Minggu, 10 April 2016

OLEH-OLEH DARI CAMBODIA

OLEH-OLEH KECIL DARI CAMBODIA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Beberapa waktu yang lalu, saya diutus KWI untuk menghadiri pertemuan di Cambodia tentang “Women and Ecology” bersama dengan 2 rekan lainnya.  Pengenalan sekilas di negara ini, tentu saja tidak sempurna, tentang apa yang saya dengar dan saya lihat, saya tulis untuk anda. Semoga ada inspirasi yang dapat anda petik.

Negara Cambodia:

Penduduknya: 15 juta. Pada umumnya beragama budha.  Jumlah kaum muda:  22%.  Jumlah anak di bawah umur 15 tahun: 39 %.  Total kaum muda dan anak-anak: 61 %. Jumlah Umat Katolik: 20.000  dan tersebar di Vikariat Apostolik Phnom Phen, Prefektur Apostolik Battambang, dan Prefektur Apostolik Kompong Cham.  Dari jumlah tersebut, orang Cambodia: 5.000  dan orang Vietnam: 15.000.  Dari data ini, menjadi amat jelas bahwa jumlah umat katolik yang sungguh-sungguh asli Cambodia hanya sedikit ( 0,03 persen) dari total penduduk Negara Cambodia.

Mata pencaharian penduduk Cambodia adalah petani dan nelayan. Mereka tinggal di desa-desa dan kampung-kampung dengan penghasilan rata-rata 3 USD ( Rp. 39.000 ) sebagai buruh kasar. Negara ini menduduki peringkat ke 133 dari antara 177 negara miskin di Asia.  Kebanyakan yang bekerja sebagai buruh kasar adalah orang-orang Vietnam. Orang Cambodia sendiri lebih suka bekerja sebagai petani, atau pergi ke Thailand supaya mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Mata uang yang beredar di negara ini:  bath (Thailand), USD ( dollar Amerika ) dan riyel ( Khmer - Cambodia).  USD 1 = 4.000 riyel.

Masa lalu: 

Selama 30 tahun ( 1978 -  2008), negara ini mengalami penderitaan besar. Pembantaian (genocide) di bawah Regim Pol Pot terjadi tahun 1978-an.  Tidak terhitung jumlah orang yang menjadi korban.  Orang-orang yang menderita akibat terkena ranjau dan masih hidup juga tidak terhitung. Di banyak tempat, ranjau-ranjau itu masih ada.  Beberapa tahun sebelumnya ( 2008 – 2013) korban ranjau per tahun sekitar 200 – 300 orang. Pada saat ini ( 2015 - ) diperkirakan setiap tahun masih ada sekitar 100 orang yang menjadi korban ranjau. 

Pada masa itu, masyarakat mengalami perlakuan yang kejam dan penderitaan yang luar biasa karena perlakuan yang sewenang-wenang dari pemerintah mereka sendiri. Mereka kelaparan, mengalami kemiskinan yang menyedihkan dan mudah sekali kena penyakit karena kurang gizi. Bapak, ibu bahkan anak-anak dibantai di hadapan anggota keluarga mereka. Anak-anak dipisahkan dari orangtuanya. Banyak sekali anak-anak yang kehilangan orangtuanya, dan tidak tahu di mana rimbanya. Dan ketika mereka sudah menjadi orangtua pun, ayah-bunda, dan sanak saudara mereka tetap tidak diketahui keberadaannya. Semuanya tinggal kenangan hitam dalam hidup mereka.  Tempat-tempat ibadah, gedung-gedung gereja dan kehidupan komunitas, dihancurkan.  Di banyak tempat, ditemukan kuburan-kuburan massal. Di sana ada ratusan tengkorak manusia yang tidak diketahui namanya.

Di Phnom Phen ada sebuah bekas penjara. Penjara itu sebelumnya adalah gedung sekolah, kemudian dipakai oleh regim Pol Pot sebagai tempat penahanan guru-guru, pegawai pemerintah, masyarakat biasa dan anak-anak. Setelah ditangkap, ditanyai dan dipotret, mereka dipenjarakan. Di tempat itu mereka disiksa, dipukul, diborgol kakinya dan tidak diberi makan dan minum setiap hari. Makan diberikan setiap 2 – 3 hari. Mereka tidak boleh berbicara dengan sesamanya. Bila melawan, mereka dipukul. Mereka hanya pakai celana pendek, dan mandi 1 minggu sekali. Sepanjang hari bila tidak ada kegiatan lain, mereka duduk di lantai, dan kedua kakinya diborgol. Mereka mandi dengan cara disemprot air dari jendela penjara. Maka pada masa itu, ribuan penduduk sipil mati di dalam penjara itu.

Turis-turis yang bertandang ke penjara itu, akan melihat ribuan foto dari orang-orang yang disiksa dan mati pada masa itu, kamar-kamar yang sempit, borgol besi, bangsal yang dipakai sebagai tempat tidur dll. Di simpan di saja, alat-alat yang dipakai untuk menyiksa. Sebagian dari bekas penjara itu masih tetap seperti dulu, namun sebagian yang lain telah direnovasi. Di halaman depan dari bekas penjara itu, ada prasasti yang memuat nama-nama orang yang dibunuh.

Masa Kini: 

Sesudah regim Pol Pot berakhir, secara berangsur-angsur negara ini dibangun kembali.  Kota-kota mulai tumbuh. Phnom Phen dan Siem Reap telah menjadi kota turis. Di dua kota besar itu, ada bandara internasional. Banyak orang dari manca negara berkunjung ke tempat ini. Banyak juga negara-negara lain yang menjadi donor tetap untuk membangun infrastruktur, memulai pertanian dan perkebunan, pendidikan dan kesehatan.  Banyak lembaga, para investor dan pengusaha-pengusaha lokal berupaya untuk membangun bangsa ini. Kebangkitan sudah dimulai dan dirasakan oleh masyarakat. Keamanan juga terjamin. Umat katolik dan Pimpinan Gereja sudah diperbolehkan untuk memulai karya sosial, pendidikan dan kesehatan serta karya-karya kemanusiaan lainnya.

Banyak hotel, restoran, toko-toko besar telah ada di banyak kota. Alat-alat transportasi dan komunikasi, kelancaran perjalanan, dan sungguh bisa dirasakan. Kerja sama antar negara juga makin meningkat. Hal ini tentu amat membanggakan. Memang masih ada banyak proyek besar yang sedang digarap pemerintah dan para kontraktor. 

Kemarau amat panjang sedang melanda negeri ini. Di mana-mana sepanjang perjalanan dari bandara sampai ke tempat pertemuan, lahan-lahan pertanian tampak kering. Air amat sulit, apalagi suhu di sebagian besar wilayah berkisar 39 – 41 derajat.  Kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan pangan amat dirasakan oleh masyarakat kecil. Ada sebuah danau besar yang menjadi sumber air minum, namun letaknya amat jauh dari pemukiman penduduk, sehingga perlu saluran-saluran air untuk mengalirkan pasokan air kepada masyarakat. 

Di relung sanubari saya, muncul rasa sedih, iba, tetapi juga seribu satu gejolak yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.  Yang meyakini bahwa tragedi kemanusiaan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Manusia sebagai ciptaan Allah sesungguhnya dipanggil untuk menolong sesamanya yang menderita, namun amat sering yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan yang lebih menyedihkan, tragedi kemanusiaan itu disebabkan oleh bangsa atau masyarakat kepada orang-orang dari kalangan mereka sendiri.  

Saya hanya bisa berdoa dan berharap, melakukan upaya-upaya serta menyuarakan agar perkembangan ilmu, teknologi dan pengetahuan, komunikasi dan dialog yang diterjadi di bumi ini, tidak menumpulkan dan membungkam hati nurani.  Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi akal budi dan berhati nurani, serta diutus untuk membangun dunia ini menjadi tempat yang indah, nyaman dan manusiawi bagi semua orang.Tidak ad

Sabtu, 09 April 2016

PENGALAMANKU TENTANG LEGIO MARIA

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM DAN SELAMAT PASKA

MELALUI TULISAN INI, SAYA MENJUMPAI ANDA KEMBALI. SAYA SAJIKAN TULISAN SAYA TENTANG LEGIO MARIA....... MOGA-MOGA ANDA MENEMUKAN INSPIRASI DI SANA. SELAMAT MEMBACA.

LEGIO MARIA : KERASULAN KERAHIMAN TANPA IMBALAN

Beberapa teman seangkatan saya,  setiap hari Selasa sore, kumpul di suatu ruangan tertentu dan berdoa bersama. Mereka jumlahnya agak tetap, dan dipandu oleh salah seorang rekan mereka. Saya tidak mengenal “kegiatan mereka itu seperti apa dan dengan ujud apa ?”.  Saya betul-betul tidak mengerti. Yang saya tahu bahwa mereka membawa rosario. Dan ketika melewati gang di dekat ruangan itu, saya mendengar bahwa mereka sedang mendaraskan doa Salam Maria. Beberapa waktu kemudian, barulah saya diberitahu bahwa mereka adalah Kelompok Legio Maria (LM).

Peristiwa itu terjadi tahun 1976. Waktu itu, saya adalah anak remaja, yang sedang studi di Seminari Mertoyudan – Magelang, karena bercita-cita mau menjadi imam. Saya baru mendengar nama LM saja. Sampai saya tamat SMP saya tidak pernah kenal kegiatan LM dan tidak pernah ikut kegiatan itu. Ketika liburan, saya sebagai anak seminari diajak romo ke stasi-stasi. Di stasi Slawi, ada mudika yang kumpul-kumpul. Ternyata mereka adalah anggota LM. Saya hanya kenal nama, dan tidak lebih dari itu. Ketika kembali ke Seminari setelah liburan selesai, saya pun tidak punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok LM.

Tahun 1985 saya diminta untuk menjadi pendamping rohani LM remaja paroki St. Petrus Pekalongan. Saya diberi buku pegangan, dan mulai mempelajari apa dan bagaimana LM itu. Istilah-istilah baru: doa Tesera, alocutio, presidium, kuria, kantong rahasia, dan laporan kegiatan dari masing-masing anggota dll menjadi santapan wajib, ketika mempersiapkan diri untuk membina mereka. Ternyata dengan membina mereka, saya juga membina diri sendiri.  Sekitar  9 bulan, saya dibina dan diperkaya oleh LM remaja ini.  Sesudah itu, bisa dikatakan, saya tidak pernah terlibat lagi pada kegiatan rohani ini.  Meski demikian, rasa simpati pada LM sudah tertanam di hati saya.

Tahun 2001 – 2003, saya diberi kepercayaan untuk menjadi pastor paroki katedral Merauke.  Di paroki ini waktu itu, ada 2 kelompok LM:  presidium Pohon Sukacita dan presidium Ratu Semesta Alam. Mereka memilih hari tertentu untuk doa mingguan. Pelayanan di penjara, di rumah sakit, untuk kaum lansia di rumah-rumah, menghias altar gereja paroki, dan menghitung uang kolekte adalah sebagian dari pelayanan para legioner. Mereka telah bekerja dengan setia bertahun-tahun lamanya, tanpa upah. Di masing-masing kelompok LM, saya masih menemukan orang-orang yang sama.  Mereka bertahan dalam keragaman, keunikan, perbedaan usia, ketrampilan, dan keutamaan, serta terus bertekad untuk tetap utuh dalam kesatuan dan kerukunan. Artinya, di dalam kelompok dan kegiatan LM, para legioner menemukan dan mengalami kasih Allah melalui sesama anggota mereka. Mereka membagikan kerahiman Allah kepada sesama legioner, dan kepada mereka yang sering kurang terlayani.

Sebagai uskup, saya pernah beberapa kali menerima kunjungan dari rekan-rekan Senatus LM dari Malang. Bahkan saya menyempatkan diri untuk hadir dalam pertemuan istimewa dengan para petinggi presidium LM di Merauke. Suasana tenang, akrab, simpatik dan kesederhanaan amat terasa. Waktu itu, pertemuan dilaksanakan di salah satu sudut gedung katedral yang lama. Beberapa kali pula saya menerbitkan surat keputusan atau surat rekomendasi.  Di dalam suasana yang demikian, saya berharap para legioner mendapatkan “makanan rohani” dan tergugah untuk terus menciptakan suasana itu.  Di sisi lain, komunikasi yang makin baik dan lancar, rasa solider, berani memberi dan berani memulai untuk membuat langkah yang baik demi pelayanan perlu disadari dan ditingkatkan.

Pernah pada suatu ketika, sekitar 5 tahun yang lalu, mereka ada konflik internal. Cukup lama mereka tidak saling menyapa.  Sementara itu, batin mereka mendorong masing-masing untuk memahami yang lain dan untuk  saling memaafkan. Dialog pun terjadi, sehingga mereka bisa berjalan dan bergerak bersama-sama lagi. Itulah dinamika kehidupan. Ada kesalahan, kekurangan dan kekeliruan dalam pergaulan dan persekutuan di mana saja.  Namun, keberanian untuk duduk bersama lagi dan saling memahami serta memaafkan adalah karunia besar yang harus tetap ada di antara para legioner.  Hal itu saya lihat dan saya alami di kalangan legioner Merauke.

Mengunjungi saudara-saudari di penjara, di rumah sakit dan melayani para lansia, menghitung uang kolekte, menghias altar tetap mereka laksanakan hingga hari ini. Kunjungan dan pelayanan kepada saudara-saudari yang non katolik pun ( yang beragama islam, hindu, budha dan protestan) mereka jalankan.  Juga mereka memperhatikan legioner yang ada di luar kota dan kini telah menjadi presidium yang baru.  Mereka melakukannya dengan rela, dan juga bukan karena mau mencari pujian. Semua itu merupakan tanda bahwa mereka mau meneruskan dan menghadirkan kasih dan kesetiaan Allah melalui Bunda Maria yang hadir dalam diri mereka. Sekian tahun lamanya mereka melayani tanpa menuntut imbalan. Saya belum pernah mendengar bahwa mereka menyesal telah menjadi legioner.

Maka pada kesempatan ini, saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada para pioner LM di Merauke, mereka yang tetap setia menjadi legioner dan mereka yang telah pensiun karena kesehatan mereka tidak memungkinkan mereka aktif seperti dulu. Saya juga mengucapkan proficiat dan salam bahagia kepada Senatus Malang yang turut memperhatikan dan ambil bagian dalam “membina dan meneguhkan persekutuan para legioner Merauke”. Kepada seluruh legioner, para pengurus, romo, dan bruder serta suster pendamping, saya ucapkan selamat berbahagia. Anda sekalian telah menjadi “rasul kerahiman” tanpa gembar-gembor dan tanpa tanda jasa. 


Merauke, 8 April 2016

Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC 

Jumat, 25 Maret 2016

BENAGUL

PARA PEMBACA YANG BUDIMAN 
SYALOOM 

Pada pertengahan Desember 2015 yang lalu, saya mendapat tamu istimewa. Dia adalah seorang penulis handal. Sudah banyak tulisannya dipublikasikan dan menjadi bahan bacaan bagi banyak orang. Waktu itu, saya membutuhkan seseorang yang sanggup dan siap menulis fakta-fakta sejarah dan para pelaku sejarah yang telah turut berperan dalam membangun “peradaban dan kehidupan di wilayah selatan Papua ini”.

Selama hampir 3 minggu, dia mendedikasikan dirinya untuk mengumpulkan cerita-cerita dari para tua-tua dan pensiunan serta mereka yang ada kaitannya dengan pekerjaan awal / misionaris di wilayah ini. Sebelum kembali ke Jakarta, sang penulis menyebut “benagul”. Tidak pernah saya sangka bahwa ada benagul yang ternyata punya andil besar dalam pembangunan umat dan masyarakat Merauke.  Istilah “benagul” sejak saat itu mengiang-ngiang di telinga saya. Saya terdorong untuk mengenali lebih jauh siapa dan apa yang mereka buat.

Awal Maret 2016, sang penulis ternyata telah berhasil menyusun sebuah buku kenangan sebagai bagian dari sejarah peradaban di Papua Selatan. Saya sudah mendapat beberapa eksemplar tetapi belum sempat membaca isinya. Para benagul juga mendapat kiriman buku-buku itu melalui saya karena saya yang membawanya dari Jakarta.  Judul buku tersebut adalah:  RESTORASI MISI KATOLIK di Kepulauan Maluku  1888 - 1994. Mereka dengan sukacita menerima buku-buku itu, dan meminta saya untuk bertemu dengan para benagul.  Pertemuan dengan mereka pun terjadi pada hari Rabu, 23 Maret  2016 di wisma uskup.

Pada pertemuan itu, mereka mengucapkan terima kasih atas buku-buku yang telah mereka terima, dan kepada bapak Frits Pengemanan yang telah menyusun buku itu.  Selanjutnya mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada 3 Uskup yang telah mengutus orangtua mereka untuk menjadi misionaris di Papua ( pada waktu itu disebut Irian Barat ). Nama ketiga uskup tsb adalah Mgr. Johanes Aerts MSC ( Uskup Amboina wafat 30 Juli 1940 pada masa pendudukan Jepang), Mgr. Jakobus Grent MSC (uskup Amboina 1941 – 1965) dan Mgr. Herman Tillemans MSC ( Uskup Agung Merauke 1950 - 1972).  Rencana syukuran akan dilaksanakan tanggal 30 Juli 2016, sekaligus mengingat hari wafatnya Mgr. Johanes Aerts MSC.  

Mereka juga sudah menyusun suatu cerita ketika mereka tinggal di asrama. Bentuk bangunan asrama pada waktu itu adalah rumah panggung. Karena itu, kumpulan tulisan mereka disebut “Drama Kehidupan di Rumah Panggung”.  Nama asrama itu sesungguhnya Mgr. Henry Verius MSC, uskup di Port Morestby - Papua Nugini pada waktu itu.  Mungkin pula beliau pernah berkunjung ke Merauke. Saya diminta untuk membuat kata pengantar pada buku / kumpulan tulisan itu.  Kata pengantar saya itu, saya tampilkan di blog ini untuk anda.

Kepada bapak Frits Pengemanan yang telah membantu saya menuliskan fakta sejarah dan perkembangan peradaban di Papua Selatan ini, saya ucapkan banyak terima kasih.  Dialah penulis buku yang saya maksudkan pada awal uraian saya ini. Dan kepada anda sekalian, para pembaca budiman, saya ucapkan ........selamat membaca.


KATA PENGANTAR

Drama Kehidupan di Rumah Panggung merupakan  ceritera / ungkapan pengalaman dari para mantan penghuni rumah panggung.  Rumah Panggung adalah sebutan nostalgia  atas asrama putra yang diasuh oleh para bruder dan kaum awam katolik. Wujud bangunan asrama pada waktu itu adalah “rumah panggung” yang letaknya di pendopo / bagian depan pintu utama gereja katedral Merauke sekarang. 

Para penghuni asrama ini adalah anak-anak para guru, katekis, tukang kayu, petugas kesehatan, petugas perkebunan dll yang diutus untuk bekerja di pedalaman, supaya mereka bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang memadai. Pembinaan di asrama yang mereka alami, telah memungkinkan mereka menjadi manusia-manusia berkualitas yang telah ambil bagian dalam pembangunan umat dan masyarakat di banyak wilayah selatan Papua ini. Mereka menyebut diri Komunitas Benagul ( bekas nasi gula ) karena makanan mereka sehari-hari lebih sering adalah nasi yang diberi gula. Makanan yang sederhana itu tidak menyurutkan masa pendidikan mereka, sehingga mencapai taraf yang mencukupi untuk berkarya.  Mereka kini tinggal 20-an orang yang masih aktif dalam kegiatan bermasyarakat, sedangkan yang lain sudah sakit-sakitan, dan yang lain lagi sudah meninggal.

Dengan bantuan buku / tulisan ini, para pembaca dapat menemukan dan belajar tentang:
1.        model / situasi kehidupan  serta fasilitas pembinaan asrama pada waktu itu
2.       jumlah pembina dan visi – misi pembinaan yang berkesinambungan
3.       fakta-fakta kehidupan dan data-data Sejarah Gereja Katolik di Papua Selatan yang dapat melengkapi “sejarah yang sudah ada”
4.       pengorbanan para misionaris baik awam maupun bruder dan petugas lainnya demi perkembangan peradaban manusia di wilayah ini

Melalui tulisan ini, saya hendak mengucapkan terima kasih dan apresiasi saya kepada penulis / penyusun buku kenangan ini, sehingga kehidupan di asrama pada waktu itu yang dahulu kabur, kini telah menjadi lebih terang. Buku / tulisan ini dapat merupakan kenangan tertulis sekaligus ajakan / undangan kepada  pembaca atau penulis lain untuk menelusuri lebih lanjut dan melengkapi apa yang masih harus disempurnakan.

                                                       Merauke, 25 Maret 2016
                                                         Uskup Agung Merauke

                                               Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC

Kamis, 25 Februari 2016

PEKERJAAN RUMAH TANGGA

PEMBACA YANG BUDIMAN

SAYALOOM

Saya haturkan cerita ini untuk anda. Cerita ini merupakan kisah nyata dan terjadi belum lama ini ( 19 Februari 2016 ). Semoga anda termotivasi dan memperoleh pencerahan ketika membacanya. Selamat menikmati.

Mengepel, menyapu, menyiapkan pakaian, menyiram bunga sebetulnya adalah pekerjaan yang biasa dan ringan.  Semuanya itu adalah pekerjaan rumah tangga. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Tidak perlu kursus tertentu. Semua orang, bahkan anak SD pun bisa melalukannya. Alat-alat yang dipergunakan juga biasa dan sederhana, bisa didapat di mana-mana. Kalau dikerjakan sendiri, tentu tidak perlu biaya. Kalau minta tolong orang lain pun ongkosnya murah. Maka, kalau pemilik rumah tidak bisa melakukan pekerjaan ini sendiri, dia bisa minta bantuan orang lain. Itulah sebabnya orang lain yang pekerjaannya membantu melakukan pekerjaan ini disebut pembantu rumah tangga (PRT). Karena tidak perlu / menuntut keahlian tertentu, tidak perlu sekolah, dan tidak perlu mikir banyak, hanya perlu tenaga saja, pembantu rumah tangga pada umumnya dibayar / diberi upah yang murah.

Mereka yang punya pekerjaan banyak dan tidak bisa melakukannya sendiri, sering butuh PRT lebih dari 1 orang. Itulah sebabnya, rumah, kebun, dapur, cucian dan ruangan-ruangan lainnya bisa teratur, rapih dan bersih. Tamu-tamu dan sehabat kenalan yang berkunjung ke rumah mereka, ikut menikmati keindahan, keteraturan dan kebersihan rumah itu. Mereka bergembira bisa melepaskan lelah, bergurau, menikmati hidangan yang disajikan, memandang kebun dan halaman yang bersih dan indah. Semuanya itu berkat  sentuhan tangan dan ketekunan para PRT.

Tidak mengherankan bahwa bila para PRT ini libur atau pulang kampung lebih dari 3 hari,  mereka yang terbiasa dibantu PRT amat repot. Mereka amat berharap bahwa para PRT yang sudah mereka kenal dan bekerja dengan baik, segera kembali dan bekerja seperti biasa. Paling tidak, pada waktu-waktu seperti itu, banyak aktivitas yang terpaksa ditunda / dikurangi.  Bahkan ada juga yang “berani mengeluarkan biaya ekstra untuk membayar para PRT pengganti” supaya pekerjaan mereka bisa tetap berjalan dengan normal dan lancar. Tidak jarang pula bahwa di banyak tempat ada para PRT yang mengalami KDRT, dimarahi, dipotong atau tidak dibayar gajinya, dan ditelantarkan. Kisah tentang mereka ini, bisa dibaca di koran atau banyak kali ditayangkan di televisi.

Menjadi PRT sering kali adalah pilihan terakhir bagi mereka yang sudah kesulitan untuk mencari pekerjaan, tetapi banyak juga merupakan pilihan utama, karena mereka ini tidak punya ketrampilan dan pengalaman apa-apa.  Mereka mau menerima upah berapa pun jumlahnya, bahkan ada yang bertahan meskipun diperlakukan kasar dan tidak adil, karena mereka butuh uang untuk hidup. Mereka mendiamkan saja apa yang mereka alami, demi hidup dan kehidupan orang-orang yang mereka cintai.

Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk berjiwa melayani seperti selalu ditelandankan kepada mereka. Dia mengatakan: “ Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." ( Mat 2 0:28).  Melakukan pekerjaan  dan kegiatan apa pun dan di mana pun, jiwa / semangat yang mendorong mereka adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Di mata Tuhan, apa yang mereka kerjakan dengan sukacita atau dengan bersungut-sungut kepada sesama, sesungguhnya mereka lalukan secara langsung kepada Tuhan.  

Ada pertanyaan tentang hubungan pelayanan kepada sesama dan kepada Tuhan: “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?  Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?  Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” ( Mat  25: 37- 40).

Para guru, bidan, perawat, dokter, biarawan-biarawati, imam, petugas gereja, bahkan uskup sering mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga. Keadaan setempat, medan pelayanan, kebutuhan dalam perjalanan sering menuntut mereka “harus tahu dan harus bisa melakukan serta harus mau banyak hal”. Kalau tidak demikian banyak hal akan terhambat, atau malah tidak dikerjakan sama sekali.  Demi umat Allah yang demikian banyak dan tersebar di tempat-tempat terpencil “membekali diri dengan banyak pengetahuan dan ketrampilan serta didorong oleh semangat pelayanan tanpa pamrih” merupakan semangat dasar yang perlu dimiliki. Hal yang demikian ini akan membuat hidup ini menjadi indah, penuh sukacita dan pelayanan akan berjalan lancar serta selesai pada waktunya.


 (Keterangan foto: Mgr. Alo Murwito OFM - uskup Agats - sedang membereskan jas-jas hujan yang sebelumnya dipakai oleh para tamu). 



Melakukan pekerjaan PRT ternyata menyenangkan dan membuat hidup ini sederhana, menarik dan membahagiakan. Bahkan dalam keadaan-keadaan yang luar biasa, dia bisa membantu dan meringankan beban orang lain yang membutuhkan pertolongan. Dengan melakukan pekerjaan itu, sesungguhnya orang itu  membekali, memperkaya dan meneguhkan semangat / keutamaan-keutamaan dalam dirinya, dan menjadi “tabah / tahan uji” ketika mengahadapi kesulitan atau tantangan. 

Selasa, 23 Februari 2016

AMA

PEMBACA YANG BUDIMAN

Syaloom

Salam dan jumpa lagi. Saya menyapa anda kali ini, dengan sebuah cerita tentang pesawat....... Selamat menikmati.

AMA adalah nama pesawat di tanah Papua, dan dikelola dibawah bendera PT. AMA. Sudah lebih dari  50 tahun pesawat-pesawat AMA melayani tanah Papua, terlebih untuk daerah-daerah terpencil dan belum ada jalan darat. Mula-mula pelayanannya terbatas untuk pelayanan kegiatan gerejawi, namun dalam perkembangannya seiring dengan kebutuhan transportasi udara dan masyarakat luas, AMA melayani juga penerbangan yang dibutuhkan oleh pemerintah dan masyarakat.


Ijin penerbangan utk pesawat-pesawat milik PT AMA sudah diterbitkan oleh Dirjen Perhubungan Udara RI, tanggal 28 Desember 2015 yang lalu. Ijin ini memungkinkan pesawat-pesawat AMA terbang ke mana saja. Tentu hal itu disesuaikan dengan route / trayek yang ditetapkan utk masing-masing pesawat. Yang jelas, kalau dulu PT AMA hanya melayani Papua, sekarang ini dengan ijin yang baru, bisa melayani penumpang dan barang baik di dalam maupun di luar negeri. 

Maka pantas ijin itu selain pantas disyukuri, adalah berkat Tuhan yang diterima oleh PT AMA, pemiliknya dan seluruh masyaarakat Papua pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Pesawat-pesawat AMA akan terbang ke banyak tempat utk melayani maasyarakat, tanpa membedakan agama, suku, bahasa, wilayah dll. Bahkan ke tempat-tempat yang sulit dan tidak menghasilkan keuntungan, demi martabat dan kehidupan masyarakat di daerah itu, pelayanan AMA tetap dilaksanakan. 

PT AMA melayani siapa saja, baik swasta, perorangan, maupun pemerintah. Pelayanan kepada orang sakit dan angkutan untuk orang meninggal juga diberikan. Dengan demikian, penerbangan ini selain untuk memperlancar masuk-keluarnya manusia, barang dan jasa, juga memungkinkan perkembangan peradaban dan kehidupan manusia. 

PT AMA turut andil dalam perkembangan itu, dan secara tetap serta berkelanjutan bertahan pada misi pelayanan ini. Tentu saja, bukan semata-mata karena misi itu adalah pilihan, tetapi lebih dari itu PT AMA mempertahankan "kepercayaan" yang selama ini diberikan oeh masyarakat dan pemerintah. PT AMA identik dengan "tepat waktu, aman, tertib, kepastian harga tiket". Pada saat liburan atau hari raya, ketika pada umumnya harga tiket cenderung naik, harga tiket AMA tetap stabil. 

Maka, kami juga turut bangga dan bahagia atas tekad AMA utk tetap bertahan padaa misi itu. Semoga lewat pelayanan penerbangan ini, umat dan masyarakat serta pemerintah melihat dan mengalami bahwa sesungguhnya Allah sendiri yang melayani mereka. 
 

Rabu, 10 Februari 2016

104 POHON PISANG

PEMBACA YANG BUDIMAN

SYALOOM

Saya haturkan untuk anda, cerita ringan ini yang saya dapatkan hari ini (Rabu, 10 Februari 2016). Selamat membaca. 

Sebelum meninggalkan Muting ( pusat kecamatan Muting, jaraknya kira-kira 240 km di sebelah timur laut Merauke ), saya diberi 8 pohon pisang oleh NR. Delapan pohon itu dipisahkan dari induknya pagi-pagi menjelang keberangkatan saya. Seorang penjaga kebun dengan sigap membersihkan batang-batang pohon itu dari lembaran dedaunan, sehingga yang saya bawa melulu batang dan bonggolnya.

Dari Muting, dalam perjalanan pulang saya singgah ke Bupul. Jaraknya kira-kira 200 km dari Merauke. Di Bupul saya mengadakan misa kudus, sehubungan dengan perayaan Rabu Abu. Banyak umat yang hadir, juga anak-anak begitu banyak. Supaya tempat duduk untuk orang-orang dewasa cukup, anak-anak saya minta duduk di lantai di panti imam. Jumlah mereka kurang lebih 100 orang. Anak-anak itu umumnya tertib, sesekali mereka bercerita dengan teman-teman mereka, namun tidak begitu mengganggu jalannya ibadah.

Meskipun Rabu Abu adalah hari pantang dan puasa, homili saya pada kesempatan itu berbicara tentang perlunya persiapan makan dan minum untuk keluarga. Pada umumanya masyarakat amat tergantung pada alam. Semuanya didapat dengan mudah di alam, sehingga mereka kurang berani berpikir dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka dalam jangka waktu yang panjang. Memang apa yang didapat dari alam pada umumnya segar, baru dan alami (tidak pakai pupuk atau campuran lainnya), sehingga rasanya enak. Apalagi mereka tidak mempunyak kulkas, sehingga tidak mungkin untuk menyimpan / mengawetkan daging buruan atau sayuran hasil kebun mereka.

Akibatnya mereka hidup dari hari ke hari. Bila merasa lapar, barulah mereka mencari makan. Kalau haus, barulah mereka mencari minum. Hidup mereka seakan-akan mengalir bagaikan air, dan ikut suasana batin yang sedang mereka alami. Maka, tidak heran bahwa mereka bisa tahan lapar selama beberapa hari....karena suasana batin mereka tidak mendukung ( bahasa populernya : lagi tidak mood ). Ikan, binatang buruan, sagu dan kebutuhnan hidup sudah sejak dulu kala disediakan oleh alam dalam jumlah yang amat besar. Mereka tidak pernah kekurangan.

Dengan masuknya orang-orang dari daerah lain, hidup mereka dan cara kerja dan cara bergaul mereka pun turut berubah. Persediaan pangan, sandang dan dana untuk hari tua yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan, sekarang menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Akibat dari semua perubahan itu, mereka harus bekerja keras untuk menyesuaikan diri. Ada yang berhasil, ada yang sedang bergelut, dan ada juga yang kecewa dan gagal. Dalam situasi seperti yang dialami oleh orang-orang yang bergelut, kecewa dan gagal, tidak banyak orang / lembaga pada mereka. Dunia dan jaman sekarang adalah dunia dan jaman yang berubah cepat, menuntut pengetahuan, ketrampilan dan tanggung jawab yang besar. Akibat lebih jauh, masyarakat setempat makin tertinggal di belakang.

Tidak ada orang / lembaga mana pun yang bisa menolong terus-menerus. Yang paling bisa menolong adalah diri sendiri / masyarakat itu sendiri. Maka, pada kesempatan itu, saya menekankan kepada orangtua dan kaum muda untuk menyadari hal itu, dan mulai bergerak untuk menyediakan makan dan minum yang mereka perlukan. Bahan pangan diusahakan agar dekat dengan rumah masyarkat. Di pekarangan mereka bisa menanam pisang, keladi, ubi, singkong dan sayuran. Ini akan mempermudah mereka mendapatkan kebutuhan makan setiap hari. Tanam dalam jumlah yang besar, sehingga bila ada yang diambil orang, masih ada banyak yang bisa dipanen oleh keluarga.

Sebelum misa selesai, saya meminta umat untuk memberi 1 bibit pohon pisang. Ketika saya menghitung, ada 40 orang yang bersedia memberi bibit itu. Tua muda, besar kecil, termasuk anak-anak ada banyak yang mengangkat tangan. Satu jam kemudian, mereka kembali mendatangai saya dengan membawa bibit pohon pisang. Ada macam-macam jenis pohon yang mereka bawa. Setelah tiba di Merauke, seluruhnya berjumlah 104 bibit pohon.

Pohon pisang sangat muda dipisahkan dari induknya. Tidak menuntut banyak persiapan untuk menanam, dan bibit itu mudah ditanam di mana saja. Meskipun gundul tanpa daun, atau hanya setengah batang, bahkan hanya bonggolnya saja, bibit itu akan tumbuh. Juga meskipun didiamkan saja di salah satu sudut, karena belum ada waktu untuk menanam, bibit itu tetap hidup dan rela menunggu “saatnya untuk ditanam”.

Begitu sabar dan pengertian, begitu pasrah dan rela untuk diperlakukan apa saja bibit pisang itu. Entah batangnya besar, atau masih tunas, “watak yang luhur itu” tetap melekan pada “bibit pisang”. Bila manusia punya “watak yang luhur seperti yang dimiliki pisang” betapa aman dan damainya hidup manusia di dunia ini.

SURAT GEMBALA PRAPASKA 16

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2016



Saudara-saudari
Umat sekalian
para pastor, bruder, suster dan anak-anak yang terkasih

Tidak lama lagi, kita akan memasuki masa pra-Paska atau masa persiapan batin untuk menyambut pesta Paska, yang dimulai pada hari Rabu Abu. Kiranya baik, bahwa kita mengawali masa pertobatan ini dengan mengambil hikmah dari bacaan-bacaan kitab suci hari ini. 
 
Yesaya, ketika mendengar suara pujian para malaikat: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”, langsung mengakui kedosaannya. Ia yang tinggal di tengah-tengah masyarakat yang penuh mulutnya sering mengucapkan kata-kata kasar, bersaksi dusta, suka memfitnah, menyumpahi sesamanya, merasa amat tidak pantas melihat kemuliaan Allah. Kekudusan Allah itu, menurut keyakinannya, akan menghanguskan / membakar habis semua orang berdoa. Namun, apa yang ia pikirkan dan ia yakini, sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan Allah. Dengan bara api, Allah mengutus malaikatnya untuk menguduskan mulut Yesaya dan mengampuni dosa-dosanya. 
 
Demikian pula Petrus, yang telah terlanjur kesal dan mengeluarkan kata-kata yang keras kepada Yesus, yang tidak mau taat kepada dirinya. Bisa jadi dia mengatakan Yesus itu sok tahu, merasa lebih pintar dan berpengalaman padahal Dia itu berasal dari kampung yang jauh dari pantai. Ternyata, apa yang dikatakan Yesus itu benar, dan mereka menangkap ikan dalam jumlah yang besar. Petrus, betul-betul menyesal dan merasa tidak pantas berada di hadapan Utusan Allah yang begitu agung dan kudus. Dia sungguh mengakui kedosaannya, dan memohon kepada Yesus untuk meninggalkan dia. 
 
Di dalam kedua bacaan Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan itu, kita menemukan kerahiman Allah yang luar biasa. Kerahiman-Nya mengatasi kerapuhan, kekecewaan, kekesalan, ketidakmengertian, dan kedosaan manusia. Kalau di perjanjian lama, kerahiman Allah itu disampaikan oleh para malaikat, pada jaman perjanjian baru, dihadirkan Yesus. Pada jaman kita, dihadirkan oleh kita sekalian sebagai utusan-utusan-Nya. 
 
Paus Fransiskus, dalam Bulla Indiksi Yubileum Luar Biasa tentang Kerahiman, meminta kepada umat beriman agar "masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini dihayati secara lebih mendalam sebagai saat istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 17). Melalui ajakan untuk mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan mendorong umat untuk menyediakan waktu " 24 jam bagi Tuhan” , beliau berusaha menekankan keutamaan mendengarkan sabda Allah, terutama sabda kenabian-Nya dengan hati yang dipenuhi doa dan ucapan syukur. Kerahiman Allah adalah sebuah warta keselamatan bagi dunia, sebuah kabar yang menekankan bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk mengalaminya secara langsung. Karena alasan ini, selama masa Prapaskah beliau akan mengutus para Misionaris Kerahiman sebagai sebuah tanda nyata bagi semua orang tentang kedekatan dan pengampunan Allah. 
 
Kerahiman mengungkapkan cara Allah menjangkau orang berdosa, menawarkan kepadanya sebuah kesempatan baru untuk memandang diri Allah, bertobat dan percaya” (MV 21), dan dengan demikian, memulihkan hubungan manusia dengan Dia. Dalam Yesus yang disalibkan, Allah menunjukkan keinginan-Nya untuk mendekati orang-orang berdosa, meskipun mereka mungkin jauh telah menyimpang dari hadapan-Nya. 
 
Kerahiman Allah mengubah hati manusia; ia memungkinkan kita, melalui pengalaman akan kasih dan kesetiaan Allah, menjadi orang yang penuh kerahiman. Kerahiman ilahi bersinar dalam kehidupan kita, mengilhami kita masing-masing untuk mengasihi sesama dan untuk mengabdikan diri kita melalui karya-karya kerahiman rohani dan jasmani. Misalnya, memberi makan, mengunjungi, menghibur dan memberi petunjuk serta menolong mereka yang membutuhkan bantuan kita. 
 
Oleh perbuatan-perbuatan seperti itulah kita akan dihakimi. Karena alasan ini, Paus meminta agar "umat Kristiani sudi merenungkan karya-karya kerahiman jasmani dan rohani. Hal ini akan menjadi suatu cara untuk membangunkan kembali hati nurani kita, dan masuk lebih dalam ke jantung Injil di mana orang miskin, tertindas, dan orang-orang yang tidak berdaya, memiliki pengalaman khusus akan kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 15). “Daging / tubuh jasmani Kristus” menjadi kelihatan dalam daging dari orang-orang yang disiksa, ditindas, kurang gizi, dan orang-orang yang diasingkan .... Mereka ini butuh untuk diakui, dijamah, dan dirawat oleh kita" (MV 15). 
 
Kristus adalah misteri kasih yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan pertanyaan besar: mengapa Anak Domba yang tak berdosa, harus menderita ? Di hadapan kasih ini, kita bisa, seperti Musa, melepas kasut (kemapanan, kenyamanan, dan kedudukan) kita (bdk. Kel 3:5), terutama ketika orang-orang miskin adalah saudara atau saudari kita di dalam Kristus yang sedang menderita karena iman mereka. 
 
Saudara sekalian, selain berpantang dan berpuasa, pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai tanda pertobatan kita, bersama dengan Yesus yang mengundang kita untuk menunjukkan pribadi Allah dan kerahiman-Nya, marilah kita berusaha untuk :
  1. tidak bergosip
  2. makan secukupnya dan tidak membuang makanan,
  3. membeli barang-barang yang sederhana (tidak mewah)
  4. mengunjungi orang-orang sakit, orang yg susah, atau lansia
  5. berhenti menghakimi sesama
  6. tetap bersahabat dengan mereka yang tidak sepaham dg kita
  7. menjadikan berdoa setiap hari sebagai kebiasaan
  8. setia janji dengan orang lain seperti yg dilakukan pasutri
  9. Tetap percaya bahwa Tuhan menyertai kita
  10. menjaga kebersihan rumah, halaman dan saluran-saluran air
  11. menjaga hutan, sungai, rawa dan laut demi anak cucu kita
  12. membangun daerah kita dalam suasana aman dan damai

Marilah kita mengisi kehidupan kita, melalui pertobatan kita, agar semakin banyak orang mengalami kerahiman Tuhan. Kita doakan juga Bupati dan wakil bupati terpilih, agar pelantikan mereka dapat berjalan dengan baik dan aman, dan mereka dapat melaksanakan tanggung jawab yang akan dipercayakan kepada mereka dengan bijaksana. Akhirnya, saya ucapkan “Selamat menjalani masa pra-Paska” dengan sukacita.

Merauke, 2 Februari 2016

Berkat dari Uskupmu


Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC