Rabu, 09 April 2014

KEPERCAYAAN

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN

SYALOOM....

Ada satu tulisan lagi yang saya haturkan kepada anda. Tulisan ini lahir sebagai buah renungan atas apa yang saya alami pada minggu-minggu yang baru lalu. Moga-moga butir-butir mutiara yang ada di dalamnya dapat anda petik, dan semoga berguna bagi para pembaca.

Kepercayaan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah “percaya” mempunyai beberapa arti. Pertama percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Kedua, percaya berarti menganggap atau yakin b ahwa sesuatu itu benar-benar ada. Ketiga, percaya berarti menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur ( tidak jahat, dll). Keempat, percaya berarti yakin benar atau memastikan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu ( bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb).  Kamus yang sama, menerangkan “kepercayaan berarti anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata”. Mempercayai berarti mengharapkan benar atau memastikan bahwa akan dapat memenuhi harapannya, dsb.

Memastikan atau mempunyai keyakinan bahwa seseorang itu baik, jujur, benar dan dapat diharapkan / memenuhi harapannya, bukan terjadi secara tiba-tiba.  Kepercayaan ini terjadi secara bertahap, melalui pengamatan, perjumpaan, informasi, tukar pengalaman, komunikasi yang sering terjadi sehingga makin hari kepercayaan itu makin kuat.

Perkenalan
Untuk mengenal seseorang, ada pelbagai cara. Ada yang mengenal orang lain, misalnya a) lewat tulisan-tulisannya, lewat foto-fotonya atau lukisannya, atau lewat berita-berita yang didengarnya, b) melalui karya-karyanya dan kemudian bertemu secara langsung dengan orangnya. Ada pula yang  c) bertemu langsung dengan orangnya dan kemudian bekerja sama dengan dia, d) ada pula karena sejak kecil adalah teman sekolahnya, atau teman bermainnya. Dan masih ada banyak cara lain lagi yang bisa dimunculkan / disebutkan.

Perkenalan yang kemudian bisa membawa orang ke tahap “mengenal orang lain” menyiratkan atau menunjukkan bahwa pada kedua pihak ada unsur-unsur yang makin hari makin menyatukan mereka. Kesatuan / kesamaan ide, pengalaman, tujuan atau apa saja yang mereka alami dan mereka nyatakan dapat menjadi jalan masuk untuk makin mengenal satu sama lain. Perkenalan yang kemudian mengarahkan mereka pada tahap “mengenal orang lain” secara baik dan benar, akan mengajak mereka masuk ke tahap berikutnya adalah “persahabatan”.  Bila persahabatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan ini berlanjut, mereka bisa melangkah ke tahap berikutnya yaitu keduanya kemudian menjadi sepasang kekasih. Bila tahap tersebut masih berlanjut, banyak pasangan kekasih yang akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan suami istri.

Kalau demikian, apanya / dari mana “perkenalan dan persahabatan” itu muncul ?  ada begitu banyak yang bisa disebutkan.  Saya mencoba untuk menelusur beberapa saja.  

Kata-kata
Kata-kata seseorang yang tertulis di buku, di majalah, di koran, didengar via radio, atau  diucapkan via tayangan di televisi, dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca / pendengarnya untuk simpati kepada penulis / pemilik suara. Kata-kata yang tertulis / terucap sesungguhnya mewakili kedalaman pribadi orang itu (penulis / pemilik suara itu). Sentuhan-sentuhan kemanusiaan, kejiwaan, kerohanian, keindahan atau pencerahan, keilmiahan, dan bobot lainnya yang tertuang di sana, menunjukkan betapa banyak / kaya pengalaman orang itu. Sentuhan-sentuhan kemanusiaan, kerohanian, kejiwaan dsb itulah yang menggugah “magnet pembaca / pendengar” untuk mendekatkan diri kepada pribadi itu, karena mereka merasa disapa, dikuatkan, diperkaya dan dikembangkan.

Ternyata kata-kata baik yang terucap maupun yang tertulis, bagi orang yang ingin maju dan berkembang, mempunyai kekuatan yang luar bisa untuk membangun, membaharui, memperkaya atau setidak-tidaknya memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang lain tentang banyak  hal. Sebaliknya, bagi orang yang cuek, kecil hati, dan minder, semuanya itu malah makin menyesakkan dada. Semuanya menjadi beban yang membuat dia makin menderita. Amat disesalkan bahwa hal ini sering kali terjadi di kalangan masyarakat yang hidupnya belum berkecukupan. Padahal mereka adalah masyarakat yang jumlahnya amat besar di republik ini.

 Penampilan
Penampilan lahirian baik di depan umum, di media masa, atau pun dalam pergaulan turut memberikan andil, munculnya simpati / hasrat untuk berkenalan pembaca / pemirsa / pendengar dengan orang itu. Penampilan yang bersih, rapih, santun, dan menarik sering memberikan nilai tambah bagi pendengar, pemirsa atau pembaca karya orang itu. Dalam pertemuan langsung, penampilan lahiriah akan sangat berpengaruh pada tumbuh dan berkembangnya rasa simpati dan hasrat untuk berkenalan pada diri seseorang. Makin hangat, ramah, bela rasa, apresiasi yang diberikan oleh pribadi itu, makin besar pulalah peluang untuk mengenal, menjabat erat dan menjalin persahabatan dengan orang itu.

Penampilan lahiriah, sering menjadi “corong” atau “pintu masuk” yang amat besar andilnya terhadap terbukanya sebuah perkenalan, persahabatan dan kepercayaan. Penampilan yang wajar, tidak dibuat-buat, yang tulus, dan simpatik, meskipun bukan yang terpenting untuk sebuah kehidupan, namun amat nyata memberikan “andil besar” bagi hadirnya banyak sahabat, kenalan, rekan kerja, dan dapat merupakan pembuka jalan bagi masa depan yang makin cerah. Penampilan yang didasari oleh hati yang bersih, pikiran yang cerdas, dan motivasi yang membangun, akan mencerahkan kehidupan diri sendiri dan banyak orang.

Tanggapan
Tangapan adalah jawaban atas apa yang sedang dihadapi. Pada umumnya yang diharapkan oleh manusia dan masyarakat, terlebih anggota keluarga, adalah tanggapan yang membangun, meneguhkan, memberikan rasa aman, dan membuka masa depan yang cerah.  Terlebih kaum muda, amat mengharapkan tanggapan yang memberikan inspirasi kepada mereka untuk meniti jalan panjang yang sedang mereka lewati. Demikian pula, generasi pendahulu, dengan melihat, membaca atau mendengarkan tanggapan yang bijaksana, mencerahkan dan mengajak orang untuk terlibat, amat diharapkan. Itulah sebabnya, tanggapan yang demikian ini merupakan sebuah andil besar bagi pembangunan manusia dan bangsa di muka bumi ini.

Empati
Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Hanya manusia yang bisa berempati. Kemampuan ini akan membangkitkan di dalam diri orang itu sikap atau tindakan berbelarasa, turut ambil bagian dalam mencari jalan keluar, dan banyak tindakan lain yang berguna dan mengembangkan kehidupan manusia.

Komunikasi
Apa yang direnungkan, ditemukan dan dihidupi tidak akan banyak gunanya jika disimpan untuk diri sendiri. Melalui pembicaraan, tulisan atau pun terlebih pertemuan yang mengakrabkan dan menyatukan, akan terjadi perkembangan, persatuan dan kemajuan di banyak bidang kehidupan. Dengan kata lain, komunikasi itu amat penting untuk menterjemahkan dan menyebarkan luarkan kekayaan batin, pengalaman kehidupan bermasyarakat, atau penemuan-penemuan baru yang berguna bagi tumbuh dan berkembangnya kehidupan umat manusia. Komunikasi timbal balik yang baik dan lancar, akan memungkinkan terjadinya saling pengertian, saling menghargai, saling mendukung dan saling membahagiakan.

Komunikasi akan menjadi semakin baik dan lancar, bila didukung oleh ketulusan, kejujuran, kerendahan hati, pengorbanan dan keberanian untuk mengambil inisiatif. Tanpa memperhatikan unsur-unsur yang demikian ini, hal-hal lain yang menggegoroti kehidupan manusia bahkan menghancurkan semua yang telah dibangun dengan susah payah, dengan mudah akan muncul. Komunikasi yang baik akan mengurangi kekecewaan, menghilangkan kecurigaan dan memperkokoh kesatuan.  Komunikasi yang baik, akan semakin memperkokoh kepercayaan. 

Jabatan
Jabatan sesungguhnya merupakan hasil dari kerja keras yang telah dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama.  Jabatan adalah “mahkota” dari suatu prestasi yang telah ditunjukkan oleh seseorang. Kalau demikian ini adanya, orang-orang yang memegang jabatan adalah orang-orang yang tahu kerja keras, tahu mengelola sesuatu, tahu mengatasi persoalan dan mencari jalan keluar.  Yang didapatnya sekarang adalah suatu penghargaan / suatu bentuk kepercayaan dari masyarakat atau lembaga atau pemerintah. Dengan kata lain, jabatan yang diterimanya semestinya adalah simbol bahwa orang itu adalah orang yang dapat dipercaya.


Dalam bahasa orang beriman, kepercayaan adalah pernyataan / buah-buah kasih dari manusia atas semua karunia yang telah dia terima dari Allah dan sesamanya. Apa yang diterimanya, dialaminya dan dihidupinya, diwujudkan dalam kerja, pelayanan, dan pengabdiannya yang tulus, dan dikomunikasikan secara baik di dalam keluarga, masyarakat dan banyak orang lain. Dia siap dan rela menjadi saluran rahmat bagi orang lain. Kepercayaan baginya adalah tanda kasih Allah kepadanya yang dia teruskan kepada sesama manusia. 

KAMU ITU SIAPA ?

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN
SYALOOM...

Beberapa hari yang lalu, menjelang pemilu legislatif, saya mendapat kiriman sebuah puisi. Isinya sungguh tulus, namun menggelitik sanubari ini. Puisi itu diciptakan dengan melihat situasi nyata yang dialami penulisnya. Saya pun mengalami hal yang sama, namun tidak pandai menuliskannya dalam bentuk puisi. Karena itu, saya merasa dan mengalami bahwa isi dari puisi itu, mewakili apa yang saya rasakan juga.

Dengan banyaknya caleg yang bertebaran nama-namanya dan gambarnya di mana-mana, saya pribadi jadi bingung dan heran. Saya bingung, karena tidak tahu mereka itu siapa dan dari mana asalnya. Nama-nama dan foto-foto mereka bermunculan di mana-mana, untuk memperkenalkan diri, dan meminta dukungan supaya bisa duduk di kursi legislatif. Suara saya hanya 1, tetapi calon yang muncul banyak sekali. Saya bingung karena tidak tahu harus memilih siapa.

Saya heran juga, bahwa dalam kehidupan sehari-hari sepertinya amat sulit untuk mendapatkan orang-orang yang rela berjuang bagi sesamanya, terlebih untuk masyarakat banyak. Namun, ketika ada kesempatan maju untuk menjadi caleg, tiba-tiba bermunculan wajah-wajah sekian banyak orang. Mereka “tiba-tiba” terpanggil untuk membangun, mencerahkan, dan membawa kemajuan bagi masyarakat dan bangsa. Saya heran mereka ini mendapatkan kekuatan dari mana ?  saya heran juga bahwa mereka “merasa terpanggil untuk memikul beban masyarakat”.  Kebingungan dan keheranan saya ini, ternyata  dirasakan oleh orang lain juga.  Puisi yang saya haturkan kepada anda, adalah ungkapan semuanya itu. Saya berterima kasih kepada bapak Hendardi, meski saya tidak kenal beliau secara pribadi, yang telah mengungkapkan situasi itu dalam puisinya. Marilah kita simak isi puisi yang menurut saya mengandung banyak makna....


KAMU ITU SIAPA ? 
Karya : Hendardi 

(Puisi untuk para Caleg)

Kamu itu siapa? Sekonyong-konyong datang meminta kepercayaan kami dan merasa bisa mengubah nasib kami...  Kamu itu dari mana saja? Mendadak hadir dengan sekarung janji di tengah sulitnya hidup kami... 


Kamu itu kenapa ? Sampai merasa terpanggil untuk membawa amanat berat negeri ini... 

Kamu itu kemana saja?   Saat kami kebanjiran, sakit dan kelaparan, anak2 kami diculik, kekerasan menimpa kami kaum hawa, rumah ibadah kami diporakporanda kan oleh aksi premanisme yg sangat menakutkan kami, kala aset negeri ini dikuasai asing karena perilaku anak negeri yg berjuang untuk diri sendiri, kala sumber daya alam tidak dikelola sesuai amanat Konstitusi, kala tikus2 berkeliaran di semua institusi... 

Kamu dulu dimana? Ketika lapak dan rumah kami digusur, dengan atas nama kekuasaan... 
Kamu dimana kemarin? Saat kami harus menelan ketidak adilan dan dirampas hak kami sebagai warganegara... 

Kamu itu punya apa sih? Hingga begitu yakin akan meraih hati kami, untuk memilihmu mengurusi kami... 
Sebulan ini, ratusan fotomu dengan berkopiah dan berhijab tersebar mengotori jalan desa dan kota kami. Berlatar lambang dan slogan janji organisasi, kamu senyum dipaksakan, untuk memikat hati kami... 

Kamu itu siapa sih? Hingga merasa pernah mengenal kami... 
Kamu itu siapa sih? Hingga merasa yakin dapat suara kami... 
Kamu itu siapa? Maaf,kami tidak mengenal kalian.

Moga-moga puisi tersebut, bukan sekedar ungkapan, namun merupakan undangan bagi anak bangsa untuk membangun bumi pertiwi dan manusianya, agar “di sini dan pada masa kini, terjadi yang diharapkan oleh semua anak bangsa: keadilan dan kebenaran, kesejahteraan dan kebahagiaan, bagi semua orang. 

Senin, 07 April 2014

KATA HATI MGR J DUIVENVOORDE MSC

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN

SYALOOM  

Dalam rangka peringatan 10 tahun pengangkatan P Nico Adi sebagai uskup Merauke, saya munculkan hasil wawancara dengan Mgr J. Duivenvoorde MSC atas terpilihnya uskup baru tsb. Sesudah saya renungkan kembali apa yang beliau sampaikan, saya amat kagum atas ketabahan beliau dalam menghadapi situasi yang kurang mengenakkan beliau, pada akhir masa pengabdiannya. Paparan ini merupakan tanda apresiasi saya, kepada beliau yang telah menunjukkan kegembalaannya sampai akhir.

MGR. JACOBUS DUIVENVOORDE MSC:
“GEMBIRA ATAS TERPILIHNYA USKUP BARU”

Sudah 32 tahun, Mgr Jacobus Duivenvoorde MSC mempersembahkan pengabdiannya sebagai uskup di kota Rusa Merauke ( 1972 – 2004 ). Di usianya yang kian senja ( ke 76 ) dengan ketahanan fisik yang semakin menurun, beliau sangat mengharapkan kehadiran seorang pengganti yang bisa melanjutkan tugas kegembalaan di Keuskupan Agung Merauke (KAM). Setelah menunggu beberapa tahun, pada tanggal 01 Mei 2004, kerinduan dan doanya dikabulkan. P. Nico Adi Seputra MSC, terpilih sebagai uskup Agung Merauke. Berita yang diterima dari Nuntius (Duta Vatikan), bagi Mgr Duivenvoorde, bagai tetesan embun yang memberi kesejukan baru, setelah keletihan dan dahaga penantian seakan menderanya di tahun-tahun terakhir ini. Berikut ungkapan hatinya:

Bagaimana tanggapan Monsinyur atas pengangkatan uskup baru ?
Saya bergembira, karena pada akhirnya tokh ada yang menggantikan posisi saya. Sudah saatnya saya harus menyerahkan tongkat kegembalaan kepada orang lain. Tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 April 2001, saya secara resmi mengirim surat ke Roma, meminta supaya berhenti dari tugas saya sebagai uskup Agung Merauke, berhubung sudah tua dan sudah cukup lama mengabdi. Surat permintaan saya ditanggapi secara positif, dan saya diminta untuk menyiapkan tiga calon (terna). Setelah melewati proses yang cukup lama (3 tahun) dengan kesaksian dan penilaian yang diberikan dari berbagai kalangan, baik jajaran hirarkis maupun awam, bahkan setelah ada “tolak tarik” di sana sini, pada akhrinya diangkat satu calon yang dinilai cukup memenuhi kriteria yang ditentukan oleh Roma. Dan P. Nico Adi Seputra MSC menjadi calon terpilih. Dialah yang akan menggantikan saya sebagai uskup diosesan agung Merauke.

Sejauh yang bapak Uskup kenal, siapakah Mgr Nico adi MSC ?
Ada 2 hal yang membuat saya cukup mengenal siapa Mgr Adi itu. Pertama, dia cukup lama berkarya di KAM (kurang lebih 15 tahun): 3 tahun di dekanat Kepi, 5 tahun di dekanat Kimaam, 4 tahun studi di Manila, 2 tahun di paroki Katedral, dan mulai Oktober 2003 – sekarang, sebagai Vikjen KAM.  Dalam kurun waktu yang bukan sedikit ini, dia pasti cukup mengenal umat Papua dengan segala kekhasannya. Kedua, secara pribadi, saya mengakui bahwa dia memiliki kapasitas untuk memimpin keuskupan ini.  Pengangkatan P Nico oleh Roma untuk menggantikan saya sebagai uskup, bukanlah keputusan yang tambal sulam.

Apa yang menjadi harapan sekaligus pesan Mgr untuk uskup yang baru ?
Harapan saya, di bawah kepemimpinannya nanti, keuskupan ini menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Dengan semangat muda, yang ditopang oleh pengetahuannya yang cukup luas tentang Irian, secara khusus manusia Irian, serta dalam atmosfer kerja sama penuh persaudaraan dan kesatuan dengan seluruh umat, dia pasti bisa menghantar keuskupan kita selangkah lebih maju. Jalan menuju perbaikan sedang terbuka di depannya. Roh Allahlah yang akan bekerja memampukan dia dalam menuntun jemaat KAM menuju perubahan yang lebih baik. Apalagi, di penghujung persiapan memasuki seabad Gereja Katolik di Papua Selatan, aktivitas dan partisipasi umat kian nampak.  Fenomena yang cukup significant ini, di satu sisi menjadi indikasi semakin hidupnya iman umat. Sementara di sisi lain, sungguh menjadi suatu modal utama yang kuat, untuk sama-sama mengadakan “perbaikan” menuju masa depan Gereja KAM yang lebih baik: Gereja yang mandiri dan mengumat dalam berbagai aspek.

Bagaimana tanggapan Bapak Uskup terhadap reaksi spontan umat, setelah pengumuman uskup (ada yang menerima dan ada yang menolak ) ?
Saya kira wajar-wajar saja, bahwa ada umat yang senang dan ada yang tidak senang. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Ini adalah ekspresi nyata betapa umat KAM sudah semakin dinamis, kritis dan selektif dalam menentukan figur pemimpin gereja setempat. Cuma, bagi kelompok umat yang menolak, saya mengharapkan ekstra pemahaman terhadap beberap ahal yang akan saya beberkan berikut ini, yang sesungguhnya menjadi spesifikasi Gereja Katolik. Pertama, perlu kita ketahui, bahwa setiap institusi mempunyai aturan mainnya sendiri. Misalnya, aturan main yang diberlakukan di negara Indonesia, pasti berbeda dengan yang diterapkan di Filiphina, atau di Inggris. Demikian halnya juga dengan Gereja. Sebagai institusi rohani, Gereja memilih aturan mainnya yang khas, semisal dalam memilih pemimpin di setiap gereja lokal.  Adalah sangat keliru, kalau kita menyamaratakan dan menyeragamkan aturan main di setiap institusi yang ada.  Kedua, saya menyadari bahwa dalam konteks Gereja Lokal Papua, ada tiga saran yang akhir-akhir ini disinyalir sebagi aspirasi umat dalam kaitannya dengan pencalonan uskup: 1) Putra asli Papua, 2) Bukan asli Papua tetapi kelahiran Papua, 3) dari luar Papua tetapi cukup mengenal tentang Papua. Saya kira, salah satu saran di atas dipenuhi oleh uskup kita yang terpilih.

Ketiga, Gereja KAM dituduh tidak demokratis, lantaran tidak melibatkan umat dalam pemilihan calon uskup. Dalam sejarah gereja, pada masa Gereja awal, ketika jumlah umat masih sedikit, pemilihan uskup ada yang dilakukan secara langsung oleh umat. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, Gereja punya aturan mainnya sendiri. Kita tidak bisa mengambil over baju demokrasi dalam konteks politik dan memakaikannya pada Gereja Katolik. Saya tidak tahu, kalau di masa-masa mendatang ada perubahan. Tetapi sampai saat ini, kita masih mengikuti aturan main yang ada, yang sudah dipraktekkan oleh Gereja katolik selama berabad-abad.
Keempat, Gereja Lokal KAM adalah bagian dari gereja universal. Kita harus memahami betul konsep gereja universal. Salah satu ciri gereja universal adalah siapa saja, tanpa memandang embel-embel tertentu, yang penting ber-capable serta memenuhi kriteria kelayakan – boleh menjadi pemimpin gereja setempat di mana saja.  Saya menghargai sikap pribadi dari kelompok umat yang menolak. Tetapi harapan saya, jangan menjadikan alasan ini untuk mengkonfrontir situasi serta memicu terjadinya perpecahan tubuh jemaat KAM.
                                                                                                    Hasil wawancara
                                                                                                     Don. S. Turu Pr.

Beliau telah pergi menghadap Sang Pencipta, tanggal 16 November 2011 di biara Notre Dame – Tilburg Belanda. Semoga dari surga, beliau mendoakan umat dan para gembala yang dulu pernah beliau gembalakan.

Mgr J Duivenvoorde MSC, terima kasih atas segala jasa dan pengabdian Mgr selama bertugas di Merauke selama hampir 48 tahun. Telah banyak yang Mgr taburkan dan pupuk. Buah-buahnya telah banyak yang kami alami.   Perjuangan dan kerja keras Mgr dan para misionaris baik pater, bruder maupun suster akan kami lanjutkan. Kami percaya bahwa Roh Allah yang telah mendampingi Mgr dan para pendahulu kami, akan tetap bersama kami.

10 TAHUN PENGANGKATAN SEBAGAI USKUP

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN
SYALOOM

Hari ini, adalah hari Senin tanggal 7 April 2014. Apakah ada sesuatu yang khusus dan istimewa ? Pagi hari saya tidak menemukan sesuatu yang lebih istimewa, kecuali merayakan ekaristi bersama umat di gereja katedral – Merauke. Sekitar jam  09.00 saya mendapatkan sms ucapakan selamat atas pengangkatan saya sebagai uskup Merauke. Kemudian, saya mencari dokumen penting di arsip..... Benar adanya. Tanggal 7 April 2014, adalah hari istimewa dan khusus. Apa itu ?  pada tanggal 7 April 2004,  Paus Johanes Paulus II melalui Bula yang ditulis dalam bahasa Latin, telah mengangkat saya menjadi Uskup Agung Merauke.   Hari ini, adalah ulang tahun ke 10 pengangkatan saya secara yuridis.

Mengapa dikatakan istimewa dan khusus ?  Dikatakan istimewa, karena pengangkatan itu dilakukan oleh Paus sendiri, dan khusus karena pengangkatan itu menaikkan martabat saya dari martabat imamat ( pastor ) ke martabat episkopat (uskup ). Tanpa surat resmi dari Paus itu (bulla), seseorang tidak bisa secara sah menerima tahbisan uskup.

Isi "Bulla" yang ditulis dalam bahasa Latin itu, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mgr Jakobus Duivenvoorde MSC (uskup yang saya gantikan). Terjemahan itu, pada hari ulang tahun ke 10 pengangkatan tersebut, saya paparkan dalam blog ini:

YOHANES PAULUS
USKUP, HAMBA DARI HAM-HAMBA ALLAH

Kepada Putera tercinta, Nicholaus Adi Seputra, anggota Tarekat Missionaris Hati Kudus Jesus, yang sampai sekarang Vikaris Jenderal, Keuskupan Agung Merauke, salam dan berkat Apostolik.
Tugas mewartakan injil adalah rahmat dan sekaligus panggilan Gereja menurut perkataan rasul Paulus – I Kor 9:16 “Jika aku mewartakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri sebab hal itu merupakan keharusan bagiku. Lebih-lebih lagi aku ingin melaksanakan tugas itu dari hari ke hari dengan setia dan rajin”.  Karena itu, kami anggap tidak ada yang lebih sesuai daripada mengangkat bagi setiap kelompok gerejani, para gembala yang penuh semangat, yang setiap hari melayani anugerah kabar baik.

Karena pengunduran diri dari saudara tercinta, Jacobus Duivenvoorde MSC, Keuskupan Agung Merauke lowong, dan hal ini tetap dalam perhatian kami. Juga kami mengingat akan engkau yang telah bertugas sebagai Vikaris Jenderal dalam keuskupan yang sama dengan kerajinan dan kebijaksanaan pastoral. Setelah menimbang dengan seksama pendapat dari kongregasi pewartaan Injil, kami, dengan kekuasaan apostolik, mengangkat engkau sebagai uskup metropolit Merauke, dengan segala hak dan kewajiban yang terikat pada jabatan itu.

Kami mengijinkan bahwa engkau ditahbiskan di luar kota Roma, oleh seorang uskup katolik menurut peraturan liturgis yang berlaku. Namun, sebelumnya, ucapkanlah pernyataan iman dan janji kesetiaan kepada kami dan pengganti-pengganti kami menurut formula yang ditetapkan, dan formula itu harus dikirimkan kepada Kongregasi yang disebut di atas.

Demi kaum klerus dari keuskupan dan demi umat seluruhnya, yang mendambakan pengumuman keputusan kami ini, kami menasehati engkau, putera terkasih, dengan dikuatkan oleh rahmat dari Tuhan, agar tetap mewartakan keselamatan yang Tuhan percayakan kepada kami, kepada umat yang tercinta di Keuskupan Agung Merauke, baik melalui pewartaan sabda maupun melalui pelayanan sakramen-sakramen.

Dikeluarkan di Roma, di hadapan Petrus, pada tanggal 7 April tahun 2004, tahun ke 26 pontifikat kami.

JOHANES PAULUS II

Saya mengingat dan mengenang hari ini dengan penuh rasa syukur. Memang tidak ada pesta besar atau makan bersama.....karena tidak disiapkan. Namun, hati yang penuh syukur dan sukacita memenuhi hari ini. Kepada mereka semua yang telah mendukung hidup dan pelayanan saya sebagai uskup, dalam bentuk doa, surat, bbm, sms dan bentuk-bentuk pengorbanan lainnya, saya haturkan banyak terima kasih. Semoga saya semakin menjadi gembala umat yang rendah hati, bijaksana dan murah hati serta penuh semangat dalam melayani dan berkorban demi keselamatan banyak jiwa.

Minggu, 30 Maret 2014

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2014

SURAT GEMBALA USKUP AGUNG MERAUKE
DALAM RANGKA MEMASUKI MASA PUASA 2014

Saudara-saudari
Kaum muda, para remaja dan anak-anak sekalian
Para Pastor, Bruder, Suster dan Petugas Gereja
Bapak Bupati, Bapak Distrik, dan Kepala Kampung
Bapak dan Ibu Dewan paroki, Bapak dan ibu Dewan Stasi
dan Semua umat beriman di tempat masing-masing

Syaloom

Tidak lama lagi, kita akan memasuki masa puasa / masa prapaska. Masa puasa / masa prapaska adalah waktu untuk menyiapkan diri untuk menyambut pesta kebangkitan Tuhan, dengan melakukan “perubahan atau pembaharuan hidup”. Perubahan atau pembaharuan hidup sering juga disebut pertobatan. Jadi, masa prapaska adalah masa untuk menggalang kekuatan agar bisa meninggalkan pikiran, perkataan dan perbuatan yang membawa kita kepada dosa, dan memilih untuk hidup dalam kasih dan rahmat Tuhan.

Ada banyak cara untuk pembaharuan hidup, namun pada masa prapaska ini, kita semua tetap diajak untuk melakukan puasa dan pantang. Puasa dan pantang adalah tindakan yang kita pilih untuk mengendalikan diri agar kita menjadi lebih peka pada dorongan, keinginan dan ajakan yang mengurung kita pada kenikmatan, kemapanan, dan kepuasan diri sendiri, sehingga melupakan kebutuhan dan kehidupan orang lain. Ada 2 hari pantang dan puasa wajib, yaitu hari RABU ABU  dan hari JUMAT AGUNG.

Selama masa prapaska tahun ini, saya hendak menekankan betapa pentingnya peranan keluarga dalam menanamkan dan menumbuhkan benih iman dan keutamaan-keutamaan yang lahir dari iman katolik kepada anak-anak dan kaum muda kita. Anak-anak dan kaum muda adalah kekuatan gereja kita pada masa sekarang dan masa depan. Lebih-lebih, pada masa sekarang ini, ketika masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, berubah begitu cepat, ketika barang-barang dan tawaran-tawaran iklan begitu memikat, ketika pergaulan bebas, narkoba, miras, kemabukan, kekerasan terjadi di mana-mana, orang makin bingung dan sulit menentukan pilihan yang baik dan tepat.

Keluarga itu apa / keluarga itu siapa ?
Keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri atas bapa, mama dan anak-anak yang tinggal di suatu tempat di rumah / tempat.  Keluarga terjadi karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau karena diangkat sebagai anak. Anggota keluarga hidup dalam satu rumah tangga, bergaul satu sama lain dan punya peran masing-masing.  Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Sabda Tuhan dalam kitab nabi Yoel 2:16 yang berbunyi: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu”,  menunjukkan bahwa perhatian Tuhan kepada keluarga dan umat Allah begitu penting.  Sabda ini diserukan kembali kepada bangsa terpilih agar mereka kembali kepada Allah yang telah mencintai dan memperhatikan mereka, mereka hidup di jalan yang benar dan memperoleh keselamatan. Tuhan dan Sabda-Nya menjadi sumber kekuatan, pedoman dan pelita hidup mereka.

Saya menyebutkan beberapa peranan yang dijalankan keluarga adalah:
1.   Di bidang  pendidikan, keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan mereka.  
2.   Di bidang sosial, keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.  
3.   Di bidang perlindungan, keluarga berkewajiban untuk melindungi anggota keluarga supaya mereka sungguh-sungguh merasa aman.
4.   Di bidang ketenteraman hidup, keluarga menciptakan rasa aman dan suasana damai bagi seluruh anggota, sehingga ada komunikasi dan pergaulan yang baik, ada saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.   Di bidang keimanan, keluarga memperkenalkan dan menumbuhkan iman, serta mengajak anak dan anggota keluarga untuk mempraktekkannya dlaam hidup sehari-hari
6.   Di bidang ekonomi, kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan dengan baik supaya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
7.   Di bidang rekreasi, keluarga menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, contohnya: nonton TV bersama, main halma, karaoke bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
8.   Di bidang masa depan, keluarga adalah rekan sekerja Tuhan untuk menghadirkan  keturunan yang akan meneruskan pembangunan bagi generasi selanjutnya.
Melalui peran yang begitu penting itu, para orang tua, guru, pemerintah dan semua lembaga  perlu menyadari bahwa mereka ini menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk menyiapkan generasi penerus yang beriman, cerdas, dan berkepribadian baik untuk membangun gereja dan bangsa. Bersama rasul Paulus, saya ingin menyatakan hal ini: “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima” ( 2Kor 6:1 ).

Anak-anak kita perlu mendapatkan pengenalan dan pengertian serta pembelajaran iman dan kebaikan / keutamaan sejak kecil. Membuat tanda Salib, berdoa Salam Maria, Bapa Kami, Doa Tobat, adalah contoh-contoh doa yang dapat diajarkan oleh orangtua kepada anak-anak mereka. Benih-benih iman dan kebaikan itu sudah seharusnya ditanamkan dan disuburkan terus-menerus, sehingga ketika mereka memasuki masa remaja dan dewasa, mereka mempunyai pegangan hidup yang kuat. Mereka bangga akan iman katolik yang telah ditanamkan oleh para orangtua mereka di rumah, dan disuburkan oleh para guru agama di sekolah.

Begitu pula, berpantang bagi anak-anak yang belum berumur 17 tahun, dan berpuasa bagi mereka yang telah berumur 17 – 60 tahun dan tidak sakit, dapat diajarkan dan dipraktekkan di dalam keluarga. Bapa dan mama, adalah pelatih dan pembina, dan sekaligus penanggung jawab utama atas terlaksananya “kegiatan pantang dan puasa” di keluarga masing-masing. Berpantang dan berpuasa merupakan latihan pengendalian diri, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan / keutamaan, misalnya pengorbanan, setia kawan, kerelaan untuk berbagi, kesabaran, kesetiaan, pengampunan, dan tahan menderita.

 Marilah pada masa prapaska ini, kita mengucap syukur atas anugerah Allah yang diberikan kepada keluarga-keluarga. Kita juga memohon rahmat, kekuatan dan bimbingan-Nya agar para orangtua dapat membina anak-anak mereka menjadi generasi masa depan yang cerdas dan dapat diandalkan dalam membangun gereja dan masyarakat. Semoga tobat dan amal kasih kita berkenan kepada-Nya dan berguna untuk kebaikan hidup sesama.


                                                        Merauke, 4 Maret 2014 
                                                 salam dan berkat dari uskupmu

                                                Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC


KEINDAHAN HIDUP MANUSIA

Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengirimkan kepada saya “paparan” di bawah ini.  Saya terkesan akan isinya. Karena itu, paparan itu saya simpan, dan rasanya bagus juga kalau saya bagikan kepada anda. Inilah dia, tulisan yang mengesankan saya itu:

Suatu pagi seorang anak gadis berkata kepada Ibunya: "Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahulah aku caranya". Dengan tatapan lembut dan senyum haru, sang Ibu menjawab: "Untuk bibir yg menarik, ucapkanlah perkataan yang baik". "Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapapun". "Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain". "Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin". "Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang kepadamu". "Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin".
Anakku, janganlah sombong akan kecantikan fisik, karena kecantikan itu akan pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian. Kesabaran kepada keluarga adalah KASIH. Kesabaran kepada orang lain adalah HORMAT. Kesabaran kepada diri sendiri adalah KEYAKINAN. Kesabaran kepada TUHAN adalah IMAN. Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa  AIR MATA. Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.

Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN! Carilah hati yang indah bukan wajah yang cantik. Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah... Tahukah kita, mengapa TUHAN menciptakan ruang antar jari tangan kita? Agar seseorang yang menurut kita spesial akan datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tangan kita selamanya..

Saya amat yakin, mereka yang melakukan apa yang dipaparkan itu, akan mengalami kedamaian batin yang mendalam. Tidak mudah melaksanakan semuanya itu, pasti ada kesulitan dan kesusahan besar secara lahiriah. Ada banyak godaan, sindiran dan pertentangan ketika semua itu berlangsung.  Namun, pada akhirnya, jika bertahan orang itu akan mengalami sukacita dan damai yang dirindukan semua orang.

Ketika merenungkan maknanya, saya teringat doa agung yang diwariskan St. Fransiskus Asisi – kepada para pengikutnya. Doa itu adalah doa permohonan untuk menjadi pembawa damai. Isinya amat bagus, dan amat menarik untuk disimak.

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur, memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai, sebab dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya. Amin.


Apa yang diperbuat manusia, bila keluar dari hatinya yang tulus, ternyata jauh lebih indah dan berharga daripada harta duniawi yang berasal dari wilayah mana pun. Karena di dalam hati manusia, bertahta Allah sendiri. 

EKARISTI

KEMARIN – 29 MARET 2014, SAYA MENEMUKAN EMAIL INI. ISINYA MENGGELITIK. PERTAMA-TAMA DIRI SAYA YANG TERGELITIK, BUKAN KARENA SAAT INI ADALAH MASA PERTOBATAN, TETAPI ISI DAN MAKNANYA AMAT MENDALAM BILA DIRENUNGKAN.  ISI DAN MAKNANYA MERUPAKAN BUAH-BUAH REFLEKSI (ANALISA INTELEKTUAL DAN SPIRITUAL), NAMUN SEKALIGUS DAPAT MERUPAKAN BAHAN UNTUK INVESTASI DIRI.  BAGI SAYA INVESTASI DIRI ADALAH PENANAMAN DAN PEMBESAR NILAI-NILAI KEUTAMAAN DALAM DIRI, SEHINGGA HIDUP SAYA DIPENUHI DENGAN BUAH-BUAH ROH ( KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESA BARAN, KEMURAHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMAHJ-LEMBUTAN, DAN PENGUASAAN DIRI (GALATIA 5: 22 – 23).

Subject: [MSC Indonesia] Happy Sunday :)

Ketika kaum berjubah tidak mencintai ekaristi lagi, bolehkah kita meminta kaum 'berbaju' (umat) khusuk dalam ekaristi ?

Ketika kapel menjadi tempat yang jarang dikunjungi oleh kaum berjubah, masihkah boleh kita berkoar-koar agar gereja penuh oleh kaum berbaju?

Ketika kaum berjubah gelisah selama ekaristi, bolehkah kita berharap umat berserah dalam kekhusukkan ekaristi?

Ketika ekaristi dan doa menjadi beban bagi kaum berjubah, pantaskah kita meminta duduk di depan kepada kaum berbaju?

Ketika kaum berjubah tertidur selama ekaristi, pantaskah kita berharap kaum berbaju terhibur setelah ekaristi?

Ketika hari minggu kaum berjubah terlelap dalam mimpi yang tak berujung, masih beranikah kita menuntut kaum berbaju bergegas menuju altar suci?

NEMO DAT QUOD NON HABET !!! ( orang tidak dapat memberi apa pun, kalau tidak mempunyai apa-apa).

Saya masih ingat ketika kuliah tentang ekaristi. Dikatakan / diajarkan (dan kemudian diharapkan diimani dan dihidupi) bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak hidup umat beriman. Ekaristi dikatakan sebagai sumber, berarti di sana ada asal-muasal segala berkat dan karunia yang diberikan Allah kepada umat beriman. Ekaristi sebagai puncak, itu berarti seluruh kehidupan umat beriman dijiwai, diilhami dan diarahkan ke tahta Allah ( Sang Puncak Kehidupan ).  

Dengan amat sederhana, rumusan itu dituangkan, namun perlu direnungkan setiap hari agar maknanya dipahami, nilai-nilainya dihidupi, kekuatannya diamalkan, dan iman yang lahir dari perayaan itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah dan bersama masyarakat. Bahan renungan itu, tentu bukan untuk menghakimi.... saya melihatnya sebagai alat bantu agar umat dan imamnya dapat saling membantu dalam “menyempurnakan diri dan mencapai hidup bahagia” di dunia ini.  Ekaristi adalah undangan untuk hidup di dalam dan bersama Allah, ketika kita masih berada di dunia ini. Itu berarti hidup di dalam ekaristi artinya hidup dalam lindungan dan kasih Allah, bersama dengan saudara-saudari kita.