Jumat, 12 Januari 2018

31 DESEMBER 2017

PEMBACA YANG BUDIMAN
SALAM DAN SELAMAT TAHUN BARU

Inilah tulisan pertama saya, pada tahun ini sekaligus sebagai sapaan untuk para pembaca setia. Tidak lupa saya juga mohon maaf, bahwa anda sering menunggu cerita atau informasi baru atau renungan singkat di blog ini, begitu lama.  Tahun 2017, saya hanya bisa menyuguhkan 26 tulisan, moga-moga tahun 2018 ini, akan ada lebih banyak tulisan untuk ada.  Selamat membaca dan semoga anda menemukan mutiara rohani di dalamnya.

Tanggal 31 Desember 2017, jatuh tepat pada hari minggu. Saya mendapat giliran untuk memimpin misa pada sore hari. Sebelum misa dimulai, dibacakan ujud-ujud yang diminta oleh umat Allah. Ujudnya amat banyak sehingga dibacakan 15 menit sebelumnya.  Ujud pada sore itu tidak seperti pada hari-hari minggu yang lain. Ujud-ujud doa sungguh sangat banyak dan membutuhkan banyak waktu sekitar 30 menit untuk membacakannya.

Ujud-ujud doa merupakan tanda bahwa mereka yang hidup dan mereka yang didoakan tetap mempunyai relasi yang baik dan dekat. Mereka yang didoakan ada yang masih hidup, yang sakit dan lanjut usia, tetapi juga yang sudah meninggal. Bahkan ujud doa bagi arwah para beriman jauh lebih banyak daripada ujud-ujud yang lain.  Pada akhir tahun, mereka yang telah meninggal juga tidak dilupakan.  

Ketika misa akan dimulai, umat yang hadir baru setengah dari kapasitas tempat duduk yang ada di dalam gereja. Padahal hari minggu adalah hari libur, dan misa dilaksanakan pada jam 6 sore. Maka, sebetulnya tidak ada alasan bahwa di rumah atau di kantor ada kegiatan yang menyita waktu mereka, sehingga tidak hadir atau terlambat datang untuk ikut ibadah.  Ketika lagu pembukaan dinyanyikan, umat yang ada di dalam gereja sudah memenuhi tempat duduk. Kapasitas tempat duduk di dalam gereja cukup besar, dapat diduduki 900 orang.

Ternyata kursi-kursi di sayap kiri dan kanan gereja, serta kursi-kursi yang di bawah tenda-tenda juga dipenuhi umat beriman. Di luar gereja 2.000 kursi disediakan panitia. Hampir semuanya ditempati. Diperkirakan umat yang hadir lebih dari 2.000 orang. Padahal pada hari minggu biasa, jumlah umat yang mengikuti misa pada minggu sore, hanya sekitar 600 – 700 orang. Itu berarti, misa pada tanggal 31 Desember 2017 mempunyai makna khusus.

Ada banyak umat yang hadir untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas segala rahmat, karunia dan perlindungan yang diberikan-Nya selama 1 tahun. Mengucap syukur ( terima kasih ) adalah suatu tindakan yang mencerminkan keutamaan pribadi orang. Ia menghargai, mengingat, dan menunjukkan rasa hormat kepada yang memberi.  Di sisi lain, ucapan syukur (terima kasih) merupakan tanda sukacita yang ada di dalam dirinya.  Keadaan batin yang penuh sukacita akan membuat hidup ini indah dan membahagiakan, meski di sana sini ada kesulitan dan tantangan.

Ujud-ujud yang panjang juga merupakan tanda bahwa mereka yang didoakan adalah bagian dari keluarga atau bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Mereka baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, yang tinggal di tempat yang jauh, yang sakit, dan para lansia tetap merupakan anggota keluarga. Ujud-ujud yang didoakan juga merupakan ungkapan keimanan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus akan dikumpulkan di dalam kerajaan surga.

Pada umumnya umat beriman, pada saat akan pergantian tahun ( tanggal 31 Desember  jam 23.50  tahun yang lama sampai jam 00.05 tahun yang baru )  berkumpul dan berdoa bersama di rumah masing-masing. Mereka mengucap syukur atas tahun yang lama dan mohon berkat atas tahun yang baru. Mereka bersukacita dan berpesta sambil menikmati hidangan tahun baru.  Ada banyak juga yang menyulut kembang api.  Mereka bergembira sampai larut malam, bahkan ada yang sampai pagi. Itulah sebabnya, mereka yang hadir pada misa tutup tahun 2017 amat banyak, sedangkan yang hadir pada misa tanggal 1 Januari 2018 pembukaan tahun baru amat sedikit.  

Ucapan syukur atas tahun 2017 dan mohon berkat untuk tahun baru 2018, telah mereka laksanakan pada sore hari, tanggal 31 Desember 2017.  Mereka menikmati kemurahan dan kebaikan Tuhan sepanjang malam hingga dini hari, bersamaan dengan tebaran kembang api di udara pada malam pergantian tahun. 

Malam pergantian tahun yang biasanya disebut “malam lepas sambut” (melepaskan tahun yang lama dan menyambut tahun yang baru) pada umumnya membawa sukacita, bahkan sampai pagi. Pada tanggal 1 Januari pun ketika bertemu sahabat dan kenalan, orang-orang tergugah untuk salin g memberikan salam dan mendoakan sesamanya untuk hidup dalam kegembiraan dan berkat Tuhan. Saya pun melepas tahun lama 2017, dan menyambut tahun baru 2018 dengan hati lega.

Satu tahun telah saya lewati dengan gembira dan penuh syukur, karena saya mengalami berkat dan perlindungan-Nya yang tidak kunjung putus. Banyak yang telah diberikan Tuhan kepada melalui orang-orang yang ada di sekitar saya, juga melalui orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Berkat itu mengalir terus-menerus dan mengagumkan. Kebesaran-Nya dan kasih-Nya sungguh luar biasa, dan tidak terduga sesuai dengan rencana-Nya.

Sabtu, 30 Desember 2017

IKAN MUJAHIR

Cerita ringan untuk pembaca yang budiman..... 

Menjelang kedatangan tamu-tamu dari Merauke, tuan rumah menyiapkan tempat penginapan, air minum dan kebutuhan lainnya, agar para tamu dapat menikmati hidangan yang telah disajikan. Meskipun yang mengurus rumah dan mempersiapkan kebutuhan makan minum adalah kaum bapa, menu yang disajikan sungguh amat memadai, bahkan bisa dikatakan mengagumkan. Makanan yang dihidangkan itu komplit.

Air minum yang tersedia adalah air sumur yang telah difilter.  Air sumur itu memang tawar rasanya. Alat filter itu adalah alat peninggalan dari misionaris sebelumnya. Di dalam alat itu ada batu putih yang berfungsi untuk menetralkan mineral-mineral air. Ada membran-membran lain juga di alat itu, sehingga ketika difilter menjadi air itu sudah layak untuk diminum.  Alat itu tidak membutuhkan aliran listrik untuk memproses air sumur untuk menjadi air layak minum.  Maka, alat filter seperti ini amat cocok untuk masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang belum ada aliran listrik.

Ketika makan malam, kepada kami disuguhkan ikan mujahir 4 ekor yang besar-besar.  Dari mana datangnya  ikan-ikan itu ?  Dua orang bapak dan seorang frater 2 hari sebelumnya pergi mencari ikan di rawa.  Ternyata mereka tidak mencari ikan, tetapi mengambil ikan. Mengapa demikian ?  Ikan-ikan itu ada di kolam-kolam kecil yang airnya hanya setinggi betis. Ikan-ikan itu terjebak di sana, dan tidak bisa pindah ke tempat lain karena di tempat-tempat lain sudah mulai surut airnya. Bahkan ada banyak ikan yang dalam posisi “tidur-tiduran di air” karena air di rawa itu sudah tipis. Mereka memiringkan badannya, sehingga tetap berada di dalam air. Dalam situasi yang demikian ini, para bapak tadi tinggal memungut saja ikan-ikan itu dan memasukkannya ke dalam karung plastik.



Sedangkan ikan-ikan yang masih di air setinggi betis, mereka tikam dengan menggunakan “kaluwai” (tombak yang ujungnya bergerigi atau dibuat seperti pancing). Ikan yang tertikam tidak bisa lari / tidak lepas lagi. Dalam waktu beberapa menit, mereka telah memperolah ikan 3 karung. Satu karung kira-kira isinya 25 ekor. Ikan yang mereka tikam adalah ikan mujahir. 1 ekor beratnya bisa lebih dari 1,5 kg - 2 kg. Sebetulnya mereka ingin membawa pulang lebih banyak, namun kekuatan mereka juga terbatas, sehingga mereka mengambil secukupnya.

Ikan-ikan itu hidup secara liar di alam bebas, di rawa-rawa maupun di sungai-sungai yang airnya tawar atau payau. Jumlahnya luar biasa banyak. Apalagi bila mulai musim panas, dan air di rawa atau di sungai-sungai kecil sudah surut. Mereka dengan mudah mendapatkan ikan-ikan itu. Ada yang beratnya 5 kg per ekor.  Memang kekayaan alam, dalam hal ini, pelbagai macam ikan di Papua sungguh luar biasa. Tuhan menyediakan kebutuhan makan dan gizi bagi masyarakat secara berlimpah-limpah.

KELAPA MUDA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Inilah cerita saya selanjutnya...... 

Ketika saya tiba di pastoran Okaba, rasa haus sungguh-sungguh terasa. Okaba letaknya di pinggir pantai. Itulah sebabnya, saya ingat bahwa di sekitar pastoran ada begitu banyak pohon kelapa. Untuk menghilangkan rasa haus, saya meminta tuan rumah untuk mencarikan kelapa muda. Dua orang anak muda, diminta untuk mencari kelapa muda. Tidak lama kemudian datanglah 5 buah kelapa yang masih muda.

Saya mendapatkan giliran yang pertama untuk mencicipi air kelapa itu. Manis bukan main rasanya. Buahnya juga cukup besar, sehingga diperkirakan air kelapa itu kalau ditampung banyaknya 1 liter. Daging buahnya juga cukup tebal. Bila dibuat es kelapa muda, plus sirup, 1 buah kelapa itu bisa untuk 3 orang. Di kota Merauke, 1 gelas es kelapa muda harganya Rp. 20.000 ,-  Maka dari 1 buah kelapa muda, setelah diberi es dan sirup, menjadi 3  gelas, harganya Rp. 60.000.-  Sementara itu, di Okaba harga 1 buah kelapa baik muda atau kelapa tua, Rp 1.000,-.  



Dalam situasi seperti ini, yang telah dialami oleh puluhan generasi, masyarakat tidak pernah bisa mendapatkan hasil penjualan kelapa dan hasil bumi lainnya yang dapat menjamin kehidupan mereka. Hasil tanah mereka, tidak bisa dijadikan andalan untuk masa depan, atau untuk membayar uang sekolah / uang kuliah anak-anak mereka.  Tidak adanya infrastruktur, sulitnya akses dan angkutan, lamanya waktu tempuh untuk sampai di kota, membuat harga hasil bumi masyarakat dan hasil hutan amat rendah.

Hal seperti ini, sering membuat masyarakat terbelenggu oleh sistem ijon (membeli ketika hasil tanaman mereka itu masih hijau) dan harganya murah.  Mereka tidak dijamin oleh siapa pun, dan bila gagal panen mereka sungguh-sungguh kehilangan sumber penghasilan. Kegagalan panen kadang-kadang membuat mereka punya hutang besar yang sulit dilunasi dalam waktu 2 – 3 tahun. Tidak heran, mereka dililit hutang untuk kurun waktu yang panjang, dan hidup mereka tidak pernah sejahtera.

Kelapa muda memang banyak jumlahnya, dan airnya memberikan kelegaan pada orang-orang yang kehausan. Kekaguman akan buah-buah yang tampak di hadapan mata, dan kelegaan itu memang mengusik batinnya untuk berpikir tentang masyarakat yang hidupnya sederhana, nyaman dan  damai di daerah pedalaman. Kenyamanan dan ketenteraman hidup sedemikian itu memang mahal harganya, dan sering sulit ditemukan di kota atau di kota besar. Namun, ketenteraman itu belum mampu memberikan andil besar untuk meningkatkan kualitas SDM agar mampu turut berperan dalam pembangunan masyarakat. Tetap diperlukan langkah-langkah dan strategi yang tepat demi pengembangan SDM di daerah itu. 

HUTAN DAN RAWA DI TANAH MARIND

PEMBACA YANG BUDIMAN 

Pertama-tama saya haturkan ucapan "Selamat Natal"..... Anda sekalian tentu mengalami suasana itu di tempat anda berada, berbeda dengan di tempat saya.... yang jauh dari keramaian kota.  Saya merayakan Natal di sebuah pulau...yaitu pulau Kimaam.  Banyak orang mengenalnya dengan sebutan pulau Yos Sudarso.  Konon di sekitar pulau itu, pahlawan Yos Sudarso gugur ketika diutus untuk merebut kembali Irian Barat. 

Sebelum pelayanan Natal, saya diundang oleh pastor dan umat paroki Okaba untuk memberkati sebuah gereja baru.  Ketika terbang di atas hutan itulah..... tulisan ini muncul sebagai buah permenungan saya. Semoga anda mendapatkan butir-butir inspirasi di dalamnya. 

Sabtu, tanggal 15 Desember 2017, setelah menunggu sekian jam di Bandara Moppa Merauke, akhirnya jam 14.35 saya terbang ke Okaba dengan menumpang pesawat kecil, jenis Caravan. Pesawat ini milik perusahaan penerbangan yang bernama PT Susi Air. Penumpang hari itu berjumlah 9 orang ( dewasa dan anak-anak). Jumlah penumpang maksimum 11 orang.

Cuaca amat cerah dan mendukung penerbangan, sehingga dalam waktu 20 menit, kami sudah mendarat di bandara Okaba. Perjalanan amat aman, tidak ada guncangan sedikit pun. Angin pun bersahabat, sehingga semua penumpang di dalam pesawat tetap duduk tenang, bahkan ada yang mengantuk. Biasanya saya pun tidur / tertidur selama perjalanan. Namun hari itu, mengingat sudah cukup lama tidak terbang dengan pesawat kecil, saya sengaja tidak tidur.

Saya mengamati hutan-hutan dan rawa yang begitu luas di sepanjang pantai sejak dari Merauke sampai di Okaba. Ada beberapa kampung yang dilewati: Urumb, Wendu, Matara, Kumbe, Keiburse, Onggari, Domande, Sanggase, Alatep, Alaku dan yang terakhir adalah Okaba. Ada banyak hutan pantai yang sudah gundul, tinggal beberapa pohon kecil. Di antaranya adalah pohon bakau (mangrove) dengan beberapa jenisnya.



Saya membuat saya termenung adalah “hutan dan rawa-rawa itu, yang dulu begitu ramah dan memberi hasil yang berkelimpahan kepada masyarakat lokal, saat ini pun tetap memberikan hasil yang berlimpah ruah: ikan, udang, umbi-umbian, pisang, kelapa, dan pelbagai hasil panenan lainnya. Banyak orang masih ingat lagu yang dinyanyikan Koes Plus yang judulnya “Kolam Susu”.  Syair awalnya adalah sbb:

Bukan lautan, hanya kolam susu.
Kail dan jala cukup menghidupmu.
Tiada badai tiada topan kautemui.
Ikan dan udang menghampiri dirimu.  
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Bukan hanya jumlahnya yang mengagumkan, namun juga ukuran besarnya, dan kualitasnya luar biasa. Kalau begitu apanya yang harus dicermati ?

Pemikiran  sederhana yang muncul di benak saya tentang siapa saja yang  harus berperan agar hasil masyarakat bisa sampai kepada pembeli (masyarakat umum) adalah  para pihak ini: 1) petani (pemetik hasil alam), 2) pengumpul, 3) pembeli awal, 4) pengangkut, 5) pembeli di pasar (penampung) yang sekaligus bertindak sebagai penjual, dan 6) pembeli (masyarakat).  Untuk mendukung kegiatan jual beli atas hasil masyarakat yang dibutuhkan adalah angkutan, jalan, pasar.




Yang lebih perlu diperhatikan dan dicermati adalah :

Kebutuhan hidup
Masyarakat setempat adalah petani ( penanam dan pemetik hasil hutan / rawa ). Pada umumnya mereka berpikir amat sederhana, tentang 2 hal yaitu mendapatkan hasil (panen atau hasil hutan) dan segera menjual dan mendapatkan barang yang dibutuhkan atau uang. Hasil hari ini adalah untuk hari ini, atau paling lama untuk 1 minggu. Mengapa demikian ? Alasannya amat sangat mudah dipahami yaitu pertama, mereka butuh makan.  Apa yang mereka miliki segera mereka makan sendiri atau mereka tukar dengan barang kebutuhan hidup. 

Kedua, mereka tidak punya kulkas, atau bahan pengawet (garam). Akibatnya bila tidak segera dijual hasil panenan / hasil tangkapan mereka, akan busuk atau turun kualitasnya. Di kampung sering tidak ada listrik PLN yang menyala 24 jam. Bahkan ada kampung-kampung yang tidak punya genset.  Atau di sana ada genset, namun tidak ada bahan bakar.  Harga bbm di kota-kota kabupaten dan di pusat-pusat distrik, sudah sama dengan harga bbm di Jakarta, namun belum merata di semua lokasi. Lebih-lebih di kampung-kampung yang terpencil. Harga bbm bisa di atas Rp. 10.000 per liter. Hanya  orang-orang tertentu yang mampu membeli genset dan punya cadangan bahan bakar.

Ketiga, letak pasar amat jauh dari kampung mereka, sarana  transportasi amat langka, dan biaya yang dibutuhkan juga mahal.  Akibat lebih jauh dari situasi yang demikian ini adalah masyarakat menjual saja apa yang mereka hasilkan, dengan harga seadanya ( amat rendah ). Hal ini tidak mungkin dihindari karena mereka dihadapkan hanya pada 2 pilihan yang sulit: menjual dengan harga amat rendah ( namun ada uang di tangan ), atau tidak mendapatkan apa-apa sama  sekali dan hasil panenan menjadi busuk.  Pada umumnya mereka memilih menjual hasil dengan harga rendah, daripada tidak mendapatkan apa-apa. Kebutuhan makan minum meski  sedikit, tetap bisa mereka dapatkan.

Langkah panjang
Kalau diperhatikan, apa yang saya ungkapkan tadi, ada 6 pihak yang berperan ( 6 langkah yang harus dilalui) , dan ada 3 sarana penunjang (akses) yang dibutuhkan agar barang ( bahan pangan / hasil panenan ) yang ada di kampung sampai ke pasar.  Petani ( masyarakat kampung) mengerti tentang hal ini, namun tidak sanggup melakukannya, karena ini bukan bidang mereka. Mereka berpikir tentang mengolah sawah, mendapatkan bibit dan pupuk, dan mengatur air.  Ketika musim panen tiba, mereka memanen semuanya, menjemur (menyimpan sementara) dan menjualnya ke pasar  terdekat, atau kepada tengkulak.

Hasil yang telah dijual akan diapakan dan akan dikemanakan oleh pedagang di pasar atau oleh tengkulak, sudah bukan urusan mereka lagi. Hal pemasaran, dan keuletan serta kerumitan dunia perdagangan, dan aneka urusan tentang angkutan, pembungkusan /pengepakan, pemberian merek, penjaminan mutu dsb diserahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak lain. Bila pemerintah campur tangan di bagian ini, para petani akan tertolong, namun bila  tidak ada bantuan pemerintah, mereka akan jatuh ke tangan tengkulak, atau ke tangan lintah darat.

Beda mentalitas
Mentalitas petani dan mentalitas pedagang dalam melihat hasil panen (pertanian, peternakan, hasil hutan, perikanan tambak dll) sungguh amat berbeda. Petani berharap dapat segera mendapatkan uang / barang ketika panen tiba. Bagi mereka ini, panenannya lebih cepat laku adalah lebih baik. Mentalitas ketergantungan kepada pembeli (tengkulak) amat besar, karena memang kondisi mereka tidak memungkinkan untuk melangkah lebih jauh. Bisa dikatakan hidup mereka ditentukan oleh tengkulak (pembeli yang mendatangi mereka di kampung-kampung) karena 6 langkah dan akses-akses penting tidak mereka miliki.

Sedangkan pedagang berpikir menurut hukum dagang, yaitu membeli semurah-murahnya, dan menjual dengan keuntungan yang besar. Apalagi bisa hasil panenan itu melimpah, dan ada banyak kampung yang menghasilkan jenis panenan yang sama (saingan) harga pun diturunkan.  Dalam hal jual beli, hukum pasar dan besarnya keuntungan yang diinginkan oleh para pedagang, para pelaku pasar dan para penjasalah yang berlaku. Siapa yang cepat dan berani ambil keputusan, pada umumnya dialah yang dapat. 

Sulit mengubah peran
Dunia pertanian berbeda dengan dunia kewirausahaan, meskipun keduanya tidak bisa dipisahkan. Masyarakat pada umumnya adalah petani ( nelayan, peladang, peternak kecil, dan perambah hutan juga bisa digolongkan di sini) yang berusaha agar  bisa hidup dan mencukupi kebutuhan hidup. Mereka memang sudah ada usaha dan berusaha, namun dari tahun ke tahun kegiatan, jenis  dan irama yang diusahakan tetap sama.

Mereka tentu dapat / akan dimasukkan ke dalam kelompok wirausaha, bila mereka mempunyai usaha, semangat, keuletan, kerja keras, ketelitian, perhitungan yang matang, jaringan kerja, dan jumlah yang dikelola satu atau dua tingkat lebih tinggi ( misalnya: ada usaha tetap dan ada usaha tambahan, ada pemeliharaan, kegiatan jual beli secara teratur dll).   Pada bagian inilah, tidak banyak orang yang mau, dan tidak banyak orang yang berani ambil resiko yaitu mengalami kerugian. Berubah peran  dari petani menjadi wirausahawan itu tidak mudah.

Pembinaan dan pelatihan
Mereka tentu ingin hidup sejahtera. Hidup sejahtera sebagai petani adalah anugerah dan mereka bisa berperan dalam pembangunan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan bakat, budaya serta latar belakang pendidikan mereka. Mengajak mereka untuk berwiraswasta adalah suatu kebajikan. Hal berwiraswasta bisa terjadi, bila mereka dibina dan dilatih secara terus menerus dan berkelanjutan.

Teori yang diberikan akan memberikan kepada mereka bekal pengetahuan, dan membantu mereka untuk memahami lebih mendalam. Latihan yang terus menerus akan memungkinkan mereka untuk semakin terampil. Sedangkan pembinaan, akan membantu mereka agar memiliki mental kerja keras, meningkatkan kualitas, pantang menyerah, disiplin diri, berjejaring, jujur, memikirkan masa depan, menghasilkan produk-produk unggulan, dan menghargai hak orang lain, mencermati situasi pasar serta memperhitungkan untung rugi dalam berusaha.

Kekayaan potensial

Apa yang saya lihat dari udara, yaitu hamparan hutan tropis di wilayah masyarakat Marind, rawa-rawa dan lautan yang penuh dengan pelbagai jenis ikan, merupakan kekayaan alam yang masih berupa bahan mentah (kekayaan potensial).  Sumber daya alam itu masih perlu diolah dan dipasarkan sehingga membawa rejeki yang dapat dijadikan sumber kesejahteraan hidup masyarakat. Dibutuhkan SDM-SDM yang terampil, tahan uji dan ulet untuk mengolah semuanya itu, mendapatkan panenan dalam jumlah besar dan memasarkannya.  Kekayaan yang menjadi milik masyarakat sampai saat ini masih banyak yang belum terolah. 

Mereka butuh orang-orang yang berhati mulia dan fasilitas pendukung agar kehidupan mereka makin sejahtera, dan mereka dapat mengejar ketinggalan serta dapat berperan dalam di bidang-bidang kehidupan lainnya. Orang-orang yang berhati mulia itu, rela dan bersedia tinggal lama bersama mereka, melatih dan memajukan mereka, sehingga mereka akan menjadi manusia-manusia pembangun bagi masyarakat mereka, bersama dengan saudara-saudarinya yang datang dari tempat lain. 

Orang-orang berhati mulia itu, bisa dari kalangan penyuluh, guru, bidan, dokter, perawat, rohaniwan, pengusaha, petani, peternak dll. Bila anda adalah orangnya, silakan datang dan bergabung dengan penulis blog ini.  Terima kasih atas uluran tangan dan kesediaan anda. 

Kamis, 30 November 2017

HAMPIR KOSONG

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

Bulan November ini termasuk bulan yang punya amat banyak pesta orang kudus. Sebetulnya saya bisa mendapatkan banyak inspirasi di dalamnya. Tanggal 1 November dirayakan sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus.  Ada banyak orang kudus yang namanya disebut dalam kalender liturgi. Ada banyak orang kudus yang namanya dipakai sebagai nama pelindung saat seseorang itu dibaptis atau menerima sakramen krisma. Saya memakai nama Nicholaus sebagai nama baptis, dan Gregorius sebagai nama krisma. Kedua nama itu dipilihkan oleh kedua orangtua saya. 

Menurut keyakinan saya, orang kudus jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang terdaftar atau yang disebut namanya dalam kalender liturgi. Mengapa demikian ?  Ada banyak orang kudus yang hidupnya bekenan kepada Allah dan sesama, namun tidak dikenal. Mereka tidak diketahui berasal dari bangsa mana, tinggal di negara mana karena komunikasi dengan mereka tidak ada. Tidak ada riwayat hidup yang bisa ditelurusi.  Mereka meninggal dalam kedamaian dan hidup berbahagia bersama Allah, baik sebelum Kristus lahir  maupun sesudah Kristus. Juga mereka yang tidak mengenal Kristus, sebagaimana kita kenal, tidak pernah diproses untuk digelari orang kudus.  Namun karena kemahakuasaan, kemahabijaksaan dan kemahamurahan Allah jauh mengatasi kekuasaan, kebijaksanaan dan kemurahan manusia, Allah telah mengangkat mereka dan memasukkan mereka ke dalam kebahagiaan sempurna bersama-Nya 

Tanggal 2 November merupakan hari arwah semua orang beriman. Umat katolik menerima pengajaran bahwa hidup hanyalah diubah bukannya dilenyapkan. Mereka tetap hidup di dunia yang baru, dan akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat selama hidup di dunia ini. Para arwah baik yang kita kenal maupun yang tidak, kita doakan agar mereka mendapat pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan kemudian dapat hidup berbahagia bersama Allah. 

Tanggal 4 November adalah peringatan st. Carolus Boromeus, seorang uskup yang peduli pada pendidikan, khususnya pendidikan para imam. Ia mendirikan sekolah-sekolah minggu, dan sarana-sarana pembinaan iman umat. Ia juga memperhatikan kesehatan umat yang dipercayakan kepadanya. Karena itu, di Indonesia ada 2 rumah sakit yang menggunakan nama beliau sebagai nama pelindung, yaitu RS. St Carolus Jakarta, dan RS Boromeus - Bandung. 

Tanggal 9 peringatan pemberkatan Basilika st. Yohanes Lateran. Gereja besar ini dibangun oleh Kaisar Konstantin Agung ( putra .st. Helena ) tahun 324, setelah Kaisar menetapkan bahwa agama katolik adalah agama negara. Sebagai nama pelindungnya, dipakai nama Yohanes Lateran. Gereja ini adalah Gereja Katedral bagi Uskup Roma.  Di Roma, Paus adalah Uskup Roma. maka, katedral Roma ini adalah Induk dari gereja katolik seluruh dunia. 

Kita masih bisa menyebut sekian hari penting gerejani pada bulan November ini, namun meski bulan yang istimewa ini hampir lewat, saya belum menulis apa pun. Maka, saya memberi judul tulisan ini: HAMPIR KOSONG.  Terdorong oleh semangat menulis yang naik turun, saya berusaha menyapa anda meski hanya dengan  beberapa potong kalimat. 

Moga-moga meski hampir kosong.... anda menemukan satu dua butir penting dari peringatan atau perayaan para kudus pada bulan ini. Saya harap bukan hanya melalui tulisan ini, tetapi terlebih karena anda juga mempunyai kesempatan untuk menyapa para kudus yang menjadi pelindung anda. Setidak-tidaknya dengan membaca tulisan ini... anda diingatkan kembali bahwa Tuhan itu mahamurah, dan kemurahan-Nya jauh melebihi apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh manusia. 

Kamis, 26 Oktober 2017

SAMBUTAN PENUTUP MUSPAS 2017

SAMBUTAN PENUTUP MUSPAS 2017
Bapak ibu para perserta muspas  
Bapak Bupati, para pastor, bruder dan suster
              Para tamu undangan                              

Pertemuan kita Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Merauke, merupakan ungkapan iman dan syukur kita kepada Allah yang telah membimbing kita.  Kita mengungkapkan iman kepada Dia yang telah mempercayakan banyak perutusan kepada kita. Meskipun  banyak yang telah kita lakukan, banyak yang direncanakan dan dievaluai dan diperbaiki atau pun ditambah, namun tetap banyak hal merupakan misteri. Kita menyerahkan sukaduka, keberhasilan dan kegagalan, ketertundaan dengan penuh kerendahan hati kepada Allah. Kita juga bersyukur bahwa dengan segala kemampuan dan keterbatasan, kita mengalami kemurahan Allah yang sering tidak terduga. Kita diampuni, disemangati dan disegarkan kembali agar sanggup menjadi partner Allah yang baik dan setia. Juga Allah tetap memberikan waktu kepada kita untuk berjalan terus.

Setelah Sinode tahun 2016, sepanjang tahun 2017 kita telah melaksanakan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, budaya dan hukum dll, sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup umat setempat.  Secara bersama-sama kita melaporkan tugas perutusan yang dipercayakan kepada kita, bagaikan hamba-hamba yang menerima 10 dan 5 talenta; “ Tuan, 10 talenta yang tuan percayakan kepada saya, lihat saya telah mendapat laba 10 talenta”.  Atau “tuan 5 talenta yang tuan percayakan kepada saya, lihat saya telah mendapat laba 5 talenta”.  Tuan itu akan menjawab: “baik sekali, hai kamu, hamba-hamba yang baik dan setia, kamu telah setia dalam perkara yang kecil, aku akan mempercayakan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kita semua berharap agar Tuhan melihat kita sebagai hamba-hamba-Nya yang patut menerima kebahagiaan itu.

Ketika melaksanakan tugas perutusan selama tahun 2017, kita telah mewujudkan 5 tugas gereja: persekutuan (koinonia), kerygma (pewartaan), leiturgia (perayaan iman), diakonia (pelayanan), martyria (kesaksian) dengan cara, pelaksana, program kegiatan yang beraneka ragam sesuai dengan keadaan dan kekuatan stasi, paroki, dekenat  dan kevikepan masing-masing.  Ibadat sabda dalam rangka ulang tahun, pembukaan kebun, potong babi, buka sasi, pemberkatan rumah, doa bersama dalam keluarga, doa pembukaan sekolah, adalah bentuk-bentuk nyata perayaan iman (koinonia, kerygma dan leiturgia). Kunjungan rumah, menyiapkan makanan untuk peserta sambut baru, pesta kenegaraan, terlibat dalam kegiatan posyandu, menguburkan orang mati merupakan bentuk nyata dari diakonia.  Bertahan untuk tetap setia sampai 5 tahun, 20 tahun, 30 tahun dalam perkawinan dengan pasangan yang sama,  hidup jujur, menolak miras, merupakan teladan yang baik bagi masyarakat dan bagi anak-anak, dan sekaligus kesaksian iman bagi banyak orang (martyria). 

Tanpa kita sadari selama muspas ini pun, kita telah melaksanakan 5 tugas gereja. Contoh:  1. kehadiran kita pada pada setiap sesi, kelompok-kelompok diskusi, kehadiran dalam rapat pleno, merupakan wujud persekutuan (koinonia). 2. Laporan-laporan dari masing-masing kevikepan dan dekanat, sharing-sharing dalam kelompok, merupakan pewartaan (kerygma). 3. Misa pagi, doa sebelum makan, doa Angelus wujud nyata leiturgia.  4. Diakonia diwujudkan dalam kesediaan untuk menjadi sekretaris, untuk membawakan laporan, merangkum, mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan dll. Mengatakan tidak kepada miras, perjudian, narkoba, perceraian, tindak kekerasan dll adalah kesaksian hidup yang telah ditampilkan oleh banyak keluarga katolik.

Selain butir-butir yang saya sebutkan tadi, muspas adalah saat penuh rahmat. Rahmat dalam bentuk apa ? Ada pelbagai bentuk. Contohnya, kita diberi waktu oleh Allah untuk belajar bagi yang pertama kali ikut muspas, untuk penyegaran  bagi mereka yang sebelumnya telah mendapatkan bahan yang sama ataupun untuk mendapatkan pencerahan dari sharing-sharing dan  pengalaman-pengalaman yang terjadi di daerah-daerah lain. Kita berjumpa dengan orang-orang baru, yang kemudian menjadi sahabat-sahabat baru kita.  Muspas juga merupakan latihan kepemimpinan, solidaritas, membangun semangat berbagi, menyegarkan lagi relasi dengan Allah dan menguatkan hidup rohani. Muspas juga merupakan undangan untuk saling mendengarkan, mengingatkan, dan memahami “suara Allah yang terungkap dalam diskusi, sharing, gerak dan nyanyi serta perjumpaan-perjumpaan yang tampaknya biasa-biasa saja”. Muspas juga merupakan panggilan kepada pembaharuan dan pertobatan.

Melalui diskusi dan dialog yang terbuka dan penuh persaudaraan, para peserta menghendaki adanya program bersama untuk paroki, kevikepan dan dekekat di wilayah keuskupan kita, dengan tetap memberikan keleluasaan kepada paroki-paroki, kevikepan dan dekanat untuk menetapkan program yang cocok bagi umat setempat. Program-program itu tidak dilihat sebagai beban, namun sebagai “magnit besar/ daya pikat ” yang akan menarik pelakunya untuk melaksanakannya dengan terarah dan terukur. Ada paroki-paroki / dekenat yang memilih kegiatan pemberdayaan umat melalui usaha CU ( Credit Union ), dan dalam waktu dekat “menetapkan dan meluncurkan” tekad itu.

Muspas adalah sarana untuk mempersatukan arah, gerak dan tujuan antara kita dalam bimbingan Roh Kudus. Maka, pantaslah pada akhir muspas ini kita memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal yang telah memberikan kekuatan, bimbingan, penyertaan dan karunia-karunia yang kita butuhkan. Saya berterima kasih kepada para peserta, para undangan, Bapak Bupati Boven Digoel, Bapak Sekda Merauke yang telah memberikan materi bagi peserta muspas. Secara khusus, saya memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Panitia Penerus Muspas, Panitia Muspas 2017,  staf sekretariat dan bagian perlengkapan yang telah menyiapkan dan mengawal seluruh kegiatan muspas ini.  Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Sr Pemimpin Rumah Bina dan stafnya yang telah memungkinkan kita semua mengadakan sidang-sidang sampai saat ini. Ucapan terima kasih juga saya haturkan kepada instansi-instansi, keluarga-keluarga, suami / istri yang merelakan pasangannya ikut muspas, umat dan komunitas-komunitas religius di seluruh wilayah keuskupan yang mendoakan dan mendukung muspas kita.

Hasil Muspas sudah ada di hati kita, dan secara tertulis dalam bentuk akan diberikan kepada para peserta.  Apa yang ada di hati dan kemudian dibukukan itu perlu diteruskan dengan penuh kerelaan dan sukacita. Kita semua adalah pelaku-pelakunya. Maka pada kesempatan ini, saya menegaskan bahwa kita semua diutus Kristus untuk meneruskan karya keselamatan Tuhan dengan berpedoman pada KS, Ajaran resmi Gereja, dan apa yang telah dituangkan dalam buku hasil muspas itu.  Anda sekaligus diutus untuk menterjemahkan hasil muspas itu agar cocok dengan realita kehidupan umat setempat.

Tidak lupa saya mengucapkan selamat dan proficiat kepada anda sekalian yang telah ambil bagian dalam muspas ini, sekaligus mohon maaf atas kekurangan yang anda alami selama kegiatan muspas ini.  Selamat jalan dan kembali ke tempat masing-masing.  Tuhan menyertai, memperkaya dan meneguhkan anda sekalian.

Sekian terima kasih.

Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC
                                       19 Oktober 2017                                    

SAMBUTAN PEMBUKAAN MUSPAS 2017

SAMBUTAN USKUP AGUNG MERAUKE
PADA MUSPAS TAHUN 2017

TEMA:  KELUARGA KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG BERIMAN

Saudara-saudari sekalian para peserta Muspas
Bapak Bupati, Bpk Sekda, Bapak/Ibu Pejabat
Para Undangan
Para Pastor, Bruder, suster dan Frater
Dan Hadirin sekalian

Syaloom

Pada tahun 2015, kita menyelenggarakan Pra-Sinode Keuskupan Agung Merauke dengan tema: “KELUARGA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE, MEMAHAMI DIRI: REALITAS DAN PERSOALAN”.     Pra-sinode ini menyoroti realitas dan persoalan yang dialami oleh keluarga-keluarga dari beberapa sudut pandang (pendidikan, kesehatan, sosek, budaya, dan iman, dll) agar para pelayanan umat memahami situasi nyata yang sungguh-sungguh terjadi.  Pada tahun 2016  dilaksanakan Sinode Keuskupan Agung Merauke dengan tema: KELUARGA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG TERLIBAT DAN MURAH HATI”.  Kedua Rapat Akbar Keuskupan ini memberikan perhatian besar kepada keluarga, karena sungguh-sungguh disadari bahwa keluarga-keluarga adalah dasar, kekuatan, dan harapan dari bangsa dan gereja, serta punya peranan yang amat penting bagi kehidupan sekarang ini dan ke masa depan.  Itulah sebabnya,  agar menjadi gerak bersama dari seluruh umat, Amanat Sinode tahun 2016  mendorong kita sekalian untuk melihat KELUARGA SEBAGAI LOCUS DAN FOCUS PASTORAL.  

Kata “LOCUS” berasal dari Bahasa Latin.  “Locus” artinya tempat.  Dari kata ini lahir kata lokasi (tempat), relokasi ( penempatan kembali ), budaya lokal ( budaya setempat) dll. Kata “focus” berasal dari Bahasa Latin, dari  kata kerja “facere”, artinya jatuh. Jadi, focus menunjuk pada titik / tempat dari mana sesuatu itu jatuh, atau bisa dikatakan titik awal / titik pusat.  Dalam pengertian umum, fokus berarti “perhatian, atau mengarahkan pandangan ke titik awal/pusat, sehingga pikiran, perasaan dan kehendak seseorang tidak terbagi-bagi.  Pastoral juga berasal dari Bahasa Latin, pastor yang berarti gembala. Pastoral berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan dan kegiatan yang bertujuan untuk menggembalakan umat Kristus, agar mereka menemukan keselamatan (kebahagiaan hidup).

Kalau keluarga menjadi locus dan focus pastoral, berarti keluarga itu merupakan tempat dan pusat pijakan serta mendapat perhatian utama, dalam pelayanan kepada umat Allah karena keluarga benar-benar mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia.  Di sanalah manusia itu dilahirkan, dibesarkan, dibina, dibimbing dan dihantar untuk menjadi manusia yang siap masuk ke dalam lingkungan sosial, dan kemudian turut berperan dalam pembangunan dan kemajuan masyarakatnya. 

Masyarakat dan kita semua mengakui bahwa kebahagiaan hidup tidak perlu dicari di tempat-tempat yang jauh, tidak perlu pergi ke kota-kota besar, dan tidak perlu juga membayar dengan biaya yang mahal, karena kebahagiaan itu “locus” ada di rumah, ada di dalam keluarga. Di keluarga dan di dalam rumah tangga itulah tempatnya. Keluarga yang menyadari bahwa rumah dan diri mereka adalah tempat hadirnya kebahagiaan, adalah keluarga-keluarga yang telah berusaha mendekatkan diri dengan Allah.  Keluarga yang menghadirkan suasana yang demikian ini, bisa disebut  ecclesia domestica ( gereja rumah tangga).

Tema Muspas 2017 ini adalah KELUARGA KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE YANG BERIMAN

Ada beberapa hal yang bisa diungkapkan tentang iman. Iman itu lebih daripada perihal tentang mengetahui dan percaya akan  cerita atau kisah ataupun kesaksian tentang Allah. Iman merupakan suatu pengalaman yang terindah akan kehadiran Allah di dalam kehidupan seseorang.  Karena iman, manusia dapat  sungguh-sungguh mengalami Allah sebagai yang Mahakuasa, Bapa yang maha pengasih, pengampun, penyelamat, pelindung, penolong, penghibur, kekuatan dan bahwa Dia adalah segala-galanya bagi orang yang sungguh-sungguh beriman.

Patut ditekankan juga bahwa iman akan mendorong seseorang untuk menyerahkan diri dan hidupnya kepada Allah ( bdk. Luk 1: 38 ttg Bunda Maria, Filp 3: 8 ttg Paulus).  Bila iman itu sudah hidup dan menjiwai seseorang,  dia tidak pernah akan goyah, meskipun mendapat cobaan seberat apa pun, bahkan harus menyerahkan nyawanya ( Kis 7:59 – 8:8 tentang Stefanus). Dia bagaikan orang yang mendirikan rumahnya di atas batu ( Mat 7: 24 – 27).

Bapa, ibu dan  saudara sekalian,
Berdasarkan apa yang saya  telurusi ini,  saya mencoba merumuskan “ apa itu keluarga yang beriman?”.  Keluarga yang beriman adalah keluarga yang secara aktif mengalami kehadiran Allah dan penuh penyerahan diri kepada-Nya, serta mewujudkan kebahagiaan hidupnya bersama dengan sesama.

Dalam mewujudkan kebahagiaan hidup itu, banyak sekali keluarga yang menghadapi tantangan ini: teman pamer baju / sepatu baru, ada bujukan untuk korupsi, menggunakan narkoba, minum miras, berjudi, melakukan tindak kekerasan, suap-menyuap, menyebarluaskan berita-berita bohong, dll. Selain itu, derasnya tawaran-tawaran yang menarik dari televisi, iklan-iklan di jalan-jalan, diskon yang tinggi, kredit motor, munculnya hp model baru, dan hadiah-hadiah undian yang menggiurkan juga merupakan tantangan yang berat.

Di sisi lain, di tengah-tengah masyarakat yang terus berubah ini, harus diakui bahwa masih jauh lebih banyak orang-orang dan keluarga-keluarga yang baik dan stabil di banyak tempat, bahkan di pedalaman. Ada banyak keluarga, kelompok-kelompok kategorial, banyak umat beriman yang sungguh-sungguh berusaha untuk hidup saleh dan bahagia, dengan banyak berpuasa, berdoa dan berkorban. Tempat-tempat ibadah, penuh dengan jemaat.  Di keuskupan kita, ada paroki-paroki yang melayani umatnya dengan 3 x misa pada hari minggu. Terlebih pada hari-hari raya, tempat-tempat ibadah dibanjiri umat beriman yang hendak bersyukur dan mohon berkat. Banyak orang pergi ziarah,  naik haji, bergabung dengan kelompok-kelompok kategorial, kelompok-kelompok doa. Itu tanda bahwa kehidupan spiritual tetap menjadi perhatian dari keluarga-keluarga.

Iman nyata dalam tindakan
Rasul Yakobus menegaskan: “Iman yang tidak dinyatakan dalam perbuatan, adalah iman yang kosong.  Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbutan, dan oleh perbuatan-perbuatan itu, iman menjadi sempurna.  Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak 2:20.22.26).  Apa yang dihasilkan oleh muspas paroki, muspas Dekenat, muspas Kevikepan dan muspas keuskupan adalah laporan dan evaluasi (keberhasilan, ketertundaan, kegagalan) kita sekaligus kesaksian akan buah-buah iman yang telah dilaksanakan oleh umat beriman bersama dengan para gembalanya, dengan Pemerintah Daerah dan para mitra kita. Apa yang  telah dilaksanakan itu merupakan juga keikutsertakan kita dalam karya keselamatan Tuhan.

Penerimaan sakramen di seluruh keuskupan tahun 2016, menunjukkan keberimanan keluarga:
1.      Baptis     3.694 orang    dari jumlah tsb:  3.555 bayi dan anak-anak di bawah 7 tahun.
2.      Komuni pertama:  1.540  orang
3.      Nikah :  882   katolik dgn katolik, kawin campur: 36 pasang
4.      Krisma :  1.114 orang
5.      Skr pengurapan orang sakit:  853 orang

Jumlah Penerima sakramen-sakramen di beberapa paroki yang sudah masuk tahun 2017:
1.      Baptis : 678   
2.      Komuni pertama:  186
3.      Nikah :  158  katolik dg katolik, 4 pasang nikah campur
4.      Krisma :  800 peserta

Selain bidang iman keagamaan, pelayanan kita juga meliputi bidang pendidikan, kesehatan, hukum, sosial  ekonomi serta budaya.  Setiap tahun ada  ratusan anak yang lulus dari sekolah-sekolah YPPK. Ada 590 anak yang mendapatkan bantuan studi (SD - SMA). Ada 48 anak yang mendapat bantuan studi di Perguruan Tinggi.  Ada 200 an anak yang dibina di asrama-asrama kita (Merauke, Urumb, Kumbe, Kimaam, Kepi, Tanah Merah, dan Mindiptana). Juga penyuluhan dan pelatihan di bidang administratif, bidang hak-hak azasi, bidang penyadaran akan hak ulayat, pemetaan wilayah, dan lingkungan hidup dll tetap diperhatikan, karena pelayanan ini muaranya adalah pengembangan harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah.

Penyadaran dan tindak pembelaan (advokasi) akan gender juga kita lakukan. Gender adalah kondisi (syarat-syarat) yang dibutuhkan agar manusia (laki-laki dan perempuan) dapat hidup sebagai anak-anak Allah dan berperan dalam kehidupan masyarakat. Keluarga-keluarga beriman menjadi kekuatan utama terhadap kegiatan keadilan dan kesetaraan gender, karena di dalam keluarga anak laki-laki dan anak perempuan diperlakukan secara adil dan setara.  Misalnya, anak perempuan dibelikan 1 pasang sepatu, harganya Rp. 300.000, ukurannya no: 35;  dan anak laki-laki ukurannya no 42, harganya Rp. 350.000.  Anak laki-laki dan perempuan bisa dilatih untuk memasak, cuci piring, merawat orang sakit, berkebun dll, tetapi juga mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang sama.  Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa jadi dokter, guru, pegawai bank, kepala kampong, dll dengan hak dan kewajiban yang sama. Saya yakin dan percaya, sudah banyak keluarga katolik yang mendidik anak-anaknya secara adil dan setara, sehingga harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah dikembangkan dan dinyatakan.

Keluarga-keluarga katolik yang beriman, di seluruh wilayah KAME saya gugah untuk memperhatikan lingkungan hidup. Kita disemangati untuk  menanam pohon-pohon pelindung, menanam tanaman pangan: sagu, pisang, ubi-ubian dan palawija, juga pohon-pohon besar karena kita juga perlu kayu untuk rumah dan perabot rumah tangga. Perlu juga setiap warga gereja dan sebagai anggota masyarakat, ambil bagian dalam memelihara dan menjaga kebersihan halaman, got-got dan sungai, dengan membuang limbah, sampah dan bangkai-bangkai di tempat selayaknya. Kiranya baik diusahakan dan dibiasakan memanfaatkan sampah-sampah basah ( daun-daun sisa, buah-buahan sisa dan kulitnya) menjadi pupuk organik.

Saya juga mengajak keluarga-keluarga katolik untuk turut memerangi miras, narkoba dan tindak kekerasan. Narkoba sekarang ini dikemas dalam pelbagai bentuk dan warna yang menarik. Mula-mula harganya murah atau gratis, namun ketika seseorang sudah kecanduan, 1 butir harganya bisa ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Narkoba merusak syaraf dan kesadaran  pemakainya. Ketika sudah kecanduan dan ketagihan, dia menjadi tidak berdaya dan harus diberi terus-menerus. Dia menjadi orang yang sangat tergantung pada narkoba, dan tidak peduli obat itu harus didapat dari mana dan dengan cara apa. Yang penting obat itu harus ada. Maka dia akan menjadi pembohong, pencuri, penipu dan pelaku tindak kekerasan, supaya dia bisa mendapatkan narkoba yang dia butuhkan.

Bila banyak generasi muda kita (anak-anak, remaja dan OMK) menjadi pengedar, pengguna narkoba, dan sudah ketagihan, kita kehilangan penerus-penerus bangsa dan pembangun masyarakat. Betapa besar kerugian (kekuatan, dana dan peluang) yang kita hadapi, hari-hari ini dan pada masa mendatang bila generasi kita dihancurkan oleh narkoba. Maka, patutlah kita waspadai mereka dalam menggunakan uang, perilaku mereka sehari-hari, dan dengan siapa mereka bergaul. Patut juga diperhatikan: “Apakah pada mereka ada perubahan dalam bertutur kata, dalam berkegiatan, dan dalam penampilan sehari-hari ?.  Bila ya, itu adalah indicator bahwa pada diri mereka, ada sesuatu yang tidak beres, dan perlu ada tindakan.

Pada hadirin, dan para peserta muspas yang saya hormati
Di dalam dunia dan masyarakat yang terus berkembang dan mengikuti perubahan jaman, namun dengan iman dan semangat yang sama, dan telah diperkaya dan diperbaharui oleh Roh Kudus dalam muspas ini, kita siap untuk menanggapi kehidupan dan kebutuhan masa kini, demi mempersiapkan kehidupan mendatang yang lebih baik, adil dan sejahtera. Kita akan terus melaksanakan hasil muspas tahun 2017 ini, sebagai tanda syukur atas kepercayaan Allah yang telah mengikutsertakan kita pada karya keselamatan-Nya, dan tanda kesediaan kita untuk meneruskan karya besar Allah itu kepada umat manusia pada jaman ini dan pada masa mendatang.  Semoga melalui muspas kita ini, melalui kita sekalian dan para mitra kita, rahmat dan kasih Allah mengalir kepada umat manusia yang berkehendak baik di Papua dan di mana-mana.

Pada kesempatan yang berbahagia dan penuh rahmat ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para Bupati dan narasumber yang berkenan membagikan pengalamannya sehubungan dengan kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Gereja”. Akhirnya, saya mengucapkan selamat mengikuti Muspas 2017 kepada semua peserta, dan para undangan sekalian yang telah berkenan hadir pada upacara pembukaan Muspas ini.

Merauke, 15 Oktober  2017


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC