SR BEATRIX VAN RUTTEN












Para Pembaca setia blog ini.....

Syaloom......

Pada bagian ini, penulis hendak bercerita kepada anda, apa yang dialami pada hari pertama kunjungan kerja di Nederland. Semoga anda mendapatkan hikmah dan berkat yang melimpah baik bagi anda sendiri, maupun bagi mereka yang anda cinta, setelah anda membaca, merenungkan dan menindaklanjuti tulisan ini.

SR. BEATRIX VAN RUTTEN TELAH PERGI

Di Kapel

Suster meninggal tanggal 9 Mei 2011 yang lalu. Saya mendengar informasi itu pada tanggal 10 Mei 2011 tepat pada hari kedatangan kami di Nederland. Lalu siang hari itu diadakan misa requiem (misa untuk orang meninggal). Ketika kami sdah berada di Kapel, dan misa sudah hampir dimulai, yang masuk ke dalam gereja adalah para MSC: pastor dan bruder, para suster dan mereka yang tinggal di biara Notre Dame (imam, religius dan awam) serta keluarga suster Beatrix. Kebanyakan adalah orang-orangtua. Keluarga dari suster Beatrix pun kebanyakan orang-orang tua. Kelompok koor pada saat itu pun kelompok orang-orang tua yang sudah 70 tahun umurnya.

Bruder Kees Vergouwen mengatakan bahwa dalam 1 tahun bisa 10 orang dikuburkan. Itulah yang terjadi di biara MSC dan biara PBHK. Jumlah mereka semua saat ini 140 orang. Bila angkat kematian per tahun adalah 10 orang, dalam waktu kurang lebih 10 – 14 tahun semua penghuni rumah lansia sudah tidak ada lagi. Kurun waktu 10 – 14 tahun bukanlah waktu yang panjang.

Ada 2 hal penting yang perlu dipikirkan:
- Siapakah yang akan memberikan pelayanan sakramen-sakramen bila mereka sudah tidak bisa lagi melayani / merayakan misa dan sakramen-sakramen lainnya ?
- Siapakah yang akan melanjutkan spiritualitas dan kharisma MSC dan PBHK yang telah mereka taburkan di tanah air mereka ?
- Siapakah yang akan menyimpan dan mempelajari dokumen-dokumen penting tentang tarekat, kehidupan membiara, asrip-asrip penting lainnya ?

Di pekuburan
Sesudah misa, jenasah yang sudah di peti itu, dihantar ke pekuburan. Hampir semua yang ada di kapel itu ambil bagian ke pekuburan yang letaknya di belakang biara PBHK. Semua mendoakan sr Beatrix, sebelum jenasahnya dimasukkan ke liang lahat. Sesudah doa di pemakanan itu, masing-masing memberikan penghormatan dan kemudian mereka meninggalkan pekuburan itu. Kira-kira ada 15 orang suster PBHK yang masih tinggal. Dan jenasah yang sejak dari kapel dihantar dengan kereta dorong oleh petugas, di pekuburan pun dihantar oleh petugas yang sama untuk menyelesaikan tugas penguburan / penurunan peti jenasah dan menutupnya dengan tanah.

Ketika sudah diturunkan ke dalam lubang kubur, para suster PBHK satu per satu memberikan penghormatan terakhir dengan melemparkan segumpal tanah. Sesudah itu mereka meninggalkan makam. Tugas untuk menutup lubang kubur dilaksanakan oleh para petugas yang telah disiapkan. Demikianlah suasana penguburan yang sering terjadi di biara-biara di Holland.

Refleksi
Di Indonesia, orang yang meninggal sejak di rumah duka sampai di pekuburan, diantar oleh keluarga dan sahabat kenalan yang jumlahnya banyak sekali. Mereka yang pernah kenal atau ada kaitannya dengan almarhum/almarhumah pun turut melayat. Di Belanda suasananya lain. Meski pelayanan yang diberikan sungguh amat terhormat, namun ketika melihat pelayanan terakhir yang diberikan kepada yang meninggal itu, tokh ada sesuatu yang rasanya masih kurang.

Yang penulis rasakan adalah lubang kubur itu belum selesai ditutup, namun para pelayan sudah pergi. Pelayanan terakhir diberikan melalui “perwakilan”. Namun demikianlah kata pepatah “lain lubuk ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Artinya setiap daerah mempunyai tata aturannya sendiri-sendiri. Meskipun secara pribadi tidak kenal “siapakah Sr. Beatrix itu dan di mana beliau bertugas di mana” penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada para suster PBHK yang telah berkarya di Indonesia. Kehadiran penulis di makam pada saat itu, merupakan tanda dukacita dan ikut hadir ketika saudari-saudari se-spiritualitas kehilangan salah satu anggotanya.

Hal yang sangat kelihatan adalah pertama, tidak ada ratap tangis / air mata kesedihan seperti yang terjadi di Indonesia. Artinya mereka mengimani bahwa Sr Beatrix pergi ke rumah Bapa. Dia beristirahat dengan damai di pangkuan Tuhan. Di situlah sekaligus nampak keimanan dan buah-buah iman bahwa sesudah Sr Beatrix pergi untuk selamanya menuju ke tempat keabadiaan (surga). Kepergian / kematiannya merupakan pintu gerbang kebahagiaan abadi baginya. Karena itu mereka merelakan kepergiannya. Sesudah penguburan pun di komunitas tidak tampak suasana duka / kesedihan mereka.

Kedua, sesudah makan malam, kami bercerita tentang keadaan dan perkembangan yang ada di Keuskupan Agung Merauke. Mereka dapat menyambutnya dengan gembira. Ketiga, mereka sudah rela / merelakan kepergian sr Beatrix, selain karena umurnya sudah lanjut dan tidak bisa membuat apa-apa lagi, juga karena sudah lama sakit dan memang meninggal adalah yang terbaik. Maka dia dapat beristirahat tanpa diganggu oleh penyakit dan halangan-halangan duniawi lainnya.

Para misionaris yang sudah tua-tua, ketika masuk ke rumah lansia secara mental sudah mulai dipersiapkan untuk menerima kematian itu. Kematian adalah bagian dari kehidupan di dunia ini. Kematian adalah sebuah realita yang akan dihadapi oleh semua orang. Suasana tetap tenang dan mereka menerima serta dengan rela hati menyerahkan saudarinya / saudara se-spiritualitas (seimamat) untuk meninggalkan mereka. Mereka menerima dengan penuh kepasrahan. Kematian di rumah para lansia ini, tidak lagi menakutkan.

Ada beberapa konfrater yang bersharing kepada saya. Mereka mengatakan bahwa di rumah lansia itu mereka menunggu giliran. Hari kemarin adalah giliran orang lain, pada hari esok atau lusa, adalah giliran saya dan mereka yang masih hidup. Maka, mereka yang masih hidup tiap-tiap hari dipanggil untuk mempersiapkan diri dan menerima kematian mereka. Tidak heran bahwa orang-orangtua ini tampak lebih tenang, lebih pasrah, lebih rendah hati, lebih bergembira dan tidak ada beban. Di komunitas-komunitas tampak sekali orang-orang yang suka melayani. Mereka yang sudah lebih tua, yang ada di komunitas itu, dengan sukacita bangun dan mengambilkan sesuatu untuk saudara-saudarinya. Saling menyapa dan saling melayani, dan saling membagikan apa yang baik, telah menjadi “pola hidup dan komitmen bersama” yang tidak tertulis namun dilaksanakan oleh para lansia.

Penulis tidak mendengar dan tidak melihat ada orang yang berteriak-teriak karena marah / tersinggung, karena bersungut-sungut atau membentak-bentak, memaki-maki. Kerja sama dan persaudaraan yang tulis sungguh terjadi. Di rumah para lansia itu, di sana ada kehidupan yang membahagiakan sebagai persiapan untuk menerima kehidupan baru yang lebih membahagiakan lagi. Di rumah lansia itu, di rumah makan dan di ruang rekreasi mereka mempersiapkan diri dan “menghadirkan persaudaran, keakraban, saling mencintai dan menghargai seperti yang akan terjadi secara penuh kelak di surga”. Damai yang mereka rindukan bersama Allah Tritunggal telah mereka hadirkan di komunitas dan dalam kehidupan sehari-hari di rumah lansia. Damai, keakraban dan persaudaraan yang telah mereka alami itu akan dilanjutkan dan dipenuhkan / disempurnakan bersama Allah Bapa di surga.

Sabda Yesus:"Marilah kamu semua yang diberkati Bapa-Ku, terimalah kebahagiaan yang telah disediakan bagimu".......kini menjadi milik mereka untuk selamanya. Semoga mereka yang telah berbahagia di rumah Bapa, kini menjadi pengantara rahmat bagi kita semua.

Komentar

Postingan Populer