STASI KONDO

Pastor James Sabon MSC, bersama Sr. Alexandrina TMM dan Bapak Waluyo telah mengunjungi stasi Kondo, stasi yang paling jauh dari paroki St. Theresia Buti, tanggal 16 - 17 Oktober 2010 yang lalu. Stasi yang jaraknya 300 km via jalan darat itu, dapat ditempuh dengan speed boat, selama 4 jam. Perjalanan via laut lebih cepat, karena memotong teluk dan semenanjung.

Ternyata, ketika mendarat mereka tidak bisa langsung masuk ke kampung karena air surut. Di antara tetumbuhan bakau di muara sungai itulah mereka menunggu air pasang selama 8 jam. Kalau turun dari perahu dan melalui jalan darat, tentu lebih lama dan sulit, karena jalanan penuh lumpur dan mereka membawa barang-barang yang jumlahnya cukup banyak. Karena itu, mereka baru bisa tiba di kampung Kondo, sekitar jam 11 malam. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan telah mereka lewati.

Kampung Kondo dihuni oleh 8 kepala keluarga. Maka tidak heran bahwa jumlah penduduk di kampung itu hanya 30 jiwa. Sedangkan penduduk yang lain telah banyak yang berpindah ke kampung-kampung yang mudah dijangkau oleh pelayanan pemerintah dan kaum pedagang. Perpindahan itu mereka lakukan, karena mereka adalah para pemasok kepiting, ikan dan daging rusa hasil buruan untuk kota Merauke dan untuk kota-kota lain di wilayah Papua.

Setelah mengadakan perayaan ekaristi, Sr. Alexandrina TMM melayani kesehatan para pasien yang pada umumnya kurang mendapatkan pelayanan medis secara teratur. Penyakit yang sering diderita penduduk setempat adalah infeksi saluran nafas, diare, penyakit kulit dan cacingan.

Perjalanan kedua pelayan tadi untuk kembali ke Merauke juga tidak mudah. Mereka dihantam ombak setinggi 2 meter sepanjang perjalanan itu. Panas terik matahari, dan guyuran air asin yang menerpa mereka adalah bagian dari pengorbanan dan pelayanan setiap kali mereka melayani daerah-daerah di pantai Merauke. Apalagi, bila angin kencang bertiup, hujan turun, berarti ombak di laut juga cukup besar dan tinggi.

Pelayanan yang demikian ini, amat sering dihindari karena tidak enak, melelahkan dan menuntut pengorbanan yang tidak kecil. Itulah sebabnya mereka yang ada di daerah-daerah sulit, kurang mendapatkan pelayanan. Lalu ???? Kalau para petugas / pelayan menghindari pelayanan di tempat-tempat yang terpencil, siapa yang akan menolong dan mengembangkan masyarakat di daerah itu?

Syukurlah, meski sulit, ternyata masih ada orang / relawan yang mau peduli pada sesamanya yang terpencil dan membutuhkan bantuan. Memang sering terjadi, pelayanan dan bantuan itu akan muncul lebih besar dan banyak, bila terjadi bencana atau musibah. Yang lebih diharapkan adalah meski kecil dan biasa-biasa saja, pelayanan yang teratur dan terencana jauh lebih mengembangkan dan menenteramkan daripada pelayanan yang bersifat mendadak dan sesaat, khususnya pada saat terjadi bencana.

Pelayanan itu nampaknya kecil dan sia-sia, secara fisik dan manusiawi, namun menurut kacamata dan didasarkan pada penghayatan iman, pelayanan itu adalah tanda kasih Allah kepada manusia. Berbahagialah mereka yang telah menjadi tanda kasih Allah bagi saudara-saudari yang terpencil dan layak ditolong.

Komentar

Postingan Populer