Domande dan Kumbe

Domande adalah sebuah stasi di pinggir pantai, di muara Sungai Kumbe. Masyarakat dapat mencapai desa ini dengan naik sepeda motor atau mobil selama kurang lebih 1 jam 3o menit. Beberapa ruas jalan sudah diperbaiki dan mulus, namun di beberapa ruas yang lain jalanan memang bergelombang dan berlobang. Ada sebuah jembatan yang sebenarnya bagus dan kokoh, sangat di beberapa bagiannya tidak kokoh, sehingga terpaksa harus dipasang balok-balok kayu untuk memungkinkan kendaraan lewat di atasnya.

Pada saat ini, kendaraan besar lebih memilih jalan melingkar (lewat tanah rendah) daripada melalui jembatan itu. Maklum saat ini musim panas, namun pada saat hujan, dan ketika semua tanah di sekitarnya tergenang air, jembatan itulah satu-satunya sarana penghubung antar desa. Maka, memperbaiki jembatan sebenarnya adalah suatu keharusan dan kebutuhan riil. Memang untuk perbaikan itu, tidak perlu biaya besar. Mungkin karena alasan inilah tidak banyak kontraktor yang mau kerja, karena keuntungan yang mereka dapatkan tidak seberapa.

Domande pada hari itu, tgl 24 Oktober menjadi desa yang dipenuhi sukacita. Ada apa ? Ternyata ada 28 orang muda yang menerima krisma. Mereka berhias dengan pakaian adat, dihantar oleh 4 marga besar: Imo, Mayo, Sosom dan Esam, dengan nyanyian, tari-tarian adat dan pukulan tifa (kendang adat yang panjang). Di dalam keluarga besar itu, masih ada lagi marga-marga kecil: Ndiken (burung pelikan), Kaize ( burung kasuari), Mahuze (anjing) dan Gebze (kelapa).

Hari itu menjadi hari pesta bagi umat di desa itu. Alasannya, adalah pada hari sebelumnya, tgl 23 Okt telah dilaksanakan upacara pernikahan, dan penerimaan komuni pertama. Maka, kegembiraan itu mereka gabungkan, dan pesta diadakan satu kaligus bagi krismawan-krismawati, dan para pengantin baru, serta anak-anak penerima komuni pertama. Semuanya makan kenyang, hidangan yang disediakan lebih dari cukup.

Waktu pulang, rombongan uskup masih diberi 1 tandan pisang buti yang sudah tua di pohon. Pisang Buti adlah pisang yang khas dari daerah Marind. Pisang jenis ini paling enak kalau direbus, atau dibakar bersama kulitnya. Dia akan mengeluarkan "madu" yang enak rasanya. Mereka memberikannya sebagai ucapan terima kasih atas pelayanan yang mereka terima.


Pada sore harinya, tgl 23 Oktober, dilaksanakan penerimaan krisma di Kumbe (pusat paroki). Pusat paroki ini letaknya di pinggir sungai Kumbe. Bisa ditempuh dari Merauke dengan kendaraan sepeda motor selama 1 jam dan 3o menit. Orang-orang yang dari Merauke bila mau ke Kumbe harus menyeberang sungai. Di pinggir sungai itu, ada begitu banyak perahu ( di wilayah Merauke disebut "beelang") yang siap menyeberangkan sepeda motor mereka. Setiap perahu dapat dimuati 5 buah sepeda motor. Mereka membayar Rp. 20.000 per sepeda motor plus pengendaranya untuk sekali menyeberang. Sedangkan biaya penyeberangan per kepala Rp. 5000,-. Mobil bisa juga diseberangkan. Biaya penyeberangan Rp. 2 juta. Caranya, 2 beelang digandeng. Di antara kedua beelang itu, dipasang kayu-kayu yang diatur sehingga menjadi rakit.

Ada 78 orang yang menerima krisma. Mereka berbaris rapih dan berpakaian putih bagaikan malaikat surga. Mereka berasal dari Kumber dan Kurik (stasi yang letaknya 9 km dari Kumbe). Misa berjalan lancar dan dengan penuh sukacita mereka bernyanyi, meneguhkan iman, dan kemudian menerima sakramen krisma.

Setelah selesai acara di gereja, mereka mengadakan acara makan bersama di aula. Semua makan sampai kenyang, dan ternyata hidangan melimpah......

Komentar

Postingan Populer