DUA BELAH PIHAK
RENUNGAN HARIAN
TGL 13 SEPT 26
Dalam Sir 27:
30 - 8: 9 diserukan beginilah firman Tuhan: "Dendam kesumat dan amarah
sangat mengerikan juga, dan orang berdosalah yang dikuasainya. Barangsiapa
membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama mengindahkan
segala dosanya. Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus
juga, jika engkau berdoa.
Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan kepada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Bolehkah ia berdoa karena dosa-dosanya, kalau tidak menaruh belas kasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya? Meski ia hanya daging belaka, tokh ia menaruh dendam kesumat, siapa gerangan akan memulihkan dosa-dosanya?
Ingatlah akan akhir hidup dan hentikanlah permusuhan, ingatlah akan kebusukan serta maut dan hendaklah setia kepada segala perintah. Ingatlah akan perintah-perintah dan jangan mendendami sesama manusia, hendaklah ingat akan perjanjian dari Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahannya. Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian. Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.
Melalui Rom
14: 7-9, Paulus menyapa umatnya: Sdr-2, tidak seorangpun di antara kita yang
hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya
sendiri. Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati
untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Untuk itulah
Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas
orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.
Matius melalui
injilnya (18: 21-35) mewartakan: Ketika itu, datanglah Petrus dan bertanya
kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawab Yesus:
"Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai
tujuh puluh kali tujuh kali.
Kata Yesus lagi: Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, seraya berkata: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Lalu, ketika keluar, hamba itu bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, sambil berkata: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tokh ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Ketika melihat kejadian itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh utk memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada para algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah, BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Hikmah yg dpt
kita petik:
1. Kemarahan, keinginan utk balas dendam, karena merasa benar dan tidak rela utk mengampuni sesama yg bersalah, akan menimbulkan permusuhan, luka batin dan kesengsaraan yg besar bagi dua pihak. Manusia sbg ciptaan Allah digugah dan dipanggil utk hidup dalam damai, dg sesama sebab semua org adalah milik Tuhan. Tuhan memghendaki semua milikNya hidup dalam damai sejahtera. Maka, org yg tidak mau hidup dalam damai dg sesama, sesungguhnya melawan kehendak Allah.
2. Melalui perumpaan itu, Yesus mau menyatakan bhw Bapa surgawi sungguh memahami utang yaitu "beban hidup dan kelemahan manusia, amat besar". Karena, mrk tidak sanggup melunasi utang itu, Allah menunjukkan kerahimanNya dan menghapus semua utangnya tanpa syarat. Sebagai anak2Nya, yg telah mengalami belas kasihNya, kita pun diutus utk berbuat demikian. Org yg mengampuni dan membebaskan beban sesamanya, benar2 menghadirkan pribadi Allah, dan mengalami "sukacita yg tidak bisa diukur dg kata-kata". Amin. (Mgr Nico Adi MSC).
Komentar