GADIS PEMBUAT BATU BATA


BATU BATA, bukan hanya ada di Jawa dan daerah-daerah yang padat penduduknya. Bahan bangunan yang terbuat dari tanah liat yang dibakar itu pun telah dikenal di bumi Papua, seperti yang terlihat di foto. Seorang gadis dari desa Mindiptana telah tahu memproduksi batu bata.

Kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya tiap hari bekerja menggali dan mengaduk tganah untuk dijadikan batu bata. Harganya pun bisa dikatakan lumayan. Per buah harganya Rp. 1.500 ,- di tempat pembakaran, sedangkan kalau diterima di rumah pembeli, harganya menjadi Rp. 2000 ,-. Dalam sehari, mereka bertiga bisa mencetak 600 - 700 buah. Setelah dikeringkan beberapa hari, batu bata itu siap untuk dibakar.

Jauhnya lokasi / wilayah pedalaman, sulitnya sarana transportasi, mahalnya harga 9 bahan pokok, membuat harga material bangunan pun cukup tinggi. Selain batu bata, harga semen pun tinggi Rp. 120.000 per sak. Harga minyak tanah Rp. 10.000 dan bensin Rp. 15.000 ,-. Semakin terpencil kampung itu, harga bahan makanan dan BBM juga makin mahal.

Sungguh memprihatinkan, masyarakat yang jauh dari keramaian kota, dan mereka yang tinggal di daerah terpencil dengan susah payah menjual hasil panen mereka. Betapa sulitnya mereka mendapatkan rupiah untuk hidup. Sebaliknya dengan uang terbatas itu, mereka harus membayar semua kebutuhan hidup dengan harga mahal.

Sedangkan mereka yang tinggal di kota, dengan lebih mudah mendapatkan uang, sarana transportasi juga banyak, dan ada banyak pilihan. Tersedia di pasar amat banyak bahan kebutuhan hidup yang mudah didapat dan harganya pun lebih murah. Mereka juga lebih mudah untuk memasarkan hasil panenan mereka. Bahkan barang-barang bekas pun masih bisa dijual.

Mereka yang tinggal di tempat terpencil dan pedalaman, akan semakin tertinggal dan sulit berkembang, karena terbatasnya sarana pendukung perkembangan hidup.

Gadis pembuat batu bata,bernama Marceline, menjadi tanda nyata bahwa sudah ada orang-orang yang sadar akan diri mereka. Mereka bukan berdiam diri dan menjadi peminta-minta. Mereka sudah tahu apa artinya bekerja untuk mendapatkan nafkah bagi hidup dan pemenuhan kebutuhan keseharian mereka. Mereka bisa menjadi contoh, bahwa hidup dengan berjuang dan bekerja jauh lebih indah daripada menjadi peminta-minta.

Sejak masih muda, dia telah mengerti bagaimana caranya mencari rejeki untuk menopang hidup. Orangtua dan kakaknya telah juga turut andil dalam "memberikan dorongan moril kepadanya" untuk menatap dan mengisi hidup dengan cara yang baik dan mulia. Bekerja mencetak batu bata juga merupakan pekerjaan yang halal, sederhana,dan mulia. Melalui pekerjaan itu, manusia berlatih ketekunan dan ketelitian, kesabaran dan kesetiaan. Agar para pelanggan makin banyak, mereka juga belajar teknik pemasaran, menjaga kualitas, dan meningkatkan mutu pelayanan mereka.

Itulah hasil jerih payah para misionaris, para pendahulu dan para perintis perkembangan dan pemerintah di tanah Papua. Terima kasih kepada mereka semua yang telah berjuang dan merintis perkembangan putra-putri Papua.

Komentar

Postingan Populer