DI TANAH PAPUA.....ADA BANYAK KEBAIKAN

PEMBACA BLOG YANG BUDIMAN
SYALOOM.....
Saya hadir lagi untuk menjumpai anda. Kali ini, saya hadir untuk memperkenalkan beberapa situasi yang dialami oleh peserta Jambore Nasional Pramuka di Jayapura. Jambore yang saat ini dikenal dengan nama Raimuna dilaksanakan di Bumi Perkemahan di Abepura - Jayapura.  Saya memulai cerita saya dengan santapan dari Kitab Suci Yohanes 1: 35.37-51.

Ketika sedang membaptis di sungai Yordan,  Yohanes Pembaptis,melihat Yesus lewat. Ia berkata kepada murid-muridnya: "Lihatlah Anak domba Allah”.  Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakan  Yohanes  lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu bertanya kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?". Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.  
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)." Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.
Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"  Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"  Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"  Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Cerita pada bagian awal dalam Injil Yohanes tersebut hendak mengungkapkan bahwa sudah banyak orang yang mendengar nama Yesus, tetapi mereka tidak / belum pernah melihat (bertatap muka) dengan Dia.  Maka, ketika bertemu atau berpapasan atau berhadapan muka pun di jalan pun, mereka tidak mengenal Dia karena belum pernah melihat “wajah-Nya”, belum pernah mendengar suara-Nya, dan belum pernah kenal kepribadian / sapaan-Nya.  Bagi mereka, Yesus betul-betul orang asing.
Pada bagian selanjutnya, mereka yang sudah bertemu, mengenal lebih dekat karena diajak tinggal di tempat penginapan Yesus, mempunyai kesan dan pengalaman personal yang tidak mudah dilupakan. Mereka begitu tertarik dan “mengalami sesuatu karena perjumpaan dengan Dia”.  Pribadi yang baru mereka kenal itu, ternyata “punya daya pikat yang luar biasa”. Pribadi Yesus telah mengubah “batin mereka”, telah terjadi pembaharuan sehingga mereka terdorong untuk mengajak teman-temannya agar juga mengalami pembaharuan hidup itu. Andreas mengajak Simon dan Filiphus mengajak Natanael.
Natanael amat meragukan bahwa di tempat lain ada sesuatu yang bagus dan luar biasa, dengan melontarkan pertanyaan: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"  Memang pada masa itu, pusat kehidupan masyarakat, tempat pertemuan dan kegiatan terjadi di danau Galilea, di sungai Yordan, dan di tempat yang merupakan sumber air. “Air” betul-betul merupakan sumber kehidupan. Karena itu, amat masuk akal bahwa daerah-daerah lain, kurang diperhitungkan.
Atas pertanyaan-pertanyaan yang hidup di dalam diri mantan murid Yohanes dan Natanael, yang disampaikan kepada-Nya, Yesus memberikan jawaban yang amat simpatik dan “tidak disangka-sangka”.  Kepada kedua murid Yohanes, Dia menjawab: “ Mari dan lihatlah”.  Dia mengajak mereka datang ke tempat tinggal-Nya.  Dan kepada Natanael, Dia menegaskan: “Sebelum Filiphus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”.  Murid-murid itu melihat bahwa di dalam Pribadi Yesus, ada daya yang luar biasa yang amat menarik. Daya itu telah mengubah “keraguan mereka menjadi suatu kepastian”. Mereka melihat dan mengalami sendiri bahwa di dalam pribadi itu, ada kebaikan. Dari Nazareth ada kebaikan, bahkan kepada Yesus yang ada di hadapannya, Natanael mengakui: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"    Bukan hanya kebaikan, tetapi lebih dari itu, Natanael mengakui  bahwa Allah hadir dalam diri Yesus.
Para Pembaca yang budiman,
Sampai pada masa sekarang ini, Papua tidak banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia bagian Tengah dan Barat. Banyak keraguan dan kecemasan akan nasib mereka bila berada di tanah ini.  Terlebih banyak berita baik lewat koran atau siaran televisi yang menggambarkan bahwa situasi di Papua itu tidak aman dan menakutkan.  Apakah benar situasinya demikian ?  Mari kita simak pernyataan saudara-saudari kita yang mengikuti Raimuna di Jayapura – Papua:

Cenderaawasihpos, Rabu, 10 Oktober 2012
AWALNYA WAS-WAS, KINI BANGGA BISA INJAKKAN KAKI DI PAPUA

    Kondisi kota Jayapura yang sempat tidak kondusif, akibat penembakan misterius sejak Mei lalu, sempat membuat perasaan was-was bagi para peserta Raimuna, apalagi ditambah dengan Kwartir Nasional akhirnya menunda kegiatan Raimuna dari Juni ke Oktober.
            Namun perasaan tersebut sirna, ketika peserta tersebut menginjakkan kaki di Bandara Sentani, selanjutnya diantar ke lokasi Perkemahan di Bumi Perkemahan Cendrawasih Phokela, mereka begitu menikmati dan merasa senang, bisa menginjakkan kaki di Papua, bahkan keindahan Kabupaten dan Kota Jayapura, membuat hati para peserta Raimuna ini begitu bangga, mereka bisa berada di Papua, termasuk Tiginus Kondradus Dawi, peserta Raimuna dari Nusa Tenggara Timur (NTT) serta temannya Jaka Wahyu Rahmanto, peserta dari Kalimantan Selatan.
            Menurut Tiginus Kondradus Dawi, awalnya dirinya dan rekan-rekannya yang lain memang merasa was-was ke Jayapura, sebab dengar dari TV, keadaan di Papua tidak kondusif, ada penembakan, bahkan baru saja kabar terakhir di Mimika perang suku, ternyata saat tiba di Jayapura, perasaan tersebut hilang, mereka begitu menikmati kondisi di kota Jayapura.
            “Kita senang bisa ke Jayapura, seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Target kami, akan berbuat yang terbaik untuk nama baik NTT,” jelasnya. Ekspresi yang sama juga disampaikan oleh Jaka Wahyu Rahmanto peserta dari kwarda Kalimantan Tengah, yang mengaku bahwa apa yang disaksikan di TV, sebenarnya berbeda dengan apa yang mereka sendiri rasakan setelah tiba di Jayapura. Hanya saja Jaka sapaan akrabnya diam-diam menyimpan target tersendiri. Dirinya dan rekan-rekannya ingin belajar banyak dari tuan rumah Propinsi Papua, sebab mereka juga ingin mengusulkan menjadi tuan rumah Raimuna.
            “Panitia menyiapkan tempat cukup bagus, kami kaget sebab ada pondok yang sudah dibangun, padahal kami sudah bawa tenda, apalagi ada kamar mandinya, tempat cukup indah, pokoknya Papua cukup baik menjadi tuan rumah, sukses, ya,” jelasnya. Jaka menjelaskan Kwarda dari Kalimantan Tengah sendiri berjumlah 31 orang, terdiri dari 4 kwartir cabang, “Target kita, akan belajar dari Papua, kami ingin mencalonkan diri menjadi tuan rumah, dan belajar dari Papua,”tuturnya.

Cenderawasihpos, Rabu, 10 Oktober 2012
KAGUM, TERNYATA PAPUA TIDAK SEPERTI YANG DIBERITAKAN MEDIA

            JAYAPURA-Pelaksanaan Raimuna ke X secara resmi akan dibuka oleh Wakil Presiden Indonesia Boediono, pagi ini di lapangan Upacara Bumi Perkemahan (Buper) Cendrawasih Phokela, Waena Jayapura. Peserta Raimuna kurang lebih tiga ribu orang sudah berada di kawasan Buper. Sesuai jadwal sebelumnya, pelaksanaan Raimuna sebenarnya digelar Juni 2012 lalu, namun, rentetan penembakan dan kondisi keamanan Papua yang waktu itu tidak stabil, akhirnya pelaksanaannya diundur sampai Oktober.
Pengunduran pelaksanaan Raimuna jelas mengganggu jumlah peserta yang hadir. Sebelumnya diperkirakan berjumlah sepuluh ribu orang lebih yang akan datang ke Papua. “Peserta berkurang, yang baru datang sampai dengan hari ini, sudah tiga ribu lebih,” kata Amos Asmuruf, Wakil Ketua Kwarda Papua.
Terlepas dari waktu pelaksanaan yang molor, tampaknya, pelaksanaan Raimuna di Papua tetap meriah. Sebab, dari 33 propinsi yang ada di Indonesia, semuanya mengirimkan perwakilannya, bahkan, ada beberapa negara sahabat yang sudah datang juga ke Jayapura. Bahkan, anak-anak pramuka yang dari berbagai daerah ini, merasa kagum dan kecewa, ketika melihat Papua yang sebenarnya.
“Kami kecewa ada teman-teman yang ditinggal, karena berita-berita di media baik elektronik dan cetak yang memberitakan Papua tidak aman, padahal, Papua aman-aman saja,” kata Stefanny Sarimanela siswa SMA Negeri II Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Ia mengatakan, kagum dan senang dapat menginjakkan kaki di tanah Papua, Propinsi tertimur nusantara ini. “Kami sudah jalan-jalan ke beberapa tempat dan diantar oleh panitia semuanya aman-aman saja, dan kami tidak merasa takut,” terangnya.
Apa yang dikatakan Stefanny tidak jauh beda dengan rekannya dari Propinsi DKI Jakarta, Adit. Ia mengaku begitu ditunjuk oleh Kwarda mereka untuk mengikuti ajang Raimuna nasional X ini, dirinya sempat takut. Tapi kekwatiran itu lenyap, begitu mereka menginjakkan kakinya di Bumi Cendrawasih ini. “Luar biasa ini benar-benar tidak terduga. Bagi saya pribadi dan juga bagi DKI Jakarta benar-benar suatu kehormatan bisa injakkan kaki di Tanah Papua dengan semangat yang kuat ini. Mudah-mudahan Raimuna X bisa sukses di Tanah Papua. Jaya terus Papua,” kata Adit yang dipercayakan mengenakan pakaian adat Betawi ini.
Sedangkan dewi Sartika Pakaya siswa SMAN 4 Provinsi Gorontalo, mengaku sangat senang ke Papua. Karena ini untuk pertama kalinya. “Ini kesempatan yang sangat menyenangkan bagi saya. Mendatangi tempat di ujung Indonesia tidak semua orang dapat kemari dengan prestasi kan. Saya merasa salut dari Papua, dimana masyarakat Papua begitu ramah dan begitu baik. Menakjubkan alamnya dan begitu asri. Kami merasa sangat senang sebagai duta Gorontalo mendapat perwakilan ke negeri Papua,” ucapnya dengan semangat. Gorontalo sendiri mendatangkan 16 orang peserta yakni 9 orang putra dan 7 orang putri. Mereka ke Papua dengan menumpang kapal laut.
           
  Semoga anda pun melihat kebaikan yang Tuhan hadirkan di Tanah Papua. Tanah ini adalah tanah yang diberkati Tuhan juga. Sudah ratusan utusan Tuhan dari pelbagai bangsa, agama dan suku datang ke tempat ini membawa kabar sukacita dan pembangunan. Di tanah ini, ada keselamatan dan kedamaian yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.

Komentar

Postingan Populer