OLEH-OLEH NATAL ( II )

Julius Taena, juga seorang calon imam projo yang bersama dengan rekan-rekan nya, mengalami situasi umat di Mjuting, menuliskan buah-buah permenungannya. Dia memberi judul renungannya: TERTANTANG DAN TERPANGGIL. Mari kita simak apa yang dituturkannya:

“Mengalami” itulah salah satu kata yang berkali-kali terucap dan terlintas dibenak saya setiap saat ketika berada di Merauke-kota Gerbang Hati Kudus Yesus. Liburan dan Natal tahun ini membuat saya sungguh-sungguh mengalami apa yang selama ini belum pernah saya rasakan dan yang belum pernah saya jalani. Suatu kenyataan ketika dihadapkan dengan suatu situasi yang ternyata tidak gampang dan agak sulit dijalani oleh saya pribadi yang adalah seorang calon imam projo di KAM. Di sini saya tertantang bukan saja untuk bagaimana berpikir agar mendapatkan nilai yang bagus di kampus tapi mengajarkan saya agar mulai berpikir tentang suka duka, susah senang berkarya di lapangan di tengah-tengah umat. Saya ditantang untuk semakin mencintai keuskupan ini dan juga medan pelayanan di wilayah ini.

Natal tahun 2011 merupakan natal yang sangat indah dan istimewa bagi saya, di mana oleh Yang Mulia Mgr. Nico, saya diberi kesempatan untuk berlibur sekaligus mengikuti asistensi di Merauke. Alasan datang ke Merauke selain untuk liburan dan berasistensi juga sekaligus untuk mengenal medan pelayanan di Keuskuapan Agung Merauke yang belum pernah saya lihat dan alami. Banyak tempat saya kunjungi bersama teman-teman Frater yang datang bersama-sama saya dari Jayapura bersama Bapak Uskup, misalnya Tomerau, Gudang Arang, Semangga dan Muting serta beberapa tempat lainnya. Sepanjang keberadaan di sini saya melihat bahwa Merauke yang notabene penduduknya memeluk agama Kristen ternyata tidak hanya dihuni oleh suku-suku atau orang-orang asli Papua tetapi juga terdapat begitu banyak orang yang datang dari berbagai suku, ras dan bahasa yang berbeda-beda. Merauke adalah wilayah pluralis. Daerah yang dihuni oleh orang-orang yang datang dari ras, agama, suku dan bahasa serta latar belakang yang berbeda-beda.

Untuk daerah pelayanan natal, saya dan teman-teman frater ditugaskan oleh Mgr untuk melayani di stasi-stasi yang ada di Paroki Sta. Theresia Muting. Maka kami-pun berangkat ke Muting pada tanggal 20 Desember bersama-sama dengan Beliau dan di sana kami bersama-sama menelusuri kali Bian untuk pergi ke stasi yang ingin dituju. Saya ditugaskan di dua stasi yakni stasi Kindiki dan stasi Selil yang berada dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke-distrik Ulilin. Selama beberapa hari di sana saya mengalami suatu situasi dan keadaan yang berbeda dan harus saya refleksikan baik itu menyangkut kehidupan/keadaan umat maupun tentang panggilan mulia yang sementara saya jalani.

 Doa
Doa merupakan ungkapan hati yang ditujukan kepada Tuhan melalui perantaraan Yesus. Setiap orang yang beriman kepada Allah khususnya orang-orang Nasrani harus mampu berkomunikasi dengan Allahnya, karena hanya melalui doa segala sesuatu yang ingin disampaikan dapat didengar dan dijawab. Saya sebagai sorang calon imam harus menjadikan doa sebagai suatu kebiasaan dan bukan sebagai suatu keterpakasaan, demikian juga umat Allah. Mereka harus mengandalkan Allah sebagai kekuatan lewat doa-doa mereka, bukan melalui ritus-ritus adat di hutan atau di tempat-tempat sakral yang mereka amini sebagai tempat tinggal para roh nenek moyang. Umat masih sangat membutuhkan kehadiran Hamba Allah untuk mengajarkan cara berkomunikasi dengan Allah. Dan gereja dalam hal ini para petugas gereja harus terus hadir di tengah-tengah mereka untuk meluruskan pandangan mereka akan pentingnya komunikasi kepada Allah.

 Sabar, tekun dan bertahan
Medan pelayanan di Keuskupan Agung Merauke hanya bisa diatasi dengan kesabaran, ketekunan dan terus bertahan. Rata dan berawa, kering berair, itulah yang harus saya katakan tentang medan pelayanan di Keuskupan tercinta ini. Oleh karena itu, senjata ampuh untuk bisa terus punya semangat untuk melayani umat di stasi-stasi yang notabene membutuhkan waktu perjalanan yang begitu lama adalah dengan ketekunan, kesetiaan dan kesebaran dengan terus mengandalkan Tuhan sebagai kekuatan.

 Setia terhadap panggilan
Setelah turun dan berhadapan dengan umat di stasi Kindiki dan stasi Selil dan melihat keadaan umat, saya akhirnya sampai pada suatu kesimpulan untuk terus merajuti panggilan ini agar kelak bisa kembli hadir di tengah-tengah mereka, untuk hidup bersama mereka, untuk membantu menyegarkan iman mereka, untuk meluruskan cara pandang mereka. Saya harus tetap setia dan bertahan di dalam jalan panggilan ini.

 Bertanggungjawab
Segala sesuatu baik menyangkut pilihan hidup maupun tentang tindakan ketika sudah dijalani tetapi tidak dipertanggungjwabkan maka sama sekali tidak ada faedahnya bagi kita maupun bagi Tuhan. Saya secara sadar dan penuh kebebasan sudah berani memilih jalan ini, maka saya harus bertanggungjawab atasnya. Saya harus setia, tekun dan membawanya dalam doa agar kelak saya bisa kembali berkarya di tengah-tengah lading dan domba-domba Allah di Papua selatan ini. Medan tidak boleh menjadi batu sandungan bagi saya untuk beralih dari pilihan hidup saya ini. Keadaan dan situasi umat menjadi moifasi bagi saya untuk terus melangkah dan melangkah agar bisa kembali dan berada dan memperbaiki hidup keberimanan mereka.

 Berjuang dan semangat
Keberanian untuk mengikuti Yesus adalah harus mmpu menghadapi tantangan dan cobaan. Setelah hadir dan tinggal bersama umat saya semakin termotifasi untuk terus semangat dan berjuang untuk menggapai hasil agar bisa kembali melayani, bukan saja pada saat Natal dan Paskah tetapi setiap minggu dan bahkan setiap hari.

Akhirnya saya mau mengatakan bahwa semakin saya tertantang semakin saya terpanggil.

Perjalanannya untuk menuju imamat masih panjang. Namun, apa yang direnungkannya telah memberikan mutiara iman. Bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar pekerjaan atau tugas manusiawi. Dia melihat bahwa di dalam kegiatan manusiawi, Allah hadir dan bekerja juga untuk menyelamatkan umat-Nya.

Komentar

Postingan Populer