Spiritual Exercises di Taipei


Mengikuti Spiritual Exercises di Taipei adalah suatu bonus yang luar biasa untuk kami, para peserta dari Indonesia. Acara rohani ini berlangsung tgl 6 - 12 September 2009 di kompleks Universitas Katolik Fu Jen, Taipei City. Peserta seluruhnya berjumlah kurang lebih 400 orang yang datang dari pelbagai negara Asia: Syria, Libanon, Yerusalem, Irak, Pakistan, Bangladesh, India, Sri Langka, Birma, Vietnam, Thailand, Filiphina, Singapore, Malaysia, Brunai, Indonesia, Hongkong, Korea, Cina, Jepang, dan tuan rumah Taiwan.

Kegiatan rohani ini disponsori oleh Propaganda Fide (Roma) yang diketuai oleh Kardinal Cordez, dan di antara para perserta itu nampak 6 kardinal, puluhan uskup dan imam. Peserta yang terbanyak adalah kaum awam. Tema yang dijadikan fokus perhatian adalah" You Do It to Me". Tema itu berasal dari kata-kata kitab suci: " Apa yang engkau lakukan kepada salah seorang saudara-Ku yang paling hina, itu engkau lakukan kepada-Ku".

Pembicara utama pada kegiatan rohani ini adalah Bruder Josidas MC (Misionary of Charity - didirikan oleh Ibu Theresa dari Calcuta) dan dibantu oleh 4orang suster MC. Beliau menguraikan / sharing tentang Ibu Theresa, yang hidupnya dibaktikan untuk melayani "the poorest of the poor" ( mereka yang paling miskin dari kaum miskin). Mengapa hal itu dilaksanakan ?

Alasan dasarnya adalah mereka itu ciptaan-Nya. Di dalam diri mereka wajah dan kasih Allah dihadirkan. Meskipun mereka itu miskin, ditemukan di sampah dan dalam keadaan sakit dan hampir mati namun martabat mereka tidak dinilai dan dihargai berdasarkan tempat / kampung atau kedudukan mereka di tengah masyarakat. Martabat mereka diberikan oleh Allah dan tidak dapat dicabut atau dihancurkan oleh orang lain.

Ibu Theresa telah menunjukkan "pilihannya untuk mencintai, menerima, dan memberikan bukti nyata bahwa mereka yang sakit, terlantar, miskin dan menderita" adalah sesama manusia. Mereka juga punya hak yang sama yaitu hak untuk "mempunyai saudara yang menyapa, melindungi, merawat, dan akhirnya menghantar mereka untuk meninggalkan dunia ini dalam suasana damai". Ibu Theresa telah memberikan "rasa damai" kepada mereka itu, dan gema semangatnya telah menyebar ke sluruh dunia, melalui para suster dan tarekat yang ia dirikan.

Juga ceritakan semangat dan perjuangan Kardinal Frans Xav Ngujen van Tuan. Beliau selama puluhan tahun mendekam di dalam penjara. Selama 15 tahun diisolasi, tidak boleh bertemu dengan dunia luar. Bersama dengan umat katolik, dia dipenjarakan oleh rejim komunis. Yang amat menyentuh hati adalah mereka berjuang untuk tetap dapat mempertahankan iman katolik. Bagian-bagian ayat / perikop KS dihafal dan setiap hari mereka bisa bersaring tentang ayat KS itu, secara bergantian, sehingga Sabda Tuhan bisa mereka dengarkan dan menguatkan mereka.

Kata-kata Kardinal Ngujen yang amat mengesankan saya adalah "Tangan saya ini bukan hanya untuk mempersembahkan, tetapi sekaligus merupakan Altar tempat persembahan korban Kristus untuk penebusan umat manusia. Itulah misa yang paling indah dalam hidup saya". Semua itu dilaksanakan ketika lampu-lampu sudah dipadamkan, dan para narapidana punya kesempatan untuk berdoa dan bersharing tentang sabda Tuhan.

bersambung................................

Komentar

Postingan Populer