UPACARA PENGUBURAN DI TANAH TORAJA


PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN.....
Pernahkah anda berkunjung ke Tanah Toraja ?  Di daerah ini ada 2 kota yang sudah cukup dikenal oleh para pengunjung baik dari dalam maupun dari luar negeri. Nama kedua kota itu adalah Makale dan Rantepao. Masyarakat Toraja sering mengadakan upacara besar : upacara penguburan orang mati secara meriah. Makin tinggi derajat orang itu, makin besar pula upacaranya. Sebelum dikuburkan, mayat itu "disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai 4 - 7 tahun. Ada makna yang sungguh dalam di dalamnya. Mari kita simak pengalaman nyata ini.
 
Pada waktu itu, bulan Juli tahun 2013 saya pulang kampung dalam rangka mengikuti pesta penguburan salah seorang keluarga, tepat di kota Makale. Saya berangkat pada malam hari bersama cucu-cucu dari almarhum, dan tiba dikampung pukul 4 pagi. Saat kami tiba keluarga yang sudah ada di tempat acara itu sudah mulai terbangun dan melaksanakan rupa-rupa  persiapan untuk acara pembukaan pada siang harinya.

Sehari sebelum acara pembukaan itu mayat sudah diturunkan dari rumah Tongkonan ke Lumbung selama semalam. Pada acara pembukaan itu, mayat diarak dari rumah tongkonan ke tempat pesta dalam suasana duka yang ditandai dengan pakaian warna hitam dan merah tetapi cukup meriah.  Sejak pagi hari, tempat-tempat di sekitar jalan yang akan dilalui sudah dikelilingi banyak masyarakat yang ingin melihat secara langsung acara itu. Orang itu ada yang datang dari jauh. Para turis pun ikut dalam rombongan arak – arakan itu. Arak – arakan di bagian depan didahului binatang-binatang yang  sudah disediakan oleh keluarga besar dari almarhum, lalu diikuti oleh istri almarhum yang ditandu yang dihiasi  dengan kain hitam  lalu  anak dan cucu-cucu.

Sementara berjalan, semua yang ikut dalam acara itu memegang  kain merah yang dibentangkan. Ujung kain merah sudah diikat pada ujung  tandu tempat mayat almarhum di baringkan. Kain itu dibentangkan memanjang ke semua sanak saudara dari almarhum yang masuk di dalam untaian kain itu. Cara memegangnya seperti sedang memegang spandul yel-yel. Mereka memegang kain itu sampai ke tempat acara itu akan dilaksanakan.

Acara ini disebut Ma’pasonglo. Setelah mayat sampai di suatu tempat yang disebut Lakkean langsung dilakukan ibadat singkat yang dilanjutkan dengan pemotongan kerbau sebagai lambang acara sudah dimulai. Pada hari itu, pada saat matahari hampir terbenam juga dilaksanakan acara yang ditunggu-tunggu oleh masyrakat yang datang dari seluruh penjuru toraja dan dari luar toraja yaitu  adu kerbau. Dua ekor kerbau-kerbau yang besar-besar diadu.  Para penonton bersorak-sorai, yang lain ada berteriak, sangat seru.

Agenda hari kedua dan ketiga adalah menerima tamu. Waktu ini adalah waktu yang sangat melelahkan bagi tuan pesta karena mereka akan menjamu semua tamu yang datang di acara itu. Hari pertama tamu diterima dari jam 08.00 sampai jam 15.30 wita. Ribuan orang datang memberikan ucapan turut berduka cita  kepada keluarga. Ada yang membawa kerbau, babi, kue dll. Tamu yang datang diterima secara bergantian menurut urutan laporan / catatan yang ada buku tamu. Mereka akan memasuki halaman pesta setelah dipersilahkan oleh tomena (pemandu acara / protokol). Mereka itu dijemput oleh penerima tamu yang sudah disiapkan oleh keluarga dan diantar sampai ke tempat penerimaan tamu dengan diiringi oleh musik khusus untuk acara kedukaan.

Sementara perjamuan berlangsung, protokol itu terus membacakan nama-nama para tamu, mereka dari mana, dan  untuk keluarga siapa dari anak almarhum itu. Setelah dijamu di tempat umum mereka  menuju ke pondok yang sudah disiapkan, dipandu oleh protokol dan dijamu lagi oleh salah satu dari anak almarhum itu. Sore hari dilakukan lagi adu kerbau dan malam hari dilakukan ibadat.

Hari ke empat adalah hari khusus untuk pemotongan kerbau. Semua kerbau yang telah disediakan oleh keluarga disembelih. Saat melihat binatang-binatang ini yang sudah dikumpulkan di depan mayat,  saya sempat mengucapkan kata kasihan”.  Saya merasa kasihan kepada binatang- binatang sedang menunggu giliran untuk ditebas lehernya. Binatang-binatang itu kelihatan pasrah di tangan orang yang akan menyembelih. Mereka tak bisa membela diri demi menyenangkan tuan pesta. Sejenak saya termenung. Saya teringat para kudus dalam Gereja Zaman Dahulu. Mereka mengalami penganiayaan dengan cara yang mirip dengan cara seperti ini.  Mereka juga pasrah demi untuk mempertahankan iman kepada Kristus. Lalu bagaimana dengan kita? Dengan saya ?? Apakah kita / saya juga memiliki keberanian berkorban demi untuk keselamatan sesama atau……??? ( pergumulan )

Hari kelima adalah hari persiapan keluarga untuk mengantar almarhum ke gereja untuk misa requiem lalu diantar ke pekuburan keluarga.  Tiga bulan sebelumnya tempat itu sudah disiapkan oleh keluarga. Kubur ini disebut Patani, bentuknya menyerupai sebuah rumah, sangat indah, dan asri  meskipun letaknya diatas bukit. Bila ingin ke sana semua harus siap untuk mendaki. Tempat itu hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dari atas tempat itu semua bisa melihat rumah almarhum.

Dari pengalaman mengikuti acara itu, sempat terpikir bahwa kegiatan ini memang pemborosan karena menyediakan segala sesuatu itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi lain pihak saya bangga kepada keluarga itu karena mereka mampu melaksanakan acara itu sampai selesai. Selama ini banyak orang mungkin  berpikir bahwa acara seperti itu adalah pemborosan tetapi motivasi bagi keluarga itu adalah bahwa lewat acara seperti itu mereka memberikan penghormatan kepada orang tuanya yang telah berjasa dalam hidup mereka yang tidak bisa diukur dengan uang ataupun benda. Acara ini juga merupakan kesempatan baik untuk kumpul bersama keluarga yang tinggal di luar Toraja ataupun yang ada di sekitar Toraja.

Tak bisa di pungkiri bahwa lewat acara ini tercipta kedamaian di antara keluarga. Acara itu  mempersatukan dan itulah- saya rasa- inti yang sangat mendalam dari acara tersebut. Kunci kesuksesan dari setiap acara adalah kerjasama, saling mengerti, saling membantu. Mari saling berbagi rasa.
 
Mungkin kita masih ingat sabda Yesus ini: "Kumpulkanlah bagimu harta di sorga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya, karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. ( 6: 20-21 ). Sering hati dan perasaan serta pikiran manusia "( amat ) terikat / melekat pada urusan duniawi". Upacara yang baru saja anda nikmati merupakan dapat cerminan bahwa "harta dunia bukanlah segalanya" dan ungkapan "kesatuan hati antar anggota keluarga dalam mewujudkan kasih sayang dan hormat mereka kepada orangtua yang telah membesarkan mereka", serta keberhasilan mereka "mengumpulkan harga dan menaklukkan harta". Harta dipergunakan untuk berterima kasih. Memang upacara itu, dapat merupakan dorongan agar seluruh anggota keluarga harus rajin bekerja, jujur dan tulus secara terencana dan terus-menerus, agar mereka "makmur di dunia dan di akhirat". 
Di sisi lain, bila kasih sayang masyarakat Toraja yang sudah sukses itu ditujukan bukan hanya kepada yang sudah meninggal dikalangan keluarga besar mereka sendiri, tetapi diarahkan demi kesejahteraan  sesama, karena dia adalah manusia seperti dirinya, meski mereka bukan sedarah sedaging dan sekeluarga besar, "kasih itu menjadi semakin sempurna". 
 

Komentar

Postingan Populer