BUAH PERMENUNGAN TENTANG NATAL

PEMBACA YANG BUDIMAN

Atas buah renungan dari Pater Hans Kwakman tadi, Pater Jan van Paassen MSC memberikan tanggapan / buah pemikiran dan renungannya pula. Karena itu, saya terdorong membagikan buah renungan yang bagus itu juga untuk anda. Saya menambahkan sesuatu di dalam kurung, untuk lebih menjelaskan apa yang dimaksudkan penulisnya.

Hans yang baik, pembaca yang terhormat

Tentu saja dari JvP diharapkan komentar pada pendapatmu yang sekurang-kurangnya bertentangan dengan suara "para imam dan akhli Taurat" dalam Gereja Katolik.

Saya mau membatasi diri pada pertanyaan: Apa sebabnya bisa muncul pendapat bahwa Paskalah adalah pesta terbesar dalam agama kita ? Lantas, diperiksa entah alasan-alasan itu cukup kuat untuk bisa melawan pendapat agak baru dari pater Hans.

Sampai kini saya menemukan tiga jawaban atas pertanyaan ini.
1) Dasar pertama untuk mengutamakan Pesta Paska ialah bahwa dengan jelas pesta Paska adalah pesta paling tua dari agama kita. Sudah dirayakan sejak permulaan agama kita dan Paska menjadi dasar dari perayaan Hari Minggu. Umat purba kristen sejak permulaan mengikuti ibadat Sabat pada hari Sabtu bersama dengan orang Yahudi lain, yang ketika itu, dipandang sebagai saudara se-agama dan bukan sebagai orang yang beragama lain, seperti sekarang. Beda antara orang Yahudi dan orang Yahudi plus Kristen terletak dalam tiga hal saja:

Pertama: dalam kepercayaan. Para murid Yesus percaya bahwa janji akan Messias SUDAH direalisir dalam diri Yesus dari Nasaret , sedangkan orang Yahudi lain percaya janji mesianis nanti akan direalisir.
Kedua: dalam ibadat karena orang Yahudi hanya beribadat pada hari Sabat - bersama dengan orang Kristen, sedangkan murid Yesus hari esoknya sekali lagi berkumpul untuk mengenangkan kebangkitan Tuhan
Ketiga: dalam nama mereka. Mula-mula orang Kristem disebut "murid-murid Yesus" dan baru sepuluh tahu kemidan mereka mulai disebut "orang Kristen" di luar negeri, di Syria dalam kota Antiokia (Kis.para Rasul 11,26).

Karena oposisi antara kedua kelompok semakin tajam, lama kelamaan murid-murid Yesus diusir dari ibadat hari Sabat bersama dengan orang Yahudi lain. (Bdk = Bandingkan: golongan Muhamadyah)

2)Dasar yang kedua, pesta Kebangkitan adalah faktum paling spektakuler yang dirayakan.

Mungkin ada analogi dengan mukjizat terbesar dalam P.L. Secara tradisional disebut mukjizat penyeberangan ajaib ketika orang Yahudi keluar dari Mesir. Peristiwa ini memberi KESAN paling dan lebih spektakuler, bagi bangsa Yahudi, lebih daripada janji Yahwe kepada Abraham bahwa dari keturunannya akan lahir sang Messias. Gampang muncul kesan bahwa janji itu - karena kurang disaksikan umat - tidak begitu hebat, mulia dan spektakuler, seperti penyeberangan laut Merah mulia , gampang muncul. Pada hal, peristiwa yang "secara obyektif" lebih besar, mendahului dan bahkan mendasarkan seluruh karya PENYELAMATAN, ialah bahwa Allah überhaupt (sungguh-sungguh bertekad bulat) mau berkomunikasi dengan Abraham, keturunan orang berdosa, lebih luar biasa..

Begitu pula saya bisa menyetujui pendapatmu bahwa kerelaan Allah untuk mengerjakan misteri inkarnasi lebih mulia daripada membangkitkan PuteraNya. Pada Pesta Natal kita rayakan bahwa dalam diri Yesus Allah sendiri komit untuk berpartisipasi dalam sejarah bangsa manusia dan sejarah hidup kita masing-masing.

Dasar dari segala-galanya bahwa dari kekal Allah lebih mencintai torang daripada sayang akan PuteraNya sendiri. Akibatnya, banyak orang memandang kalimat : “Yo 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” sebagai kalimat top seluruh KS.

Bahkan, di perpustakaan STFSP ada suatu buku lumayan tebal dan besar dengan hanya satu kalimat ini, tetapi dalam lebih dari 750 bahasa.Sayang, belum saya temukan terjemahannya Tombulu. Kalimat ini dikonformasikan Paulus dalam kalimat yang sebobot dengan kalimat tadi : ”Rom 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.

Cinta Bapa ini dari kekal. Memang pantas kita mengakui bersama St.Augustinus: Tardius Te amavi o Domine, memang terlambat saya mencintai Dikau ya Tuhan. Akhirnya serta (= setelah) melihat 3 dasar untuk menyebut Paska sebagai prima dona, jelas bahwa buat umurnya dan spektalularitasnya pesta Paska tetap dipandang sebagai juara satu, tetapi secara teologis keputusan Allah memberi peluang baru lebih penting dan lebih dasariah.

Selamat merayakan Natal.

Jan van Paassen msc

Terima kasih Pater Jan, atas buah renungan dan pemikiran anda. Saya secara pribadi juga diperkaya oleh anda berdua. Selamat Natal dan Tahun Baru.

Komentar

Postingan Populer