernyanyi. Misa berlangsung meriah, sederhana dan menjadi pokok sukacita bagi semua.  Bacaan Kitab  Suci diambil dari Injil Lukas, tentang Maria yang mengunjungi Elisabeth. Keduanya mengalami sukacita yang besar, karena Allah menyertai mereka. Keduanya berbahagia, karena apa yang disabdakan Tuhan kepada mereka, betul-betul terlaksana.

Kaum Perempuan pegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat dan dalam rencana keselamatan Allah. Maria dan Elisabeth merupakan bukti bahwa Allah berkenan kepada manusia melalui mereka.  Mereka ambil bagian secara aktif untuk mewujudkan rahmat itu, agar dialami dan hadir bagi setiap generasi.  Yang tua menyiapkan dan mendorong yang muda untuk berani tampil dan menyebarluaskannya kepada umat beriman di mana saja. Melalui perempuan-perempuan sederhana, Allah memberkati umat-Nya,  dan memunculkan orang-orang besar untuk memimpin umat-Nya.

Moga-moga melalui peziarahan di tempat ini, akan muncul banyak perempuan dan keluarga-keluarga yang terberkati. Makin banyak orang mengalami pertobatan dan penyembuhan. Dan mereka ini, akan mengajak orang beriman yang lain lagi untuk mengucap syukur atas rahmat dan kehidupan yang diberikan kepada mereka.  Siapa pun mereka, dari golongan agama mana pun yang hendak berziarah ke tempat ini dengan tulus, tidak dilarang. Rahmat yang dialami umat di tempat ini, adalah rahmat yang diberikan kepada semua umat beriman.

Bunda Maria yang kita hormati adalah juga bunda bagi banyak umat beriman yang merindukan kasih sayang dan keibuan bunda kita.  Bapak presiden, bapak gubernur, bapak bupati dan pejabat negara atau pun pimpinan lembaga mana pun yang hendak berziarah ke tempat ini, diterima dan dipersilakan dengan sukacita dan keterbukaan hati. Kehadiran mereka tentu merupakan rahmat Allah bagi umat beriman di tempat ini juga, meskipun mereka tidak seiman dengan kita.

Setelah misa selesai, hujan mulai turun. Secara spontan, banyak yang bilang “itu hujan berkat”. Pada saat sambutan-sambutanpun, hingga seluruh perayaan itu selesai hujan masih turun. Meski demikian suasana gembira dan syukur tetap memenuhi hati dan pembicaraan kami. Seluruh upacara berlangsung kurang lebih selama dua setengah jam. Setelah umat beriman pulang ke rumah masing-masing, malam itu hujan turun cukup lebat.  Bunda Maria “Cermin Kesucian” menyalurkan berkat Tuhan kepada umat Allah yang berziarah pada malam itu.

Mata air kembar

Simon dan ada 10 orang yang lain, telah disembuhkan. Simon sudah cukup lama kakinya kram-kram sehingga tidak bisa jalan. Dia terpaksa dipapah, untuk bisa sampai ke mata air.  Setelah kedua kakinya disiram air gua  Maria, dia mengalami bahwa kedua kakinya mulai hangat, dan kemudian dia bisa berjalan kembali seperti semula.  Hingga saat ini penyakitnya tidak kambuh lagi.

Mata air kembar moga-moga merupakan tanda bahwa Allah akan mencurahkan kasih sayang dan berkat-Nya berlipat ganda. Umat beriman hendaknya menjadi lebih siap untuk menerima curahan kasih sayang itu, siap menjadi saksi-saksi-Nya yang baik dan setia. Moga-moga pula, makin banyak orang yang doanya dikabulkan, ketika berdoa di tempat ini. Moga-moga Bunda Maria yang mencerminkan kekudusan Allah, akan mendorong semua orang yang percaya, hidup kudus dan berkenan pada Allah dan  dalam pengabdian kepada sesama.  

OXIBIL

Pembaca yang budiman
Saya mengunjungi anda kembali, setelah sekian lama absen. Kali ini, saya hadirkan sebuah  cerita yang baru saja saya alami. Moga-moga anda terinspirasi atau menemukan sesuatu yang bagus di dalamnya. Selamat menikmati....

OXIBIL adalah nama sebuah kecamatan / kota kecil di Pegunungan Bintang – Provinsi Papua. Letaknya di bagian tengah.....kalau anda melihatnya di peta. Di bagian itu, ada banyak deratan gunung-gunung dan pegunungan.  Penduduknya sekitar 3.000 orang. Untuk pertama kalinya, saya mendarat di kota kecil ini, setelah terbang dengan pesawat kecil ( jenis Caravan ) selama 1 jam dari Sentani – Jayapura.

Terbang berdua

Sesudah menunggu beberapa menit di ruang tunggu keberangkatan pesawat AMA - Bandara Sentani, saya dipersilakan naik pesawat. Saya adalah penumpang satu-satunya.  Hari itu, Jumat tanggal 9 Juni 2016, saya duduk di samping pilot, yaitu duduk di kursi ko-pilot. Duduk di kursi ko-pilot, dan terbang dengan pesawat kecil milik AMA yang hanya berpenumpang 12 orang, bukanlah untuk pertama kalinya bagi saya. Namun yang istimewa kali ini adalah kami hanya terbang berdua saja bersama pilot.

Saya duduk di kursi ko-pilot di bagian “cockpit”, melihat semua instrumen yang disentuh dan tombol-tombol lain yang digerakkan oleh kapten pilot. Saya melihat dari dekat, bahkan bisa menyentuhnya, kalau saya mau. Meski demikian, saya tidak ingin dan tidak tergerak untuk menyentuh istrumen atau tombol apa pun, karena saya takut nanti terjadi sesuatu yang fatal, bagi semua pihak. Sejak sebelum keberangkatan, semuanya dikerjakan sendiri oleh pilot sebagai pilot tunggal dari pesawat jenis Caravan, sedangkan saya hanya melihat dan mengagumi kelincahan dan keberanian pilot untuk mengoperasikan pesawat seorang diri.

Widi nama pilot itu. Usianya baru 23 tahun. Ayahnya telah berpuluh-puluh tahun bekerja sebagai mekanik PT AMA, dan kini menjabat sebagai Direktur Operasional.  Setelah tamat SMA, Widi belajar di sekolah penerbangan di Amerika, selama 8 bulan. Setelah tamat dan mengantongi ijazah penerbangan, dia kembali dan ikut pilot-pilot senior melintasi daerah-daerah dan pengunungan di wilayah Papua. Setelah punya pengalaman cukup, dan jam terbangnya juga memenuhi syarat, dia baru diperbolehkan terbang sendiri. Sampai saat ini, dia telah diperbolehkan terbang sendiri dan sudah mengantongi lebih dari 1.000 jam terbang. Sementara itu, terbang sendirian telah dijalaninya sebanyak 600 jam. 

Perjalanan / penerbangan pertama adalah penerbangan Jayapura – Oxibil. Bagi saya, inilah perjalanan pertama ke daerah Pegunungan Bintang. Kata orang, pesawat akan melewati gunung dan pegunungan.  Meskipun ada rasa cemas, karena belum pernah terbang berdua dan melintasi daerah itu, saya tetap memilih terbang dengan pesawat AMA ini. Apalagi untuk mencapai tujuan perjalanan saya yaitu Tanah Merah, inilah satu-satunya kemungkinan yang terbaik.  Perjalanan dari Jayapura ke Oxibil membutuhkan waktu 60 menit.

Ketika pesawat sudah di udara, sekitar jam 6 pagi, saya menikmati pemandangan yang indah...pemandangan alam di danau Sentani pada waktu pagi.  Danau itu amat luas, dan airnya tenang. Matahari baru mulai terbit, dan menyinari beberapa titik danau itu. Aktivitas penduduk belum kelihatan. Cuaca cerah dan berawan putih di mana-mana. Semuanya tentram dan damai.

Sepanjang perjalanan awal itu, saya hanya melihat hutan yang penuh dengan pohon-pohon yang tingginya rata-rata sama. Hutan itu begitu lebat, dan tidak kelihatan ada perumahan satu pun di sana.  Hutan-hutan itu menutup seluruh permukaan pegunungan yang kami lintasi. Cuaca pagi yang bagus memungkinkan saya untuk menikmati hutan dan pegunungan dari ketinggian 800.... 2.000 – 3000 kaki, kemudian menuju ke ketinggian 9.500 kaki.  Ketinggian pesawat dapat dilihat di layar monitor pesawat baik di bagian pilot maupun di ko-pilot.

Sungai-sungai yang melingkar-lingkar seperti ular, dengan airnya yang mengalir dari gunung dan pegunungan, tampak jauh di bawah sana. Semuanya dikelilingi oleh hutan yang lebat. Tidak ada tanah yang kosong. Hutan perawan yang ada di Papua memang amat luas. Tidak mengherankan ada banyak investor yang ingin mengelola hutan itu. Setelah terbang beberapa menit, ada beberapa perkampungan yang kelihatan bagaikan “rempeyek kacang” karena perumahan mereka terkumpul, bagaikan kacang yang rapat di makanan tradisional di Jawa yang disebut “rempeyek atau peyek”.

Melintasi bukit

Ketika pesawat hendak melintasi gunung-gunung yang berlapis-lapis, ada perasaan tertentu yang muncul di benak saya. Rasa kecil, takut, was-was, pasrah dsb..... Dan untuk mengatasi semuanya itu, pertama-tama saya panjatkan doa. Entah berapa kali doa salam Maria saya doakan, sambil melihat pemandangan, awan, gunung yang makin mendekat di depan saya, dan di bawah pesawat.  Sesudah gunung dan pegunungan itu kami lewati, di kejauhan di bawah sana, tampak kampung Akmisibil.  Kampung itu kecil dan terletak di lembah.  Untuk menjangkau tempat itu, satu-satunya sarana yang mungkin adalah pesawat. Maka, dari udara tampak juga lapangan terbang di kampung itu.

Kemudian pesawat terbang melalui celah pegunungan.  Jarak antara pesawat dengan tebing gunung sungguh amat dekat.  Kami berdua yang ada di pesawat, betul-betul berada di tengah / di celah gunung.  Ada rasa takut dan kagum. Saya takut karena untuk pertama kalinya berada di daerah itu dan begitu dekatnya dengan tebing gunung.  Terbayang beberapa waktu yang silam, ada pesawat yang menabrak gunung, karena cuaca atau karena angin gunung yang tiba-tiba muncul dan menghempaskan pesawat.  Pada saat yang sama, saya kagum pada pilot yang begitu tenang, terampil dan percaya diri dalam mengemudikan pesawat. Semuanya dia kerjakan sendiri.


Setelah melewati gunung dan pegunungan, Oxibil sudah tampak dari kejauhan. Letaknya di lembah yang cukup luas. Kalau dari arah pesawat,  daerah itu letaknya di sebelah kiri.  Ada banyak rumah, dan perkantoran yang sudah dibangun secara permanen. Jalan-jalan juga sudah diaspal. Jaringan listrik juga sudah ada.  Tempat ini sudah maju pesat, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Penduduknya lebih dari 3.000 orang.  Sudah ada banyak kendaraan bermotor, juga mobil-mobil pemerintah dan 1 bis kecil yang masih juga ada di sana.  Semua barang kebutuhan yang berasal dari daerah lain, supaya sampai ke Oxibil, harus diangkut dengan pesawat.  Bis dan kendaraan besar lainnya, serta alat-alat berat (exavator) diangkut dengan menggunakan pesawat herkules.

Kami mendarat dengan selamat di Oxibil. Cuaca cerah dan tidak ada angin sehingga pesawat bisa menuju ke hanggar parkir AMA dengan lancar.  Dua orang pegawai AMA dengan sigap membuka pintu dan mempersilakan saya turun. Di Bandara, saya bertemu dengan Sr. Aniceta KSFL yang bekerja di bagian administrasi penerbangan pesawat-pesawat AMA. Sudah 1 tahun, beliau bertugas di bagian itu. Sebelumnya, dia bertugas di rumah retret St. Clara di Sentani.

 Sebelum bertugas di kedua tempat itu, Sr. Aniceta pernah bertugas di bagian administrasi SMP John 23 Merauke, selama 2 tahun.  Itulah sebabnya, ketika di Oxibil, saya bertemu kembali dengan suster yang dulu pernah bersama-sama mengabdi di Merauke. Meskipun sudah pindah ke tempat lain, persaudaraan yang pernah terjalin, tetap hidup. Sayang bahwa waktu transit hanya sebentar, sehingga kami tidak bisa bercerita panjang-panjang, apalagi suster juga harus mengurus administrasi dan barang-barang yang akan dibawa ke Tanah Merah. Meski hanya sebentar, saya mengalami bahwa kami bukan lagi orang asing satu sama lain.

Perjalanan dilanjutkan lagi dengan pesawat yang sama menuju ke Tanah Merah. Semua tempat duduk pesawat dilepas, sehingga di bagian itu kosong sama sekali. Yang ada di pesawat hanya 2 orang yaitu pilot dan saya. Kami hanya melewati satu deret pegunungan, dan  selanjutnya penerbangan di wilayah itu menuju ke Tanah Merah amat santai. Pegunungan sudah tidak ada lagi, dan cuaca juga cerah, sehingga hati dan perasaan saya pun jauh lebih tenteram.

Pesawat dikemudikan secara otomatis, sesudah mencapai ketinggian 6.500 kaki. Beberapa kali pilot berkomunikasi dengan pihak pengawas di bandara, dan sesudah itu dia memberitahu sambil menunjuk ke arah kanan bahwa di depan sana ada pesawat yang baru saja terbang dari Tanah Merah menuju ke Oxibil. Saya melihat ke arah itu, dan benar bahwa ada 1 pesawat yang terbang tinggi, menuju ke arah yang berlawanan dengan arah pesawat kami.  Saya juga bertanya, bagaimana pilot tahu bahwa ada pesawat ? Dia menjawab: “Kami tadi saling berkomunikasi. Pilot-pilot harus tahu bahwa di wilayah A atau B atau C, frekwensi radio yang dipergunakan adalah sekian, sekian, supaya tidak terjadi tabrakan di udara.  Oleh pilot di pesawat lain, diinformasikan bahwa di Tanah Merah ada 2 pesawat dan 1 helikopter. Cuaca di sana juga bagus dan cerah”.

Di layar monitor, Tanah Merah sudah kelihatan. Dan Gambar pesawat juga sudah mendekati lokasi itu. Artinya tidak lama lagi pesawat akan mendarat. Saya melihat pilot mulai menggerakkan beberapa instumen dan tombol, dan ketinggian pesawat mulai berkurang. Pesawat pelan-pelan mulai menurun, dan menembus awan untuk menuju ke tujuan. Setelah bebas dari gugusan awan, kota Tanah Merah sudah kelihatan. Cuaca memang bagus dan tidak hujan, sehingga dengan mudah pesawat mendarat. Setelah terbang 30 menit dari Oxibil, kami tiba dengan selamat.

Kalau tidak ada penerbangan ini, saya harus menempuh perjalanan lebih panjang dan lebih lama. Route panjang yang harus saya lalui adalah Jayapura – Merauke dengan pesawat Boing 737, kami terbang selama 1 jam dan tiba di Merauke, kira-kira jam 9.30. Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang mobil selama kurang lebih 8 – 9 jam. Apalagi saat ini musim hujan dan banyak jalan yang rusak. Ada kemungkinan kami tiba di Tanah Merah jam 8 malam.  Dengan menumpang pesawat kecil AMA, perjalanan menjadi lebih singkat dan nyaman. Terima kasih kepada pilot Widi yang telah mengantar saya dari Jayapura ke Tanah Merah, via Oxibil. Kami terbang dari Jayapura jam 6.00 dan tiba di Tanah Merah, jam 7.55.

Melalui hamba-hamba-Nya, Tuhan telah menuntun dan melindungi saya sehingga tiba di tempat tujuan dengan selamat.  Dia juga memperkenankan saya untuk melihat kemajuan yang telah terjadi di daerah lain.  Dia menguatkan saya untuk lebih siap mengadakan perjalanan di gunung-gunung.  Namun Dia juga meminta saya untuk pasrah, berdoa lebih banyak, mengucap syukur serta mengagumi kemahakuasaan-Nya yang terbentang di alam ciptaan-Nya. 

Tuhan telah memelihara manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya berabad-abad lamanya di tempat-tempat yang terpencil dan terisolir. Mereka diberi makan, kesehatan, kekuasaan untuk melindungi diri, kepekaan untuk membaca dan memahami tanda-tanda alam, sehingga bisa tetap hidup dan berkembang biak. Alam telah menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh manusia, dan mereka bisa hidup, beranak cucu, tanpa harus tergantung dari obat-obatan pabrik, tanpa dokter atau bidan dan perawat yang lulus dari perguruan tinggi tertentu.  Mereka juga tidak kekurangan gizi. Dalam suasana yang demikian, kata-kata pemazmur tetap sangat cocok untuk diucapkan: “Tuhan Allah kami, betapa mulianya nama-mu di seluruh bumi” ( Mzm 8: 2).

Rabu, 01 Juni 2016

TIGA MINGGU DI BALI

Cerita tentang Kursi no. 17 C saya lanjutkan dengan cerita berikut ini. Ceritanya sesungguhnya biasa, sederhana, dan sepertinya tidak ada apa-apanya. Saya juga sekedar menuliskannya untuk anda. Moga-moga anda mendapatkan mutiara kehidupan di dalamnya. 


Ibu Yolanda baru saja menghabiskan masa liburnya di Bali selama 3 minggu. Dia memilih libur di daerah Ubud – daerah wisata yang  dikelilingi persawahan. Rupanya sudah beberapa kali dia berlibur ke sana.  Lingkungan hidup yang alami, bunyi aliran air dari persawahan, pemandangan alam dan kehidupan masyarakat setempat yang dekat dan mengikuti “irama dan keteraturan alam” membuat bu Yolanda kerasan untuk berlama-lama di sana.  Memang sudah banyak tempat lain yang dia kunjungi, ke tempat menonton pertunjukan tari kecak misalnya, atau tempat-tempat kuliner, ke Gianyar, pantai Kuta, Jimbaran, namun Ubud adalah daerah tujuan wisata yang telah memikat hatinya.  

Waktu 3 minggu dihabiskan untuk menikmati “alam, kehidupan masyarakat pedesaan yang sering sulit ditemukan di tempat lain, serangga, flora dan fauna yang juga sering sudah tidak ada di wilayah lain di bumi nusantara ini.  Bagi Yolanda, berlibur setiap tahun ke daerah-daerah yang masih amat alami sungguh menyenangkan dan menyegarkan semangatnya. Di sana dia menemukan “yang alami, yang asli, yang seadanya, dan organik” sedangkan di banyak tempat lain yang disuguhkan lebih banyak yang tiruan,  penuh dengan ramuan dan unsur kimiawi.   Ternyata yang  organik, yang alami dan seadanya, yang sesungguhnya mudah dan murah, menjadi “sesuatu yang langka, jauh dari jangkauan,  tidak dikenal, kalah promosi, dan karena itu untuk menemukannya diperlukan biaya yang besar.

Anak 3  dan cucu 4
Ibu Yolanda mempunyai 3 anak yang sudah dewasa dan menikah.  Ia mempunyai 4 orang cucu. Apa yang mereka taburkan kepada anak-anaknya telah menghasilkan panenan. Ketiga anaknya telah bekerja dan mendapatkan kehidupan yang baik dan turut berperan dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Martin. Dia adalah perancang bangunan. Beberapa hasil karyanya telah diperkenalkan ke beberapa negara.  

Waktu dan perkenalan yang begitu singkat di pesawat dalam perjalanan dari Abu Dhabi ke Roma tidak memungkionkan saya untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang ibu Yolanda. Namun, dari percakapan dan penampilannya, ibu yang sudah berumur 66 tahun itu tetapi  gesit dan energik. Hidangan yang disajikan oleh pramugari disantap semuanya. Artinya, dia tidak memilih-milih makanan. Juga minuman yang dipilih umumnya adalah air putih. Air putih memang lebih sehat daripada minuman kaleng, atau jus yang dikemas dalam botol plastik atau kotak tertentu.

Itulah sebabnya, ketika berumur 60 tahun, dia berjalan kaki bersama rekan-rekannya dari Lousanne (Swiss) ke Compostella ( Portugal ). Mereka menempuh jarak 1.000 km dalam waktu 6 minggu.  Saya terkagum-kagum akan semangatnya yang begitu besar.  Dia bercerita pula bahwa kapan saja, ada banyak orang / kelompok yang berjalan kaki ratusan kilometer untuk menuju ke  Compostella.  Mereka mengorganisir sendiri.  Bagi mereka, berjalan kaki sepanjang 1.000 km menjadi kenangan yang indah, dan banyak orang yang mengulanginya beberapa kali. Ibu Yolanda bertekad, tahun 2017, dia akan berjalan kaki untuk kedua kalinya sejauh 1.000 km namun dengan rute yang berbeda.

Ibu yang gesit ini, melanjutkan ceritanya sambil menunjukkan kepada saya sebuah medali. Medali itu cukup kecil, namun bersih dan terawat dengan baik. Medali kesayangan itu adalah medali Hati Kudus Yesus (HKY) dan telah dibawa ke banyak negara yang dia kunjungi.  Dia juga bercerita bahwa sering berziarah ke beberapa gua Maria. Salah satu di antaranya adalah gua Maria Lourdes.  Dari cara bicaranya dan pengetahuannya tentang tempat-tempat ziarah itu, dan dari medali HKY, saya tidak ragu-ragu bahwa ibu Yolanda beragama katolik, dan ia adalah seorang katolik yang setia.

Dia juga dengan senang dan tenang bersharing tentang banyak hal, karena melalui sharing dia tahu bahwa saya adalah uskup.  Hikmah yang dapat saya petik adalah bahwa devosi, pengetahuan tentang tempat-tempat ziarah, kehidupan yang dialami di masing-masing negara,  meskipun berbeda, terjembatani dan diperkaya oleh iman yang sama dan di dalam kesatuan gereja katolik yang sama. Beda bangsa, beda budaya, beda bahasa dan aneka perbedaan yang lain “bukan halangan untuk  makin percaya kepada Tuhan yang maharahim kepada semua orang” yang mempunyai iman, harapan dan kasih yang sama.


Melalui sharing itu, Tuhan menyapa saya. Orang asing yang tidak saya kenal sebelumnya, telah memperkaya keimanan saya, memperluas cakrawala tentang masih banyaknya orang yang berharap dan menyandarkan imannya kepada Tuhan dengan perantaraan para kudus.  Di negara-negara maju yang saat ini mengalami krisis iman, krisis sosial ekonomi, budaya hedonisme, konsumerisme dll menembus sendi-sendi kehidupan, ternyata iman akan Allah yang hidup, masih tetap hidup. Kaum tua-tua yang ada sekarang adalah saksi hidup. Mereka juga tetap berusaha untuk meneruskan imannya kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka. 

KURSI NO 17 C


Ada apa dengan kursi no. 17 C.  Silakan anda menyimak isinya. Inilah salah satu oleh-oleh perjalanan ziarah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Selamat membaca. 

Sesudah menyapa “hello mom” dan dijawab dengan senyum kecil, saya duduk di sebelahnya. Sesudah itu, tidak ada sapaan-sapaan atau perbincangan yang lain. Sepanjang perjalanan tu, kami masing-masing lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan tidur, karena memang saya masih mengantuk. Kami terbang tengah malam dari Jakarta. Perjalanan dari Jakarta sampai ke Abu Dhabi membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam.  Sedangkan perjalanan dari Abu Dhabi sampai ke Roma membutuhkan waktu 4 jam.

Kami tiba di Abu Dhabi kira-kira jam 6.45 pagi dan transit kira-kira 2,5 jam.  Kami terbang lagi jam 9.15. Dalam perjalanan dari Abu Dhabi ke Roma, saya duduk di kursi no 17 C pesawat ETIHAD – BOEING 737-300.  Kursi no 17 B tidak ada.  Yang ada kursi no 17 A.  Jadi, kursi no 17 A bersebelahan dengan kursi no 17 C.  Di kursi no 17 A itu telah lebih dulu duduk seorang ibu. Dari penampilannya sudah kelihatan bahwa dia bukan orang Asia, berkulit putih, dan saya perkirakan berasal dari Eropa atau Amerika. 

Kira-kira 2 jam menjelang tiba di Roma, mulai ada percakapan kecil.  Ibu itu sedang membaca dan membalik-balik majalah yang disediakan oleh perusahaan penerbangan ETIHAD. Bacaan dan informasi tentang banyak hal di majalah itu ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris.  Saya bertanya tentang kewarganegaraannya.  Dari pembicaraan itu, dia berasal dari Lausanne – Swiss. Ibu itu bernama Yolanda. Kebetulan majalah ETIHAD memuat berita dan cerita tentang negara Swiss, bangunan-bangunan kuno,  beberapa gereja katolik dan daerah-daerah wisata. Tidak ketinggalan toko-toko sovenir dan hotel-hotel serta makanan-makanan bagi para turis yang ingin kuliner juga tersaji di sana.

Di majalah itu, kebetulan sekali dimuat salah satu karya dari ( Martin ?) anak ibu Yolanda. Bu Yolanda menunjukkan karya itu, yang dipasang / ditempatkan di sebuah hotel di Swiss. Saya tidak ingat persis di kota mana. Karya itu terbuat dari kayu. Bagian-bagiannya diukir, dan disambung-sambung sehingga menyerupai bentuk payung atau jamur. Untuk menopang atapnya yang melengkung, Martin membuat jari-jari yang tampak bagaikan 5 jari tangan manusia yang disatukan. 

Saya mengabadikan karya Martin itu, dengan menggunakan kamera yang ada di hp saya, supaya memudahkan pembaca untuk memahami / melihat hasil karya itu.  Foto yang anda lihat itu menunjukkan sebuah kreativitas anak muda, yang hendak memperlihatkan kepada dunia, sesuatu yang khas. Bahwa di tengah hiruk pikuk kemajuan di banyak negara, di kota tertentu di Swiss, ada anak muda yang pantas untuk diperhitungkan. Ada sebuah karya, yang belum ada duanya di belahan bumi mana pun. Mungkin mirip, namun yang khas dari orang yang bernama Martin, adalah karya yang berbentuk jamur / payung, yang terbuat dari kayu yang diukir.

Karya Martin, telah memberikan kegembiraan dan kebanggaan kepada ibunya. Karya yang dimunculkan di majalah itu, diperkenalkan kepada dunia. Banyak orang membacanya, mengaguminya, dan mungkin pula mencari pembuatnya karena ingin membeli produk yang bagus itu.  Hasil karya yang mula-mula hanya biasa-biasa saja, ketika mulai ditampilkan, diberi penghargaan oleh orang lain dan diperkenalkan secara lebih luas, akan memberikan “kegembiraan” yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kegembiraan itu bukan hanya dalam bentuk sapaan, ucapan / salam, tetapi muncul juga sahabat-sahabat baru, jaringan kerja yang baru, dan tentu juga rejeki untuk hidup sehari-hari.  Melalui hal-hal yang seperti ini, kata-kata Yesus menjadi sangat nyata terjadi: “Carilah dulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka yang lain (sahabat, masa depan, rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kesehatan, dan masih banyak lagi) ditambahkan kepadamu”. 

MEWUJUDKAN CITA-CITA

Pembaca yang budimanJudul tulisan ini sebetulnya cukup panjang,seperti yang tertulis di bawah ini.  Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan banyak inspirasi di dalamnya. 


MEWUJUDKAN CITA-CITA 
DALAM KEHIDUPAN DENGAN SUKACITA


Pengantar

Menulis tentang One Heart, One Love and One Mission, ( Satu Hati, Satu Cinta dan Satu Perutusan = SH-SC-SP) bagi saya sungguh tidak mudah. Pertama-tama, karena istilah itu mau menunjukkan nilai-nilai spiritual yang satu dan utuh yang dihayati dan dirumuskan untuk menjawab kerinduan manusia untuk disapa dan menyapa Allah, serta menyapa dan disapa oleh sesamanya.  Maka, dalam tulisan ini, saya mencoba menggalinya secara sederhana, dan moga-moga dapat dipahami maknanya.

Pengertian “hati”
Hati adalah organ penting dari tubuh manusia.  Bila organ ini terganggu, organ-organ lain juga turut  terganggu. Orang itu hidup dalam keadaan tidak sehat, mudah sakit-sakitan, bahkan bisa membawa kepada kematian.  Umumnya hati yang segar berwarna merah, karena penuh dengan darah yang segar. Hal ini mau menunjukkan “betapa pentingnya organ ini baik di bidang kesehatan, maupun di bidang sosial, psikis, emosional, dan spiritual”.  Gambar “hati” sering dipakai untuk melukiskan / menyatakan cinta seseorang kepada yang lain.  Organ hati ternyata punya makna ganda dan sungguh kaya, untuk menggambarkan suasana batin manusia, dan kekayaan batin yang ada di dalamnya.

Hati dan cinta saling berkaitan. Orang yang punya “hati” tentu akan dengan mudah digerakkan oleh cinta untuk berbuat sesuatu. Demikian pula orang yang penuh / memiliki cinta, akan memberikan “hati” (dirinya) dalam bentuk perhatian, tenaga, pemikiran, dan wujud lainnya kepada orang lain.  Orang bisa memberikan sesuatu “tanpa cinta”, namun orang yang mempunyai cinta sesungguhnya tidak bisa hanya diam membisu. Cinta itu mendorong dia untuk bertindak / membuat sesuatu untuk sesamanya, agar orang orang yang dicintai itu hidup bahagia sejahtera.

Organ “hati” tidak pernah bisa bekerja sendirian. Dia bekerja bersama dengan organ-organ lain, dan seirama, seperasaan, secita-cita, dan sepenanggungan dengan yang lain. Gangguan yang dialami oleh organ lain, menjadi gangguan / tanggungan yang mengenai dirinya pula, demikian pula sebaliknya. Kesatuan antar organ itu amat melekat, dekat, dan terjadi setiap saat dalam “suatu ikatan dan dinamika serta kondisi tubuh yang harus diterima dengan keterbukaan total, tanpa syarat apa pun”.  Apa yang  masuk ke dalam tubuh, harus diterima oleh semua organ, dan diproses. Yang bisa diterima kemudian menjadi bagian penting tubuh, dan yang tidak berguna atau mengganggu dikeluarkan. Itulah proses alami yang terjadi  setiap saat di dalam tubuh manusia, dan organ-organ penting itu menunjukkan perannya masing-masing. Semuanya bergerak dalam satu kesatuan dan keseimbangan, serta keteraturan.

Satu Hati, Satu Cinta dan Satu Perutusan ( SH-SC-SP )
Dalam perenungan dan penemuan saya, satu hati dapat dimengerti 1) sebagai “berhati satu” artinya mempunyai hati / kepentingan / peran / perasaan / pilihan / tekad yang sama.  Satu hati juga bisa berarti 2) siap “dijadikan satu atau menjadi satu dengan kesediaan penuh, sebagai organ penting, 3) bersedia dan siap untuk bekerja sama dengan organ-organ penting lain di dalam tubuh yang sama, 4) siap memproses apa yang masuk, dan 4) siap menanggung “susah senang” bersama organ-organ yang lain sampai akhir.  

Satu cinta dapat dipahami sebagai satu kekuatan dan suasana dalam bertindak untuk suatu tujuan yang luhur dan mulia.  Inti yang paling dasar dari cinta adalah memberi / memberikan kepada yang lain baik sesuatu yang biasa, yang lebih baik ataupun yang paling baik tanpa syarat atau embel-embel apa pun.  Kekuatan dan suasana yang satu itu, menjadi kekuatan raksasa yang dapat mengubah manusia dan dunia, dari dalam dan dalam ikatan damai.

SH-SC-SP, yang kemudian diwujudkan dalam satu perutusan, berarti :
1.    Diproses di dapur yang sama, oleh para tukang masak yang sama kualitasnya, dan menjadi “makanan yang lahir dari pabrik yang sama dan dengan kualitas yang sama”
2.   Produk-produk itu disalurkan oleh distributor yang kualitasnya yang sama, karena para distrubutor itu telah dilatih dan diuji serta dinyatakan lulus secara personal, intelektual, sosial, mental, psikis dan spiritual, secara berkelanjutan.
3.   Produk-produk itu disalurkan secara tertib, teratur, dan aman terjaga sehingga tiba di tempat dalam keadaan “utuh”
4.   Para pengguna produk-produk itu puas, bahkan tetap memilih “merek” itu untuk seterusnya.

Momen Ulang Tahun
Dalam momen ulang tahun Tarekat Putri Bunda Hati Kudus ( PBHK ), kiranya baik apa yang saya tuliskan dalam cerita / kiasan tadi, direnungkan dan diambil inspirasinya untuk masing-masing pribadi, komunitas, daerah dan keseluruhan kehidupan Tarekat, baik struktur, personalia, program dan menejemen, komunikasi, jaringan kerja dll.  Pokok-pokok penting yang muncul dalam pemikiran saya adalah:

1.    Bahan baku
Orang-orang yang akan menjadi organ penting (= “bahan baku”-nya) perlu diseleksi dan dibina sejak awal, hingga tahap terakhr secara mantap, sehingga menjadi pribadi-pribadi yang manusiawi dan dewasa. Kalau bahan bakunya bermasalah, proses selanjutnya juga akan makin sulit dan produk yang  dihasilkan juga sulit dijamin kualitasnya.

2.   Dapur
Tempat pembinaan untuk mereka pun perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh: aman, nyaman, bersih, indah dan teratur.

3.   Tukang masak
Para pembina perlu disiapkan dengan baik dan kompak ( hidup, karya dan cita-cita mereka memang hampir seluruhnya ditumpahkan untuk anak-anak binaan mereka ).  Apa yang mereka katakan dan ajarkan, betul-betul mereka lakukan. Ini amat penting supaya dihasilkan produk-produk baru dengan kualitas dan cita rasa yang sama,  kalau bisa bahkan lebih baik.

4.   Proses memasak
Waktu, dinamika, “kadar panasnya api, banyaknya air, keseimbangan bumbu” amat perlu diperhatikan.  Proses memasak ini amat penting, perlu ketajaman, dan “feeling” (kepekaan dan cita rasa tertentu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata).

5.   Bumbu
Produk tertentu yang besar kecilnya berbeda, nama dan rasanya berbeda, perlu diberi bumbu / rasa yang berbeda pula, namun kualitasnya tetap sama.

6.   Program
Pabrik yang baik dan bagus ini mau membuat apa, berapa banyak, dan produk-produk itu mau diapakan, perlu direncanakan dan digodog dengan baik. Untuk itulah diperlukan program dan penata program yang jelas.

7.   Distributor
Distributor bukan hanya sekedar penyalur, dia juga harus punya kualitas untuk menyeleksi, melihat kondisi produk-produk yang masih baru, atau pun setelah beberapa waktu berada di lapangan. 

8.   Servis
Perbaikan (servis) dan perawatan juga merupakan bagian penting yang tidak bisa dilupakan supaya daya tahan produk dan kualitasnya tetap terjamin.

9.   Tukang servis
Bila ada gangguan / hambatan atau persoalan yang terjadi pada “produk-produk” itu, penanganannya bisa segera dilaksanakan, karena ada tukang servis yang tersedia setiap saat di tiap-tiap distributor

10.        Direktur
Direktur bukan sekedar pimpinan tetapi orang yang secara menyeluruh situasi dan kekuatan pada masing-masing bagian, dan apa yang sedang terjadi serta memikirkan apa yang perlu dikerjakan sebagai persiapan kesuksesan sekarang dan pada masa depan. Dia bukan hanya pekerja, tetapi juga orang yang mempunyai komitmen  sebagai pemilik.

11. Pemilik
Pemilik adalah asal usul, penyedia, pengawal, pengarah dan pengembang secara penuh dan menyeluruh, serta penangung jawab atas semuanya.  Tarekat memang perlu mencetak orang-orang yang berkomitmen, berdiri dan bertindak sebagai pemilik, bukan hanya sebagai pekerja yang rajin, jujur dan tulus.

Cita-cita yang diwujudkan
SH-SC-SP itu memang merupakan cita-cita yang mulia dan diinginkan oleh banyak orang.  Cita-cita ini bukan hanya diharapkan / dibutuhkan oleh orang-orang pada masa mendatang, tetapi juga oleh orang-orang yang hidup sekarang ini. Maka cita-cita yang bagus ini, perlu diwujudkan dan dirasakan sekarang.  Generasi sekarang inilah yang secara langsung mengalami, mengevaluasi, memperkaya dan menyempurnakan cita-cita itu sesuai dengan situasi jaman. Mereka inilah yang nantinya akan membawa dan meneruskan cita-cita kepada generasi selanjutnya.

Maka mewujudkan cita-cita SH-SC-SP itu bukan urusan / tugas untuk masa depan saja, tetapi urusan / tugas yang harus dilakukan sejak sekarang, oleh personalia yang ada sekarang ini.  Seminar, diskusi, tulisan, renungan dan aktivitas lainnya telah banyak kali dilakukan, yang masih kurang dan amat kurang adalah kesaksian hidup baik oleh masing-masing person, maupun oleh komunitas-komunitas, dan dalam kebersamaan seluruh person dan seluruh komunitas. Tindakan adalah kesaksian hidup yang amat besar pengaruhnya bagi orang lain, tetapi juga memberikan kekuatan moral dan mental pada diri sendiri untuk meneruskan kesaksian hidup itu, serta meningkatkan keutamaan-keutamaan dalam diri orang itu.

Penutup
Ulang tahun, menurut pendapat saya, selain merupakan saat yang baik untuk bersyukur, untuk menoleh ke belakang untuk melakukan pembenahan diri, tetapi juga saat yang tepat untuk membangun komitmen. Komitmen untuk apa ? Komitmen untuk menyatakan secara tegas bahwa diri ini, adalah pemilik proyek kemanusiaan (SH-SC-SP) yang dipercayakan Allah kepada Tarekat / komunitas, bukan sekedar pegawai atau malah pegawai lepas.  Masing-masing person adalah pemilik yang aktif berperan dan bertanggung jawab atas proyek besar itu, karena masing-masing adalah hati (organ penting) yang memberikan kehidupan sekarang dan mendatang.

Organ penting itu (hati) adalah organ yang mencinta. Dia diutus karena cinta yang satu dan utuh sebagaimana yang dimiliki Allah, dan mengerjakan proyek kemanusiaan yang sama agar sebanyak mungkin manusia mengalami cinta ( kerahiman Allah).  Saat ulang tahun adalah juga saat untuk menjumlahkan berapa banyak “organ-organ penting” yang diproses secara berkualitas selama 1 tahun ke depan. Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar dan berat, sehingga perlu dikerjakan bersama-sama dengan komitmen dan semangat yang sama, dan tentu dikerjakan di dalam dan bersama Allah dengan sukacita.

Tak lupa, pada kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tarekat PBHK,  Suster General PBHK dan para Asistennya,  Pimpinan Tarekat PBHK Provinsi Indonesia, serta para suster PBHK di seluruh nusantara.  Berkat dan rahmat yang anda sekalian terima, juga merupakan berkat bagi umat beriman.

SELAMAT PESTA BUNDA HATI KUDUS
     Ke 142   tanggal  28 Mei 2016   

Kamis, 19 Mei 2016

KEKERINGAN

Pembaca yang budiman

Pada pertengan Mei ini, kembali saya menjumpai anda. Tulisan saya di blog ini, sudah cukup lama tersendat-sendat. Mohon maaf atas ketidaklancaran ini.  Selamat menikmati tulisan saya kali ini. 

Kekeringan yang saya lihat sejak dari Phnom Phen sampai di Battambang, sungguh mencolok mata saya. Pertama, daerah itu dataran yang amat luas dan panjang. Di sepanjang perjalanan itu, saya tidak melihat sebuah gunung pun baik di kiri maupun di kanan jalan. Dengan mudah saya melihat pemandangan yaitu tanah garapan, sungai-sungai, persawahan, perkebunan, lahan kosong, dan perumahan penduduk yang pada umumnya diliputi debu.

Kedua, udara amat panas, hingga mencapai 39 derajat. Tidak tampak orang-orang yang bekerja di sawah-sawah yang memang tidak berair, tidak banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Memang, arus lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Sapi, domba atau kerbau pun sangat jaang kelihatan di persawahan, atau lahan peternakan. Sulit untuk mendapatkan pakan di tempat-tempat kering kerontang itu.

Ketiga, saya mendapat informasi bahwa permulaan musim panas sudah mulai. Ketika musim panas sudah tiba, pada puncak musim itu, suhu udara bisa mencapai 42 derajat pada siang hari. Bagi para lansia, suhu yang amat panas ini amat merepotkan mereka. Maka, banyak di antara mereka yang meninggal karena tidak tahan panas dan mengalami gangguan kesehatan.

Sesungguhnya daerah Battambang adalah daerah pertanian yang amat luas dan bagus. Air diperoleh dari dua sumber yaitu hujan dan danau yang amat besar dan luas untuk wilayah itu. Bila hujan tiba, masyarakat tidak mengalami kesulitan air. Namun, karena mereka tergangung hujan, pada saat kemarau, mereka pun tidak punya sumber air yang lain.

Sebaliknya, masyarakat di daerah yang dekat danau masih tetap bisa bertani, dengan membayar air yang didatangkan dari danau melalui saluran-saluran irigasi. Semakin jauh dari danau, semakin sulit mendapatkan air, dan harga air pun semakin mahal.  Dengan demikian, pada saat musim kemarau, hasil panen menurun. Pada gilirannya, pendapatan petani makin menurun, tingkat kesehatan pun menurun, dan angka kekurangan gizi juga meningkat.
Kekeringan punya dampak yang luas dan besar bagi kehidupan masyarakat.  Masyarakat di pedesaan, di pinggiran kota dan mereka yang tidak punya cadangan pangan, tidak punya dana untuk masa depan, adalah orang-orang yang kehidupannya terganggu. Terlebih kaum perempuan, anak-anak dan lansia, adalah orang-orang yang amat sering menderita / menjadi korban dari keadaan yang tidak menguntungkan itu.  

Kekeringan bukan hanya terjadi di Cambodia. Di banyak negara, termasuk di Indonesia, kekeringan sering terjadi. Masyarakat pedesaan, dan pinggiran kota sering kali mengalami kesulitan air pada musim kemarau, dan mengalami kebanjiran ketika musim hujan tiba. Menurut pengamatan saya, kemarau dan banjir yang terjadi pada 10 tahun terakhir ini makin parah dampaknya. 

Ada pelbagai faktor penyebab, misalnya:
1.    Pembabatan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali
2.   Tidak ada penanaman kembali pohon-pohon di hutan-hutan gundul secara terencana dan seimbang
3.   Pembongkaran bukit-bukit tanpa memperhatikan lingkungan
4.   Pendangkalan sungai-sungai karena macam-macam penyebab
5.   Bangunan-bangunan menutup aliran air
6.   Banyak tanah-tanah resapan telah disemen
7.   Kurang / tidak ada saluran-saluran air yang cukup besar
8.   Rencana Induk kota  dan RTRW tidak berjalan mulus
9.   Alih fungsi persawahan dan perkebunan menjadi perumahan amat mudah
10.                Begitu mudah untuk mendapatkan IMB di tempat-tempat yang sebetulnya mengganggu lingkungan / alam

Manusia diciptakan Tuhan dan ditempatkan di dunia ini untuk mengelola (menggarap) alam dan isinya, memeliharanya dan melestarikannya agar mereka dan anak-cucu mereka dapat hidup  sejahtera. Dengan ditemukannya pengetahuan-pengetahuan baru, teknologi dan fasilitas baru, semestanya bumi dan segala isinya justru makin meningkat hasilnya, makin indah suasananya, makin lancar gerak dan pelayanannya, serta makin bahagia dan sejahtera para penghuninya.  

Kenyataannya, masih ada begitu banyak orang yang menderita pada abad ke 21 ini. Masih ada ratusan juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, sementara itu yang menikmati kelimpahan hasil kemajuan dan fasilitas yang bagus ini, baru sekian juta.  Ada ratusan juta orang yang tidak jelas besok pagi mau makan apa, apalagi tentang masa depannya.  

Kekeringan merupakan simbol bahwa ada kekurangan besar yang harus dijawab. Kekurangan itu bukan ada di luar diri manusia. Kekurangan itu ada di dalam diri manusia, yaitu kekurangan kasih yang terwujud dalam solidaritas, berani berbagi secara terus-menerus, dan kesediaan untuk memajukan sesamanya.