Jumat, 31 Desember 2010

HARI TERAKHIR TAHUN 2010

HARI TERAKHIR TAHUN 2010 sudah dijalani selama beberapa jam. Ada pelbagai kegiatan yang telah terlaksana. Mau tidak mau, hari ini, 31 Desember 2010 akan berakhir juga. Dan dalam beberapa jam lagi akan datang tahun baru 2011. Tidak ada kata yang pantas diucapkan, selain syukur dan terima kasih atas anugerah Tuhan yang telah memberikan kehidupan selama tahun 2010.

Ada seorang anak muda ( Yohana Vaneza) yang ingin membagikan pengalamannya, ketika ia menikmati dan mengisi salah satu hari kehidupannya, dalam / pada tahun 2010 ini. Inilah dia ceritanya:


“Dari Sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau.
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia…”

Siapa tak kenal lirik lagu ‘Dari Sabang Sampai Merauke’ diatas? Dari anak-anak sampai dewasa, amat banyak orang yang tahu lagu tersebut. Lagu tersebut sering kali kita nyanyikan saat upacara-upacara. Baik upacara mingguan di sekolah maupun upacara peringatan Hari Proklamasi.

Lagu tersebut sangat sering kita nyanyikan, kita dengar, namun sangat disayangkan masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu dimana itu Sabang, di mana itu Merauke. Kurangnya wawasan kebangsaan itu kadang membuat penulis menjadi prihatin.
Sabang terletak di Propinsi Nangroe Aceh Darrusalam di sebelah Barat Indonesia. Sedangkan Merauke terletak di Propinsi Papua bagian Selatan di sebelah Timur Indonesia.

Dalam tulisan ini penulis hendak menceritakan perjalanan penulis saat mengunjungi perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Mungkin tulisan ini tidak lengkap, tapi penulis harap dengan tulisan ini dapat menambah wawasan kebangsaan dan menambah rasa Nasionalis kita semua.
-------------------

Minggu 26 Desember 2010 yang lalu, penulis berkesempatan mengunjungi kembali perbatasan RI-PNG yang terletak di Distrik (Kecamatan) Sota. Sota terletak 80km dari pusat kota Merauke. Perjalanan ke Sota kami (penulis dan rombongan) tempuh dengan mobil dalam waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan rata-rata 70-100km/jam dari pusat kota Merauke. Untuk mencapai Sota, kami melalui cagar alam Taman Nasional Wasur. Berhubung kami pergi pada hari libur, maka kami harus membayar retribusi saat hendak memasuki Taman Nasional Wasur. Harganya sangat terjangkau, hanya Rp. 1000,-/orang ditambah Rp. 2000,-/mobil.

Di Taman Nasional Wasur kami melewati beberapa tempat rekreasi, yaitu tempat budi daya anggrek dan tanaman hias khas Merauke, tempat permandian umum (disini para pengunjung dapat berenang di sungai), bumi perkemahan dan tempat wisata alam Mussamus/Rumah Semut (*). Dan sepanjang jalan menuju Sota kami melihat pemandangan hutan pohon Ekaliptus (dalam bahasa setempat disebut pohon bus). Jalan nasional (**) yang kami lalui sangat baik, walaupun ada 1 jalan yang rusak berat dan 2 jalan yang rusak ringan, tapi sebagian besar sangat baik. Jalan yang baik tersebut membuat kami cepat sampai di Sota.

Perbatasan RI-PNG

Memasuki distrik Sota kami melewati Tugu Sabang-Merauke (Hanya ada di Sabang & di Merauke), SMK, Pos Penjagaan Perbatasan, Kantor Imigrasi. Perbatasan RI-PNG berjarak 4km dari Tugu Sabang-Merauke. Sesampainya di perbatasan, kami berkeliling dan mengabadikan ‘moment istimewa’ tersebut dengan berfoto bersama. Setelah itu kami makan bersama di taman (bagian PNG). Sesudah makan, ada yang bermain di taman bermain, ada yang foto-foto, ada pula yang ngobrol.

Setelah puas berada di Perbatasan, kami melanjutkan perjalanan kami ke Erambu yang terletak 40km dari Tugu Perbatasan…

(Tulisan tentang perjalanan ke Erambu terpisah…)

KETERANGAN:
Mussamus/Rumah Semut adalah gundukan tanah yang dibuat oleh semut. Tingginya bisa mencapai 6 meter lebih. Hanya terdapat di Merauke (Indonesia), Afrika, dan Amerika Latin.

Pembagian jalan:
Jalan Nasional adalah jalan yang dibuat dengan dana dari Pemerintah Pusat;
Jalan Propinsi adalah jalan yang dibuat dengan dana dari Pemerintah Daerah Propinsi;
Jalan Kabupaten adalah jalan yang dibuat dengan dana dari Pemerintah Daerah Kabupaten.

Bercerita tentang perjalanan di salah satu bagian tanah air dan mengaguminya, sebenarnya ( sama dengan ) mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah dan teratur. Di tengah alam yang demikian, jiwa menjadi segar, mata menjadi makin jernih, dan hati mulai ringan oleh angin yang bertiup, udara yang cerah dan langit biru. Semuanya itu diberikan Tuhan dengan gratis.

Sayang bahwa sering kegaguman itu baru sebatas perasaan dan kata-kata syukur. Bila kekaguman dan syukur itu diwujudkan dalam tindakan, wow.... betapa damainya hidup di dunia ini. manusia akan bersahabat dengan sesamanya, sambil memelihara alam, dan mengembangkannya menjadi tempat tinggal yang makin asri dan memberikan kedamaian. Bukan di alam yang demikian itu, tercermin kebaikan Tuhan yang mahabesar. Mengapa ? Alam semesta ini selalu jujur. Matahari sejak dulu terbit di timur, sampai hari ini pun demikian. Sapi makan rumput, kupu-kupu mengisap madu, sampai hari ini pun mereka tetap melakukan hal yang sama.

Pertanyaan untuk direnungkan: " Mengapa manusia sebagai ciptaan Allah yang tertinggi justru sering bersikap menyimpang dari "aturan alami / kodrati" yang telah ditanamkan Allah di dalam dirinya?

Tidak ada komentar: