Selasa, 20 Januari 2015

TAHUN HIDUP BAKTI

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN


SYALOOM


Tahun hidup  bakti yang dicanangkan oleh Sri Paus pada bulan November 2014, bergema di seluruh dunia. Keuskupan Agung Merauke pun turut ambil bagian dalam mengajak umat untuk berdoa bagi para biarawan-biarawati, dan mereka yang membaktikan hidupnya untuk pelayanan kepada umat Allah. Juga secara bersama-sama, keuskupan mengajak keluarga-keluarga untuk berdoa dan mengusahakan agar ada banyak panggilan di wilayah ini. Dalam rangka memulai tahun hidup bakti tersebut, saya menulis Surat Gembala yang saya sajikan secara lengkap untuk anda. Silakan menikmati isinya. Saya pun berharap para pembaca turut mendoakan tumbuhnya panggilan di keuskupan kita ini. 




SURAT GEMBALA USKUP AGUNG MERAUKE
DALAM RANGKA PENCANANGAN TAHUN HIDUP BAKTI
MERAUKE 9 DESEMBER 2014


Umat sekalian, para imam, bruder dan suster
Kaum muda dan anak-anak yang terkasih,
Kardinal Joao Braz de Aviz ( Prefek Kongregasi Institut Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik) , menggelar konferensi pers pada hari Jumat tanggal 19 November 2014 untuk mengumumkan bahwa Paus Fransiskus telah menetapkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti (Year of Consecrated Life). Hidup yang dibaktikan bagi kemuliaan nama Tuhan dan keselamatan manusia bukan hanya hidup sebagai biarawan/wati, tetapi ada juga hidup berkaul pribadi meskipun tidak tinggal di biara. Tahun Hidup Bakti telah secara resmi dibuka pada tanggal 21 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 21 November 2015. Paus Fransiskus telah mengumumkan Tahun Hidup Bakti ini dalam pertemuan dengan Perhimpunan Superior Jendral di Roma bulan November 2014 yang lalu.
Sebagai informasi penting bagi kita:
  • Tanggal 21 November adalah hari "Pesta Maria dipersembahkan di Bait Allah".
  • Tanggal ini pula dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI sebagai hari "Pro Orantibus" (= untuk mereka yang berdoa), maksud dari penegasan ini adalah pada tanggal itu, umat beriman diajak untuk mengingat dan mendoakan kaum religius.

Tahun Hidup Bakti 2015 ditetapkan dalam rangka mensyukuri 25 tahun Dokumen Konsili Vatikan II, Perfectae Caritatis yaitu Dekrit tentang Hidup Bakti, dan “Lumen Gentium” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja) serta Ad Gentes yang berbicara tentang peran khusus Komunitas Hidup Bakti dalam perutusan Gereja. Kardinal João Braz de Aviz, menyatakan pula bahwa Konsili Vatikan II merupakan hembusan Roh Kudus bagi seluruh Gereja, terlebih lagi bagi hidup bakti.

Sepanjang Tahun itu seluruh umat diajak untuk berdoa dan merenungkan makna hidup bakti bagi hidup dan tugas perutusan umat beriman. Hidup Bakti dipahami sebagai hidup yang dipersembahkan kepada Allah dengan kesetiaan mengikuti dan melaksanakan nasehat-nasehat Injil dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan. Hidup Bakti merupakan tanda nyata dari cita-cita kesempurnaan hidup kristiani yang ditawarkan Allah kepada seluruh umat beriman.
TUJUAN TAHUN HIDUP BAKTI 2015


Paus Fransiskus, dalam surat edarannya menekankan 3 hal penting:
  • melihat masa lalu dengan rasa syukur. Semua lembaga kita adalah pewaris yang kaya akan kharisma-kharisma. Pada asal usul mereka, kita melihat tangan Tuhan yang memanggil pribadi-pribadi tertentu untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat, untuk menterjemahkan Injil kepada suatu cara hidup tertentu, untuk membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman, dan menanggapi secara kreatif kebutuhan-kebutuhan gereja.
  • memanggil kita untuk menjalani masa ini dengan penuh semangat. Kenangan akan masa lalu mendorong kita untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan lebih lengkap aspek-aspek penting dalam hidup bakti kita. Pertanyaan yang diajukan kepada kita:
    Apakah dan bagaimanakah kita terbuka juga untuk ditantang oleh Injil ? Apakah Injil benar-benar merupakan "panduan" untuk hidup sehari-hari kita, dan keputusan-keputusan di mana kita dipanggil untuk membuatnya ? Ia menuntut dihayati secara radikal, bukan hanya dibaca saja.
  • merangkul masa depan dengan penuh harapan. Kita memahami kesulitan yang kita hadapi saat ini: menurunnya jumlah panggilan, maslah-masalah ekonomi, akibat dari krisis keuangan, globalisasi, internasionalisasi, primordialismie dll. Namun, justru di dalam situasi yang demikian ini, kita dipanggil untuk menerapkan keutamaan harapan, buah iman kita dalam Tuhan sejarah, yang terus memberitahu kita: " Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau ( Yer 1: 8). Harapan ini tidak didasarkan pada statistik atau pencapaian, tetapi pada Dia. Di dalam Dia, kita telah menaruh kepercayaan ( 2 Tim 1: 2 ) sebab bagi Dia tidak ada yang mustahil ( Luk 1: 37).

Harapan untuk umat dan para religius
Konferensi Pimpinan Tinggi Antar Religius Indonesia ( Koptari ) sebagai lembaga yang menaungi tarekat-tarekat religius Indonesia telah mencanangkan sejumlah hal untuk mengisi Tahun Hidup Bakti. Tema yang dipilih adalah " Mensyukuri dan Memberi Kesaksian tentang Keindahan Mengikuti Kristus sebagai Religius". Ucapan syukur dan kesaksian itu diungkapkan dalam pelbagai kegiatan.
Seluruh umat beriman, bukan hanya kaum religius saya undang untuk turut ambil bagian dalam mengisi Tahun Hidup Bakti ini, lewat pelbagai kegiatan yang memungkinkan "tumbuhnya rasa kagum, rasa cinta, dan ketertarikan pada hidup religius". Kekaguman itu diungkapkan dalam kata-kata: "Betapa indah panggilan-Mu, Tuhan".
Paroki-paroki dan sekolah-sekolah juga patut memberikan perhatian bagi tumbuhnya panggilan-panggilan sebagai religius. Dalam rangka meningkatkan perhatian kepada keluarga-keluarga sebagaimana ditetapkan dalam Muspas 2014, mari kita berusaha agar keluarga-keluarga katolik menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya panggilan tersebut. Doa, tapa, korban dan persembahan diri menjadi kekuatan kita untuk meminta kepada Tuhan yang empunya panenan.

Selamat mengalami kasih Allah, pada Tahun Hidup Bakti 2015. Syaloom.

Merauke, 1 Desember 2014


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

Kamis, 08 Januari 2015

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM.....

Lagu yang saya hadirkan di blog ini, sudah amat sering kita dengar.....terlebih pada 15 atau 10 tahun yang lalu. Akhir-akhir ini, lagu ini agak jarang dilantunkan kembali, karena sudah ada banyak lagu lain yang digemari. Maka, saya tulis syairnya agar anda / pembaca dapat dengan lebih mudah mengingatnya, dan kalau anda ingin bernyanyi tentu saja boleh.

Selamat hari natal dan tahun baru
Padamu sluruh teman-temanku
Bahagia engkau di hari ini
karena dapat kumpul kembali

Walau kita tak jumpa
Trimalah salamku
Tanda ucapan selamat natal tahun baru


Liriknya sederhana dan mudah diingat...dan saya tampilkan di sini untuk menyapa anda sekalian, para pembaca setia yang telah menikmati beberapa mutiara yang ada di tulisan saya. Pada kesemptan yang berbahagia ini, saya mengucapkan kepada anda sekalian:

                                              Selamat pesta Natal 25 Desember 2014
                                                                 dan
                                               Selamat Tahun Baru   1 Januari 2015.

Perayaan Natal dan Tahun Baru, di belahan mana pun selalu memberikan "suasana kegembiraan kepada banyak orang". Tampaknya "natal" hanyalah milik orang kristen, namun sejatinya dianugerahkan Allah kepada semua umat manusia. Begitu pula, hari-hari peringatan / perayaan keagamaan umat non kristen, sesungguhnya juga merupakan tanda kasih dan karunia Allah kepada umat manusia yang mendiami dunia ini.

Kita mengalami bahwa perayaan 1 Januari  diterima oleh bangsa manusia sejagat sebagai awal "tahun baru" dan disyukuri pula sebagai berkat Tuhan.  "Bukankah akan lebih membahagiakan, bila perayaan keagamaan saudara-saudari kita yang tidak seiman dengan kita juga dimaknai dan dialami sebagai tanda berkat dan kasih Allah bagi bangsa manusia sejagat ?

Minggu, 28 Desember 2014

MEMPERDAGANGKAN MANUSIA ADALAH TINDAKAN KEJAHATAN

Pembaca Blog yang Budiman

Tanggal 3 Oktober 2014 yang lalu, saya menulis berita tentang 22 orang nelayan yang berasal dari Kambodia, dan terlantar di Merauke. Inilah cuplikan tulisan saya yang tertuang di blog www.kamerauke.blogspot.com tersebut :

Jumlah mereka ternyata hanya 22 orang. Dari jumlah itu, 2 orang kemudian berhasil dibujuk oleh bos kapal KUMANA I sehingga kembali ke kapal, sedangkan 20 orang tetap bertahan untuk tidak kembali karena mereka takut akan nasib mereka, ketika dalam perjalanan pulang ke negara mereka bila tetap ikut bos kapal itu. Mereka telah trauma akan perlakuan tidak manusiawi yang telah mereka alami. Mereka memutuskan untuk ikut petunjuk pihak kedubes, bahwa mereka akan dipulangkan oleh pihak kedubes, setelah urusan dengan pihak imigrasi dan kepolisian Merauke sudah selesai.

Para nelayan itu adalah korban dari tindakan “perdagangan manusia”. Mereka benar-benar tidak berdaya ketika berada di kapal asing, dan berada di laut atau di tempat yang tidak mereka kenal. Syukurlah ada alat komunikasi yang memungkinkan mereka untuk mengontak keluarga mereka. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang menyimpan nomor-nomor telepon penting, sehingga mereka masih bisa ditolong. Syukurlah bahwa ada di antara mereka yang tahu bahasa Indonesia sepotong-sepotong.

Yang lebih membanggakan bahwa di negara mana pun, tetap ada orang baik dan ada lembaga kemanusiaan yang rela menolong para korban dengan rela hati. Syukurlah bahwa secara internasional telah ada lembaga yang melindungi dan memperjuangkan kebebasan para korban “kejahatan kemanusiaan yang terselubung ini”. Kejahatan kemanusiaan dapat mengancam siapa saja dan kapan saja. Lebih-lebih orang-orang yang sederhana dan belum kenal “mulut manis tetapi sesungguhnya srigala berbulu domba”, atau orang-orang yang tergiur oleh iming-iming gaji yang besar, akan dengan mudah menjadi korban tindakan kejahatan ini.

Menolong para korban memang penting, namun memberikan informasi akan bahaya yang mengancam kemanusiaan kepada masyarakat amatlah penting, agar korban-korban yang baru akan dapat dikurangi atau dihindarkan. Sekarang ini mereka yang menjadi korban, moga-moga bukan anda atau keluarga anda yang akan menjadi korban selanjutnya. Menjual manusia memang menggiurkan karena mendapatkan uang banyak....namun itu melawan hati nurani. Menurut bahasa orang beriman, tindakan itu adalah dosa.”

Terhadap tulisan itu, saya mendapatkan komentar dari seorang pejuang perlindungan manusia atas tindakan kejahatan perdagangan manusia sbb:

Terima kasih Bapak Uskup dan SKP, yang telah mencari dan melindungi mereka di gereja. Setuju dengan pendapat Bapak Uskup bahwa pencegahan merupakan upaya penting untuk dilakukan, tidak hanya melalui sosialisasi tetapi juga pengupayaan pengentasan kemiskinan. Kemiskinan di Cambodia yang menyebabkan mereka terjerumus pada iming iming para calo. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemuda pemuda seusia mereka di Indonesia. Ribuan laki-laki muda direkrut dan dipekerjakan di kapal-kapal pencari ikan Taiwan. Bertahun-tahun di tengah lautan lepas bekerja siang dan malam tanpa menerima gaji sesuai dengan yang dijanjikan pada saat mereka di rekrut. Perbudakan modern ini memang harus dihentikan, dimana saja.

Terima kasih tak terkira kepada Bapak Uskup, Romo Amo dan teman-teman di SKP, karena berkatmulah maka korban tersebut dapat tertolong. Semoga kita bisa dapat bersama-sama berjuang untuk menghentikan Tindak Pidana Perdagangan orang atau trafficking ini di semua bumi, termasuk di Indonesia. Korban orang Indonesia dengan kondisi dan situasi yang sama seperti korban asal Cambodia ini juga marak terjadi. Pemuda-pemuda kota dan desa dibujuk rayu untuk berangkat bekerja di kapal, tanpa memahami ancaman dan bahaya yang akan mereka hadapi karena pengangguran dan sempitnya kesempatan untuk menerukan pendidikan tinggi. Kalau orang asal Cambodia, Thailand dan Myanmar dieksploitasi di kapal-kapal asing milik Thailand. Pemuda-pemuda Indonesia dipekerjakan di kapal-kapal pencari ikan milik Taiwan untuk mencari ikan di lautan Afrika selatan dan Karibia. Ribuan jumlahnya dan banyak dari mereka yang tertipu dan terpedaya. Setelah bertahun tahun bekerja di tengah lautan lepas (tambahan red: mereka tidak mendapatkan apa-apa, dan tidak berdaya. Mereka tidak punya siapa-siapa dan tidak tahu mau minta pertolongan kepada siapa. Nasib mereka sungguh amat memprihatinkan). ( komentar on 22 WARGA KAMBODIA KORBAN PERDAGANGAN MANUSIA - Qoiriah Nurul 5-10-2014 )

Mengorbankan manusia (hidup orang lain, kesehatannya, masa depannya, orangtuanya, istri dan anaknya, demi keuntungan uang / harta benda bagi pemakainya, merupakan tindakan pelanggaran berat terhadap hak-hak azasi manusia. Sesama manusia dikuras habis demi “kerakusan akan harta / nafsu duniawi” dan bentuk-bentuk perlakuan tidak manusiawi lainnya, sesungguhnya merendahkan “martabat sang pelaku sendiri”. Efek langsung dari pelecehan martabatnya sendiri itulah yang menimbulkan kesengsaraan dan penindasan kepada sesamanya.
 
Komentar yang ditujukan kepada saya, merupakan indikator bahwa ada banyak orang lain di belahan bumi ini yang tidak setuju atas perbudakan / perdagangan manusia. Mereka tidak bersuara, namun menyesalkan tindakan itu, atau mendoakan agar tindakan itu segera dihentikan. Menurut hukum positif yang berlaku di seluruh dunia, tindakan itu adalah pelenggaran berat terhadap hak azasi, dan pelakunya patut mendapatkan sangsi hukum (hukuman yang berat). Menurut moral, tindakan itu adalah kejahatan. Manusia diciptakan Tuhan untuk meneruskan kebaikan Tuhan, dan membawa sukacita kepada sesamanya, dan bukan sebaliknya mencelakakan mereka.

NATAL DAN HAK-HAK AZASI MANUSIA

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN


SYALOOM

SELAMAT NATAL saya haturkan kepada anda sekalian pembaca setia blog ini. Saya mengawali tulisan saya ini, dengan memunculkan komentar yang saya dapatkan sesudah perayaan natal 25 Desember 2014. Maklum, pada hari-hari raya tersebut, saya malah tidak punya kesempatan untuk membuka blog, apalagi menulis. Dengan agak memaksakan diri untuk duduk di depan laptop, saya menyajikan tulisan ini untuk anda.

Pada bulan September 2012, saya menulis cerita / pandangan saya tentang MIFEE. MIFEE adalah kependekan dari MERAUKE INTEGRATED FOOD AND ENERGY ESTATE. Gagasan / cita-cita yang terkandung di dalamnya adalah “Merauke dijadikan lumbung pangan dan energi”, tentu saja dalam skala besar. Disediakan lahan 2 juta hektar untuk keperluan itu. Tanah yang akan dikelola adalah tanah milik adat / tanah ulayat milik penduduk asli Papua. Tanah itu merupakan ibu yang memberi makan dan kehidupan kepada anak cucu dari generasi ke generasi. Meski hasilnya “tidak dapat dilihat dengan kasat mata, namun pelbagai jenis kayu untuk keperluan rumah, perahu, dan kebutuhan lain selalu terpenuhi. Begitu pula, hutan melestarikan secara alami pelbagai jenis binatang, termasuk binatang buruan, dan memberikan kehidupan kepada pelbagai jenis burung.
Ketika perusahaan-perusahaan besar (baca para investor) masuk, situasi dan lingkungan hidup berubah. Tanah disewa dengan harga Rp.10.000 per ha per tahun. Menurut SK Gubernur Papua, kayu-kayu yang kualitasnya bagus, dihargai Rp. 12. 500 per M3 sementara di pasaran umum, kayu gergajian harganya Rp. 3 – 5 juta. Kayu-kayu campuran dihargai Rp. 4.500 per M3, sedangkan harga umum kayu gergajian jenis ini per M3 adalah Rp 1,5 juta – Rp. 2,5 juta. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa masyarakat pemilik tanah dan kayu, amat dirugikan. Kehadiran investor karena tidak dirundingkan dengan baik dan transparan, dengan semua pihak, bukannya membawa berkah tetapi musibah.

Atas tulisan itu, muncul komentar ini: “Bagus sekali tulisan Bpk Uskup. Saya sangat tertarik membacanya. Mohon maaf saya baru baca ketika sekarang berdinas di Merauke” ( komentar atas tulisan saya: MIFEE BERKAH ATAU MUSIBAH – 14 September 2012 ).

Moga-moga akan banyak orang yang “terbuka hati nuraninya” untuk membela kehidupan masyarkat lokal, baik di Papua maupun di belahan Indonesia lainnya”. Tulisan yang bagus itu, akan menjadi berguna dan bermakna bila diwujudkan dan membawa perubahan yang signifikan bagi kehidupan masyarakat kecil. Problem di Papua dan di banyak tempat, menurut saya, adalah problem ketidakadilan, pemerasan dan peminggiran penduduk lokal. Mereka amat sedikit diberi kemungkinan dan bantuan untuk maju. Mereka dibiarkan tergantung pada pihak lain. Ketergantung mereka memang menjadi “tambang emas” bagi pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan materiil sebanyak-banyaknya. Investasi model ini adalah investasi tanpa nurani. Tindakan seperti ini adalah tindakan yang melawan hukum Allah, atau bahkan melawan Allah sendiri. Karena itu tindakan itu bisa dikatakan sebagai tindakan yang melanggar hak-hak azasi manusia.

Pesta Natal sesungguhnya merupakan tindakan kepedulian dan pembelaan Allah kepada manusia yang martabatnya telah rusak karena dosa. Dosa bisa diakibatkan oleh kesalahannya sendiri, oleh lingkungannya, atau oleh komunitasnya. Perayaan Natal merupakan saat pemulihan martabat, dan penghapusan dosa serta pemulihan hak-hak azasi manusia. Jesus datang bukan untuk orang-orang kristen, karena pada waktu itu tidak ada umat kristen baik katolik mau pun protestan. Dia datang untuk umat manusia.

Maka, setiap kali ada perayaan Natal, manusia digugah dan diminta untuk memulihkan martabatnya, menghentikan perbuatan dosa, dan kembali kepada Allah. Dengan demikian, hidup manusia akan penuh damai, karena tidak ada lagi pelanggaran hak-hak azasi manusia. Yang telah dirugikan mendapatkan santunan, yang diperlakukan tidak adil mendapatkan jaminan hidup yang layak, yang bersalah menerima hukuman yang setimpal. Dan manusia mengalami kedamaian dan kesejahteraan hidup bersama dengan sesamanya, dalam perjalanan ziarah menuju ke surga.

Manusia diciptakan oleh Tuhan yang mahabaik, di dalam hatinya ada begitu banyak kebaikan, berniat untuk hidup baik, diberi rahmat agar berjuang untuk mendapatkan kebaikan yang sejati. Namun, mengapa masih tetap banyak orang yang suka dan berkubang dalam “ketidak baikan (kejahatan) ?

Minggu, 07 Desember 2014

MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM 

SETIAP TANGGAL 8 DESEMBER, UMAT KATOLIK MERAYAKAN PESTA MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA.  DI BANYAK TEMPAT DIRAYAKAN MISA MERIAH UNTUK MENGHORMATI PERISTIWA AGUNG “KEBIJAKSANAAN ALLAH YANG TELAH MEMILIH MARIA UNTUK MENJADI BUNDA YESUS”. PERISTIWA YANG TELAH BERLANGSUNG BERABAD-ABAD LAMANYA INI, DIIMANI OLEH UMAT KATOLIK, NAMUN MASIH BANYAK YANG BELUM MENGETAHUI PENJELASAN TEOLOGISNYA.

SAYA HATURKAN KEPADA PEMBACA TULISAN INGGRID LISTIATI TENTANG HAL YANG PENTING INI. SAYA PERCAYA BAHWA ANDA AKAN MENDAPATKAN PENCERAHAN, DAN SAYA BERHARAP ANDA MENEMUKAN MUTIARA YANG INDAH DI DALAMNYA. SELAMAT MEMBACA. 

Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?


BY INGRID LISTIATI  ON  APOLOGETIK, MARIA

Bunda Maria tanpa noda: apa maksudnya?

Berikut ini adalah cerita yang tidak ada hubungannya dengan Dogma Maria tersebut, tetapi mungkin dapat membantu kita untuk mengerti konsep dasarnya...
Suatu hari, di suatu desa terpencil, ada seorang (sebut saja bernama Sukri) menemukan kloset duduk yang dibuang di dekat jalan kampung. Ia tidak pernah melihat benda itu seumur hidupnya, sehingga tidak tahu kalau itu adalah kloset (jamban). Dia bahkan mengagumi benda itu, karena dipikirnya 'antik'. Sukri membawa pulang kloset itu ke rumah dan dibersihkannya sampai 'kincrong'. Kebetulan esok harinya Sukri berulang tahun dan berencana mengundang teman-teman satu kampung. Dia berpikir, alangkah uniknya jika nasi tumpeng ulang tahunnya diletakkan di dalam 'benda' itu (yaitu kloset), supaya 'penemuan baru'-nya ini dapat dipamerkan kepada teman-temannya.

Sekarang, bayangkanlah, jika anda termasuk di antara orang-orang yang datang ke pesta Sukri. Anda pasti tahu kalau 'barang' itu adalah kloset. Apakah reaksi anda begitu melihat nasi tumpeng yang ditempatkan di dalam kloset itu? Ada rasa aneh dan tidak 'nyambung', bukan? Demikianlah, Yesus yang kemuliaan dan kekudusanNya jauh melebihi semua, tidak mungkin lahir ke dunia melalui seorang perempuan yang berdosa. Karena noda dosa itu jauh lebih buruk daripada kloset, dan Yesus itu kemuliaannya jauh mengatasi dan tidak dapat dibandingkan dengan nasi tumpeng; maka kesimpulannya, ada jurang yang tak terjembatani antara keduanya.

Nasi tumpeng tak pernah klop diletakkan di dalam kloset; dan tentu, Yesus yang Maha Kudus, tak mungkin dapat dikandung oleh rahim seseorang yang tercemar dosa. Maka oleh kuasaNya, Allah menguduskan rahim itu, membuat ia terbebas dari noda dosa. Karena Tuhan tidak dapat mengingkari diri-Nya sendiri yang tanpa dosa, sama seperti Dia tidak dapat menjadi tidak setia (lih 2 Tim 2:13).

Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda

Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.[1]. Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik- kenapa ada perlakuan khusus buat Bunda Maria, bukankah Maria itu manusia biasa saja seperti kita? Lalu, kenapa baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah? Mari kita lihat, kenapa kita sebagai orang Katolik percaya bahwa pengajaran ini berasal dari Allah, dan karenanya wajib kita yakini dan kita syukuri.

Bukan pengajaran 'kagetan' melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama

Gereja Katolik tidak pernah mengubah, menghapus, atau menambah pengajaran "deposit of faith" yang ada padanya sejak dari Gereja awal, namun hanya menjaga dan mempertahankannya. Perlu kita ingat bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bagi orang Katolik itu sama pentingnya, karena berasal dari sumber yang sama: Allah sendiri. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, Bagian 3) Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) yang diteruskan sampai ke jaman Paus Pius IX (abad ke -19), tetapi sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4)[2] dan Santo Agustinus (abad ke-5)[3]dengan dasar pemikiran dari Santo Ireneus (abad ke-2).[4]. Jadi Dogma tersebut bukan pengajaran 'kagetan' atau innovasi dari Paus Pius IX di abad ke-19! 

Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai "Immaculate Conception"

Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa”/ the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“, terutama karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasikan ajaran dari Bapa Paus Pius IX, dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas ajaran Bapa Paus tersebut.

Dasar dari Kitab Suci

Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia 'kebanyakan' seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16), tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia, maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Yesus menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan.

Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati DiriNya sebagai Allah yang Kudus. Mari kita lihat kebesaran Allah melalui apa yang dilakukanNya terhadap Bunda Maria seperti yang ditulis dalam Alkitab.

1.     Bunda Maria disebutkan pada awal mula, sebagai 'perempuan' yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis) (Kej 3:15).

Di sini, perempuan yang dimaksud bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru ('New Eve'). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuatan akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus.[5] Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan 'perempuan ini', seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah 'the woman'(bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan.[6]

Ungkapan 'woman' ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4)[7] dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26).[8]Pada kesempatan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah 'sang perempuan' yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai 'Hawa yang baru'. 'Hawa yang baru' ini berperan berdampingan dengan Kristus sebagai 'Adam yang baru'. Santo Irenaeus, mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria” sehingga selanjutnya dikatakan, "maut (karena dosa) didatangkan oleh Hawa, tetapi hidup (karena Yesus) oleh Maria."[9] Oleh karena itu, sudah selayaknya Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia, dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (lih. Kej 3:15).

2.     Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4).

Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

3.     Bunda Maria dikatakan sebagai 'penuh rahmat' pada saat menerima Kabar Gembira.

Pada saat malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai, '...hai engkau yang dikaruniai', Tuhan menyertai engkau.' (Luk 1:28) ("Hail, full of grace...", - RSV Bible) Kata, 'Hail, full of grace' ini tidak pernah ditujukan kepada siapapun di dalam Alkitab, kecuali kepada Maria.[10] Kepada Abraham yang akan menjadi Bapa para bangsa, ataupun kepada Musa salah satu nabi terbesar, Allah tidak pernah menyapa mereka dengan salam. Kepada Maria, Allah bukan saja hanya memberi salam, tetapi juga memenuhinya dengan rahmat (grace), yang adalah lawan dari dosa (sin). Dan karena dikatakan 'full of grace', maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus, sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekalipun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal.


4.     Dasar dari Kitab Wahyu

Kita mengetahui dari Kitab Wahyu, bahwa Bunda Maria-lah yang disebut sebagaiperempuan yang melahirkan seorang Anak laki-lakiyang menggembalakan semua bangsa... yang akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi 'daerah kekuasaan Iblis'.

Dasar dari Tradisi Suci

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyatakan bahwa Bunda Maria tidak bernoda:
1.     St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa]mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, ... Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa]mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia.... Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[11]

2.     St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”[12]

3.     Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu satunya”[13].

4.     Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu...[14]

5.     St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjianyang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”[15]

6.     Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa."[16].

7.     St. Gregorius Nazianza (390): Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti ia yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar. [17]

8.     St. Augustine (415): Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika ia kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa[18]

9.     Theodotus (446): "Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri." [19].

10.                        Proclus dari Konstantinopel (446): "Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.[20]

11.                        St. Severus (538): "Ia [Maria] ...sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda."[21]

12.                        St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”[22]


Jika Maria tanpa noda dosa, apakah dia membutuhkan Kristus untuk menyelamatkannya?

Jawabnya tentu: YA! Karena segala keistimewaan yang diberikan kepadanya hanya mungkin diperoleh melalui Keselamatan yang diberikan oleh Kristus sendiri. Duns Scotus (1264- 1308) seorang Franciskan mengatakan hal ini dengan indahnya, "Malah Maria, melebihi siapapun membutuhkan Kristus sebagai Penyelamatnya, sebab ia dapat tercemar oleh noda dosa asal seandainya rahmat dari Sang Penyelamat tidak mencegah hal ini."[23] Keistimewaan rahmat yang membuat Maria dibebaskan dari noda dosa asal adalah bentuk penghormatan Yesus kepada Maria ibu-Nya, sesuatu yang menjadi hak-Nya sebagai Tuhan.

Apa pentingnya Dogma ini buat kita?

Bunda Maria yang tidak bernoda, tubuh dan jiwanya, tidak dimaksudkan 'hanya' untuk melukiskan keistimewaan Maria, tetapi untuk memberi gambaran bagi Gereja.[24] Seperti Maria, Gereja juga dikatakan sebagai 'tidak bernoda.' Hal ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa Kristus akan menempatkan Gereja di hadapanNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut ...supaya GerejaNya kudus dan tidak bercela" (Ef 5:27). Jadi, kita sebagai anggotaGereja diajak untuk melihat Maria sebagai teladan. Kita harus berjuang 'mengalahkan' bujukan Iblis setiap hari, dengan mengandalkan kekuatan Roh Kudus.

Kesimpulan:

Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal (Ineffabilis DeusThe Immaculate Conception) adalah pengajaran yang berdasarkan atas kebijaksanaan Allah yang tak terselami, yang membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, sebab ia telah dipilih Allah sejak semula untuk menjadi Ibu PuteraNya Yesus Kristus. Pengajaran yang telah berakar lama dalam Gereja ini mengajak kita untuk melihat Bunda Maria sebagai teladan kekudusan, agar kitapun dapat berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan rahmat Tuhan. Jadi fokus utama dogma ini bukan semata- mata untuk meninggikan Maria, tetapi untuk menyatakan kerahiman Tuhan yang tiada terbatas untuk menguduskan Maria sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus di dunia ini. Karena itu, Maria adalah model bagi Gereja dan teladan bagi kita masing-masing dalam hal kekudusan.


CATATAN KAKI:

1.     Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang bunyinya antara lain sebagai berikut: Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: "Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusiadibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman." []
2.     Santo Ephraem dalam "Nisibene Hymns", 27, (dikutip dan diterjemahkan dari bukuThe Teachings of the Church Fathers, ed. John R Willis, S.J., Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 361) menulis, "Sungguh Engkau, Tuhan, dan BundaMu adalah hanya satu-satunya yang cantik sempurna di dalam segala hal; sebab, Tuhan, tidak ada noda di dalam-Mu dan jugatidak ada noda apapun di dalam BundaMu…" []
3.     Santo Agustinus, dalam "On Nature and Grace", Chap. 36:42, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, Ibid., h. 265) menulis, "Kita harus menerima Perawan Maria yang kudus, tentangnya saya tidak akan pernah mempertanyakan jika kita membahas tentang dosa, karena hormatku kepada Tuhan, sebab dari Dia kita tahu akan betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa sampai sekecil- kecilnya, telah diberikan kepadanya(Bunda Maria) yang telah dipercayakan untuk mengandung dan melahirkan Dia (Yesus) yang sudah pasti tidak berdosa…" []
4.     Santo Irenaeus, dalam "Against Heresies, V, The New Creation in Christ" (dikutip dan diterjemahkan dari buku Early Christian Fathers, ed. Cyril C. Richardson, Touchstone, Simon & Schuster, NY, 1996) hl. 389-390, menyebutkan Maria sebagai Hawa yang baru, "Seluruh umat manusia berada dalam kuasa maut melalui perbuatan seorang perawan (Hawa), maka seluruh umat manusia juga diselamatkan melalui seorang perawan (Maria, Hawa yang baru) dan karenanya, ketidaktaatan seorang perawan diimbangi oleh ketaatan perawan yang lain." Dari sini, para Bapa Gereja menyimpulkan bahwa ketaatan total Maria dimungkinkan oleh ketotalan kemurniannya tanpa dosa asal. []
5.     John R Willis, S.J. ed., The Teachings of the Church Fathers, Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 356 []
6.     "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kej 3:15). []
7.     John 2:4, RSV Bible, "Woman, what have you to do with me? My hour has not yet come." Diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, "Mau apakah engkau dari pada-Ku,ibu? Saatku belum tiba." []
8.     John 19:26-27, RSV Bible, "When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother, "Woman, behold, your son! Then he said to the disciple, "Behold, your mother!" diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, "Ibu, inilah anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: "Inilah ibumu!" []
9.     Lihat Lumen Gentium 56, S. Ireneus, "dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia" Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: "Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya" Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria "bunda mereka yang hidup". Sering pula mereka (St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: "maut melalui Hawa, hidup melalui Maria." []
10.          Lihat, Defining the Dogma of the Immaculate conception, Ineffabilis Deus, par. The Annunciation, "They (the Church Fathers) thought that this singular and solemn salutation, never heard before, showed that the Mother of God is the seat of all divine graces and is adorned with all gifts of the Holy Spirit…" []
11.          Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24 []
12.          St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me []
13.          Origen, Homily 1 []
14.          St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8 []
15.          St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216 []
16.          St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599 []
17.          St. Gregorius, Sermon 38 []
18.          St. Augustine, Nature and Grace 36:42 []
19.          Theodotus, Homily 6:11 []
20.          Proclus, Homily 1 []
21.          St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350 []
22.          Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali []
23.          Diterjemahkan dari New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, Washington D.C., 1967, Book VII, p. 381. []
24.          Lihat Hugo Rahner, SJ, Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, Bethesda, 1968, reprint 1990), p. 17, "But this mystery of the Immaculate Conception of Mary is not only a personal priviledge granted to her who was to become the Mother of God. Mary thereby become the figure of the Church…" and p. 20, "The word 'immaculate' indeed sums up the mystery of our own spiritual life. We are members of the Church, and in us the Church's mystery must be accomplished; it begins with Mary Immaculate, and we in turn, by the power of the Holy Spirit, must once more become immaculate. In each of us the victory over the serpent must be achieved…." []