PENGORBANAN SEORANG GURU SD

REKAN-REKAN PEMBACA YANG BUDIMAN,
HARI INI SAYA MEMBACA SEBUAH BERITA DARI "REPUBLIKA.CO.ID" YANG KIRANYA BAIK DAN DAPAT KITA PETIK MAKNANYA. SAYA COPY SEUTUHNYA UNTUK KITA SEMUA. BERIKUT INI CERITANYA:


Luar Biasa, Seorang Guru SD Tangani Seluruh Kelas Sekaligus
Ahad, 18 Juli 2010, 21:11 WIB

Sekolah SD di pedalaman, ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Anggaran pendidikan di negeri ini terus meningkat setiap tahun. Bahkan, pemerintah dengan bangganya mengatakan anggaran itu sudah melebihi batas minimum 20 persen dari anggaran negara seperti diamanatkan UUD.

Tapi berbanding luruskah, peningkatan anggaran itu dengan kualitas pendidikan di lapangan?
Tampaknya jawabannya masih seperti kata pepatah, api jauh dari panggang. Lihat saja kisah seorang guru di pedalaman Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Seorang guru SD mengajar sendirian dan menangani murid dari kelas satu sampai enam sekaligus!

Adalah Joni (38 tahun), guru SD 16 di pedalaman Dusun Gun Jemak, Kabupaten Sanggau, Kalbar. Dia sudah 3,5 tahun ini menangani seluruh kelas itu tanpa bantuan guru lain. Karena keterbatasan tanaga pendidik, dia terpaksa menggabungkan enam kelas ke dalam tiga ruang kelas. Kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga digabung dengan kelas empat, dan kelas lima dengan kelas enam. ''Penggabungan itu untuk mempermudah proses belajar dan mengajar,'' kata lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sanggau tahun 1986 itu.

Joni mulai menjadi PNS pada 2005 setelah sebelumnya selama dua tahun menjadi guru honorer.
Dengan niat tulus dan kegigihannya, proses pembelajaran bisa tetap berlangsung, bahkan kini anak didiknya ada yang sampai menempuh pendidikan tinggi di bangku kuliah.

Gun Jemak adalah sebuah dusun di hulu Sungai Sekayam dan hanya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat atau sampan, yang waktu tempuhnya delapan jam dari ibu kota Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Joni mengatakan, pada awalnya SD yang ada di Gun Jemak memiliki lima guru, termasuk dirinya. Namun, empat guru tidak betah sehingga meminta pindah dan meninggalkan Joni sendirian.
Itu sempat membuatnya pusing karena dia harus menjalankan sebuah sekolah dan proses belajar mengajarnya.

''Jika saya berdiam diri, maka bagaimana dengan pendidikan anak-anak di daerah terpencil ini, dan saya sebagai guru harus bertanggungjawab secara moral dan berkewajiban untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Maka saya terus mengajar walaupun hanya sendiri,'' kata Joni mengisahkan.

Ia pun memboyong keluarganya termasuk tiga anaknya ke dusun pedalaman itu agar betah di tempat mengajar. Untungnya, istrinya sangat mendukung dan memotivasinya untuk terus memberikan yang terbaik bagi anak-anak bangsa di Gun Jemak.

Namun tahun ini Joni tidak lagi mengajar sendiri, karena pada tahun 2009 datang guru bantu lainnya yang ditugaskan di daerah tersebut. Selain itu ada tambahan guru honorer dari warga setempat untuk membantu menjalankan tugas mengajar sehari-hari.

Akhir tahun 2009, Joni mendapatkan tugas baru sebagai guru di SD mini yang hanya memiliki kelas satu sampai klas tiga di Dusun Gun Tembawang. Lokasinya lebih dalam ke pehuluan lagi, kurang lebih dua jam jalan kaki dari Gun Jemak. Sebenarnya dusun Gun Tembawang adalah dusun lama sebelum adanya kampung baru Gun Jemak.

Red: Budi Raharjo
Rep: Antara

Komentar

Postingan Populer