2 Sr PI Berkunjung

Dua orang suster dari Tarekat PI Semarang berkunjung ke Merauke. Tujuan kunjungan tersebut adalah mengenal lebih dekat kehidupan umat dan pelayanan yang dibutuhkan. Mereka tiba di Merauke tanggal 27 Februari 2009. Kemudian, tgl 28 Februari - 3 Maret 2009 berkunjung ke Kevikepan Mappi - Kepi. Cuaca amat bagus sehingga banyak tempat bisa dikunjungi.


Pada hari pertama, rombongan yang terdiri dari: Sr. Lydia PI, dan Sr. Anna Marie PI, bersama Mgr Nico msc melihat dari dekat kehidupan masyarakat di Rep, Enem dan Kogo. Perjalanan dengan speed boat memakan waktu 20 menit. Ketika kami mendarat di Rep, umat segera berbondong-bondong datang. Kami bersalaman dengan mereka, dan menyampaikan maksud kedatangan kami. Kebetulan di sana ada seorang warga yang meninggal. Kami mengunjungi juga keluarga yang berduka dan berdoa bagi mereka serta untuk orang yang baru saja meninggal.


Perjalanan kami lanjutkan ke Enem. Di kampung ini uskup menempatkan 3 orang guru SD yang digaji oleh keuskupan. Mereka bertiga sedang mengikuti pelatihan di Kepi sehingga tidak sempat bertemu mereka. Namun, di kampung itu uskup bertemu dengan sebagian umat. Kepada mereka uskup meminta agar mereka memperhatikan guru-guru dengan cara membantu memberikan rasa aman kepada para guru itu. Kebetulan sekali, di kampung sedang dibangun beberapa rumah untuk masyarakat. Guru-guru yang belum punya rumah itu diusahakan dibantu agar bisa tinggal di rumah yang layak. Mereka setuju bahwa 2 rumah di dekat sekolah itu akan diberikan kepada para guru untuk tempat tinggal mereka.


Kogo adalah kampung terakhir yang kami kunjungi. Di lapangan besar Kogo ada sebuah patung salib yang besar. Anak-anak dengan cepat mengenali kami dan segera mereka memanggil orangtua dan orang-orang muda. Cuaca cukup panas, dan kami meminta mereka mengambil kelapa muda. Seorang remaja yang cukup gesit memanjat pohon kelapa dan mengambil beberapa buah kelapa muda. Di sebuah rumah yang belum jadi, kami duduk dan berbincang-bincang dengan 20 an orang, anak-anak dan kaum ibu.


Di ketiga kampung itu, ada sekolah dasar. Namun guru-guru mereka jumlahnya hanya 2 orang. Hanya di Enem ada 6 guru: kepala sekolah, 1 orang guru, 1 guru pembantu, dan 3 orang guru yang ditugaskan oleh keuskupan. Moga-moga mereka semua dapat memberikan darma bakti mereka demi kemajuan anak bangsa di kampung itu.


Bidang kesehatan dan pendidikan di kampung-kampung memang amat kurang mendapatkan perhatian karena jumlah tenaga kesehatan amat kurang. Juga para guru selain jumlahnya sering tidak ada di tempat. Di sisi lain, kampung-kampung yang tersebar, saling berjauhan dan terpencil sering juga menyulitkan petugas untuk melengkapi tenaga yang dibutuhkan. Jumlah murid dan jumlah guru sering tidak berimbang. Misalnya, 1 guru idealnya mengajar 25 orang murid. Jika di sekolah itu ada 6 guru. Murid seharusnya berjumlah 6x25 = 150. Kenyataannya di sekolah itu jumlah murid kurang dari 100 orang. Nyata bahwa ratio jumlah guru dan jumlah murid tidak seimbang.


Selanjutnya rombongan berkunjung ke Agam, dan ke Titik Pusat Kabupaten Mappi. Banyak bangunan yang dulu direncanakan sebagai pusat kabupaten terbengkelai. Rumput-rumput tinggi-tinggi dan menutup halaman bangunan. Pembangunan gedung-gedung itu menelan biaya milyaran rupiah. Letak Titik itu sekitar 25 km dari kota Kepi. Jalan menuju ke titik sudah diaspal hanya di beberapa ruas saja yang mengalami kerusakan agak parah.


Kami juga mengunjungi SD dan SMP YPPK Kepi, ke Asrama Putri yang dikelola para suster PBHK,




















Komentar

Postingan Populer