Minggu, 20 Mei 2012

GEREJA RAJA DAMAI NASEM DIBERKATI

NASEM adalah nama sebuah stasi / kampung yang jaraknya kira-kira 25 km dari Merauke. Sebagian jalan cukup bagus dan layak untuk dilalui, sebagian lain cukup parah dan berlumpur. Apalagi saat ini adalah musim hujan, di ruas jalan yang berlumpur itu, perjalanan menjadi lebih berat. Kubangan dan lubang-lubang besar terdapat di beberapa titik. Kubangan itu penuh air dan bisa mencapai selutut. Meski demikian, situasi itu tidak menyurutkan niat kami untuk mengadakan pelayanan bagi umat di Nasem.

Bertepatan dengan pesta Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, 17 Mei 2012, umat dari pusat paroki Buti - Merauke dipimpin oleh Pastor Yakob, bergerak menuju Nasem. Ada 3 kendaraan yang menuju ke sana, semuanya sarat dengan penumpang. 1 truk milik tentara, 1 mobil hardtop dan 1 mobil pick-up Strada berangkat dari Merauke sekitar jam 10.10 pagi. Diperkirakan sebelum jam 12 kami sudah tiba di sana, karena menurut rencana upacara peresmian dan pemberkatan gereja akan dimulai jam 12. 00 siang.

Di km 21, kami bertemu dengan rombongan Bapak Sekda Merauke yang hendak membatalkan rencananya, karena tidak melihat kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan. Beliau katakan bahwa ada kendaraan yang melintang di jembatan. Ketika kami katakan, kita akan jalan terus, beliau berbalik arah kembali dan bersama-sama dengan rombongan kami. Mobil beliau lebih kokoh dan masih baru sehingga kalau terjadi apa-apa di jalan, mobil itu bisa menarik / menggandeng mobil lain yang lebih kecil.

Ketika kami sudah hampir mendekati kampung yang dituju, di km 22 ada jalan yang putus. Jembatan yang menghubungkan kedua sisi sudah lama tidak ada. Kendaraan umum dan mobil pribadi maupun motor harus menyeberang untuk sampai ke tempat tujuan. Ketika musim panas, hal itu tidak menjadi persoalan besar. Namun, saat ini ketika air rawa amat tinggi, air di bagian itu pun cukup tinggi dan arusnya deras. Kendaraan dan manusia dengan susah payah menyeberangi "sungai itu" ....syukurlah airnya hanya sebatas pinggang orang dewasa.

Pada waktu itu, di jalan yang putus itu, ada sebuah mobil milik dinas kehutanan yang terjebak di air dan tidak bisa keluar lagi. Mesinnya mati. Mobil itu berhasil ditarik sehingga tidak menghalangi perjalanan kendaraan lain yang akan lewat. Kini giliran mobil kami yang akan lewat di situ. Satu....dua...tiga.....mobil hartop kami berhasil menyeberang. Kami semua gembira. Kemudian truk ancang-ancang untuk menyeberang. Satu .....dua....tiga......."byuurrrr"......dan greggg.....truk tidak mampu naik dan bagian depan truk "duduk manis di sungai". Mesin tetap hidup. Syukurlah truk itu cukup tinggi, sehingga tidak kemasukan air. Kami berusaha untuk membantu truk tersebut agar segera keluar..... Mobil strada kami berusaha untuk menolong, dengan menariknya ke belakang tetapi truk yang malang itu..... tetap tidak bergerak. Dia terlalu berat.





Adri (sopir hardtop) mencoba menempatkan bongkah semen supaya truk bisa naik, tetapi gagal.
Bibir jembatan itu ternyata cukup tinggi dan tidak mungkin dinaiki truk.



Kami mencari bantuan mobil-mobil lain ke kota. Dengan menumpang mobil bapak Sekda, saya mencari bantuan di tempat-tempat terdekat.  Rekan-rekan kami, saya telepon dan mereka menyanggupi untuk menolong. Mobil mereka segera diluncurkan. Saya masih mencari bantuan untuk mendapatkan tali panjang agar bisa bersama-sama menarik truk itu keluar dari sungai. Ketika mobil bantuan sampai, ternyata ada juga mobil-mobil penumpang umum yang datang dan akan melewati jalan itu. Mereka bersama-sama menarik truk dan..... "akhirnya mereka berhasil mengeluarkan truk dari daerah sulit itu. Karena sopir-sopir itu sudah biasa lewat di sana, mereka dengan mudah dan lincah menyeberangkan mobil-mobil HILINE mereka ke seberang. Sungguh mengagumkan keberanian dan kelincahan mereka.

Ketika truk itu masih melintang di sungai, semua penumpang satu per satu "merayap sambil berpegangan di badan truk" supaya bisa sampai ke seberang. Maklum air sungai itu dalamnya sepinggang, dan arusnya deras. Kami berhasil menyeberang dengan aman dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dengan berjalan kaki. Karena mencari bantuan, saya termasuk rombongan terakhir yang sampai di tempat tujuan.

Begitu tiba di tempat tujuan, kami disambut oleh rombongan penerima tamu di pintu gerbang. Tiba-tiba hujan lebat turun. Upacara adat Marind, tetap dilanjutkan. Kami mendapat pengalungan bunga dalam guyuran hujan.



Mgr. Niko bersama bpk Daniel Pauta (Sekda) ketika mendapat pengalungan bunga.


Kami semua basah.... kemudian ada perarakan menuju ke gereja. Anak-anak juga turut menyambut kami ...dengan membawa lingkaran berbentuk perahu. Lingkaran dalam bentuk perahu itu merupakan lambang bahwa kami sedang naik perahu bersama Yesus menuju ke tempat yang dituju.

Upacara yang sedianya dilaksanakan jam 12, terpaksa mundur dan baru dilaksanakan jam 14.30.  Dalam keadaan agak basah, dan setelah persiapan-persiapan sudah selesai, upacara dilaksanakan. Umat semua bersukacita atas gereja baru dan atas berkat Tuhan yang mereka terima pada hari Kenaikan Tuhan. Umat dari desa-desa sekitar juga hadir untuk ikut bergembira. Gereja dengan daya tampung 300 orang itu tidak bisa memuat umat Allah yang ketika itu berjumlah sekitar 600 - 700 orang.

Dalam homili Mgr Niko menyampaikan bahwa Tuhan Yesus ketika diangkat ke Surga tetap memberkati umat-Nya. Dari tempat yang tinggi, Dia memberkati banyak orang, banyak bangsa. Dunia dan manusia diberkati, agar kita pun menjadi berkat bagi sesama. Dia pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Di rumah Tuhan, kita akan bertemu dengan semua orang kudus....maka pantaslah kita menyiapkan diri agar ketika tiba waktunya, kita juga akan masuk ke dalam rumah Tuhan.

Setelah resepsi selesai, rombongan kembali ke Merauke. Waktu itu sudah menunjukkan jam 17.30. Karena mendung-mendung keadaan jalan juga mulai gelap. Kami berjalan kaki sepanjang 3 km melewati lumpur-lumpur dan jalan-jalan licin. Ada 4 titik yang cukup parah. Di sanalah peran para pemandu dibutuhkan. Kami saling bergandengan tangan, agar tidak ada seorang pun yang jatuh di lumpur. Di tempat itu.....tiba-tiba saya terdorong untuk menyanyi:

Bergandengan tangan dalam kasih....dalam satu hati.... berjalan dalam terang kasih Tuhan......
Kau saudaraku....kau sahabatku....tiada yang dapat memisahkan kita.......

Dalam suasana dan situasi yang demikian riil ini, lagu itu sungguh menyentuh hati, berbobot, hidup dan sungguh amat terasakan "denyut dan spiritnya". Ketika dalam suasana dan situasi gembiara, syair-syair itu "terasa ringan dan tidak punya arti besar".  Persaudaraan dan "kesatuan dan kebersatuan dalam hidup dan dalam menghadapi kesulitan secara bersama-sama" sungguh-sungguh hadir dan ada. Saya membutuhkan saudara, saya hadir untuk saudara, dan saya bersama saudara. Saya dikuatkan, saya disemangati dan saya dibantu untuk mencapai tujuan dengan selamat. Sebaliknya juga, saya menyemangati, menguatkan dan membantu sesama / saudara saya untuk sampai ke tujuan dengan selamat.  Maka, rasa bahagia dan syukur atas kebersamaan itu menjadi "alasan mendasar untuk bergembira dan bersukacita secara tulus".

Jalan mulai gelap. Pengemudi sepeda motor kami minta menyalakan lampurnya di daerah-daerah becek dan berlubang. Kami berjalan pelan-pelan, melewati lumpur, kayu-kayu dan jalanan rusak. Kami mencari tanah-tanah yang agak keras, atau bekas-bekas kendaraan yang lewat supaya kami tidak masuk ke lumpur yang dalam. Sementara itu, lampu mobil hartop menyorot dari belakang sehingga kami berjalan dalam cahaya lampu mobil. Semuanya aman dan tidak ada yang jatuh di lumpur.

Kemudian, tibalah kami di jembatan / jalan yang putus. Kaum pria turun ke air, bergandengan tangan dan memberi aba-aba kepada kami, agar kami dapat menyeberang satu per satu melewati sungai yang deras airnya itu. Ketika berangkat ada truk yang terjebak air, sehingga kami dapat menyeberang dengan berpegangan pada badan truk. Ketika pulang truk itu sudah tidak di air lagi. Kaum muda itulah yang menolong kami. Rombongan manusia didahulukan, kemudian sepeda motor diseberangkan. Semuanya sukses.   Yang paling terakhir adalah mobil hartop. Dia bisa menyeberang dengan selamat, dan legalah kami.

Truk yang kami tumpangi tadi pagi ternyata mengalami gangguan mesin. Terpaksa untuk pulang truk itu harus digandeng. Mobil hartop bertugas untuk menggandeng truk sampai di tempat tujuan. Saya mengendarai mobil STRADA pick-up yang penuh penumpang. Meski ada gangguan teknis di mobil kami, kami tiba dengan selamat di Merauke. Semua bergembira dan pulang dengan damai.

Di dalam seluruh acara itu, Tuhan telah menyertai dan memberkati. Meskipun capek, dan diguyur hujan, makan terlambat, dan merayakan ekaristi dengan pakaian yang agak basah-basah, kami semua tetap sehat. Tidak ada seorang pun yang pusing-pusing atau sakit perut atau demam-demam. Itulah kebesaran dan kerahiman Tuhan bagi kami......Yesus naik ke Surga, namun tetap menyertai umat-Nya melalui Roh Kudus yang dicurahkan bagi umat manusia.

Sabtu, 19 Mei 2012

1.000 BIBIT JATI

TEPAT PADA HARI KENAIKAN TUHAN - 17 MEI - 1.000 bibit jati ( bija ) telah disemaikan di kebun di bagian belakang wisma keuskupan. Dengan bantuan 2 anak muda: Ferdi dan Ponsianus, 300 an bija itu telah selesai disemaikan, menyusul 700 bija yang telah lebih dulu disemai.  Persemaian itu berada di bawah pohon mangga, agar bija-bija itu tidak kena sinar matahari secara langsung.



Bija-bija itu dikirim dari Jakarta, sumbernya ada di Bogor. Bija-bija itu bukan berasal dari biji jati biasa tetapi dari kultur jaringan, bentuknya seperti akar ginseng, dan dalam beberapa hari sudah memunculkan tunas baru. Inilah langkah yang saya ambil untuk mempersiapkan masa depan keuskupan agar di kemudian hari makin mandiri secara finansial. Secara bertahap keuskupan akan menanam 10.000 pohon jati jenis unggul di luar kota Merauke.

Ada banyak manfaat yang diperoleh dengan menanam menanam pohon. Pertama, secara sederhana adalah  memanfaatkan lahan-lahan kosong. Pohon-pohon menambah keindahan, dan menyejukkan daerah sekitar itu. Kedua, menambah oksigen. Ketiga, kayunya setelah sekian tahun dapat untuk bahan bangunan, mebel, dan keperluan lainnya. Keempat, memberikan penghasilan yang lumayan bagi para pemiliknya. Kebutuhan kayu yang makin meningkat, mengundang orang juga untuk berpikir dan berusaha menanam pohon agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi. Keenam, ada juga pohon-pohon yang mendatangkan / menyimpan air, tetapi ada juga ada pohon-pohon yang membantu mengurangi air yang jumlahnya terlalu banyak di daerah rawa-rawan, seperti Merauke.

Pohon jati biasa sudah ada di Merauke. Tanaman ini dijumpai di beberapa tempat, namun belum dikembangkan. Tanah Merauke dan sekitarnya cocok untuk tanaman ini. Tanaman ini tumbuh di sela-sela kebun / di halaman penduduk, seperti tanaman biasa, padahal bila dikembangkan dan ditanam diperkebunan dalam jumlah besar, akan menghasilkan pendapatan yang cukup besar.

Manusia pada jaman moderen ini sudah bisa mengembangbiakan tanaman dan hewan dengan cara yang amat mengagumkan. Lewat kemajuan teknik dan pengetahuan, telah banyak ditemukan dan dihasilkan banyak alat dan tanaman, buah-buahan serta ternak yang dinikmati dan dipergunakan manusia. Penemuan dan produksi "bija" lewat kultur jaringan adalah bukti dari kemajuan ilmu dan teknologi itu. Juga kemajuan di bidang kedokteran berkat alat-alat moderen telah membantu dan menyembuhkan banyak penyakit. Dengan cara "kloning", manusia juga mampu memproduksi "jutaan mahluk hidup yang serupa" dan manusia pun mampu menentukan kapan makhluk itu akan dilahirkan.

Meski demikian, manusia tidak mampu "mengatur atau menguasai hidup" (tidak mampu menguasai nyawa). Manusia hanya bisa turut ambil bagian untuk menyempurnakan / meningkatkan kualitas hidup, tetapi bukan hidup itu sendiri. Mengapa demikian ?  Hidup ini ternyata adalah milik Sang Pemberi dan Pemilik Kehidupan. Yang menemukan ilmu dan kemajuan teknologi pun harus "menyerahkan nyawanya / hidupnya" ketika tiba waktunya, dan tidak satu manusia pun yang berkuasa mencegahnya.

Seorang rekan, melalui email telah mengirim kepada saya tentang beberapa hal bagus yang dapat kita pelajari dari pohon ( saya buat perubahan sedikit dari aslinya, agar lebih pas di blog ini ).

Tiga hal yang bisa kita pelajari dari pohon:

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.  Buah adalah hasil dari pohon.  Dari mana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah.   Semakin dalam akarnya makin banyak nutrisi yang diserap.

Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.

2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang.

Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain, atau merasa di hargai murah.
Inilah prinsip memberi, dan keikhlasan. Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah, ibarat distributor.. kita hanya menyalurkan ke agen-agennya, analoginya barang atau buah yang diberi Allah itu bukan sepenuhnya milik kita.  Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan.  Jadi bukan untuk kenikmatan sendiri.  Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.

3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.  Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain. Hidup itu bukan masalah posisi/ jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.



Marilah kita bersyukur atas kemajuan ilmu dan teknologi, sambil tetap rendah hati dan takut akan Dia yang memiliki hidup ini. Menurut iman yang saya anut, Yesus bersabda: " Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan". Ini berarti di dalam Dia, ada kehidupan yang sesungguhnya dirindukan oleh manusia. Saya mengimaninya, agar saya dituntun oleh ajaran-Nya dan akhirnya dapat mengalami hidup bahagia di dunia ini, dan kelak di dalam kesempurnaan bersama dengan Dia.

BOHA DAN KINDIKI

BOHA adalah nama sebuah stasi / kampung yang dapat dijangkau dengan speedboat selama 2 jam dari Muting bila musim kering, dan saat ini dapat ditempuh selama 1 jam karena kami dapat melalui jalan pintas. Saat ini air di rawa-rawa sedang penuh, sehingga speed boat dapat berjalan di atas rumput-rumput rawa.... Boha sebuah kampung kecil yang penduduknya kira-kira 250 jiwa. Mereka sedang menyelesaikan pembangunan gereja dengan dana bantuan pemerintah sebesar Rp. 200 juta.

Bp. Frits, Sr. Wilfrida, Sr. Godeliva, Mgr. Niko, Sr. Mariana, P. Pius  dalam perjalanan di rawa-rawa hulu sungai Bian - Muting - Merauke.



Ke tempat inilah kunjungan pertama kami laksanakan. Kami disambut dengan sukacita oleh umat Allah. Baik tua muda, besar kecil, hingga anak-anak yang masih digendong ibunya juga ikut dalam penjemputan itu. Rupanya mereka telah rindu menerima kunjungan itu, karena mereka telah menerima informasi bahwa rombongan kami akan tiba di sana tanggal 10 Mei, ternyata kami baru muncul tanggal 12 Mei. Meski demikian, tokh kegembiraan mereka tetap terpancar di wajah-wajah yang penuh dengan persahabatan.

Sejak dari pelabuhan kami disambut dengan tarian adat. Kami diterima dengan cara yang khas yaitu "ditanyai mengapa terlambat datang ? dengan digertak...seakan-akan kami akan dipukul". Ternyata maksudnya adalah "meski kami sudah menunggu 2 hari, capek dan cemas, kami luapkan kegembiraan kami dengan luapan-luapan emosi yang membara....namun kami tidak marah". Kami sambut anda sekalian dengan sukacita. Hal ini dibuktikan bahwa kampung itu penuh dengan kedamaian. Kami berjalan di atas "permadani lokal" yaitu daun-daun kelapa yang mereka tebarkan di sepanjang jalan menuju ke gereja.

Di gedung gereja itulah terjadi pertemuan dari hati ke hati. Mereka menyampaikan kerinduan dan kegembiaraan mereka menerima kunjungan bapak uskup dan pastor paroki serta 3 suster dari Medan. Mereka berharap bahwa suster akan membuka komunitas di Muting dan dapat ambil bagian untuk melayani mereka, terlebih di bidang pendidikan dan kesehatan. Mereka mengungkapkan bahwa di desa mereka sudah ada bagungan Puskesmas Pembantu, namun hingga hari itu belum ada seorang tenaga kesehatan pun yang tinggal di rumah itu. Mereka rindu mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai agar dapat hidup sehat karena pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan dari para petugas kesehatan.

Bapa Kepala Desa menghaturkan banyak terima kasih kepada warga masyarakat yang telah menyambut para tamu dengan meriah, secara spontan dan penuh keakraban. Pastor Pius Oetmatan juga mengungkapkan kegembiraan dan kebanggaan kepada para suster yang telah rela datang dari jauh untuk melihat dari dekat kehidupan umat dan masyarakat di wilayah itu. Beliau berharap kehadiran para suster akan menjadi berkat bagi umat, dan sekaligus akan memberikan gambaran atas realitas kebutuhan umat akan tenaga para biarawati.

Kunjungan dilanjutkan ke Kampung Kindiki. Perjalanan ditempuh selama 1 jam dan 20 menit dari kampung Boha karena melalui jalan-jalan pintas. Biasanya perjalanan pada musim panas ke kampung ini ditempuh selama 2 jam 25 menit.

Umat di Kampung Kindiki juga jumlahnya sekitar 250 jiwa. Kampung ini dikenal sebagai penghasil kayu gaharu. Ada warga masyarakat yang telah membeli sebuah sepeda motor bebek seharga Rp 18 juta dari hasil mencari kayu gaharu. Mereka juga sedang menyelesaikan pembangunan gereja dengan dana bantuan pemerintah sebesar Rp. 200 juta.

Mereka sudah siap di gereja sejak pagi, namun karena kedatangan kami agak terlambat mereka pulang dulu untuk makan siang. Ketika kami sudah ada di gereja, mereka datang kembali dan bertatap muka dengan kami. Salah seorang umat mengungkapkan kegembiraan mereka atas kunjungan ini, dan berharap agar para suster dapat hadir di Muting, dalam rangka membantu memperdalam iman anak-anak mereka. Bapak Kepala Desa juga amat bergembira atas kedatangan uskup dan para suster ke kampung mereka. Beliau mengatakan bahwa sudah sejak awal masuknya agama katolik di Muting tidak pernah ada komunitas suster. Dengan melihat sendiri keadaan dan kerinduan umat, beliau berharap para suster akan rela untuk ambil bagian dalam pelayanan di paroki Muting.

Atas harapan itu, para suster menyampaikan terima kasih atas penerimaan dan permintaan umat. Beliau juga amat kagum atas apa yang beliau lihat dan beliau alami. Ternyata di desa-desa yang terpencil itu pun telah terjadi perkembangan dan pembangunan yanbg luar biasa pesat. Sr Wilfrida sebagai Pemimpin Umum yang atas nama Tarekat mengadakan kunjungan kerja ini, mengungkapkan "Saya tidak menyangka bahwa anda telah seperti ini. Sebelum saya datang, saya membayangkan keadaan umat di sini amat tertinggal dan menyedihkan, ternyata banyak hal yang moderen terjadi dan amat mengagumkan. Kita bisa berkomunikasi dengan lancar. Bahkan alat-alat dan makanan yang disediakan juga tidak kalah dengan makanan yang ada di kota. Saya akan menyampaikan pengalaman ini kepada para suster di Medan, dan saya yakin mereka akan mendukung pelayanan di Keuskupan Agung Merauke. Dengan kunjungan ini, kami yakin bahwa kami sungguh dibutuhkan dan kami tergerak hati untuk turut ambil bagian dalam pelayanan di keuskupan ini".

Setelah dialog dari hati ke hati, kami makan siang bersama. Kami mendapat hidangan masakan babi rica-rica, sayur daun pepaya dan kangkung yang enak. Semuanya itu dihidangkan di piring porselen yang bagus dan besar. Saya pribadi tidak menyangka bahwa umat Kindiki yang sederhana itu ternyata "memberikan yang terbaik dan amat membanggakan hati". Mereka luar biasa dan benar-benar murah hati.


Boha dan Kindiki adalah "perwakilan umat" di wilayah hulu sungai Bian, sungai kedua terbesar di wilayah selatan pulau Papua. Mereka amat rindu mendapat santapan rohani berupa kunjungan, pertemuan dan dialog dari hati ke hati. Di hati manusia itulah tersimpan banyak mutiara yang indah. Di hati manusia itu pulalah Tuhan berkenan menempatkan hukum cinta kasih-Nya. Di hati manusia itu juga Tuhan berkenan berdiam, untuk berkomunikasi dengan manusia setiap waktu. Maka, dialog dari hati ke hati sebenarnya merupakan dialog penuh damai yang didambakan oleh setiap insan di atas muka bumi ini.

KUNJUNGAN 3 SUSTER TAREKAT FSE

PEMBACA SETIA BLOG INI

SYALOOM......

Setelah absen beberapa waktu, saya mengunjungi anda kembali. Kali ini saya hendak menyajikan peristiwa kunjungan 3 orang suster dari Tarekat Fransiskanes St. Elisabeth - yang berpusat di Medan. Ketiga suster kita itu bernama Sr. Wilfrida Simbolon FSE, Sr. Mariana Sitepu FSE dan Sr. Godelive Simbolon FSE. Mereka mengadakan kunjungan di Keuskupan Agung Merauke tanggal 10 - 15 Mei 2012.

Tanggal 10 Mei 2012 pagi dengan menumpang pesawat Merpati, mereka tiba di Merauke, setelah sebelumnya terbang panjang jam , selama 8 jam. Mereka berangkat tanggal 19 Mei 18.00 dari Medan... Karena itu, setelah menikmati hidangan ala kadarnya di wisma uskup Merauke, mereka istirahat. Istirahat adalah bagian penting dari kehidupan yang patut juga diperhatikan, agar kondisi kesehatan dan kelancaran pekerjaan dapat lebih terjamin.

Sore hari setelah beristirahat, mereka menikmati aneka tanaman di kebun keuskupan. Di sana ada sayur-sayuran, seperti bayam, kangkung, sawi, cabe rawit, terong dll. Ada juga pohon pepaya, mangga, jambu merah, kelapa dan matoa. Di salah satu sudut yang lain, ada juga persemaian tanaman rambutan, durian, jeruk sunkis, pepaya dan karet. Sebagian sudah mulai tumbuh / bertunas.  Di halaman yang cukup luas itu tumbuh pelbagai tanaman dan sayuran. Selain menambah sukacita, tumbuhan itu juga amat berguna bagi kesehatan karena menggunakan pupuk organik.

Setelah makan mala, kami berdiskusi tentang rencana perjalanan ke beberapa tempat yang hendak dikunjungi. Tujuan utama adalah ke Muting, sebuah pusat kecamatan yang letaknya 280 km di sebelah timur laut Merauke. Jalanan saat ini cukup baik, sehingga jarak yang demikian itu dapat ditempuh dalam waktu 5 - 6 jam. Kami singgah di Erambu ( 145 km dari Merauke ) dan Bupul  ( 220 km dari Merauke ).  Di Erambu kami bertemu dengan pastor John  yang sedang merehab gedung gereja. Tukang-tukang lokal mampu menangani sendiri pekerjaan rehab itu. Di Bupul pastor Lukas, sedang sendirian di pastoran. Kami serahkan barang-barang milik paroki Bupul, dan kemudian kami makan siang bersama di susteran PBHK Bupul.

Singgah di dua tempat itu juga merupakan kebutuhan bagi kaki untuk "meluruskan kaki" setelah 2 jam lebih duduk di mobil non ac. Singgah juga merupakan pertemuan meski hanya sejenak untuk "melihat, mengenal dan bertemu dengan sahabat kenalan di tempat tertentu. Kehadiran sementara pun dapat merupakan tanda perhatian dan simpati, serta  dukungan moril bagi orang yang dijunjungi. Ternyata, singgah juga merupakan saat untuk "mendapat kesegaran" setelah "jenuh / monoton di jalan" tetapi juga kegembiraan ketika melihat wajah-wajah yang penuh sukacita waktu bertemu dengan kami. Singgah ternyata juga merupakan berkat.... kami memberkati dan kami pun diberkati. Ketika peristiwa itu terjadi, yang dialami adalah damai, kegembiraan dan kelegaan.

Kemudian perjalanan di lanjutkan ke Muting. Ketika kami sudah hampir memasuki desa simpati, ada mobil suzuki yang terjebak di lumpur. Sudah beberapa waktu mereka berusaha untuk keluar dari jebakan lumpur itu namun tidak berhasil. Mobil kami membantu mengeluarkan mobil tersebut dengan menggandengnya dengan tali baja dan menarik mundur - ke belakang. Dalam hitungan menit, mobil itu sudah bebas, lalu ancang-ancang lagi, menerobos lumpur dan berhasil.....dia dapat melanjutkan perjalanan. Mobil kami tidak mengalami kesulitan ketika melewati lumpur itu, karena mobil kami lebih tinggi dan dobel gardan.

Kami tiba di Muting jam 17.15 setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 6 jam. Kami disambut oleh pastor Pius yang memang sudah sejak siang hari menanti kedatangan kami. Kami mengalami berkat Tuhan yang luar biasa, karena meskipun cuaca kurang bersahabat namun kami tidak kehujanan di jalan. Perjalanan amat lancar dan kami bahkan bisa menolong kendaraan lain yang membutuhkan bantuan. Sementara itu, di kedua tempat yang telah kami kunjungi diiguyur hujan lebat sejak kami meninggalkan mereka, hingga sepanjang malam. Mereka menyangka kami kehujanan di jalan dan mendapatkan kesulitan ketika menyebarang di salah satu jembatan Sungai Kumbe yang sering kali tergenang air. Ketika kami melewati jembatan itu, semuanya kering dan aman.

Di pastoran pun, makan malam sudah disiapkan oleh pastor Pius. Ikan nila yang beratnya 2 kg, ikan kakap rawa, dan ikan mujahir besar sudah dibakar dan terhidang untuk kami. Ikan-ikan itu ditangkap di sungai, gemuk-gemuk dan segar. Ikan-ikan itu tidak pernah diberi makan oleh tangan-tangan manusia, tetapi bisa besar dan gemuk. Mereka punya makanan cukup di sungai dan di rawa.... makanan mereka disediakan oleh Sang Pencipta.....secara berlimpah-limpah. Manusia tinggal panen, tanpa harus bersusah payah memelihara mereka. Mereka siap untuk disantap ketika sudah tiba waktunya....

Syukur Tuhan atas berkat-Mu bagi kami....yang kami terima sepanjang hari perjalanan kami hari itu. Terima kasih saudara dan saudariku yang telah memungkinkan kami mengadakan perjalanan selama 6 jam dari Merauke sampai ke Muting. Terima kasih pula saya sampaikan kepada anda sekalian yang telah mendoakan kami. Berkat Tuhan untuk anda sekalian. Amin.

Jumat, 11 Mei 2012

LOVE OF GOD

PEMBACA SETIA BLOG INI....

Syaloom.....

Saya ucapkan selamat pagi, kepada anda yang membaca blog ini pagi hari, dan kepada anda yang membuka dan menikmatinya pada malam hari, saya ucapkan selamat malam. Dan bila anda membaca tulisan ini pada siang hari, saya ucapkan selamat bersantai...... setelah anda bekerja sejak pagi. Semoga anda mengalami kebaikan Tuhan melalui tulisan ini.

Saya mengawalinya dengan sebuah ungkapan kekaguman pemazmur kepada Allah: "Tuhan Allah kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu luhur mengatasi langit. Bila kupandang langit-Mu, karya jari-Mu. Bulan dan bintang yang Kauciptakan, siapakah manusia sehingga Engkau perhatikan. Siapakah dia sehingga Engkau pelihara. Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah. .....Tuhan, Allah kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi".

Di dalam Buku Kejadian, dinyatakan dengan jelas "Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita.......supaya ia berkuasa atas ikan-ikan, atas burung-burung...." ( Kej 1:26).   Manusia diciptakan amat dekat dan serupa dengan Sang Pencipta, bukan karena Dia berkekurangan, ingin mencari hiburan karena kesepian, tetapi karena kemahakuasaan-Nya dan kerahiman-Nya yang tak terselami. Itulah sebabnya manusia mempunyai martabat yang tidak dapat direbut oleh siapa pun, karena martabat itu diberikan oleh Allah. Martabat ini melekat pada pribadi manusia, meskipun / sejak dia masih berada di dalam kandungan ibu.

Salah satu anugerah besar yang diberikan Allah adalah akal budi. Melalui akal budi inilah manusia dapat membantu sesamanya untuk mengenal dan meneliti sesuatu dan dunia ini agar mereka makin hidup bahagia dan sejahtera. Inilah hasil akal budi manusia..... Marilah kita simak hikmahnya...... luar biasa hasil olahan akal budi manusia ini, bila kita renungkan:

Bagaimana bila ingin mencapai 101%?      Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah ini dapat membantu memberi jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNO PQRSTUVWXYZ
Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + 15 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G -E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita.
Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.

Tapi,
LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

Setelah merenungkan semuanya itu, tidak ada kata lain yang dapat kita sampaikan kepada-Nya, selain syukur dan terima kasih. Ungkapan syukur yang terindah adalah hidup damai dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan Tuhan melalui perbuatan-perbuatan baik setiap hari.

Selasa, 08 Mei 2012

LUAR BIASA KASIH-NYA

Cuaca hari minggu pagi, 6 Mei 2012, tidak begitu cerah. Di sepanjang perjalanan dari Merauke menuju ke Kumbe ( 30 km ) tampak beberapa ruas jalan yang masih basah karena hujan semalam. Kami bertiga dengan penuh damai dan kepercayaan, menumpang mobil pick-up dobel gardan, meluncur menuju ke Kumbe. Kami yakin bahwa kami bisa melewati jalan berlumpur yang terletak di km 15.  Setelah perjalanan kira-kira 10 menit, kami mulai memanjatkan doa pagi.

Kini kami memasuki daerah yang berlumpur. Saya mengendari mobil itu, dan mencari jalan yang kiranya cukup keras untuk dilalui oleh mobil kami. Baru beberapa meter mobil memasuki jalan yang berlumpur, ternyata sudah tidak bisa bergerak lagi. Mobil tidak bisa maju,  pun tidak bisa mundur. Lumpur terlalu tebal, lubang terlalu dalam, dan as / gardan sudah kena tanah. Maklum, mobil agak rendah. Setelah berusaha untuk maju / mundur tidak bisa, akhirnya via hp kami meminta bantuan.

Sudah puluhan nomor kami hubungi, no bisa tersambung, namun tidak ada jawaban. Mengapa ? Waktu itu, hampir jam 7 pagi. Mereka semua sedang mengikuti ibadah / misa pagi. Sementara itu, saya harus sampai di paroki yang dituju jam 8 pagi, untuk misa di sana. Di dalam suasana dan keadaan yang serba terbatas itu, tiba-tiba ada rekan yang memanggil via telpon. Dia menanyakan keadaan saya dan minta bantuan apa. Saya katakan, saya minta tolong untuk kirim mobil supaya bisa menarik keluar dari lumpur mobil yang saya tumpangi itu. Ketika dijawab dia akan mengurus mobil, hati saya sudah lega.

Syukur pula, pada saat itu, ada seorang pemuda yang naik sepeda motor dan akan menuju ke Kumbe. Saya minta tolong dia agar saya diperbolehkan untuk menumpang. Dengan rela, dia menolong saya. Dia mengantar saya sampai ke pelabuhan Kumbe. Kemudian saya menyeberang naik perahu. Syukur pula, ketika tiba di pelabuhan, sudah ada perahu yang siap mengantar saya, dan saya tidak perlu membayar. Mereka adalah umat paroki Kumbe. Sesudah itu, saya jalan kaki, dan tiba di paroki dengan selamat. 

Misa terlambat kira-kira 20 menit. Saya sampaikan informasi dan sekaligus mohon maaf kepada umat atas keterlambatan saya. Juga saya sampaikan informasi mengapa tiba-tiba pastor paroki tidak berada di tempat. Pastor paroki diminta untuk mengikuti seminar Kitab Suci di Jakarta, karena ada undangan tiba-tiba via telpon. Beliau mewakili keuskupan sebagai peserta. Setelah penjelasan itu, upacara berlangsung seperti biasa. Umat dengan penuh khidmat merayakan ekaristi. Di dalam perayaan itu, juga dilaksanakan upacara permandian seorang bayi yang baru berusia 4 bulan. Kedua orangtua anak itu, amat bergembira, karena yang melaksanakan pembaptisan itu adalah bapak uskup.

Setelah semuanya selesai, saya kembali ke Merauke. Saya membonceng sepeda motor. Bapak Mikael Reku yang mengendarai sepeda motor. Di sepanjang perjalanan pulang, hujan gerimis turun. Sebentar-sebentar berhanti dan turun lagi. Keadaan ini memang menghambat perjalanan. Kami sempat berteduh di emperan di beberapa rumah umat. Ketika hujan agak mereda, kami melanjutkan perjalanan. Dan sampailah kami di tempat yang penuh lumpur.

Ternyata, rekan kami yang berencana untuk menjemput saya di Kumbe dengan mobil, terjebak di lumpur-lumpur itu. Karena jalanan agak ramai oleh lalu linta sepeda motor, kami pun harus turun di jalan yang penuh lumpur itu. Apa yang terjadi, kedua kaki saya plus sepatu yang saya pakai, masuk ke lumpur sampai selutut. Ada pikiran, lebih baik sepatu itu saya tinggalkan saja di lumpur-lumpur, tetapi kemudian, pikiran dan niat itu saya batalkan. Saya gali dan saya ambil sepatu yang sudah terbenam di lumpur..... satu sudah saya dapatkan, dan kemudian yang kedua pun berhasil saya keluarkan dari lumpur. Wujudnya.......tidak jelas. Sepatu saya bagaikan "ikan gabus besar yang penuh lumpur".  Tangan saya pun penuh lumpur.... dan saya bersihkan dengan air yang tergenang jalan-jalan itu.

Setelah menyapa rekan yang masih terjebak di lumpur, saya melanjutkan perjalanan ke Merauke dan meminta bantuan agar ada utusan untuk menolong mereka. Kami berhasil melewati jeblokan-jeblokan besar dan terbebaskan dari jalan yang penuh lumpur itu. Di sepanjang perjalanan itu, kami diguyur hujan. Saya tidak membawa jas hujan, dan baju sudah mulai basah. Kepala dan badan pun mulai basah. Yang paling tidak mengenakkan adalah tetesan air hujan yang jatuh dari depan amat menggangu mata.

Air hujan yang membasahi wajah saya, saya usap / saya bersihkan dengan tangan yang ada lumpurnya. Juga tangan saya tadi saya cuci pakai air kotor di jalanan. Makin deras air hujan, makin banyak juga air yang membasahi wajah saya. Itu berarti berkali-kali wajah saya, saya bersihkan pakai tangan yang kotor. Saya pikir-pikir, daripada mata saya sakit, dan wajah saya basah, lebih baik baju luar saya lepaskan untuk melindungi mata. Tokh saya masih pakai baju kaos oblong. Akhirnya saya putuskan untuk mencopot baju luar, saya pergunakan baju untuk untuk menutup kepala dan melindungi mata. Dalam perjalanan sepanjang 6 km menuju Merauke, saya aman dari tetesan air hujan yang mengganggu mata, meski pun hampir seluruh badan ini basah.

Begitu sampai di rumah, saya menolong rekan seperjalanan yang semua bajunya basah. Saya berikan kepadanya baju ganti lengkap (luar dalam). Lalu, dia dan saya sibuk untuk membersihkan diri. Dengan sukacita, kami makan siang bersama. Setelah itu, dia pamit pulang, saya bekali dia juga dengan jaket agar bila kehujanan di jalan, masih ada pelindung dan penghangat. Terima kasih banyak bapak Mik Reku atas jasa baik, dan telah mengantar saya kembali ke Merauke.

Yang luar biasa adalah sampai hari ini saya tidak sakit akibat guyuran air hujan. Wajah saya tidak mengalami gatal-gatal meski diusap oleh tangan yang kotor (lumpur dan air jalanan). Saya tidak mengalami susah atau gangguan nafas, tidak pilek atau pun batuk. Saya sehat walafiat.....bahkan lebih segar dari biasanya. Syukur kepada Allah yang telah melindungi saya. Luar biasa kasih-Nya.......

BERDAMAI

PARA PEMBACA SETIA BLOG INI

SYALOOM.....

Sudah beberapa waktu saya tidak mengunjungi anda. Rasanya ada rasa kangen juga. Saya harap anda saat ini dalam suasana gembira dan semoga tulisan ini juga menambah kegembiraan anda. Kali ini, saya ingin bercerita kepada anda apa yang saya alami sekitar 3 hari yang lalu. Saya membaca kutipan Kitab Suci: "Damai Sejahtera Kutinggalkan bagiku. Damai sejahtera-Ku Ku-berikan kepadamu" (Yohanes 14: 27).  Mengherankan.......yang ditinggalkan Yesus bukan tahta, bukan harta, atau pangkat atau pun kedudukan, tetapi damai sejahtera.  Dia tahu, dan kita pun mengalami bahwa biarpun ada banyak harta, punya tahta dan pangkat, namun hidupnya tidak damai, tidak sejahtera.....semuanya itu percuma.

Ternyata, pengalaman pada jaman Yesus tetap berlaku pada orang-orang yang hidup pada jaman moderen ini. Berdamai  baik dengan diri sendiri ( dan ini memang paling utama, sekaligus paling sulit ) dan dengan sesama dan Tuhan, amat dibutuhkan. Pengalaman istimewa ini muncul juga dari seorang tokoh nasional yang belum lama ini meninggalkan kita semua. Beliau adalah ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, mantan mentri kesehatan RI.  Sebagai seorang manusia, meski pun beliau adalah seorang dokter, "perjuangan untuk mengalahkan ketakutan dan kecemasan, adalah bagian dari kehidupan. Namun, apa yang beliau tinggalkan bagi kita ?   Inilah hikmat yang patut kita simak:

Penggalan kata sambutan Menteri Kesehatan RI dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH bertanggal 13 April 2011, yang ditulisnya menyambut penerbitan buku " Berdamai dengan Kanker".  ".           
 
" Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapis saya tidak bertanya "Why me ??". Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini : hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putera dan 1 puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. " So .... Why not? " Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kenker paru ? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerahNya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan .... jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.

Saya teringat pepatah lama yang berbunyi: "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama".   Nama baik, tentunya yang ditinggalkan. Nama ini dikenang karena kebaikannya, keluhuran budi pekertinya, dan keunggulan teladan kehidupannya.  Manusia-manusia yang demikian ini, sebenarnya "menghadirkan keluhuran Allah yang mau mengerti manusia dan kehidupan mahluk ciptaan-Nya". Maka, ketika manusia melihat dan mengalami kebaikan dalam kehidupan mereka melalui sesamanya, orang itu sebenarnya telah mengalami kebaikan Allah sendiri".