Minggu, 30 September 2018

MUTIARA YANG DIBUANG

PEMBACA YANG BUDIMAN

Pada akhir bulan September 2018 ini, saya menemukan sebuah cerita yang rasanya sayang kalau disingkarkan atau disimpan begitu saja.  Saya sudah membacanya dua kali dan saya tergerak untuk meneruskannya kepada pembaca. Siapa tahu ada mutiara-mutiara yang berharga yang dapat anda temukan. Selamat menikmati.


*MUTIARA YANG DIBUANG* 

SUAMI isteri yang kaya raya........saat masuk rumah dan mereka melihat ruang makan yang kotor.....dan tercium bau aroma tidak sedap.... "pesing". Sementara di sudut meja makan terlihat....nampak seorang ibu tua sedang berusaha keras untuk bisa menyapu.

Istri : 
DIA bersuara keras membentak ibu tua itu !!!    Ini pasti ulah ibu, kan......?
Ibu ngompol di lantai kan........?   Lihat tuh, meja kotor..... makanan tercecer dimana-mana..... lantai juga Waduuuuuh (marah dan geram)..... ibu...ibu !!
Ini rumah bukan gudang.......ibu !!!!!

Suami :
Sudahlah mama.... jangan bentak ibu seperti itu, kasian.....ibu kan sudah tua

Istri:
Tidak bisa begini terus- menerus....Kalau tiba² ada tamu yg datang.... apa jadinya ???? Sebaiknya besok kita bawa ibu ke panti jompo.....Saya akan bawa !

Suami :
Jangan ma....! Itu kan ibumu....masa' dibawa ke panti jompo ??  ...........

Setelah ibu tua itu dibawa ke panti jompo si istri benahi merapikan kamar ibunya........  Di bawah kasur ditemukan sebuah buku lusuh dengan kertas yang agak kuning kusam.  Dia tertarik karena....koq ada foto dirinya sejak kecil dan remaja, di halaman depan bertuliskan judul buku :   *"PUTRIKU buah HATIKU"*

istri :
Terduduk lesu setelah membaca tulisan ibunya itu.

Diawali hari dan tanggal lahir dia. "Aku melahirkan putriku....biar terasa sakit dan mandi darah....aku bangga bisa punya anak".  Ya.....aku bangga bisa berjuang tanpa suami yang telah mendahuluiku.  Aku rawat dengan cinta....aku besarkan dengan kasih....aku sekolahkan dengan airmata....aku hidupi dia dengan cucuran keringat.  

Kuingat.....ketika kubawa ke klinik untuk imunisasi.....di atas angkot....dia nangis lalu kubuka kancing blus dan susui dia....aku tak merasa malu....bahkan tiba-tiba dia kencingi aku.....tapi biarlah.  Tiba² dia batuk kecil.... muntah....dan basahi rokku.  Hari itu terasa indah bagiku....biarpun aku basah oleh kencing dan muntahannya....aku tetap tersenyum..... bangga sekali.  Kejadian itu berulang-ulang beberapa kali.  Aku tak peduli apa kata orang diatas angkot.... asalkan putriku bisa tumbuh sehat....Itu yang utama bagiku.

Istri :
Sambil baca..... airmatanya mulai meleleh turun....hati terasa perih....dada sesak.  Tiba² dia berteriak keras....meraung-raung sejadi-jadinya "Ibuuuuuuu.. ibuuuuu.."!! Sambil berdiri setengah berlari ke garasi.

Suami :
Suaminya kaget lihat ulah istrinya dan bertanya : "Keeeenapa ma, ada apa ???"
Terisak dia jawab : "Aku harus bawa kembali ibuku".

Tiba-tiba telpon berdering....diterima suaminya lalu........ "Mohon bapak dan ibu segera datang ke panti sekarang...... cepat !!!" Mereka buru-buru ke panti....saat masuk, nampak tubuh ibu tua sudah lemah, sedang diperiksa dokter.

Istri :
si istri berteriak histeris sambil menangis menahan air mata "Ibuuuuu........"!! Ibunya lemah tanpa bersuara dan berusaha memeluk kepala anaknya seraya berbisik pelan dan bercucur air mata..... "Anakku...ibu bangga punya kamu....seluruh cinta kasih hanya buat kamu nak... Maafkan ibu. iiiii...ibu saaayyyaaaang padamu (sambil memejamkan mata)".  Sang ibupun menghembuskan nafas... meninggal dengan damai

Anaknya meraung-raung keras sekali....menangis dan menyesal !!!!! "Ibuu....ibuu.... aku minta ampun buu...... aku durhaka sama ibuu.. ampun...ampuni aku bu. iiibuu...jangan tinggalkan aku bu.  *"Anak macam apa aku ini....anak macam apa.......ampun buu....ampuni aku ibuu*"

SUADARAKU.....SAHABATKU....masih kah ada ibu dan ayah disisimu ?

KALAU orang tua masih ada rawatlah dengan sepenuh hati.....kalau telah mendahului kita do'a kan.  Nilai apa yg terbersit dari kisah ini ?

Ingatlah Saudaraku :

* kegeraman mengantar kita "memeluk dosa"

* tindakan bodoh, membuat kita "merangkul durhaka"

* sikap ego, mendorong kita "mendekap nista"

* sesal yang terlambat, menarik kita "bergelimang keperihan dan dosa"

Berpikirlah arif, bertindak dengan bijak, berucaplah yang patut....berikan kasih sayang dgn jiwa.....dan hiduplah penuh dengan KASIH. Semoga hati kita menjadi lembut dalam memberikan bakti pd org tua..... Pelajaran yg harus kita ubah,tingkah laku kita,tehadap org tua, terimalah dia apa adanya, krn dia satu2nya yg bisa memberikan kehidupan kita di dunia ini. 


Sekarang Anda mempunyai 3 pilihan:
1. Anda -
Aku akan biarkan tulisan ini tetap di sini saja..

2. Malaikat -
Ingatkan pada teman yang anda kenal...Sebarkanlah..!

3. Syaitan -
Tidak usah penat2 dan sibuk-sibuk menyebarkan tulisan ini..Biarkan saja di sini..Kalau boleh hapus/ tutup saja..Mereka tidak perlu membaca tulisan ini.. 


Saya menyebarkan cerita tadi via blog ini. Moga-moga akan ada banyak pembaca yang tergugah dan meneruskan nilai-nilai penting kepada sahabat atau keluarga atau siapa pun yang anda kirimi cerita ini.  Semoga anda pun menjadi perantara berkat Tuhan  bagi sesama. 

Selasa, 10 Juli 2018

AIR KELAPA HIJAU


Pembaca yang budiman,
Beberapa kali saya mendapatkan kiriman  imil atau wa (whatsup) yang isinya kepedulian seseorang kepada sesamanya yang sakit / menderita gangguan tertentu. Kepedulian itu diwujudkan dengan membagikan pengalamannya tentang  sakit, obat yang dipakai, proses penyembuhannya, dokter penolongnya, alamatnya dsb. Sakit memang bagian dari pengalaman hidup manusia. Kadang-kadang sakit / penyakit itu datang tiba-tiba dan tidak bisa dielakkan. Ada juga sakit yang berakibat fatal, sehingga orang itu harus dirawat secara khusus dan intensif.

Pada masa kini, sudah banyak obat yang beredar, dan dengan mudah dibeli di apotik-apotik. Ada banyak obat juga yang tidak boleh dibeli sembarangan, tetapi harus dengan resep dokter. Di banyak tempat, di puskesmas, di rumah sakit, atau pun di tempat praktek dokter, kita bisa mendapatkan pelayanan dari dokter spesialis. Sudah banyak dokter yang rela ditempatkan di kota-kota kecil, atau bahkan di daerah yang sedang berkembang, dan di pulau-pulau di nusantara ini.

Namun demikian, obat-obat tradisional atau obat-obat kampung masih tetap menjadi alternatif, bila obat-obat yang ada di apotik-apotik atau di puskesmas, sulit didapatkan. Bahkan, ada banyak orang yang sering memilih obat-obat alami sebelum pergi ke dokter, meskipun rumah mereka dekat dengan tempat praktek dokter atau rumah sakit.  Obat-obat herbal yang sudah lama dikenal oleh nenek moyang di banyak tempat diperkenalkan lagi, bahkan lebih diyakini lebih manjur daripada obat dari pabrik. Salah satu obat tradisional yang saya dapatkan di imil adalah air kelapa. Inilah dia ceritanya: 


HANCURKAN BATU GINJAL DENGAN AIR KELAPA

Tuhan Maha Adil. 

Orang kaya mengatasi batu ginjal  sampai harus ke Amerika. Ini pengalaman Pak Dahlan Iskan yang ditulis hari ini dalam Disway.id.

Orang miskin, cukup dengan minum kelapa hijau. Tokcer. Segar, lezat, dan ampuh. Batu ginjal luruh berkeping-keping seperti gamping disiram air. Lalu keluar deras bersama air kencing. Ini pengalaman saya dan entah berapa banyak yang sudah membuktikan. 

Sebetulnya sebagian tulisan ini adalah komentar saya atas tulisan Pak Dahlan yang dishare hari ini. Gara-gara ini ada beberapa teman yang inbox minta resepnya.

Baiklah. Sebelumnya ijinkan saya berkisah dulu. 

Pada tahun 2001, sore maghrib itu, saya mengalami sakit yang luar biasa saat buang air kecil. Mampet. Panas dingin menahan sakitnya. Air kencing sampai berdarah. Ternyata itu yang disebut batu ginjal. Sebelumnya saya hanya melihat kakak saya sampai menangis menderita hal yang sama. Setelah mencoba berbagai obat dan tidak mempan, kakak saya itu akhirnya mendapat resep jitu. Resep para leluhur.

Dengan resep tersebut, saya sembuh. Tidak pakai lama. Minum abis maghrib, di pagi subuh saat buar air kecil mak byooor. Amazing tenan.

Beberapa tahun berikutnya, saat mudik lebaran, ada kerabat yang bercerita bahwa dia mau operasi batu ginjal. Rasa sakit dia rasakan makin sakit saja. Itu karena ditambah dengan memikirkan biaya operasinya. Saya katakan: "Tenang. Nggak usah cemas". Lalu saya berikan resep ampuh pemunah batu kristal itu.

Lebaran tahun berikutnya, ia bercerita dengan penuh suka cita. Resep yang saya berikan itu telah membebaskan dia dari meja operasi. Kisah itu pun viral di desa sana. Begitulah. Setiap ada yang menderita batu ginjal, saya berikan resep ini. Entah sudah berapa banyak orang. Dan sejauh ini belum ada yang gagal.

Nah. Ini dia resep mujarab penghancur batu ginjal itu. Silahkan petik, manjat pohonnya, atau beli kelapa hijau di pasar. Biar tidak repot mintalah penjual sekalian memangkas bagian atasnya agar nanti mudah membuat lubang.

Oh iya. Anda harus paham. Yang namanya kelapa hijau asli, sabutnya justru berwarna merah seperti di foto ini ( maaf fotonya tidak saya tampilkan di sini, karena saya hanya mendapat imil ini saja).

Caranya, masaklah air di panci hingga mendidih. Setelah mendidih matikan kompor. Kemudian masukkan kelapa hijau itu utuh ke dalam panci berisi air mendidih itu. Lalu tutup. Diamkan selama 10 menit. Selama 10 menit itu, silahkan dibolak-balik posisinya agar merata. Setelah itu, angkat kelapa hijau dari panci. Segera lubangi ujung atas kelapa itu dan tuangkan airnya ke dalam gelas. Sekarang minum airnya. Rasanya sungguh lezat dan segar. Setelah itu, silahkan tidur. 

Saat terbangun di pagi subuh, Anda akan terasa ingin buang air. Kini warna air kencing itu bukan coklat atau kuning lagi. Tetapi berwarna serperti air susu. Itu adalah batu ginjal yang sudah hancur. Lakukan hal itu maksimal tiga kali saja. Pengalaman saya, dengan dua kali minum, batu itu sudah hilang.

Manusia bisa menanam pohon kelapa hijau dan memetik buahnya, namun bagaimana proses pertumbuhan pohon itu, bagaimana airnya masuk ke dalam tempurung buah dan bagaimana mengatur khasiatnya, berapa banyak kandungan air dalam buah kepala itu, manusia tidak punya kuasa. Jawabannya adalah semua itu ada di tangan Allah Sang Pencipta. Kita makhluk ciptaan-Nya hanya bisa bersyukur. 

Melalui tulisan ini, saya juga hendak mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah bersharing tentang pengalamannya. Saya berharap dengan menampilkan dan meneruskan pengalaman itu kepada para pembaca, anda juga akan mengalami kedahsyatan kasih Tuhan, melalui air kelapa hijau itu. Semoga makin banyak orang yang sembuh setelah membaca dan mempraktekkan apa yang anda baca.   Selamat mencoba dan mengalami kesembuhan.

Selasa, 26 Juni 2018

SAYA MAU ITU


Rekan-rekan pembaca blog.....

Akhir-akhir ini, agak jarang saya menyapa anda. Memang kesibukan ada banyak, namun meluangkan waktu untuk menulis itu membutuhkan ketekunan dan kemauan yang membaja dan membara.  Malam ini, kemauan itu ada dan membara. Karena itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjumpai anda.

Yang ada di bawah ini, bukan tulisan saya, namun saya merasa bahwa isi tulisan itu bagus, dan berguna bagi banyak orang. Karena itu, saya teruskan kepada anda. Moga-moga, anda mendapatkan inspirasi dari buah karya itu.


Banyak momen *INDAH* dlm hidup ini yg seharusnya bisa kita *NIKMATI*, tapi menjadi *GAGAL* hanya karena _ketidakmampuan_ kita dalam *MENGUASAI* diri.

Tanpa *SADAR* bahwa setiap momen begitu *BERHARGA* & tidak akan dapat *TERULANG* lagi.

Berapa sering kita *MENUKAR* _sukacita_ dgn *KEMARAHAN* hanya karena _ucapan_ seseorang yg mestinya jangan kita *HIRAUKAN*

Berapa *BANYAK* _ucapan_ & _tindakan_ kita yg *menyakitkan* orang lain & akhirnya *mendatangkan* _penyesalan_ & _kesedihan_ dlm hati sendiri?

Berapa banyak *KEMARAHAN* yg tidak seharusnya kita *UMBAR* begitu saja

Berapa banyak _konflik_ & _pertikaian_ yg dapat kita *hindari* kalo kita mau *BERSABAR*  & *MENGALAH*

Mari kita *BELAJAR*  selalu Mengendalikan diri, agar *SABAR*, *MENGALAH*, *MEMAAFKAN*

Jangan *TUKAR* hidup yang berlimpah *BERKAT* ini dgn duka yg kita *CIPTAKAN* sendiri.

Jangan *TUKAR* _Sukacita_ & _Kebahagiaan_ dgn *Kesedihan* yg tak ada *NILAI* nya

Tukarlah dgn hal² yg lebih _bernilai_, yaitu *KEDAMAIAN* & *KEHARMONISAN* 

Orang *BIJAK* bukan tidak punya *MASALAH*, tapi dia dapat mengatasi *MASALAH* dengan _baik_ n _benar_.

Orang *BAHAGIA* bukan karena *HIDUP* tanpa *KESUSAHAN*, tapi _kesusahan_ diubahnya menjadi *SUKACITA*

Orang *BERIMAN* bukan karena *RAJIN* _berdoa_ dan _beribadah_ saja, tapi *MAMPU* _mewujudkan_ *doa* dan *ibadah* menjadi *KARYA* yg indah bagi orang sekitarnya.

Bertumbuh menjdi *tua* adalah sebuah _kehidupan_, tetapi menjadi *dewasa* adalah sebuah *PENGALAMAN*. 

Semua orang pasti akan menjadi *TUA*, tetapi tidak semua orang _bisa_ menjadi *DEWASA*. 

Orang *DEWASA* adalah orang yang sudah bisa _bertanggungjawab_, _bijaksana_, selalu _bersyukur_, dan _rendah hati_                            

Kata-kata bijak dan mengarahkan manusia kepada kesempurnaan, bukan hanya ditemukan dalam kitab suci, namun juga ada di mana saja. Tuhan berfirman pada jaman dulu dan sekarang melalui alam, puisi, lukisan, lagu-lagu, dan kata-kata bijak serta buah renungan dari manusia.  Manusia sebagai citra Allah juga dapat menampilkan dan menghadirkan wajah dan kasih Allah. Karena itu, melalui manusia dapat bertemu dengan Allah dengan bantuan sesama.  



Rabu, 30 Mei 2018

AYAH......


Pembaca yang budiman

Selamat berjumpa lagi lewat cerita yang moga-moga memberikan inspirasi.  Cerita itu amat sesuai dengan kata-kata Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar, daripada kasih seorang yang mengorbankan nyawanya bagi sahabatnya”.   Kasih itu sebetulnya telah dilaksanakan oleh banyak orang  .... mungkin orang itu adalah anda.   Maka, baik juga kita baca kisah itu.. dan mendapatkan inspirasi dan mutiara iman di sana.

Kisah tentang helikopter di puncak gedung hotel.

Ada sepasang suami isteri ter-gesa² berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL utk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN . Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat utk satu orang yg tersisa.
Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER menjauh .

Kejadian Berikutnya....
API ITU SEMANGKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruh nya (termasuk sang ISTRI) 

DOSEN yg menceritakan kisah ini bertanya pd mahasiswa²nya, menurut kalian, apa yg sang istri itu teriakkan? ....
Sebagian besar mahasiswa - mahasiswi² itu menjawab : 
- Kamu JAHAT
- Aku benci kamu, 
- Kurang ajar...
- Kamu egois, 
- Gak tanggung jawab, 
- Gak tau malu...kamu dsb.. 

Tapi ada seorang mahasiswi yg hanya diam saja, dan guru itu meminta mahasiswi yg diam itu menjawab.  Kata si mahasiswi, saya yakin si istri pasti berteriak... “Tolong jaga anak kita baik²”. 

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?   *Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.*


DOSEN  itu menatap seluruh kelas dan berkata :  *Jawaban ini benar, ......*   HOTEL itu kemudian benar² terbakar habis... dan...
sang suami harus kembali ke kota kecil nya dgn Air mata yg terus menetes harus menjemput anak2 mereka yg masih TK dan BALITA, dan mengasuh anak2 mereka sendirian, dan Kisah Tragedi tersebut di simpan Rapat  rapat....tanpa.... Pernah dibahas lagi.

Ber-tahun²kemudian, anak anak itu sdh menjadi Dewasa.... Ada yg menjadi pengusaha... Ada yg menjadi Dokter....dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.  Pada suatu hari ketika anak bungsu nya bersih bersih kamar sang Ayah...anak itu menemukan buku harian ayahnya, 

*Dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya ke Hotel itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu²nya kesempatan utk bertahan hidup.

 Dan dia menulis di buku harian itu,
 *Betapa aku berharap utk sang istri yg naik ke Helicopter itu..*
*Isteriku sayang, tapi demi anak2 kita, terpaksa dgn hati menangis membiarkan kamu terbakar sendirian.*

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kpd kedua kakak nya....dan mereka... Bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus......mereka sujud mencium kaki sang Ayah Bergantian.....(mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua.  ....sekalipun dengan beban mental yg demikian berat.

Cerita itu selesai, ....  dan seluruh kelas pun terdiam. 

Dosen itu kemudian berkata:  Siapakah sang Ayah ? .....

Sang Ayah itu saat ini ......yg ada di hadapan kalian

Mahasiswa dan mahasiswi nya segera berlarian memeluk sang DOSEN.  Mereka sekarang mengerti Hikmah dari cerita nyata tersebut. Bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tdk sesederhana yg kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yg kadang sulit dimengerti.

Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa²._

-      Mereka yg sering membayar utk orang lain bukan berarti kaya, *tapi karena lebih menghargai hubungan dr pd uang.*_
-      Mereka yg bekerja tanpa ada yg menyuruh bukan karena bodoh, *tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.*_

-      Mereka yg minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, *tapi karena lebih menghargai orang lain.*_

-      Mereka yg mengulurkan tangan utk menolongmu bukan karena merasa berhutang, *tapi karena menganggap kita adalah sahabat.*_

-      Mereka yg sering mengontakmu , dan mengajakmu reuni atau silahturahmi bukan karena tdk punya kesibukan, *tapi karena kamu ada di dalam  hatinya.*_

JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI SERING DISERTAI RASA CURIGA JANGAN-JANGAN ADA UDANG DI BALIK BATU.*


Kamis, 26 April 2018

KUBUS-KUBUS

P
Pembaca yang  budiman...

Ombak besar dan angin kencang dari arah barat biasanya muncul pada bulan  Februari dan Maret.  Kekuatannya luar biasa sehingga sering mengakibatkan terkirkisnya pantai di wilayah Okaba, dan sekitarnya.  Karena tanahnya berupa pasir halus, ombak besar itu dengan mudah mengerus tanah itu, membuat lahan yang amat luas  sepanjang pantai itu pelan-pelan gugur. Setiap tahun, ratusan kubik tanah hilang ditelan ombak seiring dengan tumbangnya pohon-pohon pelindung.  Penduduk yang membangun rumah di sepanjang pantai, setelah memperhitungkan bahwa dalam jangka waktu sekian bulan akan terancam keselamatannya, pindah ke tempat yang lebih aman.  Tanah tempat tinggal mereka sekarang tinggal kenangan. Semuanya telah menjadi laut bila air pasang.  

Kuburan umum yang letaknya bersebelahan dengan tanah gereja, juga mengalami pengikisan yang luar biasa akibat angin kencang dan ombak besar. Oleh keluarga mereka, kubur itu dibongkar dan rangka / tulang-tulang yang masih ada dipindahkan ke tempat yang lebih aman.  Di lokasi itu, sekarang tidak ada lagi makam. Bencana alam tahunan ini telah memaksa penduduk untuk memindahkan makam ke tempat lain.   

Begitu pula tanah di depan gereja katolik Okaba ( pantai Sidabok ) telah gugur ke laut. Tanah yang gugur makin besar luasnya sehingga telah merobohkan bangunan serba guna. Gugurnya tanah-tanah itu, membuat akar-akar pohon tidak lagi punya kekuatan dan pijakan. Ratusan pohon kelapa yang dulu tumbuh di atas tanah itu pun telah  tumbang diterjang ombak besa dan angin yang dahsyat. Pohon-pohon yang tumbang di sepanjang pantai: pohon kelapa, pohon ketapang, pohon mangga dll. Setelah pohon-pohon itu tumbang, ombak besar dan angin kencang seakan-akan makin bebas menghajar daratan pasir itu.  Meter demi meter, tanah itu hanyut ke laut.

Dua tahun sebelumnya (2015)  jarak bangunan gereja dengan pantai hanya 2 meter. Ombak besar telah menghantam fondasi teras depan gereja.  Namun berkat bantuan pemda dan pengusaha, pantai telah ditanggul dengan menggunakan batang-batang kayu yang cukup besar, dan dilakukan penimbunan kembali. Tahun 1996 ( dua puluh dua  tahun yang lalu ) jarak antara pantai dan gedung gereja  sekitar 80 meter, saat ini tinggal 7 meter. 

-         Sungai Koloi
Lama sebelum peristiwa / bencana alam tahunan  ini terjadi, Bpk Gerardus Kaize telah meminta untuk menangani pengikisan pantai laut itu baik kepada Pemda maupun kepada pastor paroki Obaka. Keprihatinan itu diungkapkan dalam sebuah tulisan yang berjudul: “Okabaku sayang, Okabaku malang”.  Menurut pengamatannya, muara sungai Koloi yang dulu letaknya di bagian utara telah berpindah ke selatan. Akibatnya arus dari laut ketika melewati muara itu dan ditambah oleh kekuatan angin kencang, terus-menerus menggerus pantai di depan tanah gereja. Ombak besar yang disertai angin kencang, menghantam pantai pasir dan menghancurkan apa saja di  depannya. Pohon-pohon tumbang, rumah-rumah penduduk rusak, jembatan besar juga roboh karena tanah yang  di bawahnya dirusak oleh ombak besar setiap tahun pada bulan Februari dan Maret.

Gerard mengusulkan muara sungai Koloi dipindahkan (dikembalikan posisinya seperti semula) dan dibangun talud di pantai di depan tanah gereja agar bencana itu berhenti. Usul itu hampir tidak pernah didengar, karena memang tidak banyak orang yang tahu dan memahami betapa ganasnya ombak di pantai Sidabok – Okaba. Dua kali dia menyampaikan usul itu kepada uskup, namun apa daya uskup pun tidak bisa mendapatkan dana besar. Lokasi Sidabok sulit dijangkau, dan infrastruktur ke wilayah itu juga amat terbatas. Apalagi,  untuk membangun talud sepanjang 500 meter dan memindahkan muara sungai Koloi dibutuhkan biaya yang amat besar.

-         Badai besar  menggugah donatur
Tahun 2014 terjadi badai yang besar. Pantai Sidabok untuk kesekian kalinya dihajar ombak besar.  Masyarakat di wilayah itu tidak berdaya menghadapi bencana alam itu. Bencana di Sidabok adalah bencana kemanusiaan. Maka masyarakat yang ditimpa bencana pun mulai bergerak untuk mencari pertolongan. Umat katolik bersama pastornya dan pak Camat ( Bpk Jeremias Ndiken) pun bergerak untuk mengatasi persoalan itu.

Atas laporan  dari umat dan pastor Okaba, uskup mencari bantuan kepada para donatur. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, dari para donatur di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Surabaya dll telah diperoleh bantuan Rp. 180 juta. Bantuan itu segera dipergunakan. Pastor dan pak Camat bahu membahu menggerakkan umat untuk membuat talud darurat yang terbuat dari karung-karung berisi lumpur. Menurut pengalaman, karung yang berisi lumpur akan jauh lebih sulit hancur daripada pasir yang berisi pasir.

Uang bantuan dipergunakan untuk membeli 50.000 karung, ongkos angkut, sewa truk, pembelian kayu dan bambu untuk  tanggul, biaya mengisi ribuan karung dengan lumpur, ongkos makan dll. Selama kurang lebih 2 minggu mereka kerja. Akhirnya, ribuan karung yang telah berisi lumpur mereka susun sehingga menjadi talud.

Untuk sementara waktu, pantai Sidabok aman dari hantaman ombak besar. Namun karena setiap hari dihantam ombak besar, letak karung-karung itu mulai bergeser. Lama kelamaan karung-karung yang di bagian atas jatuh, karena tidak diikat / tidak diberonjong. Talud buatan itu rata dihajar ombak terus menerus. Karung-karung itu berserakan ke mana-mana. Lumpur yang ada di dalam karung pun lambat laun menghilang. Karung-karung yang kosong kemudian hilang terbawa ombak dan arus, dan ditemukan orang di desa-desa sekitarnya.

Usaha untuk mengatasi bencana alam itu tampak sia-sia. Tahun berikutnya gelombang besar itu datang lagi dan menghajar pantai Sidabok lagi. Tahun 2015, fondasi pendopo gereja sudah digerus ombak.  Umat sudah siap untuk pindah ke tempat lain, supaya bisa tetap beribadah setiap hari minggu. Bantuan akhirnya datang juga. Gerard Kaize yang waktu itu telah menjadi anggota DPRD Merauke berjuang supaya pemerintah pusat dan Pemda Merauke memberikan perhatian dan bantuan, pada bencana alam tahunan ini.  Awal tahun 2016 bantuan itu datang, dan pembuatan talud dimulai. Dengan bantuan itu, telah dibangun talud, sepanjang 150 meter dengan tinggi 3,5 meter. Oleh orang Okaba, talud itu disebut kubus-kubus, karena terbuat dari blok-blok semen yang berbentuk persegi empat seperti bentuk kubus.

Kepada Acun, operator alat berat yang telah membantu menancapkan batang-batang kayu bus, pantaslah diucapkan banyak terima kasih. Kepada Bapak Citoi, bapak Erwin dan  bapak Herman Anitu yang telah mengerjakan talud, juga kami ucapkan  banyak terima kasih. Kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat yang telah memberikan dana untuk membangun talud di Sadabok, kami ucapkan banyak terima kasih.  Secara khusus, kepada bapak Frans Boyen Mahuze yang telah menyumbang 9.000  barang kayu bus, diucapkan banyak terima kasih. Kepada umat yang telah ambil bagian dalam pembangunan  talud kayu, juga disampaikan ucapan terima kasih.  Kepada pastor Jeffry Bogia yang telah berdoa, mengimani doa itu, bekerja keras dan menyemangati umat untuk mempertahankan pantai Sidabok, gereja Okaba dan menanam pohon-pohon pelindung kami ucapkan banyak terima kasih.

Sayang beribu sayang, Gerard yang telah berjuang dengan pantang  menyerah supaya mendapatkan dana, telah meninggal dunia sebelum talud itu terwujud. Dia tidak pernah melihat hasil yang dia perjuangkan, namun anak cucu dan masyarakat Okaba mengalaminya. Maka, patutlah diucapkan banyak terima kasih kepada almarhum Gerard Kaize yang telah memperjuangkan talud bagi keselamatan pantai Sidabok.

BOGIA DAN VERTENTEN

Siapakah Jeffry Bogia ? 

Jeffry Bogia adalah seorang imam dari Tarekat MSC, dan mulai bertugas di paroki St. Antonius Okaba tanggal 21 September 2015.  Imam kelahiran Rurukan, Tomohon Sulawesi Utara itu belum pernah bertugas di daerah pedalaman Keuskupan Agung Merauke. Umatnya tersebar di 15 stasi. Infrastruktur amat terbatas, begitu pula angkutan umum. Syukurlah bahwa penerbangan ke daerah ini, cukup lancar.  Pesawat Susi Air melayani masyarakat 2 kali seminggu. Kadang-kadang 3 x seminggu, bila ada banyak penumpang.

Obaka dapat dijangkau dari Merauke dengan pesawat selama 20 menit, dengan sepeda motor selama 5 – 6 jam. Kalau jalan becek pada musim hujan, naik sepeda motor bisa butuh waktu selama 10 jam.  Daerah Merauke dan derah Okaba dipisahkan oleh sungai besar yang belum ada jembatannya. Sungai itu bernama sungai Bian. Lebarnya 406 meter.  Pernah pada tahun 2006 direncanakan dibangun jembatan sungai Bian, namun rencana itu sampai hari ini belum terlaksana. Maka, dengan mobil penumpang janya bisa sampai di bibir sungai Bian bagian selatan, lalu penumpangnya naik perahu, sedangkan mobil tidak bisa menyeberang. Di bibir sungai Bian bagian utara telah menunggu sepeda motor untuk meneruskan perjalanan menuju ke Okaba selama 1 jam.

Pengendara sepeda motor dari Okaba harus sudah dipesan lebih dulu untuk menjemput. Di sana tidak ada ojek. Bila berombongan, pengendara sepeda motor harus dihubungi sebanyak penumpang yang akan dijemput, supaya setiap orang bisa naik dengan leluasa. Jalan dari tempat itu ke Okaba amat buruk: banyak lobang dan jembatan, berlumpur pada musim hujan, dan sempit karena rumput-rumput liar yang tumbuh di kiri kanan jalan. Kalau jalan sedang buruk, becek dan berlobang-lobang, perjalanan dari Sungai Bian ke Okaba bisa memakan waktu selama 3 – 4 jam.

Pantai tinggal beberapa meter
Ketika pastor Bogia memulai pelayanannya di Okaba, bibir pantai dengan fondasi bangunan gereja sudah menyatu. Artinya, fondasi pendopo / teras gereja sudah berada di bibir pantai. Bahkan posisi salah satu tiangnya sudah mengantung, tinggal menunggu  waktu untuk ambruk. Sudah ada rencana yang lebih pasti dari umat, untuk segera memindahkan kegiatan peribadatan dari gereja itu ke balai kecamatan. Pemerintah Distrik ( pak Camat ) telah mengijinkan bahwa balai kecamatan dipakai untuk ibadah hari minggu bagi umat katolik.

Situasi yang demikian itu, tidak menyurutkan semangat pelayanan pastor Bogia. “Betapa indahnya pantai Okaba, dilihat dari pastoran dan halaman gereja. Bangunan gereja masih bisa diselamatkan”. Selain bekerja keras, dia juga berdoa mohon Tuhan memberikan bantuan. Tidak lupa dia juga meminta bantuan Pater Petrus Vententen MSC, misionaris yang diutus ke daerah ini, dan telah menyelamatkan banyak nyawa masyarakat Marind dari kepunahan akibat diserang penyakit kelamin. Penyakit itu belum ada obatnya, pada saat itu ( 1927 an ). 

Mukjizat pun terjadi. Muara sungai Koloi yang berada  di depan pantai Sidabok berpindah sejauh 400 meter ke arah utara, kembali seperti semula. Tidak ada kekuatan lain yang bisa memindahkan muara itu ke tempat asalnya, selain kekuatan Allah. “Kalau kamu mempunyai iman sebesar  biji sesawi, kamu bisa mengatakan kepada gunung ini pindahlah”’ hal itu terjadi di Okaba. Telah terjadi mukjizat perpindahan muara Koloi tahun 2015.  Perpindahan itu membuat arus kencang dari laut tidak lagi menghantam secara langsung pantai Sidabok. Talud yang berbentuk kubus amat membantu untuk menahan kekuatan ombbak dan mengatasi abrasi (pengikisan tanah /pasir pantai).  Bahkan, pasir pantai mulai meninggi.  Kubus-kubus yang dulu tingginya 3,5 meter kini tinggal 1 meter.  Bangunan gereja dengan bantuan tanggul-tanggul kayu sebagai penahan telah ditimbun kembali. Kini antara bangunan dengan pantai, jaraknya lebih dari 5 meter. Di dekat tanggul-tanggul kayu telah ditanam pohon-pohon pelindung sehingga kekuatan air sudah makin kecil. 

Semangat dan kata-kata yang diungkapkan itu, ternyata terjawab.  Pater Petrus Vertenten menjawab jeritan umat yang telah dirintisnya dengan memohonkan kepada Tuhan agar Dia memindahkan muara sungai Koloi.  Dalam sharingnya, Pastor Bogia bercerita bahwa sesudah misa hari minggu, dia berdiri di pendopo (teras) gereja dan memandang ke arah laut. Dia kemudian membuat tanda salib dan memohon kepada Tuhan agar air laut tidak lagi menghajar teras gereja namun hanya sampai di batas tanda salib  yang jaraknya kira-kira 7 meter dari teras.  Terjadilah demikian, setiap kali bergulung-gulung, ombak itu hanya sampai di batas tanda Salib. Peristiwa itu menambah kekuatan imannya.

Untuk membendung air laut, dan meninggikan tanah yang terkikis habis oleh ombak, di batas salib itu dibuatlah talud. Talud itu disusun dari batangan kayu-kayu bus sebanyak 9.000 batang, sumbangan dari  Frans Boyen Mahuze – mantan kepala Kampung Yowimu - yang punya hutan di daerah Ngguti ( 10 km dari Okaba ). Dengan bantuan alat berat, batangan kayu-kayu itu ditancapkan ke tanah sedalam 2 meter. Setelah talud itu jadi, tanah ditinggikan dengan cara menimbun. Secara bergotong royong umat dan pengusaha bahu membahu menimbun tanah di depan pendopo, hingga rata seperti semula.

Beberapa waktu kemudian,  ketika dia berada di dekat patung Pater Petrus Vententen, Pastor Bogia mengungkapkan: ”Opa, saya memang tidak mengenal engkau, namun engkau sudah memulai karya di tempat ini. Apakah engkau rela apa yang telah dimulai itu sekarang ini berantakan ?  Tolonglah saya, dan mintalah kepada Yesus, supaya muara sungai Koloi itu dipindahkan. Juga pada kesempatan lain, ketika berjalan di dekat bekas makam umum, kepada bpk Kamenap, pemilik tanah Sidabok yang memberikan kepada para misionaris untuk pelayanan gereja, Pastor Jeffry Bogia menyatakan permintaannya: “Opa Kamenap, saya tidak mengenal engkau, namun saya meneruskan apa yang telah Opa serahkan kepada pendahulu saya. Tolong, minta kepada Yesus untuk menyelamatkan pantai ini”. 

Beberapa waktu kemudian, umat yang melihat adanya perubahan itu menyampaikan kepada pastor Bogia: “Pastor, muara sungai Koloi sudah pindah ke utara”.  Pastor mula-mula ragu-ragu akan hal itu, namun ketika sudah melihatnya sendiri, dia percaya bahwa muara sungai itu sudah pindah. Jaraknya kira-kira 400 meter dari lokasi sebelumnya. Hal itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat.

Tak henti-hentinya pastor Bogia bersyukur atas anugerah Tuhan yang amat besar itu,   bukan hanya bagi umat katolik, ttapi untuk seluruh masyarakat Okaba. Pantai Sidabok yang diperkirakan hancur dan tidak berbekas, kini telah bisa dinikmat kembali.  Pastor Vententen dan Opa Kamenap telah menjadi perantara rahmat bagi banyak orang.  Terima kasih Pater dan Opa. Tolong doakan kami yang mendapat mandat untu meneruskan karya yang telah pater  dan Opa mulai.

PENGGEMBALA KAMBING

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Lama nian, saya tidak menjumpai anda. Ada banyak pengalaman yang tejadi sepanjang tahun 2018, namun untuk menuliskan dan membagikannya kepada anda..... selalu ada banyak hal yang menghalangi saya. Untuk duduk dan menulis, nampaknya secara fisik mudah....namun dibutuhkan juga spirit dan tekad ekstra.  Itulah yang tidak mudah. Maka, saya amat bersyukur bahwa pada kesempatan ini, saya dapat menyuguhkan tulisan ini kepada anda. Selamat menikmati, dan semoga anda mendapatkan inspirasi di dalamnya.

Tiba di Merauke
Sabtu, 10 Maret 2018 adalah hari istimewa bagi kota Merauke.  Pada hari itu, Mgr Adrianus Sunarko OFM, bersama dengan ibundanya ( bu Maria ), dan kedua adiknya serta ibu Rusbasari (tetangga di kompleks perumahan guru ketika masih di Merauke) tiba dari Yogyakarta, dengan menumpang pesawat Sriwijaya.  Uskup Merauke bersama seorang frater menyambut kedatangan mereka di bandara Moppa. Dari Bandara, mereka langsung menuju ke wisma uskup.

 Di depan kantor Satlantas – Merauke, sekitar 200 meter dari wisma keuskupan, Mgr Narko disambut oleh guru-guru SD Xaverius II dan para murid dengan iringan drum-band.  Mereka dengan bangga menyambut tamu dari jauh itu, karena tamu istimewa itu adalah lulusan dari sekolah itu. Selain pengalungan bunga,  beliau juga menerima topi adat (mahkota) yang dihiasi burung cendrawasih. Burung cendrawasih sering disebut juga burung kuning, karena bulunya berwarna kuning keemasan. Kedua adik beliau yang baru pertama kali melihat mahkota itu kemudian memakainya secara bergantian, sambil mengagumi burung kuning yang telah diawetkan itu. Tak lupa mereka juga ber-selfi saat memakai mahkota khas Papua itu.

Pada hari  minggu, tanggal 11 Maret 2018 beliau mempersembahkan misa di gereja katedral Merauke, sebagai ucapan syukur atas tahbisan uskup yang beliau terima pada bulan September 2017 yang  silam.  Dalam kata pengantar dalam misa, beliau menyampaikan bahwa dibaptis di gereja Kelapa Lima – Merauke, menerima komuni pertama di katedral dan aktif untuk menjadi misdinar. Maklum letak rumah orangtuanya tidak jauh, hanya beberapa menit dari gereja dengan berjalan kaki. Pada waktu itu yang menjadi pastor paroki adalah Pater Markus Bennenbroek MSC.

Banyak kenangan di kota kecil
Merauke bukanlah kota yang asing bagi Mgr Narko. Beliau lahir di Merauke, tepatnya tanggal 7 Desember 1969, kemudian bersekolah di SD Xaverius II, dan SMP John 23.  Kenangan di SD Xaveriuslah yang paling banyak, sedangkan di SMP John 23 hanya 3 bulan, kemudian karena kedua orangtuanya pindah ke Sedayu – Yogya, mereka semua pindah ke Sedayu.  Ketika beliau sedang bersharing, ibundanya berbisik bahwa beliau juga dulu sekolah di TK Bernadetha – Merauke. Rupanya kenangan di TK tidak  begitu diingat. Maka tidak mengherankan bahwa ketika ada waktu jalan-jalan, beliau mengunjungi bekas rumahnya di kompleks SMA John 23.

Perumahan guru yang dulu menjadi tempat tinggal mereka, sudah dibongkar. Tidak ada 1 batu pun bekas rumah yang tersisa di atas tanah itu. Semuanya sudah berubah. Di tempat itu telah berdiri gedung baru berlantai dua, yaitu 8 ruang kelas dari SMA John 23. Yang masih beliau kenali adalah sebuah sumur tua. Di sumur itu, dulu beliau mengambil air atau melihat sopir dari bu Rusbasari mencuci mobil angkot.

Beliau mengunjungi juga SD Xaverius II. Semua mantan gurunya telah pensiun. Sudah tidak ada lagi orang yang bisa menunjukkan tempat-tempat penuh kenangan, namun beliau masih ingat ruang belajar yang dulu pernah dipakainya. Ada dorongan hati untuk meninjau kantor kepala sekolah. Ada apa gerangan ? Di kantor kepala sekolah, ditemukan di buku induk. Di sana tercatat nama seorang murid yang telah lulus dari sekolah itu.  Namanya: Adrianus Sunarko, dengan no induk: sekian.      

Penggembala kambing 
Kedua orangtua Sunarko kecil, memelihara kambing.  Sunarko dan kakaknya Sutadi, diberi tugas oleh orangtua mereka untuk menggebalakan kambing. Setiap pagi sebelum pergi ke sekolah mereka menggiring kambing di sekitar kuburan cina – Merauke, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah mereka. Sesudah pulang sekolah, mereka berdua pergi untuk melihat kambing gembalaan mereka. Karena capek tetapi juga karena tempat di kuburan cina itu teduh dan sejuk, sering mereka tertidur di serambi / di teras kuburan itu.

Drama Samuel
“Saya pernah tidur di lantai itu” demikian ungkap Mgr Narko sambil menunjuk lantai di sebelah kanan bekas gereja katedral Merauke. Para hadirin yang ada di acara resepsi itu tidak mengerti dan heran akan ungkapkan itu. Apa maksudnya ?  Ternyata, sekian tahun yang lalu, Sunarko kecil bersama teman-temannya menyuguhkan drama. Di dalam drama itu,  Sunarko berperan sebagai Samuel. Sebagaimana ketika dipanggil Tuhan, Samuel sedang tidur di bait Allah, demikian pula  di lantai sebelah kanan altar bekas gereja katedral itulah, Sunarko tidur dan mendapat panggilan Tuhan.
  
Rupanya kegiatan menggembalakan kambing dan berperan sebagai Samuel, merupakan cikal bakal muncul dan berkembangnya panggilan Tuhan, dalam diri kedua kakak beradik itu ( Sutadi dan Sunarko).  Setelah menamatkan sekolahnya di Sedayu, Sutadi dan Sunarko masuk Seminari Mertoyudan.  Panggilan Tuhan dalam diri mereka terus bertumbuh. Dan kini, Sutadi sudah menjadi pastor di Keuskupan Ketapang, dan Mgr Sunarko OFM telah menjadi uskup di Keuskupan Pangkal Pinang.

Rahmat sakramen imamat (tahbisan uskup) bukan hanya milik pribadi, tetapi juga milik Umat allah. Karena itu umat Merauke pun turut berbangga dan bergembira atas tahbisan uskup yang diterima Mgr Narko. Kegembiraan itu diwujudkan dengan kehadiran mereka di gereja. Anak-anak sekolah pun diajak untuk hadir pada misa kudus hari itu, karena salah satu tujuannya adalah aksi panggilan. Moga-moga kehadiran dan pengalaman beliau yang diceritakan kembali kepada generasi muda, para siswa SD, SMP dan SMA akan menjadi benih panggilan. Moga-moga pula pada masa mendatang akan ada banyak kaum muda yang memberanikan diri untuk menjadi imam, biarawan-wati, atau pun awam yang siap untuk menjadi terang  dan ragi Kristus.

Tuhan bekerja melalui kegiatan orangtua, kerja kebun, menggembalakan ternak, atau lewat kegiatan kegerejaan.  Semuanya berjalan secara alamiah, baik melalui kegiatan di sekolah, di rumah, di lingkungan, yang tampaknya sangat manusiawi dan tidak ada unsur keagamaan ( kerohanian ).  Kegiatan bertani, berternak, mencuci piring, tampaknya tidak ada kaitan dan sangat jauh dari jalan panggilan untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati. Namun, apa yang tampaknya biasa dan kecil, bisa menjadi pintu / langkah awal menuju ke  jalan imamat atau hidup membiara. Pekerjaan itu adalah pekerjaan pelayanan yang tanpa disadari menumbuhkan dan meningkatkan kesetiaan, kedisplinan, kerendahan hati, kerja keras dan pengorbanan. Nilai-nilai itu sangat mendasar dan dibutuhkan oleh semua orang. Panggilan imamat dan hidup membiara sebetulnya adalah panggilan untuk menanamkan, menjaga, mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai itu dalam nama Tuhan yang menjadi sumber kehidupan semua orang, tanpa menuntut imbalan bagi dirinya sendiri. Tuhan yang mengutus, Tuhan pula yang tetap menjadi Penjaminnya.