Selasa, 14 Februari 2017

PESTA 2 FEBRUARI

PEMBACA YANG BUDIMAN

Tulisan kecil ini muncul ketika saya merayakan ekaristi di Seminari Menengah " Pastor Bonus"  Merauke. Di sana ada 25 orang calon pastor.  Inilah sharing saya di sana, pada hari itu. 

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Februari. Misa mulia namun sederhana diadakan di Seminari Pastor Bonus, bersama-sama dengan anak-anak seminari. Yang menjadi pokok renungan adalah “Yesus makin bertambah besar, makin kuat dan makin bijaksana, serta makin dikasihi Allah dan manusia”. 

Pada waktu dipersembahkan di kenisah, Yesus baru berumur 40 hari.  Kedua orangtua-Nya (Yoseph dan Maria) telah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara persembahan. Sebagai keluarga tukang kayu, mungkin sekali mereka membawa sepasang tekukur atau burung merpati, sebagaimana yang dipersyaratkan untuk hari suci itu.  Mereka terheran-heran oleh sambutan Imam Agung Simeon, yang mengucap syukur atas telah terkabulnya permohonannya.

Sesudah hari-hari suci itu, kedua orangtua kembali ke kampung halamannya yaitu ke Nazareth. Pendidikan dan pembinaan diberikan setiap hari kepada Kanak-kanak Yesus, tentang nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, latihan ketrampilan, kunjungan keluarga, doa bersama, membaca kitab suci dll. Apa yang mereka tanamkan setiap hari itulah yang dilaksanakan dan diteruskan oleh Yesus, yang makin hari makin bertambah usianya. Kedua orangtua punya peran penting dalam kehidupan Yesus, sehingga Dia makin bertambah besar, makin kuat, dan bertambah hikmah-Nya, serta makin dikasihi Allah dan manusia.

Seminari adalah tempat pembinaan / persemaian  bibit para calon imam.  Sebagaimana yang terjadi di keluarga-keluarga, di seminari pun anak-anak seminari diberi pembinaan, latihan, dan bekerja agar makin terlibat dan tahu apa yang harus dikerjakan setiap hari. Pelajaran budi pekerti, nilai-nilai kerohanian, dan kejiwaan ditanamkan dan diteladankan oleh para pembina, agar kelak mereka menjadi manusia yang baik, bijaksana, dewasa dan dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab. Apa yang diberikan setiap hari, merupakan bekal penting, agar mereka ketika melakukan semuanya itu bukan lagi karena aturan, terpaksa atau disuruh, tetapi dengan sebuah kesadaran pribadi. Pekerjaan dan kegiatan harian merupakan pelaksanaan dan perwujudan pribadi mereka yang hendak mengabdi, melayani dan menyalurkan minat, bakat, talenta dan kekuatan yang ada padanya.

Demikian pula para orangtua, dari keluarga manapun, menanamkan dan meneruskan apa yang mereka punyai kepada anak-anaknya. Mereka membekali anak-anak agar kelak anak-anak itu mempunyai bekal dan dapat hidup dan berkembang sesuai dengan talenta, minat dan kekuatan serta kepribadian mereka kepada masyarakat.  Ketika sudah dewasa, anak-anak itu tidak lagi tergantung pada orangtuanya, tetapi dapat hidup mandiri bahkan mengembangkan apa yang telah ditanamkan orangtua atau apa pun ditemukan dalam perjalanan hidup mereka.

Bagi para beriman katolik, keluarga kudus Nazareth ( Yusuf, Maria dan Yesus) merupakan teladan bagi keluarga-keluarga sekarang ini. Baik sebagai pribadi-pribadi, maupun sebagai keluarga, mereka dipenuhi kasih karunia Allah.  Kedekatan dengan Allah yang mereka wujudkan dalam hidup dan relasi serta komunikasi satu sama lain, membuahkan rahmat yang begitu banyak. Semoga kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, mendapatkan rahmat yang berlimpah sebagai buah dari kedekatan kita dengan Allah dan meneruskannya kepada sesama.

28 TAHUN IMAMAT

PEMBACA YANG BUDIMAN, 

selamat berjumpa lagi.... Inilah sharing khusus saya. Selamat membaca. 

Tanggal 1 Februari 1989, jatuh pada hari rabu. Hari itu, fr Hans Susilo, fr. Priyo Susanto, fr. Adi Seputra, fr. Sani saliwardaya, dan fr Heru Jati ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Alexander Djajasiswaja ( Uskup Bandung ). Tahbisan itu dilaksanakan di gereja katedral Purwokerto yang baru saja diberkati. Kelima frater tsb adalah orang-orang pertama (pembuka / yang mengawali) yang ditahbiskan di gereja yang baru itu. Mereka yang hendak ditahbiskan itu adalah frater-frater MSC.

Tahbisan dilaksanakan pada sore hari, jam 4 sore. Karena uskup Purwokerto pada waktu itu sedang berhalangan,  tugas beliau itu digantikan oleh Mgr. Djaja.  Upacara pentahbisan berjalan lancar, meskipun sebenarnya hari-hari itu adalah hari-hari hujan. Uskup pentahbis didampingi oleh Romo Sukmana MSC dan Romo Wignyo Sumarto MSC. Hadir pada kesempatan itu puluhan imam baik dari Tarekat MSC, para imam projo, romo-romo tamu dari banyak tempat. Seingat saya hadir juga 1 orang imam MSC dari Jepang yaitu Romo Makino.

Salah satu dari frater yang ditahbiskan ini adalah penulis. Dia ingin  mengenang peristiwa yang telah terjadi 28 tahun yang silam. Meski peristiwa itu telah berlangsung begitu lama, namun rasanya baru saja terjadi dan merupakan kenangan yang tidak pernah akan bisa dilupakan. Waktu itu, para frater yang hendak ditahbiskan pada umumnya didampingi oleh kedua orangtuanya. Hanya frater Heru, karena ayahnya sudah meninggal, didampingi ibunya dan pamannya.

Upacara tersebut berlangsung dengan khidmat, meriah dan sederhana. Lagu “Di Sanggar Mahasuci” mengiringi prosesi panjang. Para penari memperagakan hormat bakti dan sujud seluruh umat Allah pada penyelenggaraan Ilahi dan kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia. Peristiwa yang mengesankan penulis adalah ketika meminta restu kepada orangtua, tiarap sebagai tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, dan penumpangan tangan, dan pengurapan dengan minyak krisma.

Sesudah pentahbisan, kelima imam baru dengan didampingi oleh orangtua masing-masing, berdiri di pelataran panti imam dan menerima salam dari umat, sahabat dan para undangan. Kemudian, ada resepsi di aula katedral. Mgr P.S.Hardja-Soemarta MSC hadir pada kesempatan itu, seraya memberikan ucapan selamat kepada para imam baru. Tidak ada acara ramah tamah pada malam itu, sehingga para tamu dan undangan yang berasal dari luar kota, bisa langsung pulang.

Syukuran atas pentahbisan, dirayakan di Novisiat MSC – Karanganyar / Kebumen, di paroki St. Petrus Pekalongan, di Gombong, dan di Kalikotak ( rumah Rm. Hans Susilo), di Samigaluh ( rumah Rm. Priyo), dan di Jomblang ( rumah Rm. Adi Seputra ).  Misa syukur juga diadakan di SMP Pius Tegal karena penulis dulu bersekolah di TK, SD, dan lulus dari SMP Pius Tegal. Satu bulan setelah menerima tahbisan, dua Romo diutus ke Jepang ( Romo Priyo dan Romo Sanny), Romo Heru diutus ke keuskupan Amboina, dan Romo Susilo dan Romo Adi diutus ke Irian Jaya.  

Tgl 4 Maret 1989, Romo Yos Suwatan MSC (provinsial) dalam misa sederhana di kapel provinsialat MSC di Jakarta mengutus 3 imam muda ke tempat tugas masing-masing. Tanggal 5 Maret 1989, Rm Hans Susilo dan Rm Adi Seputra terbang menuju Jayapura, dan bermalam selama beberapa hari di biara St. Antonius Sentani. Tgl. 10 Maret 1989, kedua imam ini tiba di Merauke dengan menumpang pesawat Merpati. Di Bandara, mereka dijemput oleh Pater Anton de Grow MSC, Sr. Chatrine Tati PBHK, P Alo Batmyanik MSC dan P Sugun MSC.

28 tahun adalah kurun waktu yang cukup panjang. Sakramen Imamat yang saya terima telah menjadi berkat besar bagi diri saya sendiri dan umat Allah dan banyak orang dari pelbagai bangsa dan agama. Tidak terhitung lagi berapa kali saya merayakan ekaristi, membaptis orang, meneguhkan nikah, atas nama Tuhan mengampuni dosa, dan mengurapi orang-orang sakit. Tidak terhitung lagi berapa banyak berkat melalui orang-orang yang membantu pelayanan saya, turut serta hadir dalam perjalanan dan pekerjaan sulit di pedalaman-pedalaman.  Tidak terhitung juga betapa banyak orang yang telah mendoakan saya dan meneguhkan panggilan saya.

Maka, pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu saya, yang saat ini sudah berusia 80th namun masih tetap mendoakan saya. Juga kepada kakak adik, ipar dan kemenakan yang menunjukkan persaudaraan dan keakraban setiap kali saya berlibur. Kepada umat, sahabat kenalan yang tersebar di seluruh nusantara, maupun di luar negeri. Juga kepada konfrater MSC, rekan-rekan setahbisan dan rekan-rekan pembaca blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih.




Jumat, 27 Januari 2017

KUNJUNGAN PADA HARI NATAL 2017

PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya haturkan sebuah pengalaman kecil ini untuk anda. Semoga anda menemukan inspirasi di dalamnya. Selamat menikmati dan menemukannya. 

Hari itu, saya mengadakan perjalanan ke kampung. Ketika melewati rumah suatu keluarga, saya tergerak hati untuk menghentikan mobil saya dan mengunjungi keluarga itu. Kebetulan hari itu adalah hari natal. Sambil mengunjungi, saya berkesempatan untuk mengucapkan selamat natal. Di rumah itu, tinggal suami istri yang sudah lansia. Suami berumur 83 tahun dan istrinya berusia 80 tahun.  Mereka tinggal bersama anak menantu dan 3 orang cucu.
Ibu Katrin, nama sang istri, telah lama sakit. Waktu itu dikatakan beliau kena “strook ringan” namun tidak mampu menggerakkan anggota badannya. Ke mana pun dia pergi, semuanya perlu dibantu orang lain.  Sejak saat itu kondisinya makin menurun dan berat badannya pun turut menurun. Kesegaran dan sukacita yang biasanya secara spontan muncul sama sekali tidak terlihat lagi.  Perempuan yang dulu amat gesit dan selalu ada waktu untuk membantu orang lain, kini tergolek di tempat tidur. Semuanya tidak dapat dinikmati tanpa bantuan orang lain. Hidupnya sehari-harian hanya di kamar, dan di atas tempat tidur.....
Menjadi sangat jelas, bahwa kedudukan, harta, jabatan dan segala macam yang diperoleh tinggal kenangan. Yang dia butuhkan adalah ketenangan jiwa. Segala sesuatu yang ada di dunia dan dipercayakan kepadanya adalah alat bantu. Yang diharapkan setiap hari dari menjadi dambaan setiap orang adalah kebahagiaan hidup abadi. Kebahagiaan Abadi ini tidak bisa diberikan oleh manusia, tetapi hanya oleh yang kita imani: Allah yang mahapengasih dan penyayang.  Maka, pada hari-hari terakhir, sebelum manusia meninggalkan dunia ini, perlulah dia disiapkan agar jiwanya dan rohaninya siap untuk menerima Kebahagiaan Abadi. Di sana, semua orang percaya dikumpulkan dan dibahagiakan secara kekal oleh Allah  sendiri. 

HALO .......2017

PEMBACA YANG BUDIMAN

Sudah sekian lama saya tidak menjumpai anda. Alasannya macam-macam. Namun meskipun terlambat, tetap ada di dalam diri saya, suatu kerinduan untuk menggoreskan sesuatu untuk anda. Kapan dan bagaimana ?    Itulah pertanyaan yang selalu baru dan nyata setiap hari kepada saya.  Saat ini, tanggal 27 Januari 2017......  sudah 27 hari saya menapaki tahun baru, namun belum 1 tulisan pun yang muncul di blog ini. Maka saya menyampaikan pertama-tama permohonan maaf saya.

Ada baiknya juga bahwa untuk membuka tulisan pertama ini, saya menghaturkan kepada anda sekalian “selamat Tahun Baru 2017”. Saya berharap bahwa pada kesempatan yang akan datang, tulisan saya akan lebih banyaka daripada yang sudah termuat di blog ini pada tahun 2016 yang lalu.
Saya juga berharap bahwa pada tahun yang baru ini, ada banyak rahmat dan sukacita yang akan kita alami. Semua itu bukan hanya karena berkat Tuhan yang tercurah, tetapi juga karena kita mau berpartisipasi secara aktif dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, dengan sukacita.

Kita berhak mengalami sukacita sepanjang tahun ini. Maka, motivasi, kehendak dan tindakan kita sudah semestinya didasarkan dan diarahkan untuk menciptakan sukacita. Sukacita itu akan memberikan energi besar dan mengalahkan banyak kekhawatiran dan ketakutan.  Sukacita akan membangkitkan semangat dan memberikan kepuasan dalam mengerjakan tugas-tugas kita meskipun berat dan melelahkan.


Kita masuk dan dimasukkan dalam karya besar Tuhan, menciptakan kebahagiaan di bumi ini. Maka, keluarga, kakak adik, kenalan, teman-teman sekerja dll adalah sahabat-sahabat kita yang turut mendukung dan menyukseskan kehidupan kita dan kehidupan umat manusia. Mari kita ambil bagian dalam melaksanakan karya besar Tuhan  itu dengan penuh sukacita, agar semakin banyak orang mengalami kasih sayang Allah. 

Sabtu, 10 Desember 2016

SEPERTI MALAIKAT

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Saya sajikan bagi anda, sebuah renungan yang saya angkat dari pengalaman kecil. Selamat menikmati isinya, dan semoga anda mendapatkan aspirasi di dalamnya.  

Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah....( ayat 36)
Kira-kira 1 bulan lalu, saya diajak oleh beberapa rekan, pergi rekreasi ke  .....  Batu – Malang, Jawa Timur.  Dalam perjalanan ke tempat itu, ada rekan yang menceritakan bahwa di sana ada banyak sekali kupu-kupu, dan bagus  sekali. Ada binatang-binatang yang sudah dikeringkan. Pelbagai jenis ikan juga bisa dilihat dari dekat.  Informasi itu membuat saya ingin segera sampai, dan melihat apa yang diceritakan ketika kami masih dalam perjalanan.

Dari tempat parkir, kami sudah langsung melihat gedung besar dan 2 patung gajah raksasa. Gedung besar itu adalah museum satwa.  Kami mengawali rekreasi kami di museum satwa. Di sana, ada 1 ekor kangguru besar yang sudah dikeringkan sedang mengendarai vespa, 1 ekor kangguru belang-belang sedang memetik gitar, rangka raksasa dinosaurus. Di bagian lain ( Batu Secret Zoo), saya melihat burung-burung,  kuda nil, monyet-monyet kecil dari Afrika, dan angsa hitam yang paruhnya merah. Di bagian lain lagi, ada pelbagai jenis ikan dari laut dalam, ikan pari tutul yang belum pernah saya lihat sebelumnya, biota laut dll. Semuanya jauh lebih indah daripada yang diceritakan oleh rekan saya.  Cerita manusiawi betapa pun lengkapnya, tidak bisa menggambarkan keindahan, kemegahan, kemuliaan dari wujud / kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kutipan Injil hari minggu ini, ada pertanyaan orang Farisi tentang wanita yang menikah 7 kali: “Siapakah yang menjadi suami dari wanita itu ?” (Luk 20:33).  Pertanyaan itu muncul berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan realita yang terjadi di masyarakat. Sekaligus pertanyaan itu juga merupakan ungkapan kecemasan, ketidak-mengertian, keingintahuan, harapan untuk mendapatkan kepastian kepada Sang Guru Kehidupan.  Jawaban Yesus, sungguh di luar  dugaan mereka.  Sesudah kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah.....( Luk 20: 36).

Jawaban Yesus itu mau menunjukkan umat manusia bahwa kehidupan sesudah kebangkitan sungguh amat berbeda dengan kehidupan di dunia ini. “Di sana” kehidupan itu jauh lebih mulia, lebih damai, dan membahagiakan.   Sebagaimana museum satwa dan Batu Secret Zoo, jauh lebih indah gedungnya dan lebih lengkap isinya serta lebih menarik panoramanya, daripada yang diceritakan, kiranya demikian pula “surga dan kehidupan bersama Yesus” akan jauh lebih indah, mulia dan membahagiakan daripada yang dialami manusia di dunia ini.  Di dalam Yesus, berlimpah-limpah kerahiman Allah, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang menjadi Perantara kita satu-satunya kepada Allah.

Para beriman kepada Yesus dipanggil untuk menghadirkan suasana “surga” (kasih, persekutuan, kesetiaan, kemurahan hati, kelemahlembutan, persaudaraan, penguasaan diri) itu bukan hanya nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini. Saat ini, di tengah kehidupan berkeluarga, berkomunitas, bermasyarakat dan berbangsa, suasana surga itu dibutuhkan oleh segenap umat manusia.  Ketika orang berbicara tentang keluarga, komunitas, suami, istri, dan anak-anak kita, yang mereka temukan di rumah kita, di lingkungan , di komunitas kita, ternyata jauh lebih luar biasa, lebih membahagiakan dan menyejukkan daripada yang diceritakan oleh siapa pun. Mereka bangga akan pengalaman bahwa “para pengikut Yesus itu seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah..... karena mereka menghadirkan kerahiman Allah.

Orang-orang yang berkeluarga memang terikat oleh perkawinan. Amat wajar bila mereka bicara tentang kawin, mengawinkan dan dikawinkan, urusan rumah tangga, makan minum dll. Namun urusan keluarga kristiani bukan hanya itu. Mereka karena sakramen permandian adalah utusan-utusan Allah untuk menyebarluaskan dan menghadirkan kasih Allah di dunia ini. Kunjungan ke orang sakit, ikut kegiatan lingkungan dengan sukacita, menjadi anggota koor, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak dan suami / istri, mendampingi anak-anak yang sedang belajar, mengatur keuangan keluarga sehingga semuanya sejahtera, hidup sederhana dengan penuh kejujuran, ketulusan dan kesetian dsb, merupakan “jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan” dan menjadi “lilin yang  bernyala bagi manusia dan dunia yang dikungkung oleh kegelapan”.

Melalui kesaksian hidup yang baik dan penuh rahmat Allah itu, orang / sesama manusia dibantu untuk mengalami kebaikan Allah, dan bersama-sama berusaha hidup suci supaya diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan abadi bersama Allah dan para kudus. Di sana mereka akan seperti malaikat-malaikat. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil Tuhan untuk mengalami semuanya itu secara penuh untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di dunia merupakan persiapan untuk mengalaminya secara total di surga bersama Allah yang telah menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia.

BEBERAPA PEMIKIRAN UNTUK PEMERHATI KEHIDUPAN DI MERAUKE

PEMBACA YANG BUDIMAN DAN SETIA ...

Syaloom dan selamat bertemu lagi

Wilayah Timur Indonesia, khususnya Merauke, kurang dikenal oleh banyak putra-putri bangsa Indonesia.  Ada banyak yang baik dan sudah berkembang di sana. Namun, tidak mungkin semuanya dituangkan di dalam tulisan ini.  Beberapa pemikiran yang bisa saya haturkan, saya munculkan di blog ini. Selamat menikmatinya.

1  1. MIFEE

  MIFEE adalah kependekan dari Merauke Integrated Food and Energy Estate  (Merauke Lumbung Terpadu atas Pangan  dan Energi). Istilah ini sudah didengar oleh masyarakat Merauke.  Kedatangan para investor, dan banyaknya utusan / perwakilan dari pihak investor serta instansi-instansi yang terkait dengan rencana / program besar ini sudah lama juga dilihat dan diamati oleh masyarakat. Mereka sudah mengadakan pertemuan dengan masyarakat, ketua Lembaga Masyarakat Adat, atau Kepala Kampung, Ketua Marga dll untuk  “mensosialisasikan” proyek itu.  Istilah yang agak umum dimengerti oleh masyarakat dan saya adalah  Merauke akan dijadikan lumbung pangan dan energi secara terpadu dan berskala nasional. 

2.   PENGERTIAN MASYARAKAT AKAN MIFEE

MIFEE sebagai sebuah istilah baru memang mulai dikenal luas oleh masyarakat Merauke, sejak 7-8 tahun terakhir ini. Pengertian / informasi bahwa akan ada poyek besar untuk mengembangkan Merauke, meningkatkan pendapatan, kesejahteraan masyarakat dan mempercepat kemajuan daerah, memang dengan mudah dipahami. Bahwa investor akan kerja keras, membuka daerah terpencil, dan membuka lapangan kerja merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari usaha pembangunan daerah. Bahwa Pemerintah Daerah mengundang investor untuk memasukan wilayahnya, adalah sebuah terobosan / langkah positif yang patut didukung.

Namun, isi dan skala proyek, proses panjang yang harus dilalui oleh investor, hal-hal yang harus diperhitungkan dalam berinvestasi dan menejemen dari investasi yang begitu besar dan moderen ini, adalah bidang yang sama sekali baru. Hal ini tidak mudah untuk dimengerti oleh orang-orang yang tidak terlibat di dalamnya.  Apalagi, bagi masyarakat biasa ( guru-guru, PNS, nelayan, petani, tukang, pegawai toko, penduduk lokal dan para transmigran dll) yang setiap harinya berurusan dengan kehidupan yang sangat alamiah dan seadanya, MIFEE adalah proyek yang di luar jangkauan mereka.

3.   LUAS TANAH YANG DIBUTUHKAN

Masyarakat biasa terlebih yang tinggal di kampung-kampung dan di pedalaman pada umumnya amat terbatas kemampuannya dalam membaca, menghitung dan menulis. Hal ini saya ungkapkan, karena banyak hal dalam kehidupan masyarakat tidak bisa berjalan dengan lancar, akibat dari hambatan yang amat mendasar ini. Hal itu pada gilirannya akan menghambat pembangunan dan perkembangan masyarakat secara signifikan. Di satu sisi, mereka yang sudah lulus perguruan tinggi, pada umumnya lancar dalam membaca dan menulis, namun di sisi lain, kemampuan untuk menghitung yang paling sederhana: + (tambah), - (kurang), : (bagi) dan x (kali), pada banyak anggota masyarakat amat lemah.

Merauke telah dicanangkan sebagai Lumbung Pangan Nasional. Untuk itu, tanah 1 juta hektar disiapkan.  Masyarakat tahu angka 1.000.000 ( satu juta ), namun tanah seluas satu juta, saya amat yakin mereka tidak paham. 

Angka Rp 1 milyar / 3 milyar / 6 milyar, saya yakin mereka tahu atau banyak kali mendengar. Namun, berapa harga sewa tanah per hektar, dan berapa luas lahan yang disewa oleh pihak investor selama 35 tahun, mereka sungguh tidak paham.  Bukan hanya menghitung angka-angka ( +, -, :, x), menulis dengan huruf, angka-angka di atas seratus / seribu (misalnya: seratus lima puluh tujuh / seribu dua ratus tiga puluh empat) mereka bingung. Pernah saya menjumpai banyak anak yang menulis “seratus dua puluh tiga” sebagai berikut: 100203, dan “dua ribu empat ratus dua puluh satu” sebagai berikut : 2000400201.

Banyak kali saya menjumpai orang-orang yang mengalami kesulitan dalam pembagian / membagi, meskipun angka itu bagi saya masih angka kecil ( di bawah angka 100 ). Misalnya: 28 : 4 = ???    30: 6 =  ?? Mereka sulit menghitung hasilnya bila tidak menggunakan kalkulator. Maka, bisa dimengerti, bahwa mereka sungguh sangat kesulitan untuk menghitung, berapa luas lahan ( .... ?? x .....??) yang dipergunakan untuk perkebunan sawit, untuk lahan pangan dll.


4.   KEHIDUPAN MASYARAKAT BERUBAH DRASTIS

Masuknya investor dan perkembangan wilayah, membuat kehidupan penduduk berubah secara drastis. Dulu mereka tidak pernah melihat mobil, traktor, excavator, dum-truck, dan alat-alat berat lainnya. Juga mereka tidak pernah melihat proses pembersihan lahan dengan menggunakan alat-alat berat, banyaknya peralatan dan orang-orang trampil yang mengendalikan seluruh proses pembukaan lahan. Tanki-tanki bbm, kapal-kapal angkutan yang masuk sampai daerah terpencil, bangunan-bangunan baru yang bermunculan, mesin-mesin pabrik yang dalam waktu 1 -2 tahun sudah mulai beroperasi, listrik yang menyala 24 jam, adalah tanda-tanda perubahan yang begitu cepat terjadi di kampung mereka.

Seiring dengan masuknya investor, masuk juga para pedagang, para pencari kerja dan para penyedia jasa lainnya: bank, angkutan umum, pemberi kredit dan tengkulak.  Dengan demikian, kampung kecil yang dulunya tidak pernah diperhitungkan, kini telah menjadi “pusat-pusat orang berkumpul” untuk berdagang, mencari nafkah, dan aneka kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya karena di sana ada investor, angkutan umum dan pasar serta para pedagang yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok.

Masyarakat yang dulunya makan sagu dan ubi-ubian, kini sudah terbiasa makan nasi, telur, ikan asin, dan makan-makanan pabrik.  Mereka sudah mengenal dan terbiasa menikmati angkutan umum, sepeda motor, truk perusahaan, sehingga jarang sekali yang jalan kaki. Begitu pula, pakaian, sepatu, tas, sabun mandi, sampo dan model rambut mereka sudah sama dengan orang-orang yang tinggal di kota.  Mereka menjadi semakin tergangung pada barang-barang dari luar, daripada menghasilkan kebutuhan hidup dari kebun / tanah sendiri. Penampilan mereka dan gaya hidup mereka sama dengan orang dari daerah-daerah yang sudah maju, sedangkan mental dan daya juang mereka masih tetap sama (mental masyarakat agraris / kekeluargaan dan bukan masyarakat bisnis/ekonomis dan kompetitif )




5.   ALTERNATIF KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT

Masyarakat lokal adalah masyarakat agraris / tergantung pada alam. Untuk mengubah mental mereka menjadi mental wiraswasta / mandiri dan terprogram dan kompetitif, dibutuhkan kerja keras, pembinaan secara efektif dan berkelanjutan, serta perlu waktu panjang dan biaya besar.  Alternatif / pilihan yang bisa dipikirkan adalah:

·        Umur 45 – ke atas
Disediakan lahan dan hutan yang cukup luas ( 500 hektar ) untuk mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan / industri moderen. Biarlah mereka hidup dalam ketenangan, karena usia mereka sudah 45 tahun ke atas.

·        31 – 44 tahun 
Disiapkan lahan perkebunan. Mereka dibekali ketrampilan dan pelatihan terus-menerus di bidang perkebunan karet, rambutan, durian, menanam pohon dalam jumlah banyak. Untuk keperluan hidup sehari-hari, selama 5 tahun pemerintah memberikan bantuan / jaminan hidup.

·        21 – 30 tahun
Disiapkan lahan perkebunan. Masing-masing menyiapkan lahan 1 hektar. Mereka dibekali ketrampilan pertukangan, perbengkelan, dan dan didorong untuk mempunyai tanaman jangka panjang: pohon jati, sengon, dan tanaman keas lainnya sehingga masa depan mereka makin baik.

·        15 – 20 tahun
Diberi lahan untuk perkebunan masing-masing 1 hektar. Kegiatan mereka pada pagi hari adalah sekolah, dan sesudah pulang sekolah mereka dilatih untuk kerja kebun. Uang hasil kerja kebun, bisa dimanfaatkan untuk membayar uang sekolah.

·        10 – 14 tahun
Mereka dilatih untuk membantu orangtuanya kerja kebun, sesudah pulang sekolah.

·        5-9 tahun
Mereka dibina untuk setia masuk sekolah, agar mampu membaca, menulis dan menghitung dengan baik.


6.   PASAR DAN PEMASARAN

Tidak di semua tempat ada pasar, dan amat kurang orang yang berminat atau mengusahakan agar pemasaran hasil produksi masyarakat bisa dijual dengan harga yang baik. Sering ketika panen, harga dari hasil kebun masyarakat: ubi, pisang, rambutan, beras / gabah amat rendah. Hal ini membuat para petani enggan untuk meneruskan usaha pertanian / perkebunan, karena mereka takut rugi besar. 



7. MENYEDIAKAN PANGAN DAN KEBUN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

Agar masyarakat bisa hidup dan makin mandiri, mereka perlu dilatih untuk menyediakan kebun karet 1 – 2 hektar per keluarga, pangan ( ubi-ubian, pisang, dan sayuran), dan ternak bagi mereka sendiri. Dengan memiliki kebun karet, masyarakat bisa kerja di kebun sendiri dan menyadap karet setiap hari.  Mereka tetap menjadi tuan atas kebun mereka sendiri. Begitu pula pangan dan ternak yang mereka usahakan, membuat mereka akan selalu punya persediaan pangan dan daging yang mereka perlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Agar mereka bisa memiliki kebun, pangan dan ternak secara mandiri, memang perlu diprogramkan, dibina dan dipandu secara berkelanjutan dan untuk waktu yang cukup lama. Sebelum karet dan tanaman pangan mereka menghasilkan, Pemerintah dan pihak investor perlu menbantu mereka agar makin lama, mereka makin mandiri.


Demikian beberapa catatan saya tentang kehidupan dan pemikiran tentang langkah-langkah yang harus dibuat agar masyarakat pemilik tanah bisa mandiri dan tidak terus-menerus tergantung pada pihak lain. Kemandirian mereka akan membuat mereka hidup tenang, dan pihak lain pun akan dapat bekerja dengan tenang.  Untuk itu, perlu semua pihak duduk bersama, berunding untuk memikirkan kehidupan masyarakat dan pembangunan yang dicanangkan pemerintah, dengan melibatkan semua pihak yang ada di wilayah ini.                                                                                     

1 DESEMBER 2016

PEMBACA YANG BUDIMAN 
Salam dan syaloom 
Saya menjumpai anda kembali pada kesempatan ini, meskipun tidak serutin dulu. Moga-moga tulisan kecil ini memberi inspirasi kepada anda. Selamat membaca. 
Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran indivdu terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itulah, hari AIDS sedunia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.
Tanggal 1 Desember adalah hari libur untuk seluruh tanah Papua.
Pemerintah Provinsi Papua menetapkan 1 Desember 2016 sebagai libur fakultatif untuk Papua, dalam rangka memasuki masa raya Advent memasuki perayaan Natal.  Keputusan hari libur ini sesuai dengan Keputusan Gubernur No. 188.4/419/tahun 2015 tentang hari hari libur resmi dan cuti bersama di wilayah Provinsi Papua 2016.
Pada hari itu, semua karyawan libur. Saya libur pekerjaan kantor, kegiatan rutin harian, dan menerima tamu. Hari libur itu, saya gunakan untuk kegiatan penyegaran. Saya melihat-lihat kebun di Buti – di kompleks bruder Gembala Baik dan Susteran Putri Gembala Baik.  Tanahnya sudah kering, karena sudah lebih dari tiga minggu, hujan tidak turun.  Sementara itu, air sumur sudah mulai turun debitnya. Biasanya, air sumur disedot 2 jam baru habis, sekarang ini, baru disedot 20 menit airnya sudah habis.
Musim kering, membuat kami lebih hemat dalam menggunakan air.  Air cucian beras yang biasanya kami buang begitu saja, pada saat ini sangat berharga dan kami tampung untuk menyiram sayur.  Biasanya kami menanam sayur di bedeng-bedeng, supaya hasilnya banyak. Pada saat ini, kami menanam sayur di polibek-polibek supaya kami tetap dapat menanam sayur meskipun dengan jumlah air yang sedikit.
Biasanya, kami pada musim kering, menggunakan botol-botol aqua yang sudah kosong yang telah kami lubangi, dan kami isi air hingga penuh. Botol-botol itu kami gantung pada sebatang kayu, lalu tetesan-tetesannya tepat jatuh pada batang sayuran yang kami tanam, sehingga untuk 2 hari kami tidak perlu menyirami tanaman / sayur-sayuran itu.  Hasilnya menggembirakan. Tanah tetap basah secukupnya, dan tanaman bisa tetap hidup, dan pada waktunya, kami juga panen sayuran.
Pada masa kering kali ini, Kris, orang muda yang kreatif, memberikan cara lain untuk menyiram. Dia memanfaatkan ember cat ( 5kg dan 25 kg). Ember itu dilobangi sesuai dengan ukuran kran, lalu di lobang itu dipasang kran. Di mulut kran itu, dipasang slang plastik panjang. Slang itu ditempatkan di atas bedeng-bedeng / polibek-polibek dengan bantuan kayu-kayu penyangga. Kemudian slang-slang itu dilobangi  sesuai dengan letak tanaman / sayuran yang kami tanam. Air dari ember mengalir melalui slang dan jatuh tepat pada tanaman / sauuran itu. Dengan cara ini, air akan lebih hemat, kami tidak perlu jalan-jalan di setiap bedeng / polibek untuk menyiram. Hasilnya tanam di sekitar tanaman / sayur itu tetap basah, tanamam tumbuh dengan baik. Air bisa dihemat dan kami dapat panen pada waktunya.
Keterbatasan air ternyata bisa membuat orang menjadi lebih kreatif.  Libur kantor bisa menjadi berkat di bagian lain. Hidup tidak lagi monoton, tetapi dapat memberikan gairah bagi orang-orang yang mau membuat sesuatu.
Selain puas atas penemuan baru, kami juga bersyukur, bahwa kami dapat membuat sesuatu untuk mengisi hidup ini. Meskipun kecil, kami dapat mengambil bagian dalam menciptakan kegembiraan. Hati kami dipenuhi rasa syukur, bukan karena banyaknya uang yang kami dapatkan, tetapi karena kami telah menemukan cara baru, dan dapat bagian dalam karya penciptaan Tuhan. Kami yang menanam, namun Tuhan yang menumbuhkan.