PERUMAHAN SYALOOM – MERAUKE

Rabu tanggal 23 Februari 2011 yang lalu, sebanyak 22 unit rumah di kompleks perumahan Syaloom – Merauke diberkati oleh Mgr Niko dan diresmikan penggunaannya oleh Wakil Gubernur Papua, Bpk Alex Hesegem. Perumahan itu dibangun oleh Bpk Samuel Kadang, seorang pengusaha yang beragama Protestan. Bagaimana asal usul gagasan untuk mendirikan perumahan itu ?

Bapak Samuel adalah seorang pengusaha berasal dari Toraja yang merintis usahanya dari bawah, sebagai seorang kontraktor. Dia memulai usahanya dengan membangun perumahan di daerah-daerah pedalaman. Bersama dengan istrinya tercinta, tekun berdoa dan mengumpulkan hasil usahanya serta makin memperbesar dunia yang digelutinya itu dengan memperluas jaringan kerja dengan pemerintah. Sukses demi sukses diraih, sehingga dia menjadi salah satu kontraktor besar di Merauke.

Pada suatu hari, tahun 2007, ada 2 orang pendeta yang datang kepadanya yang meminta tolong untuk dibuatkan rumah. Mereka siap untuk mencicil rumah sederhana sesuai dengan kemampuan keuangan mereka. Pak Sam (demikian dia biasa dipanggil) tidak berjanji untuk membangun rumah, tetapi meminta kepada kedua pendeta itu untuk lebih rajin berdoa, sehingga pada suatu hari nanti kerinduannya itu bisa terwujud. Setelah kedua pendeta itu pulang, hatinya merasa gundah, karena memikirkan kedua “hamba Tuhan itu yang tidak punya rumah”. Pada tahun itu juga ketika ada rejeki, dia mulai membeli dua kapling tanah. Demikian hal tersebut dilakukannya selama beberapa waktu, hingga akhirnya dia berhasil membeli tanah sampai dengan seluas kurang lebih 5 ha.

Mula-mula dia merencanakan membangun 2 rumah saja, namun ternyata hatinya tergerak untuk mendirikan banyak rumah. Tanah itu semua adalah tanah bekas rawa-rawa. Maka, pekerjaan awal adalah penimbunan lokasi. Setelah penimbunan selesai, kerinduan untuk membangun kompleks perumahan makin mantap. Dan terjadilah pada tahun 2008 dia merencanakan membangun 21 unit rumah. Untuk apa dia membangun rumah sebanyak itu ?

Dia ingat hamba-hamba Tuhan (para pendeta dari pelbagai Gereja Protestan) yang telah bekerja keras melayani umat Allah, namun ketika tiba masa lansia, mereka tidak punya rumah. Tidak tahu dari mana mereka bisa membiayai hidup mereka dan keluarganya. Layaklah mereka itu mendapatkan berkat dari Tuhan yang telah mereka abdi selama hidup mereka. Maka, setelah sepakat dengan sang istri tercinta dan didukung oleh semua anaknya, dia membangun perumahan itu. Perumahan itu diberikan kepada 21 orang hamba Tuhan secara cuma-cuma.

Alasan paling utama atas pembangunan perumahan itu adalah ucapan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki kepada pak Sam dan keluarga. Mereka merayap dari bawah dan setelah sekian tahun kini menjadi salah satu pengusaha yang terkemuka di Merauke. Berkat yang diterima oleh keluarga itu, sebagian dipersembahkan kepada Tuhan melalui penyerahan perumahan Syaloom itu kepada 21 orang pendeta.

Ketika pembangunan sedang berlangsung, teringatlah pak Sam bahwa hamba Tuhan dari Gereja Katolik belum termasuk dalam hitungannya. Maka, dibangunlah sebuah rumah untuk Uskup Merauke. Itulah rumah yang ke 22. Ketika rumah itu sudah selesai dibangun dan tinggal tahap penyelesaian akhir, datanglah seorang utusan pak Sam untuk bertemu Uskup Merauke sambil menceritakan sejarah dan alasan berdirinya perumahan itu. Disampaikan pula bahwa rumah dan tanah telah diberi sertifikat atas nama ke-22 orang hamba Tuhan dan disiapkan oleh keluarga.

Apa harapan keluarga dengan adanya perumahan itu ?
Bahwa dengan tinggal di tempat itu, para pendeta dari Gereja yang berbeda-beda itu akan saling menyapa, hidup rukun dan makin bersaudara. Kerukunan yang selama ini hanya terwujud di dalam doa, dalam pertemuan-pertemuan, bisa lebih terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kerukunan dan persaudaraan serta saling mengasihi ini akan mempunyai dampak yang luas bagi masyarakat banyak. Bahwa perbedaan keyakinan itu, tidak menghalangi mereka itu untuk bekerja sama, berpikir dan berdialog tentang membangun Merauke sebagai Tanah Damai.

Wakil Gubernur Papua, Bpk Alex Hesegem yang hadir dan meresmikan perumahan itu, dalam sambutannya mengharapkan munculnya Samuel Kadang yang lain, sehingga akan lebih banyak lagi pendirian perumahan bagi para hamba Tuhan yang akan makin mempromosikan tanah Damai di Papua Selatan. Bupati Merauke yang juga hadir pada kesempatan itu, menyampaikan bahwa para pelaku pembangunan dan aparat pemerintah digugah untuk melayani dengan kasih. Tanah ini dibuka dan dibangun oleh para Misionaris Hati Kudus. Hati Kudus Yesus sudah ada di tanah ini. Maka, para penerus pembangunan harus kudus pikirannya, hatinya dan tangannya. Orang harus takut akan Tuhan. Bila orang takut akan Tuhan, dan mengamalkan imannya sungguh-sungguh, orang itu akan hidup baik. Dengan demikian di tanah ini bahkan di Indonesia, tidak akan ada korupsi dan persoalan-persoalan lainnya. Segala macam persoalan bisa diselesaikan dengan baik.

Rumah itu telah diserahkan oleh keluarga dengan sukacita dan rela hati di hadapan masyarakat dan para penerima berkat itu. Rumah adalah saksi (meskipun bisu) bahwa dia dibangun atas dasar kasih. Manusia bukanlah saksi bisu. Dia adalah citra Allah (gambar Allah) sekaligus utusan Allah untuk “membangun kerajaan-Nya di dunia ini. Bila rumah itu sudah bisa menjadi saksi kebaikan Allah, manusia yang hidup ini sesungguhnya adalah saksi-saksi paling sempurna dan paling dahsyat akan kasih Allah yang mewujud di dunia ini.

Komentar

Postingan Populer