MARTABAT ANAK BANGSA DI TANAH PAPUA SELATAN

Para pembaca yang budiman

Syaloom.....

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis sebuah pengalaman tentang kegiatan dan perhatian keuskupan di bidang pendidikan formal. Tulisan itu, saya paparkan di sini agar anda yang membacanya pun dapat pula memahami betapa banyak yang harus dikerjakan di bidang ini untuk mengangkat derajat dan martabat anak bangsa yang ada di pulau Papua. Mengatakan kasihan kepada mereka, tentu sudah merupakan simpati, apalagi bila ada wujud nyata bantuan bagi mereka, ini merupakan berkat besar.

Saya mengajak anda untuk membacanya dengan tenang dan turut merasakan kehidupan masyarakat di sana yang ingin maju dan berkembang agar dapat membangun kehidupan yang makin baik dan sejahtera. Semoga via paparan ini, akan ada banyak rahmat dan bantuan yang mengalir ke tanah yang diciptakan Tuhan di bumi Papua.

Para Pembaca setia blog ini, tulisan ini mula-mula saya tujukan kepada para pemerhati pendidikan, kini saya tujukan kepada anda:

Selama 23 tahun saya mendengar, mengalami dan amat memahami "jeritan anak
sekolah, dan orangtua atas buruknya mutu pendidikan di wilayah Papua Selatan". Saya sudah bosan dengan "penyakit libur panjang dan mental mangkir serta tidak disiplin" yang terjadi di mana-mana. Yang lebih mengecewakan lagi adalah "situasi yang demikian, dan anak-anak yang tidak sekolah" seakan-akan dibiarkan. Selama bertahun-tahun guru mangkir tetapi tetap menerima gaji juga tidak ada sanksi.

Ini bukan soal agama, bukan pula karena mereka katolik atau bukan katolik, ini sebuah realita kemerosotan dan kebobrokan di bidang moral dan perilaku, yang terwujud di bidang pendidikan formal, sejak di tingkat Sekolah Dasar. Yang melakukan tindak yang demikian ini banyak orang, dan meliputi aneka bidang pelayanan masyarakat.

Selama 30 tahun Sekolah Dasar Yayasan diperlakukan sebagai Sekolah Dasar Negeri.Semua gurunya Pegawai Negeri Sipil, pengurus Yayasan semuanya Pegawai Negeri Sipil, semua urusan administrasi ditangani Pegawai Negeri Sipil. Akibatnya Yayasan mandul, dan sekolah Yayasan, hanyalah nama, tetapi Yayasan tidak punya gigi sedikit pun. Berpuluh-puluh tahun lamanya, pengangkatan guru, penggantian guru / kepala sekolah, langsung ditangani Kepala Dinas. Dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), proyek-proyek dan bantuan hibah lainnya, diatur oleh Kepala sekolah dan Kepala Dinas, sedangkan Yayasan tidak diberi tahu sama sekali.

Guru-guru yang baik dicabut dari sekolah Yayasan, dan dipindahkan ke Sekolah Dasar (SD) Negeri tanpa pemberitahuan apa pun ke Ketua Yayasan, sedangkan guru-guru yang tidak tertib dan kepala batu, dipindahkan ke sekolah-sekolah Yayasan, katanya "untuk dibina". Akibatnya, mutu sekolah Yayasan dan SD Negeri tidak ada bedanya. Lebih parah lagi, dengan adanya aturan wajib belajar 9 tahun, lulusan dari SD mana pun harus diterima di Sekolah Menengah Pertama, meski banyak yang tidak tahu membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Realita yang saya alami selama ini: sekolah-sekolah katolik yang dikepalai oleh PNS "tidak sanggup membendung / menghadapi badai kebobrokan itu". Tekanan dari atas terlalu kuat dan tidak mungkin untuk dicegah oleh para bawahan.

Maka, sejak 2005 sosialisasi bahwa sekolah Yayasan akan dibenahi mulai dilaksanakan. Tahun 2011 ini, hampir semua Kepala Sekolah di kota Merauke, ditangani oleh kaum berjubah.Perlahan-lahan namun pasti, disiplin, setelah 6 tahun berjalan, keakraban
para guru, kejujuran, penghargaan dan kesejahteraan mereka, kami perhatikan. Dengan kata lain, "Terang Kristus" di hadirkan di sekolah untuk mengusir kuasa kegelapan yang menguasai hati mereka selama ini.

De facto, sejak 2005 dengan dana BOS yang diberikan Pemerintah, bangunan sekolah bisa lebih bercahaya, bangku-bangku yang rusak bisa diperbaiki, halaman yang kotor bisa jadi lebih bersih. Anak-anak sekolah lebih mendapat perhatian, dan orangtua mereka, makin percaya guru-guru.

Selama 22 tahun bekerja di Merauke, belum pernah saya mendengar ada sekolah Katolik yang menduduki rangking 1. Baru tahun ini, tahun ke 23, setelah 6 tahun ditangani penuh oleh Yayasan, di bawah asuhan Kepala Sekolah Sr. Maria Goreti PBHK, SD Xaverius II Merauke menduduki rangking I dalam hal kelulusan anak-anak kelas VI tahun ajaran 2010-2011, untuk seluruh sekolah yang ada di kota Merauke. Sebelumnya rekor itu dipegang oleh SD Negeri I Merauke.

Pada akhir tahun ajaran 2010-2011, untuk pertama kalinya Kepala Sekolah (Sr.Theofila KSFL) dan semua guru SMP John 23 , menyatakan protes atas "Ketidakjujuran dalam pelaksanaan ujian nasional(UN)". Akibatnya, 47 persen murid-murid SMP tersebut tidak lulus UN. Tentu orangtua kaget dan kecewa atas hasil itu. Mereka marah dan demo kepada Kepsek dan para guru. Syukurlah semua dapat dihadapi dam dicarikan jalan keluar dengan tenang. Murid-murid yang tidak lulus, sudah diberikan solusi. Mereka dengan mengikuti ujian ulangan, telah dinyatakan lulus, kini telah melanjutkan studi di SMA.

Selama ini, para guru mengaku bahwa setiap kali akan melaksanakan UN, mereka amat tertekan dan konflik batin. Mengapa ? karena mereka harus merekayasa hasil ujian itu, agar murid-murid mereka lulus 100 persen. Mereka mengatakan: "Tahun ini, kami amat lega, meskipun kami sedih dan kecewa, atas banyaknya murid yang tidak lulus. Kami telah bekerja keras selama 3 tahun, namun karena 1 angka gagal, mereka harus tidak lulus. Sementara kami tidak bisa berbuat banyak. Kalau ujian sekolah, pasti mereka lulus semua, karena mereka sebenarnya bisa mengerjakan soal itu. Ada juga nilai-nilai lain, yang bisa menolong untuk kelulusan mereka". Di sinilah fungsi kenabian menjadi nyata. Sekolah katolik menjadi terang bagi masyarakat, kini lebih dirasakan.

Saya harus mengakui bahwa apa yang kami lakukan ini belumlah seberapa. Masih banyak yang perlu kami benahi. Tenaga terampil di kantor Yayasan jumlahnya 2 orang, maka kerjanya dan kontrol ke bawah masih amat kurang.

Saya tidak alergi kepada guru-guru PNS, dan tentu bersyukur kalau pemerintah mengangkat guru-guru di Sekolah Yayasan menjadi PNS. Namun, selama mentalitas PNS seperti sekarang ini, kaum berjubah dan guru-guru swasta yang mau mengabdi dengan sungguh-sungguh, itulah yang saya utamakan. Menghasilkan murid-murid yang bermoral dan bermutu, itu jauh lebih baik daripada debat tentang PNS dan non PNS.

Para pembaca yang budiman, anda boleh usul apa pun via email ini kepada saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas simpati dan usulan itu.Terima kasih atas kepedulian anda turut bersuara dan memikirkan kemajuan anak-anak Papua.

Terus terang, saat ini SAYA TIDAK BUTUH USUL. SAYA BUTUH GURU dan DANA untuk memperbaiki keadaan sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan. Di wilayah Keuskupan Agung Merauke ada lebih dari 130 SD, 7 SMP dan 3 SMA.

Dari jumlah yang banyak itu, saya memfokuskan diri untuk memperhatikan 5 SD di pusat Kabupaten dan di pusat Kecamatan. 5 SD di Pedalaman butuh guru dan dana. Masing-masing SD perlu 6 guru. Jadi saya perlu 30 guru. Guru bisa dicari di Merauke.

Kolese Pendidikan Guru (lulusannya berijazah D2 PGSD) setiap tahun meluluskan 60 guru. Jelas bahwa stok guru di Merauke cukup. Selanjutnya, saya butuh dana untuk gaji para guru. Gaji mereka Rp 2 juta per bulan. Maka dana yang diperlukan Rp 60 juta per bulan.

Saya ngotot akan hal ini, karena mereka adalah masa depan bangsa dan yang beragama katolik masa depan Gereja. Kalau mereka tidak sekolah, masa depan seperti apa yang akan mereka hadapi?

Dalam segala keterbatasannya, misalnya, Keuskupan telah membantu MENGENTASKAN 1.000 ANAK SD per tahun. Sebuah angka yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah penduduk 350.000 orang. Maka, kalau melakukan kegiatan persekolahan, dalam waktu 10 tahun, ada 10.000 orang terbantu untuk mempunyai KETRAMPILAN / PENGETAHUAN DASAR. Angka 10.000 orang adalah jumlah yang signifikan.

Saya tunggu tindakan nyata. Tindakan nyata ini misalnya: membuka usaha ikan, ternak ayam, ternak sapi dan lain lain dan meminjamkan tenaga terampil yang menangani itu di Merauke, agar ada dana untuk membayar gaji guru. Saya punya tanah lebih dari 30 hektar. Siapa yang siap untuk menolong mengelola agar menghasilkan dana ? Demikian tanggapan saya...... Berkat Tuhan untuk kita semua.


salam dan hormat,

Niko Adi MSC


Tulisan saya di milis pendidikan Katolik, telah menggerakkan saudara-saudara kita untuk mengadakan pertemuan pada tanggal 21 September 2011 lalu, di Jakarta. Api kasih Tuhan telah menyala dan membakar banyak rekan yang tergabung di milis tersebut untuk membuat langkah-langkah kongkrit demi kemajuan pendidikan putra-putri Papua Selatan.

Terima kasih saudara-saudariku atas semua kebaikan anda. Anda telah menjadi saluran rahmat dan kasih Tuhan. Siapa menyusul ??

Komentar

Postingan Populer