DAGING RUSA BAKAR ITU KAMI BAGI DUA



Keterangan foto: dr.Elida, dr.Eitji, dan dr. Henny sedang santai di Merauke...makan puas-puas untuk mengembalikan gizi.....


“Enam jam kami di perjalanan, dengan perahu panjang yang didorong oleh mesin 40PK, lapar dan haus selama perjalanan itu. Daging paha rusa yang sudah dibakar, dan diberikan kepada kami, itulah yang kami makan sore itu di perahu. Tidak ada nasi. Daging sepotong itu, kami bagi dua”, demikian cerita Alida, dan Eici. Mereka adalah 2 orang dokter yang ditugaskan di daerah terpencil, di kecamatan Kaptel. Kaptel letaknya di pinggir sungai Bian, kira-kira 85 km dari kota Merauke. Perjalanan ke sana, dapat dijangkau dengan sepeda motor selama 3 jam, dan 6 jam dengan speed boat yang bermesin 40 PK.

Sehari sebelumnya, tanggal 13 November, kami telah tiba di muara sungai Bian, dan bermalam di rumah penduduk. Kami membantu tuan rumah membungkus pinang, jualan pinang, tembakau dan barang-barang kebutuhan masyarakat. Keesokan harinya, jam 3 sore, kami ikut masyarakat setempat ke Kaptel. Sebenarnya kami takut, karena cuma kami yang perempuan, sedangkan semua yang di perahu adalah laki-laki yang tidak kami kenal, namun kami yakin bahwa kami datang untuk melayani, pasti Tuhan akan menolong dan melindungi kami. Juga tidak ada pilihan lain, kami terpaksa ikut mereka.
Ternyata mereka orang baik-baik dan mengantar kami sampai di tempat tujuan. Dan kami tiba di Kaptel (pusat kecamatan) tanggal 14 November 2010 jam 9 malam. Waktu kami mendarat, semua gelap, dan masyarakat sudah pada tidur. Malam itu kami tidak makan. Kami menumpang di rumah bidan desa.

Hari berikutnya, kami ke Pustu ( Puskesmas Pembantu ). Bangunannya penuh rumput, karena memang sudah lama tidak terurus. Dan tugas kami pada hari-hari pertama adalah pembersihan Pustu. Letaknya 1 km dari perkampungan penduduk. Sedangkan rumah camat (rumah Distrik) letaknya lebih jauh dari dari rumah masyarakat sekitar 4 km. Listrik menyala dari jam 6 sore sampai jam 12 malam. Itupun kalau solar ada, bila bbm habis listrik pun tidak menyala. Kami hanya pakai senter sebagai penerangan.

Waktu kami tiba di sana, ternyata barang-barang kami belum sampai. Pakaian kami hanya 3 pasang, dan karena ada keperluan untuk pelayanan di desa-desa, kami membeli baju laki-laki yang akan kebesaran untuk melengkapi kebutuhan perjalanan itu. Kami tiap hari makan nasi dan sayur daun singkong. Betapa sulitnya mencari ikan, karena ikan yang mereka tangkap untuk konsumsi keluarga mereka sendiri. Saluran telpon tidak ada, radio pun kami tidak punya, sedangkan radio komunikasi (SSB) dititipkan oleh pak Distrik di sekretaris desa. Setelah kami tahu, bahwa ada SSB, barulah kami bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan yang di Merauke. Atas berita dari rekan dokter di tempat lain itulah, kami mendapat berita bahwa ada rapat kerja di Merauke. Inilah untuk pertama kalinya kami turun ke Merauke, setelah 1 bulan bertugas di daerah terpencil itu.

Kami turun ke Merauke sambil mengantar pasien yang sakit keras terserang malaria, dan ada komplikasi lainnya, sehingga ketika diangkut dia sudah dalam keadaaan “koma”. Moga-moga anak itu yang berusia 15 tahun, yang kami rujuk di RSUD Merauke dapat segera mendapat pertolongan dan mengalami kesembuhan.

Dan atas cerita yang diungkapkan secara rileks itu, kedua dokter itu mempunyai “semangat / tekad dan jiwa ” petualang, sehingga kesulitan dan tantangan setempat tidak mejadi beban berat. Di sisi lain, bekerja sebagai dokter di pedalaman memang merupakan “suatu panggilan”. Tidak semua orang berani dan merelakan dirinya berkorban dan siap melayani di daerah yang sulit, apalagi ada “image” bahwa Papua adalah tempat yang menakutkan.

Ternyata kedua dokter itu, telah “berani mengatasi rasa ketakutan itu, bahkan mereka berbahagia dapat menjadi “sesama dalam suka dan duka bagi masyarakat kecil dan terpencil”. Melalui mereka, kasih sayang dan pengorbanan bukan hanya berupa kata-kata kosong, tetapi benar-benar dinyatakan dan dialami oleh manusia. Di tengah-tengah masyarakat dan dunia yang makin materialistis dan egoistis, tetap masih ada orang-orang yang mau mengabdi dengan tulus.

Komentar

Anonim mengatakan…
Saya bangga dengan dokter tersebut..kasih Tuhan nyata ditengah orang-orang yg membutuhkan Aminn
WARTA K.A.MERAUKE mengatakan…
Elisabeth, terima kasih banyak untuk komentarnya. Memang nyata bahwa pada jaman yang nampaknya serba "duit", berubah cepat, dan individualistis, masih ada orang yang berhati mulia dan siap melayani di tempat-tempat yang sulit.

Apakah anda juga demikian ?
Unknown mengatakan…
saya bangga dengan mereka, terutama dengan Dr.eci, yang notabene masih ada hubungan keluarga, tidak sabar menunggu kedatangan beliau ke rumah di Jakarta. Kami menunggu dengan rasa bangga dan sukacita.

Sukses selalu.

_Nova Situmeang & Andus & Ruby & Benaya Hutasoit _

Postingan Populer