SMP YOHANES AERTS lanjutan



Sr Yosephine TMM (Pemimpin Umum) dalam sambutannya mengatakan bahwa para suster TMM hadir di Merauke karena terpanggil untuk turut ambil bagian dalam karya Keuskupan Agung Merauke dalam bidang pendidikan. Sebagai anak yang lahir dari kandungan dari MSC dan PBHK para suster TMM mau turut meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Tanah Papua ini.

Mengapa Buti dipilih sebagai tempat hadirnya komunitas TMM ? Di Buti ada makam para misionaris pionir. Pada waktu itu, ketika saya berkunjung ke Merauke dan melihat keadaan makam, saya bergerak hati untuk memelihara makam "orangtua" kami itu. Alasan kami hadir di Buti adalah karena kami ingin mengurus dan mengurus mereka, dan tetap senantiasa mohon doa restu mereka dalam karya kami selanjutnya.

SMP Yohanes Aerts adalah SMP Katolik di bawah naungan Yayasan Bintang Timur, yang telah berakta noratis sejak tahun 2002. Tanah dan Gedung serta perabotnya adalah milik KA Merauke, sedangkan pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada Tarekat. Pada tahun ajaran baru ini, SMP ini akan dipimpin oleh Sr. Willibordi TMM sebagai Kepala Sekolah, dibantu oleh 7 orang guru.

Pada kesempatan yang berbahagia itu, Bapak Sekda Kab.Merauke, Drg. Yoseph Rinta,M.Kes menyampaikan simpati dan terima kasih kepada Pimpinan TMM yang tanggap dan penduli pada pendidikan, melalui jalur sekolah. Diaku bahwa Pemerintah Daerah tidak akan sanggup menyelenggarakan bidang pendidikan tanpa bantuan pihak swasta. Karena itu, kehadiran TMM ini merupakan mitra pemerintah yang akan turut meningkatkan mutu SDM di wilayah ini, dan menyiapkan generasi yang makin terampil dan siap membangun masyarakat kita.

Pemerintah melalui Bapeda, dan instansi terkait di bidang pendidikan, akan mencoba mengakomodir keperluan-keperluan dari sekolah ini, sebagai bantuan dari pihak pemerintah. Meskipun sedikit yang penting ada bantuan, karena yang minta bantuan itu ada banyak, dan pemerintah tidak mungkin mengabulkan semuanya.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf dari Bupati, yang tidak dapat hadir karena aneka kesibukan sehubungan dengan Pemilukada, dan kunjungan beberapa pejabat dari Provinsi dan dari Pusat terkait dengan program MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate).

Memulai pelayanan di bidang pendidikan di tanah Papua, merupakan tanda bukti keberpihakan kepada kaum lemah. Di wilayah Merauke, jumlah orang tidak mampu jauh lebih banyak daripada yang mampu membayar uang sekolah. Maka pihak pengelola harus siap untuk "tekor". Karena itu, tanpa menyandarkan diri pada kekuatan, rahmat dan karunia Allah yang akan memberikan bantuan-Nya, sulitlah untuk tetap bertahan pada kesulian finansial ini.

Sekolah-sekolah swasta di tanah ini, berjalan dalam Penyelenggaraan Ilahi. Dialah yang akan menuntun dan melengkapi, sekaligus yang menuntut agar kepada anak-anak-Nya diberikan pendidikan yang baik. Sekolah-sekolah apa pun dan siapa pun pemiliknya / apa pun ragam dan banyak kegiatannya, harus tetap mengarahkan anak-anak didik mereka menjadi anak-anak hidup sejahtera, bermoral, berkepribadian yang baik, santun, cinta damai dan menjadi agen-agen pembangunan di kemudian hari.

Itulah tugas yang berat, namun mulia yang diemban oleh sekolah. Tugas itu berat dan banyak, maka tidak mungkin disandarkan pada kekuatan manusia / para guru dan orangtua semata. Tugas mendidik itu sebenarnya karya Allah yang dipercayakan kepada manusia. Mereka yang dilibatkan dalam pendidikan adalah kepanjangan tangan Allah untuk "menghantar generasi muda" kepada kehidupan bersama Allah. Berbahagialah anda sekalian yang turut serta dalam karya Allah itu.

Komentar

Postingan Populer