BELAJAR UNTUK MAKIN MENJADI BIJAKSANA

Pastor Felix Amias MSC, adalah salah seorang yang rajin menulis dan menyajikan cerita-cerita ringan, namun mengandung nilai-nilai humaniora. Cerita tentang seekor anjing yang dituturkan di blog ini, punya makna yang amat baik untuk disimak. Kita tahu dan banyak mengalami kesetiaan anjing kepada tuannya sungguh tidak bisa diganggu gugat. Meski pun wujudnya binatang (hewan) yang nampaknya tidak mengerti bahasa manusia, kesetiaannya sering jauh melebihi kesetiaan manusia.

Melalui cerita tersebut, penulis hendak mengajak pembaca untuk terus-menerus belajar agar makin hari akan menjadi pribadi (manusia) yang makin bijaksana. Semakin banyak pengalaman dalam hidup, semakin dia menjadi pribadi yang matang, utuh, dewasa dan seimbang, sehingga dapat menjadi panutan bagi orang lain. Inilah cerita tentang seekor anjing itu:

Suatu pagi suami ke kota dan istri pergi mencuci pakaian di sungai. Sebelum pergi, ibu itu menyuruh anjing untuk menjaga bayi yang dibaringkan di atas tempat tidur. Anjing itu melompak ke atas tempat tidur, duduk di samping bayi, seolah-olah memberi isyarat bahwa ia siap menjaganya. Ibu itu pun ke sungai. Tetapi apa yang terjadi? Ketika majikan perempuan kembali dari sungai, ia begitu terkejut, karena bayinya hilang. Malah tempat tidur penuh darah, bahkan mulut anjing pun penuh lumuran darah segar. Saat bersamaan suaminya pulang. Sambil menangis, si istri mengatakan bahwa bayi mereka telah dimakan anjing piaraan yang tidak tahu diri. Sementara anjing itu hanya mengebas-ngebaskan ekornya, entahlah apa yang hendak dikatakan kepada kedua majikannya.

Melihat tingkah anjing yang menyebalkan itu, suami istri tidak menunggu lama, mereka langsung merantainya dan memukulnya, tetapi anjing itu hanya diam seribu bahasa. Mereka memukulnya hingga mati, lalu diseret penuh kemarahan ke pinggir tebing curam dan membuangnya. Ketika suami istri kembali ke rumah, mereka terkejut mendengar suara tangisan bayi. Mereka pun bergegas menuju sumber suaranya dan menemukan bahwa bayinya masih ada di sofa ruang depan, bahkan tanpa goresan luka di badannya. Lalu, darah itu? Apa yang telah terjadi?

Mereka pun mencari sumber darahnya. Ternyata, darah itu berasal dari seekor naga yang dibunuh anjing malang tadi, karena naga itu hendak menelan sang bayi. Anjing itu menyelamatkan bayinya ke sofa depan dan berduel dengan naga hingga berhasil membunuhnya dan bangkai naga pun ada di bawah tempat tidur. Suami istri itu begitu menyesal dan berlari kembali ke tebing curam untuk mengambil bangkai anjing, tetapi sayang seribu sayang, di bawah tebing curam itu terdapat aliran arus yang sangat deras, sehingga jazad anjing pun tak dapat ditemukan untuk selamanya. Suami istri itu pulang dengan penuh penyesalan yang tiada akhir. Mungkin itulah yang disebut orang bijak: ‘Hutang emas dapat dibayar, tetapi hutang budi dibawa mati’. (Felix Amias - PAPUA)

Kalau anjing bisa menunjukkan keunggulan yang begitu istimewa, manusia sebagai citra Allah punya kekuatan yang begitu istimewa untuk diwujud-nyatakan kepada dunia. Betapa bahagianya, manusia menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesamanya.

Komentar

Postingan Populer