1.000 BIBIT JATI

TEPAT PADA HARI KENAIKAN TUHAN - 17 MEI - 1.000 bibit jati ( bija ) telah disemaikan di kebun di bagian belakang wisma keuskupan. Dengan bantuan 2 anak muda: Ferdi dan Ponsianus, 300 an bija itu telah selesai disemaikan, menyusul 700 bija yang telah lebih dulu disemai.  Persemaian itu berada di bawah pohon mangga, agar bija-bija itu tidak kena sinar matahari secara langsung.



Bija-bija itu dikirim dari Jakarta, sumbernya ada di Bogor. Bija-bija itu bukan berasal dari biji jati biasa tetapi dari kultur jaringan, bentuknya seperti akar ginseng, dan dalam beberapa hari sudah memunculkan tunas baru. Inilah langkah yang saya ambil untuk mempersiapkan masa depan keuskupan agar di kemudian hari makin mandiri secara finansial. Secara bertahap keuskupan akan menanam 10.000 pohon jati jenis unggul di luar kota Merauke.

Ada banyak manfaat yang diperoleh dengan menanam menanam pohon. Pertama, secara sederhana adalah  memanfaatkan lahan-lahan kosong. Pohon-pohon menambah keindahan, dan menyejukkan daerah sekitar itu. Kedua, menambah oksigen. Ketiga, kayunya setelah sekian tahun dapat untuk bahan bangunan, mebel, dan keperluan lainnya. Keempat, memberikan penghasilan yang lumayan bagi para pemiliknya. Kebutuhan kayu yang makin meningkat, mengundang orang juga untuk berpikir dan berusaha menanam pohon agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi. Keenam, ada juga pohon-pohon yang mendatangkan / menyimpan air, tetapi ada juga ada pohon-pohon yang membantu mengurangi air yang jumlahnya terlalu banyak di daerah rawa-rawan, seperti Merauke.

Pohon jati biasa sudah ada di Merauke. Tanaman ini dijumpai di beberapa tempat, namun belum dikembangkan. Tanah Merauke dan sekitarnya cocok untuk tanaman ini. Tanaman ini tumbuh di sela-sela kebun / di halaman penduduk, seperti tanaman biasa, padahal bila dikembangkan dan ditanam diperkebunan dalam jumlah besar, akan menghasilkan pendapatan yang cukup besar.

Manusia pada jaman moderen ini sudah bisa mengembangbiakan tanaman dan hewan dengan cara yang amat mengagumkan. Lewat kemajuan teknik dan pengetahuan, telah banyak ditemukan dan dihasilkan banyak alat dan tanaman, buah-buahan serta ternak yang dinikmati dan dipergunakan manusia. Penemuan dan produksi "bija" lewat kultur jaringan adalah bukti dari kemajuan ilmu dan teknologi itu. Juga kemajuan di bidang kedokteran berkat alat-alat moderen telah membantu dan menyembuhkan banyak penyakit. Dengan cara "kloning", manusia juga mampu memproduksi "jutaan mahluk hidup yang serupa" dan manusia pun mampu menentukan kapan makhluk itu akan dilahirkan.

Meski demikian, manusia tidak mampu "mengatur atau menguasai hidup" (tidak mampu menguasai nyawa). Manusia hanya bisa turut ambil bagian untuk menyempurnakan / meningkatkan kualitas hidup, tetapi bukan hidup itu sendiri. Mengapa demikian ?  Hidup ini ternyata adalah milik Sang Pemberi dan Pemilik Kehidupan. Yang menemukan ilmu dan kemajuan teknologi pun harus "menyerahkan nyawanya / hidupnya" ketika tiba waktunya, dan tidak satu manusia pun yang berkuasa mencegahnya.

Seorang rekan, melalui email telah mengirim kepada saya tentang beberapa hal bagus yang dapat kita pelajari dari pohon ( saya buat perubahan sedikit dari aslinya, agar lebih pas di blog ini ).

Tiga hal yang bisa kita pelajari dari pohon:

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.  Buah adalah hasil dari pohon.  Dari mana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah.   Semakin dalam akarnya makin banyak nutrisi yang diserap.

Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.

2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang.

Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain, atau merasa di hargai murah.
Inilah prinsip memberi, dan keikhlasan. Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah, ibarat distributor.. kita hanya menyalurkan ke agen-agennya, analoginya barang atau buah yang diberi Allah itu bukan sepenuhnya milik kita.  Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan.  Jadi bukan untuk kenikmatan sendiri.  Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.

3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.  Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain. Hidup itu bukan masalah posisi/ jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.



Marilah kita bersyukur atas kemajuan ilmu dan teknologi, sambil tetap rendah hati dan takut akan Dia yang memiliki hidup ini. Menurut iman yang saya anut, Yesus bersabda: " Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan". Ini berarti di dalam Dia, ada kehidupan yang sesungguhnya dirindukan oleh manusia. Saya mengimaninya, agar saya dituntun oleh ajaran-Nya dan akhirnya dapat mengalami hidup bahagia di dunia ini, dan kelak di dalam kesempurnaan bersama dengan Dia.

Komentar

Postingan Populer