“ TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG”

“ TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG” (MZ 145:9a)
“Tuhan itu baik kepada semua orang” adalah tema Natal 2009 yang dipilih oleh KWI (konferensi Waligereja Indonesia dan PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia). Tema ini amat dirasakan dan kena pada situasi nyata umat dan masyarakat. Dalam beberapa kali menghadiri perayaan natal, pembicara / pemberi sambutan menyatakan syukur dan gembira atas “tema yang dipilih pada tahun 2009 ini”.
Ini berarti “ada sebuah kebutuhan terdalam dari umat dan masyarakat yang selama ini tersembunyi / tak terungkapkan” terjawab oleh tema itu. “Berbuat baik kepada semua orang” dan “menerima kebaikan dari semua orang” merupakan kerinduan dan kebutuhan terdalam mereka. Betapa indahnya, betapa sungguh menggembirakan bila bangsa manusia dan masyarakat Indonesia mengalami semua itu.
Dalam suasana yang demikian ini, tidak ada permusuhan, tidak ada ketakutan dan ancaman ataupun terror. Yang ada adalah orang yang saling mengasihi, membagi, menghargai, menerima dan memberikan harapan. Orang saling menyapa, mengunjungi, memberi salam dengan penuh kehangatan. Pertemuan dan perkumpulan yang didahului oleh doa syukur secara bersama-sama merupakan tali pengikat kerukunan dan persaudaraan itu. Inilah yang didambakan oleh sekalian orang.
Dalam suasana kelahiran Yesus, Sang Putra Natal itu menjadi dasar kegembiraan, perayaan syukur dan saling melayani dan menyapa untuk mewujudkan kebenaran bahwa “Tuhan itu baik kepada semua orang”. Hal ini sangat nyata bahwa saudara-saudara kita yang berkecukupan rela membantu sesamanya dengan memberikan bingkisan natal, bantuan tertentu kepada anak-anak panti asuhan, orang-orang sakit, para lansia dan janda-janda.
Yaleka (Yayasan Lentera Kasih) menyelenggarakan Natal Bersama untuk kaum lansia tanggal 27 Desember 09. Yang hadir pada perayaan itu lebih dari 300 orang. Kegiatan yang diawali ibu Venny Tambaip dengan pelayanan kepada 4 orang wanita lansia, sekitar 2 tahun yang lalu ini kini telah berkembang dan melayani lebih dari 200 an lansia, baik pria maupun wanita. Sebuah ruang kecil di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik – Polder Merauke ini, dijadikan tempat pertemuan dan ruang doa, setiap hari sabtu.
Selain berdoa dan ber-sharing, para lansia juga mendapatkan pelayanan kesehatan, sebulan 2x bahkan mereka yang tidak bisa naik kendaraan umum, dijemput dan dihantar kembali setelah acara selesai. Ibu Venny dalam pelayanan ini dibantu oleh Sdri Yenny dan Sdr Charles Utama. Melalui apa yang mereka lalukan itu, dapat diketahui bahwa:
1. Para lansia itu butuh teman sebaya, teman curhat dan tempat yang tenang pada saat mereka menjalani masa purna bakti itu. Mereka sering kesepian, sendirian di rumah karena anak-anak telah bekerja dan cucu-cucu pergi ke sekolah. Mereka sepanjang hari hanya mengisi hidupnya dengan kegiatan yang itu-itu saja dan sering membosankan.
2. Mereka tetap diberi tempat dan perhatian sebagai ucapan terima kasih atas contoh kehidupan, jasa dan pengabdian mereka ketika masih muda, pada saat mereka “tidak berdaya” dan beberapa di antara mereka sudah tidak punya sanak saudara
3. Mereka masih bisa membuat sesuatu yang berguna bagi sesamanya, misalnya berdoa, tetapi juga membuat anyaman, bunga kertas, dan aneka kerajinan tangan lainnya.
4. Mereka perlu dibantu agar siap untuk menghadapi kesakitan, kekecewaan dan “hari-hari terakhir mereka di dunia ini dengan tenang dan pasrah”.
Banyak dari para lansia itu tidak bisa membayar. Maka pengurus Yaleka sekuat tenaga berusaha untuk memberikan bantuan makanan dan pakaian semampu mereka. Kegiatan kemanusiaan ini telah menggugah Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial untuk memberikan bantuan secara tetap, bahkan telah menetapkan untuk membangun rumah bagi para lansia. Keuskupan Agung Merauke telah memberikan sebidang tanah, agar bisa dipakai untuk pendirian rumah itu.
“Tuhan itu baik bagi semua orang” menjadi nyata dalam kegiatan kemanusian tersebut. Pelayanan kepada lansia, merupakan salah satu wujud kepedulian Allah yang mencintai manusia melalui para pengurus Yaleka, Pemerintah Daerah dan mereka yang telah melayani sesamanya. Meski pelayanan ini kecil, tersembunyi dan tidak disiarkan di RRI, tidak juga ditayangkan di stasiun televisi daerah maupun pusat, namun sangat berarti bagi “kaum lemah dan tidak berdaya itu”.

Komentar

Postingan Populer